Berita Terbaru
Manfaat Zakat dalam Kehidupan Sosial dan Bermasyarakat
Zakat merupakan salah satu pilar penting dalam agama Islam yang memiliki peran signifikan dalam membentuk kehidupan sosial dan bermasyarakat. Prinsip zakat tidak hanya memiliki makna spiritual, tetapi juga memiliki dampak yang positif dalam memperbaiki kondisi sosial ekonomi masyarakat. Dalam konteks ini, zakat tidak hanya dianggap sebagai kewajiban agama, tetapi juga sebagai instrumen yang mampu mengurangi disparitas ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan sosial secara keseluruhan.
Pertama-tama, zakat memainkan peran penting dalam mengurangi kesenjangan ekonomi. Melalui sistem distribusi yang adil, zakat mengalokasikan dana dari golongan yang mampu kepada golongan yang membutuhkan. Hal ini membantu mengurangi kesenjangan antara mereka yang memiliki kekayaan berlebih dan mereka yang hidup dalam kemiskinan. Dengan demikian, zakat membantu menciptakan masyarakat yang lebih merata dalam hal pemerataan ekonomi dan distribusi kekayaan.
Selain itu, zakat juga memberikan manfaat dalam memperkuat solidaritas sosial. Ketika umat Islam membayar zakat, mereka tidak hanya memenuhi kewajiban agama, tetapi juga mengekspresikan rasa peduli dan empati terhadap sesama manusia. Hal ini menciptakan ikatan sosial yang kuat antara individu-individu dalam masyarakat, memperkuat rasa persaudaraan, dan memupuk sikap saling membantu. Dengan demikian, zakat tidak hanya berdampak pada aspek ekonomi, tetapi juga memperkaya dimensi sosial dalam kehidupan masyarakat.
Selanjutnya, zakat memiliki potensi untuk meningkatkan akses terhadap pendidikan dan kesehatan bagi golongan yang kurang mampu. Melalui dana zakat, program-program pendidikan dan kesehatan dapat didanai untuk membantu mereka yang tidak memiliki akses atau sumber daya yang cukup. Dengan demikian, zakat tidak hanya memberikan manfaat jangka pendek dalam memenuhi kebutuhan dasar, tetapi juga membuka peluang bagi mereka untuk meningkatkan kualitas hidup mereka secara keseluruhan.
Selain itu, zakat juga berperan dalam memperkuat perekonomian lokal. Melalui redistribusi dana zakat, modal dapat dialokasikan ke sektor-sektor ekonomi lokal, seperti usaha mikro dan kecil, yang memainkan peran penting dalam pertumbuhan ekonomi lokal dan penciptaan lapangan kerja. Dengan demikian, zakat tidak hanya memberikan manfaat individual bagi penerima zakat, tetapi juga berkontribusi pada pembangunan ekonomi yang berkelanjutan dalam skala yang lebih luas.
Tidak kalah pentingnya, zakat juga memiliki dampak positif dalam memperkuat rasa keadilan dan stabilitas sosial. Dengan memastikan bahwa setiap individu dalam masyarakat memiliki akses yang adil terhadap sumber daya dan kesempatan, zakat membantu menciptakan lingkungan sosial yang lebih stabil dan harmonis. Hal ini mengurangi kemungkinan konflik sosial yang disebabkan oleh ketidaksetaraan ekonomi dan memberikan dasar yang lebih kokoh bagi pembangunan sosial yang berkelanjutan.
Secara keseluruhan, zakat memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk kehidupan sosial dan bermasyarakat yang lebih adil, solidaritas, dan berkelanjutan. Melalui prinsip-prinsipnya yang mendorong redistribusi kekayaan, solidaritas sosial, dan keadilan ekonomi, zakat membantu menciptakan masyarakat yang lebih merata, berdaya, dan sejahtera bagi semua individu. Oleh karena itu, penting bagi umat Islam untuk memahami dan melaksanakan kewajiban zakat mereka sebagai bagian integral dari kehidupan sosial dan bermasyarakat yang berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan.
BERITA23/03/2024 | admin asmara
Manfaat dan Urgensi Zakat Profesi dalam Membangun Kesejahteraan Sosial
Zakat profesi merupakan bagian dari zakat yang dikeluarkan oleh individu yang memiliki penghasilan dari pekerjaan atau profesi tertentu. Zakat profesi memiliki peran yang sangat penting dalam membangun kesejahteraan sosial, baik bagi individu maupun masyarakat secara luas. Dalam Islam, zakat profesi dianggap sebagai kewajiban yang harus dipenuhi oleh setiap muslim yang telah memenuhi syarat tertentu.
Salah satu manfaat utama dari zakat profesi adalah membantu mengurangi kesenjangan sosial dan ekonomi dalam masyarakat. Dengan memberikan zakat profesi, individu yang lebih mampu dapat membantu individu yang kurang mampu, sehingga menciptakan rasa solidaritas dan kebersamaan dalam masyarakat. Selain itu, zakat profesi juga dapat digunakan untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar bagi mereka yang membutuhkannya, seperti makanan, pakaian, dan tempat tinggal.
Selain manfaat tersebut, zakat profesi juga memiliki peran dalam meningkatkan kesejahteraan individu yang membayar zakat. Dalam Islam, zakat dianggap sebagai salah satu bentuk ibadah yang dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dengan membayar zakat profesi secara rutin, individu akan merasa lebih tenang dan tenteram dalam menjalani kehidupan, karena telah melaksanakan salah satu kewajiban agama yang penting.
Di samping itu, zakat profesi juga dapat menjadi sarana untuk memperbaiki perekonomian umat. Dengan memberikan zakat profesi, individu yang kurang mampu dapat memperoleh modal usaha atau pendidikan yang dapat meningkatkan kualitas hidup mereka. Hal ini akan berdampak positif pada perekonomian umat secara keseluruhan, karena akan menciptakan masyarakat yang lebih mandiri dan produktif.
Zakat profesi memiliki peran yang sangat penting dalam membangun kesejahteraan sosial. Melalui zakat profesi, kesenjangan sosial dan ekonomi dapat dikurangi, individu yang membayar zakat akan merasa lebih tenteram dalam menjalani kehidupan, dan perekonomian umat dapat diperbaiki. Oleh karena itu, penting bagi setiap individu yang memiliki penghasilan dari profesi tertentu untuk memahami dan melaksanakan kewajiban zakat profesi ini.
Untuk itu, mari kita tingkatkan kesadaran akan pentingnya zakat profesi dan berpartisipasi aktif dalam program-program yang diselenggarakan oleh Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Yogyakarta. Dengan berzakat profesi melalui BAZNAS, kita dapat memastikan bahwa bantuan kita tepat sasaran dan dapat memberikan dampak yang nyata bagi kesejahteraan sosial di sekitar kita.
BERITA23/03/2024 | admin asmara
Infak: Tindakan Mulia yang Dilaksanakan dengan Ikhlas
Infak, dalam ajaran agama Islam, merupakan salah satu amal yang sangat dianjurkan. Tindakan ini melibatkan pemberian secara sukarela dari harta atau waktu seseorang untuk membantu orang lain atau kepentingan umum. Namun, lebih dari sekadar memberi, penting bagi seseorang untuk melaksanakan infak dengan ikhlas, tanpa mengharapkan imbalan atau pujian dari manusia. Artikel ini akan menjelaskan mengapa pelaksanaan infak dengan ikhlas begitu penting, serta bagaimana hal itu dapat memperkaya kehidupan seseorang.
Ikhlas, atau niat yang tulus, adalah inti dari setiap amal baik dalam Islam. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya amal itu tergantung dari niatnya.” (HR. Bukhari-Muslim). Dengan kata lain, keikhlasan dalam berinfak merupakan faktor penentu utama atas nilai spiritual dari amal tersebut di sisi Allah SWT. Tanpa ikhlas, tindakan berinfak dapat kehilangan maknanya dan hanya menjadi sekadar pencitraan diri atau pencapaian duniawi semata.
Salah satu contoh keikhlasan dalam berinfak adalah ketika seseorang memberikan sumbangan secara diam-diam, tanpa mengharapkan pujian atau pengakuan dari orang lain. Rasulullah SAW menyatakan, “Tujuh golongan yang akan Allah berkahi pada hari di mana tidak ada kecuali bayangan-Nya, di antaranya adalah seseorang yang bersedekah dengan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dia berikan.” (HR. Bukhari-Muslim). Hal ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga keikhlasan dalam berinfak, bahkan hingga pada tingkat rahasia.
Ketika seseorang melaksanakan infak dengan ikhlas, ia juga memperoleh banyak manfaat secara pribadi. Pertama-tama, infak menguatkan ikatan antara individu dengan Allah SWT. Dengan memberikan sebagian dari harta yang telah diberikan-Nya kepada kita, kita menunjukkan rasa syukur dan ketaatan kepada-Nya. Ini memperdalam hubungan spiritual kita dengan Sang Pencipta dan memperkuat keyakinan kita dalam kebaikan-Nya.
Selain itu, berinfak dengan ikhlas juga membawa rasa kepuasan dan kedamaian batin. Ketika seseorang membantu orang lain tanpa pamrih, ia merasakan kebahagiaan yang tak tergantikan dalam hatinya. Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain.” (HR. Ahmad). Memberi kepada sesama memberi kita kesempatan untuk merasakan kehangatan hati dan kebahagiaan yang datang dari memberi tanpa pamrih.
Tidak hanya itu, berinfak dengan ikhlas juga membantu membentuk karakter yang lebih baik. Dengan melatih diri untuk mengutamakan kepentingan orang lain di atas kepentingan diri sendiri, seseorang menjadi lebih empati, baik hati, dan murah hati. Ini membentuk kepribadian yang lebih mulia dan menciptakan lingkungan yang lebih baik bagi masyarakat secara keseluruhan.
Namun, melaksanakan infak dengan ikhlas bukanlah hal yang mudah. Manusia cenderung tergoda oleh keserakahan, rasa ingin memiliki, atau keinginan untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain. Oleh karena itu, penting bagi setiap individu untuk terus memperbaiki niatnya dan mengingatkan diri sendiri akan pentingnya keikhlasan dalam berinfak.
Dalam kesimpulan, infak merupakan tindakan mulia yang sangat dianjurkan dalam Islam. Namun, pelaksanaannya haruslah dilakukan dengan ikhlas, tanpa mengharapkan imbalan atau pengakuan dari manusia. Dengan menjaga keikhlasan dalam berinfak, seseorang tidak hanya mendapatkan keberkahan dari Allah SWT, tetapi juga merasakan kepuasan batin dan membentuk karakter yang lebih baik. Oleh karena itu, marilah kita berusaha untuk selalu melaksanakan infak dengan ikhlas dalam setiap kesempatan yang kita miliki.
BERITA23/03/2024 | Ilmi

Implementasi Infaq dalam Kehidupan Sehari-hari: Menjadi Agen Perubahan dengan Berbagi Kebaikan
Infaq, sebagai bentuk berbagi harta atau rezeki kepada yang membutuhkan, bukanlah konsep yang hanya relevan di atas kertas atau di dalam diskusi keagamaan. Implementasi infaq dalam kehidupan sehari-hari merupakan panggilan untuk menjadi agen perubahan yang aktif dalam memperbaiki kondisi sosial dan ekonomi masyarakat di sekitar kita.
Pertama-tama, infaq dapat diimplementasikan dengan menyisihkan sebagian dari penghasilan atau harta untuk diberikan kepada yang membutuhkan secara teratur. Hal ini bisa dilakukan dengan cara menyumbangkan sebagian dari gaji bulanan, menyalurkan zakat maal atau infaq pada program-program sosial, atau memberikan bantuan kepada individu atau keluarga yang sedang mengalami kesulitan.
Selain memberikan secara langsung, infaq juga dapat diimplementasikan melalui partisipasi dalam program-program kebajikan dan amal. Hal ini bisa berupa menjadi relawan di lembaga amal, mengorganisir acara penggalangan dana untuk keperluan tertentu, atau menyumbangkan barang atau waktu untuk membantu mereka yang membutuhkan.
Selanjutnya, implementasi infaq dapat dilakukan melalui praktik berbagi rezeki dalam kehidupan sehari-hari. Ini termasuk memberikan makanan atau minuman kepada mereka yang kelaparan atau haus, memberikan pakaian atau perlengkapan sekolah kepada anak-anak yang membutuhkan, atau bahkan memberikan dukungan moral dan emosional kepada mereka yang sedang mengalami kesulitan.
Selain memberikan secara langsung, implementasi infaq juga dapat dilakukan dengan mengedukasi dan menginspirasi orang lain untuk melakukan hal serupa. Melalui pembagian cerita inspiratif, membagikan pengetahuan tentang pentingnya berinfaq, dan menciptakan kesadaran akan masalah sosial di sekitar kita, kita dapat membantu menggerakkan lebih banyak orang untuk berpartisipasi dalam tindakan kebaikan.
Dengan demikian, implementasi infaq dalam kehidupan sehari-hari bukanlah hal yang sulit dilakukan. Dengan kesadaran, kepedulian, dan komitmen untuk berbagi dengan sesama, setiap individu memiliki potensi untuk menjadi agen perubahan yang berarti dalam membangun masyarakat yang lebih berempati, adil, dan berkeberkahan. Oleh karena itu, mari kita jadikan infaq sebagai bagian integral dari kehidupan kita dan berkontribusi dalam menciptakan dunia yang lebih baik untuk semua orang.
BERITA22/03/2024 | Anisa

Keutamaan Infak: Mendatangkan Berbagai Manfaat Spiritual dan Material
Infak, sebagai salah satu amalan yang sangat dianjurkan dalam ajaran agama Islam, memiliki keutamaan yang sangat besar baik dari segi spiritual maupun material. Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi beberapa keutamaan penting dari praktik berinfak dan bagaimana amalan ini dapat memberikan manfaat yang melimpah bagi individu dan masyarakat.
Salah satu keutamaan utama dari infak adalah mendatangkan berkah dan pahala yang besar di sisi Allah SWT. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berjanji untuk melipatgandakan pahala bagi mereka yang memberikan infak dengan ikhlas dan tulus. Dengan memberikan sebagian dari harta yang dimiliki, seseorang dapat memperoleh kebaikan yang tidak terhingga dalam kehidupan dunia dan akhirat.
Selain mendatangkan pahala spiritual, praktik infak juga membawa berkah dalam kehidupan material. Dalam banyak kasus, orang yang rajin berinfak sering kali diberkati dengan rezeki yang lebih melimpah dari Allah SWT. Ini bukan hanya berarti mendapatkan tambahan materi secara langsung, tetapi juga mencakup perlindungan dari berbagai bencana dan kesulitan yang mungkin timbul dalam hidup.
Keutamaan lain dari infak adalah membantu mengurangi kesenjangan sosial dan ekonomi dalam masyarakat. Melalui praktik berinfak, kekayaan dan sumber daya yang dimiliki oleh individu atau lembaga dapat didistribusikan secara lebih adil kepada mereka yang membutuhkan. Ini membantu menciptakan lingkungan yang lebih berkeadilan dan berempati, di mana semua orang memiliki akses yang sama terhadap kesempatan dan sumber daya.
Selain itu, praktik berinfak juga merupakan bentuk ibadah yang mendatangkan kedamaian dan kepuasan batin bagi individu yang melakukannya. Dengan memberikan infak dengan niat yang tulus dan ikhlas, seseorang dapat merasakan kedekatan yang lebih besar dengan Allah SWT dan merasakan berkah dalam hatinya. Ini membantu memperkuat ikatan spiritual dan meningkatkan kualitas hubungan individu dengan penciptanya.
Selain keutamaan-keutamaan tersebut, praktik infak juga memiliki dampak positif dalam memperbaiki kondisi sosial dan ekonomi masyarakat secara luas. Infak yang diberikan untuk pendidikan, kesehatan, atau pembangunan infrastruktur dapat membantu meningkatkan akses dan kualitas layanan yang tersedia bagi masyarakat yang kurang mampu. Hal ini pada gilirannya dapat membantu mengurangi kemiskinan, meningkatkan kesejahteraan, dan menciptakan peluang ekonomi yang lebih baik bagi individu dan komunitas.
Dengan demikian, praktik berinfak merupakan salah satu cara yang paling efektif untuk mendapatkan berbagai manfaat baik secara spiritual maupun material. Dengan memberikan sebagian dari harta yang dimiliki kepada mereka yang membutuhkan, seseorang tidak hanya mendapatkan pahala yang besar di sisi Allah SWT, tetapi juga mendatangkan berkah dalam kehidupan dunia dan membantu membangun masyarakat yang lebih berkeadilan, berempati, dan berdaya.
BERITA22/03/2024 | Ilmi
Keberkahan Dalam Infaq: Memberikan dan Menerima Berkah Tuhan
Infaq, atau tindakan memberikan sebagian dari harta atau rezeki kepada yang membutuhkan, dianggap sebagai sebuah tindakan mulia yang tidak hanya membantu masyarakat yang kurang mampu, tetapi juga membawa keberkahan bagi pemberi dan penerima. Konsep keberkahan dalam infaq meliputi aspek spiritual, sosial, dan ekonomi yang dapat membawa manfaat yang besar bagi semua pihak yang terlibat.
Pertama-tama, keberkahan dalam infaq tercermin dalam ajaran agama. Dalam Islam, memberikan infaq adalah salah satu bentuk ibadah yang diberkahi oleh Allah SWT. Firman-Nya dalam Al-Qur’an menegaskan pentingnya berinfaq dengan ikhlas dan penuh kepedulian terhadap sesama. Allah SWT berjanji untuk melipatgandakan pahala bagi mereka yang berinfaq dengan niat yang tulus.
Selain itu, infaq juga membawa keberkahan dalam kehidupan sosial. Ketika seseorang memberikan sebagian dari harta atau rezekinya kepada yang membutuhkan, ia membantu memperbaiki kondisi sosial dan ekonomi masyarakat secara keseluruhan. Solidaritas yang tercipta dari tindakan berbagi ini memperkuat ikatan sosial dan menciptakan lingkungan yang lebih peduli dan berempati.
Keberkahan dalam infaq juga termanifestasi dalam aspek ekonomi. Meskipun terdengar paradoksal, memberikan sebagian dari harta dapat membawa keberkahan dalam kekayaan seseorang. Dalam Islam, diyakini bahwa memberikan infaq tidak akan mengurangi harta seseorang, malah akan membuka pintu rezeki yang lebih besar dari Allah SWT. Dengan memberikan dengan ikhlas, seseorang membuktikan ketakwaan dan ketaatan kepada Allah SWT, yang pada gilirannya dapat membawa berkah dan kelimpahan dalam hidup.
Lebih jauh lagi, keberkahan dalam infaq juga terlihat dalam dampaknya pada kehidupan sehari-hari. Tindakan memberikan dan menerima infaq membawa kedamaian batin dan kepuasan hati yang tidak ternilai harganya. Penerima merasakan harapan dan bantuan dalam menghadapi kesulitan hidup, sementara pemberi merasakan kepuasan spiritual dan keberkahan atas rezeki yang diberikan.
Dengan demikian, keberkahan dalam infaq adalah bukti nyata dari kasih sayang dan kemurahan hati Tuhan yang melimpah. Ini adalah bentuk investasi dalam membangun masyarakat yang lebih baik dan lebih berkeberkahan. Melalui infaq, kita tidak hanya memberikan bantuan materi, tetapi juga menyebarkan cinta, harapan, dan keberkahan kepada sesama manusia. Oleh karena itu, mari kita terus menjaga semangat berbagi ini hidup dan berkontribusi dalam menciptakan dunia yang lebih berkeberkahan untuk semua.
BERITA22/03/2024 | Ady

Hikmah ….????? Ramadhan 2024: SAAT KAMU MENOLONG ORANG LAIN...
Assalamu'alaikum wa rohmatullahi wabarokatuh,
Bismillah………
SAAT KAMU MENOLONG ORANG LAIN...
PERCAYA atau TIDAK, saat kamu menolong orang lain,
SEBENARNYA .. kamu sedang menolong DIRIMU SENDIRI.
SAAT kita; • sedekah, • infak, • membantu orang susah, orang miskin, anak yatim, dan • orang-orang jompo yang tidak punya apa-apa..
KELIHATANNYA;kita yang MEMBERI,kita yang MEMBANTU,Kita juga KELIHATANNYA yang meringankan..
Kata Allah, engkau bakal DITOLONG, dan bakal diberikan rezeki, dari orang-orang lemah dan susah di sekitar kalian semua.
J A D I ......... konsepnya harus DIBALIK.
K E T I K A ……. KITA menolong anak yatim dengan memberi dia jajan, pakaian, SPP,
S E S U N G G U H N Y A …
KITA SEDANG MENOLONG DIRI KITA SENDIRI.
?? Sekarang KITA yang nyari...
DI MANA ya.., ada anak yatim untuk diberikan pertolongan..?
DI MANA ya.., ada orang sakit yang harus dibawa ke Rumah Sakit..?
DI MANA ya.., ada orang fakir miskin yang harus dibantu dan ditolong..?
DI MANA ya.., ada ibu-ibu hamil yang tidak punya uang untuk periksa janinnya..?
DI MANA ya.., ada orang yang kelaparan yang bisa saya bagi beras, minyak, telor, ayam, daging, buah-buahan..?
SIAPA ya.., yang sedang dalam keadaan sedih hatinya yang kemudian bisa saya gembirakan..?
KENAPA...??
K A R E N A KETIKA kita menolong mereka...
S E S U N G G U H N Y A ..
KITA TENGAH MENOLONG DIRI KITA SENDIRI.
BILA konsepnya seperti ini, maka …
harusnya NOLONG orang itu jadi enteng, ringan.
"Barangsiapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin, pasti Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan pada hari kiamat.
Barangsiapa yang menjadikan mudah urusan orang lain, pasti Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat.
Allah senantiasa menolong hamba Nya selama hamba Nya itu suka menolong saudaranya." (HR. Muslim)
Penyunting: Yoga Pratama
Sumber: BSK @Tahajud Call
#BaznasKotaYogyakarta
?
BERITA22/03/2024 | Yoga Pratama

Mengapa Infaq Penting dalam Membangun Kesejahteraan Sosial
Infaq, dalam konteks Islam, merujuk pada praktik memberikan sumbangan atau donasi untuk tujuan sosial atau amal. Praktik ini telah menjadi bagian integral dari ajaran agama Islam sejak zaman Rasulullah Muhammad SAW. Namun, nilai infaq tidak hanya relevan dalam konteks keagamaan, tetapi juga memiliki dampak yang signifikan dalam membangun kesejahteraan sosial dalam masyarakat. Berikut adalah beberapa alasan mengapa infaq sangat penting dalam upaya memperbaiki kondisi sosial:
1. Membantu Meringankan Beban Masyarakat Miskin
Salah satu tujuan utama infaq adalah untuk membantu meringankan beban masyarakat yang kurang mampu secara finansial. Di banyak negara, termasuk di Indonesia, kesenjangan sosial masih menjadi masalah serius. Melalui infaq, individu atau lembaga dapat memberikan bantuan langsung kepada mereka yang membutuhkan, seperti memberikan makanan, pakaian, tempat tinggal, atau biaya pendidikan. Tindakan ini membantu mengurangi penderitaan dan memperbaiki kualitas hidup mereka yang kurang beruntung.
2. Membangun Infrastruktur Sosial
Infaq tidak hanya terbatas pada bantuan langsung kepada individu, tetapi juga dapat digunakan untuk membangun infrastruktur sosial yang lebih luas. Misalnya, infaq dapat dialokasikan untuk membangun sekolah, rumah sakit, masjid, atau fasilitas umum lainnya yang bermanfaat bagi masyarakat. Dengan memperkuat infrastruktur sosial, masyarakat dapat merasakan manfaat jangka panjang dalam bentuk akses yang lebih baik terhadap layanan kesehatan, pendidikan, dan keagamaan.
3. Memperkuat Solidaritas Sosial
Praktik infaq juga memainkan peran penting dalam memperkuat solidaritas sosial di dalam masyarakat. Ketika individu atau kelompok menyumbangkan sebagian dari harta mereka untuk membantu orang lain, ini menciptakan ikatan emosional dan sosial yang kuat antara anggota masyarakat. Solidaritas sosial yang kuat merupakan fondasi penting bagi masyarakat yang inklusif dan peduli terhadap kebutuhan sesama.
4. Mengajarkan Nilai Kebaikan dan Keadilan
Infaq bukan hanya tentang memberikan bantuan materi, tetapi juga merupakan ekspresi dari nilai-nilai kebaikan dan keadilan. Dalam Islam, memberikan infaq adalah salah satu bentuk ibadah yang dianjurkan. Melalui praktik ini, individu diajarkan untuk peduli terhadap kebutuhan orang lain dan untuk berbagi keberkahan yang mereka miliki. Ini juga membantu menegakkan prinsip-prinsip keadilan sosial, di mana kekayaan dan sumber daya didistribusikan secara lebih merata di antara anggota masyarakat.
5. Menyebarkan Kesejahteraan dan Kebahagiaan
Infaq memiliki kekuatan untuk menyebarkan kesejahteraan dan kebahagiaan di seluruh masyarakat. Ketika orang-orang memberikan dengan sukarela, baik penerima maupun pemberi merasakan kepuasan dan kebahagiaan yang mendalam. Ini menciptakan lingkungan sosial yang lebih positif dan optimis, di mana setiap individu merasa dihargai dan didukung oleh komunitasnya.
Dalam kesimpulan, infaq memainkan peran yang sangat penting dalam membangun kesejahteraan sosial di masyarakat. Praktik ini tidak hanya memberikan bantuan langsung kepada mereka yang membutuhkan, tetapi juga memperkuat solidaritas sosial, mengajarkan nilai-nilai kebaikan dan keadilan, serta menyebarkan kesejahteraan dan kebahagiaan. Oleh karena itu, mengembangkan budaya infaq di dalam masyarakat merupakan langkah penting dalam upaya menciptakan dunia yang lebih baik bagi semua orang.
oleh;fikii.nk
================
#HartaBerkahJiwaSakinah
#PengelolaZakatTerbaikTerpercaya
#AmanahProfesionalTransparan
#TerimakasihMuzakiDanMustahiq
================
*Tunaikan zakat melalui BAZNAS Kota Yogyakarta, klik link: https://kotayogya.baznas.go.id/bayarzakat
*Info Rekening Zakat, Mari tunaikan zakat anda dengan mentransfer ke rekening zakat BAZNAS Kota Yogyakarta, Klik link:
https://kotayogya.baznas.go.id/rekening
*Ayo akses kemudahan pelayanan satu pintu BAZNAS Kota Yogyakarta hanya dengan klik link ini: https://berbagi.link/baznaskotajogja
BERITA22/03/2024 | fikii.nk

Perbedaan Zakat Fitrah dan Zakat Mal
Perbedaan Antara Zakat Fitrah dan Zakat Mal : Memahami Kedua Konsep Zakat
Zakat adalah kewajiban sosial dalam agama Islam yang memerintahkan umatnya untuk memberikan sebagian dari kekayaan mereka kepada yang membutuhkan. Dalam praktiknya, terdapat dua jenis zakat yang paling umum, yaitu Zakat Fitrah dan Zakat Mal. Meskipun keduanya memiliki tujuan yang sama, yaitu untuk membantu kaum yang membutuhkan, ada perbedaan signifikan antara keduanya. Mari kita telusuri perbedaan antara Zakat Fitrah dan Zakat Mal dalam konteks yang lebih mendalam.
1. Definisi dan Tujuan
Zakat Fitrah : Zakat Fitrah adalah zakat yang wajib dikeluarkan oleh setiap Muslim pada akhir bulan Ramadan sebelum pelaksanaan shalat Idul Fitri. Tujuannya adalah untuk membersihkan diri dari dosa-dosa yang dilakukan selama berpuasa dan untuk membantu orang-orang yang membutuhkan dalam merayakan Idul Fitri dengan layak.
Zakat Mal : Zakat Mal, di sisi lain, adalah zakat yang wajib dikeluarkan oleh setiap Muslim yang memiliki harta tertentu yang telah mencapai nisab (ambang batas tertentu) setelah satu tahun berlalu. Zakat ini bertujuan untuk mengurangi ketidaksetaraan ekonomi dan memastikan distribusi kekayaan yang lebih adil dalam masyarakat.
2. Objek Zakat
Zakat Fitrah : Objek zakat ini adalah diri sendiri, yaitu setiap Muslim yang memiliki kemampuan untuk membayar zakat. Zakat Fitrah tidak berkaitan dengan kekayaan atau harta benda yang dimiliki.
Zakat Mal : Objek zakat ini adalah harta atau kekayaan yang dimiliki seseorang. Hal ini mencakup harta seperti uang tunai, emas, perak, pertanian, perdagangan, dan lain sebagainya.
3. Jumlah dan Penghitungan
Zakat Fitrah : Jumlah zakat fitrah biasanya ditentukan berdasarkan jenis makanan pokok yang dikonsumsi oleh mayoritas masyarakat setempat, seperti beras, gandum, atau kurma. Pada umumnya, besaran zakat fitrah adalah sejumlah dari satu sa’ atau dua kilogram makanan pokok tersebut.
Zakat Mal : Jumlah zakat mal dihitung sebagai 2,5% dari total kekayaan yang dimiliki seseorang setelah mencapai nisab. Nisab untuk zakat mal dapat bervariasi tergantung pada jenis kekayaan yang dimiliki, seperti emas, perak, atau harta lainnya.
4. Waktu Pembayaran
Zakat Fitrah : Zakat Fitrah harus dibayar sebelum shalat Idul Fitri dilaksanakan. Biasanya, pembayaran dilakukan beberapa hari sebelum hari raya Idul Fitri.
Zakat Mal : Zakat Mal dibayar setelah mencapai satu tahun kalender Hijriah. Seseorang harus membayar zakat mal setelah satu tahun berlalu sejak kekayaan mencapai nisab.
5. Penerima Zakat
Zakat Fitrah : Zakat Fitrah biasanya diberikan kepada fakir miskin yang membutuhkan bantuan saat Idul Fitri. Penerima zakat fitrah juga bisa mencakup orang-orang yang tergolong sebagai mustahik.
Zakat Mal : Zakat Mal juga diberikan kepada fakir miskin, yatim piatu, orang-orang yang terlilit hutang, serta untuk berbagai keperluan sosial lainnya yang membutuhkan bantuan.
Dengan memahami perbedaan antara Zakat Fitrah dan Zakat Maal, umat Islam diharapkan dapat menjalankan kewajiban zakat mereka dengan lebih baik sesuai dengan ajaran agama Islam. Meskipun keduanya berbeda dalam objek, waktu pembayaran, dan proses perhitungan, keduanya memiliki tujuan yang sama, yaitu untuk meringankan beban orang-orang yang membutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat.
BERITA21/03/2024 | admin asmara

Peranan Zakat dalam Pendidikan di Indonesia
Peranan Zakat dalam Pendidikan di Indonesia dan Upaya Memaksimalkan Penyaluran Zakat
Pendidikan adalah salah satu pilar utama dalam pembangunan suatu bangsa. Di Indonesia, pendidikan memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan menciptakan masyarakat yang lebih berkualitas. Namun, masih terdapat tantangan besar dalam menyediakan akses pendidikan yang merata dan berkualitas bagi seluruh lapisan masyarakat. Dalam konteks ini, zakat sebagai salah satu institusi keagamaan dalam Islam, memiliki peran yang signifikan dalam mendukung pembangunan pendidikan di Indonesia.
Peranan Zakat dalam Pendidikan
Zakat salah satu rukun Islam yang merupakan kewajiban bagi umat Muslim yang mampu, memiliki potensi besar dalam meningkatkan akses dan kualitas pendidikan di Indonesia. Dalam konteks pendidikan, zakat dapat dimanfaatkan dalam beberapa aspek diantaranya :
Pemberian Beasiswa : Zakat dapat digunakan untuk memberikan beasiswa kepada siswa yang kurang mampu secara finansial namun memiliki potensi akademik yang baik. Beasiswa ini dapat mencakup biaya sekolah, biaya hidup, dan kebutuhan pendidikan lainnya.
Pengembangan Infrastruktur Pendidikan : Sebagian dana zakat dapat dialokasikan untuk membangun dan meningkatkan infrastruktur pendidikan, seperti pembangunan sekolah, perpustakaan, dan laboratorium.
Peningkatan Kualitas Tenaga Pendidik : Zakat dapat digunakan untuk pelatihan dan pengembangan profesional bagi para guru dan tenaga pendidik, sehingga mereka dapat memberikan pendidikan yang lebih berkualitas kepada siswa.
Penyediaan Sarana dan Prasarana Pembelajaran : Zakat juga dapat digunakan untuk menyediakan sarana dan prasarana pembelajaran yang memadai, seperti pengadaan buku, alat tulis, dan teknologi pendukung pembelajaran.
Upaya Memaksimalkan Penyaluran Zakat
Meskipun potensi zakat dalam mendukung pendidikan sangat besar, masih terdapat beberapa tantangan dalam penyalurannya yang perlu diatasi. Beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk memaksimalkan penyaluran zakat setiap tahunnya antara lain :
Peningkatan Kesadaran Masyarakat : Penting untuk terus meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya zakat dalam mendukung pendidikan. Hal ini dapat dilakukan melalui kampanye-kampanye sosial, ceramah keagamaan, dan program-program pendidikan keuangan.
Transparansi dan Akuntabilitas : Organisasi yang menyalurkan zakat perlu menjaga transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan dana zakat. Hal ini akan meningkatkan kepercayaan masyarakat dan memastikan bahwa zakat benar-benar digunakan untuk tujuan yang dimaksud.
Kolaborasi dengan Pihak Terkait : Kerjasama antara lembaga-lembaga zakat, pemerintah, dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) dapat mempercepat dan memperluas penyaluran zakat untuk pendidikan. Kolaborasi ini dapat mencakup pertukaran sumber daya, pengalaman, dan jaringan.
Pengembangan Program Pendampingan : Program pendampingan bagi penerima zakat, seperti pelatihan keterampilan atau bimbingan akademik, dapat membantu meningkatkan efektivitas penggunaan zakat dalam mendukung pendidikan.
Zakat memiliki potensi besar dalam mendukung pembangunan pendidikan di Indonesia. Dengan memanfaatkan zakat secara efektif dan efisien dapat tercipta akses pendidikan yang lebih merata dan berkualitas bagi seluruh masyarakat. Namun, untuk mencapai hal tersebut diperlukan upaya bersama antara pemerintah, lembaga zakat, LSM, dan masyarakat secara luas dalam memaksimalkan penyaluran zakat setiap tahunnya. Dengan demikian, zakat dapat menjadi salah satu instrumen yang signifikan dalam meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat Indonesia melalui pendidikan.
BERITA21/03/2024 | admin asmara

Optimalisasi Zakat di Era Digital: Membangun Kesejahteraan Bersama
Di tengah kemajuan teknologi digital yang begitu pesat, zakat sebagai salah satu rukun Islam menjadi lebih mudah untuk disalurkan dan dikelola. Di Kota Yogyakarta, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) memiliki peran yang signifikan dalam mengelola dan mendistribusikan zakat secara efektif. Meski demikian, penting untuk memahami bahwa zakat bukan hanya sekadar kewajiban, tetapi juga instrumen sosial yang dapat membangun kesejahteraan bersama.
Era digital membuka pintu bagi inovasi dalam pengelolaan zakat. BAZNAS Kota Yogyakarta telah merespon hal ini dengan meluncurkan platform digital yang memudahkan masyarakat untuk berzakat secara online. Melalui platform ini, proses pembayaran zakat menjadi lebih transparan dan efisien. Selain itu, BAZNAS juga menggandeng berbagai lembaga keuangan untuk mengembangkan program-program kreatif yang menggalang zakat dari berbagai kalangan.
Namun, tantangan tetap ada. Masih banyak masyarakat yang kurang memiliki pemahaman yang cukup tentang zakat dan manfaatnya. Oleh karena itu, edukasi mengenai zakat perlu terus digalakkan agar masyarakat semakin sadar akan pentingnya berzakat. BAZNAS Kota Yogyakarta dapat memainkan peran penting dalam hal ini dengan menggelar program-program edukasi yang menarik dan informatif.
Selain itu, penting juga untuk menjaga keberlanjutan dan keberagaman program zakat. BAZNAS Kota Yogyakarta dapat mengembangkan program-program inklusif yang dapat menjangkau berbagai kalangan masyarakat, termasuk mereka yang tinggal di pedesaan atau memiliki keterbatasan akses teknologi. Dengan demikian, zakat tidak hanya menjadi kewajiban agama, tetapi juga sarana untuk meningkatkan kualitas hidup bersama.
Secara keseluruhan, zakat di era digital menawarkan peluang besar untuk membangun kesejahteraan bersama. BAZNAS Kota Yogyakarta dapat berperan sebagai motor penggerak dalam memaksimalkan potensi zakat ini. Dengan dukungan dan partisipasi aktif dari masyarakat, zakat dapat menjadi instrumen yang kuat dalam mengatasi berbagai permasalahan sosial dan ekonomi yang dihadapi oleh masyarakat Kota Yogyakarta.
BERITA21/03/2024 | admin asmara

Makna Dan Nilai Yang Terkandung Dalam Kafarat
Dalam ajaran Islam, kafarat merujuk pada tindakan penebusan atau pembayaran yang dilakukan sebagai ganti dosa atau pelanggaran tertentu. Konsep ini menunjukkan pemahaman Islam terhadap kelemahan manusia dan memberikan peluang untuk memperbaiki diri melalui tindakan positif. Mari kita eksplorasi lebih lanjut tentang makna, jenis, dan nilai kafarat dalam konteks kehidupan sehari-hari.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Maidah ayat 89 tentang kafarat:
“Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak disengaja (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kafaratnya (denda pelanggaran sumpah) ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu atau memberi mereka pakaian atau memerdekakan seorang hamba sahaya. Barang siapa tidak mampu melakukannya, maka (kafaratnya) berpuasalah tiga hari. Itulah kafarat sumpah-sumpahmu apabila kamu bersumpah. Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan hukum-hukum-Nya kepadamu agar kamu bersyukur (kepada-Nya).”
Nilai-Nilai Kafarat
1. Penebusan Kesalahan: Kafarat memberikan kesempatan kepada individu untuk membersihkan diri dari dosa atau kesalahan yang telah mereka lakukan, menekankan aspek pemulihan dan perbaikan diri.
2. Ungkapan Kesediaan untuk Bertanggung Jawab: Tindakan memberikan kafarat menunjukkan kesediaan seseorang untuk bertanggung jawab atas perbuatannya dan mengambil inisiatif untuk memperbaiki kesalahan tersebut.
BERITA21/03/2024 | Ilham maarif

Cara Membayar Kafarat Puasa Dengan Uang
Puasa adalah salah satu kewajiban yang diterapkan kepada umat Muslim sebagai bentuk ibadah kepada Allah SWT. Namun, terkadang ada situasi di mana seseorang perlu membayar kafarat puasa karena membatalkan puasa dengan sengaja tanpa alasan yang dibolehkan. Dalam hal ini, Islam memberikan panduan tentang bagaimana membayar kafarat puasa, termasuk dengan menggunakan uang. Apa itu Kafarat Puasa?Kafarat puasa merupakan suatu bentuk tebusan atau pembayaran yang harus dilakukan oleh seseorang yang membatalkan puasanya dengan sengaja tanpa alasan yang dibolehkan dalam Islam. Ada beberapa situasi di mana seseorang diwajibkan membayar kafarat puasa, seperti memakan makanan atau minuman secara sengaja selama puasa di bulan Ramadan.Membayar Kafarat Puasa dengan UangSalah satu cara untuk membayar kafarat puasa adalah dengan uang. Jumlah uang yang harus dibayarkan sebagai kafarat puasa disesuaikan dengan nilai makanan pokok yang diperlukan untuk memberi makan 60 orang miskin. Menurut hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda:“Barangsiapa yang terpaksa membatalkan puasanya karena sakit atau perjalanan, maka hendaklah ia mengganti dengan berpuasa beberapa hari pada hari-hari lain. Dan barangsiapa yang tidak sanggup, maka ia wajib memberi makan orang miskin satu hari.”Dari hadist tersebut, dapat dilihat bahwa jika seseorang tidak mampu berpuasa sebagai kafarat, maka ia bisa memberikan makanan kepada orang miskin sebagai gantinya. Namun, jika seseorang tidak mampu memberi makanan, maka membayar dengan uang yang setara dengan nilai makanan yang diperlukan merupakan pilihan lain yang diperbolehkan.Ayat Alquran tentang Kafarat PuasaAllah SWT juga menjelaskan tentang kewajiban membayar kafarat puasa dalam Alquran. Dalam surah Al-Baqarah ayat 183-184, Allah berfirman:“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” (QS. Al-Baqarah [2]: 183). (Yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui,” (QS. Al-Baqarah [2]: 184).Ayat di atas menunjukkan pentingnya berpuasa di bulan Ramadan dan menegaskan bahwa bagi orang yang tidak mampu berpuasa karena sakit atau perjalanan, mereka diwajibkan untuk mengganti puasa di hari-hari lain. Bagi yang tidak mampu, maka ada alternatif untuk membayar kafarat puasa.KesimpulanMembayar kafarat puasa dengan uang adalah salah satu cara yang diperbolehkan dalam Islam jika seseorang tidak mampu menggantikan puasa dengan berpuasa di hari-hari lain atau memberi makanan kepada orang miskin. Penting bagi umat Muslim untuk memahami tata cara dan pedoman yang benar dalam membayar kafarat puasa agar ibadah mereka diterima oleh Allah SWT. Dengan mematuhi ajaran agama secara benar, umat Muslim dapat menggapai keberkahan dan keberlimpahan dalam hidup mereka.
BERITA21/03/2024 | Adhitya Alfath Alfadholi

Kapan Waktu Membayar Kafarat
Dalam ajaran Islam, pembayaran kafarat merupakan salah satu bagian penting dalam upaya memperbaiki diri dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Terdapat waktu-waktu yang dianggap tepat untuk melaksanakan kewajiban membayar kafarat, sebagaimana yang dapat dipahami melalui hadis-hadis Nabi Muhammad SAW dan ayat-ayat Al-Quran.Hadist Tentang Waktu Membayar KafaratSebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim menyampaikan pesan penting tentang urgensi membayar kafarat. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang melanggar puasa karena lupa, maka tidak perlu melakukan kafarat kecuali apabila dia sengaja melakukannya, pada saat itu hendaknya dia melakukan kafarat dengan memberi makan seorang miskin.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)Hadis ini menekankan pentingnya membayar kafarat secara segera, terutama dalam situasi di mana kewajiban kafarat telah terjadi. Rasulullah SAW memberikan petunjuk bahwa jika seseorang secara sengaja melakukan kesalahan yang memerlukan kafarat, maka kafarat harus dilaksanakan segera.Ayat Al-Quran Tentang Kewajiban Membayar KafaratDalam Al-Quran, Allah SWT juga memberikan pedoman yang jelas mengenai kewajiban membayar kafarat dalam Surah Al-Maidah ayat 89:“Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya).” (QS. Al-Maidah: 89)Ayat ini menegaskan pentingnya membayar kafarat sesuai dengan kemampuan seseorang dan menjelaskan beberapa opsi dalam membayar kafarat, seperti berpuasa, bersedekah, atau melakukan ibadah lainnya jika seseorang tidak mampu memberi makan miskin. Ayat ini juga mengajarkan pentingnya bertakwa kepada Allah dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban agama.Melalui hadis-hadis Nabi SAW dan ayat-ayat Al-Quran, umat Muslim diberikan pedoman yang jelas mengenai waktu yang tepat untuk membayar kafarat. Kepatuhan dan kesungguhan dalam menunaikan kewajiban membayar kafarat merupakan bagian dari upaya untuk memperbaiki diri dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Semoga dengan pemahaman yang benar tentang waktu dan cara membayar kafarat, umat Muslim dapat menjalankan agama dengan penuh keikhlasan dan mendapatkan keberkahan dari-Nya.
BERITA21/03/2024 | Adhitya Alfath Alfadholi

Implementasi Kafarat dalam Kehidupan Sehari-hari
Dalam ajaran Islam, kafarat merujuk pada tindakan penebusan atau pembayaran yang dilakukan sebagai ganti dosa atau pelanggaran tertentu. Konsep ini menunjukkan pemahaman Islam terhadap kelemahan manusia dan memberikan peluang untuk memperbaiki diri melalui tindakan positif. Mari kita eksplorasi lebih lanjut tentang makna, jenis, dan nilai kafarat dalam konteks kehidupan sehari-hari.
Implementasi Kafarat
1. Puasa Sebagai Kafarat:
Puasa merupakan salah satu bentuk kafarat yang umum dilakukan untuk membersihkan diri dari dosa. Puasa tidak hanya berfungsi sebagai bentuk kafarat, tetapi juga sebagai cara untuk mendekatkan diri pada Allah, mengendalikan hawa nafsu, dan menumbuhkan rasa empati terhadap orang-orang yang kurang beruntung.
2. Sedekah dan Amal Kafarat:
Memberikan sedekah kepada orang miskin atau amal kafarat lainnya adalah cara lain untuk mengganti dosa. Dengan berbagi rezeki kepada yang membutuhkan, seorang Muslim tidak hanya membersihkan diri dari dosa tetapi juga membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
3. Pengakuan dan Taubat:
Kafarat juga dapat diwujudkan melalui pengakuan dosa dan taubat yang tulus. Meminta maaf kepada Allah, merenungkan perbuatan yang salah, dan berusaha untuk tidak mengulangi kesalahan adalah langkah-langkah penting dalam implementasi kafarat.
4. Pemenuhan Hak-Hak Lainnya:
Dalam beberapa kasus, kafarat dapat berupa pemenuhan hak-hak yang telah dilanggar. Misalnya, jika seseorang telah merugikan orang lain secara finansial atau merugikan hak-hak mereka, membayar ganti rugi atau mengembalikan hak tersebut dapat dianggap sebagai bentuk kafarat.
5. Refleksi dan Taubat
Sebelum memberikan kafarat, penting bagi individu untuk merenung, mengakui kesalahan, dan memiliki niat tulus untuk memperbaiki diri.
Konsep kafarat dalam Islam mencerminkan prinsip keadilan, pertobatan, dan pengampunan. Melalui pelaksanaan kafarat, seorang Muslim diberikan kesempatan untuk memperbaiki diri dan mengembangkan spiritualitasnya. Penting bagi umat Islam untuk memahami dan mengimplementasikan konsep kafarat ini dengan sungguh-sungguh agar dapat menjalani kehidupan yang sesuai dengan ajaran agama dan nilai-nilai Islam.
BERITA21/03/2024 | Ilham maarif

Apa itu Kafarat Nazar?
Menunaikan nazar adalah wajib, meskipun pada asalnya mengucapkan nazar ini hukumnya makruh, bahkan sebagian ulama memandangnya haram. Dasarnya adalah sabda Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam,
“Sungguh nazar itu tidak dapat menolak takdir. Sungguh nazar itu keluar dari sifat kikir.” (HR. Bukhori dan Muslim)
Meski pada dasarnya makruh, namun jika nazar sudah terucap, wajib ditunaikan.
Allah menyebutkan diantara ciri penduduk surga adalah orang-orang yang menunaikan nazarnya.
Mereka menuaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana.(QS. Al-Insan : 7)
Jika nazar tidak mampu ditunaikan, ada kewajiban yang harus dilakukan sebagai penebusnya, yaitu menunaikan kafarot.
Apa itu Kafarat Nazar?
Sahabat Uqbah bin Amir meriwayatkan hadis dari Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam beliau bersabda:
“Tebusan melanggar nazar sama dengan tebusan melanggar sumpah. (HR. Muslim)
Kafarat sumpah yaitu:
membebaskan budak.
memberikan makan atau pakaian kepada sepuluh orang miskin.
puasa tiga hari.
Nazar Yang harus di Kafarati
Semua jenis nazar, baik nazar berupa ibadah, namun dia tidak mampu menunaikannya, seperti jika dagangan hari ini habis, tahun depan saya mau umrah. Atau nazar berupa maksiat, seperti jika besuk Jumat turun hujan, saya mau nyuri durian tetangga. Hanya saja, nazar berisi maksiat, tidak boleh ditunaikan. Namun jika sudah terucap, wajib menunaikan kafarot sebagai tebusan nazar.
Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Tidak sah nazar untuk bermaksiat, namun kafarotnya tetap ada, berupa kafarot sumpah. (HR. Abu Dawud, dinilai shahih oleh Syekh Albani).
Beliau shalallahu alaihi wa sallam juga menegaskan,
Siapa bernazar untuk beribadah kepada Allah, maka lakukanlah. Dan siapa bernazar untuk bermaksiat, maka jangan lakukan. (HR. Bukhari)
Kecuali satu jenis nazar yang tidak ada kewajiban kafarat, yaitu bernazar melakukan sesuatu yang mustahil. Seperti jika nilaiku di semester ini cumlaude, aku mau jadi putri duyung atau terbang ke langit tujuh.
BERITA21/03/2024 | Ilham maarif

Membayar Fidyah dalam Bulan Ramadan: Makna, Hukum, dan Praktik
Fidyah adalah pembayaran yang diberikan oleh seseorang yang tidak mampu menjalankan ibadah puasa pada bulan Ramadan karena alasan yang sah. Ini termasuk mereka yang sakit atau mengalami kondisi kesehatan tertentu yang menghalangi mereka untuk berpuasa. Fidyah bertujuan untuk menebus puasa yang tidak dapat dilakukan tersebut dan dapat membantu individu yang terkendala untuk memenuhi kewajiban agama mereka.
Dalam konteks hukum Islam, fidyah dianggap sebagai salah satu bentuk keringanan (rukhsah) yang diberikan kepada mereka yang tidak mampu menjalankan ibadah puasa. Hal ini didasarkan pada prinsip keadilan dan pemahaman bahwa Allah SWT tidak membebani seseorang melebihi kemampuannya.
Dalam beberapa kasus, seseorang mungkin tidak dapat berpuasa sepanjang bulan Ramadan karena kondisi kesehatan yang serius atau kronis. Dalam situasi ini, membayar fidyah menjadi alternatif yang diperbolehkan untuk menebus puasa yang tidak dapat dilakukan. Fidyah ini biasanya diberikan dalam bentuk pemberian makanan atau pembayaran kepada orang-orang yang membutuhkan.
Hukum membayar fidyah dalam Islam adalah sunnah muakkadah, yang berarti sangat dianjurkan dan ditekankan. Ini didasarkan pada beberapa hadis yang merujuk kepada tindakan Nabi Muhammad SAW dan para sahabat dalam membayar fidyah dalam kasus-kasus tertentu.
Namun, penting untuk dicatat bahwa fidyah bukanlah pengganti langsung dari ibadah puasa itu sendiri. Puasa adalah salah satu dari lima rukun Islam, dan setiap Muslim yang sehat dan mampu diwajibkan untuk berpuasa selama bulan Ramadan. Fidyah hanya berlaku untuk mereka yang memiliki alasan yang sah dan tidak mampu berpuasa, dan tidak dapat menggantikan nilai spiritual dan manfaat dari ibadah puasa itu sendiri.
Praktik membayar fidyah dapat bervariasi tergantung pada budaya, tradisi, dan kondisi sosial masyarakat. Biasanya, fidyah dapat diberikan dalam bentuk makanan yang disalurkan kepada orang-orang yang membutuhkan atau dalam bentuk pembayaran tunai yang kemudian digunakan untuk memberi makan mereka yang membutuhkan.
Fidyah sering kali diukur berdasarkan jumlah hari puasa yang tidak dapat dilakukan. Misalnya, seseorang yang tidak mampu berpuasa sepanjang bulan Ramadan dapat membayar fidyah untuk setiap hari yang tidak dilakukan. Jumlah fidyah yang harus dibayarkan dapat bervariasi tergantung pada wilayah, kondisi ekonomi, dan kebutuhan masyarakat setempat.
Menurut panduan umum, jumlah fidyah yang dibayarkan setara dengan memberi makan satu orang miskin atau memberi makan untuk setiap hari yang tidak berpuasa. Pemberian makanan ini dapat berupa makanan pokok atau bahan makanan yang diperlukan untuk menyediakan satu kali makanan yang memadai.
Dalam beberapa kasus, orang mungkin memilih untuk membayar fidyah sebelum bulan Ramadan dimulai atau bahkan sepanjang tahun untuk memastikan bahwa mereka telah memenuhi kewajiban mereka sehubungan dengan puasa yang tidak dapat dilakukan.
Namun, penting untuk diingat bahwa fidyah adalah kewajiban individu yang harus dipenuhi oleh orang yang tidak mampu berpuasa. Setiap Muslim yang memenuhi syarat harus mempertimbangkan kondisi pribadi mereka, berkonsultasi dengan seorang ahli agama, dan mengikuti panduan yang sesuai dalam menentukan jumlah dan metode pembayaran fidyah yang sesuai.
Dalam kesimpulannya, membayar fidyah dalam bulan Ramadan adalah bentuk keringanan yang memungkinkan mereka yang tidak mampu berpuasa untuk menebus puasa yang tidak dapat dilakukan. Ini adalah praktik yang dianjurkan dalam Islam dan dapat dilakukan dengan memberi makan orang-orang yang membutuhkan atau dengan membayar jumlah fidyah yang sesuai. Namun, penting untuk memahami bahwa fidyah tidak menggantikan nilai ibadah puasa itu sendiri dan hanya berlaku untuk mereka yang memiliki alasan yang sah dan tidak mampu berpuasa. Dalam menjalankan kewajiban fidyah, penting untuk memperhatikan panduan agama dan konteks sosial yang relevan.
Penulis: Yoga Pratama
#BaznasKotaYogyakarta
BERITA21/03/2024 | Yoga Pratama

Keberkahan Dalam Infaq: Memberikan dan Menerima Berkah Tuhan
Infaq, atau tindakan memberikan sebagian dari harta atau rezeki kepada yang membutuhkan, dianggap sebagai sebuah tindakan mulia yang tidak hanya membantu masyarakat yang kurang mampu, tetapi juga membawa keberkahan bagi pemberi dan penerima. Konsep keberkahan dalam infaq meliputi aspek spiritual, sosial, dan ekonomi yang dapat membawa manfaat yang besar bagi semua pihak yang terlibat.
Pertama-tama, keberkahan dalam infaq tercermin dalam ajaran agama. Dalam Islam, memberikan infaq adalah salah satu bentuk ibadah yang diberkahi oleh Allah SWT. Firman-Nya dalam Al-Qur’an menegaskan pentingnya berinfaq dengan ikhlas dan penuh kepedulian terhadap sesama. Allah SWT berjanji untuk melipatgandakan pahala bagi mereka yang berinfaq dengan niat yang tulus.
Selain itu, infaq juga membawa keberkahan dalam kehidupan sosial. Ketika seseorang memberikan sebagian dari harta atau rezekinya kepada yang membutuhkan, ia membantu memperbaiki kondisi sosial dan ekonomi masyarakat secara keseluruhan. Solidaritas yang tercipta dari tindakan berbagi ini memperkuat ikatan sosial dan menciptakan lingkungan yang lebih peduli dan berempati.
Keberkahan dalam infaq juga termanifestasi dalam aspek ekonomi. Meskipun terdengar paradoksal, memberikan sebagian dari harta dapat membawa keberkahan dalam kekayaan seseorang. Dalam Islam, diyakini bahwa memberikan infaq tidak akan mengurangi harta seseorang, malah akan membuka pintu rezeki yang lebih besar dari Allah SWT. Dengan memberikan dengan ikhlas, seseorang membuktikan ketakwaan dan ketaatan kepada Allah SWT, yang pada gilirannya dapat membawa berkah dan kelimpahan dalam hidup.
Lebih jauh lagi, keberkahan dalam infaq juga terlihat dalam dampaknya pada kehidupan sehari-hari. Tindakan memberikan dan menerima infaq membawa kedamaian batin dan kepuasan hati yang tidak ternilai harganya. Penerima merasakan harapan dan bantuan dalam menghadapi kesulitan hidup, sementara pemberi merasakan kepuasan spiritual dan keberkahan atas rezeki yang diberikan.
Dengan demikian, keberkahan dalam infaq adalah bukti nyata dari kasih sayang dan kemurahan hati Tuhan yang melimpah. Ini adalah bentuk investasi dalam membangun masyarakat yang lebih baik dan lebih berkeberkahan. Melalui infaq, kita tidak hanya memberikan bantuan materi, tetapi juga menyebarkan cinta, harapan, dan keberkahan kepada sesama manusia. Oleh karena itu, mari kita terus menjaga semangat berbagi ini hidup dan berkontribusi dalam menciptakan dunia yang lebih berkeberkahan untuk semua.
BERITA21/03/2024 | Anisa

Berkah Infak: Mengalirkan Rezeki dan Membangun Kesejahteraan
Infak, dalam ajaran agama dan nilai-nilai kemanusiaan, dianggap sebagai tindakan yang penuh berkah dan mendatangkan kebaikan bagi individu maupun masyarakat secara luas. Konsep berkah infak menggambarkan kemurahan hati seseorang dalam memberikan sebagian dari rezeki yang diberikan Allah SWT untuk kepentingan orang lain atau kepentingan umum. Dalam artikel ini, kita akan mengeksplorasi berbagai aspek dari berkah infak dan bagaimana praktik ini membawa manfaat yang melimpah bagi mereka yang memberi dan menerima.
Pertama-tama, berkah infak menciptakan aliran rezeki yang berkelanjutan dalam masyarakat. Ketika seseorang memberikan infak dengan ikhlas dan tulus, Allah SWT berjanji untuk melipatgandakan pahala dan memberikan penggantian yang lebih baik dalam kehidupan dunia dan akhirat. Ini menciptakan siklus kebaikan di mana pemberian infak memicu berkah yang lebih besar, yang pada gilirannya mendorong orang lain untuk ikut serta dalam berbagi rezeki.
Selain itu, berkah infak juga menguatkan ikatan sosial dalam masyarakat. Ketika individu atau kelompok memberikan infak untuk membantu sesama yang membutuhkan, hal ini menciptakan hubungan saling percaya dan kebersamaan di antara anggota masyarakat. Solidaritas yang terbentuk melalui praktik berinfak membantu memperkuat jaringan sosial yang mendukung dan memberdayakan individu dalam mengatasi kesulitan dan mencapai tujuan bersama.
Selanjutnya, berkah infak juga memiliki dampak positif dalam memperbaiki kondisi sosial dan ekonomi masyarakat. Infak yang diberikan untuk pendidikan, kesehatan, pembangunan infrastruktur, atau program-program sosial lainnya dapat membantu meningkatkan akses dan kualitas layanan yang tersedia bagi masyarakat yang kurang mampu. Hal ini pada gilirannya dapat mengurangi tingkat kemiskinan, meningkatkan kesejahteraan, dan menciptakan peluang ekonomi yang lebih baik bagi individu dan komunitas.
Selain manfaat materi, berkah infak juga membawa keberkahan spiritual bagi individu yang melakukannya. Praktik memberikan infak dipandang sebagai bentuk ibadah yang mendatangkan pahala dan mendekatkan diri pada Allah SWT. Dengan memberikan infak dengan niat yang tulus dan ikhlas, seseorang dapat merasakan kedamaian dan kepuasan batin yang tidak ternilai harganya.
Tidak hanya bagi individu yang memberi, tetapi juga bagi mereka yang menerima, berkah infak memiliki dampak yang signifikan. Infak yang diberikan dengan baik dapat membantu mengurangi beban finansial dan meningkatkan kualitas hidup mereka yang membutuhkan. Selain itu, penerima infak juga dapat merasakan dukungan moral dan semangat gotong royong dari masyarakat yang peduli terhadap kebutuhan mereka.
Dengan demikian, berkah infak merupakan manifestasi dari kebaikan dan kemurahan hati yang membawa manfaat yang luas bagi individu dan masyarakat. Melalui praktik infak yang sadar dan bertanggung jawab, kita dapat bersama-sama menciptakan lingkungan yang lebih berkeadilan, berempati, dan berdaya. Infak bukan hanya sekadar tindakan, tetapi sebuah sikap hidup yang mengalir dari kesadaran dan kepedulian terhadap sesama.
BERITA21/03/2024 | Ilmi

Berkah berinfaq
Tentu! Berinfaq atau bersedekah adalah tindakan yang sangat mulia dalam agama dan juga dalam kehidupan sehari-hari. Memberikan sebagian dari harta yang kita miliki kepada yang membutuhkan merupakan cara untuk memberi berkah dan menyebar kebaikan di sekitar kita.
Banyak agama mengajarkan pentingnya bersedekah sebagai bentuk ibadah dan juga sebagai cara untuk mendapatkan keberkahan dari Allah SWT. Dalam Islam, melakukan infaq mempunyai banyak manfaat, di antaranya adalah membersihkan harta dari sifat tamak dan kikir, menciptakan rasa syukur, serta membantu sesama yang membutuhkan.
Selain dari segi agama, berinfaq juga memiliki dampak positif dalam kehidupan sosial. Dengan berbagi rezeki kepada sesama yang membutuhkan, kita dapat membantu mengurangi penderitaan orang lain dan juga meningkatkan rasa kebersamaan di masyarakat. Tindakan infaq juga dapat menjadi cara untuk membangun hubungan yang baik dengan sesama manusia.
Tidak hanya itu, berinfaq juga memiliki dampak positif bagi diri sendiri. Ketika kita memberikan sebagian dari harta kita kepada orang lain, kita juga mendapatkan kebahagiaan dan kepuasan batin yang tidak ternilai harganya. Memberikan kepada orang lain dengan ikhlas dapat meningkatkan rasa syukur dan kebahagiaan dalam hidup kita.
Jadi, apapun bentuk infaq yang kita lakukan, baik itu berupa memberikan sedekah kepada fakir miskin, membantu anak yatim, atau mendukung program-program kemanusiaan, hal tersebut pasti akan membawa berkah bagi kita dan juga bagi orang-orang yang menerimanya. Semoga kita semua dapat menjadi orang yang gemar berinfaq dan selalu mendapatkan keberkahan dari Allah SWT.
BERITA21/03/2024 | Muhammad Ady Mahfuzh

Info Rekening Zakat
Mari tunaikan zakat Anda dengan mentransfer ke rekening zakat.
BAZNAS
Info Rekening Zakat


