WhatsApp Icon
Dari Kelaparan Menuju Kemandirian: Kisah Mustahik Fidyah yang Bangkit

Di sebuah kampung yang jauh dari hiruk-pikuk kota, hiduplah seorang pria sederhana yang pernah berada pada titik paling sulit dalam hidupnya. Ia kehilangan pekerjaan tetap setelah tempatnya bekerja tutup secara mendadak. Tabungan yang sedikit perlahan habis untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Hari-harinya dipenuhi kegelisahan, terlebih ketika ia harus melihat keluarganya menahan lapar. Kisah ini menjadi salah satu mustahik fidyah cerita yang menunjukkan bahwa di balik kesulitan yang dalam, selalu ada jalan menuju perubahan jika harapan tetap dijaga.

 

Pada masa itu, kehidupannya benar-benar terpuruk. Ia hanya mengandalkan pekerjaan serabutan yang tidak selalu tersedia. Kadang ia bekerja sehari, lalu menganggur beberapa hari berikutnya. Penghasilan yang didapat sering kali tidak cukup untuk membeli beras, apalagi memenuhi kebutuhan lain. Ia pernah merasakan hari-hari ketika keluarganya harus berbuka dengan makanan yang sangat sederhana, bahkan terkadang hanya air dan sisa nasi yang dihangatkan kembali. Rasa putus asa sempat menyelimuti hatinya, membuatnya merasa tidak berdaya menghadapi keadaan.

Perubahan mulai datang ketika bulan Ramadhan tiba. Di tengah keterbatasan itu, ia mendapat kabar dari pengurus masjid bahwa namanya terdaftar sebagai penerima bantuan fidyah dari para dermawan. Bantuan tersebut tidak hanya berupa makanan siap santap, tetapi juga bahan pokok yang cukup untuk beberapa waktu. Awalnya ia merasa segan menerima bantuan, namun kondisi memaksanya untuk bersyukur atas apa yang diberikan. Bantuan fidyah itu menjadi titik awal kebangkitan yang menguatkan mentalnya untuk kembali bangkit.

Dengan kebutuhan makan yang sedikit lebih terjamin, pikirannya menjadi lebih tenang. Ia mulai memikirkan cara agar keluarganya tidak terus bergantung pada bantuan. Dari sisa uang yang berhasil ia kumpulkan dan dukungan kecil dari tetangga, ia mencoba memulai usaha sederhana berjualan minuman dan gorengan di depan rumah. Usaha itu tidak langsung besar, tetapi cukup untuk menambah penghasilan harian. Setiap hari ia belajar melayani pembeli dengan ramah dan menjaga kualitas dagangannya. Perlahan, usahanya mulai dikenal oleh warga sekitar.

Beberapa bulan berlalu, perubahan nyata mulai terlihat. Penghasilannya memang belum besar, tetapi cukup stabil untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarga. Ia tidak lagi merasakan kecemasan berlebihan setiap kali memikirkan makanan esok hari. Lebih dari itu, kepercayaan dirinya kembali tumbuh. Ia menyadari bahwa bantuan fidyah yang pernah ia terima bukan sekadar pertolongan sesaat, melainkan kesempatan untuk memulai kembali kehidupan dengan cara yang lebih baik. Kisah bangkit dari kemiskinan ini menjadi inspirasi bagi orang-orang di sekitarnya yang menghadapi kesulitan serupa.

Seiring waktu, usahanya berkembang. Ia menambah variasi dagangan dan bahkan mampu menyewa gerobak kecil agar jualannya lebih rapi dan menarik. Anak-anaknya bisa kembali fokus bersekolah tanpa harus memikirkan kekurangan yang dulu sering mereka rasakan. Ia juga mulai menyisihkan sebagian penghasilannya untuk ditabung. Dari seseorang yang dulu merasa tidak memiliki masa depan, kini ia mampu melihat harapan yang lebih jelas di hadapan.

Yang paling mengharukan, ketika Ramadhan berikutnya datang, ia tidak lagi berada dalam daftar penerima bantuan. Sebaliknya, ia justru ikut berkontribusi dalam program sosial di masjidnya. Meski jumlahnya tidak besar, ia merasa bahagia bisa berbagi dengan orang lain yang sedang mengalami kesulitan seperti yang pernah ia rasakan. Baginya, sedekah bukan soal besar atau kecilnya nominal, tetapi tentang kepedulian dan rasa syukur atas perubahan yang telah ia alami.

Kisah ini menjadi pengingat bahwa fidyah dan sedekah memiliki kekuatan transformasi yang luar biasa. Dari kondisi kelaparan dan ketidakpastian, seseorang bisa bangkit menuju kemandirian ketika bantuan disertai dengan tekad dan usaha. Inspirasi sedekah tidak hanya berdampak pada penerima, tetapi juga menciptakan lingkaran kebaikan yang terus berlanjut. Apa yang dulu menjadi pertolongan baginya, kini berubah menjadi motivasi untuk menolong orang lain. Inilah bukti bahwa kepedulian umat dapat melahirkan perubahan nyata dan harapan baru bagi masa depan.

Ayo, Berbagi Keberkahan dengan Sesama!
Di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini, mari kita jadikan momen berbuka puasa sebagai kesempatan untuk berbagi keberkahan dengan sesama. Yayasan Baznas Kota Yogyakarta hadir untuk membantu Anda dalam menyalurkan zakat, infak, dan sedekah kepada mereka yang membutuhkan. Dengan berdonasi melalui Baznas, Anda tidak hanya membantu meringankan beban penderitaan orang lain, tetapi juga meraih pahala dan ampunan dosa dari Allah swt.

Ayo! segera berdonasi melalui Yayasan Baznas Kota Yogyakarta dan raihlah keberkahan bulan Ramadhan yang sesungguhnya!

Layanan Muzaki Baznas Kota Yogyakarta:
Alamat: Komplek Masjid Pangeran Diponegoro, Balaikota Yogyakarta
WhatsApp: 0821-4123-2770
Website: kotayogya.baznas.go.id

Bersama Baznas, kita wujudkan kepedulian dan kasih sayang kepada sesama.

Mari tunaikan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Kota Yogyakarta.
Mari salurkan fidyah dan dana sosial keagamaan lainnya secara amanah dan tepat sasaran.
Mari perkuat kepedulian sosial dengan ZIS DSKL BAZNAS Kota Yogyakarta.

Mari bayar fidyah melalui link kantor digital di bawah ini: https://kotayogya.baznas.go.id/sedekah

atau hubungi Layanan Muzaki BAZNAS Kota Yogyakarta di 0821-4123-2770 untuk informasi dan pendampingan lebih lanjut.

Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id

editor: Banyu Bening.

17/03/2026 | Kontributor: Azka Atthaya K.H
Doa Agar Konsisten Dalam Beribadah

Dalam perjalanan spiritual seorang Muslim, fluktuasi iman adalah hal yang manusiawi. Ada kalanya kita merasakan manisnya iman hingga begitu ringan dalam melangkahkan kaki ke masjid atau terbangun di sepertiga malam. Namun, tak jarang pula kita dihinggapi rasa malas, berat hati, dan jenuh yang dalam terminologi Islam disebut sebagai futur. Jika dibiarkan, rasa enggan ini dapat menjauhkan kita dari rahmat Allah SWT.

 

Lantas, bagaimana cara menjaga agar api semangat ibadah tetap menyala? salah satu kunci utamanya adalah memadukan antara ikhtiar batiniah melalui doa dan ikhtiar lahiriah melalui pembiasaan amal.

Sebelum membahas solusinya, kita perlu memahami bahwa hati manusia bersifat bolak-balik (muqallibal qulub). Rasulullah SAW bersabda bahwa iman itu bisa aus sebagaimana pakaian yang aus, maka mintalah kepada Allah untuk memperbaharui iman di dalam hati.

Beberapa faktor penyebab turunnya semangat ibadah antara lain adalah terlalu banyak melakukan hal mubah yang sia-sia, terjerumus dalam kemaksiatan yang membuat hati menjadi keras, hingga kurangnya lingkungan (bi’ah) yang mendukung ketaatan. Dalam kondisi seperti ini, seseorang membutuhkan "pendorong" agar hatinya kembali tergerak.

Amalan Doa Agar Hati Mudah Tergerak untuk Ibadah

Salah satu referensi kuat yang sering dibagikan, termasuk dalam literatur Perukunan Melayu, adalah sebuah doa khusus yang dipanjatkan agar Allah membimbing kita pada jalan ketaatan. Doa ini sangat dianjurkan untuk dibaca setiap selesai shalat lima waktu.

Berikut adalah lafal doanya:

“Allahummahdi thariqana ila tha’atika, wa tammim taqshirana, wa taqabbal minna ibadatana, wa shallallahu ‘ala sayyidina muhammadin wa ‘alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin.”

Artinya:

"Ya Allah, bimbinglah jalan kami pada jalan ketaatan kepada-Mu, sempurnakanlah kekurangan kami, terimalah ibadah kami. Semoga Allah melimpahkan rahmat bagi junjungan kami Nabi Muhammad, keluarga, dan para sahabatnya. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam."

Doa ini mengandung tiga permohonan esensial:

  1. Bimbingan (Hidayah): Meminta agar Allah selalu mengarahkan hati kita pada perbuatan taat.

  2. Penyempurnaan (I’timam): Menyadari bahwa ibadah kita seringkali jauh dari sempurna, maka kita memohon agar kekurangan tersebut ditutupi oleh Allah.

  3. Penerimaan (Qabul): Ibadah sebanyak apa pun tidak akan berarti jika tidak diterima oleh-Nya.

Selain rutin mengamalkan doa di atas, ada beberapa langkah praktis yang bisa dilakukan agar semangat ibadah tetap stabil:

1. Mulailah dari yang Ringan namun Konsisten

Rasulullah SAW sangat menyukai amalan yang dilakukan secara konsisten (dawam), meskipun jumlahnya sedikit. Jangan memaksakan diri melakukan ibadah sunnah yang sangat banyak dalam satu waktu jika itu justru membuat Anda bosan. Mulailah dengan shalat sunnah rawatib dua rakaat atau membaca Al-Qur'an satu halaman sehari secara rutin.

2. Memilih Lingkungan yang Shalih

Lingkungan memiliki pengaruh besar terhadap mentalitas seseorang. Jika kita berkumpul dengan orang-orang yang rajin beribadah, secara psikologis kita akan merasa tertinggal jika tidak ikut beribadah. Sebaliknya, teman yang lalai akan menyeret kita pada kelalaian yang sama.

3. Mengingat Kematian dan Keutamaan Ibadah

Mengingat bahwa usia manusia terbatas dapat menjadi cambuk bagi jiwa yang malas. Bayangkan jika waktu kita habis saat kita sedang dalam kondisi lalai. Selain itu, mempelajari hikmah dan pahala di balik sebuah ibadah akan memberikan motivasi tambahan (stimulus) bagi akal dan hati untuk bergerak.

4. Hindari Penyakit "Nanti Saja" (Taswif)

Menunda-nunda amal adalah salah satu tentara iblis yang paling kuat. Jika terbetik niat baik di dalam hati, segera laksanakan saat itu juga. Semakin lama kita menunda, semakin berat beban mental untuk memulainya.

Istiqamah dalam ketaatan adalah karunia yang harus dijemput. Kita tidak bisa hanya mengandalkan kekuatan diri sendiri karena hati ini berada dalam genggaman Sang Maha Pencipta. Oleh karena itu, mengamalkan doa agar diberikan semangat ibadah merupakan wujud kerendahan hati seorang hamba yang mengakui keterbatasannya.

Mari jadikan doa di atas sebagai wirid rutin setelah shalat. Dengan memohon bimbingan Allah, semoga setiap langkah kita, baik yang wajib maupun yang sunnah, terasa ringan dan membawa ketenangan batin. Semangat ibadah yang terjaga bukan hanya akan memperbaiki kualitas hubungan kita dengan Tuhan (hablum minallah), tetapi juga akan terpancar dalam akhlak yang baik kepada sesama manusia (hablum minannas).

Semoga Allah SWT senantiasa menetapkan hati kita di atas agama-Nya dan memberikan kekuatan untuk terus istiqamah hingga akhir hayat. Wallahu a’lam bisshawab.

 

Mari tunaikan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Kota Yogyakarta.
Mari salurkan fidyah dan dana sosial keagamaan lainnya secara amanah dan tepat sasaran.
Mari perkuat kepedulian sosial dengan ZIS DSKL BAZNAS Kota Yogyakarta.

Mari bayar fidyah melalui link kantor digital di bawah ini:
https://kotayogya.baznas.go.id/sedekah

atau hubungi Layanan Muzaki BAZNAS Kota Yogyakarta di 0821-4123-2770 untuk informasi dan pendampingan lebih lanjut.

Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id

#BAZNASKotaYogyakarta
#PerbedaanInfakDanShodaqoh
#Infak
#Shodaqoh
#Sedekah
#AmalKebaikan
#BerbagiKebaikan
#YukInfakDanSedekah

17/03/2026 | Kontributor: Kifti
Tips agar Konsisten Beribadah Selama Ramadhan

Bulan Ramadhan sering kali diibaratkan sebagai sebuah ladang yang sangat subur. Di dalamnya, Allah SWT menanam berbagai macam pohon yang berbuah lebat berupa pahala, ampunan, dan keberkahan. Sebagai umat Muslim, kita memiliki kesempatan seluas-luasnya untuk memanen "buah" tersebut sebanyak mungkin. Namun, realita di lapangan sering kali menunjukkan pola yang serupa setiap tahunnya: semangat yang meluap-luap di awal bulan, namun perlahan meredup saat memasuki pertengahan hingga akhir Ramadhan.

 

Fenomena "masjid yang safnya semakin maju" atau berkurangnya intensitas tadarus Al-Qur'an adalah tantangan spiritual yang nyata. Ibadah memang sangat berkaitan erat dengan fluktuasi iman—yang kadang naik dan kadang turun. Agar kita tidak terjebak dalam euforia sesaat, diperlukan strategi yang tepat untuk menjaga konsistensi atau istiqamah hingga garis finis.

Berikut adalah tiga tips utama agar semangat ibadah Anda tetap terawat dan stabil selama bulan suci Ramadhan.

1. Mengendalikan Porsi Makan dan Menghindari Kenyang Berlebihan

Ramadhan adalah bulan puasa, yang secara harfiah berarti menahan diri. Namun, ironisnya, momen berbuka puasa sering kali dijadikan ajang "balas dendam" kuliner. Meja makan dipenuhi dengan berbagai macam hidangan, mulai dari takjil yang manis hingga makanan berat yang berlemak. Akibatnya, kita makan melampaui batas kebutuhan tubuh.

Makan terlalu kenyang bukan sekadar masalah kesehatan fisik, tetapi juga hambatan besar bagi spiritualitas. Dalam Al-Qur'an, Allah SWT berpesan: 

“Makan dan minumlah, tetapi janganlah berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan” (QS. Al-A’raf: 31).

Secara fisiologis, perut yang terlalu penuh akan menarik aliran darah ke sistem pencernaan, yang mengakibatkan otak kekurangan suplai oksigen secara optimal sehingga timbul rasa kantuk yang luar biasa. Inilah alasan mengapa banyak orang merasa malas untuk berangkat shalat Tarawih atau lemas saat hendak tadarus setelah berbuka. Imam As-Syafi’i pernah memperingatkan bahwa kekenyangan dapat memberatkan badan, mengeraskan hati, menghilangkan kecerdasan, dan yang paling krusial, melemahkan seseorang untuk beribadah.

Rasulullah SAW memberikan panduan ideal: sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk bernapas. Dengan menjaga perut tetap ringan, jiwa akan terasa lebih tangkas untuk menjalankan rangkaian ibadah malam.

2. Menjaga Diri dari Perbuatan Maksiat

Sering kali kita lupa bahwa kualitas ibadah sangat dipengaruhi oleh apa yang kita lakukan di luar jam ibadah tersebut. Maksiat—baik itu lisan seperti ghibah, maupun maksiat mata dan hati—memiliki efek "pengerem" bagi keinginan berbuat baik.

Ibnu Abbas RA pernah menjelaskan bahwa kebaikan itu memberikan sinar pada wajah dan cahaya dalam hati. Sebaliknya, kemaksiatan membawa kegelapan pada hati dan kelemahan pada badan. Ketika seseorang merasa sangat berat untuk melangkahkan kaki ke masjid atau merasa jenuh membaca Al-Qur'an, bisa jadi itu adalah dampak dari dosa-dosa yang dilakukan, yang secara spiritual "membelenggu" tubuh untuk melakukan ketaatan.

Menghindari maksiat di bulan Ramadhan berarti melakukan puasa secara utuh (puasa khawas), bukan hanya menahan lapar dan dahaga. Dengan menjaga kesucian diri, hati akan menjadi lebih sensitif terhadap kebaikan, sehingga melakukan ibadah terasa lebih ringan dan menyenangkan, bukan sebagai beban.

3. Menerapkan Prinsip Ibadah yang Proporsional dan Berkelanjutan

Salah satu penyebab utama seseorang berhenti di tengah jalan adalah karena memaksakan porsi ibadah yang terlalu besar di awal tanpa mengukur kemampuan diri. Misalnya, di malam pertama langsung menargetkan membaca 5 juz Al-Qur'an, namun di malam ketiga sudah merasa kelelahan dan akhirnya berhenti total.

Islam sangat mencintai amalan yang konsisten meskipun jumlahnya sedikit. Rasulullah SAW bersabda, 

"Lakukanlah amal-amal yang kalian sanggup melaksanakannya, karena Allah tidak akan bosan sampai kalian sendiri yang bosan" (HR. Al-Bukhari).

Kunci dari istiqamah adalah ritme. Lebih baik membaca satu atau dua lembar Al-Qur'an setiap selesai shalat fardhu secara konsisten, daripada membaca satu juz namun hanya dilakukan satu kali selama sebulan. Ibadah yang dipaksakan di luar batas kemampuan sering kali berujung pada rasa jenuh (fatigue) spiritual. Rasulullah bahkan pernah menegur sahabat yang ingin beribadah sepanjang malam tanpa tidur, karena tubuh dan keluarga juga memiliki hak yang harus ditunaikan.

Ramadhan adalah maraton, bukan sprint. Kita tidak perlu menghabiskan seluruh energi di beberapa meter pertama, melainkan harus mengatur napas agar bisa mencapai garis akhir dengan kualitas iman yang lebih baik.

Dengan menjaga pola makan yang tidak berlebihan, menjauhi maksiat yang mengotori hati, serta melakukan ibadah secara proporsional namun berkelanjutan, insya Allah kita bisa meraih predikat takwa yang sesungguhnya. Mari kita jadikan Ramadhan kali ini sebagai momentum untuk membangun kebiasaan ibadah yang tidak hanya bertahan selama 30 hari, tetapi terus membekas sepanjang tahun.

 

Semoga Allah SWT memberikan kita kekuatan dan keistiqamahan untuk terus bersujud dan mendekat kepada-Nya hingga fajar hari kemenangan tiba. Amin.

 

Mari tunaikan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Kota Yogyakarta.
Mari salurkan fidyah dan dana sosial keagamaan lainnya secara amanah dan tepat sasaran.
Mari perkuat kepedulian sosial dengan ZIS DSKL BAZNAS Kota Yogyakarta.

Mari bayar fidyah melalui link kantor digital di bawah ini:
https://kotayogya.baznas.go.id/sedekah

atau hubungi Layanan Muzaki BAZNAS Kota Yogyakarta di 0821-4123-2770 untuk informasi dan pendampingan lebih lanjut.

Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id

 

#BAZNASKotaYogyakarta
#PerbedaanInfakDanShodaqoh
#Infak
#Shodaqoh
#Sedekah
#AmalKebaikan
#BerbagiKebaikan
#YukInfakDanSedekah

17/03/2026 | Kontributor: Kifti
5 Cara Efektif Mengatasi Lemas Saat Berpuasa

Memasuki minggu-minggu akhir bulan Ramadan, keluhan yang paling sering muncul bukanlah rasa lapar yang melilit, melainkan rasa lemas yang luar biasa. Banyak dari kita merasa sulit berkonsentrasi di kantor atau merasa tidak bertenaga untuk menjalankan aktivitas harian.

 

Rasa lemas saat puasa sebenarnya adalah hal yang wajar karena tubuh mengalami perubahan metabolisme. Namun, lemas yang berlebihan bisa menjadi penghambat produktivitas dan kualitas ibadah. Berikut adalah cara efektif agar tubuh tetap bugar dan jauh dari rasa lunglai selama berpuasa.

Jangan Pernah Melewatkan Sahur

Sahur adalah fondasi energi Anda selama 13–14 jam ke depan. Melewatkan sahur sama saja dengan membiarkan tubuh bekerja tanpa "bahan bakar". Namun, jangan asal kenyang.

Pastikan menu sahur Anda mengandung karbohidrat kompleks (seperti nasi merah, gandum, atau ubi) dan protein tinggi. Karbohidrat kompleks dicerna lebih lambat oleh tubuh, sehingga pelepasan energi terjadi secara bertahap dan Anda tidak akan cepat merasa lemas di siang hari.

Penuhi Kebutuhan Cairan 

Dehidrasi adalah penyebab utama rasa lemas, pusing, dan mengantuk saat puasa. Mengingat cuaca Ramadan 2026 yang mungkin cukup terik, menjaga hidrasi sangatlah krusial.

Gunakan rumus 2-4-2 untuk memastikan kebutuhan 8 gelas air sehari terpenuhi:

  • 2 Gelas saat Berbuka: Segera setelah azan magrib.

  • 4 Gelas di Malam Hari: Diminum secara bertahap setelah salat Magrib hingga sebelum tidur.

  • 2 Gelas saat Sahur: Untuk cadangan cairan selama beraktivitas.

Batasi Konsumsi Kafein dan Makanan Manis Berlebih

Mungkin Anda tergoda untuk meminum kopi saat sahur agar tidak mengantuk, atau makan gorengan manis saat berbuka. Namun, waspadalah kafein bersifat diuretik, yang artinya akan memicu Anda lebih sering buang air kecil dan mempercepat dehidrasi. Sementara itu, makanan yang terlalu manis menyebabkan lonjakan gula darah secara drastis yang diikuti dengan penurunan yang cepat (sugar crash), yang justru membuat tubuh terasa sangat lemas tak lama kemudian.

Tetap Lakukan Aktivitas Fisik Ringan

Banyak orang salah kaprah dengan memilih untuk terus berbaring atau tidur sepanjang hari saat berpuasa. Faktanya, kurang bergerak justru membuat aliran darah tidak lancar dan memicu rasa malas serta lemas yang lebih parah.

Lakukan olahraga ringan seperti jalan santai atau peregangan di sore hari menjelang berbuka (ngabuburit). Aktivitas fisik ringan membantu melancarkan sirkulasi oksigen ke seluruh tubuh, sehingga otak terasa lebih segar.

Atur Waktu Istirahat dengan Bijak

Perubahan pola tidur karena harus bangun sahur sering kali membuat kita kurang istirahat. Kurang tidur akan memengaruhi metabolisme dan membuat tubuh terasa berat.

Strateginya sederhana: Tidurlah lebih awal setelah salat Tarawih dan manfaatkan waktu istirahat siang di kantor selama 20 menit untuk tidur sejenak. Tidur singkat atau power nap terbukti ampuh mengembalikan energi yang hilang secara instan.

Berpuasa bukan berarti produktivitas harus terhenti. Dengan tubuh yang bugar, Anda tidak hanya bisa menyelesaikan pekerjaan dengan baik, tetapi juga memiliki energi sisa untuk menjalankan ibadah sunnah di malam hari seperti Tarawih dan Tadarus tanpa rasa kantuk yang berat.

 

Rasa lemas saat berpuasa bukanlah alasan untuk tidak berdaya. Dengan pola makan sahur yang tepat, hidrasi yang terjaga, dan manajemen waktu istirahat yang baik, Anda bisa menjalani Ramadan 2026 dengan penuh semangat. Ingat, tubuh yang sehat adalah modal utama untuk meraih keberkahan di bulan suci.

 

Mari tunaikan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Kota Yogyakarta.
Mari salurkan fidyah dan dana sosial keagamaan lainnya secara amanah dan tepat sasaran.
Mari perkuat kepedulian sosial dengan ZIS DSKL BAZNAS Kota Yogyakarta.

Mari bayar fidyah melalui link kantor digital di bawah ini:
https://kotayogya.baznas.go.id/sedekah

atau hubungi Layanan Muzaki BAZNAS Kota Yogyakarta di 0821-4123-2770 untuk informasi dan pendampingan lebih lanjut.

Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id

 

#BAZNASKotaYogyakarta
#PerbedaanInfakDanShodaqoh
#Infak
#Shodaqoh
#Sedekah
#AmalKebaikan
#BerbagiKebaikan
#YukInfakDanSedekah

17/03/2026 | Kontributor: Kifti
5 Tips Kelola Emosi Saat Puasa

Selain menahan lapar dan haus, tantangan terbesar yang sering muncul saat puasa adalah menjaga kestabilan emosi. Seringkali kita merasa lebih sensitif, mudah tersinggung, atau bahkan gampang marah (sering disebut sebagai hangry) saat perut kosong.

 

Mengapa hal ini terjadi? Secara ilmiah, penurunan kadar gula darah saat berpuasa dapat memengaruhi fungsi otak dalam mengontrol impuls emosional. Namun, jangan biarkan emosi negatif merusak pahala ibadah Anda. Berikut adalah panduan lengkap cara mengelola emosi saat puasa agar tetap tenang dan produktif.

Ketika Anda mulai merasa kesal—entah karena kemacetan saat pulang kerja atau rekan kantor yang menyebalkan—jangan langsung bereaksi. Langkah pertama yang paling efektif adalah melakukan teknik pernapasan.

Cobalah untuk menutup mata sejenak, tarik napas dalam melalui hidung selama 4 detik, tahan selama 4 detik, lalu buang perlahan melalui mulut. Oksigen yang masuk secara maksimal akan membantu menurunkan detak jantung dan memberikan sinyal "aman" ke otak, sehingga emosi Anda lebih terkendali.

Emosi negatif seringkali muncul karena kita terlalu fokus pada pemicu amarah tersebut. Untuk memutus rantai emosi ini, cobalah alihkan perhatian Anda. Anda bisa menonton video lucu, membaca artikel ringan, atau mendengarkan podcast inspiratif.

Tertawa bukan hanya menyenangkan, tetapi juga merangsang pelepasan hormon endorfin—hormon alami tubuh yang berfungsi meredakan stres dan memberikan rasa bahagia. Dengan pikiran yang teralihkan, amarah yang tadi meluap akan mereda dengan sendirinya.

Cara lain untukmenenangkan diri adalah dengan mendengarkan musik. Musik memiliki kekuatan luar biasa dalam mengatur mood seseorang. Jika Anda merasa mulai gampang marah, pasanglah earphone dan dengarkan musik instrumental yang tenang atau lantunan murottal Al-Qur'an.

Menurut riset kesehatan, frekuensi suara yang tenang dapat menurunkan kadar hormon kortisol (hormon stres) di dalam tubuh. Ini adalah cara instan untuk menciptakan "ruang aman" bagi mental Anda di tengah aktivitas yang padat.

Salah satu penyebab utama kita mudah marah saat puasa adalah kurangnya waktu tidur karena harus bangun sahur. Kurang tidur membuat fungsi eksekutif otak terganggu, sehingga kita menjadi lebih reaktif.

Pastikan Anda menyempatkan waktu untuk tidur siang singkat (power nap) selama 15–20 menit di sela jam istirahat kantor. Selain itu, usahakan untuk tidak begadang demi menjaga stabilitas emosi di keesokan harinya.

Secara spiritual, puasa adalah perisai. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW mengingatkan bahwa jika seseorang memancing amarah kita, hendaknya kita berkata, "Sesungguhnya aku sedang berpuasa."

Mengingat niat awal ibadah akan membantu Anda memiliki kontrol diri yang lebih kuat. Sadarilah bahwa menahan amarah adalah bagian dari ujian puasa itu sendiri. Ketika Anda berhasil melewatinya, ada kepuasan batin dan ketenangan mental yang tidak ternilai harganya.

Tahukah Anda bahwa mampu menahan amarah bukan hanya soal pahala? Secara medis, menjaga emosi saat berpuasa memberikan manfaat luar biasa:

  • Menurunkan Risiko Penyakit Jantung: Amarah yang meledak-ledak meningkatkan tekanan darah secara drastis.

  • Meningkatkan Fokus: Pikiran yang tenang membuat Anda lebih mudah berkonsentrasi pada pekerjaan atau studi.

  • Memperbaiki Hubungan Sosial: Dengan tetap tenang, hubungan Anda dengan keluarga dan rekan kerja tetap harmonis selama bulan suci.

 

Mengelola emosi saat puasa memang membutuhkan latihan dan kesabaran ekstra. Dengan menerapkan teknik pernapasan, mengalihkan pikiran, dan menjaga pola istirahat, Anda bisa menjalani Ramadan 2026 dengan lebih damai dan bermakna. Jangan biarkan rasa lapar mengendalikan hati Anda.

 

Mari tunaikan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Kota Yogyakarta.
Mari salurkan fidyah dan dana sosial keagamaan lainnya secara amanah dan tepat sasaran.
Mari perkuat kepedulian sosial dengan ZIS DSKL BAZNAS Kota Yogyakarta.

Mari bayar fidyah melalui link kantor digital di bawah ini:
https://kotayogya.baznas.go.id/sedekah

atau hubungi Layanan Muzaki BAZNAS Kota Yogyakarta di 0821-4123-2770 untuk informasi dan pendampingan lebih lanjut.

Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id

 

#BAZNASKotaYogyakarta
#PerbedaanInfakDanShodaqoh
#Infak
#Shodaqoh
#Sedekah
#AmalKebaikan
#BerbagiKebaikan
#YukInfakDanSedekah

17/03/2026 | Kontributor: Kifti

Artikel Terbaru

Mengetahui Lebih Lengkap 8 Ashnaf Penerima Zakat
Mengetahui Lebih Lengkap 8 Ashnaf Penerima Zakat
Zakat memiliki aturan distribusi yang sangat jelas sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an Surah At-Taubah ayat 60. Dalam ayat tersebut Allah SWT menegaskan bahwa zakat diperuntukkan bagi delapan golongan yang dikenal sebagai ashnaf. Ketentuan ini menunjukkan bahwa zakat bukanlah bantuan sosial tanpa arah, melainkan instrumen keadilan ekonomi yang terstruktur dan memiliki dasar hukum yang kuat. Dengan sistem ini, zakat menjadi mekanisme pemerataan kesejahteraan yang dirancang langsung oleh syariat, sehingga tidak dapat disalurkan secara sembarangan. Delapan golongan tersebut meliputi fakir, miskin, amil, mualaf, riqab, orang yang memiliki kewajiban finansial mendesak demi kepentingan syar’i, fi sabilillah, dan ibnu sabil. Fakir adalah mereka yang hampir tidak memiliki sumber penghidupan sehingga kebutuhan dasarnya tidak terpenuhi. Miskin adalah mereka yang memiliki penghasilan, tetapi belum mencukupi kebutuhan pokok secara layak. Keduanya menjadi prioritas utama dalam distribusi zakat karena menyangkut kelangsungan hidup sehari-hari. Amil merupakan pihak yang diberi amanah untuk mengelola dan mendistribusikan zakat. Peran amil sangat penting karena mereka memastikan pengumpulan, pendataan, hingga penyaluran dilakukan secara tertib dan akuntabel. Mualaf adalah orang yang baru masuk Islam atau mereka yang membutuhkan penguatan hati agar mantap dalam keimanan. Dukungan kepada kelompok ini tidak hanya bersifat materiil, tetapi juga sosial dan pembinaan. Riqab secara historis merujuk pada pembebasan budak. Dalam konteks kekinian, para ulama memaknai kategori ini sebagai upaya membebaskan individu dari ketidakberdayaan struktural yang menghambat kebebasan dan martabatnya. Sementara itu, kelompok dengan kewajiban finansial mendesak demi kepentingan syar’i adalah mereka yang memiliki tanggungan besar untuk kemaslahatan umum atau kebutuhan mendesak yang dibenarkan syariat. Fi sabilillah mencakup berbagai aktivitas perjuangan di jalan Allah, termasuk dakwah, pendidikan, dan kegiatan sosial keagamaan. Adapun ibnu sabil adalah musafir yang mengalami kesulitan dalam perjalanan sehingga memerlukan bantuan untuk melanjutkan perjalanannya. Pemahaman tentang ashnaf menjadi semakin penting di era modern, terutama ketika sistem sosial dan ekonomi semakin kompleks. Banyak masyarakat ingin memastikan bahwa zakat yang mereka tunaikan benar-benar sampai kepada pihak yang berhak. Kesadaran ini mendorong meningkatnya kepercayaan terhadap lembaga resmi yang memiliki sistem pendataan dan verifikasi yang jelas. Penyaluran zakat melalui Badan Amil Zakat Nasional memastikan distribusi sesuai dengan kategori ashnaf yang telah ditetapkan syariat. Di Kota Yogyakarta, pengelolaan zakat tidak hanya berfokus pada bantuan konsumtif, tetapi juga pada program pemberdayaan yang berkelanjutan. Bantuan pendidikan melalui beasiswa, dukungan permodalan usaha kecil, hingga layanan kesehatan bagi masyarakat prasejahtera menjadi bagian dari strategi distribusi. Pendekatan ini memperluas makna zakat dari sekadar bantuan jangka pendek menjadi upaya mendorong kemandirian ekonomi dan peningkatan kualitas hidup. Dalam konteks zakat fitrah online, pemahaman tentang ashnaf semakin relevan karena pembayaran digital memungkinkan pengelolaan yang lebih terpusat dan transparan. Sistem digital memudahkan pencatatan, pelaporan, serta pengawasan sehingga dana yang terkumpul dapat segera disalurkan kepada delapan golongan yang berhak. Dengan memilih zakat fitrah terpercaya melalui lembaga resmi, masyarakat tidak hanya menunaikan kewajiban ibadah, tetapi juga berpartisipasi dalam sistem distribusi yang profesional dan berbasis data. Zakat pada hakikatnya adalah instrumen solidaritas sosial yang dirancang untuk menjaga keseimbangan dalam masyarakat. Dengan memahami 8 ashnaf secara utuh dan mempercayakan penyaluran kepada lembaga yang kompeten, tujuan zakat sebagai sarana pemerataan kesejahteraan dan penguatan umat dapat terwujud secara lebih nyata dan berkelanjutan. Mari tunaikan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Kota Yogyakarta. Mari salurkan fidyah dan dana sosial keagamaan lainnya secara amanah dan tepat sasaran. Mari perkuat kepedulian sosial dengan ZIS DSKL BAZNAS Kota Yogyakarta. Mari bayar fidyah melalui link kantor digital di bawah ini: sedekah - infak : https://kotayogya.baznas.go.id/sedekah, zakat : https://kotayogya.baznas.go.id/bayarzakat atau hubungi Layanan Muzaki BAZNAS Kota Yogyakarta di 0821-4123-2770 untuk informasi dan pendampingan lebih lanjut. Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id/ #ZakatFitrahOnline #KeunggulanZakat #ZakatDigital #BAZNAS #RamadanBerkah
ARTIKEL25/02/2026 | Saffa
Keunggulan Zakat Online Dibanding Konvensional
Keunggulan Zakat Online Dibanding Konvensional
Perkembangan teknologi digital telah mengubah pola kehidupan masyarakat secara signifikan, termasuk dalam hal menunaikan kewajiban keagamaan. Jika pada masa lalu pembayaran zakat identik dengan datang langsung ke masjid, bertemu panitia, dan menyerahkan secara tunai, kini zakat fitrah online menjadi pilihan yang semakin diminati. Peningkatan pencarian terkait cara bayar zakat fitrah online setiap Ramadan menunjukkan adanya perubahan perilaku masyarakat yang menginginkan sistem yang lebih praktis, cepat, dan tetap sesuai syariat. Secara prinsip, zakat tetap sah selama niat dilakukan dan dana disalurkan kepada amil resmi sebelum batas waktu yang ditentukan. Allah SWT berfirman dalam Surah At-Taubah ayat 103 agar zakat diambil dari harta kaum Muslimin untuk membersihkan dan menyucikan mereka. Ayat ini tidak hanya menegaskan kewajiban zakat, tetapi juga pentingnya pengelolaan melalui pihak yang berwenang. Dalam konteks Indonesia, pengelolaan zakat dilakukan secara nasional oleh Badan Amil Zakat Nasional, termasuk di tingkat daerah seperti Kota Yogyakarta. Keunggulan pertama bayar zakat online adalah kemudahan akses. Masyarakat dapat menunaikan zakat kapan saja dan dari mana saja tanpa harus menyesuaikan waktu operasional layanan. Hal ini sangat membantu bagi pekerja dengan mobilitas tinggi, perantau, maupun keluarga yang memiliki keterbatasan waktu. Dalam hitungan menit, kewajiban dapat ditunaikan melalui gawai pribadi. Keunggulan kedua terletak pada sistem perhitungan otomatis. Untuk zakat fitrah 2026, nominal yang berlaku adalah Rp40.000 per orang atau setara 2,5 kg beras. Pada sistem zakat fitrah online, pengguna cukup memasukkan jumlah anggota keluarga yang menjadi tanggungan, kemudian sistem secara otomatis menghitung total kewajiban. Fitur ini meminimalkan kesalahan perhitungan yang sering terjadi dalam pembayaran manual, terutama pada keluarga besar. Selain itu, setiap transaksi digital menghasilkan bukti pembayaran yang terdokumentasi secara elektronik. Bukti ini memberikan rasa aman sekaligus transparansi. Masyarakat dapat menyimpan arsip transaksi sebagai catatan pribadi. Transparansi ini menjadi salah satu faktor meningkatnya kepercayaan publik terhadap zakat fitrah terpercaya yang dikelola secara profesional. Dari sisi tata kelola, sistem digital mempermudah proses pencatatan, rekapitulasi, dan pelaporan. Data penerimaan dapat dipantau secara real time sehingga memudahkan perencanaan distribusi. Di Kota Yogyakarta, sistem Simba mendukung pengelolaan yang terintegrasi mulai dari penghimpunan hingga penyaluran. Dengan dukungan teknologi, proses verifikasi penerima dapat dilakukan lebih akurat sehingga bantuan tepat sasaran sesuai ketentuan syariat. Keunggulan lainnya adalah efisiensi distribusi. Pembayaran yang dilakukan lebih awal melalui kanal digital memungkinkan amil menyalurkan zakat sebelum hari raya, sehingga penerima dapat merasakan manfaat tepat waktu. Hal ini selaras dengan tujuan zakat fitrah sebagai bentuk kepedulian sosial agar seluruh masyarakat dapat merayakan Idulfitri dengan layak. Meskipun metode konvensional tetap sah dan memiliki nilai kebersamaan serta interaksi langsung, zakat online menghadirkan solusi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat modern. Digitalisasi tidak mengubah substansi ibadah, melainkan memperkuat aspek profesionalitas dan akuntabilitas pengelolaan. Dengan memanfaatkan layanan resmi, memahami ketentuan zakat fitrah 2026, serta memastikan pembayaran dilakukan melalui kanal yang sah, masyarakat dapat menunaikan zakat secara lebih mudah, tepat, dan berdampak luas bagi kesejahteraan umat. Mari tunaikan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Kota Yogyakarta. Mari salurkan fidyah dan dana sosial keagamaan lainnya secara amanah dan tepat sasaran. Mari perkuat kepedulian sosial dengan ZIS DSKL BAZNAS Kota Yogyakarta. Mari bayar fidyah melalui link kantor digital di bawah ini: sedekah - infak : https://kotayogya.baznas.go.id/sedekah, zakat : https://kotayogya.baznas.go.id/bayarzakat atau hubungi Layanan Muzaki BAZNAS Kota Yogyakarta di 0821-4123-2770 untuk informasi dan pendampingan lebih lanjut. Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id/ #ZakatFitrahOnline #KeunggulanZakat #ZakatDigital #BAZNAS #RamadanBerkah
ARTIKEL25/02/2026 | Saffa
Kemenag Tegaskan Dana Zakat Tidak Dialokasikan untuk Program MBG
Kemenag Tegaskan Dana Zakat Tidak Dialokasikan untuk Program MBG
Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag) menyampaikan klarifikasi resmi untuk meluruskan berbagai informasi yang beredar di tengah masyarakat terkait penggunaan dana zakat. Kemenag menegaskan bahwa tidak terdapat kebijakan apa pun yang mengarahkan dana zakat untuk membiayai program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kepala Biro Humas, Data, dan Informasi Kemenag, Thobib Al-Asyhar, menjelaskan bahwa pengelolaan zakat di Indonesia wajib berlandaskan pada prinsip Syariat Islam serta mengikuti ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Zakat Diperuntukkan bagi Delapan Golongan (Asnaf) Penyaluran zakat tetap mengacu pada Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat. Secara syariat, ketentuan mengenai penerima zakat telah ditegaskan dalam Al-Qur’an Surah At-Taubah ayat 60, yang menyebutkan delapan golongan (asnaf) yang berhak menerima zakat, yaitu: 1. Fakir, yakni mereka yang tidak memiliki harta maupun pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan dasar. 2. Miskin, yaitu orang yang memiliki pekerjaan, namun penghasilannya belum mencukupi kebutuhan pokok. 3. Amil, pihak yang secara resmi bertugas mengelola zakat. 4. Mualaf, individu yang baru memeluk Islam dan membutuhkan dukungan. 5. Riqab, hamba sahaya yang berupaya memerdekakan dirinya. 6. Gharimin, orang yang memiliki utang demi kebutuhan mendesak atau pokok. 7. Fisabilillah, pihak yang berjuang di jalan Allah. 8. Ibnu Sabil, musafir yang kehabisan bekal dalam perjalanan. Menjaga Amanah dan Prinsip Keadilan Kemenag menegaskan bahwa dana zakat merupakan amanah umat yang harus dikelola secara profesional, transparan, dan berkeadilan. Penyalurannya diprioritaskan untuk mengurangi kemiskinan dan membantu kelompok mustahik sesuai dengan ketentuan asnaf. Dalam pernyataan resminya, Thobib Al-Asyhar menegaskan bahwa distribusi zakat dilakukan sepenuhnya berdasarkan syariat dan regulasi yang berlaku. Ia memastikan tidak ada hubungan antara dana zakat dan program Makan Bergizi Gratis (MBG), karena hak delapan golongan penerima zakat tetap menjadi prioritas utama. Dengan adanya klarifikasi ini, masyarakat diharapkan tidak terpengaruh oleh informasi yang tidak tepat dan tetap mendukung pengelolaan zakat melalui lembaga resmi agar manfaatnya tersalurkan secara optimal kepada pihak yang berhak. Mari tunaikan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Kota Yogyakarta. Mari salurkan fidyah dan dana sosial keagamaan lainnya secara amanah dan tepat sasaran. Mari perkuat kepedulian sosial dengan ZIS DSKL BAZNAS Kota Yogyakarta. Mari bayar fidyah melalui link kantor digital di bawah ini: sedekah - infak : https://kotayogya.baznas.go.id/sedekah, zakat : https://kotayogya.baznas.go.id/bayarzakat atau hubungi Layanan Muzaki BAZNAS Kota Yogyakarta di 0821-4123-2770 untuk informasi dan pendampingan lebih lanjut. Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id/ #ZakatFitrahOnline #KeunggulanZakat #ZakatDigital #BAZNAS #RamadanBerkah
ARTIKEL25/02/2026 | Admin bidang 1
Rahasia Keutamaan Tiga Fase Bulan Ramadhan
Rahasia Keutamaan Tiga Fase Bulan Ramadhan
Bulan Ramadhan bukan sekadar ritual tahunan menahan lapar dan dahaga. Bagi umat Muslim, bulan ini adalah perjalanan spiritual yang terbagi dalam tiga babak krusial. Sebagaimana disebutkan dalam berbagai literatur klasik dan disitir dalam ulasan NU Online Lampung, Ramadhan terbagi menjadi tiga fase sepuluh harian: fase rahmat (kasih sayang), fase maghfirah (ampunan), dan fase itqun minan nar (pembebasan dari api neraka). Memahami karakteristik setiap fase ini sangat penting agar kualitas ibadah kita tidak menurun seiring berjalannya waktu. Berikut adalah bedah mendalam mengenai keutamaan di setiap fasenya. Sepuluh Hari Pertama: Fase Rahmat Sepuluh hari pertama Ramadhan sering disebut sebagai fase yang paling berat karena tubuh dan mental sedang beradaptasi dengan perubahan pola makan dan tidur. Namun, justru di sinilah Allah SWT menurunkan Rahmat-Nya secara melimpah. Fase ini adalah gerbang pembuka. Barangsiapa yang berhasil melewati sepuluh hari pertama dengan penuh kesabaran dan keikhlasan, maka ia telah membangun fondasi yang kuat untuk fase berikutnya. Fokus utama pada fase ini adalah memperbanyak ibadah sunnah dan doa memohon kasih sayang Allah, karena tanpa rahmat-Nya, mustahil bagi seorang hamba untuk bisa menjalankan ketaatan dengan istiqomah. Sepuluh Hari Kedua: Fase Maghfirah Memasuki pertengahan bulan, tepatnya hari ke-11 hingga ke-20, kita berada di fase Maghfirah. Pada masa ini, Allah menjanjikan ampunan yang luas bagi hamba-hamba-Nya yang berpuasa dengan penuh keimanan (imanan wa ihtisaban). Sering kali, semangat ibadah mulai mengendur di fase ini karena euforia awal Ramadhan mulai pudar. Namun, justru di sinilah ujian sesungguhnya. Seorang Muslim dianjurkan untuk memperbanyak istighfar dan bertaubat atas dosa-dosa masa lalu. Mengingat tidak ada manusia yang luput dari salah, fase ampunan ini adalah kesempatan emas untuk "mencuci" jiwa agar kembali bersih. Jangan sampai kesibukan duniawi atau persiapan hari raya mulai mengalihkan fokus kita dari mengejar ampunan Ilahi. Sepuluh Hari Terakhir: Pembebasan dari Api Neraka Fase pamungkas, yakni sepuluh hari terakhir, adalah puncak dari segala kemuliaan Ramadhan. Fase ini dikenal sebagai masa Itqun Minan Nar, yaitu pembebasan seorang hamba dari siksa api neraka. Di fase inilah terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan, yakni Lailatul Qadar. Rasulullah SAW memberikan teladan dengan memperkencang ikat pinggang (bersungguh-sungguh dalam ibadah) dan menghidupkan malam-malam terakhir dengan i'tikaf di masjid. Ini adalah babak final yang menentukan. Fokus ibadah pada fase ini bukan lagi sekadar menahan lapar, melainkan upaya totalitas menyerahkan diri kepada Allah agar nama kita dicatat sebagai hamba yang selamat dari api neraka. Agar tidak kehilangan momentum di salah satu fase, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan: 1. Konsistensi (Istiqomah): Ibadah yang dicintai Allah adalah yang dilakukan secara terus-menerus meskipun sedikit. Jangan "gas pol" di awal lalu menghilang di tengah jalan.2. Menjaga Kualitas Puasa: Hindari hal-hal yang dapat merusak pahala puasa seperti ghibah, berbohong, atau marah yang berlebihan. Pastikan puasa kita naik level dari sekadar puasa awam (menahan lapar) menjadi puasa khusus (menahan panca indera dari dosa).3. Memperbanyak Sedekah: Sedekah di bulan Ramadhan memiliki nilai yang sangat tinggi di sisi Allah, terutama di fase terakhir untuk menyempurnakan ibadah kita. Pembagian Ramadhan menjadi tiga fase—Rahmat, Maghfirah, dan Pembebasan dari Neraka—memberikan peta jalan spiritual bagi setiap Muslim. Dengan memahami pembagian ini, kita diingatkan bahwa Ramadhan adalah sebuah proses peningkatan kualitas diri secara bertahap. Marilah kita manfaatkan sisa waktu yang ada untuk terus memperbaiki diri. Awali dengan mencari rahmat, iringi dengan memohon ampunan, dan akhiri dengan harapan besar agar kita termasuk orang-orang yang dibebaskan dari api neraka dan meraih kemenangan yang hakiki. Mari tunaikan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Kota Yogyakarta. Mari salurkan fidyah dan dana sosial keagamaan lainnya secara amanah dan tepat sasaran. Mari perkuat kepedulian sosial dengan ZIS DSKL BAZNAS Kota Yogyakarta. Mari bayar fidyah melalui link kantor digital di bawah ini: https://kotayogya.baznas.go.id/sedekah atau hubungi Layanan Muzaki BAZNAS Kota Yogyakarta di 0821-4123-2770 untuk informasi dan pendampingan lebih lanjut. Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id #RamadanPenuhBerkah #TigaFaseBulanRamadan #KeutamaanRamadan
ARTIKEL25/02/2026 | Ummi Kiftiyah
Hukum Tidur Sepanjang Hari Saat Puasa Ramadan
Hukum Tidur Sepanjang Hari Saat Puasa Ramadan
Bulan Ramadhan sering kali diwarnai dengan kutipan populer bahwa "tidurnya orang berpuasa adalah ibadah." Hal ini memicu fenomena di mana sebagian umat Muslim memilih untuk menghabiskan waktu dengan tidur lebih lama dari biasanya, bahkan ada yang tidur hampir seharian penuh dengan alasan menjaga stamina atau menghindari godaan lapar dan dahaga. Namun, bagaimana hukum Islam memandang perilaku tidur seharian saat berpuasa? Apakah hal tersebut membatalkan puasa atau justru mengurangi esensinya? Berdasarkan tinjauan fiqih, tidur dalam kondisi apa pun—baik sebentar maupun dalam durasi yang sangat lama—tidak membatalkan puasa. Syarat sah puasa adalah menahan diri dari hal-hal yang membatalkan (seperti makan, minum, dan jima') mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari dengan niat yang tulus. Tidur merupakan aktivitas alami manusia yang tidak termasuk dalam kategori memasukkan sesuatu ke dalam lubang tubuh secara sengaja. Oleh karena itu, seseorang yang tertidur dari setelah Subuh hingga menjelang Maghrib, secara hukum fiqih, puasanya tetap dianggap sah, asalkan ia telah berniat puasa pada malam harinya. Penting untuk memahami batasan antara "tidur yang diperbolehkan" dan "tidur yang melalaikan." Dalam kitab Fathul Mu’in, dijelaskan mengenai kondisi hilang kesadaran yang dapat memengaruhi keabsahan puasa. Ada perbedaan mendasar antara pingsan (al-ighma) dan tidur (an-naum). Jika seseorang pingsan atau mengalami gangguan jiwa (junun) sepanjang hari (dari fajar hingga maghrib), maka puasanya tidak sah. Namun, hal ini berbeda dengan tidur. Para ulama berpendapat: "Apabila seseorang tidur sepanjang hari, sedangkan ia telah berniat pada malam harinya, maka puasanya sah." Hal ini dikarenakan orang yang tidur masih memiliki "potensi untuk bangun" jika dibangunkan, berbeda dengan orang yang pingsan atau koma. Namun, perlu dicatat bahwa para ulama juga menekankan pentingnya menjaga kewajiban lain, terutama shalat lima waktu. Meskipun secara hukum puasa tetap sah, tidur seharian membawa konsekuensi negatif pada aspek lain: 1. Melalaikan Shalat Fardu: Ini adalah risiko terbesar. Tidur yang menyebabkan seseorang meninggalkan shalat Dzuhur dan Ashar adalah perbuatan dosa. Puasanya mungkin sah, namun ia berdosa karena meninggalkan kewajiban shalat yang kedudukannya lebih tinggi daripada puasa sunnah, dan setara dalam kewajiban fardu.2. Kehilangan Keutamaan Ramadhan: Ramadhan adalah waktu untuk memanen pahala. Dengan tidur seharian, seseorang kehilangan kesempatan untuk melakukan tadarus Al-Qur'an, dzikir, sedekah, dan thalabul ilmi (menuntut ilmu).3. Bertentangan dengan Sunnah: Rasulullah SAW dan para sahabat justru melakukan banyak kemenangan besar (seperti Perang Badar) saat sedang berpuasa. Ramadhan seharusnya menjadi bulan produktivitas, bukan bulan bermalas-malasan. Agar puasa tetap berkualitas dan tidak habis di tempat tidur, kita bisa memulai mengatur pola tidur yang baik, beraktivitas dengan tidak berlebihan, dan membuat target ibadah untuk menumbuhkan rasa semangat. Tidur seharian saat Ramadhan memang tidak membatalkan puasa secara syariat, namun perilaku ini sangat tidak dianjurkan (makruh) jika dilakukan tanpa alasan medis yang jelas. Puasa bukan sekadar memindahkan jam tidur, melainkan latihan pengendalian diri dan peningkatan kualitas spiritual. Jangan sampai kita hanya mendapatkan lapar dan dahaga tanpa membawa pulang pahala dan rahmat karena menghabiskan waktu dalam lelap yang sia-sia. Mari tunaikan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Kota Yogyakarta. Mari salurkan fidyah dan dana sosial keagamaan lainnya secara amanah dan tepat sasaran. Mari perkuat kepedulian sosial dengan ZIS DSKL BAZNAS Kota Yogyakarta. Mari bayar fidyah melalui link kantor digital di bawah ini: https://kotayogya.baznas.go.id/sedekah atau hubungi Layanan Muzaki BAZNAS Kota Yogyakarta di 0821-4123-2770 untuk informasi dan pendampingan lebih lanjut. Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id #RamadanPenuhBerkah #TidurSaatPuasa #HukumTidurSepanjangHariSaatPuasa #KeutamaanRamadan
ARTIKEL25/02/2026 | Ummi Kiftiyah
10 Hari Kedua di Bulan Ramadan: Terbukanya Pintu Ampunan
10 Hari Kedua di Bulan Ramadan: Terbukanya Pintu Ampunan
Bulan Ramadan bukan sekadar ritual menahan lapar dan dahaga, melainkan sebuah perjalanan spiritual yang terbagi dalam tiga fase istimewa. Jika sepuluh hari pertama adalah fase rahmah (rahmat), maka saat kita memasuki hari ke-11 hingga ke-20, kita berada di fase maghfirah atau pengampunan. Fase pertengahan ini merupakan momentum krusial bagi setiap Muslim untuk membersihkan diri dari noda dosa sebelum menjemput malam kemuliaan di penghujung bulan. Fase 10 hari kedua Ramadan adalah waktu di mana pintu ampunan Allah SWT dibuka selebar-lebarnya. Rasulullah SAW dalam sebuah hadis yang populer menyampaikan: “Awal bulan Ramadan adalah rahmat, pertengahannya adalah ampunan, dan akhirnya adalah pembebasan dari api neraka.” Setelah berhasil melewati fase adaptasi di sepuluh hari pertama, fase kedua ini menjadi ujian konsistensi. Sering kali, masjid mulai tampak lengang karena perhatian masyarakat beralih pada persiapan duniawi menjelang Idul Fitri. Padahal, fase inilah yang menjadi kesempatan bagi hamba-hamba-Nya untuk "mencuci" dosa, baik dosa besar maupun kelalaian kecil yang sering dianggap sepele. Meraih maghfirah menuntut kesungguhan kita dalam bertaubat dan memperbaiki hubungan, baik dengan Sang Khalik maupun sesama manusia. Untuk meraih ampunan yang dijanjikan, para ulama menganjurkan beberapa amalan utama yang perlu ditingkatkan intensitasnya: 1. Memperbanyak Istighfar dan Taubat Istighfar adalah kunci utama di fase ini. Memohon ampun tidak hanya dilakukan secara lisan, tetapi harus meresap ke dalam hati dengan penyesalan yang tulus (taubatan nasuha). Sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur'an: “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu...” (QS. Ali 'Imran: 133). Ayat ini menjadi pelecut semangat agar kita tidak menunda-nunda permohonan maaf kepada Allah. 2. Meningkatkan Kualitas Interaksi dengan Al-Qur'an Membaca Al-Qur'an bukan sekadar mengejar target khatam, melainkan juga mentadabburi maknanya. Cahaya Al-Qur'an diharapkan mampu menyinari hati yang gelap karena dosa, sehingga proses pembersihan diri menjadi lebih sempurna. 3. Menjaga Lisan dan Perbuatan Puasa yang berkualitas bukan hanya menahan perut, tetapi juga menjaga lisan dari ghibah, dusta, dan adu domba. Ampunan Allah sulit diraih jika kita masih menyakiti sesama. Oleh karena itu, memperbaiki hubungan antarsesama manusia (hablum minannas) menjadi bagian integral dari upaya meraih maghfirah. 4. Konsistensi dalam Ibadah Malam Salat Tarawih, Tahajud, dan Witir adalah sarana efektif untuk mendekatkan diri kepada Allah di saat sunyi. Keikhlasan yang terbangun di sepertiga malam terakhir menjadi sinyal kuat diterimanya taubat seorang hamba. Tantangan terbesar di fase pertengahan adalah penurunan semangat atau futur. Kelelahan fisik sering kali menjadi alasan untuk mengendurkan ibadah. Namun, kita harus ingat bahwa belum tentu kita akan dipertemukan kembali dengan Ramadan tahun depan. Setiap detik di fase maghfirah ini sangat berharga. Sebagai penutup, 10 hari kedua Ramadan adalah jembatan menuju pembebasan dari api neraka (itqun minan nar) di sepuluh hari terakhir. Tanpa melalui proses penyucian diri (ampunan) di fase kedua ini, sulit bagi seorang hamba untuk meraih kemuliaan Lailatul Qadar. Mari kita jadikan momentum ini untuk berintrospeksi secara mendalam, bersimpuh memohon ampunan, dan memastikan diri kita keluar dari bulan suci ini dalam keadaan fitrah, bersih dari dosa layaknya bayi yang baru lahir. Semoga Allah SWT menggolongkan kita sebagai hamba-hamba-Nya yang beruntung mendapatkan maghfirah-Nya di bulan yang penuh berkah ini. Amin. Mari tunaikan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Kota Yogyakarta. Mari salurkan fidyah dan dana sosial keagamaan lainnya secara amanah dan tepat sasaran. Mari perkuat kepedulian sosial dengan ZIS DSKL BAZNAS Kota Yogyakarta. Mari bayar fidyah melalui link kantor digital di bawah ini: https://kotayogya.baznas.go.id/sedekah atau hubungi Layanan Muzaki BAZNAS Kota Yogyakarta di 0821-4123-2770 untuk informasi dan pendampingan lebih lanjut. Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id #RamadanPenuhBerkah #10HariKeduaBulanRamadan #FaseKeduaRamadan #AmalanUtamaRamadan #KeutamaanRamadan
ARTIKEL25/02/2026 | Ummi Kiftiyah
Amalan Utama di 10 Hari Kedua Bulan Ramadan
Amalan Utama di 10 Hari Kedua Bulan Ramadan
Bulan Ramadan adalah bulan yang penuh dengan keistimewaan, yang oleh Rasulullah SAW dibagi menjadi tiga fase utama. Fase pertama adalah sepuluh hari awal yang penuh rahmat (rahmah), fase kedua adalah sepuluh hari pertengahan yang berisi ampunan (maghfirah), dan fase ketiga adalah sepuluh hari terakhir sebagai pembebasan dari api neraka (itqun minan nar). Saat ini, kita memasuki fase kedua, yakni hari ke-11 hingga ke-20 Ramadan. Masa ini sering kali menjadi titik krusial di mana semangat beribadah mulai menurun dibandingkan pekan pertama. Padahal, pada fase inilah pintu ampunan Allah SWT dibuka selebar-lebarnya bagi hamba-Nya yang bersungguh-sungguh bertaubat. Merujuk pada hadis yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi, Rasulullah SAW bersabda: “Awal bulan Ramadan adalah rahmat, pertengahannya adalah ampunan, dan akhirnya adalah pembebasan dari api neraka.” Setelah melewati sepuluh hari pertama dengan beradaptasi dan mengejar rahmat Allah, fase kedua ini menjadi kesempatan emas bagi setiap Muslim untuk "mencuci dosa". Allah SWT Maha Pengampun, dan Dia sangat menyukai hamba-Nya yang mengakui kesalahan serta memohon ampunan-Nya dengan tulus. Untuk meraih predikat hamba yang diampuni, ada beberapa amalan yang sangat dianjurkan untuk diperkuat di fase pertengahan Ramadan ini: 1. Memperbanyak Istighfar dan Taubat Amalan utama di fase maghfirah tentu saja adalah beristighfar. Memohon ampunan tidak hanya dilakukan setelah salat, tetapi di setiap waktu senggang. Taubat yang sungguh-sungguh (taubatan nasuha) disertai janji untuk tidak mengulangi kemaksiatan akan mengantarkan kita pada kesucian hati. 2. Menjaga Salat Berjamaah dan Salat Sunnah Jangan biarkan saf di masjid mulai maju atau berkurang. Menjaga salat fardu berjamaah dan menambahnya dengan salat sunnah Rawatib, Duha, serta Tahajud akan mempererat hubungan kita dengan Sang Pencipta. Salat malam (Qiyamul Lail) memiliki kedudukan istimewa dalam menghapus dosa. 3. Memperbanyak Sedekah Ramadan adalah bulan kedermawanan. Sedekah tidak hanya membantu sesama yang membutuhkan, tetapi juga berfungsi sebagai penghapus dosa sebagaimana air memadamkan api. Di sepuluh hari kedua ini, konsistensi dalam berbagi menjadi pembuktian iman kita. 4. Tadarus Al-Qur'an Al-Qur'an diturunkan di bulan Ramadan. Membaca, mentadabburi (merenungi makna), dan mengamalkan isi Al-Qur'an adalah cahaya bagi hati. Pada fase pertengahan ini, cobalah untuk meningkatkan kualitas bacaan atau menambah target hafalan agar interaksi dengan kalamullah semakin intens. 5. Berdoa dengan Doa Maghfirah Salah satu doa yang sangat dianjurkan untuk dipanjatkan pada 10 hari kedua Ramadan adalah: “Allahummaghfirli dzunubi ya robbal 'alamin.” (Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku, wahai Tuhan semesta alam). Tantangan terbesar di 10 hari kedua adalah rasa jenuh dan kesibukan duniawi yang mulai meningkat, seperti persiapan mudik atau belanja kebutuhan Idul Fitri. Jika tidak waspada, kita bisa kehilangan momentum maghfirah ini. Allah SWT berfirman dalam Surah Ali 'Imran ayat 133: “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” Ayat ini mengingatkan kita untuk tidak menunda-nunda dalam mencari ampunan. Jangan sampai waktu kita habis hanya untuk urusan fisik dan materi, sementara ruhani kita haus akan ampunan Allah. Sepuluh hari kedua Ramadan adalah jembatan menuju sepuluh hari terakhir yang penuh kemuliaan (Lailatul Qadar). Tanpa ampunan di fase kedua, akan sulit bagi kita untuk meraih kemuliaan di fase penutup. Mari kita jadikan setiap detik di hari ke-11 hingga ke-20 ini sebagai sarana untuk bersimpuh di hadapan Allah, mengakui segala khilaf, dan memohon agar nama kita tercatat sebagai golongan orang-orang yang beruntung yang mendapatkan ampunan-Nya. Semoga Allah SWT menerima amal ibadah kita dan mempertemukan kita dengan hari kemenangan dalam keadaan suci dari dosa. Amin ya Rabbal Alamin. Mari tunaikan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Kota Yogyakarta. Mari salurkan fidyah dan dana sosial keagamaan lainnya secara amanah dan tepat sasaran. Mari perkuat kepedulian sosial dengan ZIS DSKL BAZNAS Kota Yogyakarta. Mari bayar fidyah melalui link kantor digital di bawah ini: https://kotayogya.baznas.go.id/sedekah atau hubungi Layanan Muzaki BAZNAS Kota Yogyakarta di 0821-4123-2770 untuk informasi dan pendampingan lebih lanjut. Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id #RamadanPenuhBerkah #Amalan10HariKeduaRamadan #AmalanUtamaRamadan #KeutamaanRamadan
ARTIKEL25/02/2026 | Ummi Kiftiyah
Puasa Tapi Tidak Shalat: Bagaimana Hukumnya?
Puasa Tapi Tidak Shalat: Bagaimana Hukumnya?
Bulan Ramadan adalah momentum bagi umat Islam untuk meningkatkan ketakwaan melalui ibadah puasa. Namun, sebuah fenomena klasik sering muncul di tengah masyarakat: seseorang dengan kuat menahan lapar dan dahaga sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, tetapi ia mengabaikan kewajiban salat lima waktu. Kondisi ini memicu pertanyaan krusial, apakah puasanya otomatis batal atau tetap sah namun sia-sia? Para ulama memiliki pandangan yang jernih dalam membedakan antara "keabsahan ibadah" dan "penerimaan ibadah". Secara fikih, puasa dan salat adalah dua kewajiban yang berbeda secara otonom (masing-masing berdiri sendiri). Jika seseorang berpuasa dengan memenuhi syarat dan rukunnya (niat dan menahan diri dari hal-hal yang membatalkan), maka secara hukum fikih puasanya dianggap sah. Artinya, ia tidak memiliki kewajiban untuk mengqadha (mengganti) puasa tersebut di kemudian hari. Namun, ada catatan besar dari sisi esensi dan pahala. Salah satu rujukan utama dalam masalah ini adalah pendapat Syekh Said Ba’asyin dalam kitab Busyrol Karim. Ia menjelaskan bahwa kemaksiatan yang dilakukan saat berpuasa—termasuk meninggalkan salat—tidak membatalkan puasa secara teknis, namun menghanguskan pahalanya. Rasulullah SAW telah memberikan peringatan keras melalui hadisnya: “Betapa banyak orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. An-Nasa’i dan Ibnu Majah). Hadis ini menggambarkan kondisi orang yang berpuasa secara fisik (menahan lapar), tetapi secara spiritual ia tidak mendapatkan kedudukan apa pun di sisi Allah karena meninggalkan kewajiban yang lebih utama, yaitu salat. Salat adalah tiang agama (imaduddin) dan amalan pertama yang akan dihisab di hari kiamat. Syekh Nawawi al-Bantani dalam Kasyifatus Saja menekankan bahwa kedudukan salat jauh lebih tinggi daripada puasa. Maka, sangat ironis jika seseorang menjalankan ibadah "cabang" (puasa) namun merobohkan "tiang" utamanya (salat). Beberapa ulama bahkan memberikan peringatan yang lebih keras. Dalam hadis lain disebutkan: “Perjanjian antara kita dengan mereka (orang kafir) adalah salat. Barangsiapa yang meninggalkannya, maka ia telah kafir.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi). Meski mayoritas ulama Syafi'iyah berpendapat bahwa orang yang meninggalkan salat karena malas (bukan karena mengingkari kewajibannya) tidak otomatis keluar dari Islam (murtad), namun perbuatannya digolongkan sebagai dosa besar (fasiq) yang dapat menghalangi keberkahan puasa. Tujuan utama puasa adalah menjadi pribadi yang bertaqwa (la'allakum tattaqun). Takwa mencakup pelaksanaan seluruh perintah Allah. Meninggalkan salat saat berpuasa menunjukkan adanya kontradiksi dalam beragama. Puasa seharusnya menjadi perisai yang mencegah seseorang dari perbuatan buruk, termasuk mencegah keinginan untuk meninggalkan salat. Puasa orang yang tidak salat ibarat seseorang yang membangun tembok rumah namun menghancurkan pondasinya. Tembok itu mungkin berdiri secara kasat mata, namun ia tidak memiliki kekuatan dan nilai guna yang hakiki. Maka di momen ini, marilah kita optimalkan ibadah ramadan dengan memulai dari memperbaiki ibadah wajib, dengan niat memperbaiki diri demi mengharap ridloNya. Semoga ramadan kali ini mampu menjadi ladang amal shaleh yang bisa kita petik hasilnya kelak di yaumil qiyamah. Aamiin. Mari tunaikan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Kota Yogyakarta. Mari salurkan fidyah dan dana sosial keagamaan lainnya secara amanah dan tepat sasaran. Mari perkuat kepedulian sosial dengan ZIS DSKL BAZNAS Kota Yogyakarta. Mari bayar fidyah melalui link kantor digital di bawah ini: https://kotayogya.baznas.go.id/sedekah atau hubungi Layanan Muzaki BAZNAS Kota Yogyakarta di 0821-4123-2770 untuk informasi dan pendampingan lebih lanjut. Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id #RamadanPenuhBerkah #PuasaTapiTidakShalat #HukumPuasa #KeutamaanRamadan
ARTIKEL25/02/2026 | Ummi Kiftiyah
Nggak Pake Ribet, Begini Cara Infak Online Lewat QRIS
Nggak Pake Ribet, Begini Cara Infak Online Lewat QRIS
Perkembangan teknologi digital membuat banyak aktivitas jadi lebih mudah, termasuk dalam hal berbagi. Saat ini, infak tidak harus selalu dilakukan secara tunai. Melalui layanan Bayar Infak Online Lewat QRIS, masyarakat bisa menunaikan infak dengan cara yang lebih praktis dan efisien. Layanan ini dihadirkan oleh BAZNAS Kota Yogyakarta untuk memudahkan masyarakat berinfak di tengah aktivitas sehari-hari yang semakin padat. Infak Digital Lewat QRIS QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) adalah sistem pembayaran nasional yang memungkinkan berbagai aplikasi e-wallet dan mobile banking digunakan dalam satu kode QR. Dengan QRIS, proses infak menjadi lebih sederhana. Cukup scan kode QR, masukkan nominal infak, lalu konfirmasi pembayaran. Tidak perlu membawa uang tunai dan tidak membutuhkan waktu lama. Kemudahan ini membuat infak bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja, tanpa mengganggu rutinitas harian. Baik di rumah, di kantor, maupun saat bepergian, infak tetap bisa tersalurkan dengan mudah. Keunggulan Infak QRIS di BAZNAS Kota Yogyakarta Menggunakan QRIS untuk infak di BAZNAS Kota Yogyakarta memberikan sejumlah manfaat, di antaranya: 1. Mudah dan EfisienProses pembayaran cepat dan bisa dilakukan hanya melalui ponsel.2. Aman dan TerpercayaQRIS merupakan sistem pembayaran resmi yang diawasi, sehingga transaksi lebih terjamin.3. Pengelolaan Dana JelasDana infak dikelola secara profesional dan disalurkan ke program-program yang memiliki dampak nyata.4. Sesuai dengan Gaya Hidup DigitalCocok bagi masyarakat yang terbiasa menggunakan pembayaran non-tunai. Cara Bayar Infak Online Lewat QRIS Bagi yang ingin menunaikan infak secara digital, langkahnya cukup sederhana: 1. Kunjungi website resmi BAZNAS Kota Yogyakarta di https://kotayogya.baznas.go.id/2. Pilih menu Infak Online atau layanan QRIS3. Scan kode QRIS menggunakan aplikasi pembayaran yang dimiliki4. Tentukan nominal infak sesuai kemampuan5. Selesaikan transaksi dan infak langsung tercatat Infak Digital, Manfaatnya Tetap Nyata Infak yang disalurkan melalui BAZNAS Kota Yogyakarta digunakan untuk berbagai program kemaslahatan umat, seperti bantuan sosial, pendidikan, kesehatan, hingga kegiatan kemanusiaan lainnya. Meski dilakukan secara online, penyalurannya tetap terarah dan tepat sasaran. Melalui infak digital, masyarakat dapat tetap berkontribusi membantu sesama tanpa harus terhalang jarak dan waktu. Ini menjadi solusi bagi siapa saja yang ingin terus berbagi, meskipun memiliki kesibukan yang tinggi. Bayar infak online lewat QRIS adalah langkah sederhana dengan dampak besar. Dengan memanfaatkan teknologi yang ada, kebaikan bisa terus mengalir secara konsisten. Mari gunakan kemudahan ini untuk menebar manfaat bersama BAZNAS Kota Yogyakarta. Yuk infak online sekarang melalui layanan digital resmi BAZNAS Kota Yogyakarta dan jadikan kebaikan sebagai bagian dari keseharian kita bersama. Mari tunaikan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Kota Yogyakarta. Mari salurkan fidyah dan dana sosial keagamaan lainnya secara amanah dan tepat sasaran. Mari perkuat kepedulian sosial dengan ZIS DSKL BAZNAS Kota Yogyakarta. Mari bayar fidyah melalui link kantor digital di bawah ini: https://kotayogya.baznas.go.id/sedekah atau hubungi Layanan Muzaki BAZNAS Kota Yogyakarta di 0821-4123-2770 untuk informasi dan pendampingan lebih lanjut. Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id #BAZNASKotaYogyakarta #InfakDigital #CaraInfakOnline #SedekahOnline #InfakMudah #ZakatInfakSedekah #BerbagiKebaikan #YukInfak
ARTIKEL25/02/2026 | Adira
Cara Sedekah Subuh Secara Online: Awali Hari dengan Kebaikan yang Mengalir
Cara Sedekah Subuh Secara Online: Awali Hari dengan Kebaikan yang Mengalir
Subuh bukan sekadar waktu bangun pagi. Bagi banyak orang, subuh adalah momen terbaik untuk memulai hari dengan doa dan kebaikan. Salah satu amalan yang banyak diamalkan adalah sedekah subuh. Kini, seiring perkembangan teknologi, sedekah subuh online hadir sebagai solusi praktis bagi siapa saja yang ingin berbagi tanpa ribet. Lewat layanan digital resmi, sedekah bisa dilakukan hanya dalam beberapa langkah. Tidak perlu keluar rumah, tidak perlu menunggu waktu luang. Bahkan di sela-sela persiapan pagi, shodaqoh subuh digital sudah bisa ditunaikan dengan aman dan nyaman. Sedekah Subuh Online, Solusi Praktis di Era Digital Sedekah subuh online adalah cara bersedekah di waktu subuh melalui sistem pembayaran digital seperti transfer bank atau QRIS. Meski dilakukan secara online, nilai ibadahnya tetap sama. Yang terpenting adalah niat dan konsistensi dalam berbagi. BAZNAS Kota Yogyakarta menyediakan layanan donasi online yang memudahkan masyarakat menunaikan sedekah subuh. Dana yang terkumpul dikelola secara profesional dan disalurkan ke berbagai program sosial yang benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat. Langkah Mudah Sedekah Subuh Secara Online Melakukan sedekah subuh online melalui BAZNAS Kota Yogyakarta sangat sederhana. Siapa pun bisa melakukannya, bahkan untuk yang baru pertama kali mencoba. Berikut langkah-langkah praktisnya: 1. Akses website resmi BAZNAS Kota YogyakartaKunjungi situs resmi melalui https://kotayogya.baznas.go.id/sedekah untuk memastikan donasi dilakukan di kanal terpercaya.2. Pilih menu sedekahTentukan program sedekah yang tersedia sesuai dengan niat dan tujuan kebaikan Anda.3. Tentukan nominal sedekahTidak ada batas minimal. Sedekah bisa dimulai dari nominal kecil namun dilakukan secara rutin.4. Lakukan pembayaran digitalPembayaran bisa dilakukan melalui transfer bank atau QRIS, sehingga cocok untuk sedekah subuh di waktu terbatas.5. Konfirmasi dan niatkan dengan IkhlasSetelah transaksi berhasil, jangan lupa niatkan sedekah sebagai bentuk ibadah dan kepedulian sosial. Kenapa Shodaqoh Subuh Digital Semakin Diminati? Shodaqoh subuh digital semakin diminati karena kemudahannya. Semua proses dilakukan secara cepat, transparan, dan tercatat dengan baik. Donatur juga tidak perlu khawatir karena dana dikelola oleh lembaga resmi dan terpercaya. Selain itu, sedekah subuh online membantu menjaga kebiasaan baik agar tetap konsisten. Meski jadwal padat, kebaikan tetap bisa berjalan setiap pagi. Saatnya Mulai Sedekah Subuh Online Hari Ini Sedekah bukan soal besar kecilnya nominal, tetapi tentang keikhlasan dan keberlanjutan. Dengan kemudahan sedekah subuh online, siapa pun bisa memulai hari dengan amal kebaikan. Melalui BAZNAS Kota Yogyakarta, setiap shodaqoh subuh digital yang Anda tunaikan akan disalurkan secara tepat sasaran dan memberi manfaat nyata. Yuk, jadikan sedekah subuh sebagai rutinitas harian dan rasakan sendiri keberkahannya sejak pagi. Mari tunaikan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Kota Yogyakarta. Mari salurkan fidyah dan dana sosial keagamaan lainnya secara amanah dan tepat sasaran. Mari perkuat kepedulian sosial dengan ZIS DSKL BAZNAS Kota Yogyakarta. Mari bayar fidyah melalui link kantor digital di bawah ini: https://kotayogya.baznas.go.id/sedekah atau hubungi Layanan Muzaki BAZNAS Kota Yogyakarta di 0821-4123-2770 untuk informasi dan pendampingan lebih lanjut. Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id #BAZNASKotaYogyakarta #SedekahSubuhOnline #ShodaqohSubuhDigital #AmalanSubuh #ZakatInfakSedekah #BerbagiKebaikan #SedekahSubuh
ARTIKEL25/02/2026 | Adira
Menghapus Dosa dengan Benar: Pentingnya Perhitungan Kafarat yang Akurat
Menghapus Dosa dengan Benar: Pentingnya Perhitungan Kafarat yang Akurat
Dalam ajaran Islam, kafarat (denda) merupakan mekanisme penebusan dosa atas pelanggaran tertentu yang dilakukan seorang Muslim. Baik itu karena melanggar sumpah, melakukan larangan saat ihram, hingga hubungan suami-istri di siang hari bulan Ramadan, kafarat berfungsi sebagai sarana untuk membersihkan diri dan kembali fitrah. Namun, menunaikan kafarat bukan sekadar membayar, melainkan harus sesuai dengan perhitungan dan ketentuan syariat agar sah di mata Allah swt. Perhitungan Kafarat Tidak Boleh Sembarangan, harus ada kesesuaian dengan jenis pelanggarannya, karena setiap pelanggaran memiliki jenis kafarat yang berbeda. Sebagai contoh, kafarat melanggar sumpah berbeda dengan kafarat pembunuhan tidak sengaja atau kafarat zihar. Perhitungan yang salah dapat menyebabkan ‘penebusan’ tersebut tidak sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW. Lalu bagaimana penentuan besaran berdasarkan standar makanan pokok dalam kafarat? Sebagian besar kafarat melibatkan pemberian makan kepada fakir miskin (sebanyak 10 hingga 60 orang, tergantung jenis pelanggaran). Satu porsi makan biasanya dihitung sebesar satu mud (sekitar 675 gram) atau satu sha' (sekitar 2,5 kg - 3 kg) makanan pokok. Salah menghitung gramasi atau jumlah penerima dapat membuat kafarat tersebut dianggap tidak sempurna. Kalau mau dikonversi ke nilai uang dengan nilai yang tepat bisakah? Bisa! Di era modern saat ini, banyak orang memilih menunaikan kafarat dalam bentuk uang melalui lembaga amil zakat. Penting untuk merujuk pada ketetapan lembaga resmi seperti Baznas Kota Yogyakarta untuk mengetahui nilai rupiah yang setara dengan porsi makan standar di wilayah setempat, agar nilai yang diberikan benar-benar mencukupi kebutuhan makan penerimanya. Dalam kafarat, kita juga harus tetap menjamin hak fakir miskinnya ya. Kafarat bukan hanya tentang menggugurkan kewajiban, tapi juga tentang memberi makan mereka yang kelaparan. Perhitungan yang tepat memastikan hak-hak fakir miskin terpenuhi sesuai jumlah yang telah ditetapkan oleh syariat. Menunaikan Kafarat dengan tenang dan amanah dapat di perantarai dengan memahami detail perhitungan kafarat yang masih menjadi hal rumit bagi sebagian orang. Oleh karenanya, Baznas Kota Yogyakarta hadir untuk menjadi ruang konsultasi dan penyaluran Anda. Lembaga amil seperti Baznas telah menjadi lembaga yang kompeten dan memiliki standar perhitungan yang telah disahkan oleh Dewan Syariah, sehingga Anda tidak perlu ragu lagi. Jangan biarkan keraguan menghalangi niat baik Anda untuk bertaubat. Baznas Kota Yogyakarta hadir memfasilitasi penunaian kafarat Anda dengan perhitungan yang akurat, transparan, dan tepat sasaran kepada fakir miskin yang membutuhkan di wilayah Yogyakarta. Jangan tunda kewajiban kafarat Anda. Percayakan pelaksanaannya pada Baznas Kota Yogyakarta sebagai lembaga zakat resmi dan terpercaya yang siap memastikan kafarat Anda tersalurkan kepada mereka yang benar-benar berhak dan lebih merata. Mari tunaikan kewajiban kafarat dengan penuh keikhlasan melalui Badan Amil Zakat Nasional Kota Yogyakarta, agar ibadah kita semakin sempurna dan membawa keberkahan bagi banyak orang. #Kafarat #KafaratDalamIslam #BAZNASTangguh #BAZNASKotaYogyakarta #ZakatYogyakarta #BerbagiBerkah #IslamRahmatanLilAlamin
ARTIKEL25/02/2026 | Azka Atthaya
Kapan Sebenarnya Waktu Terbaik Menunaikan Fidyah? Simak Panduannya Agar Tidak Terlambat
Kapan Sebenarnya Waktu Terbaik Menunaikan Fidyah? Simak Panduannya Agar Tidak Terlambat
Bagi umat Muslim yang memiliki halangan permanen untuk berpuasa di bulan Ramadhan—seperti lansia yang sudah lemah, orang sakit kronis yang kecil kemungkinan sembuhnya, maupun ibu hamil dan menyusui (menurut kondisi tertentu), sudah diberikan keringanan oleh syariat berupa fidyah. Pengertian Fidyah sendiri ialah memberi makan orang miskin sebagai pengganti puasa. Namun, diantara umat Muslim pasti sering memunculkan pertanyaan kayak: “Kapan sih sebenarnya waktu yang paling tepat untuk membayarnya?” Yuk kita cermati bersama penjelasan dibawah ini! Sebenarnya Bolehkah Fidyah Dibayar Sebelum Ramadhan? Secara umum, para ulama sepakat bahwa fidyah tidak boleh dibayarkan sebelum bulan Ramadhan dimulai ya. Mengapa? Karena fidyah sendiri kan artinya ‘pengganti’ dari kewajiban yang ada. Jika Ramadhan-nya belum masuk, maka kewajiban fidyah tersebut belum ada, jadi apa dong yang harus diganti kalau kewajibannya saja belum ada? Oleh karenanya, sebaiknya hindari membayar fidyah di bulan Sya’ban atau sebelumnya ya. Lalu, sebenarnya kapan saja sih waktu selama bulan Ramadhan yang bisa dijadikan pilihan untuk menunaikan fidyah? Berikut ini adalah waktu yang paling umum dan dianjurkan untuk menunaikan Fidyah, berikut dua pilihan caranya: 1. Setiap Hari Setelah Subuh. Jadi pembayaran fidyah dapat dilakukan setiap hari sebanyak satu porsi makan setelah fajar menyingsing di hari ketika Anda sedang tidak berpuasa. 2. Digabung di Akhir Ramadhan: Anda juga diperbolehkan mengumpulkan hitungan fidyah selama satu bulan penuh, lalu menyalurkannya sekaligus di hari-hari terakhir Ramadhan atau ketika malam Idul Fitri. Kira-kira kalau membayar fidyah setelah Ramadhan selesai bisa gak ya? Jika Anda belum sempat menunaikan fidyahnya selama bulan puasa karena satu dan lain hal, maka menunaikan setelah Ramadhan tetap sah dan wajib dilakukan. Namun perlu diingat, fidyah statusnya adalah ‘hutang’ kepada Allah dan hak fakir miskin, sehingga tidak boleh untuk ditunda dan harus segera dilunasi agar tidak menjadi beban di kemudian hari. Ringkasnya, waktu paling awal menunaikan fidyah adalah saat hari pertama Ramadhan (setelah fajar), lalu waktu paling umum atau yang biasa dipahami orang-orang yakni saat akhir bulan Ramadhan, dan menunaikan fidyah sebenarnya tidak memiliki batas akhir yang kaku, namun tetap saja wajib untuk segera dilunasi sebelum menemui Ramadhan berikutnya. Kesimpulannya mana ya waktu penunaian fidyah yang paling baik? Waktu terbaik menunaikan fidyah adalah sesegera mungkin ketika alasan tidak berpuasa itu terjadi di dalam bulan Ramadhan. Menunda-nunda pekerjaan baik bukanlah hal yang disarankan. Dengan berbagai pilihan pembayaran saat ini—mulai dari datang langsung ke kantor, maupun memanfaatkan kemudahan teknologi saat ini seperti melalui transfer mobile banking ataupun QRIS ke lembaga zakat terpercaya, Anda bisa menunaikan kewajiban fidyah dengan lebih efektif, karena hanya perlu menghitung jumlah hari yang ditinggalkan dan menyalurkannya dengan cepat tanpa harus menunggu waktu lama. Jangan biarkan penundaan menunaikan fidyah menghalangi niat baik Anda untuk menjadi hamba yang taat. Baznas Kota Yogyakarta hadir memfasilitasi penunaian fidyah Anda dengan perhitungan yang akurat, transparan, dan pentasyarufan secara tepat sasaran di wilayah Yogyakarta. Mari tunaikan kewajiban fidyah dengan penuh keikhlasan melalui Badan Amil Zakat Nasional Kota Yogyakarta, agar ibadah kita semakin sempurna dan membawa keberkahan bagi banyak orang. #Fidyah #FidyahDalamIslam #BAZNASTangguh #BAZNASKotaYogyakarta #ZakatYogyakarta #BerbagiBerkah #IslamRahmatanLilAlamin
ARTIKEL25/02/2026 | Azka Atthaya
Keutamaan Tadarus Al Qur’an di Bulan Ramadan
Keutamaan Tadarus Al Qur’an di Bulan Ramadan
Bagi setiap Muslim, Al-Qur'an bukan sekadar kitab suci yang dipajang di rak buku, melainkan pedoman hidup dan petunjuk yang menuntun setiap langkah manusia. Membaca Al-Qur'an, atau yang akrab kita sebut dengan istilah "tadarus", merupakan sebuah perintah sekaligus kebutuhan ruhani. Tradisi tadarus biasanya semakin semarak saat memasuki bulan suci Ramadhan, baik dilakukan secara mandiri maupun berkelompok. Namun, apa sebenarnya makna di balik kegiatan ini dan mengapa ia begitu ditekankan dalam ajaran Islam? Tadarus Al-Qur'an secara harfiah berasal dari kata darasa yang berarti mempelajari, meneliti, atau mengambil pelajaran. Oleh karena itu, kegiatan ini bukan hanya tentang melafalkan ayat-ayat suci, tetapi juga upaya untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta dan memahami pesan-pesan Ilahi. Berikut adalah keutamaan-keutamaan tadarus di bulan suci ramadan. Pahala berlipat ganda Salah satu motivasi terbesar umat Muslim dalam bertadarus adalah janji Allah SWT mengenai pahala yang melimpah. Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa setiap huruf yang dibaca dari Al-Qur'an akan dibalas dengan satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat. Bayangkan jika kegiatan ini dilakukan di bulan Ramadhan, di mana setiap amal saleh diberi ganjaran berkali-kali lipat lebih besar. Setiap detik yang kita habiskan untuk bertadarus adalah investasi pahala yang sangat berharga untuk akhirat kelak. Mendekatkan Diri kepada Allah Tadarus adalah cara berkomunikasi paling intim antara hamba dengan Tuhannya. Dengan rutin membaca Al-Qur'an, seseorang akan merasa lebih dekat dengan Islam dan Allah SWT. Kesempatan emas untuk mempererat ikatan spiritual ini sangat terbuka lebar di bulan Ramadhan, sebuah momentum yang belum tentu bisa kita rasakan dengan kualitas yang sama di hari-hari biasa. Menjadikan Al-Qur'an sebagai teman sehari-hari akan menumbuhkan rasa cinta yang mendalam terhadap agama. Melahirkan Pikiran yang Positif Dalam kehidupan yang penuh dengan tekanan dan masalah, menjaga kesehatan mental adalah sebuah tantangan. Seringkali, manusia terjebak dalam pikiran negatif atau emosi yang meluap-luap. Di sinilah Al-Qur'an hadir sebagai obat. Membaca Al-Qur'an memberikan pengaruh psikologis yang luar biasa, membantu seseorang untuk tetap tenang, berpikir jernih, dan menjaga emosi tetap stabil. Cahaya dari ayat-ayat suci mampu mengusir kegelapan prasangka buruk dalam pikiran. Ketenangan Hati dan Jiwa Allah SWT berfirman bahwa dengan mengingat Allah, hati akan menjadi tenang. Tadarus Al-Qur'an adalah bentuk tertinggi dari zikir (mengingat Allah). Kegiatan ini tidak hanya menyentuh aspek fisik melalui lisan yang berucap, tetapi juga menghidupkan jiwa dan akal. Mereka yang merutinkan tadarus akan merasakan ketentraman batin yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Hati yang tadinya gundah gulana akan merasa sejuk dan damai setelah bersentuhan dengan kalamullah. Meningkatkan Produktivitas Waktu Banyak orang yang mengisi waktu luang saat berpuasa dengan tidur berlebihan atau aktivitas yang kurang bermanfaat. Padahal, tadarus Al-Qur'an adalah cara terbaik untuk menjadikan waktu kita lebih produktif. Memanfaatkan waktu setelah salat atau di sela-sela kesibukan untuk membaca Al-Qur'an jauh lebih berguna daripada sekadar melewatkan waktu tanpa makna. Dengan bertadarus, kita belajar untuk disiplin dan menghargai setiap detik kehidupan. Tadarus Al-Qur'an adalah kebutuhan spiritual yang memberikan dampak menyeluruh, mulai dari kesehatan mental hingga ketenangan jiwa. Al-Qur'an adalah cahaya yang menerangi jalan kehidupan manusia agar tidak tersesat. Oleh karena itu, mari kita jadikan tadarus sebagai kebiasaan rutin, bukan sekadar pelengkap di bulan Ramadhan. Dengan menjadikan Al-Qur'an sebagai pedoman utama, kita tidak hanya meraih kebahagiaan di dunia, tetapi juga jaminan keselamatan di akhirat. Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang hatinya senantiasa terpaut pada Al-Qur'an. Mari tunaikan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Kota Yogyakarta. Mari salurkan fidyah dan dana sosial keagamaan lainnya secara amanah dan tepat sasaran. Mari perkuat kepedulian sosial dengan ZIS DSKL BAZNAS Kota Yogyakarta. Mari bayar fidyah melalui link kantor digital di bawah ini: https://kotayogya.baznas.go.id/sedekah atau hubungi Layanan Muzaki BAZNAS Kota Yogyakarta di 0821-4123-2770 untuk informasi dan pendampingan lebih lanjut. Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id #RamadanPenuhBerkah #TadarusRamadan #TadarusAlQur’an #KeutamaanRamadan
ARTIKEL25/02/2026 | Ummi Kiftiyah
Amalan Utama di 10 Hari Pertama Ramadan
Amalan Utama di 10 Hari Pertama Ramadan
Bulan Ramadhan adalah momen yang paling dinantikan oleh umat Muslim di seluruh dunia. Bulan suci ini bukan sekadar ritual menahan lapar dan dahaga, melainkan madrasah spiritual untuk menyucikan jiwa. Dalam tradisi Islam, bulan Ramadhan sering dibagi menjadi tiga fase sepuluh harian, di mana sepuluh hari pertama dikenal sebagai fase Rahmat atau kasih sayang Allah SWT. Pada fase awal ini, Allah SWT membuka pintu rahmat-Nya seluas-luasnya bagi setiap hamba yang bersungguh-sungguh dalam beribadah. Masa-masa ini menjadi fondasi penting bagi seorang Muslim untuk membangun ritme ibadah yang konsisten hingga akhir bulan nanti. Agar tidak terlewat begitu saja, berikut adalah beberapa amalan utama yang sangat dianjurkan untuk dilakukan pada 10 hari pertama Ramadhan. Memperbanyak Ibadah Sunnah Di awal Ramadhan, semangat biasanya masih sangat tinggi. Momentum ini harus dimanfaatkan untuk memperbanyak ibadah sunnah di samping kewajiban shalat lima waktu. Amalan sunnah, seperti shalat Rawatib (qabliyah dan ba’diyah), shalat Dhuha, hingga shalat Tahajud, merupakan sarana efektif untuk mendapatkan perhatian khusus dan rahmat dari Allah SWT. Melakukan ibadah sunnah semata-mata karena mengharap ridha-Nya akan mempertebal keimanan dan memperkaya tabungan pahala kita di bulan yang penuh keberkahan ini. Tadarus dan Merenungkan Al-Qur'an Ramadhan sering disebut sebagai Syahrul Qur'an atau bulan Al-Qur'an, karena pada bulan inilah kitab suci tersebut pertama kali diturunkan. Amalan tadarus Al-Qur'an menjadi sangat istimewa di 10 hari pertama. Namun, tadarus bukan hanya soal mengejar target khatam atau kecepatan membaca, melainkan juga upaya untuk mempelajari, merenungkan, dan memahami setiap ayat yang dibaca. Sebagaimana firman Allah dalam Surat Al-Baqarah ayat 185, Al-Qur'an adalah petunjuk bagi manusia. Dengan membaca dan memahaminya, kita sedang menjemput petunjuk dan rahmat Allah untuk menuntun hidup kita ke arah yang lebih baik. Konsistensi dalam Dzikir dan Doa Dzikir adalah cara termudah namun sangat kuat untuk selalu mengingat Allah di tengah kesibukan sehari-hari. Di 10 hari pertama Ramadhan, umat Muslim dianjurkan untuk membasahi lidah dengan kalimat-kalimat thayyibah. Selain itu, bulan Ramadhan adalah waktu yang sangat mujarab atau mustajab untuk berdoa. Setiap detik di bulan ini, terutama saat menjelang berbuka puasa atau di sepertiga malam terakhir, adalah kesempatan emas untuk memohon segala kebaikan kepada Sang Pencipta. Jangan lewatkan waktu-waktu ini tanpa meminta rahmat dan perlindungan-Nya. Menjaga Shalat Berjamaah di Masjid Salah satu amalan yang sangat ditekankan oleh Rasulullah SAW adalah shalat berjamaah. Melaksanakan shalat fardu maupun shalat tarawih secara berjamaah di masjid memiliki keutamaan yang berlipat ganda dibandingkan shalat sendirian. Selain nilai pahalanya yang mencapai 27 derajat, shalat berjamaah juga berfungsi sebagai sarana untuk mempererat tali silaturahmi antar sesama Muslim. Menjaga hubungan baik dengan sesama hamba Allah merupakan salah satu pintu turunnya rahmat Allah ke dalam kehidupan kita. Rasulullah sendiri diceritakan tetap menjaga shalat berjamaah meski dalam kondisi kurang sehat, yang menunjukkan betapa pentingnya amalan ini. Sepuluh hari pertama Ramadhan adalah masa transisi di mana tubuh dan jiwa kita mulai beradaptasi dengan ritme ibadah yang baru. Dengan mengisi hari-hari awal ini dengan memperbanyak ibadah sunnah, berinteraksi dengan Al-Qur'an, berdzikir, serta konsisten dalam shalat berjamaah, kita sedang membuka pintu-pintu rahmat Allah dalam diri kita. Marilah kita jadikan fase awal ini sebagai titik tolak untuk menjadi pribadi yang lebih bertaqwa. Semoga segala amalan yang kita kerjakan di 10 hari pertama ini diterima oleh Allah SWT dan menjadi bekal yang kuat untuk menjalani sisa hari di bulan Ramadhan dengan penuh keberkahan. Selamat menjalankan ibadah puasa, semoga rahmat Allah selalu menyertai kita semua. Mari tunaikan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Kota Yogyakarta. Mari salurkan fidyah dan dana sosial keagamaan lainnya secara amanah dan tepat sasaran. Mari perkuat kepedulian sosial dengan ZIS DSKL BAZNAS Kota Yogyakarta. Mari bayar fidyah melalui link kantor digital di bawah ini: https://kotayogya.baznas.go.id/sedekah atau hubungi Layanan Muzaki BAZNAS Kota Yogyakarta di 0821-4123-2770 untuk informasi dan pendampingan lebih lanjut. Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id #RamadanPenuhBerkah #Amalan10HariPertamaRamadan #AmalanRamadan #KeutamaanRamadan
ARTIKEL25/02/2026 | Ummi Kiftiyah
Manfaat Zakat Fitrah sebagai Instrumen Solidaritas Umat
Manfaat Zakat Fitrah sebagai Instrumen Solidaritas Umat
Zakat fitrah merupakan kewajiban yang memiliki dimensi ibadah sekaligus sosial yang mendalam. Ia bukan sekadar ritual tahunan di penghujung Ramadan, melainkan sebuah sistem distribusi kesejahteraan yang telah diatur secara jelas dan bijaksana dalam ajaran Islam. Dalam konteks masyarakat modern yang senantiasa menghadapi tantangan ekonomi, fluktuasi harga kebutuhan pokok, dan kesenjangan sosial yang menganga, manfaat zakat fitrah semakin relevan sebagai instrumen solidaritas umat yang nyata, terukur, dan berkelanjutan. Pencuci Spiritual dan Penopang Kesejahteraan Sosial Secara normatif, kewajiban zakat fitrah ditegaskan dalam hadis riwayat Ibnu Umar bahwa Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah sebagai penyuci bagi orang yang berpuasa dan sebagai makanan bagi orang miskin. Dalil ini secara eksplisit menunjukkan dua fungsi utama yang tidak terpisahkan: dimensi spiritual (tazkiyatun nafs) dan dimensi sosial (kafa'atul fuqara'). Dari sisi spiritual, zakat fitrah berfungsi membersihkan jiwa orang yang berpuasa dari lughwu (perbuatan sia-sia) dan rafats (kata-kata kotor atau tidak senonoh) yang mungkin terjadi selama bulan Ramadan, menjadikannya penutup yang sempurna bagi ibadah puasa. Sementara itu, dimensi sosialnya berorientasi pada transfer kekayaan sederhana dari muzakki (pemberi zakat) kepada mustahik (penerima zakat), khususnya fakir dan miskin, guna memastikan mereka dapat ikut merasakan kegembiraan Idulfitri tanpa harus didera kekhawatiran pangan. Dengan kata lain, zakat untuk fakir miskin bukan sekadar bantuan materi sesaat, melainkan bagian integral dari penyempurna ibadah Ramadan dan perwujudan kepedulian universal. Untuk zakat fitrah 2026 di Kota Yogyakarta, ketentuan yang berlaku adalah Rp40.000 per orang atau setara 2,5 kg beras. Penetapan nominal atau takaran ini menjadi standar baku agar setiap muzakki memiliki panduan yang jelas dalam menunaikan kewajibannya. Ketika dana atau bahan makanan tersebut dihimpun secara kolektif melalui lembaga pengelola zakat yang terpercaya, dampaknya mampu menjangkau ribuan mustahik di berbagai wilayah, bahkan hingga pelosok yang sulit terakses. Membangun Keseimbangan Sosial yang Kolektif Manfaat zakat fitrah sebagai instrumen solidaritas umat terlihat jelas pada kemampuannya membangun keseimbangan sosial, terutama pada momen krusial menjelang perayaan Idulfitri. Zakat memastikan bahwa, setidaknya untuk satu hari besar tersebut, kebutuhan dasar kelompok rentan dapat terpenuhi, sehingga tidak ada yang merasa terabaikan di hari kemenangan. Solidaritas ini bersifat kolektif, terorganisir, dan melibatkan seluruh lapisan umat Islam yang mampu. Setiap kontribusi, sekecil apapun, menjadi bagian dari kekuatan besar ketika dihimpun dan dikelola secara terorganisasi. Ini adalah manifestasi nyata dari ajaran Islam yang tidak hanya menekankan pada hubungan vertikal (dengan Tuhan) tetapi juga hubungan horizontal (antar sesama manusia). Peran Digitalisasi dan Akuntabilitas Lembaga Zakat Di era digital yang serba cepat, solidaritas tersebut semakin luas jangkauannya melalui mekanisme zakat fitrah online. Tren pencarian seperti “cara bayar zakat fitrah online” dan “bayar zakat online” yang meningkat signifikan setiap Ramadan menunjukkan adaptasi masyarakat modern dalam menunaikan kewajiban dengan cara yang praktis, cepat, namun tetap aman dan sah secara syariat. Digitalisasi zakat tidak sedikit pun mengurangi nilai ibadah, melainkan memperluas partisipasi, memudahkan akses bagi muzakki yang memiliki mobilitas tinggi, dan memungkinkan transparansi yang lebih baik. Lembaga resmi dan berwenang seperti Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) memainkan peran sentral dalam memastikan efektivitas dan akuntabilitas sistem ini. BAZNAS memiliki sistem pendataan mustahik yang terverifikasi, sehingga penyaluran dana tepat sasaran, serta laporan distribusi yang transparan dan dapat dipertanggungjawabkan. Akuntabilitas ini penting agar solidaritas umat tidak berhenti pada niat baik semata, tetapi terwujud dalam tata kelola yang profesional, menghasilkan dampak sosial-ekonomi yang maksimal bagi masyarakat. Secara praktis, zakat fitrah berfungsi sebagai penyeimbang distribusi pangan musiman. Sebagai contoh, jika 20.000 muzakki di suatu daerah menunaikan zakat melalui lembaga resmi, potensi dana atau beras yang terkumpul dapat membantu ribuan keluarga memenuhi kebutuhan pokok mereka, mengurangi beban pengeluaran, dan menyuntikkan daya beli ke sektor riil. Inilah kekuatan solidaritas yang terstruktur dan bermuara pada penguatan ketahanan sosial umat. Manfaat zakat fitrah sebagai instrumen solidaritas umat terletak pada kombinasi harmonis antara nilai spiritual dan sistem sosial yang terorganisasi. Ia mempertemukan kesalehan individu dengan tanggung jawab kolektif, sehingga membangun dan memelihara kebersamaan yang berkelanjutan, khususnya di wilayah seperti Kota Yogyakarta. Mari sempurnakan Ramadan dengan berbagi. Bayar zakat fitrah sekarang, sucikan diri, dan bahagiakan sesama. Mari tunaikan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Kota Yogyakarta. Mari salurkan fidyah dan dana sosial keagamaan lainnya secara amanah dan tepat sasaran. Mari perkuat kepedulian sosial dengan ZIS DSKL BAZNAS Kota Yogyakarta. Mari bayar fidyah melalui link kantor digital di bawah ini: sedekah - infak : https://kotayogya.baznas.go.id/sedekah, zakat : https://kotayogya.baznas.go.id/bayarzakat atau hubungi Layanan Muzaki BAZNAS Kota Yogyakarta di 0821-4123-2770 untuk informasi dan pendampingan lebih lanjut. Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id/ #ZakatFitrahOnline#HukumZakatOnline #ZakatViaTransfer#ZakatRamadan#BAZNASKotaYogyakarta
ARTIKEL23/02/2026 | Saffa
Bagaimana Hukum Shalat Tarawih Sendirian?
Bagaimana Hukum Shalat Tarawih Sendirian?
Bulan Ramadhan adalah bulan penuh ampunan di mana setiap detik waktunya bernilai ibadah. Salah satu syiar yang paling dinanti adalah shalat Tarawih. Namun, dalam dinamika kehidupan sehari-hari, sering kali muncul situasi yang membuat seseorang tidak bisa melangkahkan kaki ke masjid untuk berjamaah—mulai dari tuntutan pekerjaan, kondisi kesehatan, hingga faktor cuaca yang tidak mendukung. Muncul sebuah pertanyaan di tengah umat: Bolehkah shalat Tarawih dilakukan sendirian di rumah? Dan bagaimana hukumnya dalam pandangan fikih? Merujuk pada penjelasan para ulama, termasuk yang dirangkum dalam literatur nahdliyin, hukum dasar shalat Tarawih adalah sunnah muakkad (sunnah yang sangat dianjurkan). Meskipun melaksanakan Tarawih secara berjamaah di masjid memiliki keutamaan syiar yang luar biasa, para ulama menyepakati bahwa shalat Tarawih yang dilakukan sendirian (munfarid) adalah sah. Bahkan, dalam beberapa konteks, shalat sunnah yang dilakukan di rumah memiliki dimensi keikhlasan yang tinggi karena jauh dari potensi sifat riya (ingin dipuji orang lain). Sebagaimana Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa sebaik-baiknya shalat seseorang adalah di rumahnya, kecuali shalat fardhu. Jadi, bagi Anda yang memiliki udzur atau halangan untuk ke masjid, jangan berkecil hati. Pintu pahala tetap terbuka lebar di rumah Anda. Niat Shalat Tarawih Sendiri Perbedaan mendasar antara shalat berjamaah dan sendirian terletak pada niatnya. Saat shalat sendiri, kita tidak perlu menyertakan posisi sebagai makmum atau imam. Berikut adalah lafal niat yang bisa Anda baca: Ushalli sunnatat tarawihi rak’ataini mustaqbilal qiblati lillahi ta’ala. Artinya: "Aku berniat shalat sunnah Tarawih dua rakaat dengan menghadap kiblat karena Allah Ta’ala." Niat ini diucapkan di dalam hati sesaat sebelum melakukan Takbiratul Ihram. Kesadaran penuh akan niat ini menjadi kunci sahnya ibadah malam Anda. Tata Cara Pelaksanaan yang Benar Secara teknis, shalat Tarawih dilakukan dengan pola dua rakaat satu salam. Jika Anda mengikuti pendapat mayoritas yang umum di Indonesia, Anda bisa melaksanakannya sebanyak 20 rakaat atau 8 rakaat. Berikut urutannya: 1. Niat dan Takbiratul Ihram.2. Membaca Al-Fatihah dan Surat Pendek: Di sinilah letak fleksibilitas shalat sendiri. Anda bebas memilih surat Al-Quran yang paling Anda hafal dan hayati maknanya.3. Ruku’ hingga Sujud: Dilakukan dengan tuma'ninah (tenang dan tidak terburu-buru).4. Salam Setiap Dua Rakaat: Ulangi proses ini hingga mencapai jumlah rakaat yang diinginkan.5. Shalat Witir: Sebagai penutup, laksanakan shalat witir (biasanya 3 rakaat). Ini adalah penyempurna ibadah malam Anda. Shalat Tarawih sendirian bukan sekadar pilihan darurat, melainkan alternatif ibadah yang tetap sah dan mulia secara hukum Islam. Hal yang paling utama bukanlah di mana kita berdiri, melainkan bagaimana hati kita menghadap kepada-Nya. Dengan pemahaman hukum yang tepat, kita bisa menjalankan ibadah Ramadhan dengan tenang dan penuh keyakinan. Mari jadikan setiap sudut rumah kita bersinar dengan cahaya sujud, dan biarkan doa-doa kita melangit meski hanya dilakukan dalam kesunyian kamar. Mari sempurnakan Ramadan dengan berbagi. Bayar zakat fitrah sekarang, sucikan diri, dan bahagiakan sesama. Mari tunaikan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Kota Yogyakarta. Mari salurkan fidyah dan dana sosial keagamaan lainnya secara amanah dan tepat sasaran. Mari perkuat kepedulian sosial dengan ZIS DSKL BAZNAS Kota Yogyakarta. Mari bayar fidyah melalui link kantor digital di bawah ini: sedekah - infak : https://kotayogya.baznas.go.id/sedekah, zakat : https://kotayogya.baznas.go.id/bayarzakat atau hubungi Layanan Muzaki BAZNAS Kota Yogyakarta di 0821-4123-2770 untuk informasi dan pendampingan lebih lanjut. Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id/ #RamadanPenuhBerkah #BacaanTarawih #TarawihSendiri #NiatTarawih #KeutamaanRamadan
ARTIKEL23/02/2026 | Ummi Kiftiyah
Shalat Tarawih di Rumah: Tetap Berkah dan Sah
Shalat Tarawih di Rumah: Tetap Berkah dan Sah
Bulan Ramadhan selalu membawa suasana hangat yang kita rindukan. Salah satu momen paling istimewa adalah melaksanakan shalat Tarawih. Meski biasanya kita berbondong-bondong ke masjid untuk berjamaah, terkadang kondisi tertentu—seperti sakit, cuaca buruk, atau menjaga anak kecil—membuat kita harus melakukannya sendiri di rumah. Apakah tetap sah dan bagaimana caranya agar tetap khusyuk? Jawabannya adalah tentu saja sah! Shalat Tarawih adalah ibadah sunnah muakkad (sangat dianjurkan) yang fleksibel dilakukan di mana saja. Sebelum masuk ke teknis, mari kita ingat kembali janji Allah SWT. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa pun yang melakukan ibadah malam di bulan Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni. Jadi, meski dilakukan di ruang tamu atau kamar sendiri, nilai pahalanya tidak berkurang selama dilakukan dengan ikhlas. Niat Shalat Tarawih Sendiri Niat adalah ruh dari setiap ibadah. Saat melakukannya sendiri (munfarid), bacaan niatnya sedikit berbeda dengan saat menjadi makmum: Ushalli sunnatat tarawihi rak’ataini mustaqbilal qiblati lillahi ta’ala. Artinya: "Aku berniat shalat sunnah Tarawih dua rakaat dengan menghadap kiblat karena Allah Ta’ala." Secara umum, tata cara shalat Tarawih sama dengan shalat fardhu atau shalat sunnah lainnya. Perbedaannya hanya terletak pada niat dan jumlah rakaatnya. Jumlah Rakaat: Kita bisa memilih 8 rakaat (dengan 4 kali salam) atau 20 rakaat (dengan 10 kali salam). Keduanya memiliki dasar dalil yang kuat. Gerakan: Dimulai dengan Takbiratul Ihram dan diakhiri dengan salam setiap dua rakaat. Bacaan Surat: Jika shalat sendiri, kita bebas memilih surat pendek yang paling dihafal agar lebih fokus dan tidak terbebani. Melakukan ibadah di rumah memang memiliki tantangan tersendiri, seperti godaan rasa malas atau gangguan suara televisi. Berikut tipsnya: 1. Pilih Area yang Tenang: Siapkan pojok ruangan yang bersih dan harum khusus untuk beribadah.2. Gunakan Pakaian Terbaik: Meski tidak ada orang yang melihat, memakai pakaian bersih dan rapi akan membangun nuansa ibadah yang serius.3. Matikan Notifikasi Ponsel: Jauhkan gadget sejenak agar pikiran tidak melayang ke media sosial.4. Jangan Terburu-buru: Nikmati setiap gerakan (tuma'ninah). Ingat, kualitas lebih utama daripada sekadar menyelesaikan jumlah rakaat. Jangan lupa untuk menutup rangkaian shalat tarawih dengan shalat Witir. Kita bisa melakukannya 3 rakaat dengan satu atau dua kali salam. Shalat Witir berfungsi sebagai pengunci ibadah malam. Niat Shalat Witir (3 Rakaat): Ushalli sunnatal witri tsalatsa raka’atin mustaqbilal qiblati lillahi ta’ala. Shalat Tarawih di rumah bukanlah penghalang untuk meraih keberkahan Ramadhan. Justru, ini bisa menjadi momen me-time spiritual antara hamba dan Sang Pencipta. Dengan memahami niat dan tata cara yang benar, rumah kita pun bisa menjadi taman surga yang penuh dengan lantunan ayat suci. Mari optimalkan ibadah puasa ramadan kita dengan memperbanyak ibadah dan berbuat kebaikan. Semoga ramadan membawa perubahan baik bagi kehidupan kita. Mari tunaikan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Kota Yogyakarta. Mari salurkan fidyah dan dana sosial keagamaan lainnya secara amanah dan tepat sasaran. Mari perkuat kepedulian sosial dengan ZIS DSKL BAZNAS Kota Yogyakarta. Mari bayar fidyah melalui link kantor digital di bawah ini: sedekah - infak : https://kotayogya.baznas.go.id/sedekah, zakat : https://kotayogya.baznas.go.id/bayarzakat atau hubungi Layanan Muzaki BAZNAS Kota Yogyakarta di 0821-4123-2770 untuk informasi dan pendampingan lebih lanjut. Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id/ #RamadanPenuhBerkah #BacaanTarawih #TarawihSendiri #NiatTarawih #KeutamaanRamadan
ARTIKEL23/02/2026 | Ummi Kiftiyah
Do’a Shalat Tarawih dan Artinya
Do’a Shalat Tarawih dan Artinya
Bulan Ramadhan bukan sekadar tentang menahan lapar dan dahaga di siang hari. Keindahannya justru memuncak saat matahari terbenam, ketika umat Muslim menghidupkan malam dengan shalat Tarawih. Namun, ibadah Tarawih terasa kurang lengkap jika kita melewatkan salah satu elemen spiritual terpentingnya: Doa Kamilin. Banyak dari kita mungkin sudah akrab dengan lantunan doa ini yang dibacakan setelah salam terakhir shalat Tarawih. Namun, apakah kita sudah benar-benar memahami makna, waktu pembacaan, dan kedalaman janji Allah yang tersirat di dalamnya? Secara harfiah, Kamilin berasal dari kata "Kamil" yang berarti sempurna. Doa ini adalah untaian permohonan yang sangat komprehensif. Merujuk pada literatur yang kerap diulas oleh para ulama , doa ini mencakup seluruh aspek kehidupan seorang mukmin—mulai dari urusan iman, ibadah harian, hingga rincian kenikmatan di akhirat kelak. Waktu terbaik untuk melafalkan Doa Kamilin adalah setelah rangkaian shalat Tarawih selesai dan sebelum memulai shalat Witir. Secara tradisi, jeda ini digunakan untuk memberikan ruang bagi jiwa untuk beristirahat sejenak (raahah—asal kata Tarawih) sambil memanjatkan doa-doa terbaik sebelum "mengunci" ibadah malam dengan Witir. Teks Lengkap Doa Kamilin dan Artinya Berikut adalah teks doa yang bisa Anda baca, baik secara berjamaah di masjid maupun sendirian di rumah: Allâhummaj‘alnâ bil îmâni kâmilîn. Wa lil farâidli muaddîn. Wa lish-shlâti hâfidhîn. Wa liz-zakâti fâ‘ilîn. Wa lima ‘indaka thâlibîn. Wa li ‘afwika râjîn. Wa bil-hudâ mutamassikîn. Wa ‘anil laghwi mu‘ridlîn. Wa fid-dunyâ zâhdîn. Wa fil ‘âkhirati râghibîn. Wa bil-qadlâ’I râdlîn. Wa lin na‘mâ’I syâkirîn. Wa ‘alal balâ’i shâbirîn. Wa tahta liwâ’i muhammadin shallallâhu ‘alaihi wasallam yaumal qiyâmati sâ’irîna wa alal haudli wâridîn. Wa ilal jannati dâkhilîn. Wa minan nâri nâjîn. Wa 'alâ sariirl karâmati qâ'idîn. Wa bi hûrun 'in mutazawwijîn. Wa min sundusin wa istabraqîn wadîbâjin mutalabbisîn. Wa min tha‘âmil jannati âkilîn. Wa min labanin wa ‘asalin mushaffan syâribîn. Bi akwâbin wa abârîqa wa ka‘sin min ma‘în. Ma‘al ladzîna an‘amta ‘alaihim minan nabiyyîna wash shiddîqîna wasy syuhadâ’i wash shâlihîna wa hasuna ulâ’ika rafîqan. Dâlikal fadl-lu minallâhi wa kafâ billâhi ‘alîman. Allâhummaj‘alnâ fî hâdzihil lailatisy syahrisy syarîfail mubârakah minas su‘adâ’il maqbûlîn. Wa lâ taj‘alnâ minal asyqiyâ’il mardûdîn. Wa shallallâhu ‘alâ sayyidinâ muhammadin wa âlihi wa shahbihi ajma‘în. Birahmatika yâ arhamar râhimîn wal hamdulillâhi rabbil ‘âlamîn. Artinya: “Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang sempurna imannya, yang memenuhi kewajiban-kewajiban, yang memelihara shalat, yang mengeluarkan zakat, yang mencari apa yang ada di sisi-Mu, yang mengharapkan ampunan-Mu, yang berpegang pada petunjuk, yang berpaling dari kebatilan, yang zuhud di dunia, yang menyenangi akhirat, yang ridha dengan qadha-Mu (ketentuan-Mu), yang mensyukuri nikmat, yang sabar atas segala musibah, yang berada di bawah panji-panji junjungan kami, Nabi Muhammad, pada hari kiamat, yang mengunjungi telaga (Nabi Muhammad), yang masuk ke dalam surga, yang selamat dari api neraka, yang duduk di atas ranjang kemuliaan, yang menikah dengan para bidadari, yang mengenakan berbagai sutra, yang makan makanan surga, yang minum susu dan madu murni dengan gelas, cangkir, dan cawan bersama orang-orang yang Engkau beri nikmat dari kalangan para nabi, shiddiqin, syuhada dan orang-orang shalih. Mereka itulah teman yang terbaik. Itulah keutamaan (anugerah) dari Allah, dan cukuplah bahwa Allah Maha Mengetahui. Ya Allah, jadikanlah kami pada malam yang mulia dan diberkahi ini termasuk orang-orang yang bahagia dan diterima amalnya, dan janganlah Engkau jadikan kami tergolong orang-orang yang celaka dan ditolak amalnya. Semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya atas junjungan kami Muhammad, serta seluruh keluarga dan sahabat beliau. Berkat rahmat-Mu, wahai Yang Paling Penyayang di antara yang penyayang. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.” Doa Kamilin bukan sekadar deretan kata, melainkan visualisasi kehidupan ideal seorang Muslim. Di dalamnya kita meminta iman yang tangguh, karakter yang tidak silau akan dunia (zuhud), hingga detail kenikmatan surga yang membangkitkan kerinduan kepada-Nya. Membaca doa ini di antara Tarawih dan Witir adalah saat di mana fisik mungkin terasa lelah, namun di situlah kesungguhan kita diuji. Harapan besar untuk menjadi golongan yang diterima amalnya (maqbûlîn) menjadi penutup yang sangat indah bagi perjuangan ibadah di malam hari. Shalat Tarawih adalah raga dari ibadah malam Ramadhan, sedangkan Doa Kamilin adalah jiwanya. Dengan melafalkan harapan-harapan besar ini setiap malam, kita sedang menanamkan identitas Muslim yang berkualitas dalam diri kita. Semoga setiap malam Ramadhan kita menjadi saksi atas diterimanya doa-doa yang tulus ini. Mari tunaikan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Kota Yogyakarta. Mari salurkan fidyah dan dana sosial keagamaan lainnya secara amanah dan tepat sasaran. Mari perkuat kepedulian sosial dengan ZIS DSKL BAZNAS Kota Yogyakarta. Mari bayar fidyah melalui link kantor digital di bawah ini: sedekah - infak : https://kotayogya.baznas.go.id/sedekah, zakat : https://kotayogya.baznas.go.id/bayarzakat atau hubungi Layanan Muzaki BAZNAS Kota Yogyakarta di 0821-4123-2770 untuk informasi dan pendampingan lebih lanjut. Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id/ #RamadanPenuhBerkah #BacaanTarawih #TarawihSendiri #NiatTarawih #KeutamaanRamadan
ARTIKEL23/02/2026 | Ummi Kiftiyah
Shodaqoh Online Praktis Tanpa Ribet: Solusi Sedekah Online Terpercaya di Era Digital
Shodaqoh Online Praktis Tanpa Ribet: Solusi Sedekah Online Terpercaya di Era Digital
Di tengah gaya hidup serba digital, shodaqoh online menjadi pilihan favorit masyarakat untuk berbagi kebaikan dengan cara yang cepat, aman, dan simpel. Kini, sedekah tidak lagi identik dengan proses rumit. Cukup melalui smartphone, Anda sudah bisa menunaikan shodaqoh kapan saja dan di mana saja. Bagi masyarakat Yogyakarta, sedekah online terpercaya dapat dilakukan melalui BAZNAS Kota Yogyakarta, lembaga resmi pengelola zakat, infak, dan sedekah yang kredibel. Kenapa Shodaqoh Online Semakin Diminati? Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat semakin sadar akan pentingnya berbagi dengan cara yang praktis dan efisien. Shodaqoh online dinilai lebih fleksibel karena tidak terikat waktu, transparan dalam penyaluran, serta memudahkan donatur untuk konsisten bersedekah meski di tengah kesibukan. Selain itu, donasi digital juga dianggap lebih aman karena langsung tercatat dalam sistem lembaga resmi, sehingga meminimalkan risiko penyaluran yang tidak tepat sasaran. Kenapa Harus Shodaqoh Online di BAZNAS Kota Yogyakarta? BAZNAS Kota Yogyakarta merupakan lembaga resmi pemerintah yang mengelola dana umat secara profesional dan akuntabel. Seluruh dana shodaqoh disalurkan melalui program-program yang jelas, terukur, dan memberikan impact nyata bagi masyarakat. Melalui website resmi https://kotayogya.baznas.go.id/, Anda dapat melakukan sedekah online dengan proses yang user-friendly dan transparan. Mulai dari pemilihan program hingga laporan penyaluran, semuanya bisa diakses dengan mudah. Keunggulan sedekah online BAZNAS Kota Yogyakarta: 1. Lembaga resmi dan terpercaya2. Proses donasi cepat dan aman3. Transparansi penyaluran dana4. Fokus pada masyarakat lokal Yogyakarta Cara Sedekah Online Tanpa Ribet Ikuti langkah mudah berikut untuk mulai shodaqoh online: 1. Akses https://kotayogya.baznas.go.id/2. Klik menu Sedekah / Donasi Online3. Tentukan nominal sesuai kemampuan4. Pilih metode pembayaran (transfer bank atau layanan digital)5. Konfirmasi pembayaran, sedekah langsung diproses Hanya dalam beberapa menit, kebaikan Anda sudah sampai kepada yang membutuhkan. Program Sedekah yang Bisa Anda Dukung Dengan sedekah online di BAZNAS Kota Yogyakarta, Anda ikut berkontribusi pada berbagai program unggulan seperti: 1. Bantuan dhuafa dan fakir miskin2. Beasiswa pendidikan anak kurang mampu3. Program kesehatan dan sosial4. Pemberdayaan ekonomi dan UMKM mustahik5. Program kemanusiaan dan kebencanaan Setiap rupiah yang Anda salurkan menjadi bagian dari gerakan kebaikan berkelanjutan. Tidak perlu menunggu waktu luang untuk berbagi. Shodaqoh online praktis tanpa ribet adalah solusi sedekah masa kini. Dengan memilih BAZNAS Kota Yogyakarta, Anda tidak hanya bersedekah, tetapi juga memastikan donasi Anda dikelola secara amanah dan berdampak luas. Yuk, mulai sedekah online sekarang di https://kotayogya.baznas.go.id/. Satu transfer, pahala terus mengalir. Mari tunaikan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Kota Yogyakarta. Mari salurkan fidyah dan dana sosial keagamaan lainnya secara amanah dan tepat sasaran. Mari perkuat kepedulian sosial dengan ZIS DSKL BAZNAS Kota Yogyakarta. Mari bayar fidyah melalui link kantor digital di bawah ini: https://kotayogya.baznas.go.id/sedekah atau hubungi Layanan Muzaki BAZNAS Kota Yogyakarta di 0821-4123-2770 untuk informasi dan pendampingan lebih lanjut. Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id #BAZNASKotaYogyakarta #ShodaqohRamadhan #SedekahOnlineTerpercaya #SedekahTanpaRibet #CaraSedekahOnline #SedekahDigital #ZakatInfakSedekah #BerbagiKebaikan #YukSedekah
ARTIKEL23/02/2026 | Adira
3 Waktu Terbaik Untuk Tadarus di Bulan Ramadan
3 Waktu Terbaik Untuk Tadarus di Bulan Ramadan
Bulan Ramadhan sering dijuluki sebagai Syahrul Qur’an atau Bulannya Al-Qur’an. Di bulan ini, umat Islam berbondong-bondong menghidupkan malam dan siang mereka dengan melantunkan ayat-ayat suci. Namun, tahukah Anda bahwa dalam tradisi keilmuan Islam, terdapat klasifikasi waktu-waktu tertentu yang dianggap lebih utama (afdhal) untuk melakukan tadarus? Memahami manajemen waktu ibadah ini penting agar kualitas spiritual yang kita raih menjadi lebih maksimal. Aktivitas membaca Al-Qur'an memiliki dimensi ruang dan waktu yang memengaruhi keutamaannya. Meskipun membaca Al-Qur'an di waktu kapan pun tetap mendatangkan pahala, para ulama memberikan panduan strategis agar kita bisa mendapatkan "intisari" keberkahan Ramadhan. Secara umum, waktu yang paling dianjurkan untuk bertadarus di bulan Ramadhan adalah pada malam hari. Landasan utamanya adalah hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim yang menceritakan bahwa Malaikat Jibril mendatangi Rasulullah SAW setiap malam di bulan Ramadhan untuk melakukan mudarasah (tadarus) Al-Qur'an. Malam hari dipilih karena suasana yang lebih tenang dan hening. Pada waktu ini, hiruk-pikuk duniawi mulai mereda, sehingga hati dan pikiran lebih mudah untuk berkonsentrasi (khusyu’) dalam merenungi setiap ayat. Allah SWT juga berfirman dalam QS. Al-Muzzammil ayat 6 bahwa bangun di waktu malam itu lebih tepat untuk khusyuk dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. Lebih spesifik lagi, para ulama seperti Imam an-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar menjelaskan beberapa pembagian waktu utama untuk membaca Al-Qur’an: 1. Di Luar Salat: Waktu paling utama adalah di sepertiga malam terakhir. Ini adalah waktu mustajab di mana rahmat Allah turun ke langit dunia. Selain itu, waktu setelah salat Subuh juga sangat dianjurkan karena pikiran masih segar dan malaikat menyaksikan bacaan tersebut (QS. Al-Isra: 78).2. Antara Maghrib dan Isya: Ini adalah waktu transisi yang penuh berkah. Banyak ulama salaf mengisi waktu ini dengan tilawah untuk menjaga kesinambungan ibadah dari siang ke malam.3. Waktu Siang Hari: Bagi mereka yang bertadarus di siang hari, waktu yang paling utama adalah setelah salat Subuh hingga matahari terbit dan setelah salat Ashar. Mengapa waktu-waktu ini begitu ditekankan? Di bulan Ramadhan, setiap amal saleh dilipatgandakan. Namun, tadarus bukan sekadar mengejar target khatam. Esensi dari anjuran waktu utama ini adalah Tadabbur. Dengan memilih waktu yang tenang (seperti tengah malam), pembaca memiliki kesempatan untuk memahami makna (ma'ani) dari ayat yang dibaca. Selain itu, tadarus di waktu utama membantu seseorang untuk menjaga konsistensi (istiqamah). Ramadhan adalah ajang latihan kedisiplinan. Dengan menjadwalkan tadarus pada waktu-waktu afdhal tersebut, seorang Muslim sedang melatih manajemen jiwanya untuk memprioritaskan Tuhan di atas urusan lainnya. Sekalipun kita membaca di waktu yang paling utama, keberkahan tidak akan sempurna tanpa adab. Imam an-Nawawi mengingatkan agar pembaca Al-Qur'an selalu dalam keadaan suci, menghadap kiblat, dan membaca dengan tartil (perlahan dan jelas). Jangan sampai keinginan untuk cepat khatam justru menghilangkan keindahan tajwid dan perenungan makna. Memanfaatkan waktu-waktu utama untuk tadarus Al-Qur'an di bulan Ramadhan adalah cara kita menghormati bulan suci ini. Malam hari yang sunyi, sepertiga malam yang syahdu, serta waktu-waktu setelah salat fardu adalah gerbang menuju kedekatan dengan Allah SWT. Mari kita atur kembali jadwal harian kita agar tidak melewatkan momentum emas ini. Mari tunaikan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Kota Yogyakarta. Mari salurkan fidyah dan dana sosial keagamaan lainnya secara amanah dan tepat sasaran. Mari perkuat kepedulian sosial dengan ZIS DSKL BAZNAS Kota Yogyakarta. Mari bayar fidyah melalui link kantor digital di bawah ini: https://kotayogya.baznas.go.id/sedekah atau hubungi Layanan Muzaki BAZNAS Kota Yogyakarta di 0821-4123-2770 untuk informasi dan pendampingan lebih lanjut. Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id #RamadanPenuhBerkah #Waktu TerbaikTadarus #WaktuTerbaikRamadan #KeutamaanRamadan
ARTIKEL23/02/2026 | Ummi Kiftiyah
Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kota Yogyakarta.

Lihat Daftar Rekening →