WhatsApp Icon

5 Perbuatan yang Menggugurkan Pahala Puasa

16/03/2026  |  Penulis: Kifti

Bagikan:URL telah tercopy
5 Perbuatan yang Menggugurkan Pahala Puasa

5 Perbuatan yang Menggugurkan Pahala Puasa

Ramadan bukan sekadar ritual menahan lapar dan dahaga dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Secara fikih, puasa kita mungkin dianggap sah jika kita tidak makan, minum, atau berhubungan suami istri. Namun, di mata Allah SWT, puasa tersebut bisa jadi hanya menyisakan rasa lapar yang sia-sia tanpa nilai pahala sedikit pun.

Rasulullah SAW pernah memperingatkan dalam sebuah hadis:

"Betapa banyak orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga."
(HR. An-Nasa’i dan Ibnu Majah).

Agar ibadah kita tidak berakhir sia-sia, penting bagi kita untuk mengenali "penyakit-penyakit" hati dan lisan yang mampu menghanguskan pahala puasa. Berikut adalah lima perbuatan yang wajib dihindari selama bulan suci ini:

1. Berbohong (Al-Kadzib)
Berbohong adalah perilaku mencela yang dampaknya sangat fatal terhadap pahala puasa. Ketika seseorang memanipulasi kebenaran, ia sebenarnya sedang mengkhianati esensi puasa, yaitu kejujuran kepada diri sendiri dan Tuhan. Meski secara hukum syariat puasa tidak batal (tidak perlu mengganti di hari lain), namun keberkahan dan ganjaran pahalanya hilang seketika. Di era digital, berbohong juga mencakup menyebarkan berita palsu atau hoax di media sosial.

2. Ghibah (Menggunjing)
Ghibah atau membicarakan keburukan orang lain adalah salah satu perusak pahala puasa yang paling sering tidak disadari. Al-Qur'an mengibaratkan pelaku ghibah seperti orang yang memakan daging saudaranya sendiri yang sudah mati. Saat berpuasa, lisan kita tidak hanya harus berpuasa dari makanan, tetapi juga dari menyebutkan aib orang lain. Menonton tayangan gosip atau ikut berkomentar negatif di kolom komentar akun selebritas termasuk dalam kategori yang membahayakan pahala puasa kita.

3. Namimah (Adu Domba)
Namimah adalah tindakan menyampaikan perkataan seseorang kepada orang lain dengan tujuan merusak hubungan atau memicu permusuhan. Perbuatan ini sangat dibenci karena bersifat destruktif terhadap ukhuwah (persaudaraan). Ramadan seharusnya menjadi momen untuk mempererat tali silaturahmi, bukan justru menjadi ajang memecah belah melalui provokasi atau adu domba.

4. Sumpah Palsu (Al-Yamin al-Ghamus)
Bersumpah demi nama Allah untuk menutupi kebohongan adalah dosa besar. Dalam konteks puasa, sumpah palsu menunjukkan kurangnya rasa takut dan hormat kepada Allah SWT. Seseorang yang berani melakukan sumpah palsu demi keuntungan duniawi (seperti dalam perdagangan atau persidangan) saat sedang berpuasa, maka ia telah meruntuhkan bangunan ibadahnya sendiri.

5. Memandang dengan Syahwat
Puasa adalah latihan pengendalian diri, termasuk menjaga pandangan (ghadhul bashar). Memandang lawan jenis atau objek apa pun dengan dorongan syahwat dapat mengotori hati dan menggugurkan kesucian puasa. Di zaman sekarang, tantangan ini semakin berat dengan kemudahan akses konten visual di internet. Menjaga mata berarti menjaga kejernihan pikiran agar tetap fokus pada ibadah kepada Allah.

Secara teknis, puasa dibagi menjadi tiga tingkatan menurut Imam Al-Ghazali:

Puasa Awam: Sekadar menahan lapar dan haus.
Puasa Khusus: Menahan seluruh anggota tubuh (mata, telinga, lisan, tangan, dan kaki) dari dosa.
Puasa Khusus Al-Khusus: Puasanya hati dari pikiran-pikiran duniawi dan fokus total kepada Allah.

Lima perbuatan di atas adalah penghalang bagi kita untuk naik kelas dari sekadar "Puasa Awam" menuju "Puasa Khusus". Jika kita masih melakukan kelima hal tersebut, kita mungkin lulus secara administratif hukum Islam, namun gagal dalam ujian spiritualitas.

Ramadan adalah madrasah bagi jiwa. Keberhasilan puasa kita diukur dari sejauh mana kita mampu mengontrol lisan, hati, dan perbuatan setelah bulan ini berakhir. Dengan menjauhi bohong, ghibah, namimah, sumpah palsu, dan pandangan syahwat, kita sedang mengamankan "tabungan" pahala kita agar tidak bocor di tengah jalan.

Mari kita isi hari-hari Ramadan dengan memperbanyak zikir, tilawah Al-Qur'an, dan sedekah, sehingga puasa kita menjadi puasa yang berkualitas dan diterima oleh Allah SWT.

Mari tunaikan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Kota Yogyakarta.
Mari salurkan fidyah dan dana sosial keagamaan lainnya secara amanah dan tepat sasaran.
Mari perkuat kepedulian sosial dengan ZIS DSKL BAZNAS Kota Yogyakarta.

Mari bayar fidyah melalui link kantor digital di bawah ini:
https://kotayogya.baznas.go.id/sedekah

atau hubungi Layanan Muzaki BAZNAS Kota Yogyakarta di 0821-4123-2770 untuk informasi dan pendampingan lebih lanjut.

Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id

#RamadanPenuhBerkah
#WaktuMembayarZakat
#PerbuatanYangMenggugurkanPahalaPuasa
#AmalanUtamaRamadan

Bagikan:URL telah tercopy

Artikel Lainnya

Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kota Yogyakarta.

Lihat Daftar Rekening →