WhatsApp Icon

Menu Sahur Ala Rasulullah

16/03/2026  |  Penulis: Kifti

Bagikan:URL telah tercopy
Menu Sahur Ala Rasulullah

Menu Sahur Ala Rasulullah

Bulan Ramadhan bukan sekadar momentum untuk menahan lapar dan dahaga, tetapi juga madrasah bagi umat Muslim untuk memperbaiki pola hidup, termasuk dalam hal konsumsi makanan. Salah satu aspek yang sering menjadi perhatian adalah menu sahur. Banyak dari kita yang cenderung menyantap makanan dalam porsi besar agar kuat berpuasa, namun jika merujuk pada kebiasaan Nabi Muhammad SAW, kesederhanaan dan kualitas nutrisilah yang menjadi kunci utama.

Rasulullah SAW memiliki pola makan yang sangat terjaga saat sahur. Pilihan menu beliau tidak hanya bernilai ibadah, tetapi juga memiliki landasan medis yang kuat untuk menjaga stamina tubuh selama belasan jam berpuasa.

Menu utama dan yang paling ditekankan oleh Rasulullah SAW saat sahur adalah kurma. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud, Nabi SAW bersabda,

"Sebaik-baik santapan sahur seorang mukmin adalah kurma."

Mengapa kurma? Secara medis, kurma adalah sumber energi yang luar biasa. Kurma mengandung gula alami berupa glukosa, fruktosa, dan sukrosa yang sangat mudah diserap oleh tubuh. Saat sahur, tubuh membutuhkan asupan energi yang dapat bertahan lama sekaligus memberikan "ledakan" energi awal untuk memulai aktivitas. Kurma juga kaya akan serat (fiber) yang membantu memperlambat proses pencernaan, sehingga rasa kenyang dapat bertahan lebih lama di siang hari. Inilah alasan mengapa kurma disebut sebagai makanan yang penuh berkah; kecil bentuknya, namun besar manfaatnya.

Selain kurma, Rasulullah SAW selalu menekankan pentingnya asupan air putih. Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa jika beliau tidak menemukan makanan lain, beliau cukup bersahur dengan beberapa butir kurma dan beberapa teguk air putih.

Pesan yang ingin disampaikan adalah bahwa sahur tidak harus selalu berupa makanan berat seperti nasi atau daging yang berlebihan. Air putih berfungsi sebagai agen hidrasi yang vital. Berpuasa di wilayah tropis atau gurun seperti di zaman Nabi menuntut tubuh untuk memiliki cadangan cairan yang cukup. Dengan mengonsumsi air yang cukup saat sahur, risiko dehidrasi, sakit kepala, dan kelelahan ekstrem saat berpuasa dapat diminimalisir.

Pola makan sahur Rasulullah mengajarkan kita tentang konsep zuhud dan efisiensi. Beliau tidak pernah membebani perutnya dengan makanan yang melampaui batas saat sahur. Islam mengajarkan untuk mengisi perut dengan sepertiga makanan, sepertiga air, dan sepertiga udara. Prinsip ini sangat relevan saat sahur; makan berlebihan justru seringkali memicu rasa kantuk yang berat setelah subuh dan membuat tubuh terasa malas (lethargic) di siang hari karena energi tubuh habis digunakan untuk memproses makanan yang terlalu berat di dalam lambung.

Selain kurma dan air, dalam literatur sejarah Islam, Nabi juga sesekali mengonsumsi makanan berbahan dasar gandum (talbinah) atau susu. Namun, kurma tetap menjadi primadona yang beliau anjurkan kepada umatnya untuk dikonsumsi di waktu sahur.

Bukan hanya soal apa yang dimakan, tetapi juga kapan waktu makannya. Rasulullah SAW sangat menganjurkan umatnya untuk mengakhirkan sahur (mendekati waktu fajar). Jarak antara selesai sahur Nabi dengan waktu shalat Subuh digambarkan hanya seukuran membaca 50 ayat Al-Qur'an.

Mengakhirkan sahur memiliki kaitan erat dengan jenis makanan yang dikonsumsi. Jika kita makan kurma dan minum air di waktu yang mepet dengan imsak, maka cadangan nutrisi dan cairan tersebut berada dalam kondisi paling segar saat kita mulai berpuasa. Hal ini juga mencegah kita untuk tidur kembali setelah makan, sebuah kebiasaan yang secara medis kurang baik bagi pencernaan dan secara spiritual dapat membuat kita melewatkan shalat Subuh berjamaah.

Keberkahan sahur yang dicontohkan Rasulullah juga memiliki dimensi teologis. Beliau bersabda bahwa pembeda antara puasa umat Islam dengan puasa Ahli Kitab adalah makan sahur. Dengan menyantap kurma dan air putih di waktu sahur, seorang Muslim sedang melakukan identitas ibadah yang kuat.

Sahur bukan sekadar urusan perut, melainkan momen ketaatan. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa Allah dan para malaikat bershalawat kepada orang-orang yang bersahur. Maka, meskipun kita merasa masih kenyang atau malas bangun, setidaknya minumlah seteguk air dan makanlah sebutir kurma untuk mengejar keberkahan dan shalawat tersebut.

Di tengah tren kuliner Ramadhan yang seringkali berlebihan dengan gorengan, makanan bersantan, dan minuman manis buatan, meneladani menu sahur Rasulullah SAW adalah jalan menuju kesehatan yang lebih baik. Kurma dan air putih adalah kombinasi sempurna yang disediakan alam untuk mendukung ibadah kita.

Dengan mengikuti pola makan Nabi—yakni mengonsumsi kurma, menjaga hidrasi dengan air putih, serta mengakhirkan waktu sahur—kita tidak hanya mendapatkan kebugaran fisik untuk beraktivitas, tetapi juga meraih kesempurnaan pahala puasa. Mari kita jadikan sahur tahun ini sebagai sarana untuk lebih mendekatkan diri pada sunnah, karena di dalam kesederhanaan cara makan Nabi, terdapat rahasia kekuatan dan keberkahan yang tak tertandingi.

Mari tunaikan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Kota Yogyakarta.
Mari salurkan fidyah dan dana sosial keagamaan lainnya secara amanah dan tepat sasaran.
Mari perkuat kepedulian sosial dengan ZIS DSKL BAZNAS Kota Yogyakarta.

Mari bayar fidyah melalui link kantor digital di bawah ini:
https://kotayogya.baznas.go.id/sedekah

atau hubungi Layanan Muzaki BAZNAS Kota Yogyakarta di 0821-4123-2770 untuk informasi dan pendampingan lebih lanjut.

Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id

#RamadanPenuhBerkah
#MenuSahurRasulullah
#AmalanUtamaRamadan
#SahurRamadan

Bagikan:URL telah tercopy

Artikel Lainnya

Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kota Yogyakarta.

Lihat Daftar Rekening →