Berita Terbaru
Infaq: Amal Kebaikan yang Membawa Berkah
Infaq, sebuah praktik yang dijunjung tinggi dalam agama Islam, memiliki peran yang signifikan dalam membentuk moralitas dan kesejahteraan sosial. Secara harfiah, infaq berarti memberikan sebagian dari harta atau rezeki kepada mereka yang membutuhkan, tanpa mengharapkan imbalan materi. Praktik ini tidak hanya dilihat sebagai tindakan amal, tetapi juga sebagai sarana untuk mencapai tujuan spiritual dan sosial yang lebih besar.
Salah satu aspek penting dari infaq adalah memberikan manfaat kepada orang-orang yang membutuhkan, seperti fakir miskin, yatim piatu, atau mereka yang terkena musibah. Dengan memberikan bantuan materi kepada mereka, infaq membantu meringankan beban hidup dan memberikan harapan bagi yang membutuhkan. Hal ini menciptakan lingkungan sosial yang lebih inklusif dan berempati, di mana setiap individu merasa dihargai dan didukung.
Selain memberikan manfaat langsung kepada penerima, infaq juga membawa keberkahan bagi pemberi. Dalam ajaran Islam, memberikan infaq dianggap sebagai salah satu cara untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan meningkatkan ketaatan kepada-Nya. Rasulullah SAW bersabda, “Sedekah itu dapat memadamkan murka Allah dan menolak bala.” (HR. Tirmidzi). Dengan memberikan infaq dengan ikhlas dan penuh kecintaan kepada sesama, seseorang tidak hanya memperoleh pahala dari Allah SWT, tetapi juga membuka pintu rezeki dan berkah dalam hidupnya sendiri.
Selain itu, infaq juga merupakan sarana untuk membersihkan harta dari sifat keserakahan dan ketamakan. Dalam Islam, harta yang diberikan oleh Allah SWT adalah ujian bagi manusia, dan infaq adalah cara untuk menguji keikhlasan dan kedermawanan seseorang. Dengan memberikan sebagian dari harta kepada mereka yang membutuhkan, seseorang membuktikan bahwa mereka tidak terlalu melekat pada harta duniawi, tetapi lebih mengutamakan kepentingan akhirat.
Dengan demikian, infaq bukan hanya sekadar tindakan memberi, tetapi juga merupakan bentuk ibadah, kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, membersihkan diri dari sifat-sifat negatif, dan membawa berkah bagi penerima dan pemberi. Oleh karena itu, marilah kita menjadikan infaq sebagai bagian integral dari kehidupan kita, sebagai cara untuk menciptakan masyarakat yang lebih berempati, berkeadilan, dan berkah untuk semua.
BERITA07/04/2024 | Anisa
infak di waktu sulit
Infak di waktu sulit adalah sebuah tindakan yang sangat mulia dan dihargai dalam banyak tradisi keagamaan dan budaya. Konsep ini mengacu pada berbagi atau memberikan sebagian dari apa yang kita miliki kepada orang lain, terutama kepada mereka yang membutuhkan, meskipun kita sendiri sedang berada dalam situasi yang tidak mudah. Tindakan ini bukan hanya soal memberikan uang, tetapi juga bisa dalam bentuk sumber daya lain seperti makanan, pakaian, atau bahkan waktu dan tenaga.Dalam Islam, infak merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan seorang Muslim. Hal ini karena infak memiliki peran ganda; selain membantu mereka yang membutuhkan, infak juga membersihkan dan menumbuhkan jiwa pemberi. Infak dituntun untuk diberikan tidak hanya di saat berkecukupan tetapi juga dalam keadaan kesulitan. Hal ini mencerminkan kedalaman iman dan keteguhan hati dalam menjalankan perintah Allah SWT, sekaligus menciptakan kepedulian dan solidaritas sosial yang tinggi di antara umat manusia.Melakukan infak di waktu sulit memiliki beberapa keutamaan, di antaranya:1. Peningkatan Keimanan dan Kepasrahan: Memberikan di saat kita sendiri sedang dalam kondisi sulit adalah tanda iman yang kuat dan penyerahan diri kepada kehendak Allah, percaya bahwa Allah adalah sumber rezeki yang tidak akan pernah habis.2. Pembersihan Harta dan Jiwa: Dalam Islam, dianggap bahwa memberikan sebagian dari harta kita menjadikan sisa harta yang kita miliki lebih berkah dan membersihkan jiwa kita dari sifat kikir dan egois.3. Perlindungan dari Kesulitan: Berinfak dipercaya dapat menjadi perlindungan bagi pemberi dari kesulitan-kesulitan yang lebih besar. Hal ini sebagaimana banyak hadis yang menggambarkan bagaimana sedekah dapat menghalau bencana.4. Pahala yang Berlipat Ganda: Allah SWT menjanjikan pahala yang berlipat ganda bagi mereka yang berinfak di zaman kesulitan. Ini menjadi motivasi spiritual yang kuat bagi umat Muslim untuk tetap berusaha berbagi meskipun kondisi tidak memungkinkan.5. Membangun Ketahanan dan Empati Komunal: Ketika seseorang melakukan infak di waktu sulit, hal ini tidak hanya membantu penerima secara material tetapi juga memperkuat tali persaudaraan dan empati dalam komunitas. Ini menciptakan lingkungan sosial yang lebih tahan banting terhadap krisis.Menginfakkan sebagian dari apa yang kita miliki di saat kita sendiri menghadapi kesulitan adalah tindakan yang luar biasa. Hal ini menunjukkan kekuatan karakter, iman, dan kepedulian terhadap sesama yang sangat besar. Walau mungkin terasa berat, imbalannya, baik di dunia maupun akhirat, sangatlah besar dan menjadi bukti komitmen terhadap nilai kemanusiaan dan spiritual.
BERITA07/04/2024 | Ady
Infaq: Amal Kebaikan yang Membawa Berkah
Infaq, sebuah praktik yang dijunjung tinggi dalam agama Islam, memiliki peran yang signifikan dalam membentuk moralitas dan kesejahteraan sosial. Secara harfiah, infaq berarti memberikan sebagian dari harta atau rezeki kepada mereka yang membutuhkan, tanpa mengharapkan imbalan materi. Praktik ini tidak hanya dilihat sebagai tindakan amal, tetapi juga sebagai sarana untuk mencapai tujuan spiritual dan sosial yang lebih besar.
Salah satu aspek penting dari infaq adalah memberikan manfaat kepada orang-orang yang membutuhkan, seperti fakir miskin, yatim piatu, atau mereka yang terkena musibah. Dengan memberikan bantuan materi kepada mereka, infaq membantu meringankan beban hidup dan memberikan harapan bagi yang membutuhkan. Hal ini menciptakan lingkungan sosial yang lebih inklusif dan berempati, di mana setiap individu merasa dihargai dan didukung.
Selain memberikan manfaat langsung kepada penerima, infaq juga membawa keberkahan bagi pemberi. Dalam ajaran Islam, memberikan infaq dianggap sebagai salah satu cara untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan meningkatkan ketaatan kepada-Nya. Rasulullah SAW bersabda, “Sedekah itu dapat memadamkan murka Allah dan menolak bala.” (HR. Tirmidzi). Dengan memberikan infaq dengan ikhlas dan penuh kecintaan kepada sesama, seseorang tidak hanya memperoleh pahala dari Allah SWT, tetapi juga membuka pintu rezeki dan berkah dalam hidupnya sendiri.
Selain itu, infaq juga merupakan sarana untuk membersihkan harta dari sifat keserakahan dan ketamakan. Dalam Islam, harta yang diberikan oleh Allah SWT adalah ujian bagi manusia, dan infaq adalah cara untuk menguji keikhlasan dan kedermawanan seseorang. Dengan memberikan sebagian dari harta kepada mereka yang membutuhkan, seseorang membuktikan bahwa mereka tidak terlalu melekat pada harta duniawi, tetapi lebih mengutamakan kepentingan akhirat.
Dengan demikian, infaq bukan hanya sekadar tindakan memberi, tetapi juga merupakan bentuk ibadah, kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, membersihkan diri dari sifat-sifat negatif, dan membawa berkah bagi penerima dan pemberi. Oleh karena itu, marilah kita menjadikan infaq sebagai bagian integral dari kehidupan kita, sebagai cara untuk menciptakan masyarakat yang lebih berempati, berkeadilan, dan berkah untuk semua.
BERITA07/04/2024 | Anisa
Asnaf Zakat: Klasifikasi Penerima Zakat dalam Islam
Zakat, salah satu dari lima pilar Islam, adalah kewajiban bagi umat Muslim yang mampu untuk memberikan sebagian dari harta mereka kepada mereka yang membutuhkan. Penerima zakat disebut asnaf, yang merupakan plural dari kata ‘saf’ yang berarti golongan atau kategori. Asnaf zakat mencakup berbagai kategori penerima zakat yang dijelaskan dalam Al-Qur’an dan Hadis.
Salah satu klasifikasi asnaf zakat yang paling umum dikenal adalah yang tercantum dalam Surah At-Taubah ayat 60, yang mengidentifikasi delapan golongan yang berhak menerima zakat:
Fakir – Orang yang benar-benar miskin dan tidak memiliki harta.
Miskin – Orang yang memiliki sedikit harta, namun tidak mencukupi kebutuhan dasar mereka.
Amil – Orang yang bertugas mengumpulkan, mengelola, dan mendistribusikan zakat.
Mu’allaf – Orang yang baru masuk Islam atau orang yang berpotensi memihak Islam jika diberi bantuan.
Riqab – Budak yang ingin membeli kebebasannya.
Gharim – Orang yang berhutang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Fisabilillah – Orang yang berjuang dalam jalan Allah, termasuk dalam perang fisabilillah.
Ibnu Sabil – Musafir atau orang yang sedang dalam perjalanan jauh dan membutuhkan bantuan.
Dalam konteks zakat, pengelompokan asnaf membantu memastikan bahwa zakat disalurkan secara adil dan sesuai dengan tujuan Islam untuk membantu mereka yang membutuhkan. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang asnaf zakat, umat Islam diharapkan dapat melaksanakan kewajiban zakatnya dengan lebih efektif dan membantu meningkatkan kesejahteraan sosial di masyarakat.
Di beberapa negara, terutama di Indonesia, telah ada upaya untuk mengatur dan mengelola zakat secara terorganisir melalui lembaga seperti Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) dan lembaga amil zakat lainnya. Mereka memastikan bahwa zakat disalurkan kepada asnaf yang benar-benar membutuhkan dengan cara yang paling efektif dan efisien.
Di Kota Yogyakarta, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) memiliki peran penting dalam mengelola zakat dan mendistribusikannya kepada asnaf yang membutuhkan. Melalui program-programnya, BAZNAS Kota Yogyakarta mendorong masyarakat untuk berzakat demi meningkatkan kesejahteraan sosial. Jadi, mari kita bersama-sama mendukung program zakat BAZNAS Kota Yogyakarta dan berkontribusi dalam menjaga keberlangsungan kesejahteraan sosial di Kota Yogyakarta.
#HartaBerkahJiwaSakinah
#PengelolaZakatTerbaikTerpercaya
#AmanahProfesionalTransparan
#TerimakasihMuzakiDanMustahiq
================
*Tunaikan zakat melalui BAZNAS Kota Yogyakarta, klik link: https://kotayogya.baznas.go.id/bayarzakat
*Kunjungi: website:https://baznas.jogjakota.go.id
BERITA07/04/2024 | Asmara
Membangun Sistem Zakat yang Transparan
Membangun Sistem Zakat yang Transparan : Meningkatkan Kepercayaan dan Partisipasi Masyarakat
Zakat sebuah institusi filantropi dalam Islam, telah menjadi pilar penting dalam menyediakan bantuan kepada yang membutuhkan dan mengurangi kesenjangan sosial dalam masyarakat Muslim. Namun, untuk memastikan efektivitasnya dalam mencapai tujuan tersebut, penting untuk membangun sistem zakat yang transparan. Dengan transparansi yang tepat, masyarakat akan memiliki kepercayaan yang lebih besar terhadap pengelolaan dana zakat, yang pada gilirannya akan meningkatkan partisipasi mereka dalam menyumbangkan dan menggunakan zakat. Artikel ini akan menjelaskan pentingnya transparansi dalam membangun sistem zakat yang transparan, dan strategi untuk mencapai transparansi dalam sistem zakat.
Pentingnya Transparansi dalam Zakat
Transparansi adalah kunci kepercayaan masyarakat dalam pengelolaan dana zakat. Tanpa transparansi yang memadai, masyarakat mungkin ragu untuk menyumbangkan zakat mereka karena mereka tidak yakin bagaimana dana mereka akan digunakan. Dengan membangun sistem zakat yang transparan, pengelola zakat dapat memastikan bahwa setiap dana dan bantuan yang disumbangkan digunakan dengan efisien dan efektif untuk membantu mereka yang membutuhkan.
Selain itu, transparansi juga memungkinkan untuk memonitor dan mengevaluasi kinerja program zakat. Dengan melihat bagaimana dana zakat digunakan dan dampaknya terhadap masyarakat yang dilayani, kita dapat mengidentifikasi keberhasilan serta area yang memerlukan perbaikan. Ini memungkinkan pengelola zakat untuk melakukan perubahan yang diperlukan demi meningkatkan efektivitas dan efisiensi program mereka.
Strategi Membangun Transparansi dalam Sistem Zakat
Untuk membangun sistem zakat yang transparan, beberapa strategi penting harus diterapkan:
Penggunaan Teknologi : Memanfaatkan teknologi seperti platform online atau aplikasi mobile untuk mengelola pengumpulan dan distribusi zakat secara terbuka dan transparan. Teknologi dapat digunakan untuk memberikan akses langsung kepada para pemberi zakat untuk melihat bagaimana dan di mana zakat mereka digunakan.
Pelaporan Publik : Menyediakan laporan keuangan yang terbuka dan mudah diakses kepada masyarakat umum. Laporan tersebut harus mencakup detail tentang jumlah zakat yang diterima, pengeluaran zakat, dan proyek atau program yang didukung oleh dana zakat tersebut.
Akuntabilitas : Menetapkan mekanisme pengawasan independen, seperti dewan pengawas atau auditor eksternal, untuk memastikan bahwa dana zakat dikelola dengan transparan dan akuntabel. Prosedur audit yang ketat harus diterapkan untuk memeriksa penggunaan dana zakat secara rutin.
Pelatihan dan Pendidikan : Memberikan pelatihan kepada staf dan relawan yang terlibat dalam pengelolaan zakat tentang pentingnya transparansi dan etika dalam menangani dana zakat. Pendidikan kepada masyarakat umum juga penting untuk meningkatkan pemahaman tentang zakat dan pentingnya transparansi dalam pengelolaannya.
Keterlibatan Masyarakat : Melibatkan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan terkait penggunaan dana zakat. Ini dapat dilakukan melalui mekanisme seperti forum konsultasi atau survei masyarakat untuk menentukan prioritas penggunaan dana zakat.
Komunikasi Terbuka : Memastikan komunikasi yang terbuka dan jelas dengan para pemberi zakat tentang bagaimana dana zakat digunakan dan dampaknya terhadap komunitas yang menerima manfaat. Transparansi dalam komunikasi akan membangun kepercayaan dan meningkatkan partisipasi dalam program zakat.
Penerapan Standar Etika : Menerapkan standar etika yang tinggi dalam pengelolaan dana zakat, termasuk prinsip-prinsip seperti integritas, kejujuran, dan keadilan. Ini akan membantu memastikan bahwa dana zakat digunakan dengan benar dan untuk kepentingan yang tepat.
Dengan menerapkan strategi-strategi ini, sistem zakat dapat dibangun dengan transparan dan dapat dipercaya, yang akan meningkatkan efektivitas dalam membantu mereka yang membutuhkan dan membangun kepercayaan masyarakat dalam institusi pengelolaan zakat.
#HartaBerkahJiwaSakinah
#PengelolaZakatTerbaikTerpercaya
#AmanahProfesionalTransparan
#TerimakasihMuzakiDanMustahiq
================
*Tunaikan zakat melalui BAZNAS Kota Yogyakarta, klik link: https://kotayogya.baznas.go.id/bayarzakat
*Kunjungi: website:https://baznas.jogjakota.go.id
BERITA07/04/2024 | Asmara
Peran Amil Zakat dalam Pemberdayaan Ekonomi Umat
Amil zakat merupakan sosok yang memiliki peran penting dalam pengelolaan dana zakat dan pemberdayaan ekonomi umat. Sebagai perantara antara masyarakat yang berzakat dan mustahik (orang yang berhak menerima zakat), amil zakat bertanggung jawab untuk mengelola dana zakat dengan baik dan transparan sesuai dengan prinsip-prinsip syariah Islam.
Salah satu tugas utama amil zakat adalah mengidentifikasi dan memverifikasi mustahik yang berhak menerima zakat. Hal ini dilakukan melalui survei dan penelitian terhadap kondisi sosial ekonomi mereka. Dengan demikian, amil zakat dapat memastikan bahwa bantuan zakat benar-benar disalurkan kepada yang membutuhkan.
Selain itu, amil zakat juga memiliki peran dalam memberdayakan ekonomi umat melalui program-program pengentasan kemiskinan. Mereka dapat memberikan bantuan berupa modal usaha, pelatihan keterampilan, atau program-program ekonomi produktif lainnya yang dapat membantu mustahik untuk mandiri secara ekonomi.
Amil zakat juga bertanggung jawab untuk memberikan pendampingan dan monitoring terhadap mustahik yang telah menerima bantuan zakat. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa bantuan yang diberikan memberikan dampak yang positif dalam meningkatkan kesejahteraan mustahik.
Dalam konteks pemberdayaan ekonomi umat, peran amil zakat tidak dapat dianggap remeh. Mereka merupakan garda terdepan dalam menjalankan amanah untuk mengelola dana zakat dengan sebaik-baiknya demi kesejahteraan umat. Dengan adanya peran amil zakat yang efektif, diharapkan dapat terwujud masyarakat yang lebih sejahtera dan mandiri secara ekonomi.
#HartaBerkahJiwaSakinah
#PengelolaZakatTerbaikTerpercaya
#AmanahProfesionalTransparan
#TerimakasihMuzakiDanMustahiq
================
*Tunaikan zakat melalui BAZNAS Kota Yogyakarta, klik link: https://kotayogya.baznas.go.id/bayarzakat
*Kunjungi: website:https://baznas.jogjakota.go.id
BERITA07/04/2024 | Asmara
Zakat dan Kewirausahaan Sosial
Zakat dan Kewirausahaan Sosial : Mendorong Pembangunan Usaha Kecil dan Menengah
Zakat merupakan salah satu pilar utama dalam agama Islam yang memiliki peran penting dalam membangun keadilan sosial dan ekonomi. Sementara itu, kewirausahaan sosial merupakan konsep yang berkembang dalam upaya memecahkan berbagai masalah sosial melalui pendekatan bisnis yang berkelanjutan. Keduanya memiliki potensi besar untuk saling melengkapi dalam mendorong pembangunan usaha kecil dan menengah (UKM). Dalam artikel ini, akan diuraikan bagaimana zakat dan kewirausahaan sosial dapat bekerja bersama-sama untuk meningkatkan ekonomi umat, terutama melalui pembangunan UKM.
Zakat : Pilar Keberdayaan Ekonomi Umat
Zakat yang secara harfiah berarti “pembersihan” atau “pemurnian”, merupakan kewajiban bagi umat Muslim yang mampu untuk menyalurkan sebagian dari kekayaannya kepada yang membutuhkan. Dana zakat ini digunakan untuk membantu fakir miskin, orang-orang yang terpinggirkan, serta dalam pembangunan sosial dan ekonomi masyarakat. Salah satu potensi besar dari zakat adalah sebagai sumber pendanaan untuk memperkuat ekonomi umat, terutama dalam pembangunan UKM.
Peran Zakat dalam Pengembangan UKM
Dalam konteks pembangunan UKM, dana zakat dapat dimanfaatkan dalam berbagai aspek seperti :
Modal Usaha : Zakat dapat diberikan kepada para pengusaha kecil dan menengah yang membutuhkan modal untuk mengembangkan usahanya. Modal ini bisa digunakan untuk membeli peralatan, memperluas produksi, atau mengembangkan inovasi baru.
Pendidikan dan Pelatihan : Zakat juga dapat dialokasikan untuk memberikan pelatihan dan pendidikan kepada para pelaku UKM. Dengan meningkatkan keterampilan dan pengetahuan mereka, diharapkan mereka dapat mengelola usaha mereka dengan lebih baik dan meningkatkan daya saing.
Akses Keuangan : Zakat dapat digunakan untuk mendukung lembaga keuangan mikro atau program pinjaman bagi pelaku UKM yang tidak memiliki akses ke modal dari bank konvensional. Ini akan membantu mereka untuk memperluas usaha mereka atau memulai usaha baru.
Pengembangan Infrastruktur : Sebagian dana zakat dapat digunakan untuk membangun infrastruktur yang mendukung pertumbuhan UKM, seperti pasar tradisional, pusat distribusi, atau fasilitas pengolahan produk.
Kewirausahaan Sosial : Pendekatan Berkelanjutan dalam Memecahkan Masalah Sosial
Kewirausahaan sosial adalah model bisnis yang bertujuan untuk menciptakan nilai sosial, lingkungan, dan ekonomi secara bersamaan. Berbeda dengan bisnis konvensional yang fokus pada profit semata, kewirausahaan sosial mengutamakan dampak positif bagi masyarakat. Beberapa prinsip kunci dari kewirausahaan sosial adalah inovasi, keberlanjutan, dan kemandirian.
Peran Kewirausahaan Sosial dalam Pengembangan UKM
Dalam konteks UKM, kewirausahaan sosial memiliki beberapa peran penting, antara lain :
Inovasi : Kewirausahaan sosial mendorong terciptanya inovasi-inovasi baru dalam produk, layanan, atau model bisnis yang dapat meningkatkan daya saing UKM. Contohnya adalah pengembangan produk ramah lingkungan atau penerapan teknologi informasi untuk meningkatkan efisiensi operasional.
Pemberdayaan Masyarakat : Melalui pendekatan partisipatif, kewirausahaan sosial dapat membantu membangun kapasitas masyarakat lokal, termasuk para pelaku UKM, untuk mengatasi berbagai tantangan yang mereka hadapi.
Pengembangan Jaringan : Kewirausahaan sosial sering kali bekerja dalam jaringan yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pelaku UKM, pemerintah, lembaga keuangan, dan LSM. Kolaborasi ini dapat membantu memperluas akses pasar, sumber daya, dan peluang bagi UKM.
Keberlanjutan Ekonomi dan Lingkungan : Kewirausahaan sosial mempromosikan praktik bisnis yang berkelanjutan secara ekonomi, sosial, dan lingkungan. Hal ini dapat meningkatkan daya tahan UKM dalam menghadapi perubahan ekonomi dan lingkungan yang dinamis.
Sinergi antara Zakat dan Kewirausahaan Sosial dalam Mendorong Pembangunan UKM
Melalui sinergi antara zakat dan kewirausahaan sosial, dapat diciptakan ekosistem yang mendukung pertumbuhan dan keberlanjutan UKM. Beberapa langkah konkret yang dapat diambil adalah sebagai berikut :
Pendanaan Berbasis Zakat untuk Inisiatif Kewirausahaan Sosial : Dana zakat dapat dialokasikan untuk mendukung inisiatif kewirausahaan sosial yang berfokus pada pengembangan UKM. Misalnya, pendanaan dapat diberikan kepada koperasi atau perusahaan sosial yang membantu memfasilitasi akses modal, pelatihan, dan jaringan bagi pelaku UKM.
Pelatihan dan Pendampingan : Dana zakat dapat digunakan untuk menyelenggarakan program pelatihan dan pendampingan bagi para pelaku UKM yang ingin mengembangkan usahanya. Program ini dapat mencakup pelatihan keterampilan manajerial, pemasaran, dan keuangan, serta pendampingan dalam pengembangan rencana bisnis dan strategi pertumbuhan.
Pengembangan Infrastruktur Ekonomi Lokal : Sebagian dana zakat dapat dialokasikan untuk membangun infrastruktur ekonomi lokal yang mendukung pertumbuhan UKM, seperti pusat inkubasi bisnis, akses keuangan mikro, atau fasilitas pengolahan produk.
Promosi Kesadaran dan Pendidikan : Dana zakat juga dapat digunakan untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat tentang pentingnya pembangunan UKM dalam mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan ekonomi umat.
Melalui program-program pendidikan dan promosi kesadaran, dana zakat dapat dipergunakan untuk :
Workshop dan Seminar : Mengadakan workshop dan seminar tentang pentingnya pembangunan UKM dalam mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan ekonomi. Dalam acara ini, dapat dilakukan diskusi, presentasi, dan sharing pengalaman dari para ahli dan praktisi dalam industri UKM.
Pelatihan Kewirausahaan : Menyelenggarakan pelatihan kewirausahaan untuk membantu masyarakat memulai usaha kecil dan menengah mereka sendiri. Pelatihan ini dapat mencakup manajemen usaha, keuangan, pemasaran, dan keterampilan teknis terkait.
Pendampingan Bisnis : Memberikan pendampingan langsung kepada para pengusaha kecil dan menengah untuk membantu mereka mengembangkan dan memperluas usaha mereka. Pendampingan ini dapat mencakup bimbingan strategis, akses ke pasar dan jaringan, serta bantuan dalam hal administrasi dan pengelolaan bisnis.
Kampanye Pendidikan : Melakukan kampanye pendidikan tentang zakat dan keberdayaannya dalam pembangunan ekonomi umat. Kampanye ini dapat dilakukan melalui media sosial, materi pendidikan, dan ceramah-ceramah agama yang menjelaskan konsep zakat dan perannya dalam meningkatkan kesejahteraan sosial.
Pengembangan Sumber Daya Manusia : Mengalokasikan dana zakat untuk beasiswa dan program pendidikan yang bertujuan untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan masyarakat dalam mengelola bisnis dan berwirausaha.
Penelitian dan Pengembangan : Mendukung penelitian dan pengembangan di bidang UKM untuk meningkatkan inovasi, efisiensi, dan daya saing bisnis kecil dan menengah.
Pengadaan Sarana dan Prasarana : Memfasilitasi akses masyarakat terhadap sarana dan prasarana yang diperlukan untuk mendukung keberlangsungan usaha, seperti akses ke teknologi, infrastruktur, dan pasar.
Dengan pendekatan ini dana zakat tidak hanya digunakan untuk membantu individu secara langsung, tetapi juga untuk membangun kesadaran dan pemahaman yang lebih baik di masyarakat tentang peran penting UKM dalam mengatasi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan ekonomi umat.
#HartaBerkahJiwaSakinah
#PengelolaZakatTerbaikTerpercaya
#AmanahProfesionalTransparan
#TerimakasihMuzakiDanMustahiq
================
*Tunaikan zakat melalui BAZNAS Kota Yogyakarta, klik link: https://kotayogya.baznas.go.id/bayarzakat
*Kunjungi: website:https://baznas.jogjakota.go.id
BERITA07/04/2024 | Asmara
Fidyah Puasa: Pahami Pengertian dan ketentuannya
Fidyah adalah sebuah konsep dalam Islam yang berasal dari kata fadaa yang berarti mengganti atau menebus. Hukum fidyah puasa mengacu pada kewajiban memberikan sejumlah harta kepada orang-orang miskin sebagai pengganti ibadah puasa yang ditinggalkan oleh seseorang atas alasan tertentu. Fidyah diperlukan ketika seseorang tidak mampu menjalankan ibadah puasa dengan alasan seperti sakit yang menahun, kondisi tua yang menyebabkan sulit berpuasa, atau situasi lain yang memungkinkan mereka untuk tidak berpuasa.
Menurut KBBI, fidyah juga dapat diartikan sebagai denda yang harus dibayar oleh seorang Muslim karena tidak mampu menjalankan puasa yang disebabkan oleh kondisi kesehatan atau keadaan lain yang memenuhi syarat-syarat tertentu. Hukum fidyah puasa sesuai dengan ajaran Islam yang memberikan keringanan kepada umatnya dalam menjalankan ibadah tertentu ketika mereka menghadapi kesulitan yang sah.
Hukum fidyah puasa adalah sebuah solusi ketika seseorang benar-benar tidak mampu berpuasa yang ada dalam syariat Islam.berikut ulasan lebih lanjut tentang hukum fidyah puasa yang dirangkum dari laman baznas.go.id
Dalil Hukum Fidyah
Hukum fidyah puasa dijelaskan dalam surah Al-Baqarah ayat 184,
????????? ?????????????? ?????? ????? ???????? ?????????? ???? ????? ?????? ????????? ????? ???????? ??????? ??????? ?????????? ?????????????? ???????? ??????? ??????????? ?????? ????????? ??????? ?????? ?????? ?????? ?????? ??????????? ?????? ??????? ???? ???????? ???????????? ????
Artinya: (Yaitu) beberapa hari tertentu. Maka, siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, itu lebih baik baginya dan berpuasa itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.
Siapa Saja yang Diperbolehkan Membayar Fidyah
Berdasarkan surah Al-Baqarah ayat 184, Wahbah az-Zuhaili dalam dalam buku "Fiqih Islam wa Adillatuhu Jilid 3" menjabarkan siapa saya individu yang diperbolehkan membayar fidyah untuk menggugurkan kewajiban puasanya.
Orang yang Tidak Mampu Berpuasa
Kriteria ini berlaku untuk orang yang benar-benar tidak mampu menjalankan ibadah puasa. Contohnya, orang lanjut usia yang mengalami kesulitan fisik atau kondisi kesehatan yang membatasi kemampuannya untuk berpuasa. Dalam hal ini, mereka diizinkan untuk tidak berpuasa dengan syarat memberi makan orang miskin sebagai pengganti hari-hari puasa yang mereka lewati.
Orang Sakit yang Tidak Ada Harapan Sembuh
Fidyah juga berlaku bagi orang yang sakit secara kronis atau memiliki kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan mereka untuk berpuasa tanpa merusak kesehatan lebih lanjut. Mereka diperbolehkan untuk tidak berpuasa asalkan memberikan makanan kepada orang miskin sebagai ganti dari puasa yang mereka tinggalkan.
wanita Hamil dan Menyusui
Wanita hamil atau menyusui dapat diberikan keringanan dalam menjalankan ibadah puasa jika mereka khawatir akan kesehatan diri mereka sendiri atau anak yang sedang dikandung atau disusui. Dalam hal ini, mereka dapat tidak berpuasa selama masa kehamilan atau menyusui, dengan syarat memberi makan orang miskin sebagai ganti dari puasa yang mereka lewatkan.
Orang yang lupa mengqadha puasanya yang lalu
Ada juga kriteria fidyah untuk orang yang lalai dalam mengqadha puasa Ramadhan, yakni mereka yang terus menunda mengganti puasa yang telah ditinggalkan hingga tiba bulan Ramadhan di tahun berikutnya. Mereka diperintahkan untuk membayar fidyah sebanyak jumlah hari puasa yang mereka lewatkan sebagai bentuk tanggung jawab atas keterlambatan mereka dalam mengganti puasa tersebut.
Penulis: Yoga Pratama
================
#HartaBerkahJiwaSakinah #PengelolaZakatTerbaikTerpercaya #AmanahProfesionalTransparan #TerimakasihMuzakiDanMustahiq ================ Mari tunaikan zakat, infaq, sedekah, fidyah, kafarat dan qurban transfer ke rekening: BSI : 4441111121 BRI : 153101000005307 an. Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Yogyakarta Atau melalui Kantor Digital BAZNAS Kota Yogyakarta https://kotayogya.baznas.go.id/bayarzakat
Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id
?
BERITA06/04/2024 | Yoga Pratama
Perhatikan Hal Ini dalam Memilih Lembaga Amil Zakat yang Tepat untuk Membayar Fidyah!
Dalam memilih lembaga amil zakat yang tepat untuk membantu dalam membayar fidyah, ada beberapa kriteria yang dapat Anda perhatikan:
Legalitas dan Akreditasi: Pastikan lembaga amil zakat yang Anda pilih memiliki status legal yang sah dan diakui oleh otoritas yang berwenang. Cari tahu apakah lembaga tersebut terdaftar dan diakreditasi oleh lembaga zakat resmi di negara atau wilayah Anda. Legalitas dan akreditasi akan memberikan jaminan bahwa lembaga tersebut beroperasi sesuai dengan aturan dan regulasi yang berlaku.
Transparansi dan Akuntabilitas: Pilih lembaga amil zakat yang memiliki kebijakan transparan dalam pengelolaan dana dan penyaluran bantuan. Lembaga tersebut seharusnya memiliki laporan keuangan terperinci yang dapat diakses oleh publik. Mereka juga harus dapat memberikan informasi tentang bagaimana dana zakat dan fidyah disalurkan kepada penerima manfaat. Transparansi dan akuntabilitas ini akan membantu memastikan bahwa bantuan Anda digunakan dengan benar dan efektif.
Kepercayaan dan Reputasi: Cari tahu tentang reputasi lembaga amil zakat yang Anda pertimbangkan. Anda dapat mencari ulasan atau testimonial dari orang lain yang telah berinteraksi dengan lembaga tersebut. Periksa apakah lembaga tersebut memiliki rekam jejak yang baik dalam memberikan bantuan kepada mereka yang membutuhkan. Kepercayaan dan reputasi yang baik adalah indikator penting dalam memilih lembaga amil zakat yang dapat diandalkan.
Profesionalisme dan Kompetensi: Pastikan bahwa lembaga amil zakat memiliki tim yang profesional dan kompeten dalam mengelola dana zakat dan fidyah. Mereka harus memiliki pengetahuan yang memadai tentang hukum-hukum zakat dan fidyah serta memiliki sistem yang baik untuk mengelola dana tersebut. Keahlian dan profesionalisme yang baik akan memastikan bahwa bantuan Anda dikelola dengan baik dan disalurkan kepada mereka yang membutuhkan.
Jangkauan dan Distribusi: Periksa apakah lembaga amil zakat memiliki jangkauan yang luas dan dapat menjangkau orang-orang yang membutuhkan di berbagai wilayah. Lembaga tersebut harus memiliki sistem distribusi yang baik dan dapat menyalurkan bantuan dengan cepat dan efisien.
Komunikasi dan Keterbukaan: Pilih lembaga amil zakat yang memiliki komunikasi yang baik dan dapat memberikan informasi yang jelas dan jujur tentang program, kebijakan, dan proses yang terlibat dalam membayar fidyah. Mereka harus dapat dengan mudah dihubungi dan memberikan respons yang memadai terhadap pertanyaan dan permintaan informasi Anda.
Memperhatikan kriteria-kriteria ini akan membantu Anda memilih lembaga amil zakat yang dapat diandalkan dan dapat membantu dalam membayar fidyah dengan tepat dan efektif.
Penulis: Yoga Pratama
================
#HartaBerkahJiwaSakinah #PengelolaZakatTerbaikTerpercaya #AmanahProfesionalTransparan #TerimakasihMuzakiDanMustahiq ================ Mari tunaikan zakat, infaq, sedekah, fidyah, kafarat dan qurban transfer ke rekening: BSI : 4441111121 BRI : 153101000005307 an. Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Yogyakarta Atau melalui Kantor Digital BAZNAS Kota Yogyakarta https://kotayogya.baznas.go.id/bayarzakat
Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id
?
BERITA06/04/2024 | Yoga Pratama
Makna Infaq dalam Kehidupan: Memberi, Menyuburkan, dan Membangun Kebaikan Bersama
Infaq, sebagai praktik memberikan sebagian dari harta atau rezeki kepada mereka yang membutuhkan, memiliki makna yang mendalam dan penting dalam kehidupan manusia. Praktik ini tidak hanya sekadar tindakan memberi, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai yang mendasari kemanusiaan, solidaritas, dan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.
Pertama-tama, makna infaq dalam kehidupan adalah tentang memberi dengan tulus dan ikhlas. Dalam memberikan infaq, seseorang menunjukkan kemurahan hati dan kedermawanan, serta kesediaan untuk berbagi dengan mereka yang membutuhkan. Hal ini mencerminkan sikap empati dan perhatian terhadap sesama manusia, yang merupakan nilai-nilai yang sangat dihargai dalam kehidupan bermasyarakat.
Selain itu, makna infaq juga adalah tentang menyuburkan kebaikan dan keberkahan dalam hidup. Dalam ajaran agama manapun, praktik memberi dianggap sebagai cara untuk mendatangkan berkah dan pahala. Dengan memberikan infaq, seseorang tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan dasar mereka yang membutuhkan, tetapi juga membawa keberkahan dan kebahagiaan bagi diri sendiri dan orang lain.
Selanjutnya, makna infaq dalam kehidupan adalah tentang membangun kesejahteraan bersama dalam masyarakat. Dengan memberikan sebagian dari harta kepada mereka yang membutuhkan, seseorang ikut berpartisipasi dalam upaya mengurangi kemiskinan, ketimpangan, dan penderitaan di masyarakat. Hal ini menciptakan lingkungan yang lebih inklusif, adil, dan harmonis bagi semua.
Selain itu, makna infaq juga adalah tentang memperkuat ikatan sosial dan solidaritas dalam masyarakat. Praktik memberi tidak hanya menciptakan hubungan yang lebih baik antara individu, tetapi juga menguatkan jalinan persaudaraan dan rasa kebersamaan dalam komunitas. Dengan berbagi dengan sesama, seseorang membantu menciptakan lingkungan yang saling mendukung dan memperkuat kesejahteraan bersama.
Secara keseluruhan, makna infaq dalam kehidupan adalah tentang memberi, menyuburkan, dan membangun kebaikan bersama. Praktik ini tidak hanya memberikan manfaat bagi mereka yang menerima, tetapi juga membawa keberkahan, kebahagiaan, dan kedamaian bagi pemberi dan seluruh masyarakat. Oleh karena itu, marilah kita terus menjadikan infaq sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita, sebagai cara untuk menciptakan dunia yang lebih baik dan lebih manusiawi untuk semua.
BERITA06/04/2024 | Anisa
Infak di Hari Raya Idul Fitri: Keberkahan dalam Berbagi
Hari Raya Idul Fitri tidak hanya merupakan momen untuk merayakan kemenangan setelah berpuasa selama sebulan penuh, tetapi juga menjadi waktu yang tepat untuk meningkatkan kepedulian sosial dan keberkahan melalui infak. Infak, dalam konteks ini, bukan hanya sekadar memberikan sumbangan materi, tetapi juga menunjukkan rasa empati, solidaritas, dan kepedulian terhadap sesama.
Dalam Islam, infak memiliki peran penting sebagai salah satu bentuk ibadah yang dianjurkan. Rasulullah SAW dan para sahabatnya telah mencontohkan pentingnya berinfak dalam membantu mereka yang membutuhkan, terutama saat momen-momen penting seperti Idul Fitri. Infak di Hari Raya Idul Fitri memiliki makna yang lebih dalam, karena tidak hanya membantu mereka yang kurang beruntung, tetapi juga membawa keberkahan bagi pelakunya.
Infak di Hari Raya Idul Fitri dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, mulai dari memberikan sumbangan uang, makanan, pakaian, hingga bantuan dalam bentuk waktu dan tenaga. Hal ini mencerminkan keberagaman kemampuan yang dimiliki oleh setiap individu dalam memberikan kontribusi terhadap kebaikan sosial. Tidak ada batasan jumlah yang ditentukan dalam berinfak, karena yang terpenting adalah niat tulus dan keikhlasan dalam berbagi.
Selain memberikan manfaat langsung bagi yang menerima, berinfak di Hari Raya Idul Fitri juga membawa manfaat spiritual bagi pelakunya. Dengan berbagi rezeki yang telah diberikan oleh Allah SWT, seseorang akan merasakan kedamaian dan kepuasan batin yang tidak ternilai harganya. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Al-Qur’an yang menyatakan bahwa “Barang siapa yang memberikan pinjaman kepada Allah, niscaya Dia akan melipatgandakan pembayarannya dengan banyak.”
Infak di Hari Raya Idul Fitri juga dapat menjadi momentum untuk mempererat tali silaturahmi antara sesama umat Islam. Dengan berbagi dengan mereka yang membutuhkan, kita memperkuat rasa persaudaraan dan saling mendukung dalam menjalani kehidupan. Hal ini sangat penting dalam membangun masyarakat yang berdaya, inklusif, dan penuh kasih sayang.
Namun demikian, penting untuk diingat bahwa berinfak bukanlah sekadar kewajiban sosial, tetapi juga merupakan panggilan moral bagi setiap individu. Dalam konteks ini, setiap orang, tanpa memandang status sosial atau ekonomi, memiliki tanggung jawab untuk berkontribusi dalam membangun kebaikan di masyarakat.
Sebagai kesimpulan, infak di Hari Raya Idul Fitri merupakan manifestasi dari nilai-nilai kepedulian, empati, dan solidaritas dalam Islam. Melalui perbuatan baik ini, kita tidak hanya membawa manfaat bagi mereka yang membutuhkan, tetapi juga meraih keberkahan dan kedamaian dalam diri. Oleh karena itu, marilah kita manfaatkan momen yang mulia ini untuk berbagi dengan sesama dan menjadi agen perubahan yang positif dalam masyarakat.
BERITA06/04/2024 | Ilmi
Manfaat Infak Setiap Hari: Menginspirasi Kebaikan dalam Kehidupan
Infak, atau sumbangan yang diberikan secara sukarela untuk membantu orang lain, bukanlah sekadar tindakan sosial yang dilakukan secara sporadis, tetapi merupakan sikap dan perilaku yang dapat memberikan dampak positif yang besar dalam kehidupan sehari-hari. Berinfak setiap hari memiliki manfaat yang luas, baik bagi penerima maupun pemberi, serta mampu menginspirasi kebaikan dalam masyarakat.
Pertama-tama, infak setiap hari memungkinkan kita untuk merasakan keberkahan rezeki yang telah diberikan oleh Allah SWT. Dalam Islam, infak dipandang sebagai salah satu bentuk ibadah yang dapat mendekatkan diri kepada-Nya. Dengan memberikan sebagian dari rezeki yang telah diberikan kepada kita, kita menunjukkan rasa syukur atas karunia tersebut dan membuka pintu untuk menerima lebih banyak keberkahan.
Selain itu, berinfak setiap hari juga memiliki manfaat kesejahteraan psikologis bagi pemberi. Tindakan memberi secara konsisten dapat meningkatkan perasaan bahagia dan kepuasan hidup. Studi psikologis telah menemukan bahwa orang yang terlibat dalam aktivitas sosial seperti berinfak cenderung memiliki tingkat kebahagiaan yang lebih tinggi dan lebih sedikit mengalami stres atau depresi.
Selanjutnya, infak setiap hari memberikan manfaat langsung bagi mereka yang membutuhkan bantuan. Dengan memberikan sumbangan secara teratur, kita dapat membantu mengurangi penderitaan dan kesulitan hidup yang dihadapi oleh orang-orang yang kurang beruntung. Bahkan, infak yang diberikan secara konsisten dapat memberikan dampak yang lebih berkelanjutan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Tidak hanya itu, berinfak setiap hari juga dapat membangun solidaritas dan rasa saling peduli dalam masyarakat. Ketika individu-individu bersatu untuk membantu sesama, mereka memperkuat ikatan sosial dan memperkuat kebersamaan di antara mereka. Hal ini membentuk fondasi yang kuat untuk membangun masyarakat yang inklusif, adil, dan penuh kasih sayang.
Selain manfaat langsung yang diberikan kepada penerima, berinfak setiap hari juga memiliki implikasi yang lebih luas dalam membangun peradaban yang lebih baik. Tindakan memberi secara konsisten dapat menginspirasi orang lain untuk melakukan hal serupa, menciptakan efek domino dari kebaikan. Dengan demikian, infak setiap hari bukan hanya tentang memberikan bantuan materi, tetapi juga tentang menciptakan perubahan sosial yang positif.
Sebagai kesimpulan, berinfak setiap hari memiliki manfaat yang besar, baik secara spiritual, psikologis, maupun sosial. Dengan membiasakan diri untuk memberikan sumbangan secara teratur, kita tidak hanya meraih keberkahan dalam hidup kita sendiri, tetapi juga menjadi sumber inspirasi bagi orang lain untuk melakukan kebaikan. Oleh karena itu, mari kita jadikan infak sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari gaya hidup kita dan terus menginspirasi kebaikan dalam dunia ini.
BERITA06/04/2024 | Ilmi
Perbedaan antara fidyah dan kaffarah
Perbedaan antara fidyah dan kaffarah dalam agama Islam adalah dua konsep yang terkait dengan kompensasi atau penggantian atas pelanggaran atau kewajiban agama. Meskipun keduanya sering kali disalahartikan sebagai konsep yang serupa, mereka sebenarnya memiliki perbedaan penting dalam konteks dan penerapannya. Mari kita bahas perbedaan antara fidyah dan kaffarah.
Fidyah adalah pembayaran yang diberikan sebagai bentuk penggantian atas ketidakmampuan atau pelanggaran tertentu dalam menjalankan ibadah puasa. Fidyah dikenakan dalam situasi-situasi tertentu, seperti sakit parah atau kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan seseorang untuk berpuasa sepanjang hidupnya. Fidyah juga dikenakan pada orang tua yang tidak mampu berpuasa karena usia lanjut atau kondisi kesehatan yang memburuk. Dalam kasus-kasus ini, fidyah dapat dibayar sebagai ganti atas setiap hari puasa yang terlewatkan.
Secara harfiah, fidyah berarti "penebusan" atau "pengganti". Fidyah biasanya berwujud pembayaran dalam bentuk uang atau makanan yang diberikan kepada orang yang membutuhkan, seperti fakir miskin atau mereka yang tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar mereka. Jumlah fidyah yang harus dibayar adalah setara dengan makanan pokok yang cukup untuk memberi makan satu orang miskin selama satu hari. Fidyah tidak menggantikan puasa itu sendiri, tetapi bertindak sebagai bentuk kompensasi atau penebusan atas ketidakmampuan untuk berpuasa.
Di sisi lain, kaffarah adalah tindakan yang diwajibkan sebagai pengganti atau penebus atas pelanggaran serius terhadap hukum-hukum puasa dalam Islam. Kaffarah dikenakan dalam situasi-situasi seperti makan atau minum secara sengaja selama puasa, hubungan seksual di siang hari selama bulan Ramadan, atau muntah secara disengaja. Pelanggaran semacam ini memerlukan tindakan penggantian yang lebih berat daripada fidyah.
Kaffarah bukan hanya pembayaran, tetapi juga melibatkan tindakan fisik atau spiritual yang harus dilakukan untuk mendapatkan pengampunan. Tindakan kaffarah yang paling umum adalah berpuasa terus menerus selama dua bulan berturut-turut (60 hari). Jika seseorang tidak mampu melaksanakan kaffarah ini, maka ia dapat memberikan makanan kepada 60 orang yang membutuhkan, dengan memberikan makanan yang cukup sebagai pengganti setiap hari yang ia lewati tanpa berpuasa. Kaffarah bertujuan untuk mengajarkan pentingnya kesungguhan dan tanggung jawab dalam menjalankan ibadah puasa.
Dalam kesimpulannya, perbedaan antara fidyah dan kaffarah adalah sebagai berikut:
Fidyah dikenakan dalam situasi ketidakmampuan atau pelanggaran tertentu dalam menjalankan ibadah puasa, sementara kaffarah dikenakan dalam kasus-kasus pelanggaran serius terhadap hukum-hukum puasa.
Fidyah berwujud pembayaran dalam bentuk uang atau makanan yang diberikan kepada orang yang membutuhkan, sementara kaffarah melibatkan tindakan fisik atau spiritual yang harus dilakukan.
Fidyah tidak menggantikan puasa itu sendiri, tetapi bertindak sebagai kompensasi atas ketidakmampuan untuk berpuasa, sedangkan kaffarah bertujuan untuk mendapatkan pengampunan atas pelanggaran serius terhadap hukum-hukum puasa.
Dalam prakteknya, fidyah dan kaffarah adalah bagian integral dari sistem syariat Islam yang menegaskan pentingnya tanggung jawab, kompensasi, dan pengampunan dalam menjalankan ibadah. Penting untuk berkonsultasi dengan ulama atau ahli agama yang dapat memberikan panduan yang lebih rinci tentang penerapan fidyah dan kaffarah sesuai dengan situasi pribadi masing-masing individu.
Penulis: Yoga Pratama
================
#HartaBerkahJiwaSakinah #PengelolaZakatTerbaikTerpercaya #AmanahProfesionalTransparan #TerimakasihMuzakiDanMustahiq ================ Mari tunaikan zakat, infaq, sedekah, fidyah, kafarat dan qurban transfer ke rekening: BSI : 4441111121 BRI : 153101000005307 an. Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Yogyakarta Atau melalui Kantor Digital BAZNAS Kota Yogyakarta https://kotayogya.baznas.go.id/bayarzakat
Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id
?
BERITA06/04/2024 | Yoga Pratama
Cara Menghindari Kafarat Jima’
Untuk menghindari kafarat jima’ (denda sebagai akibat dari melewatkan puasa sepanjang hari dalam bulan Ramadhan karena berhubungan seksual), ada beberapa langkah yang bisa diambil:1. Berpuasa dengan penuh kesadaranPastikan Anda memulai puasa sebelum fajar dan tidak membatalkannya sepanjang hari sampai terbenamnya matahari. Hindari hubungan seksual selama bulan Ramadhan ketika Anda berpuasa.2. Menjaga komunikasi dengan pasanganPenting untuk berkomunikasi dengan pasangan Anda tentang pentingnya menjaga puasa selama bulan Ramadhan. Bersama-sama, buatlah komitmen untuk saling mendukung dalam menjalankan ibadah puasa dengan baik.3. Menjauhi godaanHindari situasi atau lingkungan yang dapat memicu godaan untuk berhubungan seksual selama bulan Ramadhan. Bekerja sama dengan pasangan untuk menciptakan lingkungan yang mendukung dalam menjalankan ibadah puasa.4. Mengalihkan perhatianKetika merasa tergoda, alihkan perhatian Anda dengan melakukan kegiatan lain yang positif dan membangun, seperti berzikir, membaca Al-Qur’an, atau berolahraga.5. Memperkuat iman dan taqwaTingkatkan keimanan dan taqwa Anda dengan memperbanyak ibadah, seperti shalat sunnah, sedekah, dan dzikir. Semakin kuat iman dan taqwa seseorang, semakin mampu untuk menahan diri dari melakukan dosa.6. Meminta pertolongan AllahBerdoa kepada Allah SWT untuk memberikan kekuatan dan keteguhan hati dalam menjalankan ibadah puasa dengan baik sepanjang bulan Ramadhan.Dalam hal yang terburuk, jika Anda atau pasangan Anda mengalami kondisi kesehatan tertentu yang membuat sulit untuk menjalankan puasa tanpa berhubungan seksual, disarankan untuk berkonsultasi dengan seorang ahli agama untuk mendapatkan nasihat dan arahan yang sesuai. Tetaplah berusaha melakukan yang terbaik dalam menjalankan ibadah puasa dengan penuh kesadaran dan keikhlasan.
BERITA06/04/2024 | Adhitya Alfath Alfadholi
Kafarat di Era Modern: Pemahaman dan Penerapan
Kafarat, sebuah istilah yang berakar dalam hukum Islam, merujuk pada penebusan atau pertobatan atas dosa atau pelanggaran yang dilakukan oleh individu. Pentingnya terletak pada perannya dalam etika Islam dan kerangka hukum, bertujuan untuk mengembalikan keseimbangan dan kemurnian spiritual. Meskipun secara tradisional diterapkan dalam konteks tindakan pribadi, konsep kafarat tetap relevan dan berlaku di era modern, meskipun dengan interpretasi dan adaptasi yang halus.
Dalam masyarakat kontemporer, gagasan penebusan meluas di luar ranah ritual keagamaan, mencakup dimensi sosial, etika, dan hukum. Di era globalisasi dan multikulturalisme, memahami kafarat dalam konteks modern memerlukan pendekatan komprehensif yang mengatasi perspektif dan tantangan yang beragam.
Dimensi Etika:
Di era yang ditandai oleh kemajuan teknologi yang pesat dan keterhubungan, dilema etika melimpah. Dari masalah degradasi lingkungan hingga ketidakadilan sosial-ekonomi, individu dan masyarakat berhadapan dengan dilema moral yang kompleks. Kafarat, dalam konteks ini, tidak hanya melibatkan meminta maaf dari entitas ilahi, tetapi juga mengambil tindakan nyata untuk memperbaiki kerusakan yang ditimbulkan pada orang lain dan lingkungan.
Misalnya, sebuah perusahaan yang bertanggung jawab atas polusi lingkungan dapat melakukan kafarat dengan menerapkan praktik berkelanjutan, mengkompensasi masyarakat yang terkena dampak, dan berpartisipasi aktif dalam upaya restorasi. Demikian pula, individu yang telah menyebabkan kerusakan melalui tindakan mereka dapat mencari penebusan dengan menunjukkan penyesalan yang tulus, memperbaiki kesalahan, dan berkomitmen untuk berperilaku etis di masa depan.
Implikasi Hukum:
Prinsip-prinsip yang mendasari kafarat memiliki resonansi dalam sistem hukum modern, meskipun dengan terminologi dan prosedur yang berbeda. Restitusi, pelayanan masyarakat, dan program rehabilitasi berfungsi sebagai mitra kontemporer untuk bentuk-bentuk tradisional penebusan. Kerangka hukum mengakui pentingnya akuntabilitas dan rehabilitasi, bertujuan untuk membangun harmoni masyarakat dan pemulihan individu.
Dalam sistem keadilan pidana, pelaku kejahatan sering diwajibkan untuk membayar denda, menjalani jam pelayanan masyarakat, atau mengikuti program rehabilitasi sebagai bentuk kafarat atas pelanggaran mereka. Tujuannya bukan hanya punitif tetapi juga restoratif, bertujuan untuk mengatasi akar penyebab perilaku kriminal dan mengintegrasikan pelaku ke dalam masyarakat sebagai anggota yang produktif.
Tanggung Jawab Sosial:
Kafarat menyoroti konsep tanggung jawab sosial, menekankan keterkaitan individu dalam masyarakat. Di dunia yang terglobalisasi yang dilanda oleh ketidaksetaraan sosial dan ketidakadilan sistemik, memenuhi kewajiban sosial menjadi sangat penting. Tindakan amal, relawan, dan advokasi berfungsi sebagai manifestasi kontemporer dari kafarat, memungkinkan individu untuk memberikan kontribusi positif pada masyarakat dan mengurangi penderitaan orang lain.
Selain itu, memupuk empati dan kasih sayang terhadap kelompok-kelompok yang terpinggirkan merupakan aspek fundamental dari kafarat. Dengan aktif melawan diskriminasi, mempromosikan inklusivitas, dan advokasi untuk keadilan sosial, individu mempertahankan prinsip-prinsip kafarat dan berkontribusi pada perbaikan kolektif kemanusiaan.
Kesimpulan:
Sebagai kesimpulan, konsep kafarat melampaui batas agama, menawarkan wawasan berharga tentang prinsip akuntabilitas, penebusan, dan harmoni sosial. Di era modern, kafarat mengasumsikan dimensi yang beragam, mencakup pertimbangan etika, hukum, dan sosial. Dengan merangkul prinsip-prinsip penebusan dan mengambil tindakan proaktif untuk memperbaiki kesalahan, individu dan masyarakat dapat berusaha menuju dunia yang lebih adil, penuh kasih, dan berkeadilan.
BERITA06/04/2024 | Ilham maarif
Cara Menghindari Kafarat Pelanggaran dalam Ibadah Haji
Ibadah haji merupakan salah satu rukun Islam yang wajib dilaksanakan oleh umat Muslim yang mampu secara fisik, finansial, dan mental untuk melaksanakannya. Haji adalah ibadah yang memiliki banyak aturan dan tata cara yang harus diikuti oleh para jamaah haji agar ibadah mereka diterima oleh Allah SWT. Salah satu hal yang perlu dihindari adalah pelanggaran yang dapat mengharuskan seseorang untuk membayar kafarat sebagai penebus dosa.Menghindari kafarat pelanggaran dalam ibadah haji membutuhkan pemahaman yang baik tentang tata cara pelaksanaan ibadah haji dan memperhatikan aturan-aturan yang telah ditetapkan. Berikut adalah beberapa cara untuk menghindari kafarat pelanggaran dalam ibadah haji:1. Memahami tata cara ibadah haji secara menyeluruhSebelum berangkat ke tanah suci, seorang jamaah haji sebaiknya mempelajari tata cara pelaksanaan ibadah haji dari sumber yang terpercaya seperti ulama atau buku panduan haji. Dengan memahami tata cara ibadah haji secara menyeluruh, seseorang dapat menghindari kesalahan-kesalahan yang dapat menyebabkan terjadinya pelanggaran.2. Mengikuti petunjuk dan arahan dari petugas hajiSelama pelaksanaan ibadah haji, para jamaah haji akan dibimbing oleh petugas haji yang bertugas untuk memberikan arahan dan panduan selama di tanah suci. Mengikuti petunjuk dan arahan dari petugas haji merupakan langkah yang penting untuk menghindari kesalahan-kesalahan yang dapat menyebabkan pelanggaran dalam ibadah haji.3. Menjaga perilaku dan akhlak selama menjalankan ibadah hajiPerilaku dan akhlak yang baik merupakan bagian penting dalam pelaksanaan ibadah haji. Menjaga sikap dan perilaku yang baik, serta menghindari perbuatan-perbuatan yang tidak sesuai dengan tata krama ibadah haji dapat membantu menghindari pelanggaran yang dapat mengharuskan seseorang membayar kafarat.4. Berdoa dan meminta perlindungan kepada Allah SWTSelama menjalankan ibadah haji, selalu berdoa dan meminta perlindungan kepada Allah SWT agar terhindar dari kesalahan-kesalahan yang dapat menyebabkan pelanggaran. Berdoa merupakan bentuk ibadah yang dapat membantu seseorang dalam menjaga diri dan menghindari tindakan yang tidak diinginkan.5. Memperhatikan hal-hal kecil yang sering terlupakanSelama pelaksanaan ibadah haji, ada beberapa hal kecil namun seringkali terlupakan yang dapat menyebabkan pelanggaran, seperti menjaga kebersihan dan ketertiban di sekitar tempat tinggal, tidak membuang sampah sembarangan, dan tidak mengganggu jamaah haji lainnya. Memperhatikan hal-hal kecil ini juga merupakan cara untuk menghindari kafarat pelanggaran dalam ibadah haji.Dengan memperhatikan dan mengikuti langkah-langkah di atas, diharapkan para jamaah haji dapat menghindari pelanggaran yang memerlukan pembayaran kafarat dalam pelaksanaan ibadah haji. Selain itu, kesungguhan, niat yang tulus, dan keikhlasan dalam menjalankan ibadah haji juga merupakan faktor penting dalam menjauhkan diri dari tindakan yang dapat menyebabkan pelanggaran.Melaksanakan ibadah haji merupakan kesempatan yang sangat berharga bagi umat Muslim untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan menghapus dosa-dosa yang telah dilakukan. Oleh karena itu, menjaga kualitas pelaksanaan ibadah haji dengan penuh kehati-hatian dan kesungguhan merupakan kewajiban bagi setiap jamaah haji agar ibadah mereka diterima oleh Allah SWT tanpa memerlukan kafarat pelanggaran.
BERITA06/04/2024 | Adhitya Alfath Alfadholi
Kafarat dalam Keluarga: Memahami Penebusan Dalam Konteks Hubungan Keluarga
Keluarga adalah pondasi dari masyarakat dan hubungan keluarga yang harmonis sangat penting untuk kesejahteraan dan kestabilan individu serta komunitas secara keseluruhan. Dalam ajaran Islam, konsep kafarat tidak hanya berlaku untuk kesalahan individu, tetapi juga dapat diterapkan dalam konteks hubungan keluarga. Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi bagaimana konsep kafarat berlaku dalam dinamika keluarga dan bagaimana penerapan penebusan dapat memperkuat ikatan keluarga dan mendorong kedamaian serta harmoni.
Kafarat Keluarga dalam Islam
Dalam Islam, keluarga dianggap sebagai unit terkecil dari masyarakat yang memiliki nilai dan tujuan spiritual yang tinggi. Konsep kafarat dalam konteks keluarga mengacu pada upaya untuk memperbaiki dan memperkuat hubungan antara anggota keluarga yang mungkin telah terganggu oleh kesalahan atau konflik. Ini melibatkan pengakuan atas kesalahan, penyesalan yang tulus, dan komitmen untuk melakukan perubahan yang positif.
Penyelesaian Konflik dan Pemulihan Hubungan
Konflik adalah bagian alami dari kehidupan keluarga, tetapi penting bagi anggota keluarga untuk belajar bagaimana menyelesaikan konflik dengan cara yang konstruktif dan bermartabat. Dalam konteks kafarat keluarga, penyelesaian konflik melibatkan pertobatan, penerimaan kesalahan, dan komitmen untuk memperbaiki hubungan.
Penebusan dalam hubungan keluarga tidak hanya melibatkan individu yang melakukan kesalahan, tetapi juga anggota keluarga lain yang mungkin terpengaruh oleh konflik tersebut. Ini bisa berarti memaafkan anggota keluarga yang telah menyakiti atau merugikan, serta berusaha untuk memulihkan rasa percaya dan kedekatan.
Menerapkan Prinsip-prinsip Kafarat dalam Kehidupan Keluarga
Dalam kehidupan sehari-hari, penerapan prinsip-prinsip kafarat dalam keluarga dapat dilakukan melalui berbagai cara:
Komunikasi yang Terbuka dan Jujur: Anggota keluarga harus merasa nyaman untuk berkomunikasi secara terbuka tentang perasaan, kekhawatiran, dan kesulitan mereka. Komunikasi yang terbuka dan jujur dapat membantu mencegah konflik dan mempromosikan pemahaman dan empati antara anggota keluarga.
Memaafkan dan Memulihkan: Memaafkan merupakan bagian penting dari konsep kafarat dalam keluarga. Anggota keluarga perlu belajar untuk memaafkan kesalahan satu sama lain dan berusaha untuk memulihkan hubungan yang rusak.
Menjadi Teladan: Orang tua dan anggota keluarga yang lebih tua memiliki tanggung jawab untuk menjadi teladan dalam menerapkan nilai-nilai kafarat dalam kehidupan sehari-hari. Dengan menunjukkan sikap yang baik dan bertanggung jawab, mereka dapat mengilhami anggota keluarga lainnya untuk mengikuti jejak mereka.
Kesimpulan
Kafarat keluarga menawarkan kerangka kerja yang kuat untuk memperbaiki dan memperkuat hubungan dalam keluarga. Dengan menerapkan prinsip-prinsip kafarat seperti pertobatan, penebusan, dan maaf-memaafkan, anggota keluarga dapat memperkuat ikatan keluarga, membangun kedamaian, serta menciptakan lingkungan yang penuh kasih dan harmoni. Dengan demikian, konsep kafarat dalam konteks keluarga bukan hanya menjadi landasan moral, tetapi juga merupakan kunci untuk kebahagiaan dan kesejahteraan keluarga secara keseluruhan.
BERITA06/04/2024 | Ilham maarif
Menelusuri Sejarah dan Evolusi Zakat
Menelusuri Sejarah dan Evolusi Zakat : Dari Masa Klasik hingga Kontemporer
Zakat, sebagai kewajiban keagamaan dalam Islam, telah menjadi bagian integral dari praktik kehidupan umat Muslim sejak awal sejarah agama tersebut. Dengan mendalami sejarah dan evolusi zakat dari masa klasik hingga kontemporer, kita dapat memahami peran dan signifikansinya dalam perkembangan sosial, ekonomi, dan spiritual dalam masyarakat Muslim.
Sejarah Awal Zakat
Zakat berasal dari kata Arab “zaka” yang berarti “tumbuh” atau “bersih”. Dalam konteks keagamaan, zakat mengacu pada kewajiban memberikan sebagian dari harta yang dimiliki kepada individu yang membutuhkan, sebagai bentuk solidaritas sosial dan ibadah kepada Allah SWT. Praktik zakat memiliki akar dalam ajaran Islam yang tertulis dalam kitab suci Al-Qur’an dan disampaikan oleh Rasulullah SAW dalam hadistnya.
Pada zaman klasik Islam, zakat telah menjadi bagian penting dari struktur ekonomi dan sosial. Negara-negara Islam awal, seperti Kekhalifahan Rashidun dan Umayyah, mempraktikkan pengumpulan dan distribusi zakat secara terorganisir. Sistem ini memungkinkan redistribusi kekayaan untuk mengurangi kesenjangan sosial dan memberdayakan kaum miskin.
Evolusi dalam Praktik Zakat
Selama berabad-abad, praktik zakat mengalami evolusi sejalan dengan perubahan sosial, ekonomi, dan politik dalam dunia Muslim. Selama masa kejayaan kekhalifahan dan dinasti Islam, praktik zakat berkembang secara luas dan menjadi inti dari sistem ekonomi Islam. Selain itu, para ulama dan cendekiawan Islam memperdalam pemahaman tentang zakat, mengembangkan aturan-aturan yang lebih rinci tentang siapa yang berhak menerima zakat dan bagaimana zakat harus dikumpulkan dan didistribusikan.
Selama periode kolonialisme dan imperialisme, praktik zakat sering kali terganggu oleh intervensi asing, tetapi tetap bertahan sebagai salah satu aspek kunci dari identitas keagamaan dan budaya Muslim. Setelah negara-negara Muslim mendapatkan kemerdekaan mereka pada abad ke-20, banyak dari mereka memperkuat lembaga-lembaga zakat dan menyatukan sistem zakat dengan administrasi negara.
Zakat dalam Konteks Kontemporer
Di era kontemporer, praktik zakat telah mengalami berbagai perubahan dan tantangan baru. Globalisasi, modernisasi, dan urbanisasi telah mengubah lanskap sosial dan ekonomi di dunia Muslim. Namun, zakat tetap menjadi instrumen penting untuk mengatasi masalah kemiskinan, ketidaksetaraan, dan ketidakadilan sosial.
Di banyak negara Muslim, lembaga-lembaga zakat modern didirikan untuk mengatur pengumpulan, distribusi, dan pengelolaan zakat. Selain itu, perkembangan teknologi informasi telah memungkinkan pendekatan baru dalam pengumpulan dan distribusi zakat, seperti penggunaan platform daring dan aplikasi seluler.
Namun, tantangan masih ada. Beberapa kritikus mengklaim bahwa distribusi zakat tidak selalu efisien atau transparan, sementara yang lain menyoroti perlunya meningkatkan kesadaran dan keterlibatan masyarakat dalam praktik zakat.
Zakat sebagai prinsip kunci dalam agama Islam telah menunjukkan ketahanan dan fleksibilitasnya melalui berbagai perubahan sejarah. Dari masa klasik hingga kontemporer, zakat terus berkembang sebagai sarana untuk mencapai tujuan-tujuan keadilan sosial, keberdayaan ekonomi, dan spiritualitas dalam masyarakat Muslim. Dengan memahami sejarah dan evolusinya, kita dapat memperkuat peran zakat dalam membentuk masa depan yang lebih adil dan berkelanjutan bagi umat manusia.
#HartaBerkahJiwaSakinah
#PengelolaZakatTerbaikTerpercaya
#AmanahProfesionalTransparan
#TerimakasihMuzakiDanMustahiq
================
*Tunaikan zakat melalui BAZNAS Kota Yogyakarta, klik link: https://kotayogya.baznas.go.id/bayarzakat
*Kunjungi: website:https://baznas.jogjakota.go.id
BERITA05/04/2024 | Asmara
Peran Zakat dalam Meningkatkan Kesejahteraan Mustahiq
Zakat adalah memberikan sebagian dari harta kepada mereka yang membutuhkan, Tujuan zakat menciptakan keadilan sosial dan kesejahteraan bagi seluruh umat. Membayar zakat merupakan kewajiban bagi umat muslim. Pengelolaan zakat harus disalurkan kepada orang-orang yang berhak menerima zakat (mustahiq). Mustahiq zakat atau penerima zakat adalah mereka yang memenuhi syarat untuk menerima zakat sesuai dengan ketentuan syariat Islam. Mustahiq sebagaimana disebutkan pada Surah At-Taubah: 60 terdiri dari Fakir, Miskin, Amil, Mualaf, Budak, Gharim, Fi Sabilillah dan Ibnu Sabil. Kesejahteraan mereka menjadi tanggung jawab bersama seluruh umat Muslim.
Kesejahteraan merupakan keinginan yang dicita-citakan oleh setiap individu maupun masyarakat. Dalam Islam, kesejahteraan tidak hanya diukur dari nilai-nilai ekonomi saja tetapi juga nilai moral, nilai spiritual, dan nilai sosial. Pentingnya bagi umat Muslim untuk ikut andil dalam meningkatkan kesejahteraan mustahiq. Dalam masyarakat kini, permasalahan kesenjangan ekonomi semakin meluas. Zakat memiliki pengaruh yang besar dalam mensejahterakan umat, karena dengan membayar zakat, orang kaya dapat membagikan sebagian hartanya kepada orang miskin (mustahiq) sehingga dapat terjalin hubungan dengan baik antara orang kaya dan orang miskin.
Zakat memiliki peran penting dalam mengurangi kesenjangan tersebut dengan mensejahterakan para mustahiq. Sehingga, efektivitas zakat dalam meningkatkan kesejahteraan memerlukan partisipasi dari masyarakat. Zakat juga berperan dalam upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia dan peningkatkan kesejahteraan mustahiq zakat melalui pemberdayaan ekonomi. Hal ini dapat dilakukan melalui berbagai program penyaluran zakat yang dilaksanakan oleh lembaga zakat. Yaitu dengan mendukung pendidikan, pelatihan keterampilan, dan akses ke modal usaha. Sehingga, dengan memberdayakan mustahiq zakat mereka dapat menjadi mandiri secara finansial dan tidak lagi bergantung secara terus-menerus pada bantuan. Zakat dipercaya untuk meminimalisir masalah kemiskinan yang dikelola oleh lembaga Amil Zakat yang terpercaya dan program penyaluran zakat dapat memberikan pengaruh positif.
Selain itu, juga dibutuhkan keterbukaan dalam pengelolaan zakat. Lembaga-lembaga pengelola zakat perlu melakukan pelaporan yang jelas dan terbuka tentang penggunaan dana zakat serta memastikan bahwa dana tersebut disalurkan dengan tepat sasaran. Dengan memberikan perhatian terhadap kebutuhan mereka, kita dapat memastikan bahwa mustahiq zakat benar-benar merasakan dampak positif dari bantuan yang diberikan.
#HartaBerkahJiwaSakinah
#PengelolaZakatTerbaikTerpercaya
#AmanahProfesionalTransparan
#TerimakasihMuzakiDanMustahiq
================
*Tunaikan zakat melalui BAZNAS Kota Yogyakarta, klik link: https://kotayogya.baznas.go.id/bayarzakat
*Kunjungi: website:https://baznas.jogjakota.go.id
BERITA05/04/2024 | Asmara
Macam-Macam Zakat dalam Islam
Macam-Macam Zakat dalam Islam: Pengertian dan Implementasinya
Zakat adalah salah satu rukun Islam yang memiliki peranan penting dalam menjaga kesejahteraan umat. Zakat merupakan kewajiban bagi setiap Muslim yang mampu untuk menunaikannya. Dalam Islam, terdapat beberapa macam zakat yang memiliki tujuan dan peruntukannya masing-masing. Berikut adalah beberapa macam zakat yang harus dipahami dalam Islam:
Zakat Fitrah: Zakat yang wajib dikeluarkan oleh setiap Muslim pada bulan Ramadan sebelum pelaksanaan salat Idul Fitri. Zakat fitrah bertujuan untuk membersihkan diri dari kebiasaan buruk dan memberikan kesempatan bagi yang kurang mampu untuk merayakan Idul Fitri dengan layak.
Zakat Mal: Zakat yang dikeluarkan dari harta kekayaan yang telah mencapai nisab (batas minimum) dan telah mencapai haul (satu tahun hijriah). Zakat mal umumnya sebesar 2,5% dari nilai harta yang dimiliki dan diperuntukkan bagi golongan yang berhak menerimanya, seperti fakir miskin, anak yatim, dan lain-lain.
Zakat Emas dan Perak: Zakat yang dikeluarkan dari harta berupa emas dan perak yang mencapai nisab dan haul. Besaran zakat emas dan perak adalah 2,5% dari jumlah emas dan perak yang dimiliki.
Zakat Pertanian: Zakat yang dikeluarkan dari hasil pertanian yang telah dipanen. Besaran zakat pertanian bervariasi tergantung jenis tanaman dan cara pengairan yang digunakan.
Zakat Peternakan: Zakat yang dikeluarkan dari hasil peternakan, seperti ternak sapi, kambing, dan lain-lain. Besaran zakat peternakan juga bervariasi tergantung jenis ternak dan jumlahnya.
Zakat Perdagangan: Zakat yang dikeluarkan dari keuntungan usaha perdagangan. Besaran zakat perdagangan adalah 2,5% dari keuntungan bersih yang diperoleh setelah dikurangi dengan biaya-biaya yang dikeluarkan dalam proses perdagangan.
Zakat Pertambangan: Zakat yang dikeluarkan dari hasil pertambangan, seperti minyak, gas, dan lain-lain. Besaran zakat pertambangan bervariasi tergantung jenis tambang dan jumlah produksinya.
Implementasi zakat dalam kehidupan sehari-hari merupakan bentuk kontribusi umat Islam dalam menjaga keseimbangan sosial dan ekonomi dalam masyarakat. Dengan menunaikan zakat, umat Islam diharapkan dapat memberikan kontribusi positif dalam meningkatkan kesejahteraan umat serta menolong sesama yang membutuhkan.
#HartaBerkahJiwaSakinah
#PengelolaZakatTerbaikTerpercaya
#AmanahProfesionalTransparan
#TerimakasihMuzakiDanMustahiq
================
*Tunaikan zakat melalui BAZNAS Kota Yogyakarta, klik link: https://kotayogya.baznas.go.id/bayarzakat
*Kunjungi: website:https://baznas.jogjakota.go.id
BERITA05/04/2024 | Asmara

Info Rekening Zakat
Mari tunaikan zakat Anda dengan mentransfer ke rekening zakat.
BAZNAS
Info Rekening Zakat


