Berita Terbaru
Manfaat Infaq di Bulan Ramadan: Keutamaan Berlipat dalam Membantu Sesama
Bulan Ramadan merupakan periode yang istimewa bagi umat Muslim di seluruh dunia. Selain sebagai bulan penuh berkah dan ampunan, Ramadan juga menjadi momen yang tepat untuk meningkatkan amal ibadah, termasuk dalam hal berinfaq. Infaq di bulan Ramadan memiliki manfaat yang sangat besar, baik bagi penerima maupun pemberi, yang dapat meningkatkan keberkahan dan kebaikan di tengah-tengah masyarakat.
Salah satu manfaat utama dari infaq di bulan Ramadan adalah memperoleh pahala yang berlipat-lipat. Dalam ajaran Islam, pahala amal kebaikan dilipatgandakan pada bulan Ramadan. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa memberi makan kepada orang yang berpuasa di bulan Ramadan, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa sedikit pun.” (HR. At-Tirmidzi). Dengan demikian, setiap rupiah yang dikeluarkan untuk infaq di bulan Ramadan akan mendatangkan pahala yang jauh lebih besar.
Selain mendapatkan pahala yang besar, infaq di bulan Ramadan juga memiliki manfaat sosial yang signifikan. Bantuan yang diberikan kepada yang membutuhkan, seperti makanan bagi mereka yang berpuasa, membantu meringankan beban hidup mereka dan memberikan dukungan moral yang besar. Hal ini menciptakan atmosfer solidaritas dan saling peduli di antara umat Muslim, memperkuat ikatan sosial, dan meningkatkan rasa kebersamaan dalam masyarakat.
Selain itu, infaq di bulan Ramadan juga merupakan cara yang efektif untuk membersihkan harta. Melalui infaq, seseorang membersihkan harta mereka dari sifat-sifat keserakahan dan ketamakan, serta memperbarui niat dan komitmen mereka dalam berbagi dengan sesama. Hal ini memperkuat sifat kedermawanan dan kepedulian dalam diri mereka, yang merupakan nilai-nilai yang sangat dihargai dalam agama Islam.
Tidak hanya itu, infaq di bulan Ramadan juga memberikan kesempatan untuk memperkuat hubungan dengan sesama dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dengan memberikan kepada yang membutuhkan di bulan yang penuh berkah ini, seseorang menunjukkan ketakwaan dan kepatuhan mereka kepada ajaran Islam. Hal ini juga membawa keberkahan dan kebaikan dalam kehidupan pribadi dan spiritual mereka.
Dengan demikian, manfaat infaq di bulan Ramadan sangatlah besar, baik dari segi pahala spiritual maupun manfaat sosial. Melalui infaq, kita dapat memperoleh keberkahan dalam kehidupan kita sendiri, serta membantu membawa kebaikan dan kebahagiaan kepada mereka yang membutuhkan. Oleh karena itu, mari manfaatkan kesempatan berharga ini dengan sebaik-baiknya, dan berinfaqlah dengan ikhlas dan penuh kasih sayang selama bulan Ramadan ini.
BERITA31/03/2024 | Anisa
Perbedaan Antara Infak, Zakat, dan Shodaqoh
Infak, zakat, dan shodaqoh adalah tiga konsep penting dalam Islam yang berkaitan dengan memberikan sumbangan atau bantuan kepada sesama. Meskipun ketiganya melibatkan memberi, mereka memiliki perbedaan yang penting dalam hal tujuan, penerima, dan kewajiban. Berikut adalah perbedaan antara infak, zakat, dan shodaqoh:
1. Infak:Infak adalah tindakan memberikan harta atau uang untuk kepentingan umum atau kebaikan sosial tanpa adanya kewajiban atau persyaratan tertentu. Infak dapat diberikan kapan saja dan dalam bentuk apa pun, sesuai dengan kemampuan individu. Tidak ada batasan jumlah atau persentase harta yang harus diberikan sebagai infak. Infak juga tidak memiliki penerima yang ditetapkan secara khusus dan dapat diberikan kepada siapa pun yang membutuhkan.
2. Zakat:Zakat adalah kewajiban bagi setiap Muslim yang mampu untuk memberikan sebagian dari harta mereka kepada golongan yang berhak menerimanya, seperti fakir miskin, orang-orang yang terlilit hutang, amil (petugas zakat), dan sebagainya. Zakat memiliki aturan yang jelas dalam agama Islam, termasuk jenis-jenis harta yang dikenakan zakat dan persentase yang harus diberikan. Zakat biasanya diberikan setiap tahun dan dihitung berdasarkan jumlah harta yang dimiliki individu setelah dikurangi kewajiban dan kebutuhan dasar.
3. Shodaqoh:Shodaqoh juga merupakan sumbangan sukarela dalam agama Islam, tetapi berbeda dari infak dan zakat karena tidak diatur oleh aturan atau kewajiban yang spesifik. Shodaqoh dapat diberikan dalam bentuk uang, makanan, atau jasa kepada siapa pun yang membutuhkan, tanpa memperhatikan status keislaman atau golongan sosial penerima. Shodaqoh sering diberikan sebagai bentuk amal kebajikan dan pemujaan kepada Allah.
Kesimpulan:Meskipun infak, zakat, dan shodaqoh semuanya melibatkan memberikan kepada sesama, mereka memiliki perbedaan dalam hal kewajiban, aturan, dan penerima. Infak adalah sumbangan sukarela tanpa aturan khusus, zakat adalah kewajiban yang diatur secara ketat dalam Islam, sementara shodaqoh adalah sumbangan sukarela tanpa aturan yang ketat. Dengan memahami perbedaan ini, umat Islam dapat mempraktikkan ketiga konsep ini dengan tepat sesuai dengan ajaran agama.
BERITA31/03/2024 | Ilmi
Makna dan Praktik Kafarat Puasa dalam Islam: Penjelasan Mendalam
Dalam ajaran Islam, puasa adalah salah satu ibadah yang memiliki kedudukan penting. Namun, dalam beberapa situasi tertentu, seorang Muslim dapat melakukan kafarat puasa sebagai bentuk penebusan atas pelanggaran yang dilakukan. Artikel ini akan menjelaskan secara mendalam tentang makna, prinsip, dan praktik kafarat puasa dalam Islam.
Pengertian Kafarat Puasa
Kafarat puasa merupakan istilah dalam hukum Islam yang mengacu pada tindakan penebusan yang dilakukan oleh seorang Muslim sebagai akibat dari pelanggaran yang dilakukannya terkait dengan puasa. Tujuan utama dari kafarat puasa adalah untuk membersihkan diri dari dosa yang telah dilakukan dan memperbaiki hubungan dengan Allah SWT.
Makna Kafarat Puasa
Makna dari kafarat puasa mencakup beberapa aspek penting:
Penebusan Dosa: Kafarat puasa adalah sarana untuk memperbaiki diri dan membersihkan diri dari dosa yang telah dilakukan oleh seorang Muslim.
Penghargaan terhadap Nilai Puasa: Dengan melakukan kafarat puasa, seorang Muslim menegaskan penghargaannya terhadap nilai-nilai puasa dan kesadaran spiritual yang terkait dengannya.
Ketekunan dan Kesabaran: Kafarat puasa juga mengajarkan nilai-nilai ketekunan dan kesabaran dalam menghadapi kesalahan dan mencari penebusan.
Praktik Kafarat Puasa
Praktik kafarat puasa dapat dilakukan dengan beberapa cara, tergantung pada situasi dan kondisi yang terjadi. Beberapa praktik kafarat puasa yang umum dilakukan antara lain:
Puasa Pengganti: Seorang Muslim dapat melakukan puasa pengganti sebagai kafarat atas hari-hari puasa yang ditinggalkannya tanpa alasan yang sah.
Memberi Makan Orang Miskin: Selain melakukan puasa pengganti, seorang Muslim juga dapat memberi makan orang miskin sebagai bentuk kafarat.
Memperbanyak Amal Kebaikan: Selain itu, melakukan amal kebaikan lainnya seperti bersedekah atau melakukan ibadah tambahan juga dapat menjadi kafarat puasa.
Pentingnya Kafarat Puasa dalam Islam
Kafarat puasa memiliki peran yang sangat penting dalam Islam karena mencerminkan nilai-nilai penting dalam agama ini, seperti kesadaran akan kesalahan, pengampunan, dan pemulihan. Dengan memahami dan melaksanakan kafarat puasa dengan baik, seorang Muslim dapat memperdalam kesadaran spiritualnya dan memperbaiki hubungan dengan Allah SWT dan sesama manusia.
Kesimpulan
Kafarat puasa adalah konsep penting dalam Islam yang mengatur tindakan penebusan atas kesalahan yang terkait dengan puasa. Melalui kafarat puasa, seorang Muslim dapat memperbaiki diri, membersihkan diri dari dosa, dan memperkuat kesadaran spiritualnya. Oleh karena itu, pemahaman yang mendalam tentang makna dan praktik kafarat puasa sangat penting bagi setiap individu yang menjalani kehidupan beragama dalam ajaran Islam.
BERITA31/03/2024 | Ilham maarif
Contoh Puasa Kafarat
Puasa kafarat merupakan jenis puasa yang dianjurkan dalam Islam sebagai bentuk penebusan dosa tertentu. Puasa ini diwajibkan sebagai kompensasi atas pelanggaran-pelanggaran tertentu yang dilakukan oleh seorang Muslim. Terdapat beberapa contoh kondisi di mana puasa kafarat menjadi wajib dilakukan, antara lain:
1. Puasa Kafarat karena Memakan Makanan atau Minuman yang Tidak Diperbolehkan saat Berpuasa: Salah satu contoh puasa kafarat adalah bagi seorang yang sengaja makan atau minum saat sedang berpuasa di bulan Ramadan. Sebagaimana dinyatakan dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 185, “Dan apabila seorang di antara kamu dalam keadaan sakit atau dalam perjalanan, maka (boleh berbuka puasa) sebanyak (hari) yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain.”
2. Puasa Kafarat karena Melakukan Hubungan Intim saat Berpuasa : Seorang yang melakukan hubungan intim dengan suami atau istri saat berpuasa di bulan Ramadan juga diwajibkan melakukan puasa kafarat. Hal ini berdasarkan hadis dari Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa orang yang melanggar puasa dengan hubungan intim di siang hari harus melakukan puasa kafarat.
3. Puasa Kafarat karena Sumpah yang Dilanggar: Jika seseorang melanggar sumpah yang telah diucapkannya, maka ia diwajibkan melakukan puasa kafarat. Ini merupakan bentuk penebusan atas kesalahan yang disengaja dalam mengucapkan sumpah.
4. Puasa Kafarat karena Membunuh Hewan Saat Berihram: Ketika seseorang yang sedang dalam keadaan ihram (menjalankan ibadah haji atau umrah) sengaja membunuh hewan, maka ia diwajibkan melakukan puasa kafarat sebagai bentuk penebusan dosa tersebut.
Puasa kafarat merupakan salah satu sarana yang diberikan dalam agama Islam sebagai upaya untuk membersihkan diri dari dosa-dosa yang telah dilakukan. Dalam menjalankan puasa kafarat, seseorang dianjurkan untuk melakukannya dengan niat yang tulus dan ikhlas serta memperbaiki diri agar tidak mengulangi kesalahan yang sama di masa mendatang.
Terdapat beberapa hadis yang menjelaskan tentang pentingnya puasa kafarat dan tata cara melaksanakannya. Salah satunya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang makan atau minum secara lalim di bulan Ramadan, maka hendaknya dia melaksanakan puasa satu hari ganti.” Hadis ini menegaskan bahwa seseorang yang melanggar puasa di bulan Ramadan diwajibkan untuk melakukan puasa ganti sebagai kafarat.
Sebagai umat Muslim, kita dianjurkan untuk selalu menjaga kesucian dan kemurnian hati serta menjalankan segala perintah Allah SWT. Puasa kafarat adalah salah satu bentuk ibadah yang dapat membantu kita membersihkan diri dari dosa-dosa yang telah dilakukan. Hal ini mencerminkan betapa pentingnya pengendalian diri dan taat kepada ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 196 dijelaskan, “Maka selesaikanlah ibadah haji dan umrah karena Allah. Jika kamu terhalang, maka gantilah dengan korban yang mudah (disembelih) dan jangan mencukur rambutmu sebelum kurban sampai keselamatan (sampai ke tempat tujuan)”. Ayat ini mengingatkan kita akan pentingnya memperbaiki kesalahan yang telah dilakukan dengan melakukan kafarat yang telah ditetapkan dalam ajaran Islam.
Dari contoh-contoh di atas, kita dapat memahami bahwa puasa kafarat memiliki nilai penting dalam Islam sebagai sarana penebusan dosa-dosa tertentu. Dengan melaksanakan puasa kafarat dengan ikhlas dan niat yang tulus, kita dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT dan memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya taat kepada-Nya serta menjaga diri dari perbuatan-perbuatan yang dilarang dalam agama.
Dengan demikian, puasa kafarat adalah salah satu cara yang diajarkan dalam Islam untuk bertobat dan memperbaiki kesalahan yang telah dilakukan. Melalui puasa kafarat, umat Muslim diberikan kesempatan untuk membersihkan diri dari dosa-dosa yang telah dilakukan dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Semoga dengan melaksanakan puasa kafarat dengan niat yang ikhlas, kita dapat mencapai ampunan-Nya dan menjadi hamba-Nya yang lebih baik.
BERITA31/03/2024 | Adhitya Alfath Alfadholi
Kafarat Pembunuhan dalam Islam: Prinsip, Penerapan, dan Maknanya
Pembunuhan adalah tindakan yang sangat serius dalam hukum Islam. Namun, dalam beberapa kasus tertentu, Islam memberikan kemungkinan untuk menebus dosa tersebut dengan membayar kafarat. Artikel ini akan membahas secara mendalam tentang konsep kafarat pembunuhan dalam Islam, prinsip yang mendasarinya, penerapannya, dan maknanya dalam konteks kehidupan beragama umat Muslim.
Pengertian Kafarat Pembunuhan
Kafarat pembunuhan adalah konsep dalam hukum Islam yang mengatur pembayaran kompensasi atau penebusan bagi seseorang yang melakukan pembunuhan secara tidak sengaja atau dalam keadaan darurat tertentu. Tujuan utama dari kafarat pembunuhan adalah untuk memberikan solusi dalam menyelesaikan konflik dan memperbaiki kesalahan tanpa menimbulkan lebih banyak kekerasan atau pertumpahan darah.
Prinsip-prinsip Kafarat Pembunuhan
Prinsip-prinsip yang mendasari kafarat pembunuhan meliputi:
Keadilan: Kafarat pembunuhan menekankan pentingnya keadilan dalam menyelesaikan kasus pembunuhan, baik bagi pelaku maupun bagi keluarga korban.
Kepedulian terhadap Keluarga Korban: Kafarat pembunuhan juga mempertimbangkan kebutuhan dan kepentingan keluarga korban untuk mendapatkan keadilan dan kompensasi atas kehilangan yang mereka alami.
Pemberian Pelajaran dan Pembelajaran: Melalui kafarat pembunuhan, Islam mengajarkan nilai-nilai pengampunan, pertobatan, dan pembelajaran bagi pelaku agar tidak mengulangi kesalahan yang sama di masa mendatang.
Penerapan Kafarat Pembunuhan
Penerapan kafarat pembunuhan harus dilakukan sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan dalam hukum Islam. Beberapa langkah yang umumnya dilakukan dalam penerapan kafarat pembunuhan antara lain:
Penentuan Nilai Kafarat: Otoritas agama atau lembaga yang berwenang menentukan jumlah kafarat yang harus dibayar oleh pelaku pembunuhan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Pembayaran Kafarat: Setelah nilai kafarat ditentukan, pelaku pembunuhan diwajibkan untuk membayar kompensasi tersebut kepada keluarga korban atau lembaga yang ditunjuk.
Penerimaan Kafarat: Keluarga korban atau pihak yang berwenang menerima kafarat harus menerima pembayaran tersebut sebagai bentuk penyelesaian dan penebusan atas perbuatan pembunuhan yang telah dilakukan.
Makna
Kafarat pembunuhan memiliki makna dan signifikansi yang dalam dalam ajaran Islam. Selain sebagai bentuk kompensasi dan penebusan atas kesalahan yang telah dilakukan, kafarat pembunuhan juga merupakan bagian dari proses keadilan, pengampunan, dan pemulihan dalam masyarakat. Dengan memahami konsep ini, umat Muslim diharapkan untuk menghargai kehidupan, menghindari kekerasan, dan menjaga kedamaian dalam masyarakat.
Kesimpulan
Kafarat pembunuhan adalah konsep yang penting dalam hukum Islam yang mengatur pembayaran kompensasi atau penebusan bagi seseorang yang melakukan pembunuhan secara tidak sengaja atau dalam keadaan darurat tertentu. Melalui penerapan kafarat pembunuhan, Islam mengajarkan nilai-nilai keadilan, pengampunan, dan pemulihan dalam menjaga kedamaian dan harmoni dalam masyarakat. Oleh karena itu, pemahaman yang mendalam tentang konsep kafarat pembunuhan sangat penting bagi umat Muslim dalam menjalani kehidupan beragama mereka.
BERITA31/03/2024 | Ilham maarif
Perbedaan Kafarat Ila dengan Kafarat Zihar
Kafarat Ila’ dan Kafarat Zihar adalah dua konsep penting dalam hukum Islam yang berkaitan dengan kewajiban untuk melakukan penebusan atau kompensasi atas suatu tindakan yang dilarang oleh agama. Dalam Al-Quran dan Hadis, kedua konsep ini dijelaskan dengan rinci untuk memberikan pedoman bagi umat Islam dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Kafarat Ila’ adalah kafarat yang dilakukan apabila seorang suami melakukan sumpah dalam kurun waktu tertentu tidak menggauli istrinya. Salah satu hadis yang menggambarkan konsep Kafarat Ila’ adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. Dalam hadis ini, Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang membuat sumpah dan kemudian melihat bahwa yang lain itu lebih baik, maka hendaklah ia melakukan kafarat untuk sumpahnya dan lakukan apa yang lebih baik.” Hadis ini menunjukkan pentingnya kafarat sebagai bentuk tanggung jawab atas pembatalan sumpah yang telah dibuat.
Ayat Al-Quran yang berkaitan dengan Kafarat Ila’ dapat ditemukan dalam Surah Al-Maidah ayat 89, yang berbunyi, “Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak disengaja (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja. Maka, kafaratnya (denda akibat melanggar sumpah) ialah memberi makan sepuluh orang miskin dari makanan yang (biasa) kamu berikan kepada keluargamu, memberi pakaian kepada mereka, atau memerdekakan seorang hamba sahaya. Siapa yang tidak mampu melakukannya, maka (kafaratnya) berpuasa tiga hari. Itulah kafarat sumpah-sumpahmu apabila kamu bersumpah (dan kamu melanggarnya). Jagalah sumpah-sumpahmu! Demikianlah Allah menjelaskan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya).”
Sementara itu, kafarat zihar adalah bentuk atau jenis penebusan dosa oleh suami yang menyamakan istrinya dengan ibunya. Perbuatan tersebut termasuk dosa karena islam mengharamkan seorang suami untuk menyamakan istrinya dengan ibu kandungnya sendiri. Larangan tersebut bertujuan untuk menghargai keberadaan seorang istri dengan tidak membandingkannya dengan ibu kandung sendiri. Ayat Al-Quran yang membahas mengenai Kafarat Zihar dapat ditemukan dalam Surah Al-Mujadilah ayat 3-4 yang berbunyi “Dan mereka yang menzihar istrinya, kemudian menarik kembali apa yang telah mereka ucapkan, maka (mereka diwajibkan) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami istri itu bercampur. Demikianlah yang diajarkan kepadamu, dan Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan. Maka barangsiapa tidak dapat (memerdekakan hamba sahaya), maka (dia wajib) berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. Tetapi barangsiapa tidak mampu, maka (wajib) memberi makan enam puluh orang miskin. Demikianlah agar kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Itulah hukum-hukum Allah, dan bagi orang-orang yang mengingkarinya akan mendapat azab yang sangat pedih.”
Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa Kafarat Ila’ dan Kafarat Zihar adalah dua konsep penting dalam hukum Islam yang memberikan pedoman tentang tanggung jawab dan penebusan atas perbuatan yang dilarang oleh agama. Kedua konsep ini memiliki dasar yang kuat dalam Al-Quran dan Hadis sebagai sumber hukum utama dalam agama Islam. Sebagai umat Muslim, penting untuk memahami dan mengamalkan kedua konsep ini dalam kehidupan sehari-hari untuk menjaga hubungan yang harmonis dengan sesama dan memperoleh ridha Allah SWT.
BERITA31/03/2024 | Adhitya Alfath Alfadholi
Kisah Hikmah: Kebaikan dalam Membayar Fidyah
Di sebuah desa kecil yang terletak di antara perbukitan, tinggal seorang pria bernama Ali. Ali dikenal di seluruh desa karena kebaikan dan kemurahan hatinya. Meskipun menghadapi kesulitan sendiri, ia selalu menemukan cara untuk membantu orang-orang yang membutuhkan.
Suatu tahun, selama bulan suci Ramadan, Ali jatuh sakit. Penyakit Ali membuatnya lemah, tidak mampu berpuasa dan memenuhi kewajiban agamanya seperti yang pernah dilakukannya sebelumnya. Hal ini sangat menyedihkan bagi Ali, karena menjalankan puasa Ramadan selalu menjadi tradisi yang ia hargai.
Saat hari-hari berlalu, kesehatan Ali tidak membaik. Dengan hati yang berat, ia menyadari bahwa ia tidak akan bisa berpuasa untuk sisa Ramadan. Namun, Ali tidak putus asa, ia beralih pikiran untuk membantu mereka yang kurang beruntung.
Mengetahui bahwa ia tidak dapat berpuasa, Ali memutuskan untuk membayar fidyah—sebagai bentuk kompensasi untuk puasa yang tidak dapat dilaksanakan—untuk membantu orang-orang yang tidak mampu membeli makanan bagi diri mereka sendiri dan keluarga mereka. Dengan sedikit tabungannya, Ali membeli beras, tepung, dan bahan makanan lainnya, dan membagikannya kepada keluarga-keluarga yang membutuhkan di desa.
Kabar tentang tindakan Ali yang penuh kebaikan segera menyebar di seluruh desa. Banyak yang terharu oleh ketulusan dan kepedulian hatinya, terutama pada saat ia sendiri mengalami kesulitan. Orang-orang memuji Ali karena dedikasinya yang teguh untuk membantu orang lain, meskipun ia sendiri sedang mengalami kesulitan.
Tindakan Ali membayar fidyah tidak hanya memberikan makanan bagi mereka yang membutuhkan, tetapi juga menjadi pengingat kuat tentang pentingnya belas kasih dan solidaritas dalam masyarakat. Tindakannya menginspirasi orang lain untuk merenungkan kemampuan mereka sendiri untuk memberi dan mendukung satu sama lain dalam waktu kesulitan.
Pada akhirnya, penyakit Ali mungkin telah mencegahnya untuk berpuasa, tetapi itu tidak mengurangi semangatnya untuk memberi. Melalui kebaikannya, ia mencontohkan esensi sejati Ramadan—empati, sedekah, dan kasih sayang kepada sesama. Dan meskipun penyakitnya akhirnya sembuh, warisan kebaikan Ali terus bersinar terang di hati semua orang yang mengenalnya.
Penulis: Yoga Pratama
================
#HartaBerkahJiwaSakinah #PengelolaZakatTerbaikTerpercaya #AmanahProfesionalTransparan #TerimakasihMuzakiDanMustahiq ================ Mari tunaikan zakat, infaq, sedekah, fidyah, kafarat dan qurban transfer ke rekening: BSI : 4441111121 BRI : 153101000005307 an. Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Yogyakarta Atau melalui Kantor Digital BAZNAS Kota Yogyakarta https://kotayogya.baznas.go.id/bayarzakat
Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id
?
BERITA31/03/2024 | Yoga Pratama
Intensi Muzakki Dalam Membayar Zakat Melalui lembaga amil zakat resmi
Intensi dalam membayar zakat adalah faktor penting yang mempengaruhi keberkahan dalam amal ibadah. Zakat merupakan kewajiban yang ditetapkan oleh agama Islam bagi mereka yang memiliki kelebihan harta tertentu. Membayar zakat bukan hanya sekadar menunaikan kewajiban, tetapi juga menunjukkan kepedulian dan tanggung jawab sosial terhadap sesama yang kurang mampu.
Sebagai seorang muzakki (pemberi zakat), memiliki niat yang tulus dan ikhlas dalam membayar zakat merupakan aspek yang sangat penting. Intensi yang benar akan meningkatkan nilai spiritual dari amal tersebut, serta memastikan bahwa zakat yang diberikan tidak hanya sekedar formalitas, tetapi juga menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan membantu sesama manusia.
Dalam Islam, niat yang tulus dalam melakukan ibadah merupakan syarat yang penting untuk memperoleh keberkahan dan pahala yang diharapkan. Oleh karena itu, seorang muzakki harus memastikan bahwa niatnya dalam membayar zakat adalah karena Allah SWT semata, dengan tujuan untuk menjalankan perintah-Nya dan membantu orang-orang yang membutuhkan.
Selain itu, memiliki niat yang benar dalam membayar zakat juga memastikan bahwa harta yang dikeluarkan tidak bercampur dengan riya’ (pamer) atau sum’ah (mendengarkan pujian dari orang lain). Dengan demikian, membayar zakat dengan niat yang tulus akan menjaga kesucian amal tersebut dan memastikan bahwa pahalanya diterima di sisi Allah SWT.
Dalam menjalankan kewajiban zakat, penting bagi seorang muzakki untuk selalu mengintrospeksi niatnya dan memperbaiki keikhlasan dalam beramal. Dengan demikian, setiap harta yang dikeluarkan untuk membayar zakat akan menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan mendapatkan keberkahan dalam kehidupan ini serta kehidupan akhirat.
Intensi seorang muzakki dalam membayar zakat melalui lembaga amil zakat resmi juga sangat penting dalam konteks ketaatan agama dan keberkahan amal. Berikut beberapa hal yang perlu dipertimbangkan terkait dengan intensi tersebut:
Ketaatan Terhadap Amanah: Seorang muzakki yang memilih membayar zakat melalui lembaga amil zakat resmi menunjukkan ketaatan terhadap amanah yang diberikan oleh agama Islam. Lembaga amil zakat resmi biasanya diatur oleh otoritas Islam yang terpercaya dan diawasi secara ketat, sehingga membayar zakat melalui lembaga tersebut menunjukkan kepercayaan terhadap sistem yang telah ditetapkan dalam menyalurkan zakat.
Efisiensi dan Efektivitas: Membayar zakat melalui lembaga amil zakat resmi memastikan bahwa zakat yang dikeluarkan akan disalurkan dengan efisiensi dan efektivitas yang maksimal. Lembaga amil zakat resmi memiliki infrastruktur dan mekanisme yang terorganisir dengan baik untuk menyalurkan zakat kepada yang berhak menerima, sehingga zakat dapat mencapai sasaran dengan lebih baik.
Keberkahan dalam Beramal: Intensi muzakki dalam membayar zakat melalui lembaga amil zakat resmi seharusnya juga mencakup niat untuk mencari keridhaan Allah SWT. Dengan memberikan zakat melalui lembaga yang dipercayai dan terpercaya, seorang muzakki berharap agar amalnya diterima di sisi Allah SWT dan mendapatkan keberkahan dalam hidupnya.
Penghindaran dari Potensi Penyalahgunaan: Membayar zakat melalui lembaga amil zakat resmi juga membantu muzakki untuk menghindari potensi penyalahgunaan atau kesalahan dalam penyaluran zakat. Lembaga amil zakat resmi biasanya memiliki mekanisme pengawasan dan akuntabilitas yang ketat, sehingga dapat mengurangi risiko penyalahgunaan dana zakat.
Dengan demikian, intensi muzakki dalam membayar zakat melalui lembaga amil zakat resmi haruslah mencakup niat untuk menunaikan kewajiban agama dengan cara yang terbaik dan paling bermanfaat bagi sesama, serta mencari keridhaan Allah SWT.
#HartaBerkahJiwaSakinah#PengelolaZakatTerbaikTerpercaya#AmanahProfesionalTransparan#TerimakasihMuzakiDanMustahiq================*Tunaikan zakat melalui BAZNAS Kota Yogyakarta, klik link: https://kotayogya.baznas.go.id/bayarzakat*Kunjungi: website:https://baznas.jogjakota.go.id
BERITA31/03/2024 | Suryanti
Ketentuan Cara Penghitungan Zakat Mal
Zakat mal adalah harta yang keluarkan oleh muzakki (orang yang menunaikan zakat) melalui amil zakat resmi untuk diserahkan kepada mustahik (orang yang berhak menerima zakat). Zakat mal wajib ditunaikan seorang muslim sesuai dengan nisab dan haulnya. Nisab biasanya ditetapkan berdasarkan nilai emas atau perak yang berlaku di wilayah masing-masing. Tidak ada batasan waktu dalam mengeluarkan zakat mal, sehingga dapat dikeluarkan sepanjang tahun dengan ketentuan syarat sudah terpenuhi.
Menghitung zakat mal sangat penting untuk dipahami, karena dengan mengeluarkan zakat mal selain membersihkan harta yang dimiliki juga dapat membantu orang-orang yang sangat membutuhkan. Sebagaimana dijelaskan perintah menunaikan zakat dalam Al-Qur’an Surah At-Taubah:103: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka untuk membersihkan dan mensucikan mereka dengannya. Dan berdoalah untuk mereka, sesungguhnya doamu mendatangkan ketentraman bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui”.
Cara Penghitungan Zakat Mal
Sesuai dengan Peraturan Menteri Agama Nomor 52 Tahun 2014 tentang syarat dan tata cara penghitungan zakat mal, sebagai berikut:
Zakat Emas wajib dikenakan atas kepemilikan emas yang telah mencapai nisab 85 gram emas dan nisab perak 624 gram. Kadar zakat emas yang harus dibayar sebesar 2,5%
Zakat Uang dan Surat Berharga wajib dikenakan atas kepemilikan yang telah mencapai 85 gram emas dan kadar zakat yang harus dikeluarkan 2,5%. Cara menghitung zakat uang yaitu jumlah uang tunai yang dimiliki dalam bentuk tabungan, deposito yang disimpan di tempat lain.
Zakat Perniagaan, nisabnya senilai emas dan kadar zakatnya 2,5%
Zakat Peternakan dikenakan pada hewan ternak yang digembalakan jika hewan ternak dipelihara di dalam kandang, maka termasuk sebagai zakat perniagaan. a).Kambing nisabnya 40-120 ekor. Kadar 1 ekor kambing (setiap bertambah 100 ekor, maka kadar zakatnya bertambah 1 ekor kambing yang berumur 2 tahun) b).Sapi/Kerbau nisabnya 30-90 ekor. Kadar 1 ekor sapi/kerbau (setiap bertambah 30 ekor, maka kadarnya bertambah 1 ekor sapi/kerbau).
Zakat Pertanian yaitu yang memproduksi makanan pokok seperti: beras, jagung, sagu, gandum, dan lainnya. Zakat ini dikeluarkan setiap selesai panen tidak harus setiap setiap tahun. Nisabnya 750 gram kadar zakatnya 10%, namun jika ada biaya pengairan 5%.
Zakat Perikanan (Hasil Laut), nisabnya sama dengan nilai hasil bumi (pertanian, perkebunan, dan kehutanan) yaitu senilai 85 gram emas dan kadar zakatnya sebesar 2,5%.
Zakat Pendapatan dan Jasa, nisab zakatnya senilai 524 kg beras dan kadar zakatnya 2,5%.
Zakat Perindustrian, nisab atas usaha yang bergerak dalam bidang produksi senilai 85 gram dan usaha yang bergerak dalam bidang jasa senilai 653 gabah. Kadar zakat ini 2,5%.
Zakat Harta Temuan (Rikaz) yaitu harta temuan yang kadar zakatnya 20% dan Zakat Rikaz tidak disyariatkan adanya nisab.
Pastikan dalam menghitung dan membayar zakat sudah benar dan sesuai dengan aturan agama dan hukum setempat. Setelah menghitung jumlah zakat yang harus dibayar, dapat membayarnya kepada orang yang berhak menerima zakat atau dapat membayar melalui Lembaga Amil Zakat yang terpercaya. Selain itu, perlu juga diperhatikan waktu pembayaran zakat mal yang harus dibayarkan setelah satu tahun kalender Hijriyah telah berlalu sejak memiliki harta tersebut.
BERITA31/03/2024 | Asmara
Zakat Mal: Niat, Rukun, Syarat dan Macam-Macamnya
Zakat Mal berasal dari kata “maal” artinya harta. Zakat mal adalah zakat harta yang wajib ditunaikan bagi pemilik harta setiap satu tahun sekali. Zakat Mal wajib dikeluarkan jika harta yang dimiliki telah mencapai nisab (kadar minimum untuk berzakat) dan haul (satu tahun). Tujuan dikeluarkannya zakat mal untuk membersihkan harta yang dimiliki dengan memberikannya kepada orang yang berhak menerimanya sesuai dengan ketentuan syariat. Oleh karena itu, bahwa zakat mal yang dikenakan atas segala jenis harta dalam memperolehnya tidak bertentangan dengan ketentuan agama.
Niat Bayar Zakat Mal
Untuk menunaikan zakat mal harus membaca niat zakat mal terlebih dahulu. Niat zakat mal adalah ucapan hati yang menunjukkan kesungguhan untuk mengeluarkan zakat. Niat zakat mal harus dilafalkan sebelum dan setelah mengeluarkan zakat. Zakat mal dapat dibayarkan secara langsung atau secara online. Adapun niat membayar zakat mal sebagai berikut:
Artinya: “Saya berniat mengeluarkan zakat berupa emas/perak/harta dari diri sendiri karena Alla ta’ala”.
Rukun Zakat Mal
Niat
Ada pemberi zakat (muzakki)
Ada penerima zakat (mustahiq)
Ada Harta yang dizakatkan
Syarat Wajib Zakat Mal
Syarat yang terkena kewajiban zakat mal sebagai berikut:
Beragama Islam
Merdeka
Harta yang dimiliki secara sempurna
Harta yang diperoleh secara halal
Hartanya sudah mencapai nisab (batas minimal)
Hartanya sudah mencapai haul (sudah satu tahun dimiliki)
Melebihi kebutuhan pokok
Bebas dari hutang
Macam- Macam Zakat Mal
Menurut UU No. 23 Tahun 2011, zakat mal meliputi:
Zakat emas, perak, dan logam mulia
Zakat uang dan surat berharga
Zakat perniagaan
Zakat pertanian, perkebunan, dan kehutanan.
Zakat perternakan dan perikanan
Zakat pertambangan
Zakat perindustrian
Zakat pendapatan dan jasa
Zakat Rikaz (harta temuan)
Dengan memahami dan mematuhi rukun dan syarat-syarat tersebut, umat Muslim dapat melaksanakan kewajiban Zakat Mal dengan benar dan sesuai dengan tuntunan syariah. Penting bagi umat Muslim untuk mendapatkan pemahaman yang baik mengenai zakat mal agar dapat melaksanakannya dengan penuh keyakinan dan ketundukan kepada Allah SWT.
BERITA31/03/2024 | Asmara
Permasalahan Kesehatan & Zakat.? : adakah kaitannya.?
ini soluinya...
Zakat sebagai Instrumen Pengentasan Permasalahan Kesehatan Melalui Meningkatkan Akses Terhadap Layanan Kesehatan
Kesehatan adalah hak asasi manusia yang mendasar. Namun, di banyak negara akses terhadap layanan kesehatan masih menjadi tantangan serius bagi sebagian besar populasi. Masalah kesehatan seperti penyakit menular, kekurangan gizi, dan ketidakmampuan untuk mengakses perawatan medis berkualitas tetap menghantui banyak komunitas masyarakat. Dalam mengatasi permasalahan kesehatan ini, zakat salah satu pilar utama dari ajaran Islam dapat memainkan peran yang signifikan. Zakat tidak hanya berfungsi sebagai kewajiban keagamaan, tetapi juga sebagai instrumen sosial untuk mengentaskan kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan umat.
Prinsip dan Tujuan Zakat
Zakat adalah kewajiban bagi umat Islam yang memiliki kemampuan untuk menyumbangkan sebagian dari kekayaan mereka kepada mereka yang membutuhkan. Praktik zakat bertujuan untuk mengurangi disparitas ekonomi, mendorong keadilan sosial, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan. Dalam konteks permasalahan kesehatan, zakat dapat menjadi sumber daya yang signifikan untuk meningkatkan akses terhadap layanan kesehatan bagi individu dan komunitas masyarakat yang kurang mampu.
Meningkatkan Akses Terhadap Layanan Kesehatan Melalui Zakat
Pembangunan Infrastruktur Kesehatan : Zakat dapat dialokasikan untuk membangun dan memperluas fasilitas kesehatan, termasuk rumah sakit, puskesmas, klinik, dan pusat perawatan primer di daerah-daerah yang kurang berkembang. Dengan demikian, akses terhadap perawatan kesehatan akan diperluas ke wilayah-wilayah yang sebelumnya terpinggirkan.
Subsidi Biaya Kesehatan : Melalui pengumpulan dan distribusi zakat, biaya pengobatan dan perawatan medis yang mahal dapat disubsidi bagi individu dan keluarga yang tidak mampu. Hal ini akan mengurangi hambatan finansial yang sering menjadi penghalang utama dalam mengakses layanan kesehatan.
Program Pencegahan dan Edukasi : Zakat juga dapat digunakan untuk mendukung program-program pencegahan penyakit dan kampanye edukasi kesehatan di masyarakat. Ini termasuk program vaksinasi, pendidikan gizi, dan promosi gaya hidup sehat, yang bertujuan untuk mengurangi angka kejadian penyakit dan meningkatkan kesehatan masyarakat secara keseluruhan.
Pemberdayaan Komunitas : Zakat tidak hanya tentang memberikan bantuan langsung, tetapi juga tentang membangun kapasitas komunitas masyarakat untuk mengatasi masalah kesehatan mereka sendiri. Melalui pelatihan keterampilan, pendidikan kesehatan, dan dukungan untuk inisiatif lokal, zakat dapat membantu masyarakat untuk menjadi lebih mandiri dalam menjaga kesehatan mereka sendiri.
Zakat memiliki potensi besar sebagai instrumen untuk mengentaskan permasalahan kesehatan dengan meningkatkan akses terhadap layanan kesehatan bagi yang membutuhkan. Dengan mengalokasikan dana zakat secara efektif dan efisien, masyarakat dapat bekerja sama untuk membangun sistem kesehatan yang lebih inklusif, adil, dan berkelanjutan. Dengan demikian, zakat tidak hanya menjadi manifestasi dari ibadah keagamaan, tetapi juga sebuah sarana untuk mencapai kesejahteraan sosial dan kesehatan yang lebih baik bagi semua masyarakat.
BERITA31/03/2024 | Asmara
Hukum Zakat Fitrah Bagi Orang yang Meninggal Sebelum Sempat Membayar
Zakat fitrah adalah kewajiban bagi setiap muslim yang mampu untuk membayar zakat pada bulan Ramadan sebagai bentuk kesucian diri dan penghilangan kekurangan bagi yang berhak menerimanya. Namun, terdapat situasi di mana seseorang meninggal sebelum sempat membayar zakat fitrah. Apa hukumnya dalam Islam?
Menurut mayoritas ulama, hukum zakat fitrah bagi orang yang meninggal sebelum sempat membayar terbagi menjadi dua pendapat utama:
Wajib Dibayar oleh Ahli Waris. Sebagian ulama berpendapat bahwa zakat fitrah tetap menjadi tanggung jawab ahli waris atau keluarga yang ditinggalkan oleh orang yang meninggal tersebut. Hal ini karena zakat fitrah merupakan kewajiban yang harus dipenuhi sebelum meninggal dunia. Dalam hal ini, ahli waris atau keluarga yang bersangkutan harus membayar zakat fitrah atas nama orang yang meninggal tersebut dari harta peninggalannya.
Tidak Wajib Dibayar. Pendapat lain menyatakan bahwa zakat fitrah tidak wajib dibayar oleh ahli waris jika orang yang meninggal belum sempat membayar zakat tersebut. Pendapat ini didasarkan pada hadis yang menyatakan bahwa kewajiban zakat fitrah jatuh pada setiap orang yang hidup pada saat akhir Ramadan, sehingga orang yang meninggal sebelumnya tidak terikat dengan kewajiban ini.
Namun, ada baiknya bagi ahli waris atau keluarga yang ditinggalkan oleh orang yang meninggal untuk tetap membayar zakat fitrah atas nama orang yang telah meninggal tersebut sebagai bentuk kebaikan dan amal jariyah. Dengan demikian, mereka dapat memastikan bahwa kewajiban tersebut terpenuhi meskipun orang yang bersangkutan telah tiada.
BERITA31/03/2024 | Asmara
Seberapa Pengaruh Zakat Maal Terhadap Mustahiq.?
Meningkatkan Kesejahteraan Melalui Pengaruh Zakat Maal Terhadap Mustahiq
Zakat maal adalah salah satu kewajiban bagi umat Islam yang memiliki harta yang mencapai nisab (batas minimum). Zakat ini memiliki peran penting dalam meningkatkan kesejahteraan umat, terutama bagi mustahiq, yaitu penerima zakat yang memenuhi syarat-syarat tertentu.
Pertama-tama, zakat maal memberikan manfaat ekonomi langsung bagi mustahiq. Dengan menerima zakat, mereka dapat memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Hal ini membantu mengurangi tingkat kemiskinan dan meningkatkan taraf hidup mereka.
Zakat maal juga dapat memberikan dampak sosial dan psikologis yang positif bagi mustahiq. Dengan merasa didukung oleh komunitas dan mendapatkan bantuan dalam saat-saat sulit, mereka merasa dihargai dan termotivasi untuk terus berjuang menghadapi tantangan hidup.
Selain itu, zakat maal juga memiliki potensi untuk memberdayakan mustahiq secara ekonomi. Bantuan yang diberikan tidak hanya dalam bentuk materi, tetapi juga dapat berupa pelatihan keterampilan atau modal usaha. Hal ini membantu mustahiq untuk mandiri secara finansial dan mengurangi ketergantungan pada bantuan zakat.
Namun demikian, agar pengaruh zakat maal terhadap mustahiq dapat dirasakan secara maksimal, diperlukan manajemen zakat yang baik dan transparan. Dana zakat harus dikelola dengan efisien dan disebarluaskan kepada yang benar-benar membutuhkan, serta diawasi secara ketat agar tidak disalahgunakan.
Zakat maal memiliki pengaruh yang besar terhadap kesejahteraan mustahiq. Dengan memberikan bantuan materi, memperkuat solidaritas sosial, dan memberdayakan secara ekonomi, zakat maal mampu meningkatkan taraf hidup dan memperbaiki kondisi sosial ekonomi mustahiq. Oleh karena itu, penting bagi umat Islam untuk melaksanakan kewajiban zakat dengan sungguh-sungguh agar manfaatnya dapat dirasakan oleh yang membutuhkan.
BERITA30/03/2024 | Asmara
Bentuk Penggantian Fidyah Ramadan: Makanan atau Uang?
Dalam konteks fidyah Ramadan, salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah mengenai bentuk penggantian fidyah yang tepat. Apakah lebih baik memberikan makanan ataukah memberikan uang sebagai fidyah?
Fidyah Ramadan adalah pengganti puasa yang diberikan kepada individu yang tidak mampu berpuasa karena alasan kesehatan atau usia tua yang rentan. Dalam hal ini, fidyah dapat dianggap sebagai bentuk kompensasi atau penggantian atas ibadah puasa yang tidak dapat dilakukan. Dalam ajaran agama Islam, tidak ada ketentuan yang mengharuskan bentuk penggantian fidyah yang spesifik. Oleh karena itu, individu diberikan kebebasan untuk memilih apakah akan memberikan makanan atau uang sebagai fidyah.
Pertama-tama, mari kita bahas bentuk penggantian fidyah berupa makanan. Memberikan makanan sebagai fidyah memiliki makna simbolis yang kuat. Dengan memberikan makanan, fidyah ini secara langsung memenuhi kebutuhan nutrisi bagi mereka yang membutuhkan. Hal ini memungkinkan individu yang tidak berpuasa merasakan pengalaman nyata dari ibadah puasa yang mereka lewatkan. Bentuk fidyah berupa makanan juga dapat memperkuat ikatan sosial dengan komunitas yang lebih luas, karena melibatkan interaksi langsung antara individu yang memberikan fidyah dan mereka yang menerimanya.
Namun, ada juga pertimbangan praktis yang perlu diperhatikan dalam memberikan makanan sebagai fidyah. Misalnya, apakah seseorang memiliki akses mudah ke makanan yang sesuai atau apakah makanan tersebut dapat dengan mudah dikirim atau disalurkan kepada penerima fidyah. Selain itu, dalam beberapa kasus, biaya dan logistik terkait dengan memberikan makanan sebagai fidyah dapat menjadi lebih rumit dibandingkan memberikan uang.
Di sisi lain, memberikan uang sebagai fidyah memiliki kelebihan dalam hal fleksibilitas. Dengan memberikan uang, penerima fidyah dapat memilih dan membeli makanan sesuai dengan kebutuhan mereka sendiri. Uang juga memungkinkan mereka untuk memperoleh nutrisi yang diperlukan secara lebih luas, termasuk memenuhi kebutuhan non-makanan. Selain itu, memberikan uang sebagai fidyah memudahkan individu yang memberikan fidyah dalam hal logistik dan pengiriman, terutama jika penerima fidyah berada di lokasi yang jauh atau sulit dijangkau.
Namun, ada juga kekhawatiran terkait memberikan uang sebagai fidyah. Misalnya, ada kemungkinan bahwa uang yang diberikan tidak digunakan dengan benar oleh penerima fidyah. Oleh karena itu, penting untuk memastikan bahwa uang fidyah diberikan kepada lembaga atau organisasi yang terpercaya yang akan menyalurkannya kepada mereka yang membutuhkan.
Dalam memilih bentuk penggantian fidyah yang tepat, penting untuk mempertimbangkan kondisi dan kebutuhan penerima fidyah, serta pertimbangan logistik dan praktis dari pemberi fidyah. Terkadang, kombinasi antara memberikan makanan dan uang sebagai fidyah dapat menjadi solusi yang baik. Misalnya, memberikan sebagian fidyah dalam bentuk makanan dan sebagian lagi dalam bentuk uang.
Selain itu, penting untuk mengingat tujuan dari fidyah Ramadan, yaitu untuk memenuhi kewajiban agama dan memberdayakan mereka yang membutuhkan. Baik memberikan makanan maupun uang sebagai fidyah memiliki nilai yang sama pentingnya dalam mencapai tujuan ini. Yang terpenting adalah memberikan fidyah dengan niat yang tulus dan ikhlas serta memastikan bahwa bentuk penggantian fidyah yang dipilih sesuai dengan keadaan dan kemampuan individu yang memberikannya.
Secara keseluruhan, pilihan antara memberikan makanan atau uang sebagai bentuk penggantian fidyah Ramadan adalah keputusan yang harus dipertimbangkan dengan baik. Keduanya memiliki kelebihan dan pertimbangan praktis yang berbeda. Pilihan tergantung pada keadaan individu yang memberikan fidyah dan kebutuhan penerima fidyah. Yang terpenting, tujuan fidyah Ramadan harus tetap dijaga, yaitu memenuhi kewajiban agama dan memberikan manfaat kepada mereka yang membutuhkan. Dengan niat yang tulus dan ikhlas, baik memberikan makanan maupun uang sebagai fidyah dapat menjadi bentuk penggantian yang sah dan bermanfaat.
Penulis: Yoga Pratama
================
#HartaBerkahJiwaSakinah #PengelolaZakatTerbaikTerpercaya #AmanahProfesionalTransparan #TerimakasihMuzakiDanMustahiq ================ Mari tunaikan zakat, infaq, sedekah, fidyah, kafarat dan qurban transfer ke rekening: BSI : 4441111121 BRI : 153101000005307 an. Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Yogyakarta Atau melalui Kantor Digital BAZNAS Kota Yogyakarta https://kotayogya.baznas.go.id/bayarzakat
Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id
BERITA30/03/2024 | Yoga Pratama
Istilah Imsak di Indonesia: Kajian Living Sunah
Salah satu tradisi khas masyarakat Indonesia di setiap bulan Ramadhan adalah imsak.
Di setiap jadwal sholat di bulan Ramadhan, jadwal imsak selalu disertakan. Sampai namanya pun berubah, bukan lagi jadwal sholat melainkan jadwal imsakiyah.
Istilah imsak dalam pemahaman masyarakat kita diartikan sebagai "menghentikan" segala kegiatan yang dilarang saat puasa, baik makan, minum, dan yang lainnya sebagai persiapan memulai puasa.
Penghentian disini bukan wajib, karena kewajiban menghentikan makan dan minum dimulai dimulai dari waktu Subuh.
Jika ditarik ke belakang kepada zaman nabi, besar kemungkinan tradisi baik ini diserap dari sunah nabi yang meninggalkan hidangan sahur sekitar 50 ayat sebelum Subuh.
Sejenak kita menilik bagaimana para ushuli (begawan fiqih) merumuskan istilah beserta pembentukannya.
Rumusan yang digunakan adalah rumusan kitab Al-Waroqot beserta syarah Al-Mahalli dan Hasyiah An-Nafahat. Selanjutnya rumusan ini membantu kita memahami penggunaan istilah imsak.
Imsak sebagai sebuah istilah bisa kita kategorikan sebagai haqiqah 'urfiyyah, tepatnya urfiyah 'ammah. ????? ????? ????
Haqiqoh menurut salah satu definisinya, yaitu kata yang digunakan sesuai makna dan maksud si penutur ( mukhotibah).
?? ?????? ???? ????? ???? ?? ????????
Berdasar ta'rif ini, hakikat suatu lafadz ditimbang dengan makna yang dikehendaki si penutur, bukan makna lugoh atau kebahasaan.
Disebut urfiyyah karena penggunaan lafadz tersebut telah berjalan secara masif di masyarakat dalam waktu yang lama.
'Ammah berarti urf atau adat tersebut tidak dikenal siapa yang memulai dan memunculkannya.
Dengan rumusan yang sama, di mana makna penutur menjadi titik tolak sekaligus barometer hakikat suatu kata, maka sholat, shoum(puasa), zakat di dalam fiqih, fi'il-fa'il, mubtada-khobar di dalam nahwu, semuanya adalah hakekat sekaligus istilah.
Bedanya, jika sholat, shoum (puasa), dan zakat adalah haqiqoh syar'iyyah, sedangkan fi'il-fa'il, mubtada-khobar adalah haqiqoh urfiyyah khossoh.
Prof. Syarif Hatim Al-Auni memiliki penjelasan yang baik ihwal istilah. Menurutnya, ada dua penanda suatu kata telah menjadi istilah;
Pertama, memiliki keserasian antara makna baru dengan makna asal bahasa. Jika makna baru tercerabut sama sekali dari makna asalnya tidak dapat disebut sebagai suatu istilah.
Kedua, suatu kata sah disebut istilah ketika sudah banyak dituturkan, baik secara lisan maupun tulisan.
Saking gencarnya digunakan, si penutur tidak lagi ingat makna asal, yang hadir dalam ingatan hanya makna baru. Dalam terminologi ushul fiqih biasa disebut naql. ?? ??? ??? ????? ????????? ?? ?????? ??????? ??? ????? ????? ?? ???? ????? ???? ??????
Mengikuti dua kriteria di atas, dengan mudah disimpulkan kalau imsak telah memenuhi keduanya, sehingga layak menjadi sebuah istilah.
Sebagai sebuah istilah, pemakaian imsak di masyarakat kita cukup gencar dan digunakan secara berulang dalam berbagai forum percakapan.
_Wallohu a'lam_
Sumber: Tulisan Aa Deni
Penyunting: Yoga Pratama
================
#HartaBerkahJiwaSakinah #PengelolaZakatTerbaikTerpercaya #AmanahProfesionalTransparan #TerimakasihMuzakiDanMustahiq ================ Mari tunaikan zakat, infaq, sedekah, fidyah, kafarat dan qurban transfer ke rekening: BSI : 4441111121 BRI : 153101000005307 an. Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Yogyakarta Atau melalui Kantor Digital BAZNAS Kota Yogyakarta https://kotayogya.baznas.go.id/bayarzakat
Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id
_________________________
BERITA30/03/2024 | Yoga Pratama
Implementasi Infak: Mengamalkan Ajaran Mulia dalam Kehidupan Sehari-hari
Infak sebagai salah satu ajaran utama dalam Islam, bukan hanya sekadar konsep teoritis, tetapi juga membutuhkan implementasi nyata dalam kehidupan sehari-hari. Implementasi infak membutuhkan pemahaman yang mendalam tentang konsepnya serta kesediaan untuk mengaplikasikannya dalam tindakan nyata. Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi berbagai cara implementasi infak dalam kehidupan sehari-hari serta manfaat yang dapat diperoleh melalui praktik tersebut.
1. Infak dalam Bentuk Uang Tunai
Salah satu cara paling umum untuk mengimplementasikan infak adalah dengan memberikan sebagian harta dalam bentuk uang tunai kepada mereka yang membutuhkan. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan sedekah kepada fakir miskin, yatim piatu, atau untuk berbagai program sosial yang bertujuan membantu orang-orang yang kurang mampu.
2. Infak dalam Bentuk Barang atau Makanan
Infak tidak selalu harus berbentuk uang tunai. Anda juga dapat mengimplementasikannya dengan memberikan barang-barang yang tidak terpakai atau memberikan makanan kepada orang yang kelaparan. Hal ini bisa dilakukan dengan menyumbangkan pakaian bekas yang masih layak pakai, peralatan rumah tangga, atau menggelar acara pemberian makanan gratis untuk mereka yang membutuhkan.
3. Infak dalam Bentuk Bantuan Jasa atau Tenaga
Selain memberikan harta atau barang, infak juga dapat diimplementasikan melalui bantuan jasa atau tenaga. Anda dapat memberikan bantuan dalam bentuk menyediakan waktu atau keahlian untuk membantu orang-orang dalam memperbaiki rumah, memberikan pelatihan keterampilan, atau bahkan menjadi relawan di berbagai lembaga sosial.
Manfaat Implementasi Infak
Implementasi infak dalam kehidupan sehari-hari tidak hanya memberikan manfaat bagi orang-orang yang menerimanya, tetapi juga bagi diri kita sendiri. Berikut adalah beberapa manfaat yang dapat diperoleh melalui praktik infak:
1. Mendapatkan Pahala dan Berkah
Sebagaimana yang diajarkan dalam ajaran Islam, setiap infak yang diberikan akan mendapatkan pahala yang berlipat ganda dari Allah SWT. Dengan mengimplementasikan infak dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat memperoleh pahala dan berkah dari-Nya.
2. Menyucikan Jiwa
Praktik infak juga membantu menyucikan jiwa dari sifat keserakahan dan kecintaan terhadap harta dunia. Dengan memberikan sebagian harta kepada orang lain, kita dapat melatih diri untuk menjadi lebih dermawan dan peduli terhadap sesama.
3. Meningkatkan Kesejahteraan Sosial
Dengan mengimplementasikan infak dalam berbagai bentuk, kita turut berkontribusi dalam meningkatkan kesejahteraan sosial dalam masyarakat. Infak membantu mengurangi kesenjangan sosial dan memberikan bantuan kepada mereka yang membutuhkan, sehingga menciptakan masyarakat yang lebih adil dan sejahtera.
Kesimpulan
Implementasi infak dalam kehidupan sehari-hari merupakan wujud nyata dari kepatuhan terhadap ajaran Islam. Melalui praktik infak, kita tidak hanya memperoleh pahala dan berkah dari Allah SWT, tetapi juga turut berkontribusi dalam meningkatkan kesejahteraan sosial dan spiritual dalam masyarakat. Oleh karena itu, mari bersama-sama menjadikan infak sebagai bagian yang integral dalam kehidupan sehari-hari, sebagai bentuk cinta kasih terhadap sesama dan ibadah kepada Allah SWT.
BERITA30/03/2024 | Ilmi
Hukum Infaq di Bulan Ramadan: Meningkatkan Kebaikan dan Mendapatkan Pahala Berlipat
Bulan Ramadan adalah bulan yang penuh berkah dalam agama Islam. Selama bulan ini, umat Muslim diwajibkan untuk berpuasa sebagai salah satu rukun Islam dan juga merupakan bulan di mana pahala amal kebaikan berlipat ganda. Di tengah keistimewaan bulan Ramadan ini, hukum infaq menjadi lebih penting dan ditekankan sebagai bagian dari ibadah yang dianjurkan.
Dalam Islam, infaq di bulan Ramadan memiliki kedudukan yang istimewa dan pahalanya lebih besar dibandingkan dengan infaq di bulan-bulan lainnya. Rasulullah SAW bersabda, “Seorang yang memberi makan berbuka kepada orang yang berpuasa, maka baginya pahala yang sama dengan orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa sedikit pun.” (HR. Tirmidzi)
Infaq di bulan Ramadan juga dianjurkan sebagai cara untuk membantu mereka yang kurang mampu menjalankan ibadah puasa dengan layak. Bantuan infaq dapat digunakan untuk memberikan makanan kepada mereka yang membutuhkan, memberikan bantuan keuangan kepada keluarga yang kurang mampu, atau mendukung program-program amal yang bertujuan untuk membantu mereka yang membutuhkan.
Selain itu, infaq di bulan Ramadan juga dapat digunakan untuk membayar zakat fitrah. Zakat fitrah adalah zakat yang wajib dibayar oleh setiap individu Muslim sebagai bentuk pembayaran atas kesalahan dan kekurangan selama menjalankan ibadah puasa Ramadan. Melalui pembayaran zakat fitrah, umat Muslim tidak hanya membersihkan harta mereka, tetapi juga membantu mereka yang membutuhkan dalam merayakan Idul Fitri dengan layak.
Namun, penting untuk diingat bahwa infaq di bulan Ramadan harus dilakukan dengan niat yang tulus dan ikhlas, serta sesuai dengan tuntunan syariat Islam. Harta yang digunakan untuk infaq haruslah bersih, tidak berasal dari sumber yang haram atau mencurigakan. Selain itu, infaq juga harus diberikan kepada mereka yang membutuhkan secara langsung atau melalui lembaga amal yang terpercaya.
Dengan demikian, hukum infaq di bulan Ramadan adalah sangat dianjurkan dan merupakan bagian integral dari ibadah selama bulan yang penuh berkah ini. Melalui infaq, umat Muslim dapat membantu mereka yang membutuhkan, membersihkan harta mereka, dan mendapatkan pahala yang besar di sisi Allah SWT. Oleh karena itu, marilah kita manfaatkan kesempatan berharga ini untuk berbagi kebaikan dan meningkatkan derajat kebaikan kita di mata-Nya.
BERITA30/03/2024 | Anisa
Infak di Waktu Senggang: Kebaikan Tanpa Batas Waktu
Dalam hiruk pikuk kehidupan modern, seringkali kita terjebak dalam rutinitas yang tak henti-hentinya, membuat kita lupa pada nilai-nilai kebaikan yang dapat dilakukan setiap saat, termasuk infak di waktu senggang. Infak, sering disalahartikan sebagai amalan yang hanya terikat pada nilai materi dan waktu-waktu khusus, seperti bulan Ramadhan atau momen-momen tertentu. Namun, nyatanya, infak memiliki makna yang lebih luas dan dapat dilakukan kapan saja, termasuk di waktu senggang kita.Makna Infak yang Lebih DalamInfak merupakan salah satu perbuatan mulia yang dianjurkan dalam banyak ajaran agama dan filosofi hidup. Ini bukan sekedar tentang memberikan sebagian harta, tapi juga tentang bagaimana kita memberikan waktu, perhatian, atau keahlian kita untuk membantu sesama. Di waktu senggang, peluang untuk berinfak justru semakin terbuka; dari memberi makanan bagi yang membutuhkan, menyediakan waktu untuk mendengarkan cerita teman yang sedang kesulitan, hingga menggunakannya untuk berpartisipasi dalam kegiatan sosial atau komunitas.Waktu Senggang sebagai Kesempatan EmasBanyak orang menganggap waktu senggang sebagai momen untuk bersantai dan melakukan kegiatan yang mereka sukai. Namun, jika kita menyelami lebih dalam, waktu senggang juga dapat menjadi kesempatan emas untuk melakukan kegiatan berinfak. Hal ini tidak hanya memberikan manfaat bagi yang menerima, tapi juga bagi diri sendiri. Berinfak di waktu senggang dapat menjadi sarana introspeksi dan mendekatkan diri pada nilai-nilai kemanusiaan, meningkatkan rasa syukur dan kebahagiaan dalam diri.Langkah-Langkah Berinfak di Waktu Senggang1. **Identifikasi Peluang**: Perhatikan lingkungan sekitar, temukan kebutuhan yang bisa Anda penuhi. Apakah ada tetangga yang memerlukan bantuan, atau komunitas di sekitar yang sedang melakukan kegiatan sosial?2. **Gunakan Keahlian Anda**: Setiap orang memiliki keahlian atau kemampuan yang bisa dibagikan. Misalnya, jika Anda pandai mengajar, Anda bisa menghabiskan waktu senggang untuk mengajar anak-anak kurang mampu.3. **Jadikan Sebagai Kebiasaan**: Mulailah dengan komitmen kecil, dan jadikan kegiatan berinfak sebagai bagian dari rutinitas waktu senggang Anda.Efek Multipolar dari InfakBerinfak di waktu senggang tidak hanya berdampak pada penerima, tapi juga pada pemberi dan masyarakat secara keseluruhan. Ini menciptakan lingkaran kebaikan yang terus berputar. Penerima infak merasakan langsung manfaatnya, yang turut memotivasi mereka untuk berbuat baik pada orang lain. Sementara itu, pemberi mengalami peningkatan kepuasan batin dan kebahagiaan.
KesimpulanInfak di waktu senggang menawarkan perspektif baru terhadap apa artinya berbuat baik tanpa menunggu momen atau kondisi tertentu. Ini mengajarkan kita bahwa setiap detik dalam hidup ini adalah peluang untuk berbagi dan berbuat baik. Dengan meluangkan waktu, tenaga, atau keahlian kita, kita tidak hanya membantu mereka yang membutuhkan, tapi juga membantu diri kita untuk tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.
BERITA30/03/2024 | Ady
Ketentuan Zakat Maal
Ketentuan Zakat Mal: Kewajiban Berbagi Rezeki
Zakat Mal merupakan salah satu rukun Islam yang wajib ditunaikan. Zakat mal menegaskan pentingnya berbagi rezeki kepada sesama. Zakat mal adalah zakat yang dikenakan atas harta atau kekayaan seseorang yang telah mencapai nisab (batas minimal) dan haul (masa kepemilikan selama satu tahun) dengan jumlah tertentu. Adapun macam-macam zakat mal yaitu, zakat emas dan perak, zakat perniagaan, zakat pertanian, zakat peternakan dan perikanan, zakat profesi dan pendapatan, zakat rikaz (harta temuan), dan zakat perindustrian. Dalam Islam, zakat mal memiliki peran penting dalam menyebarkan keadilan sosial dan memastikan distribusi ekonomi yang seimbang di antara masyarakat.
Kriteria Harta yang Wajib Dizakatkan
Harta yang wajib dizakatkan memiliki kriteria-kriteria tertentu atau ketentuan zakat mal yang harus dipenuhi,meliputi:
Nisab: Nisab adalah batasan minimal jumlah harta yang harus dimiliki oleh seseorang agar wajib membayar zakat. Besaran nisab ini ditentukan berdasarkan harga emas atau perak yang telah ditetapkan. Jika jumlah harta seseorang melebihi nisab, maka ia wajib membayar zakat.
Haul: Haul adalah masa kepemilikan harta yang telah mencapai satu tahun hijriyah. Artinya, seseorang hanya wajib membayar zakat atas harta yang dimilikinya setelah melewati masa satu tahun.
Jenis Harta: Zakat mal dikenakan atas sejumlah jenis harta tertentu, seperti uang tunai, emas, perak, bisnis, properti, dan sebagainya. Namun, tidak semua jenis harta wajib dizakatkan. Misalnya, harta yang digunakan untuk kebutuhan pokok, harta yang telah digunakan untuk pembayaran utang, dan harta yang diperuntukkan sebagai modal usaha untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari tidak wajib dizakatkan.
Besaran Zakat Mal
Besaran zakat mal umumnya ditetapkan sebesar 2,5% dari total nilai harta yang dimiliki seseorang setelah mencapai nisab dan haul. Besaran ini berlaku untuk harta yang berupa uang tunai, emas, perak, dan harta lainnya yang memenuhi syarat untuk dizakatkan.
Manfaat Zakat Mal
Zakat mal memiliki berbagai manfaat, baik bagi individu maupun masyarakat secara keseluruhan. Beberapa manfaat tersebut antara lain:
Menjaga Keseimbangan Sosial: Zakat mal berperan dalam menjaga keseimbangan sosial dengan mengalokasikan sebagian harta dari orang kaya kepada yang membutuhkan, sehingga dapat mengurangi kesenjangan sosial.
Purifikasi Harta: Membayar zakat mal membantu membersihkan harta seseorang dari sifat serakah dan keduniawian yang berlebihan, serta memperkuat hubungan individu dengan Allah SWT.
Pemberdayaan Ekonomi Umat: Zakat mal juga digunakan untuk program-program pemberdayaan ekonomi umat, seperti pendidikan, kesehatan, dan pembangunan infrastruktur, yang dapat membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.
Zakat Mal adalah salah satu kewajiban dalam agama Islam yang menegaskan pentingnya berbagi rezeki dan menjaga keseimbangan sosial dalam masyarakat. Dengan membayar zakat mal, umat Islam berkontribusi dalam membangun keadilan sosial dan meningkatkan kesejahteraan umat secara keseluruhan. Oleh karena itu, penting bagi setiap individu Muslim untuk memahami ketentuan zakat mal dan melaksanakannya dengan sungguh-sungguh sebagai bagian dari ibadah dan tanggung jawab sosial mereka.
BERITA30/03/2024 | Asmara
Distribusi Zakat Maal Dalam Perekonomian Indonesia
Implementasi Pendistribusian Zakat Mal dalam Perekonomian di Indonesia
Implementasi pendistribusian zakat mal dalam perekonomian Indonesia merupakan topik yang sangat penting dalam konteks ekonomi dan keuangan Islam. Zakat mal adalah salah satu dari lima rukun Islam dan merupakan kewajiban bagi umat Muslim yang memiliki kekayaan tertentu untuk didistribusikan kepada golongan yang berhak menerimanya. Dalam konteks perekonomian Indonesia, implementasi zakat mal memiliki dampak yang signifikan dalam mengurangi kesenjangan ekonomi, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta memperkuat pilar ekonomi berbasis syariah. Dalam penjelasan ini, akan diuraikan secara detail mengenai implementasi pendistribusian zakat mal dalam perekonomian Indonesia.
Latar Belakang
Pertama-tama, perlu dipahami bahwa Indonesia memiliki mayoritas penduduknya yang beragama Islam, sehingga zakat mal memiliki potensi besar untuk berperan dalam menggerakkan perekonomian. Namun, implementasi zakat mal dalam perekonomian Indonesia belum sepenuhnya optimal karena masih banyak tantangan yang perlu diatasi.
Mekanisme Pendistribusian Zakat Mal
Zakat mal merupakan zakat yang dikenakan pada harta yang dimiliki individu, perusahaan, atau lembaga yang telah mencapai nisab (batas minimum). Mekanisme pendistribusiannya dapat dilakukan melalui berbagai macam lembaga, seperti lembaga amil zakat, yayasan, maupun badan amil zakat nasional. Lembaga-lembaga ini bertugas mengumpulkan, mengelola, dan mendistribusikan zakat mal kepada golongan yang berhak menerima sesuai dengan ketentuan syariah.
Peran Lembaga Amil Zakat
Lembaga amil zakat memiliki peran kunci dalam implementasi pendistribusian zakat mal di Indonesia. Mereka bertanggung jawab untuk mengumpulkan dana zakat dari masyarakat, mengidentifikasi penerima zakat yang memenuhi syarat, dan mendistribusikan zakat secara adil dan efisien. Selain itu, lembaga amil zakat juga memiliki peran dalam memberikan edukasi dan sosialisasi mengenai zakat kepada masyarakat agar kesadaran dan partisipasi dalam membayar zakat semakin meningkat.
Dampak Ekonomi
Implementasi pendistribusian zakat mal memiliki dampak ekonomi yang signifikan dalam perekonomian Indonesia. Pertama, zakat mal dapat menjadi sumber pendanaan alternatif untuk pembangunan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Dana zakat yang terkumpul dapat dialokasikan untuk membiayai program-program pembangunan seperti pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat kurang mampu.
Kedua, zakat mal juga dapat menjadi instrumen redistribusi pendapatan yang efektif. Dengan mengalokasikan zakat kepada golongan yang membutuhkan, kesenjangan ekonomi dapat dikurangi sehingga masyarakat menjadi lebih merata dalam memperoleh manfaat dari pertumbuhan ekonomi.
Penguatan Ekonomi Syariah
Implementasi zakat mal juga berkontribusi pada penguatan ekonomi syariah di Indonesia. Dalam konteks ini, zakat mal dapat menjadi salah satu instrumen untuk mengembangkan sektor keuangan syariah, seperti lembaga keuangan mikro syariah dan lembaga keuangan syariah lainnya. Dana zakat dapat dialokasikan untuk mendukung pelaku usaha mikro dan kecil serta program-program ekonomi syariah lainnya yang memperkuat ekosistem ekonomi syariah secara keseluruhan.
Tantangan dan Solusi
Meskipun implementasi pendistribusian zakat mal memiliki potensi besar, namun masih terdapat beberapa tantangan yang perlu diatasi. Salah satunya adalah kurangnya kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam membayar zakat. Hal ini dapat diatasi melalui kampanye edukasi yang intensif tentang pentingnya zakat dalam Islam serta manfaatnya bagi kesejahteraan sosial dan ekonomi masyarakat.
Selain itu, perlu juga diperkuat regulasi dan pengawasan terhadap lembaga-lembaga amil zakat untuk memastikan transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan dan pendistribusian dana zakat. Hal ini akan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga amil zakat sehingga mereka lebih termotivasi untuk membayar zakat.
Secara keseluruhan, implementasi pendistribusian zakat mal dalam perekonomian Indonesia memiliki potensi besar untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, mengurangi kesenjangan ekonomi, dan memperkuat ekonomi syariah. Namun, untuk mencapai potensi tersebut, diperlukan komitmen dan kerjasama antara pemerintah, lembaga amil zakat, dan masyarakat dalam memastikan bahwa zakat mal dikelola dan didistribusikan dengan baik sesuai dengan prinsip-prinsip syariah serta untuk kepentingan kesejahteraan bersama.
BERITA30/03/2024 | Asmara

Info Rekening Zakat
Mari tunaikan zakat Anda dengan mentransfer ke rekening zakat.
BAZNAS
Info Rekening Zakat


