Berita Terbaru
Zakat Mal dan Crowdfunding
Di tengah perkembangan teknologi yang pesat, konsep crowdfunding telah menjadi salah satu metode inovatif untuk mengumpulkan dana bagi berbagai proyek dan inisiatif. Di Indonesia, di mana zakat mal merupakan kewajiban bagi umat Muslim, kolaborasi antara zakat mal dan crowdfunding menawarkan peluang besar untuk membangun kemandirian ekonomi masyarakat. Dengan memanfaatkan platform digital, zakat mal dapat dioptimalkan untuk memberikan dampak yang lebih luas dan signifikan.
Crowdfunding, yang memungkinkan individu atau kelompok untuk mengumpulkan dana dari masyarakat luas melalui platform online, telah terbukti efektif dalam mendukung berbagai proyek sosial, bisnis, dan kemanusiaan. Dalam konteks zakat mal, crowdfunding dapat digunakan untuk mengumpulkan dana zakat dari berbagai sumber, baik individu maupun perusahaan, yang kemudian disalurkan kepada mereka yang membutuhkan.
Salah satu keuntungan utama dari kolaborasi ini adalah peningkatan aksesibilitas. Dengan adanya platform crowdfunding, masyarakat dapat dengan mudah menyalurkan zakat mal mereka tanpa harus melalui proses yang rumit. Ini sangat penting, terutama bagi generasi muda yang lebih akrab dengan teknologi dan lebih memilih cara yang praktis dalam beramal. Selain itu, crowdfunding juga memungkinkan transparansi yang lebih besar dalam pengelolaan zakat, di mana setiap donatur dapat melihat bagaimana dana mereka digunakan dan dampaknya terhadap penerima zakat.
Kolaborasi antara zakat mal dan crowdfunding juga dapat mendorong inovasi dalam program-program pemberdayaan ekonomi. Misalnya, dana zakat yang terkumpul melalui crowdfunding dapat digunakan untuk mendukung usaha kecil dan menengah (UKM) di komunitas lokal. Dengan memberikan modal usaha kepada para pengusaha kecil, zakat mal tidak hanya membantu mereka secara finansial, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi lokal dan menciptakan lapangan kerja.
Selain itu, platform crowdfunding dapat digunakan untuk mendukung proyek-proyek sosial yang berfokus pada pendidikan, kesehatan, dan lingkungan. Dengan menggabungkan zakat mal dan crowdfunding, kita dapat menciptakan program-program yang lebih terarah dan berdampak, yang tidak hanya memenuhi kebutuhan mendesak, tetapi juga berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan.
Namun, untuk mencapai potensi maksimal dari kolaborasi ini, penting bagi lembaga zakat dan platform crowdfunding untuk bekerja sama secara erat. Lembaga zakat perlu memastikan bahwa dana yang terkumpul melalui crowdfunding dikelola dengan baik dan disalurkan kepada penerima yang tepat. Di sisi lain, platform crowdfunding harus menyediakan sistem yang transparan dan akuntabel, sehingga para donatur merasa yakin bahwa kontribusi mereka akan digunakan dengan sebaik-baiknya.
Dengan memanfaatkan teknologi digital, kolaborasi antara zakat mal dan crowdfunding dapat menjadi solusi yang efektif untuk membangun kemandirian ekonomi masyarakat. Melalui sinergi ini, kita tidak hanya memenuhi kewajiban zakat, tetapi juga berkontribusi pada penciptaan masyarakat yang lebih sejahtera dan mandiri. Mari kita dukung inisiatif ini dan bersama-sama mewujudkan kebaikan untuk masa depan yang lebih baik.
Sebagai contoh, Baznas Kota Yogyakarta telah berkomitmen untuk memanfaatkan teknologi dalam pengelolaan zakat, termasuk menjajaki kolaborasi dengan platform crowdfunding untuk meningkatkan dampak sosial zakat mal. Dengan langkah ini, diharapkan zakat dapat menjadi pendorong utama dalam menciptakan kemandirian ekonomi bagi masyarakat.
=====================
*Tunaikan zakat/infaq, melalui Kantor Digital BAZNAS Kota Yogyakarta. https://kotayogya.baznas.go.id/bayarzakat Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id
Editor: Ummi Kiftiyah
BERITA05/03/2025 | admin
Sedekah dalam Perspektif Agama: Panduan dari Berbagai Keyakinan
Sedekah adalah tindakan memberi yang dilakukan dengan niat baik, tanpa mengharapkan imbalan. Dalam banyak tradisi agama, sedekah dianggap sebagai salah satu bentuk ibadah yang sangat dianjurkan. Berbagai agama di dunia memiliki pandangan dan ajaran yang berbeda mengenai sedekah, tetapi pada dasarnya, semua sepakat bahwa memberi kepada sesama adalah tindakan mulia yang membawa berkah. Artikel ini akan membahas sedekah dalam perspektif beberapa agama besar di dunia, termasuk Islam, Kristen, Hindu, dan Buddha.
Sedekah dalam Islam
Dalam Islam, sedekah dikenal sebagai "sadaqah" dan merupakan salah satu pilar penting dalam kehidupan seorang Muslim. Allah SWT memerintahkan umat-Nya untuk bersedekah sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama, terutama kepada yang membutuhkan. Dalam Al-Qur'an, Allah berfirman:
"Dan infakkanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang tidak ada jual beli dan persahabatan." (QS. Al-Baqarah: 254)
Sedekah dalam Islam tidak hanya terbatas pada harta, tetapi juga mencakup tindakan baik lainnya, seperti senyuman, membantu orang lain, dan berbagi ilmu. Ada dua jenis sedekah dalam Islam: sedekah wajib (zakat) dan sedekah sunnah (sadaqah). Zakat adalah kewajiban bagi setiap Muslim yang mampu, sedangkan sadaqah adalah tindakan sukarela yang sangat dianjurkan.
Sedekah dalam Kristen
Dalam agama Kristen, sedekah juga memiliki tempat yang penting. Ajaran Yesus Kristus menekankan pentingnya memberi kepada yang membutuhkan. Dalam Injil Matius, Yesus mengajarkan:
"Setiap kali kamu melakukannya untuk salah satu dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu melakukannya untuk Aku." (Matius 25:40)
Kristen mengajarkan bahwa memberi bukan hanya tentang materi, tetapi juga tentang memberi waktu, perhatian, dan kasih sayang kepada orang lain. Gereja sering kali mengadakan program amal dan penggalangan dana untuk membantu mereka yang kurang beruntung. Sedekah dalam Kristen dianggap sebagai ungkapan kasih dan kepedulian terhadap sesama, serta sebagai cara untuk menunjukkan iman kepada Tuhan.
Sedekah dalam Hindu
Dalam agama Hindu, sedekah dikenal sebagai "dana" dan dianggap sebagai salah satu cara untuk mencapai moksha (pembebasan dari siklus kelahiran dan kematian). Ajaran Hindu mengajarkan bahwa memberi adalah kewajiban moral dan spiritual. Dalam kitab suci Bhagavad Gita, dikatakan:
"Berkah yang diperoleh dari memberi adalah lebih besar daripada yang diperoleh dari menerima."
Hindu percaya bahwa sedekah dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, termasuk memberi makanan, pakaian, dan uang kepada yang membutuhkan. Selain itu, memberi juga dianggap sebagai cara untuk membersihkan diri dari karma buruk dan meningkatkan spiritualitas. Dalam tradisi Hindu, ada juga konsep "tithing," di mana umat dianjurkan untuk menyisihkan sebagian dari penghasilan mereka untuk disumbangkan.
Sedekah dalam Buddha
Dalam ajaran Buddha, sedekah dikenal sebagai "dana" dan merupakan salah satu dari enam perbuatan baik yang dianjurkan. Buddha mengajarkan bahwa memberi adalah cara untuk mengatasi keserakahan dan egoisme. Dalam Dhammapada, Buddha mengajarkan:
"Lebih baik memberi daripada menerima. Memberi adalah tindakan yang membawa kebahagiaan."
Sedekah dalam tradisi Buddha tidak hanya terbatas pada memberi harta, tetapi juga mencakup memberi perhatian, waktu, dan kasih sayang kepada orang lain. Dalam praktiknya, umat Buddha sering kali melakukan kegiatan amal, seperti memberi makanan kepada biksu atau membantu orang yang membutuhkan. Tindakan memberi ini dianggap sebagai cara untuk mengembangkan cinta kasih dan welas asih, yang merupakan inti dari ajaran Buddha.
Sedekah adalah tindakan mulia yang dianjurkan dalam berbagai agama di dunia. Meskipun terdapat perbedaan dalam istilah dan praktik, esensi dari sedekah tetap sama: memberi kepada sesama sebagai bentuk kepedulian dan kasih sayang. Dalam Islam, Kristen, Hindu, dan Buddha, sedekah dianggap sebagai cara untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dan meningkatkan kualitas hidup. Dengan memahami perspektif sedekah dari berbagai keyakinan, kita dapat lebih menghargai nilai-nilai kedermawanan dan berbagi dalam kehidupan sehari-hari. Mari kita tingkatkan kesadaran akan pentingnya sedekah dan berkontribusi pada kesejahteraan masyarakat, tanpa memandang latar belakang agama atau keyakinan. Dengan demikian, kita dapat menciptakan dunia yang lebih baik dan penuh kasih.?
Ayo bersedekah melalui Kantor Digital BAZNAS Kota Yogyakarta: https://kotayogya.baznas.go.id/sedekah
Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id
Ayo bersedekah melalui Kantor Digital BAZNAS Kota Yogyakarta: https://kotayogya.baznas.go.id/sedekah
Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id
Penulis: Riza Fatmahira
Editor: M. Sahal
BERITA05/03/2025 | AdminS
Manfaat Sedekah bagi Kesehatan Mental dan Emosional
Sedekah, yang berasal dari kata Arab "sadaqah," memiliki makna yang dalam dalam konteks sosial dan spiritual. Selain sebagai bentuk kedermawanan, sedekah juga memiliki dampak positif yang signifikan terhadap kesehatan mental dan emosional seseorang. Dalam artikel ini, kita akan membahas berbagai manfaat sedekah bagi kesehatan mental dan emosional, serta bagaimana tindakan berbagi ini dapat meningkatkan kualitas hidup individu.
Meningkatkan Rasa Bahagia
Salah satu manfaat utama dari sedekah adalah kemampuannya untuk meningkatkan rasa bahagia. Ketika seseorang memberikan bantuan kepada orang lain, otak mereka melepaskan hormon endorfin, yang dikenal sebagai "hormon kebahagiaan." Proses ini dapat menciptakan perasaan euforia dan kepuasan yang mendalam. Penelitian menunjukkan bahwa orang yang aktif dalam kegiatan sedekah cenderung merasa lebih bahagia dan puas dengan hidup mereka.
Mengurangi Stres dan Kecemasan
Sedekah juga dapat berfungsi sebagai alat untuk mengurangi stres dan kecemasan. Ketika seseorang fokus pada membantu orang lain, mereka cenderung melupakan masalah pribadi yang mungkin sedang mereka hadapi. Tindakan berbagi ini dapat mengalihkan perhatian dari pikiran negatif dan memberikan perspektif baru tentang kehidupan. Selain itu, membantu orang lain dapat memberikan rasa tujuan dan makna, yang sangat penting dalam mengatasi perasaan cemas.
Membangun Koneksi Sosial
Sedekah sering kali melibatkan interaksi dengan orang lain, baik itu melalui kegiatan komunitas, donasi, atau program amal. Interaksi sosial ini dapat membantu membangun hubungan yang kuat dan mendukung. Koneksi sosial yang baik telah terbukti memiliki dampak positif pada kesehatan mental. Ketika seseorang merasa terhubung dengan orang lain, mereka cenderung merasa lebih diterima dan dihargai, yang dapat mengurangi perasaan kesepian dan isolasi.
Meningkatkan Rasa Syukur
Melakukan sedekah juga dapat meningkatkan rasa syukur. Ketika seseorang memberikan bantuan kepada orang lain, mereka sering kali menyadari betapa beruntungnya mereka dibandingkan dengan orang yang mereka bantu. Rasa syukur ini dapat mengubah cara pandang seseorang terhadap hidup dan membantu mereka menghargai apa yang mereka miliki. Penelitian menunjukkan bahwa orang yang memiliki rasa syukur yang tinggi cenderung memiliki kesehatan mental yang lebih baik dan lebih sedikit mengalami depresi.
Memberikan Rasa Tujuan
Sedekah memberikan rasa tujuan yang kuat. Ketika seseorang terlibat dalam kegiatan amal atau membantu orang lain, mereka merasa bahwa tindakan mereka memiliki makna dan dampak positif. Rasa tujuan ini dapat meningkatkan motivasi dan semangat hidup. Ketika seseorang merasa bahwa mereka berkontribusi pada sesuatu yang lebih besar dari diri mereka sendiri, mereka cenderung merasa lebih berdaya dan memiliki kontrol atas hidup mereka.
Meningkatkan Kesehatan Fisik
Manfaat sedekah tidak hanya terbatas pada kesehatan mental dan emosional, tetapi juga dapat berdampak positif pada kesehatan fisik. Penelitian menunjukkan bahwa orang yang terlibat dalam kegiatan sedekah cenderung memiliki tekanan darah yang lebih rendah, sistem kekebalan tubuh yang lebih baik, dan risiko penyakit jantung yang lebih rendah. Kesehatan fisik yang baik berkontribusi pada kesehatan mental yang lebih baik, menciptakan siklus positif antara keduanya.
Mengurangi Perasaan Depresi
Sedekah dapat menjadi cara yang efektif untuk mengurangi perasaan depresi. Ketika seseorang terlibat dalam kegiatan yang bermanfaat bagi orang lain, mereka cenderung merasa lebih positif dan optimis. Tindakan berbagi ini dapat membantu mengatasi perasaan putus asa dan memberikan harapan baru. Banyak orang yang mengalami depresi melaporkan bahwa terlibat dalam kegiatan amal membantu mereka merasa lebih baik dan lebih terhubung dengan dunia di sekitar mereka.
Mendorong Pertumbuhan Pribadi
Sedekah juga dapat mendorong pertumbuhan pribadi. Ketika seseorang terlibat dalam kegiatan berbagi, mereka sering kali belajar tentang empati, toleransi, dan rasa hormat terhadap orang lain. Pengalaman ini dapat memperluas pandangan mereka tentang kehidupan dan membantu mereka menjadi individu yang lebih baik. Pertumbuhan pribadi ini berkontribusi pada kesehatan mental yang lebih baik dan meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan.
Sedekah bukan hanya sekadar tindakan kedermawanan, tetapi juga memiliki dampak yang mendalam pada kesehatan mental dan emosional seseorang. Dari meningkatkan rasa bahagia hingga mengurangi stres, sedekah memberikan banyak manfaat yang dapat meningkatkan kualitas hidup. Dengan membangun koneksi sosial, meningkatkan rasa syukur, dan memberikan rasa tujuan, tindakan berbagi ini dapat menciptakan siklus positif yang berkontribusi pada kesehatan mental yang lebih baik. Oleh karena itu, mari kita tingkatkan kesadaran akan pentingnya sedekah dan berkontribusi pada kesejahteraan diri sendiri dan orang lain di sekitar kita. Dengan melakukan sedekah, kita tidak hanya membantu orang lain, tetapi juga memperbaiki kesehatan mental dan emosional kita sendiri.
Ayo bersedekah melalui Kantor Digital BAZNAS Kota Yogyakarta: https://kotayogya.baznas.go.id/sedekah
Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id
Penulis: Riza Fatmahira
Editor: M. Sahal
BERITA05/03/2025 | AdminS
Mengolah Sampah Di Rumah Termasuk Sedekah Loh!
Mengolah sampah di rumah adalah salah satu bentuk sedekah yang sangat bermanfaat, baik untuk lingkungan maupun masyarakat. Mengolah sampah di rumah berarti melakukan proses pemisahan, pengolahan, dan daur ulang sampah yang dihasilkan dari aktivitas sehari-hari. Dengan mengolah sampah, kita tidak hanya mengurangi jumlah limbah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir, tetapi juga memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat.
Mengapa Mengolah Sampah di Rumah adalah Sedekah:
Membantu Lingkungan: Dengan mengolah sampah, kita berkontribusi dalam menjaga kebersihan lingkungan. Sampah yang terkelola dengan baik dapat mengurangi pencemaran dan dampak negatif terhadap ekosistem.
Memberikan Manfaat bagi Orang Lain: Sampah yang didaur ulang dapat diubah menjadi barang berguna yang dapat disumbangkan kepada orang yang membutuhkan. Misalnya, botol plastik dapat diubah menjadi kerajinan tangan atau bahan bangunan.
Meningkatkan Kesadaran Masyarakat: Dengan mengolah sampah di rumah, kita dapat menjadi contoh bagi orang lain dan mengedukasi mereka tentang pentingnya pengelolaan sampah.
Langkah-Langkah Mengolah Sampah di Rumah
Berikut adalah langkah-langkah praktis yang dapat diambil untuk mengolah sampah di rumah:
Pemisahan Sampah
Klasifikasikan Sampah: Pisahkan sampah menjadi beberapa kategori, seperti sampah organik (sisa makanan, daun, dll.) dan sampah anorganik (plastik, kertas, logam, dll.).
Gunakan Wadah Terpisah: Siapkan wadah atau tempat terpisah untuk setiap jenis sampah agar lebih mudah dalam pengelolaannya.
Pengolahan Sampah Organik
Komposting: Buatlah kompos dari sampah organik. Anda dapat menggunakan sisa makanan dan limbah kebun untuk membuat pupuk alami yang dapat digunakan untuk tanaman.
Pengolahan Lainnya: Jika memungkinkan, Anda juga dapat memanfaatkan sisa makanan untuk membuat makanan hewan peliharaan atau memberi kepada tetangga yang membutuhkan.
Daur Ulang Sampah Anorganik
Pengumpulan dan Penyimpanan: Kumpulkan sampah anorganik yang dapat didaur ulang, seperti botol plastik, kertas, dan kaleng. Simpan di tempat yang bersih dan kering.
Temukan Tempat Daur Ulang: Cari tempat daur ulang di sekitar Anda dan kirimkan sampah yang telah dipisahkan. Beberapa tempat juga menerima barang-barang bekas yang masih layak pakai untuk disumbangkan.
Edukasi dan Aksi Bersama
Ajak Keluarga dan Tetangga: Libatkan anggota keluarga dan tetangga dalam program pengolahan sampah. Diskusikan pentingnya pengelolaan sampah dan ajak mereka untuk berpartisipasi.
Buat Kegiatan Bersama: Selenggarakan kegiatan bersih-bersih lingkungan atau workshop tentang pengelolaan sampah di lingkungan sekitar.
Mengolah sampah di rumah adalah salah satu bentuk sedekah yang sangat berharga. Dengan melakukan ini, kita tidak hanya membantu menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat bagi orang lain dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pengelolaan sampah. Dengan langkah-langkah praktis ini, Anda dapat berkontribusi dalam mengurangi limbah dan mendukung upaya daur ulang, sekaligus melakukan sedekah yang bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan.
Ayo bersedekah melalui Kantor Digital BAZNAS Kota Yogyakarta: https://kotayogya.baznas.go.id/sedekah
Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id
Penulis: Riza Fatmahira
Editor: M. Sahal
BERITA05/03/2025 | AdminS
Peran Fidyah dalam Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat
Fidyah merupakan salah satu bentuk kewajiban dalam Islam yang berkaitan dengan pengganti puasa bagi mereka yang tidak mampu melaksanakannya, baik karena sakit, usia lanjut, atau alasan lainnya. Dalam konteks ini, fidyah tidak hanya berfungsi sebagai pengganti, tetapi juga memiliki peran yang signifikan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dengan memberikan fidyah, seorang Muslim tidak hanya memenuhi kewajiban agama, tetapi juga berkontribusi pada kesejahteraan orang-orang yang membutuhkan.
Ketika seseorang memberikan fidyah, biasanya dalam bentuk makanan atau uang, hal ini dapat membantu mereka yang kurang mampu untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka. Dalam banyak kasus, fidyah disalurkan kepada fakir miskin, yang merupakan kelompok yang paling membutuhkan bantuan. Dengan demikian, fidyah berfungsi sebagai jembatan antara individu yang mampu dan mereka yang membutuhkan, menciptakan jaringan solidaritas dalam masyarakat.
Lebih jauh lagi, fidyah dapat menjadi sarana untuk mengurangi kesenjangan sosial. Dalam masyarakat yang sering kali terpecah oleh perbedaan ekonomi, fidyah dapat membantu menciptakan rasa kebersamaan dan saling peduli. Ketika orang-orang yang lebih mampu memberikan fidyah, mereka tidak hanya membantu individu tertentu, tetapi juga berkontribusi pada stabilitas sosial secara keseluruhan. Hal ini sejalan dengan ajaran Islam yang menekankan pentingnya berbagi dan saling membantu.
Dalam konteks yang lebih luas, fidyah juga dapat berfungsi sebagai alat untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya membantu sesama. Dengan memberikan fidyah, individu diingatkan akan tanggung jawab sosial mereka dan pentingnya berbagi rezeki. Ini dapat mendorong lebih banyak orang untuk terlibat dalam kegiatan amal dan sosial, yang pada gilirannya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.
Fidyah juga memiliki dimensi spiritual yang tidak boleh diabaikan. Dalam Islam, memberikan fidyah dianggap sebagai tindakan ibadah yang dapat mendatangkan pahala. Dengan demikian, individu yang memberikan fidyah tidak hanya berkontribusi pada kesejahteraan masyarakat, tetapi juga mendapatkan keberkahan dari Allah. Ini menciptakan siklus positif di mana tindakan kebaikan menghasilkan lebih banyak kebaikan, baik di dunia maupun di akhirat.
Secara keseluruhan, fidyah memiliki peran yang sangat penting dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dengan memberikan fidyah, individu tidak hanya memenuhi kewajiban agama, tetapi juga berkontribusi pada pengurangan kemiskinan, peningkatan solidaritas sosial, dan kesadaran akan tanggung jawab sosial. Dalam konteks ini, fidyah bukan hanya sekedar kewajiban, tetapi juga merupakan bentuk investasi dalam kesejahteraan masyarakat yang lebih luas.
=====================
*Tunaikan zakat/infaq, melalui Kantor Digital BAZNAS Kota Yogyakarta.https://kotayogya.baznas.go.id/bayarzakat
Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id
https://berbagi.link/baznaskotajogja
Penulis : Aura Mevlana Putri
Editor: Aura Mevlana Putri
BERITA05/03/2025 | Aura Mevlana Putri
Fidyah untuk Orang Tua sebagai Bentuk Penghormatan
Fidyah, sebagai salah satu bentuk pengganti puasa dalam Islam, memiliki makna yang lebih dalam ketika dikaitkan dengan orang tua. Dalam banyak budaya, termasuk dalam tradisi Islam, orang tua dianggap sebagai sosok yang harus dihormati dan dihargai. Ketika seorang anak tidak dapat berpuasa karena alasan kesehatan atau usia lanjut, memberikan fidyah menjadi salah satu cara untuk menunjukkan penghormatan dan kasih sayang kepada mereka.
Memberikan fidyah untuk orang tua bukan hanya sekadar memenuhi kewajiban agama, tetapi juga merupakan bentuk pengakuan atas pengorbanan dan usaha yang telah mereka lakukan selama ini. Dalam Al-Qur'an, Allah memerintahkan umat-Nya untuk berbuat baik kepada orang tua dan menghormati mereka. Dengan memberikan fidyah, seorang anak menunjukkan rasa syukur dan penghormatan kepada orang tua yang telah membesarkan dan mendidik mereka.
Fidyah yang diberikan kepada orang tua dapat berupa makanan atau uang, yang kemudian dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka. Dalam hal ini, fidyah berfungsi sebagai sarana untuk memastikan bahwa orang tua tetap mendapatkan perhatian dan dukungan yang mereka butuhkan, terutama di masa-masa sulit. Ini juga mencerminkan nilai-nilai kasih sayang dan kepedulian yang diajarkan dalam Islam.
Lebih dari sekadar kewajiban, memberikan fidyah kepada orang tua juga dapat menjadi bentuk amal jariyah. Amal jariyah adalah amal yang pahalanya terus mengalir meskipun pelakunya telah meninggal dunia. Dengan memberikan fidyah kepada orang tua, seorang anak tidak hanya berkontribusi pada kesejahteraan mereka, tetapi juga mendapatkan pahala yang terus mengalir. Ini adalah bentuk investasi spiritual yang sangat berharga.
Dalam konteks yang lebih luas, fidyah untuk orang tua juga dapat menjadi contoh bagi generasi berikutnya. Ketika anak-anak melihat orang tua mereka memberikan fidyah, mereka akan terinspirasi untuk melakukan hal yang sama. Ini menciptakan budaya saling menghormati dan peduli dalam keluarga, yang pada gilirannya dapat memperkuat ikatan keluarga dan masyarakat secara keseluruhan.
Secara keseluruhan, fidyah untuk orang tua bukan hanya sekedar kewajiban agama, tetapi juga merupakan bentuk penghormatan dan kasih sayang yang mendalam. Dengan memberikan fidyah, seorang anak menunjukkan rasa syukur atas pengorbanan orang tua dan berkontribusi pada kesejahteraan mereka. Ini adalah tindakan yang tidak hanya bermanfaat bagi orang tua, tetapi juga memberikan pahala yang berkelanjutan bagi anak-anak yang melakukannya.
=====================
*Tunaikan zakat/infaq, melalui Kantor Digital BAZNAS Kota Yogyakarta.https://kotayogya.baznas.go.id/bayarzakat
Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id
https://berbagi.link/baznaskotajogja
Penulis : Aura Mevlana Putri
Editor: Aura Mevlana Putri
BERITA05/03/2025 | Aura Mevlana Putri
Menghubungkan Fidyah dengan Amal dan Kebaikan
Fidyah, sebagai salah satu bentuk pengganti puasa dalam Islam, memiliki hubungan yang erat dengan amal dan kebaikan. Dalam konteks ini, fidyah bukan hanya sekadar kewajiban yang harus dipenuhi, tetapi juga merupakan kesempatan untuk berbuat baik dan berbagi dengan sesama. Ketika seseorang memberikan fidyah, mereka tidak hanya memenuhi kewajiban agama, tetapi juga berkontribusi pada kebaikan yang lebih besar dalam masyarakat.
Amal dalam Islam memiliki banyak bentuk, dan fidyah adalah salah satu cara untuk mengekspresikan kepedulian terhadap orang lain. Dengan memberikan fidyah, seseorang membantu mereka yang kurang mampu untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka, seperti makanan dan tempat tinggal. Ini menciptakan jaringan solidaritas dalam masyarakat, di mana individu yang lebih mampu membantu mereka yang membutuhkan. Dalam hal ini, fidyah berfungsi sebagai jembatan antara individu dan komunitas, menciptakan rasa kebersamaan dan saling peduli.
Lebih jauh lagi, fidyah dapat menjadi sarana untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya amal dan kebaikan. Dalam banyak kasus, orang yang memberikan fidyah diingatkan akan tanggung jawab sosial mereka dan pentingnya berbagi rezeki. Ini dapat mendorong lebih banyak orang untuk terlibat dalam kegiatan amal dan sosial, yang pada gilirannya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.
Fidyah juga memiliki dimensi spiritual yang tidak boleh diabaikan. Dalam Islam, memberikan fidyah dianggap sebagai tindakan ibadah yang dapat mendatangkan pahala. Dengan demikian, individu yang memberikan fidyah tidak hanya berkontribusi pada kesejahteraan masyarakat, tetapi juga mendapatkan keberkahan dari Allah. Ini menciptakan siklus positif di mana tindakan kebaikan menghasilkan lebih banyak kebaikan, baik di dunia maupun di akhirat.
Dalam konteks yang lebih luas, fidyah dapat menjadi contoh bagi orang lain untuk berbuat baik. Ketika seseorang melihat tindakan kebaikan yang dilakukan oleh orang lain, mereka akan terinspirasi untuk melakukan hal yang sama. Ini menciptakan budaya amal dan kebaikan dalam masyarakat, dimana setiap individu merasa terdorong untuk berkontribusi pada kesejahteraan orang lain.
Secara keseluruhan, fidyah memiliki hubungan yang erat dengan amal dan kebaikan. Dengan memberikan fidyah, individu tidak hanya memenuhi kewajiban agama, tetapi juga berkontribusi pada pengurangan kemiskinan, peningkatan solidaritas sosial, dan kesadaran akan tanggung jawab sosial. Dalam konteks ini, fidyah bukan hanya sekedar kewajiban, tetapi juga merupakan bentuk investasi dalam kebaikan yang lebih besar.
=====================
*Tunaikan zakat/infaq, melalui Kantor Digital BAZNAS Kota Yogyakarta.https://kotayogya.baznas.go.id/bayarzakat
Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id
https://berbagi.link/baznaskotajogja
Penulis : Aura Mevlana Putri
Editor: Aura Mevlana Putri
BERITA05/03/2025 | Aura Mevlana Putri
Keteladanan Aisyah binti Abu Bakar dalam Menghidupkan Ramadhan
Aisyah binti Abu Bakar radhiyallahu ‘anha, ialah salah seorang Ummul Mukminin yang menjadi cahaya ilmu dan teladan dalam sejarah Islam. Sosoknya dikenal memiliki semangat ibadah yang luar biasa, terutama dalam menyambut dan menghidupkan bulan Ramadhan. Ialah istri tercinta Rasulullah ? yang menyaksikan langsung bagaimana Rasulullah memuliakan Ramadhan.
Ketika Ramadhan tiba, Aisyah menyambutnya dengan persiapan ruhani. Ia memperbanyak wudhu, shalat sunnah, dan menghidupkan malam-malam Ramadhan dengan qiyamul lail yang panjang. Dalam riwayat, disebutkan bahwa Aisyah sering menangis dalam sujudnya, memohon ampunan dan keridhaan Allah. Ia memahami bahwa Ramadhan adalah waktu terbaik untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Aisyah juga dikenal sebagai sosok yang sangat mencintai Al-Qur’an. Setiap Ramadhan, ia memperbanyak tilawah, membaca ayat-ayat Allah dengan khusyuk dan mentadabburi Al-Quran. Tak sekadar membaca, Aisyah juga merenungkan makna setiap ayat, lalu mengamalkannya dalam keseharian. Ia memaknai Ramadhan sebagai bulan Al-Quran dan menghidupkannya dengan Al-Quran.
Selain ibadah secara personal, Aisyah juga membangunkan keluarganya untuk shalat malam. Ia menghidupkan rumahnya dengan dzikir, doa, dan peringatan tentang akhirat. Ia tidak ingin ada anggota keluarganya yang tertinggal dari keberkahan Ramadhan. Dengan penuh kelembutan, Aisyah mengingatkan agar jangan sampai waktu-waktu mulia itu terlewat tanpa ibadah.
Kedermawanan Aisyah di bulan Ramadhan adalah wujud keteladanan atas apa yang Rasulullah ajarkan. Ia menyisihkan harta yang dimilikinya untuk disedekahkan kepada fakir miskin. Bahkan, sering kali ia menyedekahkan apa yang sebenarnya sangat ia butuhkan. Bagi Aisyah, kebahagiaan Ramadhan bukan pada makanan berbuka yang lezat, melainkan pada kebahagiaan melihat orang lain tersenyum karena mendapatkan bantuan melalui perantara tangannya.
“Rasulullah ? adalah manusia yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadhan saat Jibril menemui beliau. Jibril menemui beliau setiap malam Ramadhan untuk mengajarkan Al-Qur'an. Sungguh Rasulullah ? lebih dermawan dalam kebaikan daripada angin yang berhembus.” (HR. Al-Bukhari, no. 6)
Salah satu kebiasaan Aisyah yang patut diteladani adalah semangatnya memanfaatkan 10 malam terakhir Ramadhan. Ia memahami betul keutamaan malam Lailatul Qadar, sehingga ia semakin mengencangkan ikat pinggangnya di penghujung Ramadhan. Ia mengurangi waktu tidurnya, ia memperbanyak dzikir, dan memohon ampumanan Allah.
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata:
“Rasulullah ? apabila telah masuk sepuluh malam terakhir (Ramadhan), beliau menghidupkan malam-malamnya, membangunkan keluarganya, bersungguh-sungguh (dalam ibadah) dan mengencangkan ikat pinggangnya.” (HR. Al-Bukhari, no. 2024; Muslim, no. 1174)
Aisyah binti Abu Bakar mengajarkan bahwa Ramadhan adalah momentum mendidik hati, memperkuat hubungan dengan Al-Qur’an, menghidupkan rumah dengan ibadah, dan berbagi kebahagiaan dengan sesama. Ramadhan bukan sekadar ritual fisik, tetapi perjalanan ruhani yang mendekatkan diri kepada Allah. Semangat, kesungguhan, dan keikhlasan Aisyah dalam menyambut Ramadhan adalah teladan abadi bagi umat Islam, khususnya kaum muslimah di sepanjang zaman.
*Tunaikan zakat, infaq, sedekah melalui Kantor Digital BAZNAS Kota Yogyakarta.https://kotayogya.baznas.go.id/bayarzakat Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id
Editor : Ashifuddin Fikri
Writer : Nur Isnaini Masyithoh
BERITA05/03/2025 | Nur Isnaini Masyithoh
Keutamaan Umroh di Bulan Ramadhan
Umroh merupakan salah satu ibadah yang sangat dianjurkan dalam Islam. Meskipun hukumnya sunnah, umroh memiliki keutamaan yang luar biasa, terutama jika dilakukan pada waktu-waktu yang istimewa, salah satunya adalah bulan Ramadhan. Dalam hadits-hadits shahih, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa umroh di bulan Ramadhan memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan umroh di bulan-bulan lainnya.
Hadits Keutamaan Umroh di Bulan Ramadhan
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya umroh di bulan Ramadhan setara dengan (pahala) haji.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW juga bersabda:
“Sesungguhnya umroh di bulan Ramadhan setara dengan (pahala) haji bersamaku.”(HR. Bukhari)
Hadits-hadits ini menunjukkan bahwa umroh yang dilakukan di bulan Ramadhan memiliki keutamaan yang sangat besar. Bahkan, pahala yang didapatkan dikatakan setara dengan pahala ibadah haji.
Meskipun hadits di atas menyatakan bahwa umroh di bulan Ramadhan setara dengan haji, para ulama menegaskan bahwa ini tidak berarti umroh dapat menggantikan kewajiban haji bagi yang mampu. Haji tetap menjadi rukun Islam yang harus dilaksanakan bagi mereka yang memenuhi syarat.
Imam Nawawi menjelaskan bahwa maksud dari hadits ini adalah kesetaraan ini dalam hal pahala, bukan dalam hal hukum. Artinya, orang yang melaksanakan umroh di bulan Ramadhan akan mendapatkan pahala yang luar biasa, seperti pahala haji, tetapi tidak menggugurkan kewajiban haji yang sebenarnya.
Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bari juga menyatakan bahwa keutamaan ini adalah bentuk kemurahan Allah SWT kepada hamba-Nya, khususnya mereka yang mungkin belum mampu melaksanakan haji secara langsung.
Keistimewaan Umroh di Bulan Ramadhan
Ada beberapa keistimewaan umroh di bulan Ramadhan yang menjadikannya lebih utama dibandingkan di waktu-waktu lain, di antaranya:
1. Pahala Dilipatgandakan
Bulan Ramadhan adalah bulan penuh berkah, di mana pahala amal ibadah dilipatgandakan. Karena itu, melakukan umroh pada bulan ini menjadi lebih istimewa dibandingkan pada bulan lainnya.
2. Menggabungkan Dua Ibadah Utama
Ramadhan sendiri adalah waktu yang penuh dengan ampunan dan rahmat Allah. Dengan melaksanakan umroh di bulan ini, seorang Muslim bisa mendapatkan keutamaan ganda: keistimewaan Ramadhan dan keutamaan umroh.
3. Kesempatan Mendapatkan Lailatul Qadar
Bagi mereka yang melaksanakan umroh di akhir Ramadhan, mereka juga memiliki peluang besar untuk meraih malam Lailatul Qadar, yaitu malam yang lebih baik dari seribu bulan.
4. Mendapatkan Ampunan Dosa
Salah satu keutamaan umroh adalah sebagai penghapus dosa, sebagaimana sabda Nabi SAW:
“Dari umroh ke umroh berikutnya adalah penghapus dosa di antara keduanya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Ketika umroh dilakukan di bulan Ramadhan, di mana Allah SWT membuka pintu ampunan-Nya selebar-lebarnya, maka kesempatan untuk diampuni dosa semakin besar.
Umroh di bulan Ramadhan memiliki keutamaan yang luar biasa. Berdasarkan hadits shahih, umroh di bulan Ramadhan memiliki pahala yang setara dengan haji, meskipun tidak menggugurkan kewajiban haji bagi yang mampu.
Bulan Ramadhan adalah waktu yang penuh berkah, di mana setiap amal ibadah dilipatgandakan pahalanya. Oleh karena itu, bagi mereka yang memiliki kesempatan dan kemampuan, melaksanakan umroh di bulan ini adalah pilihan yang sangat istimewa. Selain mendapatkan pahala besar, juga menjadi kesempatan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Semoga kita semua diberikan kesempatan oleh Allah untuk melaksanakan umroh, khususnya di bulan Ramadhan, dan mendapatkan keberkahan serta ampunan-Nya. Aamiin.
*Tunaikan zakat, infaq, sedekah melalui Kantor Digital BAZNAS Kota Yogyakarta.https://kotayogya.baznas.go.id/bayarzakat Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id
Editor : Ashifuddin Fikri
Writer : Nur Isnaini Masyithoh
BERITA05/03/2025 | Nur Isnaini Masyithoh
Ramadhan dan Keluarga: Mempererat Ikatan dengan Kebersamaan
Ramadhan, bulan suci penuh berkah, rahmat, dan ampunan bagi umat Islam, merupakan anugerah Ilahi yang tak ternilai. Lebih dari sekadar menahan lapar dan dahaga, puasa Ramadhan merupakan perjalanan spiritual yang mendalam, mendorong peningkatan ketakwaan, perbaikan akhlak, dan penguatan hubungan, terutama dalam lingkup keluarga. Bulan ini menjadi jembatan emas untuk memperkokoh ikatan kasih sayang dan saling pengertian antar anggota keluarga, menciptakan kenangan indah yang akan dikenang sepanjang hayat. Artikel ini akan mengeksplorasi makna Ramadhan secara detail, menjelaskan pentingnya bulan ini dalam konteks spiritual, sosial, dan keluarga, serta bagaimana bulan ini dapat memperkuat ikatan antar anggota keluarga, didukung oleh dalil-dalil agama dan dibumbui dengan kisah-kisah personal yang relevan.
Makna Ramadhan: Sebuah Perjalanan Spiritual dan Sosial yang Mendalam
Ramadhan, berasal dari kata "ramida" yang berarti panas yang membakar, merupakan bulan kesembilan dalam kalender Hijriyah dan dianggap sebagai bulan paling mulia dalam Islam. Keistimewaannya terletak pada kewajiban puasa, yang bukan hanya sekadar menahan lapar dan dahaga secara fisik, tetapi juga menahan diri dari perbuatan tercela, seperti berbohong, menggunjing, dan berbuat zalim. Puasa Ramadhan melatih pengendalian diri, membentuk karakter yang lebih baik, dan meningkatkan kepekaan terhadap penderitaan orang lain. Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur'an:
"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 183)
Ayat ini menekankan tujuan utama puasa Ramadhan, yaitu untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Ketakwaan ini bukan hanya manifestasi dalam ibadah ritual, tetapi juga tercermin dalam perilaku sehari-hari, termasuk dalam interaksi dengan keluarga. Ramadhan menjadi momentum untuk memperbaiki hubungan dengan anggota keluarga, meningkatkan komunikasi, dan membangun rasa saling pengertian yang lebih mendalam. Selain itu, Ramadhan juga merupakan bulan di mana Al-Qur'an diturunkan:
"Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil)." (QS. Al-Baqarah: 185)
Turunnya Al-Qur'an di bulan Ramadhan semakin mengukuhkan kemuliaan bulan ini. Al-Qur'an sebagai pedoman hidup umat Islam, memberikan tuntunan untuk membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. Nilai-nilai seperti kasih sayang, keadilan, dan kesabaran yang terkandung dalam Al-Qur'an menjadi panduan dalam menyelesaikan konflik dan membangun hubungan yang harmonis dalam keluarga.
Kebersamaan dalam Keluarga Selama Ramadhan: Membangun Fondasi Cinta dan Saling Memahami
Ramadhan bukan hanya tentang menjalankan ibadah secara individual; ia adalah kesempatan emas untuk membangun kebersamaan keluarga yang kokoh dan bermakna. Berikut beberapa cara untuk mempererat ikatan keluarga selama bulan suci ini:
Berbuka Puasa Bersama: Momen Keakraban dan Syukur
Berbuka puasa bersama keluarga merupakan tradisi yang umum dan sangat bermakna. Momen ini bukan hanya tentang menikmati hidangan, tetapi juga waktu untuk berkumpul, berbagi cerita, mengungkapkan rasa syukur atas nikmat Allah SWT, dan saling mendukung satu sama lain. Suasana hangat dan penuh kasih sayang yang tercipta selama berbuka puasa bersama dapat memperkuat ikatan emosional antar anggota keluarga. Hal ini sejalan dengan ajaran Islam yang menekankan pentingnya silaturahmi dan saling menyayangi:
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu saling mencintai, saling mengasihi, dan saling membantu." (HR. Ahmad)
Berbuka puasa bersama juga dapat menjadi kesempatan untuk mendidik anak-anak tentang pentingnya bersyukur dan berbagi dengan sesama. Orang tua dapat menjelaskan makna di balik setiap hidangan yang disajikan, serta mengajarkan anak-anak untuk menghargai makanan dan tidak membuang-buang makanan.
Shalat Tarawih Bersama: Menguatkan Ikatan Spiritual dan Keluarga
Shalat Tarawih, ibadah sunnah setelah shalat Isya, menjadi momen spiritual yang berharga jika dilakukan bersama keluarga. Suasana khusyuk dan kekompakan dalam menjalankan ibadah bersama menciptakan ikatan spiritual yang mendalam, mengajarkan nilai-nilai ketaatan dan keikhlasan. Shalat Tarawih bersama keluarga juga dapat menjadi kesempatan untuk mendidik anak-anak tentang pentingnya ibadah dan ketaatan kepada Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda:
"Barangsiapa yang berdiri (shalat) di bulan Ramadhan dengan penuh iman dan mengharapkan pahala dari Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (HR. Bukhari dan Muslim)
Melakukan shalat Tarawih bersama keluarga, baik di masjid maupun di rumah, dapat menciptakan suasana yang tenang dan damai, mempererat hubungan spiritual antar anggota keluarga.
Membaca Al-Qur'an Bersama: Mencari Hikmah dan Pemahaman Bersama
Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk meningkatkan bacaan Al-Qur'an. Membaca bersama keluarga, bergantian membacakan ayat-ayat suci, dan mendiskusikan maknanya dapat memperkaya pemahaman agama dan mempererat hubungan. Kegiatan ini dapat dilakukan secara rutin, misalnya setelah shalat Subuh atau sebelum tidur. Allah SWT berfirman:
"Dan bacalah Al-Qur'an itu dengan perlahan-lahan." (QS. Al-Muzzammil: 4)
Membaca Al-Qur'an bersama keluarga tidak hanya meningkatkan pemahaman agama, tetapi juga menciptakan momen intim dan damai, memperkuat ikatan batin antar anggota keluarga. Diskusi tentang makna ayat-ayat Al-Qur'an juga dapat meningkatkan pemahaman dan wawasan keagamaan seluruh anggota keluarga.
Beramal dan Bersedekah Bersama: Mengajarkan Nilai Kepedulian dan Empati
Beramal dan bersedekah bersama keluarga mengajarkan nilai-nilai kepedulian, empati, dan berbagi kepada sesama. Ramadhan merupakan bulan yang sangat dianjurkan untuk memperbanyak amal kebaikan dan bersedekah. Rasulullah SAW bersabda:
"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain." (HR. Ahmad)
Bersedekah bersama keluarga dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya dengan memberikan bantuan kepada fakir miskin, anak yatim, atau lembaga amal. Kegiatan ini tidak hanya memberikan manfaat bagi orang lain, tetapi juga mengajarkan anak-anak tentang pentingnya berbagi dan kepedulian terhadap sesama.
Membangun Tradisi Keluarga Selama Ramadhan: Menciptakan Kenangan Abadi
Membangun tradisi keluarga selama Ramadhan akan menciptakan kenangan indah yang akan dikenang sepanjang masa, menciptakan ikatan yang lebih kuat dan bermakna. Tradisi ini dapat berupa kegiatan sederhana, namun memiliki makna yang mendalam bagi seluruh anggota keluarga.
Memasak Bersama: Kolaborasi dan Kebahagiaan
Melibatkan seluruh anggota keluarga dalam mempersiapkan menu berbuka puasa menciptakan kolaborasi dan kebersamaan. Setiap anggota dapat berkontribusi sesuai kemampuannya, menciptakan suasana yang penuh keceriaan dan kebahagiaan.
Kegiatan Bersama: Momen Keakraban dan Kesenangan
Kegiatan seperti permainan tradisional, menonton film islami, atau diskusi keluarga dapat mempererat hubungan dan menciptakan momen-momen keakraban. Kegiatan ini dapat disesuaikan dengan usia dan minat seluruh anggota keluarga.
Waktu Berkualitas Bersama: Mendengarkan dan Memahami
Menciptakan waktu khusus untuk berbagi cerita dan pengalaman sehari-hari dapat memperkuat ikatan emosional. Mendengarkan dan memahami cerita anggota keluarga lainnya dapat meningkatkan rasa empati dan saling pengertian.
Kesimpulan
Ramadhan adalah bulan penuh berkah yang menawarkan kesempatan emas untuk mempererat ikatan keluarga dan memperkuat iman. Melalui kebersamaan dalam berbuka puasa, shalat Tarawih, membaca Al-Qur'an, dan beramal, kita dapat menciptakan kenangan indah yang akan dikenang sepanjang masa. Dengan membangun tradisi keluarga selama Ramadhan, kita tidak hanya meningkatkan hubungan antar anggota keluarga, tetapi juga memperkuat iman dan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Semoga artikel ini menginspirasi kita semua untuk memanfaatkan bulan suci ini sebaik mungkin untuk mempererat ikatan keluarga, memperkuat iman, dan menciptakan momen-momen berharga bersama.
*Tunaikan zakat, infaq, sedekah melalui Kantor Digital BAZNAS Kota Yogyakarta.https://kotayogya.baznas.go.id/bayarzakat Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id
Editor : Ashifuddin Fikri
Writer : Ashifuddin Fikri
BERITA05/03/2025 | Ashifuddin Fikri
Menjaga Lisan di Bulan Ramadhan: Bicara yang Baik atau Diam
Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah dan ampunan. Selama sebulan penuh, umat Islam di seluruh dunia menjalankan ibadah puasa, menahan diri dari makan, minum, dan berbagai hal yang membatalkan puasa dari fajar hingga terbenamnya matahari. Namun, puasa bukan hanya sekadar menahan diri dari hal-hal fisik; lebih dari itu, Ramadhan adalah waktu untuk memperbaiki diri, meningkatkan ketakwaan, dan memperbaiki akhlak. Salah satu aspek penting yang sering kali terabaikan dalam menjalankan ibadah puasa adalah menjaga lisan.
Lisan adalah salah satu anugerah terbesar yang diberikan Allah kepada manusia. Dengan lisan, kita dapat berkomunikasi, menyampaikan pesan, dan berbagi pengetahuan. Namun, lisan juga bisa menjadi sumber dosa jika tidak dijaga dengan baik. Dalam konteks Ramadhan, menjaga lisan menjadi sangat penting, karena setiap ucapan kita akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Oleh karena itu, selama bulan suci ini, kita diingatkan untuk berbicara dengan baik atau lebih baik diam.
Pentingnya Menjaga Lisan
Menjaga lisan adalah bagian dari pengendalian diri yang sangat penting dalam Islam. Dalam banyak kesempatan, Rasulullah SAW mengingatkan umatnya untuk berhati-hati dalam berbicara. Ucapan yang tidak baik dapat menimbulkan perpecahan, kebencian, dan konflik di antara sesama. Oleh karena itu, menjaga lisan selama bulan Ramadhan bukan hanya sekadar anjuran, tetapi merupakan kewajiban bagi setiap Muslim yang ingin meraih keberkahan dan ampunan Allah.
Menjaga Hubungan Sosial
Ucapan yang baik dapat mempererat hubungan antar sesama. Dalam masyarakat, komunikasi yang baik adalah kunci untuk membangun hubungan yang harmonis. Selama Ramadhan, ketika umat Islam berusaha untuk meningkatkan ibadah dan akhlak, menjaga lisan menjadi sangat penting untuk menciptakan suasana yang saling menghormati dan mendukung. Ucapan yang baik dapat menghindarkan kita dari konflik dan perpecahan, serta memperkuat ikatan persaudaraan.
Meningkatkan Kualitas Ibadah
Menjaga lisan juga berkontribusi pada kualitas ibadah kita. Dalam bulan Ramadhan, setiap amal baik akan dilipatgandakan pahalanya. Dengan berbicara baik dan menghindari ucapan yang tidak bermanfaat, kita dapat meningkatkan nilai ibadah kita. Ucapan yang baik adalah bagian dari amal saleh yang akan mendatangkan ridha Allah SWT. Sebaliknya, ucapan yang buruk dapat mengurangi pahala puasa dan ibadah lainnya.
Mencegah Dosa dan Perbuatan Buruk
Lisan adalah salah satu anggota tubuh yang paling mudah terjerumus ke dalam dosa. Ucapan yang tidak terjaga dapat menyebabkan fitnah, ghibah (menggunjing), dan perdebatan yang tidak bermanfaat. Dalam bulan Ramadhan, kita diajarkan untuk lebih berhati-hati dalam setiap tindakan dan ucapan. Dengan menjaga lisan, kita dapat mencegah diri dari terjerumus ke dalam perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT.
Menjadi Teladan bagi Orang Lain
Sebagai seorang Muslim, kita diharapkan untuk menjadi teladan bagi orang lain. Dengan menjaga lisan dan berbicara dengan baik, kita dapat memberikan contoh yang baik kepada keluarga, teman, dan masyarakat sekitar. Hal ini sangat penting, terutama di bulan Ramadhan, di mana banyak orang berusaha untuk memperbaiki diri. Ketika kita berbicara dengan baik, kita tidak hanya menjaga diri sendiri, tetapi juga menginspirasi orang lain untuk melakukan hal yang sama.
Mendapatkan Rahmat dan Ampunan Allah
Allah SWT sangat menyukai hamba-Nya yang berbicara dengan baik dan menjaga lisan. Dalam banyak ayat dan hadis, Allah menjanjikan rahmat dan ampunan bagi mereka yang berusaha untuk berbicara dengan baik. Selama bulan Ramadhan, ketika pintu-pintu rahmat dibuka, menjaga lisan menjadi salah satu cara untuk mendapatkan ampunan dan keberkahan dari Allah SWT.
Dalil-Dalil tentang Berkata yang Baik
Al-Qur'an Surah Al-Hujurat (49:11)
Allah SWT berfirman:
"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain; boleh jadi mereka yang diolok-olok itu lebih baik dari mereka. Dan janganlah kalian mencela diri kalian sendiri, dan janganlah kalian saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk nama adalah fasik setelah beriman. Dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim."
Penjelasan: Ayat ini menekankan pentingnya menjaga lisan dari ucapan yang merendahkan atau mencela orang lain. Dalam konteks Ramadhan, menjaga lisan dari ucapan yang tidak baik sangat dianjurkan.
Hadis Riwayat Ahmad
Rasulullah SAW bersabda:
"Sesungguhnya seorang hamba akan berbicara dengan satu kalimat yang tidak diperhatikannya, yang menyebabkan ia terjatuh ke dalam neraka lebih jauh dari jarak antara timur dan barat."
Penjelasan: Hadis ini mengingatkan kita akan bahaya dari ucapan yang sembarangan. Selama Ramadhan, kita diajarkan untuk lebih berhati-hati dalam berbicara, agar tidak terjerumus dalam dosa.
Al-Qur'an Surah Al-Mu'minun (23:3)
Allah SWT berfirman:
"Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang tidak berguna."
Penjelasan: Ayat ini menekankan pentingnya menjauhi ucapan yang tidak bermanfaat. Selama bulan Ramadhan, umat Islam dianjurkan untuk fokus pada hal-hal yang positif dan bermanfaat, serta menghindari pembicaraan yang tidak ada manfaatnya.
Hadis Riwayat Ibn Majah
Rasulullah SAW bersabda:
"Orang yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik ucapannya."
Penjelasan: Hadis ini menekankan bahwa kualitas ucapan seseorang mencerminkan kepribadiannya. Selama bulan Ramadhan, kita didorong untuk menjadi pribadi yang lebih baik melalui ucapan yang baik.
Pilihan: Bicara yang Baik atau Diam
Dalam konteks menjaga lisan, kita dihadapkan pada dua pilihan: berbicara yang baik atau diam. Keduanya memiliki keutamaan dan manfaat tersendiri.
Bicara yang Baik
Berbicara yang baik adalah salah satu cara untuk menyebarkan kebaikan dan memberikan manfaat kepada orang lain. Ucapan yang baik dapat memberikan semangat, menghibur, dan mendidik. Dalam bulan Ramadhan, berbicara yang baik juga dapat menjadi bentuk ibadah yang mendatangkan pahala. Misalnya, memberikan nasihat yang baik, mengucapkan kata-kata yang menyemangati, atau berbagi ilmu yang bermanfaat.
Diam
Di sisi lain, ada kalanya diam adalah pilihan yang lebih baik. Dalam situasi di mana kita tidak memiliki sesuatu yang baik untuk diucapkan, lebih baik untuk diam. Diam dapat mencegah kita dari terjerumus ke dalam ucapan yang tidak bermanfaat atau bahkan berbahaya. Dalam konteks Ramadhan, diam juga dapat menjadi bentuk pengendalian diri dan refleksi diri. Ini adalah waktu untuk merenungkan tindakan dan ucapan kita, serta berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Kesimpulan
Menjaga lisan di bulan Ramadhan adalah bagian integral dari ibadah dan pengendalian diri. Dengan memahami pentingnya menjaga lisan, kita dapat lebih berkomitmen untuk berbicara dengan baik dan menghindari ucapan yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain. Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas akhlak kita, termasuk dalam hal ucapan. Dengan demikian, kita dapat menjalani bulan suci ini dengan penuh keberkahan dan kebaikan.
*Tunaikan zakat, infaq, sedekah melalui Kantor Digital BAZNAS Kota Yogyakarta.https://kotayogya.baznas.go.id/bayarzakat Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id
Editor : Ashifuddin Fikri
Writer : Ashifuddin Fikri
BERITA05/03/2025 | Ashifuddin Fikri
Fidyah: Memahami Esensi dan Hikmahnya dalam Menjalankan Ibadah Ramadhan
Fidyah merupakan salah satu bentuk kompensasi yang diberikan oleh seseorang yang tidak dapat menjalankan puasa di bulan Ramadhan karena alasan tertentu, seperti sakit atau usia lanjut.
Dalam Islam, fidyah berfungsi sebagai pengganti puasa yang tidak dapat dilaksanakan, dan biasanya berupa makanan pokok atau uang yang disalurkan kepada orang yang membutuhkan.
a. Esensi Fidyah
Esensi fidyah terletak pada prinsip solidaritas dan kepedulian sosial.
Dengan membayar fidyah, seseorang tidak hanya menunaikan kewajiban agama, tetapi juga membantu sesama yang kurang beruntung.
Hal ini mencerminkan nilai-nilai kemanusiaan dan kepedulian dalam masyarakat.
b. Hikmah Fidyah
1. Menjaga Keseimbangan Sosial
Fidyah membantu mendistribusikan rezeki kepada mereka yang membutuhkan, sehingga menciptakan keseimbangan dalam masyarakat.
2. Meningkatkan Rasa Syukur
Dengan memberikan fidyah, seseorang diingatkan untuk bersyukur atas nikmat yang dimiliki, terutama kesehatan dan kemampuan untuk berpuasa.
3. Mendekatkan Diri kepada Allah
Menunaikan fidyah merupakan bentuk ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah, sekaligus menunjukkan kepatuhan terhadap syariat.
Fidyah bukan sekadar kewajiban, tetapi juga merupakan sarana untuk memperkuat ikatan sosial dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya berbagi.
Dalam menjalankan ibadah Ramadhan, memahami esensi dan hikmah fidyah dapat memperkaya pengalaman spiritual kita.
Sumber:
1. Al-Qur'an, Surah Al-Baqarah (2:184-185).
2. Hadis Nabi Muhammad SAW tentang fidyah.
3. Buku "Fidyah dan Kewajiban Puasa" oleh Dr. Ahmad Zainuddin.
Penulis:
Aulia Anastasya Putri Permana
Editor:
M. Kausari Kaidani
BERITA05/03/2025 | Aulia Anastasya Putri Permana
Fidyah sebagai Kewajiban Umat Beragama untuk Mewujudkan Keadilan Sosial
Fidyah adalah kewajiban yang harus dipenuhi oleh umat Islam yang tidak dapat menjalankan puasa di bulan Ramadhan karena alasan tertentu, seperti sakit atau usia lanjut.
Dalam konteks ini, fidyah bukan hanya sekadar pengganti puasa, tetapi juga merupakan bentuk tanggung jawab sosial yang mendalam.
Dengan membayar fidyah, umat beragama berkontribusi pada kesejahteraan masyarakat, terutama bagi mereka yang kurang mampu.
a. Keadilan Sosial dalam Islam
Islam mengajarkan pentingnya keadilan sosial, di mana setiap individu memiliki hak untuk mendapatkan kebutuhan dasar.
Fidyah berfungsi sebagai alat untuk mendistribusikan rezeki dan membantu mereka yang membutuhkan.
Dengan memberikan fidyah, umat beragama tidak hanya menunaikan kewajiban spiritual, tetapi juga berperan aktif dalam menciptakan masyarakat yang lebih adil dan sejahtera.
b. Manfaat Fidyah
1. Meningkatkan Solidaritas
Fidyah memperkuat ikatan sosial di antara anggota masyarakat, menciptakan rasa saling peduli.
2. Mendorong Berbagi
Dengan membayar fidyah, umat beragama diajak untuk berbagi rezeki dan membantu sesama.
3. Mewujudkan Keadilan
Fidyah membantu mengurangi kesenjangan sosial dengan memberikan dukungan kepada yang membutuhkan.
Fidyah adalah kewajiban yang memiliki makna lebih dari sekadar pengganti puasa.
Ia merupakan sarana untuk mewujudkan keadilan sosial dan memperkuat solidaritas di dalam masyarakat.
Dengan memahami dan melaksanakan fidyah, umat beragama dapat berkontribusi pada terciptanya masyarakat yang lebih adil dan sejahtera.
Sumber:
1. Al-Qur'an, Surah Al-Baqarah (2:184-185).
2. Hadis Nabi Muhammad SAW tentang fidyah.
3. Buku "Keadilan Sosial dalam Islam" oleh Dr. Ahmad Zainuddin.
Penulis:
Aulia Anastasya Putri Permana
Editor:
M. Kausari Kaidani
BERITA05/03/2025 | Aulia Anastasya Putri Permana
Fidyah di Bulan Ramadhan: Jembatan Kebaikan bagi yang Tidak Mampu Berpuasa
Fidyah adalah bentuk kompensasi yang diberikan oleh umat Islam yang tidak dapat menjalankan puasa di bulan Ramadhan karena alasan tertentu, seperti sakit, usia lanjut, atau kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan.
Dalam konteks ini, fidyah berfungsi sebagai jembatan kebaikan, menghubungkan mereka yang tidak mampu berpuasa dengan masyarakat yang membutuhkan.
Pentingnya Fidyah
Fidyah bukan hanya sekadar kewajiban, tetapi juga merupakan manifestasi dari nilai-nilai kemanusiaan dan solidaritas.
Dengan membayar fidyah, seseorang berkontribusi untuk membantu mereka yang kurang beruntung, sehingga menciptakan rasa saling peduli dalam masyarakat.
Fidyah biasanya berupa makanan pokok atau uang yang disalurkan kepada orang yang membutuhkan, sehingga dapat memenuhi kebutuhan dasar mereka.
Manfaat Fidyah
1. Meningkatkan Rasa Empati
Fidyah mengingatkan kita akan pentingnya berbagi dan peduli terhadap sesama.
2. Mendukung Kesejahteraan Sosial
Dengan memberikan fidyah, kita membantu mengurangi kesenjangan sosial dan mendukung mereka yang membutuhkan.
3. Menjaga Keseimbangan Spiritual
Fidyah membantu menjaga hubungan kita dengan Allah, sekaligus menunaikan kewajiban agama.
Fidyah di bulan Ramadhan adalah jembatan kebaikan yang menghubungkan umat Islam dengan sesama.
Dengan memahami dan melaksanakan fidyah, kita tidak hanya memenuhi kewajiban spiritual, tetapi juga berkontribusi pada terciptanya masyarakat yang lebih adil dan sejahtera.
Sumber:
1. Al-Qur'an, Surah Al-Baqarah (2:184-185).
2. Hadis Nabi Muhammad SAW tentang fidyah.
3. Buku "Fidyah dan Kewajiban Puasa" oleh Dr. Ahmad Zainuddin.
Penulis:
Aulia Anastasya Putri Permana
Editor:
M. Kausari Kaidani
BERITA05/03/2025 | Aulia Anastasya Putri Permana
Kunci Diterimanya Amalan di Bulan Ramadhan
Ramadhan adalah bulan penuh keberkahan, di mana pintu-pintu rahmat dan ampunan Allah SWT dibuka selebar-lebarnya. Di bulan ini, setiap amal kebaikan dilipatgandakan pahalanya. Namun, tidak semua amalan yang dilakukan secara otomatis diterima oleh Allah SWT. Ada syarat-syarat dan kunci penting yang harus dipenuhi agar ibadah yang kita lakukan diterima dan berbuah pahala sempurna.
Artikel ini akan membahas kunci utama agar amalan ibadah di bulan Ramadhan diterima berdasarkan Al-Qur’an, hadits Nabi, serta penjelasan para ulama.
1. Niat yang Ikhlas Karena Allah SWT
Niat adalah pondasi utama dalam setiap ibadah. Rasulullah SAW bersabda:
"Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang mendapatkan balasan sesuai dengan apa yang dia niatkan." (HR. Bukhari, No. 1; Muslim, No. 1907)
Puasa, shalat tarawih, sedekah, tadarus Al-Qur'an, dan amalan lainnya di bulan Ramadhan tidak akan bernilai di sisi Allah jika tidak disertai niat ikhlas. Niat yang murni karena mengharap ridha Allah SWT adalah kunci pertama diterimanya amalan.
2. Sesuai dengan Tuntunan Syariat (Ittiba')
Amalan ibadah juga harus sesuai dengan tuntunan yang diajarkan Rasulullah SAW. Ibadah yang menyimpang dari sunnah atau dipenuhi unsur bid’ah tidak akan diterima. Rasulullah SAW bersabda:
"Barang siapa melakukan suatu amalan yang tidak ada contohnya dari kami, maka amalan tersebut tertolak." (HR. Muslim, No. 1718)
Dalam konteks Ramadhan, puasa yang sah harus mengikuti ketentuan waktu, rukun, dan syarat-syaratnya. Begitu juga ibadah lainnya seperti tarawih dan zakat fitrah harus sesuai dengan ajaran Rasulullah.
3. Memperhatikan Aspek Halal dalam Hidup
Makanan, minuman, dan harta yang kita konsumsi selama Ramadhan sangat berpengaruh pada diterima atau tidaknya amalan kita. Allah SWT berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, makanlah dari rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu." (QS. Al-Baqarah: 172)
Rasulullah SAW juga bersabda tentang seorang yang berdoa tetapi makanannya haram, maka doanya tertolak (HR. Muslim, No. 1015). Maka, menjaga kehalalan rezeki sangat penting untuk memastikan amal ibadah diterima.
4. Beribadah dengan Khusyuk dan Penuh Kesadaran
Ibadah yang diterima adalah ibadah yang dilakukan dengan sepenuh hati, khusyuk, dan sadar akan tujuan utamanya, yaitu mendekatkan diri kepada Allah. Puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi juga menahan hawa nafsu dan menguatkan ketakwaan. Allah SWT berfirman:
"Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 183)
5. Menjaga Akhlak dan Perilaku
Keberhasilan ibadah di bulan Ramadhan juga tergantung pada akhlak sehari-hari. Puasa tidak hanya tentang menahan lapar, tetapi juga menjaga lisan, hati, dan perilaku dari hal-hal yang dilarang. Rasulullah SAW bersabda:
"Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan maksiat, maka Allah tidak butuh dia meninggalkan makan dan minumnya." (HR. Bukhari, No. 1903)
Artinya, puasa tanpa menjaga akhlak berpotensi membuat pahala puasa sia-sia.
6. Memperbanyak Istighfar dan Taubat
Ramadhan adalah bulan maghfirah (ampunan), maka memperbanyak istighfar dan taubat adalah kunci diterimanya amalan. Dalam sebuah hadits qudsi, Allah berfirman:
"Barang siapa mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Dan barang siapa mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa." (HR. Bukhari, No. 7405; Muslim, No. 2675)
Dengan taubat yang sungguh-sungguh, dosa-dosa diampuni dan amalan-amalan diterima.
7. Memperhatikan Hak Sesama Manusia
Ibadah yang baik tidak hanya berhubungan dengan Allah (Hablum minallah), tetapi juga dengan sesama manusia (Hablum minannas). Jangan sampai kita berpuasa dan beribadah dengan rajin, tetapi melupakan hak orang lain, menyakiti hati orang, atau berlaku zalim. Rasulullah SAW mengingatkan:
"Seorang muslim adalah yang orang lain selamat dari gangguan lisan dan tangannya." (HR. Bukhari, No. 10; Muslim, No. 40)
Kesimpulan
Diterimanya amalan ibadah di bulan Ramadhan sangat bergantung pada niat yang tulus, sesuai tuntunan syariat, menjaga makanan halal, beribadah dengan khusyuk, menjaga akhlak, memperbanyak taubat, serta memperhatikan hak sesama. Dengan memenuhi kunci-kunci ini, insyaAllah ibadah Ramadhan kita diterima dan berbuah pahala besar.
Semoga Allah SWT menerima setiap amal ibadah kita di bulan yang mulia ini dan menjadikan kita insan bertakwa. Aamiin.
*Tunaikan zakat, infaq, sedekah melalui Kantor Digital BAZNAS Kota Yogyakarta.https://kotayogya.baznas.go.id/bayarzakat Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id
Editor : Ashifuddin Fikri
Writer : Nur Isnaini Masyithoh
BERITA05/03/2025 | Nur Isnaini Masyithoh
Mengganti Puasa dengan Fidyah Antara Kewajiban dan Kesadaran
Puasa adalah salah satu rukun Islam yang memiliki makna mendalam bagi umat Muslim. Setiap tahun, saat bulan Ramadan tiba, umat Islam di seluruh dunia menjalankan ibadah puasa dengan penuh kesungguhan. Namun, ada kalanya seseorang tidak dapat menjalankan puasa karena alasan tertentu, seperti sakit, hamil, menyusui, atau perjalanan jauh. Dalam situasi seperti ini, fidyah menjadi solusi yang dihadirkan dalam syariat Islam. Fidyah adalah bentuk pengganti puasa yang tidak dapat dilaksanakan, di mana seseorang diwajibkan untuk memberi makan orang miskin atau memberikan sedekah sebagai bentuk tanggung jawab.
Kewajiban fidyah ini bukan hanya sekadar formalitas, tetapi juga merupakan cerminan dari kesadaran sosial dan spiritual. Dalam konteks ini, fidyah menjadi pengingat bagi kita untuk tidak hanya memikirkan diri sendiri, tetapi juga memperhatikan orang-orang di sekitar kita yang mungkin sedang mengalami kesulitan. Dalam Al-Qur'an, Allah SWT berfirman bahwa puasa ditetapkan untuk umat manusia agar mereka menjadi orang-orang yang bertakwa. Dengan memberikan fidyah, kita menunjukkan kepedulian kita terhadap sesama, sekaligus memperkuat ikatan sosial dalam masyarakat.
Namun, ada kalanya orang merasa enggan untuk memberikan fidyah. Hal ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor, seperti kurangnya pemahaman tentang pentingnya fidyah atau ketidakpahaman tentang cara pelaksanaannya.
Penulis:Putri Khodijah
Editor:M. Kausari Kaidani
BERITA05/03/2025 | Putri Khodijah
Fidyah dan Kesehatan Mengapa Kita Harus Memperhatikannya
Fidyah adalah salah satu aspek penting dalam ibadah puasa yang sering kali terabaikan. Ketika seseorang tidak dapat menjalankan puasa karena alasan kesehatan, fidyah menjadi solusi yang ditawarkan dalam syariat Islam. Namun, penting untuk memahami bahwa fidyah tidak hanya sekadar kewajiban, tetapi juga memiliki dampak yang signifikan terhadap kesehatan, baik bagi individu yang tidak dapat berpuasa maupun bagi masyarakat secara keseluruhan.
Dalam konteks kesehatan, puasa memiliki banyak manfaat yang telah dibuktikan oleh berbagai penelitian. Namun, bagi mereka yang tidak mampu berpuasa, seperti orang sakit atau lansia, fidyah menjadi alternatif yang harus diperhatikan. Dengan membayar fidyah, kita tidak hanya memenuhi kewajiban agama, tetapi juga berkontribusi pada kesehatan masyarakat. Memberikan makanan kepada orang miskin atau menyumbangkan uang untuk fidyah dapat membantu mereka yang membutuhkan, sehingga mereka juga dapat memenuhi kebutuhan gizi yang diperlukan untuk menjaga kesehatan.
Fidyah juga dapat dilihat sebagai bentuk perhatian terhadap kesehatan mental. Ketika seseorang tidak dapat berpuasa, mereka mungkin merasa tertekan atau bersalah karena tidak dapat menjalankan ibadah tersebut. Dengan membayar fidyah, mereka dapat merasa lebih tenang dan tidak terbebani oleh kewajiban yang tidak dapat dipenuhi.
Penulis:Putri Khodijah
Editor:M. Kausari Kaidani
BERITA05/03/2025 | Putri Khodijah
Mengganti Puasa dengan Fidyah Tradisi yang Perlu Dilestarikan
Fidyah adalah salah satu aspek penting dalam ibadah puasa yang sering kali terabaikan. Dalam konteks Islam, fidyah merupakan pengganti puasa bagi mereka yang tidak mampu menjalankannya karena alasan tertentu, seperti sakit, hamil, atau menyusui. Namun, lebih dari sekadar kewajiban, fidyah adalah tradisi yang perlu dilestarikan dan dipahami dengan baik oleh umat Muslim.
Tradisi fidyah memiliki akar yang kuat dalam ajaran Islam. Dalam Al-Qur'an, Allah SWT berfirman bahwa bagi mereka yang tidak mampu berpuasa, diwajibkan untuk memberi makan orang miskin. Ini menunjukkan bahwa fidyah bukan hanya sekadar pengganti puasa, tetapi juga sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama. Dalam konteks ini, fidyah menjadi jembatan antara individu dan masyarakat, di mana kita dapat berbagi rezeki dengan mereka yang membutuhkan.
Mengganti puasa dengan fidyah juga mencerminkan nilai-nilai solidaritas dan kepedulian sosial. Dalam masyarakat yang semakin modern, sering kali kita terjebak dalam rutinitas sehari-hari dan melupakan pentingnya berbagi dengan sesama.
Penulis:Putri Khodijah
Editor:M. Kausari Kaidani
BERITA05/03/2025 | Putri Khodijah
Transformasi Zakat di Era Digital Inovasi dalam Pengelolaan dan Distribusi
Zakat, sebagai salah satu pilar utama dalam ajaran Islam, telah mengalami transformasi signifikan seiring dengan perkembangan teknologi digital. Di era digital ini, pengelolaan dan distribusi zakat tidak lagi terbatas pada metode tradisional, tetapi telah beradaptasi dengan inovasi yang memudahkan umat Muslim untuk menunaikan kewajiban mereka. Transformasi ini tidak hanya meningkatkan efisiensi dalam pengumpulan zakat, tetapi juga memperluas jangkauan dan dampak sosial dari zakat itu sendiri.
Salah satu inovasi yang paling mencolok dalam pengelolaan zakat adalah penggunaan platform digital. Banyak lembaga zakat kini menyediakan aplikasi dan situs web yang memungkinkan individu untuk menghitung, membayar, dan mendistribusikan zakat dengan mudah. Dengan hanya beberapa klik, seorang Muslim dapat menunaikan zakat mal atau zakat fitrah tanpa harus pergi ke lokasi fisik. Hal ini sangat penting, terutama di tengah situasi pandemi yang membatasi mobilitas masyarakat. Dengan adanya platform digital, umat Muslim dapat tetap memenuhi kewajiban zakat mereka dengan aman dan nyaman.
Selain itu, teknologi digital juga memungkinkan transparansi yang lebih besar dalam pengelolaan zakat. Lembaga zakat yang menggunakan sistem digital dapat memberikan laporan yang jelas dan akurat mengenai penggunaan dana zakat. Ini menciptakan kepercayaan di kalangan masyarakat bahwa zakat yang mereka berikan benar-benar digunakan untuk membantu mereka yang membutuhkan. Dalam Al-Qur'an, Allah SWT berfirman, "Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka" (QS. At-Taubah: 103). Ayat ini menegaskan pentingnya pengelolaan zakat yang baik agar dapat memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat.
Inovasi lain yang muncul dalam pengelolaan zakat adalah penggunaan big data dan analitik. Dengan memanfaatkan data yang tersedia, lembaga zakat dapat mengidentifikasi kelompok masyarakat yang paling membutuhkan bantuan. Ini memungkinkan distribusi zakat yang lebih tepat sasaran, sehingga dana zakat dapat digunakan secara efektif untuk memberdayakan mereka yang benar-benar membutuhkan. Misalnya, analisis data dapat membantu lembaga zakat untuk menentukan daerah-daerah dengan tingkat kemiskinan yang tinggi dan merancang program-program yang sesuai untuk membantu masyarakat di daerah tersebut.
Di samping itu, media sosial juga memainkan peran penting dalam transformasi zakat. Melalui platform media sosial, lembaga zakat dapat menjangkau audiens yang lebih luas dan meningkatkan kesadaran tentang pentingnya zakat. Kampanye digital yang menarik dapat mendorong lebih banyak orang untuk berpartisipasi dalam kegiatan zakat, baik sebagai muzakki (pemberi zakat) maupun mustahik (penerima zakat). Dengan cara ini, zakat tidak hanya menjadi kewajiban agama, tetapi juga menjadi gerakan sosial yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat.
Namun, meskipun transformasi digital membawa banyak manfaat, tantangan tetap ada. Salah satu tantangan utama adalah memastikan bahwa semua individu, termasuk mereka yang tidak memiliki akses ke teknologi, tetap dapat menunaikan zakat. Oleh karena itu, penting bagi lembaga zakat untuk tetap menyediakan opsi tradisional bagi mereka yang lebih nyaman dengan metode konvensional. Selain itu, edukasi tentang zakat dan cara menunaikannya melalui platform digital juga perlu ditingkatkan agar semua kalangan masyarakat dapat berpartisipasi.
Secara keseluruhan, transformasi zakat di era digital menunjukkan bahwa inovasi dapat membawa perubahan positif dalam pengelolaan dan distribusi zakat. Dengan memanfaatkan teknologi, zakat dapat dikelola dengan lebih efisien, transparan, dan tepat sasaran. Ini tidak hanya meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga zakat, tetapi juga memperkuat peran zakat sebagai alat untuk menciptakan kesejahteraan sosial. Dengan demikian, diharapkan zakat dapat terus berkontribusi dalam membangun masyarakat yang lebih adil dan sejahtera.
Tunaikan zakat/infaq melalui Kantor Digital BAZNAS Kota Yogyakarta. https://kotayogya.baznas.go.id/bayarzakat Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id
Tunaikan zakat/infaq melalui Kantor Digital BAZNAS Kota Yogyakarta: https://kotayogya.baznas.go.id/bayarzakat Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id
Penulis: Saffanatussa'idiyah
Editor: Ummi Kiftiyah
BERITA05/03/2025 | Admin
Zakat sebagai Alat Pemberantasan Kemiskinan Strategi dan Implementasi
Zakat, sebagai salah satu rukun Islam, memiliki potensi besar dalam memberantas kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dalam konteks ini, zakat bukan hanya sekadar kewajiban agama, tetapi juga merupakan alat strategis yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah sosial yang mendalam. Dengan pendekatan yang tepat, zakat dapat menjadi solusi efektif dalam mengurangi angka kemiskinan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Salah satu strategi utama dalam pemberantasan kemiskinan melalui zakat adalah dengan mengidentifikasi dan memahami kebutuhan masyarakat yang kurang mampu. Lembaga zakat perlu melakukan survei dan analisis untuk mengetahui kelompok mana yang paling membutuhkan bantuan. Dengan data yang akurat, lembaga zakat dapat merancang program-program yang sesuai untuk membantu mereka yang berada dalam kondisi sulit. Misalnya, zakat dapat dialokasikan untuk pendidikan, kesehatan, dan pelatihan keterampilan, yang semuanya berkontribusi pada peningkatan kualitas hidup masyarakat.
Implementasi zakat sebagai alat pemberantasan kemiskinan juga memerlukan kolaborasi antara lembaga zakat, pemerintah, dan sektor swasta. Kerjasama ini penting untuk menciptakan program-program yang komprehensif dan berkelanjutan. Misalnya, lembaga zakat dapat bekerja sama dengan pemerintah untuk menyediakan akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin. Dengan memberikan beasiswa atau bantuan pendidikan, zakat dapat membantu anak-anak tersebut untuk mendapatkan pendidikan yang layak, yang pada gilirannya akan meningkatkan peluang mereka di masa depan.
Selain itu, zakat juga dapat digunakan untuk mendukung usaha kecil dan menengah (UKM) di kalangan masyarakat yang kurang mampu. Dengan memberikan modal usaha atau pelatihan keterampilan, zakat dapat memberdayakan individu untuk menciptakan lapangan kerja bagi diri mereka sendiri dan orang lain. Dalam hal ini, zakat berfungsi sebagai investasi sosial yang tidak hanya membantu individu, tetapi juga berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi lokal.
Penting untuk diingat bahwa zakat tidak hanya berfungsi sebagai bantuan sementara, tetapi juga sebagai sarana untuk menciptakan kemandirian. Dengan memberikan dukungan yang tepat, zakat dapat membantu individu dan keluarga untuk keluar dari siklus kemiskinan. Dalam Al-Qur'an, Allah SWT berfirman, "Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan taatlah kepada Rasul, agar kamu diberi rahmat" (QS. Al-Imran: 132). Ayat ini menunjukkan bahwa zakat adalah bagian integral dari kehidupan sosial yang harus dilaksanakan untuk mencapai kesejahteraan.
Namun, tantangan dalam implementasi zakat sebagai alat pemberantasan kemiskinan tetap ada. Salah satu tantangan utama adalah memastikan bahwa dana zakat digunakan secara efektif dan efisien. Oleh karena itu, lembaga zakat perlu memiliki sistem pengelolaan yang transparan dan akuntabel. Dengan demikian, muzakki (pemberi zakat) dapat yakin bahwa dana yang mereka berikan benar-benar digunakan untuk membantu mereka yang membutuhkan.
Di samping itu, edukasi tentang zakat dan perannya dalam pemberantasan kemiskinan juga perlu ditingkatkan. Masyarakat perlu memahami bahwa zakat bukan hanya kewajiban, tetapi juga merupakan kesempatan untuk berkontribusi dalam menciptakan perubahan sosial yang positif. Dengan meningkatkan kesadaran akan pentingnya zakat, diharapkan lebih banyak orang yang tergerak untuk menunaikannya dan berpartisipasi dalam program-program pemberantasan kemiskinan.
Secara keseluruhan, zakat memiliki potensi besar sebagai alat pemberantasan kemiskinan. Dengan strategi dan implementasi yang tepat, zakat dapat membantu mengurangi angka kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Ini bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi juga merupakan upaya kolektif untuk menciptakan masyarakat yang lebih adil dan sejahtera. Dengan demikian, zakat dapat menjadi salah satu solusi efektif dalam mengatasi masalah sosial yang mendalam dan menciptakan masa depan yang lebih baik bagi semua.
Tunaikan zakat/infaq melalui Kantor Digital BAZNAS Kota Yogyakarta. https://kotayogya.baznas.go.id/bayarzakat Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id
Tunaikan zakat/infaq melalui Kantor Digital BAZNAS Kota Yogyakarta: https://kotayogya.baznas.go.id/bayarzakat Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id
Penulis: Saffanatussa'idiyah
Editor: Ummi Kiftiyah
BERITA05/03/2025 | Admin

Info Rekening Zakat
Mari tunaikan zakat Anda dengan mentransfer ke rekening zakat.
BAZNAS
Info Rekening Zakat


