Waktu Terbaik Melatih Anak Berpuasa Prespektif Agama dan Medis
27/02/2026 | Penulis: Ummi Kiftiyah
Waktu Terbaik Melatih Anak Berpuasa Prespektif Agama dan Medis
Puasa Ramadhan merupakan kewajiban bagi setiap Muslim yang telah memenuhi syarat baligh dan berakal. Namun, bagi orang tua, muncul pertanyaan penting: "Kapan waktu yang paling tepat untuk mulai mengajak si kecil belajar menahan lapar dan dahaga?" Menentukan usia awal latihan puasa memerlukan keseimbangan antara ketaatan beragama dan penjagaan terhadap tumbuh kembang fisik anak.
Dalam syariat Islam, anak-anak sebenarnya belum terkena kewajiban puasa hingga mereka mencapai usia baligh (pubertas). Meski demikian, para ulama sangat menganjurkan orang tua untuk melatih anak-anak mereka sejak dini agar saat kewajiban itu datang, sang anak sudah terbiasa dan tidak merasa berat.
Banyak ulama mengqiyaskan (menganalogikan) latihan puasa dengan perintah salat. Rasulullah SAW bersabda:
"Perintahkanlah anak-anakmu untuk salat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka (dengan pukulan yang mendidik) jika mereka meninggalkannya ketika berusia sepuluh tahun." (HR. Abu Dawud).
Berdasarkan hadis ini, usia 7 tahun dianggap sebagai fase awal yang ideal untuk memperkenalkan ritual ibadah secara formal. Pada usia ini, anak mulai memiliki kemampuan kognitif untuk memahami perintah. Sementara itu, usia 10 tahun menjadi fase pendisiplinan yang lebih kuat sebelum mereka benar-benar memasuki usia baligh.
Ditinjau dari sisi kesehatan, dokter anak menekankan bahwa kesiapan fisik adalah kunci utama. Melansir dari PrimaKu, anak-anak sedang berada dalam masa pertumbuhan emas yang membutuhkan asupan nutrisi dan hidrasi yang stabil.
Secara medis, usia 7 hingga 10 tahun juga dianggap sebagai periode yang cukup aman untuk memulai latihan puasa, dengan catatan dilakukan secara bertahap. Sebelum usia 7 tahun, sistem metabolisme dan cadangan energi anak (glikogen) masih terbatas, sehingga mereka lebih rentan mengalami hipoglikemia (kadar gula darah rendah) dan dehidrasi jika dipaksa berpuasa penuh.
Para ahli kesehatan menyarankan agar orang tua memperhatikan tanda-tanda kesiapan anak, seperti kondisi fisik yang sehat dan tidak sedang dalam pengobatan, berat badan yang stabil dan sesuai kurva pertumbuhan, dan kemampuan anak untuk berkomunikasi saat merasa sangat lemas atau pusing.
Menggabungkan panduan agama dan medis, berikut adalah langkah-langkah yang bisa diambil orang tua:
1. Fase Prakondisi (Usia di bawah 7 tahun)
Pada tahap ini, anak belum perlu menahan lapar. Cukup perkenalkan konsep puasa melalui cerita, ajak ikut bangun sahur agar mereka merasakan atmosfer ibadah, dan biarkan mereka melihat orang tuanya berbuka dengan gembira.
2. Fase Latihan Parsial (Usia 7-9 tahun)
Gunakan metode puasa bertahap. Anak bisa mulai belajar puasa selama 4 hingga 6 jam, atau yang populer di Indonesia dengan sebutan "Puasa Bedug" (berbuka di waktu Dzuhur lalu lanjut lagi). Ini melatih ketahanan mental tanpa membahayakan kesehatan fisik.
3. Fase Pendalaman (Usia 10 tahun ke atas)
Pada usia ini, anak biasanya sudah memiliki ketahanan fisik yang lebih baik. Mereka dapat didorong untuk puasa penuh hingga Maghrib, namun tetap dengan pengawasan ketat terhadap asupan nutrisi saat sahur dan berbuka.
Meskipun latihan puasa itu baik, orang tua harus segera membatalkan puasa anak jika muncul gejala-gejala yang mengkhawatirkan seperti anak terlihat sangat pucat atau lemas tak bertenaga, munculnya keringat dingin atau gemetar yang menjadi tanda hipoglikemia, adanya keluhan pusing hebat atau perasaan ingin pingsan, serta kondisi urine yang berwarna sangat pekat sebagai indikasi dehidrasi.
Usia ideal untuk mulai melatih anak berpuasa secara formal adalah 7 tahun, sebagaimana tuntunan agama yang sejalan dengan kesiapan medis. Namun, orang tua harus tetap fleksibel dan tidak kaku. Tujuan utama latihan ini bukan sekadar membuat anak mampu menahan lapar seharian, melainkan menanamkan kecintaan pada ibadah dan nilai-nilai kesabaran.
Setiap anak adalah unik. Dengan pendekatan yang penuh kasih sayang dan memperhatikan aspek kesehatan, pengalaman puasa pertama sang buah hati akan menjadi memori ibadah yang indah dan membekas hingga mereka dewasa.
Mari tunaikan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Kota Yogyakarta.
Mari salurkan fidyah dan dana sosial keagamaan lainnya secara amanah dan tepat sasaran.
Mari perkuat kepedulian sosial dengan ZIS DSKL BAZNAS Kota Yogyakarta.
Mari bayar fidyah melalui link kantor digital di bawah ini:
https://kotayogya.baznas.go.id/sedekah
atau hubungi Layanan Muzaki BAZNAS Kota Yogyakarta di 0821-4123-2770 untuk informasi dan pendampingan lebih lanjut.
Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id
#RamadanPenuhBerkah
#PuasaRamadanAnak
#WaktuMelatihAnakPuasa
#AmalanUtamaRamadan
#KeutamaanRamadan
Artikel Lainnya
Panduan Melatih Anak Berpuasa Sejak Dini
Panduan Lengkap Memahami Jenis-Jenis Zakat dan Perbedaannya
10 Hal yang Membatalkan Puasa Ramadan
Menggapai Keberkahan dengan Menunaikan Fidyah: Simak Bagaimana Niat dan Panduan Praktisnya ya!
Cara Memilih Lembaga Zakat Terpercaya di Era Digital
Apa yang Terjadi Jika Terlambat Membayar Zakat Fitrah? Ini Hukumnya

Info Rekening Zakat
Mari tunaikan zakat Anda dengan mentransfer ke rekening zakat.
BAZNAS

