Waktu Sahur yang Paling Utama Menurut Rasulullah SAW
17/03/2026 | Penulis: Kifti
Waktu Sahur yang Paling Utama Menurut Rasulullah SAW
Dalam menjalankan ibadah puasa Ramadan, sahur bukan sekadar aktivitas makan dan minum untuk mengganjal perut agar tidak lapar di siang hari. Lebih dari itu, sahur adalah ibadah yang sarat dengan keberkahan. Rasulullah SAW bersabda,
"Bersahurlah kalian, karena sesungguhnya dalam sahur itu terdapat keberkahan" (HR. Bukhari dan Muslim).
Namun, sering kali muncul pertanyaan di kalangan umat Muslim: "Kapan sebenarnya waktu terbaik untuk melaksanakan sahur?" Apakah di tengah malam, satu jam sebelum fajar, atau sesaat sebelum adzan Subuh? Berikut adalah penjelasan mendalam mengenai waktu sahur yang paling utama.
Sunnah Mengakhirkan Sahur (Ta’khirus Sahur)
Salah satu keistimewaan syariat Islam adalah kemudahannya. Dalam hal sahur, Rasulullah SAW sangat menganjurkan umatnya untuk mengakhirkan waktu sahur. Artinya, sahur dilakukan sedekat mungkin dengan waktu terbitnya fajar (shadiq) atau waktu adzan Subuh.
Mengakhirkan sahur bukan tanpa alasan. Hal ini merupakan pembeda (fariq) antara puasanya umat Islam dengan puasa ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) yang tidak mengenal makan sahur di penghujung malam. Dengan mengakhirkan sahur, tubuh juga akan mendapatkan pasokan energi yang lebih "segar" untuk menghadapi siang hari, sehingga kondisi fisik tetap terjaga selama berpuasa.
Untuk memahami seberapa dekat waktu sahur yang dianjurkan, kita dapat merujuk pada hadits yang diriwayatkan oleh Zaid bin Tsabit RA. Beliau berkisah:
"Kami pernah sahur bersama Rasulullah SAW, kemudian kami beranjak untuk melaksanakan shalat (Subuh)." Zaid kemudian ditanya, "Berapa lama jarak antara adzan (Subuh) dan sahur kalian?" Zaid menjawab, "Sekitar durasi membaca 50 ayat (Al-Qur'an)." (HR. Bukhari dan Muslim).
Jika dikonversikan ke dalam waktu modern, membaca 50 ayat Al-Qur'an dengan ritme yang sedang membutuhkan waktu sekitar 20 hingga 30 menit. Jeda waktu ini adalah standar emas yang dicontohkan Nabi SAW. Waktu tersebut cukup untuk menyelesaikan makan tanpa terburu-buru, namun tetap berada di penghujung malam.
Ada beberapa hikmah luar biasa, baik secara spiritual maupun medis, dari anjuran mengakhirkan sahur ini:
-
Menghindari Tidur Setelah Sahur: Dengan sahur yang mepet dengan waktu Subuh, seseorang akan lebih mudah untuk langsung bersiap melaksanakan shalat Subuh berjamaah. Sebaliknya, sahur yang dilakukan terlalu dini (misalnya jam 2 pagi) sering membuat orang mengantuk dan tertidur lagi, sehingga berisiko melewatkan waktu shalat Subuh.
-
Menjaga Kesegaran Tubuh: Secara medis, cadangan glikogen dan cairan tubuh akan bertahan lebih lama jika waktu konsumsinya dekat dengan waktu mulai berpuasa. Ini meminimalisir rasa lemas di siang hari.
-
Waktu Mustajab untuk Berdoa: Sepertiga malam terakhir, termasuk waktu sahur, adalah waktu di mana Allah SWT turun ke langit dunia untuk mengabulkan doa hamba-Nya. Dengan bangun di waktu sahur yang utama, kita berkesempatan melaksanakan shalat Tahajud dan beristighfar sebelum menyantap makanan.
Bagaimana dengan Waktu Imsak?
Di Indonesia, kita mengenal waktu Imsak, yang biasanya ditetapkan 10 menit sebelum adzan Subuh. Perlu dipahami bahwa waktu Imsak adalah lampu kuning atau peringatan agar kita segera menyelesaikan makan sahur.
Secara hukum fikih, kita masih diperbolehkan makan dan minum hingga fajar shadiq (adzan Subuh) berkumandang. Namun, adanya waktu Imsak sangat membantu agar kita tidak "kecolongan" saat adzan tiba-tiba berkumandang sementara mulut masih penuh dengan makanan. Ini sejalan dengan prinsip kehati-hatian (ihtiyat) dalam beribadah.
Berdasarkan teladan Rasulullah SAW, waktu sahur yang paling utama bukanlah di tengah malam, melainkan di penghujung malam dengan jarak sekitar 50 ayat sebelum fajar. Mengakhirkan sahur adalah bentuk ketaatan pada sunnah yang membawa keberkahan bagi jiwa dan kekuatan bagi raga.
Mari kita hidupkan suasana Ramadan dengan bangun di waktu yang tepat, mengisinya dengan sedikit ibadah sebelum makan, dan mengakhirkan santapan sahur agar puasa kita menjadi lebih berkualitas.
Mari bayar zakat, infak, dan sedekah online melalui BAZNAS Kota Yogyakarta.
Mari bayar fidyah dan dana sosial keagamaan lainnya secara online dengan penyaluran amanah dan tepat sasaran.
Mari perkuat kepedulian sosial dengan ZIS DSKL BAZNAS Kota Yogyakarta.
Mari bayar fidyah melalui link kantor digital di bawah ini: https://kotayogya.baznas.go.id/sedekah
atau hubungi Layanan Muzaki BAZNAS Kota Yogyakarta di 0821-4123-2770 untuk informasi dan pendampingan lebih lanjut.
Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id
#RamadanPenuhBerkah
#WaktuSahur
#PuasaRamadan2026
#BayarZakatJogja
#AmalanUtamaRamadan
editor: Banyu Bening
Artikel Lainnya
Harta yang Disimpan Menjadi Beban, Dan yang Dizakatkan Menjadi Penolong
5 Tips Kelola Emosi Saat Puasa
Zakat Mal di Bulan Ramadan, Mengapa Pahalanya Berlipat Ganda?
Mengapa Zakat Mal Lebih Penting daripada Sedekah Biasa?
Rezeki Seret? Bisa Jadi Akibat Kurang Zakat
Beda Onani vs Hubungan Suami Istri di Siang Ramadan: Bagaimana Hukum Kafaratnya?
Panduan Perhitungan Kafarat: Memberi Makan 60 Orang Miskin (Edisi Kota Yogyakarta)
Mengapa Marah Bisa Menghapus Pahala Puasa?
Cara Hitung Zakat Profesi Cuma Pakai Kalkulator HP
Self-Reward Boleh, Tapi Jangan Lupa Sisihkan Buat Zakat Ya!
Jangan Menunggu Kaya untuk Berzakat, Berzakatlah agar Kamu “Kaya”
Kisah Haru Seorang Nenek yang Bertahan Hidup dari Fidyah Ramadhan
Cerita Zakat dan Fidyah: Bagaimana Bantuan Umat Mengubah Kehidupan Keluarga Miskin
Hanya 2,5%, Tapi Bagi Mereka Itu Adalah Nafas untuk Bertahan Hidup
Tips Mengatur Gaji UMR Tetap Bisa Nabung dan Zakat Mal

Info Rekening Zakat
Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kota Yogyakarta.
Lihat Daftar Rekening →
