Antara Ibadah dan Hati: Menahan Diri dari Pacaran Saat Berpuasa
16/03/2026 | Penulis: Azka Atthaya K.H
Antara Ibadah dan Hati: Menahan Diri dari Pacaran Saat Berpuasa
Bulan Ramadan adalah waktu di mana seorang Muslim berlatih menahan diri. Bagi sebagian orang, ujian terberat bukan hanya rasa lapar, tetapi juga menahan keinginan untuk berinteraksi dengan pasangan yang belum halal (pacar). Fenomena ‘puasa komunikasi’ atau break sementara dari aktivitas pacaran selama Ramadan menjadi tren tersendiri. Namun, bagaimana kita memandangnya secara syariat dan psikologi?
Kalau dalam perspektif syariat ini lebih ke berbicara antara keabsahan dan kualitas^^. Secara fikih, puasa seseorang tetap sah jika ia tidak melakukan hal-hal yang membatalkan puasa (makan, minum, hubungan suami-istri). Namun, esensi puasa adalah la'allakum tattaqun (agar kamu bertaqwa).
Pasti akan ada istilah pahala yang terkikis saat seseorang punya ‘pacar’ dan aktif berkomunikasi disaat masih puasa maupun setelah berbuka (misalnya), namun disisi lain ia juga adalah seorang Muslim yang menunaikan puasa Ramadhan. Rasulullah saw. sudah mengingatkan bahwa banyak orang berpuasa hanya mendapat lapar dan haus saja karena tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan sia-sia, tinggal bagaimana kita mau merespons sabda Rasul saw. tersebut.
Momentum puasa Ramadhan tak luput dari bentuk upaya seseorang mengasah pertahanan diri. Jika seseorang memilih untuk tidak kontak, tidak bertemu, tidak bercanda, dan lain sebagainya dengan pacarnya selama berpuasa, ia memang terbukti sedang berupaya meminimalisir dosa, dan semoga ini dapat dihitung sebagai langkah awal yang baik untuk menjaga kualitas puasa agar tidak menjadi sia-sia.
Perspektif Psikologi terhadap Fenomena ‘Puasa Komunikasi’
Bagaimana perspektif psikologi merespons terkait fenomena ini? Dan bagaimana psikologi dapat berbicara tentang mengapa hal seperti pacaran itu termasuk yang sulit untuk ditinggalkan meski tahu itu bisa merusak pahala?
Attachment Theory (Teori Kelekatan):
Manusia memiliki kebutuhan dasar untuk terhubung dengan orang lain. Kehadiran pacar sering kali menjadi sumber dukungan emosional (emotional support), lalu memutus hubungan secara tiba-tiba bisa menimbulkan kecemasan (separation anxiety) bagi orang tersebut.
Dopamin dan Kebiasaan:
Interaksi dengan orang yang dicintai itu dapat melepaskan dopamin di otak. Jika dilihat, ketika ada kasus seseorang yang menghentikan interaksi tersebut secara mendadak, maka itu akan lebih terasa seperti ‘detoks’ yang menyakitkan secara emosional, bukan sebagai solusi.
Internal Conflict (Konflik Internal):
Saat posisi seseorang tersebut memiliki ‘pacar’ namun ia adalah Muslim yang tetap harus menjalankan kewajiban ibadahnya, maka ia akan mengalami dilema—antara identitas agamanya yang ingin taat dengan kebutuhan afeksinya. Makanya muncul istilah ‘Puasa komunikasi’, karena ia dapat dianggap sebagai cara mereka melakukan negosiasi diri untuk tetap merasa ‘menjadi orang baik’ tanpa harus kehilangan sumber kenyamanan mereka.
Ramadan sebagai Momentum Reset
Ramadan memang disebut sebagai momentum ‘Reset’, psikologi pun membenarkannya dengan memandang bahwa Ramadan adalah momen emas untuk pembentukan kebiasaan baru (habit formation). Jadi, ketika selama 30 hari seseorang mampu menahan diri dari interaksi yang tidak perlu, secara mental ia sebenarnya telah membuktikan bahwa ia bisa hidup mandiri tanpa ketergantungan pada hubungan yang tidak sehat atau belum halal tersebut dengan tanpa memberikan detoks atau menimbulkan kecemasan.
Ia tak bisa disalahkan seluruhnya, cukup di do’akan semoga mendapatkan hidayah istiqomah, dikuatkan kakinya untuk bisa hijrah lebih maksimal lagi kedepannya, diingatkan kewajiban ibadahnya, dibimbing agar dapat menjadi Muslim yang lebih baik, serta tetap menasehatinya perlahan dan biarkan urusan tersebut menjadi tanggung jawabnya dengan Allah kelak, tanpa mengucilkan maupun menjauhinya sebagai sesama saudara Muslim.
Generasi muda memang generasi yang notabenenya sedang berupaya menjalankan ibadah secara maksimal, namun diiringi lika-liku yang membuat mereka masih terjebak dalam hubungan yang belum halal. Semoga artikel ini dapat membantu merespons dari sudut pandang syariat dengan cara yang tenang dan edukatif.
Sumber Referensi
Informasi ini penulis sarikan diantaranya dari:
H.R. Bukhari & Muslim tentang pembatal pahala puasa.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin:
Mengenai tiga tingkatan puasa (Puasa Awam, Khusus, dan Khususul Khusus).
Fatwa Syekh bin Baz dan Al-Lajnah Ad-Daimah mengenai pengaruh kemaksiatan terhadap pahala ibadah puasa.
Bowlby, J. (1988): A Secure Base
(Mengenai Teori Kelekatan / Attachment Theory).
Duhigg, C. (2012): The Power of Habit
(Mengenai bagaimana lingkungan Ramadan membantu memutus siklus kebiasaan lama).
Mari Sempurnakan Hijrahmu dengan Berbagi ke Sesama^^
Menahan diri dari hal yang meragukan adalah bentuk perjuangan batin, nah sembari kamu berjuang memperbaiki diri dan menjaga kualitas puasa dari godaan nafsu, mari sempurnakan juga ibadahmu dengan amal nyata yang pasti mendatangkan pahala.
Baznas Kota Yogyakarta mengajak kamu untuk mengalihkan energi cinta kepada mereka yang lebih membutuhkan^^. Mari salurkan zakat, infak, dan sedekahmu melalui lembaga resmi yang amanah ya!^^
Untuk Layanan Muzakki Hubungi
???? Alamat: Komplek Balaikota Yogyakarta, Jl. Kenari No. 56, Muja Muju.
???? Layanan Digital:
???? Website: kotayogya.baznas.go.id
???? WhatsApp: 0821-4123-2770
Mari tunaikan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Kota Yogyakarta.
Mari salurkan fidyah dan dana sosial keagamaan lainnya secara amanah dan tepat sasaran.
Mari perkuat kepedulian sosial dengan ZIS DSKL BAZNAS Kota Yogyakarta.
Mari bayar fidyah melalui link kantor digital di bawah ini:
https://kotayogya.baznas.go.id/sedekah
atau hubungi Layanan Muzaki BAZNAS Kota Yogyakarta di 0821-4123-2770 untuk informasi dan pendampingan lebih lanjut.
Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id
#BAZNASKotaYogyakarta
#PerbedaanInfakDanShodaqoh
#Infak
#Shodaqoh
#Sedekah
#AmalKebaikan
#BerbagiKebaikan
#YukInfakDanSedekah
Artikel Lainnya
Harta yang Disimpan Menjadi Beban, Dan yang Dizakatkan Menjadi Penolong
Self-Reward Boleh, Tapi Jangan Lupa Sisihkan Buat Zakat Ya!
Doa Agar Konsisten Dalam Beribadah
Tips agar Konsisten Beribadah Selama Ramadhan
Beda Onani vs Hubungan Suami Istri di Siang Ramadan: Bagaimana Hukum Kafaratnya?
5 Cara Efektif Mengatasi Lemas Saat Berpuasa
Dari Kelaparan Menuju Kemandirian: Kisah Mustahik Fidyah yang Bangkit
Tips Mengatur Gaji UMR Tetap Bisa Nabung dan Zakat Mal
Mengapa Marah Bisa Menghapus Pahala Puasa?
Zakat Mal di Bulan Ramadan, Mengapa Pahalanya Berlipat Ganda?
Mengapa Zakat Mal Lebih Penting daripada Sedekah Biasa?
Cara Hitung Zakat Profesi Cuma Pakai Kalkulator HP
Kisah Haru Seorang Nenek yang Bertahan Hidup dari Fidyah Ramadhan
Panduan Perhitungan Kafarat: Memberi Makan 60 Orang Miskin (Edisi Kota Yogyakarta)
Jangan Menunggu Kaya untuk Berzakat, Berzakatlah agar Kamu “Kaya”

Info Rekening Zakat
Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kota Yogyakarta.
Lihat Daftar Rekening →
