WhatsApp Icon
Kapan Waktu Terbaik Membayar Zakat Fitrah? Ini Penjelasannya

Zakat fitrah merupakan salah satu kewajiban yang harus ditunaikan oleh umat Islam pada bulan Ramadan menjelang Hari Raya Idulfitri. Ibadah ini memiliki tujuan untuk menyucikan diri setelah menjalankan ibadah puasa sekaligus membantu masyarakat yang membutuhkan agar dapat merasakan kebahagiaan di hari raya. Oleh karena itu, penting bagi setiap Muslim untuk memahami waktu terbaik untuk membayar zakat fitrah agar ibadah tersebut sah dan memberikan manfaat maksimal.

 

Dalam ajaran Islam, waktu pembayaran zakat fitrah telah diatur dengan jelas. Zakat fitrah tidak hanya sekadar kewajiban tahunan, tetapi juga memiliki waktu pelaksanaan yang dianjurkan agar manfaatnya dapat dirasakan secara optimal oleh para penerima zakat atau mustahik. Dengan menunaikan zakat fitrah pada waktu yang tepat, umat Islam dapat memastikan bahwa bantuan tersebut sampai kepada mereka yang membutuhkan sebelum Hari Raya Idulfitri tiba.

Hal ini juga dijelaskan dalam hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar:
"Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah sebelum orang-orang keluar untuk melaksanakan salat Id."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis tersebut menunjukkan bahwa zakat fitrah sebaiknya ditunaikan sebelum pelaksanaan salat Idulfitri. Tujuannya agar para penerima zakat dapat memanfaatkan bantuan tersebut untuk memenuhi kebutuhan mereka pada hari raya.

Agar lebih jelas, berikut beberapa waktu pelaksanaan zakat fitrah yang perlu diketahui oleh umat Islam:

Awal Waktu Pembayaran Zakat Fitrah
Zakat fitrah sebenarnya sudah dapat dibayarkan sejak awal bulan Ramadan. Hal ini dilakukan untuk memudahkan proses pengumpulan dan penyaluran zakat kepada para mustahik. Banyak lembaga zakat yang mulai membuka layanan pembayaran zakat fitrah sejak awal Ramadan agar masyarakat memiliki waktu yang cukup untuk menunaikan kewajiban tersebut.

Pembayaran zakat fitrah pada awal Ramadan juga membantu lembaga zakat dalam mengelola distribusi bantuan secara lebih terencana dan tepat sasaran.

Waktu yang Paling Utama
Meskipun zakat fitrah boleh dibayarkan sejak awal Ramadan, waktu yang paling utama untuk menunaikannya adalah pada malam takbiran hingga sebelum pelaksanaan salat Idulfitri. Pada waktu inilah zakat fitrah sangat dianjurkan untuk ditunaikan karena manfaatnya dapat langsung dirasakan oleh para penerima zakat menjelang hari raya.

Dengan menerima zakat fitrah pada waktu tersebut, masyarakat yang membutuhkan dapat mempersiapkan kebutuhan mereka untuk merayakan Idulfitri dengan lebih layak dan bahagia.

Waktu yang Makruh untuk Menunda
Menunda pembayaran zakat fitrah hingga mendekati waktu salat Idulfitri sebenarnya tidak dianjurkan apabila berpotensi membuat zakat tidak tersalurkan tepat waktu. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk tidak menunda pembayaran zakat fitrah jika sudah memiliki kemampuan untuk menunaikannya.

Menunda zakat fitrah tanpa alasan yang jelas dapat menyebabkan keterlambatan penyaluran kepada mustahik, sehingga tujuan utama zakat fitrah untuk membantu masyarakat menjelang hari raya tidak tercapai secara maksimal.

Waktu yang Tidak Diperbolehkan
Jika zakat fitrah dibayarkan setelah pelaksanaan salat Idulfitri tanpa alasan yang dibenarkan, maka zakat tersebut tidak lagi dihitung sebagai zakat fitrah, melainkan hanya sebagai sedekah biasa. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadis Rasulullah SAW:
"Barang siapa yang menunaikannya sebelum salat Id, maka itu adalah zakat yang diterima. Dan barang siapa yang menunaikannya setelah salat Id, maka itu hanya dianggap sebagai sedekah biasa."
(HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah)

Hadis ini menunjukkan pentingnya memperhatikan waktu pembayaran zakat fitrah agar ibadah tersebut sah dan sesuai dengan ketentuan syariat.

Dengan memahami waktu terbaik untuk membayar zakat fitrah, umat Islam dapat melaksanakan ibadah ini dengan lebih baik dan penuh kesadaran. Zakat fitrah bukan hanya sekadar kewajiban, tetapi juga menjadi sarana untuk memperkuat kepedulian sosial dan solidaritas antar sesama.

Melalui zakat fitrah, umat Islam diajak untuk berbagi kebahagiaan dengan masyarakat yang membutuhkan agar semua orang dapat merasakan keberkahan dan kebahagiaan pada Hari Raya Idulfitri.

Kini, menunaikan zakat fitrah juga semakin mudah dengan adanya layanan digital dari berbagai lembaga zakat terpercaya. Dengan menyalurkan zakat melalui lembaga resmi, muzakki dapat memastikan bahwa zakat yang diberikan akan sampai kepada mustahik secara tepat, aman, dan transparan.

 

Mari tunaikan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Kota Yogyakarta.
Mari salurkan fidyah dan dana sosial keagamaan lainnya secara amanah dan tepat sasaran.
Mari perkuat kepedulian sosial dengan ZIS DSKL BAZNAS Kota Yogyakarta.

Mari bayar fidyah melalui link kantor digital di bawah ini:
https://kotayogya.baznas.go.id/sedekah

atau hubungi Layanan Muzaki BAZNAS Kota Yogyakarta di 0821-4123-2770 untuk informasi dan pendampingan lebih lanjut.

Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id

#BAZNASKotaYogyakarta
#PerbedaanInfakDanShodaqoh
#Infak
#Shodaqoh
#Sedekah
#AmalKebaikan
#BerbagiKebaikan
#YukInfakDanSedekah

editor: Banyu Bening

17/03/2026 | Kontributor: Adilah
Amalan Rasulullah SAW di Sepuluh Hari Terakhir Ramadan

Memasuki sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan, suasana batin umat Islam biasanya mulai terbagi. Di satu sisi, ada kegembiraan menyambut hari kemenangan (Idul Fitri), namun di sisi lain, ada rasa sedih karena bulan suci akan segera berlalu. Bagi Rasulullah SAW, fase akhir Ramadan bukanlah waktu untuk bersantai, melainkan momentum untuk melakukan "akselerasi" ibadah yang lebih kencang dari hari-hari sebelumnya.

 

Rasulullah SAW memberikan contoh nyata tentang bagaimana seorang hamba seharusnya menghargai waktu-waktu emas ini. Beliau tidak hanya sekadar berpuasa, tetapi mengubah total ritme hidupnya demi mengejar rida Allah SWT. Berikut adalah amalan-amalan utama Rasulullah SAW yang patut kita teladani.

1. Menghidupkan Malam dengan Ibadah (Qiyamul Lail)
Dalam sebuah riwayat dari Sayyidah Aisyah RA, diceritakan bahwa Rasulullah SAW tidak pernah sesungguh-sungguh dalam beribadah di waktu lain melebihi kesungguhannya di sepuluh hari terakhir Ramadan. Beliau "menghidupkan malamnya", yang artinya beliau meminimalkan waktu tidur untuk diisi dengan shalat malam, zikir, dan doa.

Bagi kita, menghidupkan malam bisa dimulai dengan konsistensi shalat Tarawih, yang kemudian disambung dengan shalat Tahajud, Witir, dan membaca Al-Qur'an hingga waktu sahur tiba. Tujuannya adalah memastikan bahwa tidak ada satu detik pun di malam-malam mulia tersebut yang terlewat tanpa nilai ibadah.

2. Membangunkan Keluarga untuk Beribadah
Rasulullah SAW adalah sosok pemimpin keluarga yang sangat perhatian pada keselamatan spiritual anggota keluarganya. Beliau tidak ingin beribadah sendirian. Di sepuluh malam terakhir, beliau membangunkan istri-istri dan keluarga untuk ikut serta dalam kebaikan malam tersebut.

Hal ini memberikan pelajaran bahwa kesalehan tidak boleh bersifat individual. Sebagai kepala keluarga atau anggota keluarga, kita diajak untuk saling menyemangati, mengajak anak, istri, atau saudara untuk bangun di sepertiga malam terakhir guna memanjatkan doa bersama.

3. Ber-Itikaf di Masjid
Itikaf adalah amalan yang hampir tidak pernah ditinggalkan oleh Nabi SAW selama sepuluh hari terakhir Ramadan hingga beliau wafat. Beliau mengisolasi diri dari kesibukan duniawi dan menetap di masjid.

Itikaf merupakan cara terbaik untuk melakukan "detoksifikasi hati" dari pengaruh dunia. Dengan berdiam diri di rumah Allah, fokus kita hanya tertuju pada satu titik: hubungan antara hamba dengan Sang Pencipta. Di tengah hiruk-pikuk persiapan Lebaran yang sering menguras energi dan pikiran, itikaf menjadi pelindung agar hati tetap terjaga dalam kekhusyukan.

4. Memperbanyak Sedekah dan Kebaikan
Meskipun Rasulullah SAW dikenal sebagai pribadi yang sangat dermawan, kedermawanan beliau di bulan Ramadan, terutama di penghujungnya, digambarkan seperti "angin yang berembus kencang"—sangat cepat dan sangat luas manfaatnya.

Sepuluh hari terakhir adalah waktu terbaik untuk menunaikan zakat mal, zakat fitrah, maupun sedekah sunnah. Menolong sesama, memberi makan orang miskin, atau membantu fasilitas masjid adalah amalan yang sangat disukai Nabi SAW di fase ini.

5. Mencari Lailatul Qadar dengan Doa Khusus
Motivasi terbesar di balik semua amalan tersebut adalah harapan untuk bertemu dengan Lailatul Qadar. Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk "berburu" malam kemuliaan tersebut di malam-malam ganjil.

Beliau juga mengajarkan satu doa padat makna untuk dibaca berulang-ulang:
“Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni”
(Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan Engkau menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku).

Doa ini menitikberatkan pada permohonan maaf ('afwu), yang maknanya lebih dalam daripada sekadar ampunan (maghfirah), karena 'afwu berarti menghapus dosa hingga tak berbekas sedikit pun.

Mungkin sulit bagi sebagian kita untuk beritikaf penuh selama sepuluh hari karena tuntutan pekerjaan. Namun, kita bisa memodifikasinya dengan cara:

  • Itikaf Parsial: Berniat itikaf setiap kali memasuki masjid untuk shalat berjamaah atau menghadiri kajian malam.
  • Manajemen Tidur: Tidur lebih awal agar bisa bangun lebih segar di sepertiga malam terakhir.
  • Digital Detox: Mengurangi penggunaan media sosial yang tidak perlu agar waktu luang bisa digunakan untuk membaca Al-Qur'an.

Sepuluh hari terakhir Ramadan adalah fase penentuan. Rasulullah SAW telah menunjukkan bahwa akhir Ramadan adalah puncak perjuangan spiritual, bukan titik jenuh. Dengan menghidupkan malam, mengajak keluarga beribadah, dan memperbanyak sedekah, kita sedang berupaya mengakhiri Ramadan sebagai pemenang yang mendapatkan ampunan total.

Semoga kita diberikan kekuatan untuk meneladani spirit ibadah Rasulullah SAW hingga fajar Idul Fitri menyingsing.

 

Mari bayar zakat, infak, dan sedekah online melalui BAZNAS Kota Yogyakarta.
Mari bayar fidyah dan dana sosial keagamaan lainnya secara online dengan penyaluran amanah dan tepat sasaran.
Mari perkuat kepedulian sosial dengan ZIS DSKL BAZNAS Kota Yogyakarta.
Mari bayar fidyah melalui link kantor digital di bawah ini: https://kotayogya.baznas.go.id/sedekah atau hubungi Layanan Muzaki BAZNAS Kota Yogyakarta di 0821-4123-2770 untuk informasi dan pendampingan lebih lanjut.
Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id

#RamadanPenuhBerkah
#AmalanRasulullahRamadan
#PuasaRamadan2026
#BayarZakatJogja
#AmalanUtamaRamadan

editor: Banyu Bening

17/03/2026 | Kontributor: Kifti
BAZNAS Kota Yogyakarta Salurkan Bantuan pada Safari Shubuh Pemerintah Kota Yogyakarta di Masjid Baiturrahman

Yogyakarta – Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Yogyakarta turut berpartisipasi dalam kegiatan Safari Subuh yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Yogyakarta di Masjid Baiturrahman, Wirogunan, Kemantren Mergangsan, Sabtu (14/3/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian program Safari Ramadan Pemerintah Kota Yogyakarta yang bertujuan mempererat silaturahmi antara pemerintah daerah, lembaga, dan masyarakat.

Safari Subuh tersebut dihadiri langsung oleh Wali Kota Yogyakarta bersama para Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Kota Yogyakarta. Selain itu, hadir pula tokoh masyarakat, pengurus masjid, dan jamaah Masjid Baiturrahman yang mengikuti kegiatan dengan penuh khidmat sejak pelaksanaan salat Subuh berjamaah hingga rangkaian acara selesai.

Dalam kesempatan tersebut, Ketua BAZNAS Kota Yogyakarta, Drs. H. Syamsul Azhari, hadir mewakili BAZNAS Kota Yogyakarta dan menyalurkan bantuan kepada Masjid Baiturrahman. Bantuan yang diberikan berupa uang tunai sebesar Rp2.000.000 serta satu kotak perlengkapan P3K. Bantuan ini diberikan sebagai bentuk dukungan terhadap kegiatan kemasjidan serta pelayanan bagi jamaah yang beribadah di masjid.

Ketua BAZNAS Kota Yogyakarta, Drs. H. Syamsul Azhari, menyampaikan bahwa bantuan tersebut merupakan bagian dari komitmen BAZNAS untuk terus hadir di tengah masyarakat dan mendukung kegiatan keagamaan, khususnya di masjid. Menurutnya, masjid memiliki peran penting tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat kegiatan sosial dan pembinaan umat.

“Kami berharap bantuan ini dapat dimanfaatkan dengan baik oleh pengurus masjid untuk mendukung kegiatan ibadah serta pelayanan kepada jamaah, khususnya selama bulan suci Ramadan,” ujarnya.

Sementara itu, Takmir Masjid Baiturrahman menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada BAZNAS Kota Yogyakarta serta Pemerintah Kota Yogyakarta atas perhatian dan bantuan yang diberikan kepada masjid. Bantuan tersebut dinilai sangat membantu dalam menunjang berbagai kegiatan keagamaan yang dilaksanakan di lingkungan masjid.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada BAZNAS Kota Yogyakarta atas bantuan yang diberikan kepada Masjid Baiturrahman. Bantuan ini tentu sangat bermanfaat bagi kami, terutama untuk mendukung kegiatan ibadah serta pelayanan kepada jamaah,” ungkap perwakilan takmir masjid.

Ia juga berharap sinergi antara pemerintah daerah, BAZNAS, dan masyarakat dapat terus terjalin dengan baik sehingga kegiatan keagamaan dan sosial di masyarakat dapat berjalan lebih optimal.

Kegiatan Safari Subuh ini tidak hanya menjadi sarana ibadah bersama, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat hubungan antara pemerintah, lembaga, dan masyarakat. Melalui kegiatan ini, berbagai program sosial dan keagamaan dapat disampaikan secara langsung kepada masyarakat sehingga terbangun komunikasi yang baik dan semangat kebersamaan di tengah masyarakat.

Pada kesempatan tersebut, BAZNAS Kota Yogyakarta juga mengajak masyarakat untuk memanfaatkan momentum Ramadan dengan meningkatkan kepedulian sosial melalui zakat, infak, dan sedekah. Ramadan merupakan waktu yang penuh keberkahan dan menjadi kesempatan terbaik bagi umat Islam untuk berbagi kepada sesama.

BAZNAS Kota Yogyakarta mengajak masyarakat untuk menunaikan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS sebagai lembaga resmi pengelola zakat yang amanah dan terpercaya. Dana yang dihimpun nantinya akan disalurkan kepada para mustahik melalui berbagai program sosial, pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi.

Melalui semangat berbagi di bulan suci Ramadan, BAZNAS Kota Yogyakarta berharap semakin banyak masyarakat yang tergerak untuk menunaikan zakat dan sedekah sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh lebih banyak masyarakat yang membutuhkan serta memperkuat kesejahteraan umat di Kota Yogyakarta.

Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id 

#HartaBerkahJiwaSakinah
#PengelolaZakatTerbaikTerpercaya
#AmanahProfesionalTransparan
#TerimakasihMuzakiDanMustahiq

16/03/2026 | Kontributor: Humas BAZNAS Kota Yogyakarta
BAZNAS Kota Yogyakarta Hadiri Safari Subuh Terakhir Ramadhan 1447 H di Masjid Baitul Hamdi

Yogyakarta – Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Yogyakarta turut berpartisipasi dalam kegiatan Safari Subuh Pemerintah Kota Yogyakarta yang diselenggarakan di Masjid Baitul Hamdi, Muja Muju, Kemantren Umbulharjo, Minggu (15/3/2026). Kegiatan ini menjadi Safari Subuh terakhir yang dilaksanakan oleh Pemerintah Kota Yogyakarta selama bulan suci Ramadhan 1447 H.

Safari Subuh tersebut dihadiri langsung oleh Wali Kota Yogyakarta bersama jajaran Pemerintah Kota Yogyakarta, tokoh masyarakat, pengurus masjid, serta jamaah Masjid Baitul Hamdi. Sejak pelaksanaan salat Subuh berjamaah hingga rangkaian acara selesai, kegiatan berlangsung dengan penuh kekhidmatan dan kebersamaan.

Kehadiran rombongan pemerintah dalam Safari Subuh ini merupakan bagian dari upaya mempererat silaturahmi antara pemerintah daerah dengan masyarakat, sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah selama bulan Ramadhan. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi sarana untuk menyampaikan berbagai program pemerintah kepada masyarakat secara langsung.

Dalam kesempatan tersebut, Ketua BAZNAS Kota Yogyakarta, Drs. H. Syamsul Azhari, turut hadir bersama rombongan Pemerintah Kota Yogyakarta. Pada kesempatan yang sama, BAZNAS Kota Yogyakarta juga menyalurkan bantuan kepada takmir Masjid Baitul Hamdi berupa uang tunai sebesar Rp2.000.000 serta satu box perlengkapan P3K.

Bantuan tersebut diberikan sebagai bentuk dukungan BAZNAS Kota Yogyakarta terhadap kegiatan kemasjidan serta pelayanan bagi jamaah yang beribadah di masjid. Diharapkan bantuan tersebut dapat membantu pengurus masjid dalam menunjang berbagai kegiatan ibadah dan sosial di lingkungan Masjid Baitul Hamdi.

Ketua BAZNAS Kota Yogyakarta, Drs. H. Syamsul Azhari, menyampaikan bahwa masjid memiliki peran penting tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat kegiatan sosial dan pembinaan umat. Oleh karena itu, BAZNAS berkomitmen untuk terus mendukung kegiatan kemasjidan di Kota Yogyakarta.

“Kami berharap bantuan ini dapat dimanfaatkan dengan baik oleh pengurus masjid untuk mendukung kegiatan ibadah dan pelayanan kepada jamaah. Semoga Masjid Baitul Hamdi semakin aktif dalam menjadi pusat kegiatan keagamaan dan sosial bagi masyarakat sekitar,” ujarnya.

Sementara itu, Takmir Masjid Baitul Hamdi menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas perhatian yang diberikan oleh BAZNAS Kota Yogyakarta dan Pemerintah Kota Yogyakarta kepada masjid. Menurutnya, bantuan tersebut sangat membantu pengurus masjid dalam mendukung berbagai kegiatan yang dilaksanakan di masjid.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada BAZNAS Kota Yogyakarta atas bantuan yang diberikan kepada Masjid Baitul Hamdi. Bantuan ini sangat bermanfaat bagi kami untuk menunjang kegiatan kemasjidan dan pelayanan kepada jamaah,” ungkap perwakilan takmir masjid.

Ia juga berharap sinergi antara pemerintah daerah, BAZNAS, dan masyarakat dapat terus terjalin dengan baik sehingga berbagai kegiatan sosial dan keagamaan dapat berjalan lebih optimal serta memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, BAZNAS Kota Yogyakarta juga mengajak masyarakat untuk memanfaatkan momentum bulan suci Ramadhan dengan meningkatkan kepedulian sosial melalui zakat, infak, dan sedekah. Ramadan merupakan waktu yang penuh keberkahan dan menjadi kesempatan terbaik bagi umat Islam untuk berbagi kepada sesama, khususnya kepada masyarakat yang membutuhkan.

BAZNAS Kota Yogyakarta mengajak masyarakat untuk menunaikan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS sebagai lembaga resmi pengelola zakat yang amanah dan terpercaya. Dana zakat yang dihimpun akan disalurkan kepada para mustahik melalui berbagai program sosial, pendidikan, kesehatan, serta pemberdayaan ekonomi.

Melalui semangat berbagi di bulan Ramadhan, BAZNAS Kota Yogyakarta berharap semakin banyak masyarakat yang tergerak untuk menunaikan zakat dan sedekah sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh lebih banyak orang serta turut meningkatkan kesejahteraan umat di Kota Yogyakarta.

Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id 

#HartaBerkahJiwaSakinah
#PengelolaZakatTerbaikTerpercaya
#AmanahProfesionalTransparan
#TerimakasihMuzakiDanMustahiq

16/03/2026 | Kontributor: Humas BAZNAS Kota Yogyakarta
BAZNAS Kota Yogyakarta Rilis Laporan Pengelolaan ZIS DSKL Februari 2026

BAZNAS Kota Yogyakarta kembali merilis laporan pengelolaan dana Zakat, Infak, Sedekah, dan Dana Sosial Keagamaan Lainnya (ZIS DSKL) periode Februari 2026 sebagai bentuk transparansi dan amanah kepada masyarakat.

Pada bulan Februari 2026, total penghimpunan dana ZIS dan DSKL tercatat sebesar Rp524.092.115. Penghimpunan terbesar berasal dari zakat maal perorangan sebesar Rp345.306.948 atau 65,9 persen dari total dana yang terkumpul. Selain itu, terdapat infak dan sedekah tidak terikat sebesar Rp73.118.496 (14%), infak terikat Rp53.290.264 (10,2%), serta dana sosial keagamaan lainnya (DSKL) sebesar Rp51.616.407 (9,8%).

Secara kumulatif hingga Februari 2026, total penghimpunan ZIS dan DSKL telah mencapai Rp1.510.286.838. Angka ini menunjukkan meningkatnya kepercayaan masyarakat untuk menunaikan zakat melalui BAZNAS Kota Yogyakarta.

Pada periode yang sama, penyaluran dana ZIS per program mencapai Rp374.602.413. Penyaluran terbesar disalurkan melalui program Jogja Peduli sebesar Rp256.065.000 (68,4%) yang difokuskan pada bantuan sosial dan kemanusiaan. Selain itu, program Jogja Taqwa menerima Rp60.362.000 (16,1%), Jogja Cerdas sebesar Rp50.675.413 (13,5%), serta program Jogja Sejahtera dan Jogja Sehat untuk mendukung kesejahteraan dan layanan kesehatan masyarakat.

Sementara itu, total penyaluran ZIS dan DSKL pada Februari mencapai Rp475.945.525, dengan penerima manfaat terbesar berasal dari kelompok fakir miskin sebesar 37,1 persen. Hingga akhir Februari 2026, total penyaluran ZIS dan DSKL telah mencapai Rp1.528.131.623.

BAZNAS Kota Yogyakarta menyampaikan terima kasih kepada seluruh muzakki yang telah mempercayakan zakat, infak, dan sedekahnya. InsyaAllah setiap amanah yang dititipkan telah disalurkan kepada para mustahik yang berhak menerima.

Semoga Allah SWT membalas kebaikan para muzakki dengan pahala berlipat, melapangkan rezeki, dan menghadirkan keberkahan bagi kita semua.

Mari terus kuatkan kepedulian untuk menghadirkan lebih banyak manfaat bagi sesama.

2,5% Zakat, 100 Manfaat. Manfaatnya Dunia. Akhirat. 

Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id 

 

#HartaBerkahJiwaSakinah#PengelolaZakatTerbaikTerpercaya
#AmanahProfesionalTransparan
#TerimakasihMuzakiDanMustahiq

12/03/2026 | Kontributor: Humas BAZNAS Kota Yogyakarta

Berita Terbaru

Adakah Batasan Waktu bagi Muallaf yang Menerima Zakat?
Adakah Batasan Waktu bagi Muallaf yang Menerima Zakat?
Zakat merupakan salah satu rukun Islam yang memiliki peranan penting dalam kehidupan umat Muslim. Zakat tidak hanya berfungsi sebagai ibadah, tetapi juga sebagai sarana untuk membantu sesama, terutama bagi mereka yang membutuhkan. Salah satu kelompok yang berhak menerima zakat adalah muallaf, yaitu orang-orang yang baru saja memeluk agama Islam. Namun, muncul pertanyaan di kalangan masyarakat, adakah batasan waktu bagi muallaf yang menerima zakat? Pengertian Muallaf Muallaf adalah istilah yang digunakan untuk menyebut orang-orang yang baru saja masuk Islam. Dalam konteks zakat, muallaf termasuk dalam kategori mustahik, yaitu orang-orang yang berhak menerima zakat. Dalam Al-Qur'an, Allah SWT berfirman dalam Surah At-Taubah ayat 60, yang menyebutkan bahwa salah satu golongan yang berhak menerima zakat adalah muallaf. Batasan Waktu bagi Muallaf Dalam hal batasan waktu bagi muallaf yang menerima zakat, para ulama memiliki pandangan yang berbeda. Sebagian ulama berpendapat bahwa tidak ada batasan waktu tertentu bagi muallaf untuk menerima zakat. Mereka berargumen bahwa selama muallaf tersebut masih membutuhkan bantuan dan belum mampu secara finansial, maka mereka berhak untuk menerima zakat. Hal ini didasarkan pada prinsip keadilan dan kasih sayang dalam Islam. Namun, ada juga pendapat yang menyatakan bahwa muallaf sebaiknya hanya menerima zakat dalam jangka waktu tertentu setelah mereka memeluk Islam. Pendapat ini berlandaskan pada pertimbangan bahwa setelah beberapa waktu, muallaf diharapkan sudah dapat mandiri dan tidak lagi bergantung pada bantuan zakat. Dalam hal ini, batasan waktu yang umum disepakati adalah selama satu tahun setelah mereka memeluk Islam. Pertimbangan dalam Penyaluran Zakat kepada Muallaf Ketika menyalurkan zakat kepada muallaf, ada beberapa pertimbangan yang perlu diperhatikan: Kondisi Ekonomi: Penyaluran zakat sebaiknya mempertimbangkan kondisi ekonomi muallaf. Jika mereka masih dalam keadaan kesulitan, maka zakat dapat diberikan. Kemandirian: Setelah beberapa waktu, muallaf diharapkan dapat mandiri. Oleh karena itu, penting untuk memberikan pelatihan atau bantuan yang dapat membantu mereka untuk berdiri di atas kaki sendiri. Keterlibatan dalam Komunitas: Mendorong muallaf untuk terlibat dalam komunitas Muslim juga penting. Hal ini dapat membantu mereka merasa diterima dan mendapatkan dukungan sosial. Secara umum, muallaf berhak menerima zakat selama mereka masih membutuhkan bantuan. Meskipun ada perbedaan pendapat mengenai batasan waktu, yang terpenting adalah niat dan tujuan dari penyaluran zakat itu sendiri. Zakat seharusnya menjadi sarana untuk membantu sesama, termasuk muallaf, agar mereka dapat menjalani kehidupan yang lebih baik dalam agama Islam. Untuk informasi lebih lanjut mengenai zakat dan penyalurannya, Anda dapat menghubungi BAZNAS Yogyakarta, yang siap membantu dalam penyaluran zakat kepada yang berhak, termasuk muallaf. ===================== *Tunaikan zakat/infaq, melalui Kantor Digital BAZNAS Kota Yogyakarta. https://kotayogya.baznas.go.id/bayarzakat Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id Editor: Ummi Kiftiyah
BERITA12/03/2025 | admin
Bolehkah Zakat Disalurkan pada Saudara Kandung?
Bolehkah Zakat Disalurkan pada Saudara Kandung?
Zakat merupakan salah satu rukun Islam yang wajib dilaksanakan oleh setiap Muslim yang memenuhi syarat. Zakat berfungsi sebagai sarana untuk membersihkan harta dan membantu sesama, terutama mereka yang membutuhkan. Namun, dalam pelaksanaannya, sering kali muncul pertanyaan mengenai siapa saja yang berhak menerima zakat, termasuk apakah zakat boleh disalurkan kepada saudara kandung. Zakat adalah harta yang dikeluarkan oleh seorang Muslim untuk diberikan kepada orang-orang yang berhak menerimanya, seperti fakir, miskin, dan golongan lainnya yang telah ditentukan dalam Al-Qur'an. Zakat terbagi menjadi beberapa jenis, di antaranya zakat mal (harta) dan zakat fitrah. Zakat mal biasanya dikeluarkan dari harta yang dimiliki, sedangkan zakat fitrah dikeluarkan menjelang Idul Fitri. Kriteria Penerima Zakat Dalam Islam, ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi oleh penerima zakat. Penerima zakat harus termasuk dalam delapan golongan yang disebutkan dalam Al-Qur'an, yaitu: Fakir Miskin Amil (petugas pengumpul zakat) Muallaf (orang yang baru masuk Islam) Hamba sahaya Orang yang berhutang Di jalan Allah Ibnu Sabil (musafir yang membutuhkan) Bolehkah Zakat Disalurkan kepada Saudara Kandung? Dalam konteks zakat, ada perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai apakah zakat boleh disalurkan kepada saudara kandung. Secara umum, zakat dapat diberikan kepada kerabat, termasuk saudara kandung, asalkan mereka memenuhi syarat sebagai penerima zakat. Pendapat yang Mengizinkan Beberapa ulama berpendapat bahwa memberikan zakat kepada saudara kandung yang membutuhkan adalah diperbolehkan. Hal ini karena saudara kandung termasuk dalam kategori kerabat yang berhak menerima zakat, terutama jika mereka berada dalam keadaan fakir atau miskin. Memberikan zakat kepada saudara kandung juga dapat mempererat tali silaturahmi dan membantu meringankan beban mereka. Pendapat yang Melarang Di sisi lain, ada juga pendapat yang melarang memberikan zakat kepada saudara kandung. Pendapat ini berargumen bahwa zakat seharusnya diberikan kepada orang-orang yang tidak memiliki hubungan darah, agar zakat tersebut lebih tepat sasaran dan tidak menimbulkan konflik kepentingan. Dalam hal ini, mereka menyarankan agar harta yang dikeluarkan untuk membantu saudara kandung sebaiknya berupa sedekah, bukan zakat. Secara umum, zakat dapat disalurkan kepada saudara kandung yang memenuhi syarat sebagai penerima zakat, terutama jika mereka dalam keadaan membutuhkan. Namun, penting untuk mempertimbangkan pendapat ulama dan situasi masing-masing. Jika ada keraguan, sebaiknya berkonsultasi dengan lembaga zakat atau ulama setempat untuk mendapatkan panduan yang lebih jelas. Untuk informasi lebih lanjut mengenai zakat dan penyalurannya, Anda dapat menghubungi BAZNAS Yogyakarta, yang siap membantu Anda dalam menyalurkan zakat dengan tepat dan sesuai syariat Islam. ===================== *Tunaikan zakat/infaq, melalui Kantor Digital BAZNAS Kota Yogyakarta. https://kotayogya.baznas.go.id/bayarzakat Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id Editor: Ummi Kiftiyah
BERITA12/03/2025 | admin
Perbedaan Zakat Mal dan Zakat Profesi
Perbedaan Zakat Mal dan Zakat Profesi
Zakat merupakan salah satu rukun Islam yang wajib dilaksanakan oleh setiap Muslim yang memenuhi syarat. Zakat memiliki berbagai jenis, di antaranya adalah zakat mal dan zakat profesi. Meskipun keduanya sama-sama merupakan bentuk kewajiban untuk membantu sesama, terdapat perbedaan mendasar antara zakat mal dan zakat profesi. Zakat Mal Zakat mal adalah zakat yang dikenakan atas harta kekayaan yang dimiliki oleh seorang Muslim. Harta yang dikenakan zakat mal meliputi berbagai jenis aset, seperti uang tunai, emas, perak, saham, properti, dan hasil pertanian. Zakat mal dihitung berdasarkan nisab, yaitu batas minimum harta yang harus dimiliki sebelum seseorang wajib membayar zakat. Nisab untuk zakat mal biasanya setara dengan 85 gram emas atau 595 gram perak. Besaran zakat mal yang harus dikeluarkan adalah 2,5% dari total harta yang dimiliki setelah mencapai nisab dan telah dimiliki selama satu tahun (haul). Zakat mal bertujuan untuk membersihkan harta dan membantu mereka yang membutuhkan, seperti fakir miskin, anak yatim, dan orang-orang yang berhak menerima zakat lainnya. Zakat Profesi Zakat profesi, di sisi lain, adalah zakat yang dikenakan atas penghasilan yang diperoleh dari pekerjaan atau profesi seseorang. Zakat ini berlaku bagi mereka yang memiliki penghasilan tetap, seperti pegawai, pengusaha, dokter, guru, dan profesi lainnya. Zakat profesi tidak terikat pada nisab seperti zakat mal, tetapi lebih kepada penghasilan yang diperoleh dalam satu tahun. Besaran zakat profesi yang harus dikeluarkan juga sebesar 2,5% dari total penghasilan bersih yang diperoleh setelah dikurangi biaya-biaya yang diperlukan untuk menjalankan profesi tersebut. Zakat profesi bertujuan untuk membantu sesama dan mendukung kesejahteraan masyarakat, serta sebagai bentuk rasa syukur atas rezeki yang diberikan oleh Allah SWT. Perbedaan Utama Objek Zakat: Zakat mal dikenakan atas harta kekayaan yang dimiliki, sedangkan zakat profesi dikenakan atas penghasilan dari pekerjaan atau profesi. Nisab: Zakat mal memiliki ketentuan nisab yang harus dipenuhi, sedangkan zakat profesi tidak terikat pada nisab tertentu. Waktu Pembayaran: Zakat mal biasanya dibayarkan setelah satu tahun kepemilikan harta, sedangkan zakat profesi dibayarkan setiap kali seseorang menerima penghasilan. Tujuan: Meskipun keduanya bertujuan untuk membantu sesama, zakat mal lebih fokus pada pembersihan harta, sedangkan zakat profesi lebih kepada penghasilan yang diperoleh dari kerja keras. Kesimpulan Baik zakat mal maupun zakat profesi memiliki peran penting dalam kehidupan seorang Muslim. Keduanya merupakan bentuk kepedulian sosial dan tanggung jawab terhadap sesama. Dengan memahami perbedaan antara zakat mal dan zakat profesi, diharapkan setiap Muslim dapat melaksanakan kewajiban zakatnya dengan lebih baik. Untuk informasi lebih lanjut mengenai zakat dan cara pembayarannya, Anda dapat menghubungi BAZNAS Yogyakarta, yang siap membantu masyarakat dalam menunaikan zakat dengan tepat dan sesuai syariat. BAZNAS Yogyakarta juga menyediakan berbagai program untuk mendistribusikan zakat kepada yang berhak, sehingga dapat memberikan manfaat yang maksimal bagi masyarakat. ===================== *Tunaikan zakat/infaq, melalui Kantor Digital BAZNAS Kota Yogyakarta. https://kotayogya.baznas.go.id/bayarzakat Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id Editor: Ummi Kiftiyah
BERITA12/03/2025 | admin
Fidyah di Era Modern Memahami Kewajiban dengan Cara Baru
Fidyah di Era Modern Memahami Kewajiban dengan Cara Baru
Fidyah, sebagai salah satu aspek penting dalam ibadah puasa, telah mengalami evolusi dalam cara pemahaman dan pelaksanaannya di era modern ini. Dalam konteks Islam, fidyah adalah kompensasi yang diberikan oleh individu yang tidak dapat menjalankan puasa karena alasan tertentu, seperti sakit, usia lanjut, atau kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan. Dalam Al-Qur'an, Allah SWT berfirman bahwa bagi mereka yang tidak mampu berpuasa, mereka diperintahkan untuk memberikan fidyah sebagai pengganti. Hal ini menunjukkan bahwa fidyah bukan hanya sekadar kewajiban, tetapi juga merupakan bentuk kepedulian terhadap sesama. Di era modern, pemahaman tentang fidyah semakin berkembang seiring dengan kemajuan teknologi dan perubahan sosial. Dengan adanya platform digital, proses pemberian fidyah menjadi lebih mudah dan cepat. Umat Islam kini dapat memberikan fidyah melalui aplikasi dan situs web yang menyediakan layanan untuk menyalurkan fidyah kepada mereka yang membutuhkan. Ini tidak hanya memudahkan individu dalam memenuhi kewajiban, tetapi juga memperluas jangkauan penerima fidyah. Dengan cara ini, fidyah dapat disalurkan kepada mereka yang benar-benar membutuhkan, seperti anak-anak yatim, orang miskin, dan mereka yang terkena bencana. Selain itu, pemahaman tentang fidyah juga mencakup aspek sosial yang lebih luas. Fidyah tidak hanya dilihat sebagai kewajiban individu, tetapi juga sebagai bagian dari tanggung jawab sosial umat Islam. Dalam konteks ini, fidyah dapat menjadi sarana untuk membangun solidaritas dan kepedulian di antara anggota masyarakat. Dengan memberikan fidyah, individu tidak hanya memenuhi kewajiban agama, tetapi juga berkontribusi pada kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan. Ini menciptakan rasa saling memiliki dan mendukung di antara umat Islam, yang sangat penting dalam membangun komunitas yang harmonis. Penulis:Putri Khodijah Editor:M. Kausari Kaidani
BERITA12/03/2025 | Putri Khodijah
Fidyah sebagai Bentuk Kepedulian di Tengah Tantangan Zaman
Fidyah sebagai Bentuk Kepedulian di Tengah Tantangan Zaman
Fidyah, dalam konteks ibadah puasa, memiliki makna yang sangat penting, terutama di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks. Dalam Islam, fidyah adalah kompensasi yang diberikan oleh individu yang tidak dapat menjalankan puasa karena alasan tertentu, seperti sakit, usia lanjut, atau kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan. Dalam Al-Qur'an, Allah SWT memerintahkan umat-Nya untuk memberikan fidyah sebagai pengganti puasa yang tidak dapat dilaksanakan. Ini menunjukkan bahwa fidyah bukan hanya sekadar kewajiban, tetapi juga merupakan bentuk kepedulian terhadap sesama. Di tengah tantangan zaman yang dihadapi oleh banyak orang, fidyah menjadi semakin relevan. Banyak individu yang mengalami kesulitan ekonomi, kesehatan, dan sosial. Dalam situasi seperti ini, fidyah dapat menjadi sarana untuk membantu mereka yang membutuhkan. Dengan memberikan fidyah, individu tidak hanya memenuhi kewajiban agama, tetapi juga berkontribusi pada kesejahteraan masyarakat. Ini menciptakan rasa solidaritas dan kepedulian di antara anggota masyarakat, yang sangat penting dalam membangun komunitas yang harmonis. Fidyah juga dapat dilihat sebagai bentuk inovasi dalam cara kita berbagi. Di era modern, banyak orang yang sibuk dengan rutinitas sehari-hari, sehingga sulit untuk menemukan waktu untuk beramal. Namun, dengan adanya teknologi, proses memberikan fidyah menjadi lebih praktis. Umat Islam dapat memberikan fidyah kapan saja dan di mana saja, tanpa harus mengunjungi lembaga amal secara langsung. Ini memungkinkan lebih banyak orang untuk berpartisipasi dalam kegiatan amal, sehingga meningkatkan kesadaran akan pentingnya berbagi dan membantu sesama.
BERITA12/03/2025 | Putri Khodijah
Fidyah sebagai Bentuk Kepedulian Sosial di Era Kontemporer
Fidyah sebagai Bentuk Kepedulian Sosial di Era Kontemporer
Fidyah, dalam konteks ibadah puasa, memiliki makna yang sangat penting, terutama sebagai bentuk kepedulian sosial di era kontemporer. Dalam Islam, fidyah adalah kompensasi yang diberikan oleh individu yang tidak dapat menjalankan puasa karena alasan tertentu, seperti sakit, usia lanjut, atau kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan. Dalam Al-Qur'an, Allah SWT memerintahkan umat-Nya untuk memberikan fidyah sebagai pengganti puasa yang tidak dapat dilaksanakan. Ini menunjukkan bahwa fidyah bukan hanya sekadar kewajiban, tetapi juga merupakan bentuk kepedulian terhadap sesama. Di era kontemporer, tantangan sosial yang dihadapi oleh banyak orang semakin kompleks. Banyak individu yang mengalami kesulitan ekonomi, kesehatan, dan sosial. Dalam situasi seperti ini, fidyah dapat menjadi sarana untuk membantu mereka yang membutuhkan. Dengan memberikan fidyah, individu tidak hanya memenuhi kewajiban agama, tetapi juga berkontribusi pada kesejahteraan masyarakat. Ini menciptakan rasa solidaritas dan kepedulian di antara anggota masyarakat, yang sangat penting dalam membangun komunitas yang harmonis. Fidyah juga dapat dilihat sebagai bentuk inovasi dalam cara kita berbagi. Di era modern, banyak orang yang sibuk dengan rutinitas sehari-hari, sehingga sulit untuk menemukan waktu untuk beramal. Namun, dengan adanya teknologi, proses memberikan fidyah menjadi lebih praktis. Umat Islam dapat memberikan fidyah kapan saja dan di mana saja, tanpa harus mengunjungi lembaga amal secara langsung. Ini memungkinkan lebih banyak orang untuk berpartisipasi dalam kegiatan amal, sehingga meningkatkan kesadaran akan pentingnya berbagi dan membantu sesama. Penulis:Putri Khodijah Editor:M. Kausari Kaidani
BERITA12/03/2025 | Putri Khodijah
Amalan Sederhana yang Besar Pahalanya di Bulan Ramadhan
Amalan Sederhana yang Besar Pahalanya di Bulan Ramadhan
Bulan Ramadhan adalah bulan penuh keberkahan, di mana setiap amal kebaikan dilipatgandakan pahalanya. Banyak orang berlomba-lomba melakukan ibadah dan kebaikan, namun seringkali kita berpikir bahwa hanya amalan besar seperti shalat malam atau bersedekah dalam jumlah besar yang bernilai tinggi. Padahal, ada banyak amalan sederhana yang dapat dilakukan dengan mudah tetapi memiliki pahala yang luar biasa di sisi Allah. Artikel ini akan membahas beberapa amalan ringan namun berpahala besar yang dapat kita lakukan selama Ramadhan. Membaca dan Mengamalkan Al-Qur’an Ramadhan disebut sebagai bulan Al-Qur’an karena pada bulan ini wahyu pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Membaca Al-Qur’an, meskipun hanya beberapa ayat, memiliki pahala yang besar. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda: "Barang siapa membaca satu huruf dari kitab Allah, maka baginya satu kebaikan. Dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat." (HR. Tirmidzi) Tidak hanya membaca, mengamalkan isi Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari juga menjadi amalan yang sangat bernilai di bulan suci ini. Memberikan Makanan untuk Berbuka Salah satu amalan ringan namun berpahala besar adalah memberi makan orang yang berpuasa, meskipun hanya dengan sebutir kurma atau seteguk air. Rasulullah SAW bersabda: "Barang siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa itu, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut sedikit pun." (HR. Tirmidzi) Dengan amalan ini, kita bisa mendapatkan pahala puasa orang lain hanya dengan berbagi makanan. Berdzikir dan Memperbanyak Doa Dzikir merupakan ibadah yang sangat mudah dilakukan kapan saja dan di mana saja, tetapi memiliki keutamaan yang besar. Lafaz-lafaz dzikir seperti: Subhanallah (Maha Suci Allah) Alhamdulillah (Segala puji bagi Allah) La ilaha illallah (Tiada Tuhan selain Allah) Allahu Akbar (Allah Maha Besar) Sederhana tetapi memiliki pahala yang berlipat ganda, apalagi jika dilakukan di bulan Ramadhan. Selain itu, memperbanyak doa, terutama saat berbuka puasa dan di waktu sahur, sangat dianjurkan karena Ramadhan adalah waktu di mana doa lebih mudah dikabulkan. Menjaga Lisan dan Menghindari Perbuatan Sia-Sia Rasulullah SAW mengingatkan bahwa puasa bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menjaga diri dari perkataan dan perbuatan yang tidak bermanfaat. Beliau bersabda: "Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak butuh dari rasa laparnya dan hausnya." (HR. Bukhari) Oleh karena itu, menghindari ghibah (menggunjing), berkata kasar, dan perbuatan sia-sia juga merupakan amalan yang berpahala besar di bulan Ramadhan. Bersedekah, Sekecil Apapun Sedekah tidak harus dalam jumlah besar. Sekeping koin, senyuman, atau membantu orang lain dengan tenaga juga termasuk sedekah. Rasulullah SAW bersabda: "Setiap kebaikan adalah sedekah." (HR. Muslim) Maka, membiasakan diri untuk memberi dalam bentuk apa pun, sekecil apa pun, akan mendatangkan pahala yang berlipat ganda di bulan Ramadhan. Menghidupkan Malam dengan Shalat dan Istighfar Shalat malam di bulan Ramadhan, baik tarawih maupun tahajud, memiliki keutamaan besar. Selain itu, memperbanyak istighfar (memohon ampun) di waktu sahur juga sangat dianjurkan. Allah SWT berfirman: "Dan pada waktu sahur mereka memohon ampun (kepada Allah)." (QS. Az-Zariyat: 18) Meluangkan waktu beberapa menit untuk beristighfar sebelum sahur bisa menjadi kebiasaan baik yang membawa pahala besar. Ramadhan adalah kesempatan emas untuk memperbanyak amal kebaikan. Amalan sederhana seperti membaca Al-Qur’an, memberi makan orang lain, berdzikir, menjaga lisan, bersedekah, serta memperbanyak doa dan istighfar bisa menjadi ladang pahala yang luar biasa. Tidak perlu menunggu kesempatan besar, karena kebaikan sekecil apa pun dapat bernilai tinggi di sisi Allah. *Tunaikan zakat, infaq, sedekah melalui Kantor Digital BAZNAS Kota Yogyakarta.https://kotayogya.baznas.go.id/bayarzakat Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id Editor : Ashifuddin Fikri Writer : Nur Isnaini Masyithoh
BERITA12/03/2025 | Nur Isnaini Masyithoh
Amalan Hati di Bulan Ramadhan
Amalan Hati di Bulan Ramadhan
Bulan Ramadhan tidak hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjadi momen terbaik untuk membersihkan hati dan jiwa. Allah SWT memberikan kesempatan kepada umat Islam untuk memperbanyak amalan yang tidak hanya tampak secara fisik, tetapi juga yang berkaitan dengan hati. Hati yang bersih akan membuat ibadah semakin khusyuk dan mendekatkan diri kepada Allah. Artikel ini akan membahas beberapa amalan hati yang bisa dilakukan selama Ramadhan agar jiwa lebih tenang dan ibadah semakin bermakna. Ikhlas dalam Beribadah Ikhlas adalah kunci utama dalam setiap amal ibadah. Tanpa keikhlasan, ibadah yang kita lakukan bisa menjadi sia-sia. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman: "Padahal mereka tidak diperintahkan, kecuali agar mereka menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus." (QS. Al-Bayyinah: 5) Selama Ramadhan, kita perlu melatih diri untuk beribadah semata-mata karena Allah, bukan karena ingin dipuji atau dilihat orang lain. Tawakal dan Keyakinan Penuh kepada Allah Tawakal berarti menyerahkan segala urusan kepada Allah setelah berusaha sebaik mungkin. Ramadhan adalah waktu terbaik untuk memperkuat rasa tawakal, terutama dalam menghadapi ujian hidup. Rasulullah SAW bersabda: "Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki; ia pergi dalam keadaan lapar dan kembali dalam keadaan kenyang." (HR. Tirmidzi) Dengan memperbanyak tawakal, hati menjadi lebih tenang dan tidak mudah gelisah menghadapi ketidakpastian hidup. Sabar dalam Berpuasa dan Mengendalikan Emosi Sabar adalah amalan hati yang sangat ditekankan dalam bulan Ramadhan. Menahan lapar dan haus adalah bentuk latihan kesabaran fisik, tetapi lebih dari itu, kita juga harus sabar dalam menghadapi emosi seperti marah, iri, dan kesombongan. Rasulullah SAW bersabda: "Puasa adalah perisai. Maka, janganlah berkata kotor dan jangan bertindak bodoh. Jika seseorang mencelanya atau mengajaknya bertengkar, hendaknya ia mengatakan, 'Sesungguhnya aku sedang berpuasa'." (HR. Bukhari & Muslim) Melatih kesabaran di bulan Ramadhan akan membuat hati lebih lapang dan jiwa lebih damai. Bersyukur atas Nikmat yang Diberikan Allah Bersyukur adalah amalan hati yang dapat membawa kebahagiaan dan ketenangan jiwa. Selama Ramadhan, kita diajarkan untuk lebih menghargai nikmat yang sering kali dianggap remeh, seperti makanan, kesehatan, dan kebersamaan dengan keluarga. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu." (QS. Ibrahim: 7) Dengan memperbanyak syukur, hati menjadi lebih tenang dan tidak mudah merasa kurang atau iri terhadap orang lain. Memperbanyak Istighfar dan Taubat Ramadhan adalah bulan penuh ampunan, sehingga ini menjadi waktu yang tepat untuk memperbanyak istighfar dan taubat. Rasulullah SAW bersabda: "Barang siapa beristighfar dengan sungguh-sungguh, Allah akan memberinya jalan keluar dari setiap kesulitan dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka." (HR. Abu Dawud) Dengan memperbanyak istighfar, hati akan menjadi lebih bersih dari dosa-dosa dan semakin dekat dengan Allah. Menanamkan Rasa Cinta dan Kasih Sayang kepada Sesama Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan kasih sayang dan kepedulian sosial. Kita diajarkan untuk lebih peduli kepada sesama, terutama kepada orang-orang yang kurang beruntung. Rasulullah SAW bersabda: "Tidaklah beriman seseorang di antara kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri." (HR. Bukhari & Muslim) Menanamkan rasa kasih sayang dan empati kepada sesama akan membuat hati lebih lembut dan penuh dengan kedamaian. Kesimpulan Amalan hati di bulan Ramadhan adalah aspek yang sering kali terlupakan, padahal ia memiliki peran besar dalam menyempurnakan ibadah. Dengan melatih keikhlasan, tawakal, kesabaran, rasa syukur, istighfar, dan kasih sayang, kita tidak hanya memperbaiki hubungan dengan Allah, tetapi juga dengan sesama manusia. Ramadhan adalah waktu terbaik untuk membersihkan hati agar semakin dekat kepada Allah dan menjalani hidup dengan lebih damai. *Tunaikan zakat, infaq, sedekah melalui Kantor Digital BAZNAS Kota Yogyakarta.https://kotayogya.baznas.go.id/bayarzakat Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id Editor : Ashifuddin Fikri Writer : Nur Isnaini Masyithoh
BERITA12/03/2025 | Nur Isnaini Masyithoh
Sedekah di Era Digital: Kemudahan Berbagi di Tengah Kesibukan
Sedekah di Era Digital: Kemudahan Berbagi di Tengah Kesibukan
Di era serba digital seperti sekarang, berbagi kebaikan melalui sedekah semakin mudah dan praktis. Aplikasi pembayaran dan platform donasi online memungkinkan kita untuk bersedekah kapan saja dan di mana saja hanya dengan beberapa ketukan jari. Baznas telah mengembangkan platform digital yang aman dan terpercaya, memungkinkan masyarakat menyalurkan sedekah tanpa perlu keluar rumah. Sedekah digital juga membuka kesempatan untuk membantu saudara-saudara kita yang terdampak bencana alam atau musibah secara real-time. Ketika banjir melanda suatu daerah, dalam hitungan menit kita bisa mengirimkan bantuan melalui sedekah online yang langsung disalurkan kepada korban yang membutuhkan. Meski demikian, ketulusan niat tetap menjadi kunci utama dalam bersedekah. Kemudahan teknologi seharusnya semakin meningkatkan kualitas dan kuantitas sedekah kita, bukan sebaliknya. Mari manfaatkan kemudahan teknologi untuk meningkatkan kebaikan kita! Ayo bersedekah melalui Kantor Digital BAZNAS Kota Yogyakarta: https://kotayogya.baznas.go.id/sedekah Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id Penulis: Shifa Indri Hudannaya Editor: M. Sahal
BERITA12/03/2025 | AdminS
Sedekah Sebagai Solusi Ketimpangan Ekonomi di Era Inflasi
Sedekah Sebagai Solusi Ketimpangan Ekonomi di Era Inflasi
Kenaikan harga kebutuhan pokok dan inflasi yang terus meningkat telah menciptakan tekanan ekonomi bagi banyak keluarga. Biaya hidup yang semakin tinggi membuat jarak antara yang mampu dan kurang mampu semakin lebar. Di sinilah peran sedekah menjadi krusial sebagai jaring pengaman sosial yang dapat membantu mereka yang terdampak. Sedekah tidak hanya tentang memberikan uang, tetapi juga berbagi keahlian dan kesempatan. Baznas mengembangkan program "Sedekah Produktif" yang tidak sekadar memberikan bantuan konsumtif, tetapi juga pelatihan keterampilan dan modal usaha bagi masyarakat prasejahtera. Dengan bersedekah secara teratur, kita turut berkontribusi mengurangi ketimpangan ekonomi. Setiap rupiah yang kita sedekahkan memiliki dampak multiplier dalam perekonomian, menciptakan lapangan kerja, dan memutus rantai kemiskinan. Bersedekah bukan hanya amalan religius, tetapi juga investasi sosial untuk masa depan yang lebih berkeadilan. Ayo bersedekah melalui Kantor Digital BAZNAS Kota Yogyakarta: https://kotayogya.baznas.go.id/sedekah Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id Penulis: Shifa Indri Hudannaya Editor: M. Sahal
BERITA12/03/2025 | AdminS
Momen Ramadhan bersama Keluarga yang Menyenangkan
Momen Ramadhan bersama Keluarga yang Menyenangkan
Ramadhan bukan hanya bulan ibadah, tetapi juga waktu untuk mempererat kebersamaan keluarga. Setiap keluarga memiliki tradisi unik yang diwariskan turun-temurun. Dari sahur hingga berbuka, momen ini menjadi kesempatan untuk membangun keharmonisan dan nilai-nilai keislaman dalam keluarga. Sahur Bersama sebagai Momen Kebersamaan Sahur menjadi salah satu momen istimewa di bulan Ramadhan. Meskipun dilakukan di waktu dini hari, keluarga biasanya berusaha untuk makan sahur bersama. Tradisi ini bukan hanya sekadar makan, tetapi juga momen untuk berbincang, berdoa, dan menguatkan niat untuk menjalankan ibadah puasa. Beberapa keluarga juga memiliki kebiasaan membaca doa dan dzikir sebelum waktu imsak tiba. Buka Puasa Bersama Momen berbuka puasa menjadi saat yang paling ditunggu. Keluarga sering kali berkumpul untuk menikmati hidangan khas Ramadhan seperti kolak, kurma, atau takjil lainnya. Dalam beberapa keluarga, tradisi berbuka puasa dimulai dengan doa bersama dan berbagi cerita tentang aktivitas masing-masing selama sehari penuh. Selain itu, ada juga kebiasaan berbuka dengan hidangan buatan sendiri yang menjadi ciri khas keluarga. Shalat Tarawih Bersama Banyak keluarga memiliki tradisi melaksanakan shalat tarawih bersama, baik di masjid maupun di rumah. Tradisi ini mempererat hubungan keluarga karena selain beribadah, mereka juga saling mengingatkan untuk tetap istiqamah menjalankan ibadah selama Ramadhan. Beberapa keluarga juga mengajak anak-anak untuk mulai belajar shalat tarawih agar mereka terbiasa dengan suasana ibadah di bulan suci ini. Tadarus Al-Qur’an Keluarga Membaca Al-Qur’an bersama setelah berbuka atau sebelum tidur menjadi salah satu tradisi yang dilakukan keluarga selama Ramadhan. Biasanya, setiap anggota keluarga mendapat giliran membaca beberapa ayat, kemudian didiskusikan maknanya. Tradisi ini membantu meningkatkan pemahaman agama serta membentuk kebiasaan membaca Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Berbagi dengan Sesama Tradisi berbagi juga menjadi bagian penting dalam keluarga saat Ramadhan. Beberapa keluarga memiliki kebiasaan menyiapkan makanan untuk dibagikan kepada tetangga atau kaum dhuafa. Selain itu, ada juga yang menjalankan program sedekah keluarga, seperti memberikan santunan kepada anak yatim atau berkontribusi dalam kegiatan sosial di lingkungan sekitar. Mudik dan Silaturahmi Bagi keluarga yang tinggal berjauhan, tradisi mudik menjadi momen yang sangat dinantikan. Mudik tidak hanya sekadar perjalanan pulang, tetapi juga bentuk silaturahmi untuk mempererat hubungan keluarga besar. Selain itu, ada juga tradisi halal bihalal setelah Idul Fitri yang menjadi ajang untuk saling memaafkan dan berkumpul dengan sanak saudara. -------------- Tradisi keluarga saat Ramadhan bukan hanya tentang kebersamaan, tetapi juga sarana untuk menanamkan nilai-nilai keislaman, seperti kesabaran, berbagi, dan mempererat hubungan antaranggota keluarga. Setiap tradisi yang dijalankan membawa makna mendalam dan memberikan kenangan yang indah bagi setiap anggota keluarga. *Tunaikan zakat, infaq, sedekah melalui Kantor Digital BAZNAS Kota Yogyakarta.https://kotayogya.baznas.go.id/bayarzakat Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id Editor : Ashifuddin Fikri Writer : Nur Isnaini Masyithoh
BERITA12/03/2025 | Nur Isnaini Masyithoh
Puasa dan Rasa Syukur: Menghargai Nikmat yang Diberikan Allah
Puasa dan Rasa Syukur: Menghargai Nikmat yang Diberikan Allah
Puasa adalah salah satu ibadah yang memiliki makna mendalam dalam kehidupan seorang Muslim. Selain sebagai bentuk ketaatan kepada Allah, puasa juga mengajarkan kita untuk lebih menghargai setiap nikmat yang diberikan-Nya. Dalam menjalankan ibadah puasa, kita tidak hanya menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga dari segala hal yang dapat mengurangi pahala puasa. Hal ini mengajak kita untuk merenungkan betapa banyaknya nikmat yang sering kali kita abaikan dalam kehidupan sehari-hari. Rasa syukur adalah sikap yang harus dimiliki oleh setiap Muslim. Dalam konteks puasa, rasa syukur menjadi semakin penting karena puasa mengajarkan kita untuk merasakan penderitaan orang-orang yang kurang beruntung. Dengan merasakan lapar dan haus, kita diingatkan untuk bersyukur atas nikmat yang sering kali kita anggap remeh. Dalam artikel ini, kita akan membahas lebih dalam mengenai hubungan antara puasa dan rasa syukur, serta bagaimana keduanya saling melengkapi dalam kehidupan seorang Muslim. Puasa sebagai Sarana untuk Meningkatkan Rasa Syukur Puasa bukan hanya sekadar menahan diri dari makanan dan minuman, tetapi juga merupakan proses spiritual yang mendalam. Dalam Al-Qur'an, Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 183) Ayat ini menunjukkan bahwa puasa memiliki tujuan yang lebih besar, yaitu untuk mencapai ketakwaan. Ketakwaan ini akan membawa kita kepada kesadaran akan nikmat yang telah Allah berikan. Ketika kita berpuasa, kita belajar untuk menghargai makanan dan minuman yang sering kali kita anggap remeh. Kita menjadi lebih peka terhadap kebutuhan orang lain yang tidak seberuntung kita. Rasa Syukur dalam Al-Qur'an Rasa syukur merupakan tema yang sering diangkat dalam Al-Qur'an. Allah berfirman: "Jika kamu bersyukur, niscaya Kami akan menambah (nikmat) kepadamu; tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (QS. Ibrahim: 7) Ayat ini menegaskan bahwa syukur adalah kunci untuk mendapatkan lebih banyak nikmat dari Allah. Dalam konteks puasa, ketika kita bersyukur atas nikmat yang kita terima, kita akan lebih mudah untuk menjalankan ibadah ini dengan penuh keikhlasan. Puasa mengajarkan kita untuk tidak hanya berfokus pada diri sendiri, tetapi juga untuk memperhatikan orang lain yang mungkin tidak memiliki akses terhadap makanan dan minuman yang kita nikmati setiap hari. Hadits tentang Rasa Syukur Rasulullah SAW juga mengajarkan pentingnya rasa syukur dalam kehidupan sehari-hari. Dalam sebuah hadits, beliau bersabda: "Barangsiapa yang tidak bersyukur kepada manusia, maka dia tidak bersyukur kepada Allah." (HR. Ahmad) Hadits ini menunjukkan bahwa rasa syukur tidak hanya terbatas pada hubungan kita dengan Allah, tetapi juga dengan sesama manusia. Dalam konteks puasa, kita diajarkan untuk berbagi dengan mereka yang kurang beruntung. Memberikan makanan kepada orang yang berpuasa, misalnya, adalah salah satu bentuk syukur yang dapat kita lakukan. Puasa dan Kesadaran Sosial Salah satu aspek penting dari puasa adalah meningkatkan kesadaran sosial kita. Ketika kita merasakan lapar dan haus, kita diingatkan akan kondisi orang-orang yang hidup dalam kemiskinan. Hal ini mendorong kita untuk lebih peduli dan berkontribusi dalam membantu mereka. Dalam Al-Qur'an, Allah berfirman: "Dan berikanlah kepada kerabatnya haknya, kepada orang miskin, dan kepada orang yang dalam perjalanan." (QS. Al-Isra: 26) Ayat ini mengingatkan kita untuk tidak hanya fokus pada diri sendiri, tetapi juga untuk memperhatikan orang-orang di sekitar kita. Puasa menjadi momen yang tepat untuk meningkatkan kepedulian sosial kita, dan dengan demikian, meningkatkan rasa syukur kita atas nikmat yang telah diberikan Allah. Berbagi dan Memberi Salah satu cara untuk mengekspresikan rasa syukur kita selama bulan puasa adalah dengan berbagi. Memberikan makanan kepada orang yang berpuasa, menyantuni anak yatim, atau memberikan sedekah kepada yang membutuhkan adalah beberapa bentuk amal yang sangat dianjurkan. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda: "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya." (HR. Ahmad) Dengan berbagi, kita tidak hanya membantu orang lain, tetapi juga memperkuat rasa syukur kita. Kita menyadari bahwa apa yang kita miliki adalah anugerah dari Allah, dan kita memiliki tanggung jawab untuk membagikannya kepada orang lain. Puasa dan Refleksi Diri Puasa juga merupakan waktu yang tepat untuk melakukan refleksi diri. Dalam kesunyian dan keheningan saat berpuasa, kita memiliki kesempatan untuk merenungkan hidup kita, tujuan kita, dan bagaimana kita dapat menjadi pribadi yang lebih baik. Dalam Al-Qur'an, Allah berfirman: "Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan: 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat-Ku kepadamu; dan jika kamu mengingkari, sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.'" (QS. Ibrahim: 7) Refleksi diri ini dapat membantu kita untuk lebih menghargai nikmat yang telah diberikan Allah. Dengan merenungkan segala sesuatu yang telah kita terima, kita akan lebih mudah untuk bersyukur dan berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Meningkatkan Kualitas Ibadah Selama bulan puasa, kita juga dianjurkan untuk meningkatkan kualitas ibadah kita. Shalat, membaca Al-Qur'an, dan berdoa menjadi lebih intensif. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa yang mendekatkan diri kepada Allah dengan satu amal kebaikan, maka Allah akan mendekatkannya dengan tujuh puluh amal kebaikan." (HR. Ahmad) Dengan meningkatkan ibadah kita, kita tidak hanya mendekatkan diri kepada Allah, tetapi juga meningkatkan rasa syukur kita. Kita menyadari bahwa setiap amal yang kita lakukan adalah bentuk ungkapan terima kasih kita kepada Allah atas segala nikmat yang telah diberikan. Kesimpulan Puasa adalah ibadah yang memiliki banyak hikmah dan pelajaran berharga. Dalam menjalankan puasa, kita diajarkan untuk lebih menghargai nikmat yang diberikan Allah dan meningkatkan rasa syukur kita. Dengan merasakan lapar dan haus, kita diingatkan akan kondisi orang-orang yang kurang beruntung, dan hal ini mendorong kita untuk lebih peduli dan berbagi. Rasa syukur bukan hanya sekadar ucapan, tetapi juga harus diwujudkan dalam tindakan. Dengan berbagi, memberi, dan meningkatkan kualitas ibadah, kita dapat menunjukkan rasa syukur kita kepada Allah. Semoga kita semua dapat menjalankan ibadah puasa dengan penuh keikhlasan dan menjadikannya sebagai momen untuk meningkatkan rasa syukur kita atas segala nikmat yang telah diberikan-Nya. *Tunaikan zakat, infaq, sedekah melalui Kantor Digital BAZNAS Kota Yogyakarta.https://kotayogya.baznas.go.id/bayarzakat Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id Editor : Ashifuddin Fikri Writer : Ashifuddin Fikri
BERITA12/03/2025 | Ashifuddin Fikri
Ramadhan: Inspirasi untuk Hidup yang Lebih Bermakna
Ramadhan: Inspirasi untuk Hidup yang Lebih Bermakna
Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah dan rahmat, di mana umat Islam di seluruh dunia menjalankan ibadah puasa. Bulan ini bukan hanya sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga merupakan waktu untuk merenung, memperbaiki diri, dan meningkatkan kualitas hidup. Dalam artikel ini, kita akan membahas berbagai aspek dari Ramadhan yang dapat menginspirasi kita untuk hidup lebih bermakna. Kita akan melihat bagaimana puasa, ibadah, dan nilai-nilai yang diajarkan selama bulan ini dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Makna Puasa dalam Kehidupan Puasa di bulan Ramadhan memiliki makna yang sangat dalam. Dalam Al-Qur'an, Allah berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 183) Ayat ini menunjukkan bahwa puasa bukan hanya sekadar ritual, tetapi juga merupakan sarana untuk mencapai ketakwaan. Ketakwaan adalah kesadaran akan kehadiran Allah dalam setiap aspek kehidupan kita. Dengan berpuasa, kita belajar untuk menahan diri dari hawa nafsu dan mengendalikan diri. Ini adalah pelajaran berharga yang dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari, di mana kita sering kali dihadapkan pada berbagai godaan. Menahan Diri dan Disiplin Puasa mengajarkan kita tentang pentingnya menahan diri. Dalam kehidupan modern yang serba cepat ini, kita sering kali terjebak dalam kebiasaan buruk, seperti makan berlebihan, menghabiskan waktu di media sosial, atau terlibat dalam perilaku negatif lainnya. Dengan berpuasa, kita dilatih untuk disiplin dan mengendalikan diri. Ini adalah keterampilan yang sangat berharga yang dapat membantu kita dalam mencapai tujuan hidup kita. Empati dan Kepedulian Sosial Puasa juga mengajarkan kita untuk merasakan apa yang dirasakan oleh orang-orang yang kurang beruntung. Ketika kita menahan lapar dan dahaga, kita diingatkan akan pentingnya berbagi dan peduli terhadap sesama. Dalam bulan Ramadhan, banyak orang yang melakukan amal dan berbagi makanan dengan mereka yang membutuhkan. Ini adalah bentuk nyata dari empati dan kepedulian sosial yang seharusnya kita bawa sepanjang tahun. Ibadah dan Koneksi Spiritual Selama bulan Ramadhan, umat Islam didorong untuk meningkatkan ibadah mereka. Selain puasa, banyak yang melaksanakan shalat tarawih, membaca Al-Qur'an, dan berdoa. Semua ini bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memperkuat iman kita. Shalat Tarawih Shalat tarawih adalah ibadah yang dilakukan setelah shalat Isya selama bulan Ramadhan. Ini adalah kesempatan bagi kita untuk berkumpul dengan komunitas, memperkuat ikatan sosial, dan meningkatkan spiritualitas. Dalam shalat tarawih, kita membaca Al-Qur'an dan merenungkan maknanya. Ini adalah waktu yang tepat untuk merenungkan kehidupan kita dan mencari petunjuk dari Allah. Membaca Al-Qur'an Bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur'an. Dalam Al-Qur'an, Allah berfirman: "Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil)." (QS. Al-Baqarah: 185) Membaca Al-Qur'an selama bulan ini adalah cara untuk mendapatkan petunjuk dan inspirasi dalam hidup kita. Kita dapat merenungkan ayat-ayat yang relevan dengan situasi kita dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Refleksi Diri dan Perubahan Positif Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk melakukan refleksi diri. Kita diajak untuk merenungkan tindakan dan perilaku kita selama ini. Apakah kita sudah menjadi pribadi yang lebih baik? Apakah kita sudah berkontribusi positif bagi masyarakat? Dengan melakukan refleksi, kita dapat menemukan area di mana kita perlu memperbaiki diri. Menetapkan Tujuan Selama bulan Ramadhan, kita dapat menetapkan tujuan untuk diri kita sendiri. Tujuan ini bisa berkaitan dengan ibadah, kesehatan, atau hubungan sosial. Misalnya, kita bisa berkomitmen untuk membaca Al-Qur'an setiap hari, berolahraga secara teratur, atau lebih aktif dalam kegiatan sosial. Dengan menetapkan tujuan, kita memiliki arah yang jelas untuk mencapai kehidupan yang lebih bermakna. Membangun Kebiasaan Baik Bulan Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk membangun kebiasaan baik. Kebiasaan yang kita bentuk selama bulan ini dapat bertahan lama jika kita konsisten. Misalnya, jika kita terbiasa bangun pagi untuk sahur dan shalat subuh, kita dapat melanjutkan kebiasaan ini setelah Ramadhan berakhir. Kebiasaan baik ini akan membantu kita menjadi pribadi yang lebih disiplin dan produktif. Kekuatan Komunitas Ramadhan juga mengajarkan kita tentang pentingnya komunitas. Selama bulan ini, kita sering berkumpul dengan keluarga dan teman-teman untuk berbuka puasa. Ini adalah waktu yang tepat untuk memperkuat hubungan sosial dan membangun rasa kebersamaan. Berbagi dan Bersyukur Berkumpul untuk berbuka puasa adalah momen yang indah untuk berbagi dan bersyukur. Kita dapat saling berbagi makanan, cerita, dan pengalaman. Ini adalah cara untuk menunjukkan rasa syukur kita atas nikmat yang diberikan Allah. Dalam Al-Qur'an, Allah berfirman: "Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan: 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu; dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.'" (QS. Ibrahim: 7) Kegiatan Sosial Banyak komunitas yang mengadakan kegiatan sosial selama bulan Ramadhan, seperti pembagian makanan kepada yang membutuhkan atau penggalangan dana untuk amal. Kegiatan ini tidak hanya membantu mereka yang kurang beruntung, tetapi juga memperkuat ikatan antar anggota komunitas. Dengan berkontribusi dalam kegiatan sosial, kita dapat merasakan kebahagiaan dan kepuasan yang mendalam. Menjaga Semangat Setelah Ramadhan Setelah bulan Ramadhan berakhir, sering kali kita merasa kehilangan semangat untuk beribadah dan melakukan kebaikan. Namun, penting bagi kita untuk menjaga semangat ini agar tetap hidup. Melanjutkan Kebiasaan Baik Salah satu cara untuk menjaga semangat adalah dengan melanjutkan kebiasaan baik yang telah kita bangun selama Ramadhan. Misalnya, jika kita terbiasa membaca Al-Qur'an setiap hari, kita harus berusaha untuk melanjutkannya setelah Ramadhan. Kebiasaan baik ini akan membantu kita tetap dekat dengan Allah dan meningkatkan kualitas hidup kita. Menjaga Hubungan Sosial Setelah Ramadhan, kita juga harus menjaga hubungan sosial yang telah terjalin. Kita dapat melanjutkan kebiasaan berkumpul dengan keluarga dan teman-teman, serta terlibat dalam kegiatan sosial. Dengan menjaga hubungan ini, kita dapat terus merasakan kebahagiaan dan dukungan dari orang-orang terdekat kita. Kesimpulan Ramadhan adalah bulan yang penuh makna dan inspirasi. Melalui puasa, ibadah, refleksi diri, dan kekuatan komunitas, kita dapat menemukan cara untuk hidup lebih bermakna. Dengan menerapkan nilai-nilai yang diajarkan selama bulan ini dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat menjadi pribadi yang lebih baik dan memberikan dampak positif bagi orang-orang di sekitar kita. Mari kita jadikan Ramadhan sebagai momentum untuk perubahan dan perbaikan diri, tidak hanya selama bulan ini, tetapi sepanjang tahun. *Tunaikan zakat, infaq, sedekah melalui Kantor Digital BAZNAS Kota Yogyakarta.https://kotayogya.baznas.go.id/bayarzakat Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id Editor : Ashifuddin Fikri Writer : Ashifuddin Fikri
BERITA12/03/2025 | Ashifuddin Fikri
Fidyah: Berbagai Jenis dan Ketentuannya dalam Kehidupan Sehari-hari
Fidyah: Berbagai Jenis dan Ketentuannya dalam Kehidupan Sehari-hari
Fidyah adalah bentuk kompensasi yang diberikan oleh seseorang yang tidak dapat menjalankan ibadah tertentu, seperti puasa atau haji, karena alasan yang sah. Dalam Islam, fidyah berfungsi untuk menggantikan kewajiban yang tidak dapat dilaksanakan. Berikut adalah ragam jenis fidyah dan ketentuannya. 1. Fidyah Puasa Dikenakan bagi mereka yang tidak mampu berpuasa, baik karena sakit yang tidak dapat disembuhkan atau usia lanjut. Fidyah ini berupa memberi makan kepada orang miskin, biasanya satu mud (sekitar 600 gram) makanan pokok per hari yang ditinggalkan. 2. Fidyah Haji Dikenakan bagi jemaah haji yang tidak dapat menyelesaikan ibadah haji karena alasan tertentu, seperti sakit atau terhalang. Fidyah ini dapat berupa penyembelihan hewan atau memberi makan kepada orang miskin. 3. Fidyah Qurban Bagi mereka yang tidak mampu melaksanakan qurban, fidyah dapat berupa sumbangan kepada yang membutuhkan. Ketentuan fidyah ini diatur dalam syariat Islam dan bertujuan untuk membantu mereka yang tidak mampu melaksanakan ibadah dengan cara yang sesuai. Sumber: 1. Al-Qur'an, Surah Al-Baqarah (2:184-185). 2. Hadis Nabi Muhammad SAW mengenai fidyah. 3. Buku "Fidyah dalam Islam" oleh Dr. Ahmad Zainuddin. Penulis: Aulia Anastasya Putri Permana Editor: M. Kausari Kaidani
BERITA12/03/2025 | Aulia Anastasya Putri Permana
Fidyah dan Kearifan Lokal: Implementasi dalam Budaya dan Tradisi Indonesia
Fidyah dan Kearifan Lokal: Implementasi dalam Budaya dan Tradisi Indonesia
Fidyah merupakan bentuk kompensasi yang diberikan oleh umat Islam yang tidak dapat menjalankan ibadah puasa atau haji karena alasan tertentu. Di Indonesia, implementasi fidyah tidak hanya dilihat dari segi syariat, tetapi juga dipengaruhi oleh kearifan lokal yang kaya. Dalam banyak komunitas, fidyah sering kali diintegrasikan dengan tradisi lokal, seperti pemberian makanan kepada yang membutuhkan. Misalnya, di beberapa daerah, fidyah dapat berupa beras atau makanan yang dibagikan kepada fakir miskin, mencerminkan nilai gotong royong dan kepedulian sosial yang kuat dalam budaya Indonesia. Selain itu, banyak masjid dan lembaga sosial yang mengelola fidyah dengan baik, memastikan bahwa bantuan tersebut tepat sasaran. Kearifan lokal juga terlihat dalam cara masyarakat mengedukasi satu sama lain tentang pentingnya fidyah, menjadikannya bagian dari tradisi Ramadan yang lebih luas. Dengan demikian, fidyah tidak hanya menjadi kewajiban agama, tetapi juga sarana untuk memperkuat ikatan sosial dan budaya di masyarakat Indonesia. Sumber: 1. Al-Qur'an dan Hadis. 2. Buku "Islam dan Kearifan Lokal" oleh Dr. Ahmad Syafii Maarif. 3. Artikel "Fidyah dalam Tradisi Masyarakat Indonesia" di Jurnal Studi Islam. Penulis: Aulia Anastasya Putri Permana Editor: M. Kausari Kaidani
BERITA12/03/2025 | Aulia Anastasya Putri Permana
Fidyah sebagai Wujud Nilai Pancasila: Mengintegrasikan Ibadah dan Kesejahteraan Sosial
Fidyah sebagai Wujud Nilai Pancasila: Mengintegrasikan Ibadah dan Kesejahteraan Sosial
Fidyah, sebagai bentuk kompensasi bagi umat Islam yang tidak dapat menjalankan ibadah puasa atau haji, memiliki makna yang lebih dalam ketika dilihat dari perspektif Pancasila. Dalam Pancasila, terutama sila kedua yang menekankan kemanusiaan yang adil dan beradab, fidyah menjadi sarana untuk mewujudkan keadilan sosial. Implementasi fidyah di Indonesia sering kali melibatkan pemberian makanan atau bantuan kepada yang membutuhkan, mencerminkan nilai gotong royong dan kepedulian sosial. Hal ini sejalan dengan sila ketiga Pancasila, yaitu persatuan Indonesia, di mana masyarakat saling membantu dan mendukung satu sama lain, terutama di bulan Ramadan. Dengan mengintegrasikan fidyah dalam praktik kesejahteraan sosial, umat Islam tidak hanya memenuhi kewajiban agama, tetapi juga berkontribusi pada pembangunan masyarakat yang lebih baik. Melalui fidyah, nilai-nilai Pancasila dapat dihidupkan, menciptakan harmoni antara ibadah dan tanggung jawab sosial. Sumber: 1. Al-Qur'an dan Hadis. 2. Buku "Pancasila dan Kemanusiaan" oleh Prof. Dr. H. A. Syafii Maarif. 3. Artikel "Fidyah dan Kesejahteraan Sosial" di Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora. Penulis: Aulia Anastasya Putri Permana Editor: M. Kausari Kaidani
BERITA12/03/2025 | Aulia Anastasya Putri Permana
Fidyah: Evolusi Konsep dan Praktiknya dari Masa ke Masa
Fidyah: Evolusi Konsep dan Praktiknya dari Masa ke Masa
Fidyah merupakan istilah dalam Islam yang merujuk pada pembayaran pengganti bagi mereka yang tidak dapat menjalankan puasa Ramadan karena alasan tertentu, seperti sakit atau perjalanan. Konsep fidyah telah ada sejak zaman Nabi Muhammad SAW, di mana beliau mengajarkan bahwa mereka yang tidak mampu berpuasa harus memberikan makanan kepada orang miskin sebagai bentuk kompensasi. Seiring berjalannya waktu, praktik fidyah mengalami evolusi. Pada era klasik, fidyah umumnya berupa pemberian makanan, sesuai dengan ajaran awal. Namun, dalam konteks modern, banyak ulama dan lembaga keagamaan yang memperbolehkan fidyah dalam bentuk uang, yang kemudian dapat digunakan untuk membeli makanan bagi yang membutuhkan. Hal ini mencerminkan adaptasi terhadap perubahan sosial dan ekonomi. Di era digital, pembayaran fidyah semakin mudah dengan adanya platform online yang memungkinkan umat Islam untuk menunaikan kewajiban ini secara praktis. Meskipun bentuk dan cara pelaksanaannya berubah, esensi fidyah sebagai bentuk kepedulian sosial tetap terjaga. Sumber: 1. Al-Qur'an, Surah Al-Baqarah (2:184-185). 2. Al-Mawardi, Al-Hawi al-Kabir. 3. Fatwa MUI tentang Fidyah. 4. Artikel "Fidyah dalam Perspektif Kontemporer" di Jurnal Ilmiah Islamika. Penulis: Aulia Anastasya Putri Permana Editor: M. Kausari Kaidani
BERITA12/03/2025 | Aulia Anastasya Putri Permana
Menempa Karakter Melalui Fidyah: Refleksi Diri dan Solidaritas Sosial
Menempa Karakter Melalui Fidyah: Refleksi Diri dan Solidaritas Sosial
Fidyah, sebagai salah satu bentuk pengganti kewajiban ibadah puasa bagi mereka yang tidak mampu, memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar ritual. Dalam konteks ini, fidyah berfungsi sebagai sarana untuk menempa karakter individu melalui refleksi diri dan solidaritas sosial. Refleksi diri merupakan langkah awal dalam memahami makna fidyah. Ketika seseorang memberikan fidyah, mereka dihadapkan pada pertanyaan tentang tanggung jawab dan kepedulian terhadap sesama. Proses ini mendorong individu untuk merenungkan kondisi diri dan orang lain, serta mengembangkan empati. Dengan menyadari bahwa ada orang lain yang lebih membutuhkan, individu dapat membangun karakter yang lebih peka dan peduli. Selain itu, fidyah juga menciptakan solidaritas sosial. Dengan memberikan fidyah, individu berkontribusi pada kesejahteraan masyarakat, terutama bagi mereka yang kurang beruntung. Tindakan ini tidak hanya memperkuat ikatan sosial, tetapi juga menumbuhkan rasa tanggung jawab kolektif. Dalam konteks ini, fidyah menjadi jembatan untuk membangun masyarakat yang lebih harmonis dan saling mendukung. Dengan demikian, fidyah bukan hanya sekadar kewajiban, tetapi juga merupakan alat untuk membentuk karakter yang lebih baik, melalui refleksi diri dan penguatan solidaritas sosial. Sumber: 1. Al-Qur'an, Surah Al-Baqarah (2:184-185). 2. Hasan, A. (2020). Fidyah dan Kesejahteraan Sosial: Perspektif Islam. Jurnal Studi Islam, 15(2), 123-135. 3. Rahman, F. (2019). Pendidikan Karakter dalam Islam: Teori dan Praktik. Jakarta: Penerbit Al-Mawardi. Penulis: Aulia Anastasya Putri Permana Editor: M. Kausari Kaidani
BERITA12/03/2025 | Aulia Anastasya Putri Permana
Fidyah: Kunci Menuju Generasi Emas yang Berakhlak dan Peduli
Fidyah: Kunci Menuju Generasi Emas yang Berakhlak dan Peduli
Fidyah, sebagai bentuk pengganti kewajiban puasa bagi mereka yang tidak mampu, memiliki peran penting dalam membentuk karakter generasi emas. Dalam konteks ini, fidyah bukan hanya sekadar ritual, tetapi juga merupakan sarana untuk menanamkan nilai-nilai akhlak dan kepedulian sosial. Generasi emas diharapkan memiliki karakter yang kuat, berakhlak mulia, dan peduli terhadap sesama. Melalui fidyah, individu diajak untuk merenungkan kondisi orang lain yang kurang beruntung. Tindakan memberikan fidyah mendorong empati dan solidaritas, dua nilai yang sangat penting dalam membangun masyarakat yang harmonis. Dengan menyisihkan sebagian rezeki untuk membantu mereka yang membutuhkan, generasi muda belajar tentang tanggung jawab sosial dan kepedulian. Selain itu, fidyah juga mengajarkan pentingnya berbagi dan berkontribusi terhadap kesejahteraan masyarakat. Dalam proses ini, generasi emas tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga menjadi agen perubahan yang aktif. Dengan demikian, fidyah berfungsi sebagai kunci untuk menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak dan peduli. Sumber: 1. Al-Qur'an, Surah Al-Baqarah (2:184-185). 2. Hasan, A. (2020). Fidyah dan Kesejahteraan Sosial: Perspektif Islam. Jurnal Studi Islam, 15(2), 123-135. 3. Rahman, F. (2019). Pendidikan Karakter dalam Islam: Teori dan Praktik. Jakarta: Penerbit Al-Mawardi. Penulis: Aulia Anastasya Putri Permana Editor: M. Kausari Kaidani
BERITA12/03/2025 | Aulia Anastasya Putri Permana
Cara Berzakat yang Sesuai dengan Syariat
Cara Berzakat yang Sesuai dengan Syariat
Zakat merupakan salah satu rukun Islam yang wajib dilaksanakan oleh setiap Muslim yang memenuhi syarat. Untuk berzakat sesuai dengan syariat, ada beberapa langkah yang perlu diperhatikan. Pertama, tentukan jenis zakat yang akan dikeluarkan, apakah zakat fitrah atau zakat mal. Zakat fitrah dikeluarkan menjelang Idul Fitri, sedangkan zakat mal dikeluarkan dari harta yang dimiliki, seperti uang, emas, atau hasil pertanian. Kedua, hitung jumlah harta yang dimiliki. Zakat mal biasanya dikeluarkan sebesar 2,5% dari total harta yang telah mencapai nishab (batas minimum). Pastikan harta yang dihitung adalah harta yang telah dimiliki selama satu tahun penuh. Ketiga, pilih penerima zakat yang tepat. Penerima zakat harus sesuai dengan golongan yang telah ditentukan dalam Al-Qur'an, seperti fakir, miskin, amil, muallaf, hamba sahaya, orang yang berutang, dan orang yang berjuang di jalan Allah. Keempat, niatkan zakat yang akan dikeluarkan sebagai ibadah kepada Allah. Niat ini penting agar zakat yang dikeluarkan diterima sebagai amal shalih. Terakhir, serahkan zakat kepada yang berhak, baik secara langsung maupun melalui lembaga zakat yang terpercaya. Dengan mengikuti langkah-langkah ini, zakat yang dikeluarkan akan sesuai dengan syariat dan memberikan manfaat bagi penerimanya. ===================== *Tunaikan zakat/infaq, melalui Kantor Digital BAZNAS Kota Yogyakarta.https://kotayogya.baznas.go.id/bayarzakat Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id Penulis: Saffanatussa'idiyah Editor: Ummi Kiftiyah
BERITA12/03/2025 | admin
Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kota Yogyakarta.

Lihat Daftar Rekening →