Zakat Penghasilan: Dalil, Nisab, dan Cara Menghitung
30/12/2025 | Penulis: Admin Bidang 1
Zakat Penghasilan: Dalil, Nisab, dan Cara Menghitung
Zakat penghasilan adalah salah satu bentuk zakat yang sangat relevan dengan kehidupan umat Islam saat ini, terutama bagi mereka yang memperoleh pendapatan tetap dari profesi atau pekerjaan. Di tengah dinamika ekonomi modern, zakat penghasilan menjadi sarana penting untuk menyucikan harta sekaligus memperkuat kepedulian sosial. Dengan pemahaman yang tepat, seorang muslim dapat menunaikan zakat penghasilan dengan penuh keyakinan dan kesadaran sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT.
Pemahaman zakat penghasilan tidak hanya sebatas pada jumlah yang harus dikeluarkan, tetapi juga mencakup landasan hukum, ketentuan nisab, serta metode perhitungan yang sesuai dengan syariat. Meskipun banyak umat Islam telah rutin menunaikan zakat penghasilan, penjelasan yang komprehensif tetap dibutuhkan agar pelaksanaannya benar dan sesuai tuntunan Islam. Oleh karena itu, pembahasan zakat penghasilan perlu disampaikan secara jelas, mudah dipahami, dan berlandaskan dalil yang kuat.
Dalam ajaran Islam, zakat penghasilan termasuk bagian dari zakat mal yang bertujuan menjaga keberkahan harta dan menciptakan keadilan sosial. Melalui zakat penghasilan, Islam menanamkan kesadaran bahwa setiap rezeki yang diperoleh mengandung hak orang lain. Kesadaran inilah yang menjadikan zakat penghasilan bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan ibadah yang bernilai tinggi di sisi Allah SWT.
Dalil Zakat Penghasilan dalam Al-Qur’an dan Hadis
Zakat penghasilan memiliki landasan syariat yang kuat dalam Al-Qur’an dan hadis. Allah SWT memerintahkan umat Islam untuk mengeluarkan zakat dari harta yang diperoleh secara halal. Salah satu dasar yang sering dijadikan rujukan adalah Surah Al-Baqarah ayat 267, yang memerintahkan agar sebagian dari hasil usaha yang baik dinafkahkan. Ayat ini menjadi pijakan penting bagi para ulama dalam menetapkan zakat penghasilan.
Hadis Nabi Muhammad SAW juga menegaskan bahwa harta yang dimiliki seorang muslim harus dibersihkan dengan zakat apabila telah memenuhi syarat. Prinsip ini menjadi dasar kuat dalam pelaksanaan zakat penghasilan sebagai bagian dari pengelolaan harta yang sesuai dengan ajaran Islam.
Ulama kontemporer seperti Yusuf Al-Qaradawi menjelaskan bahwa zakat penghasilan termasuk zakat mal karena penghasilan merupakan harta yang bersifat berkembang. Oleh karena itu, zakat penghasilan dipandang sejalan dengan zakat perdagangan dan bentuk harta produktif lainnya. Pandangan ini semakin menguatkan legitimasi zakat penghasilan dalam syariat Islam.
Di Indonesia, Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga telah mengeluarkan fatwa tentang kewajiban zakat penghasilan bagi muslim yang pendapatannya telah mencapai nisab. Fatwa ini memberikan kepastian hukum dan menjadi pedoman bagi umat Islam dalam menunaikan zakat penghasilan secara benar.
Nisab dan Waktu Pembayaran Zakat Penghasilan
Nisab merupakan batas minimal penghasilan yang mewajibkan seseorang untuk mengeluarkan zakat penghasilan. Umumnya, nisab zakat penghasilan disetarakan dengan nilai 85 gram emas murni. Ketentuan ini digunakan untuk menentukan apakah penghasilan seseorang telah mencapai batas wajib zakat.
Dalam praktiknya, zakat penghasilan dapat dihitung berdasarkan penghasilan bulanan maupun tahunan. Banyak ulama membolehkan pembayaran zakat penghasilan setiap bulan agar lebih ringan dan mudah. Dengan cara ini, zakat dapat langsung ditunaikan saat menerima gaji atau pendapatan.
Berbeda dengan zakat mal lainnya yang mensyaratkan haul, zakat penghasilan dapat dibayarkan tanpa menunggu satu tahun penuh selama penghasilan tersebut telah mencapai nisab. Namun, ada pula pendapat yang membolehkan pengumpulan zakat penghasilan selama satu tahun untuk kemudian dikeluarkan bersamaan dengan zakat mal tahunan. Pilihan ini dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing muslim.
Cara Menghitung Zakat Penghasilan
Perhitungan zakat penghasilan pada dasarnya cukup sederhana. Besaran zakat penghasilan adalah 2,5 persen dari penghasilan, baik dihitung dari penghasilan kotor maupun penghasilan bersih, sesuai dengan pendekatan yang digunakan.
Pendekatan penghasilan kotor menghitung zakat langsung dari total pendapatan sebelum dikurangi kebutuhan pokok. Cara ini dinilai lebih berhati-hati dan banyak diterapkan karena praktis. Sementara itu, pendekatan penghasilan bersih menghitung zakat setelah dikurangi kebutuhan dasar, sehingga dianggap lebih mempertimbangkan kondisi ekonomi individu.
Sebagai contoh, jika seseorang memiliki penghasilan Rp10.000.000 per bulan dan telah mencapai nisab, maka zakat penghasilan yang wajib dikeluarkan adalah 2,5 persen, yaitu Rp250.000 per bulan. Perhitungan sederhana ini memudahkan umat Islam dalam menunaikan kewajiban zakat penghasilan secara rutin.
Hikmah dan Keutamaan Zakat Penghasilan
Menunaikan zakat penghasilan memiliki banyak hikmah dan keutamaan. Bagi individu, zakat penghasilan berfungsi sebagai sarana penyucian harta dan wujud rasa syukur atas nikmat Allah SWT. Dengan berzakat, seorang muslim menunjukkan ketaatan dan kepedulian terhadap sesama.
Dari sisi sosial, zakat penghasilan berperan penting dalam mengurangi kesenjangan ekonomi dan membantu mustahik memenuhi kebutuhan hidup. Selain itu, kebiasaan menunaikan zakat penghasilan secara rutin akan menumbuhkan empati, solidaritas, dan kepedulian sosial dalam kehidupan bermasyarakat.
Allah SWT juga menjanjikan keberkahan bagi harta yang dizakati. Zakat tidak akan mengurangi harta, melainkan menambah keberkahan dan ketenangan batin bagi orang yang menunaikannya dengan ikhlas.
Penutup
Zakat penghasilan merupakan kewajiban syariat yang sangat relevan dengan kehidupan muslim modern. Dengan memahami dasar hukum, nisab, waktu pembayaran, dan cara perhitungannya, umat Islam dapat menunaikan zakat penghasilan dengan benar dan penuh kesadaran. Pelaksanaan zakat penghasilan yang tepat tidak hanya menjaga keberkahan harta, tetapi juga memperkuat solidaritas sosial di tengah masyarakat.
Sebagai bentuk ibadah maliyah, zakat penghasilan menjadi jembatan antara ketaatan kepada Allah SWT dan kepedulian terhadap sesama. Dengan niat yang ikhlas dan pemahaman yang benar, zakat penghasilan menjadi jalan meraih keberkahan hidup di dunia dan akhirat.
ZAKAT DI AKHIR TAHUN
Zakat bukan sekadar kewajiban, tetapi jalan menuju keberkahan. Dengan menunaikan zakat di akhir tahun, kita turut meringankan beban hidup mustahik dan menghadirkan senyum bagi mereka yang membutuhkan.
Mari ikut ambil bagian dalam menghadirkan lebih banyak senyum dan harapan.
Tunaikan zakat, infak, dan sedekah Anda melalui BAZNAS Kota Yogyakarta:
https://kotayogya.baznas.go.id/bayarzakat
#MariMemberi #ZakatInfakSedekah #BAZNASYogyakarta #BahagianyaMustahiq #TentramnyaMuzaki #AmanahProfesionalTransparan
Artikel Lainnya
Menu Sehat Sahur Ramadan: Pilihan Tepat Agar Kuat Puasa Seharian
Manfaat Sedekah Subuh: Keutamaan, Hikmah, dan Dampaknya bagi Kehidupan
Nisfu Syaban: Malam Penuh Ampunan dan Persiapan Menuju Ramadan
Tunaikan Zakat dan Sedekah Lebih Praktis Bersama BAZNAS di Tokopedia
Persiapan Diri Jelang Ramadan agar Ibadah Lebih Maksimal dan Bermakna
Kapan Puasa Ramadhan 2026 Dimulai, Ini Perkiraan Awal Puasa di Indonesia

Info Rekening Zakat
Mari tunaikan zakat Anda dengan mentransfer ke rekening zakat.
BAZNAS

