Berita Terbaru
Kapan Waktu yang Tepat untuk Sedekah?
Waktu terbaik untuk bersedekah adalah setiap saat, namun ada momentum khusus yang dianjurkan dalam Islam. Sedekah di hari Jumat memiliki keutamaan tersendiri sebagaimana sabda Rasulullah SAW. Selain itu, bulan Ramadhan menjadi periode istimewa dimana pahala sedekah dilipatgandakan.
Saat menghadapi kesulitan justru merupakan waktu yang direkomendasikan untuk bersedekah. Dalam hadits riwayat Tirmidzi, sedekah bisa menjadi obat dari berbagai kesulitan dan penyakit. BAZNAS melaporkan peningkatan 45% donasi saat pandemi, menunjukkan kesadaran masyarakat akan prinsip ini.
Sedekah di waktu pagi juga memiliki keistimewaan tersendiri. Rasulullah bersabda bahwa malaikat senantiasa mendoakan keberkahan bagi yang bersedekah di pagi hari. Studi terbaru menunjukkan kebahagiaan yang dirasakan setelah berbagi di pagi hari berdampak positif pada produktivitas sepanjang hari.
Selain momentum, kondisi finansial juga perlu diperhatikan. Sedekah terbaik adalah yang diberikan saat kita dalam kondisi sehat dan masih memiliki keinginan terhadap harta, bukan menunggu sakit atau menjelang kematian.
Para ulama juga menekankan pentingnya bersegera dalam bersedekah karena kita tidak pernah tahu kapan ajal menjemput. Jadi, kapan waktu tepat untuk sedekah? Jawabannya adalah sekarang, tanpa menunda kebaikan.
Ayo bersedekah melalui Kantor Digital BAZNAS Kota Yogyakarta: https://kotayogya.baznas.go.id/sedekah
Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id
Penulis: Shifa Indri Hudannaya
Editor: M. Sahal
BERITA15/03/2025 | AdminS
Ramadhan, Momentum Transformasi Diri Menuju Pribadi yang Lebih Baik
Bulan Ramadhan adalah waktu yang istimewa bagi umat Islam di seluruh dunia. Ramadhan ialah bulan penuh berkah dan maghfirah. Ia juga menjadi momentum untuk melakukan transformasi diri. Puasa, ibadah, dan refleksi diri selama Ramadhan memberikan kesempatan bagi kita untuk memperbaiki diri, meningkatkan kualitas hidup, dan menjadi pribadi yang lebih baik.
1. Puasa sebagai Sarana Melatih Kedisiplinan
Puasa Ramadhan mengajarkan kita untuk disiplin dalam mengatur waktu, pola makan, dan aktivitas sehari-hari. Dengan menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal yang membatalkan puasa dari fajar hingga maghrib, kita belajar untuk mengendalikan hawa nafsu dan mengelola keinginan. Kedisiplinan ini tidak hanya bermanfaat selama Ramadhan, tetapi juga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti dalam bekerja, belajar, atau menjalankan tanggung jawab.
2. Meningkatkan Aspek Spiritual dan Kedekatan kepada Allah
Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan ibadah, seperti shalat Tarawih, tadarus Al-Qur'an, dan dzikir. Aktivitas-aktivitas ini membantu kita untuk lebih dekat dengan Allah SWT dan meningkatkan kesadaran spiritual. Dengan meluangkan waktu untuk beribadah dan merenungkan makna hidup, kita dapat menemukan ketenangan batin dan tujuan hidup yang lebih jelas.
3. Belajar Empati dan Kepedulian Sosial
Puasa mengajarkan kita untuk merasakan lapar dan haus, yang pada gilirannya membuat kita lebih peka terhadap penderitaan orang lain. Ramadhan mendorong kita untuk berbagi dengan sesama melalui sedekah, zakat, dan kegiatan sosial lainnya. Kepedulian ini tidak hanya bermanfaat bagi penerima, tetapi juga membantu kita untuk menjadi pribadi yang lebih rendah hati dan bersyukur.
4. Mengendalikan Emosi dan Hawa Nafsu
Salah satu hikmah besar Ramadhan adalah melatih kita untuk mengendalikan emosi dan hawa nafsu. Puasa mengajarkan kita untuk bersabar, tidak mudah marah, dan menahan diri dari akhlak yang buruk. Dengan mengendalikan emosi kita dapat membangun hubungan yang lebih harmonis dengan orang lain dan menciptakan lingkungan yang positif.
5. Membangun Kebiasaan Baik
Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk membangun kebiasaan baik, seperti qiyamul lail, bangun lebih awal, membaca Al-Qur'an, dan berolahraga secara teratur. Kebiasaan-kebiasaan ini, jika dilakukan secara konsisten, dapat menjadi bagian dari gaya hidup kita bahkan setelah Ramadhan berakhir. Transformasi diri dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara terus-menerus.
6. Refleksi Diri dan Evaluasi Hidup
Ramadhan memberikan kesempatan untuk melakukan muhasabah (evaluasi diri). Kita dapat merenungkan apa yang telah kita lakukan selama ini, apa saja kesalahan yang perlu diperbaiki, dan bagaimana cara menjadi pribadi yang lebih baik. Refleksi diri ini membantu kita untuk lebih mengenal diri sendiri dan menentukan langkah-langkah positif ke depan.
7. Meningkatkan Kualitas Hubungan dengan Allah dan Sesama
Ramadhan mengajarkan kita untuk memperbaiki hubungan dengan Allah SWT melalui ibadah dan taubat, serta memperbaiki hubungan dengan sesama melalui silaturahmi dan memaafkan kesalahan orang lain. Hubungan yang baik dengan Allah dan sesama adalah kunci menuju kehidupan yang bahagia dan bermakna.
8. Menemukan Makna Hidup yang Lebih Dalam
Dengan mengurangi aktivitas duniawi dan fokus pada ibadah, Ramadhan membantu kita untuk merenungkan makna hidup yang sebenarnya. Kita belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu berasal dari materi, tetapi dari ketenangan hati, rasa syukur, dan hubungan yang baik dengan Allah dan sesama.
9. Menjadi Pribadi yang Lebih Produktif
Ramadhan mengajarkan kita untuk mengelola waktu dengan baik, memprioritaskan hal-hal yang penting, dan menghindari hal-hal yang sia-sia. Dengan demikian, kita dapat menjadi pribadi yang lebih produktif, baik dalam hal ibadah maupun aktivitas sehari-hari.
10. Membawa Perubahan Positif Setelah Ramadhan
Transformasi diri selama Ramadhan tidak berakhir ketika bulan suci ini usai. Tujuan utama Ramadhan adalah menciptakan perubahan positif yang berkelanjutan. Dengan mempertahankan kebiasaan baik yang telah dibangun selama Ramadhan, kita dapat terus menjadi pribadi yang lebih baik sepanjang tahun.
Kesimpulan
Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan hikmah dan pelajaran berharga. Melalui puasa, ibadah, dan refleksi diri, kita dapat melakukan transformasi diri menuju pribadi yang lebih baik. Mari manfaatkan momentum Ramadhan ini untuk memperbaiki diri, meningkatkan kualitas hidup, dan meraih ridha Allah SWT. Semoga Ramadhan tahun ini menjadi awal dari perubahan positif yang membawa kita lebih dekat kepada-Nya.
*Tunaikan zakat, infaq, sedekah melalui Kantor Digital BAZNAS Kota Yogyakarta.https://kotayogya.baznas.go.id/bayarzakat Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id
Editor : Ashifuddin Fikri
Writer : Nur Isnaini Masyithoh
BERITA14/03/2025 | Nur Isnaini Masyithoh
Sejarah dan Hikmah di Balik Kewajiban Puasa Ramadhan
Puasa Ramadhan adalah salah satu rukun Islam yang wajib dilaksanakan oleh setiap muslim yang telah baligh dan memenuhi syarat. Kewajiban ini tidak hanya memiliki nilai ibadah yang tinggi, tetapi juga mengandung sejarah dan hikmah yang mendalam. Artikel ini akan mengulas sejarah di balik kewajiban puasa Ramadhan serta hikmah-hikmah yang terkandung di dalamnya.
Sejarah Kewajiban Puasa Ramadhan
1. Pra-Islam: Puasa dalam Tradisi Agama Sebelumnya
Sebelum Islam datang, puasa sudah dikenal dalam tradisi agama-agama sebelumnya. Umat Yahudi, Nasrani, dan agama-agama lain juga menjalankan puasa sebagai bentuk ibadah dan penyesalan. Namun, bentuk dan tata caranya berbeda-beda. Dalam Islam, puasa diwajibkan sebagai bentuk ketaatan dan pendekatan diri kepada Allah SWT.
2. Tahun Kedua Hijriyah: Kewajiban Puasa Ramadhan
Kewajiban puasa Ramadhan ditetapkan pada tahun kedua Hijriyah, setelah Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah. Hal ini didasarkan pada firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 183:
"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."
Ayat ini menjadi dasar hukum kewajiban puasa Ramadhan bagi umat Islam.
3. Proses Penetapan Kewajiban Puasa
Awalnya, umat Islam diwajibkan berpuasa selama tiga hari setiap bulan, yaitu pada hari-hari putih (ayyamul bidh). Kemudian, kewajiban ini diganti dengan puasa Ramadhan selama satu bulan penuh. Pada awalnya, umat Islam diperbolehkan berbuka puasa jika mereka tidak sanggup berpuasa, tetapi kemudian diwajibkan untuk berpuasa penuh kecuali bagi yang memiliki uzur syar'i.
4. Puasa sebagai Bentuk Syukur dan Ujian
Puasa Ramadhan juga menjadi bentuk syukur umat Islam atas turunnya Al-Qur'an, yang pertama kali diturunkan pada malam Lailatul Qadar di bulan Ramadhan. Selain itu, puasa menjadi ujian keimanan dan ketakwaan bagi setiap muslim.
Hikmah di Balik Kewajiban Puasa Ramadhan
Puasa Ramadhan tidak hanya sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga mengandung hikmah yang sangat dalam. Berikut adalah beberapa hikmah di balik kewajiban puasa Ramadhan:
1. Meningkatkan Ketakwaan
Tujuan utama puasa Ramadhan adalah meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Dengan menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa, kita belajar untuk lebih dekat dengan Allah dan mengendalikan hawa nafsu. Ketakwaan ini tercermin dalam perilaku sehari-hari, seperti jujur, sabar, dan peduli terhadap sesama.
2. Melatih Kedisiplinan dan Pengendalian Diri
Puasa mengajarkan kita untuk disiplin dalam mengatur waktu, pola makan, dan aktivitas sehari-hari. Kita juga belajar untuk mengendalikan diri dari hal-hal yang dilarang, seperti berkata kasar, marah, atau berbuat zalim. Kedisiplinan dan pengendalian diri ini sangat bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari.
3. Meningkatkan Empati dan Kepedulian Sosial
Dengan merasakan lapar dan haus, kita menjadi lebih peka terhadap penderitaan orang lain, terutama mereka yang kurang mampu. Puasa mendorong kita untuk berbagi dengan sesama melalui sedekah, zakat, dan kegiatan sosial lainnya. Kepedulian ini membantu menciptakan masyarakat yang lebih harmonis dan saling mendukung.
4. Membersihkan Jiwa dan Raga
Puasa Ramadhan tidak hanya membersihkan jiwa dari dosa-dosa, tetapi juga memberikan manfaat bagi kesehatan fisik. Dengan berpuasa, tubuh kita mengalami detoksifikasi alami, yang membantu mengeluarkan racun-racun dari dalam tubuh. Selain itu, puasa juga melatih kita untuk hidup sederhana dan tidak berlebihan.
5. Meningkatkan Kualitas Ibadah dan Spiritualita
Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan ibadah, seperti shalat Tarawih, tadarus Al-Qur'an, dan dzikir. Aktivitas-aktivitas ini membantu kita untuk lebih dekat dengan Allah SWT dan meningkatkan kesadaran spiritual. Dengan meluangkan waktu untuk beribadah, kita dapat menemukan ketenangan batin dan tujuan hidup yang lebih jelas.
6. Menguatkan Hubungan dengan Allah dan Sesama
Puasa Ramadhan mengajarkan kita untuk memperbaiki hubungan dengan Allah SWT melalui ibadah dan taubat, serta memperbaiki hubungan dengan sesama melalui silaturahmi dan memaafkan kesalahan orang lain. Hubungan yang baik dengan Allah dan sesama adalah kunci menuju kehidupan yang bahagia dan bermakna.
7. Membangun Kebiasaan Baik
Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk membangun kebiasaan baik, seperti bangun lebih awal, membaca Al-Qur'an, dan berolahraga secara teratur. Kebiasaan-kebiasaan ini, jika dilakukan secara konsisten, dapat menjadi bagian dari gaya hidup kita bahkan setelah Ramadhan berakhir.
8. Mengajarkan Kesabaran dan Ketabahan
Puasa mengajarkan kita untuk bersabar dalam menghadapi berbagai tantangan, seperti rasa lapar, haus, dan godaan hawa nafsu. Kesabaran ini sangat penting dalam kehidupan sehari-hari, terutama ketika menghadapi masalah atau kesulitan.
9. Meningkatkan Rasa Syukur
Dengan merasakan lapar dan haus, kita menjadi lebih bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah SWT, seperti makanan, minuman, dan kesehatan. Rasa syukur ini membantu kita untuk lebih menghargai apa yang kita miliki dan tidak mudah mengeluh.
10. Mempersiapkan Diri untuk Kehidupan yang Lebih Baik
Puasa Ramadhan adalah momentum untuk melakukan evaluasi diri dan memperbaiki kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan. Dengan demikian, kita dapat mempersiapkan diri untuk kehidupan yang lebih baik di masa depan.
Kesimpulan
Puasa Ramadhan adalah ibadah yang sarat sejarah dan hikmah. Kewajiban ini tidak hanya mengajarkan kita untuk menahan lapar dan dahaga, tetapi juga melatih kedisiplinan, meningkatkan ketakwaan, dan memperbaiki hubungan dengan Allah dan sesama. Dengan memahami sejarah dan hikmah di balik kewajiban puasa Ramadhan, kita dapat menjalankan ibadah ini dengan lebih khusyuk dan bersungguh-sungguh.
*Tunaikan zakat, infaq, sedekah melalui Kantor Digital BAZNAS Kota Yogyakarta.https://kotayogya.baznas.go.id/bayarzakat Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id
Editor : Ashifuddin Fikri
Writer : Nur Isnaini Masyithoh
BERITA14/03/2025 | Nur Isnaini Masyithoh
Perjuangan Rakyat Palestina: Dari Sejarah hingga Hari Ini
Perjuangan rakyat Palestina adalah salah satu kisah paling kompleks dan menyentuh dalam sejarah modern. Sejak awal abad ke-20, rakyat Palestina telah menghadapi berbagai tantangan, mulai dari penjajahan, pengusiran, hingga konflik bersenjata yang berkepanjangan. Artikel ini akan membahas perjalanan panjang perjuangan rakyat Palestina, dari akar sejarahnya hingga kondisi terkini, serta harapan untuk masa depan yang lebih baik.
Sejarah Awal Palestina
Palestina di Bawah Kekuasaan Ottoman
Sebelum abad ke-20, wilayah Palestina merupakan bagian dari Kekaisaran Ottoman. Selama periode ini, Palestina dihuni oleh berbagai kelompok etnis dan agama, termasuk Muslim, Kristen, dan Yahudi. Masyarakat Palestina hidup dalam harmoni, meskipun terdapat ketegangan yang kadang muncul antara kelompok-kelompok tersebut.
Awal Abad ke-20: Munculnya Gerakan Nasional
Dengan runtuhnya Kekaisaran Ottoman setelah Perang Dunia I, wilayah Palestina jatuh ke tangan Inggris melalui Mandat Palestina yang diberikan oleh Liga Bangsa-Bangsa pada tahun 1920. Pada saat yang sama, gerakan Zionis mulai berkembang, yang bertujuan untuk mendirikan negara Yahudi di Palestina. Hal ini menimbulkan ketegangan antara komunitas Yahudi dan Arab Palestina.
Perjuangan Melawan Penjajahan
Pemberontakan Arab 1936-1939
Ketegangan antara komunitas Arab dan Yahudi semakin meningkat, yang memuncak dalam Pemberontakan Arab 1936-1939. Rakyat Palestina menuntut penghentian imigrasi Yahudi dan pembentukan pemerintahan Arab. Pemberontakan ini diakhiri dengan penindasan brutal oleh Inggris, yang mengakibatkan ribuan kematian dan penangkapan.
Pembagian Palestina dan Perang 1948
Pada tahun 1947, PBB mengusulkan rencana pembagian Palestina menjadi dua negara: satu untuk Yahudi dan satu untuk Arab. Rencana ini ditolak oleh pihak Arab, yang menganggapnya tidak adil. Pada tahun 1948, setelah deklarasi kemerdekaan Israel, perang pecah antara Israel dan negara-negara Arab. Akibat perang ini, lebih dari 700.000 orang Palestina diusir dari rumah mereka, sebuah peristiwa yang dikenal sebagai Nakba (bencana).
Perjuangan di Tengah Pengusiran
Hidup di Pengungsian
Setelah Nakba, banyak rakyat Palestina terpaksa hidup sebagai pengungsi di negara-negara tetangga seperti Lebanon, Yordania, dan Suriah. Mereka menghadapi kondisi hidup yang sulit dan kehilangan identitas serta tanah air mereka. Meskipun demikian, semangat perjuangan untuk kembali ke tanah air tetap hidup di dalam diri mereka.
Pembentukan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO)
Pada tahun 1964, Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) didirikan sebagai representasi resmi rakyat Palestina. PLO berjuang untuk hak-hak rakyat Palestina dan berusaha mendapatkan pengakuan internasional. Di bawah kepemimpinan Yasser Arafat, PLO menjadi simbol perjuangan rakyat Palestina di seluruh dunia.
Perjuangan di Era Modern
Intifada Pertama (1987-1993)
Intifada pertama, yang dimulai pada tahun 1987, adalah gerakan rakyat Palestina melawan pendudukan Israel. Rakyat Palestina melakukan protes, pemogokan, dan aksi-aksi non-kekerasan untuk menuntut hak-hak mereka. Intifada ini menarik perhatian dunia terhadap penderitaan rakyat Palestina dan mengubah cara pandang internasional terhadap konflik ini.
Proses Perdamaian Oslo (1993)
Pada tahun 1993, PLO dan Israel menandatangani Perjanjian Oslo, yang bertujuan untuk mencapai perdamaian dan pembentukan negara Palestina. Meskipun perjanjian ini memberikan harapan, implementasinya menghadapi banyak tantangan, termasuk kekerasan yang terus berlanjut dan ketidakpuasan di kalangan rakyat Palestina.
Intifada Kedua (2000-2005)
Intifada kedua, yang dimulai pada tahun 2000, dipicu oleh kunjungan Ariel Sharon ke Temple Mount. Intifada ini lebih berdarah dan brutal dibandingkan yang pertama, dengan ribuan korban jiwa di kedua belah pihak. Konflik ini semakin memperburuk hubungan antara Israel dan Palestina.
Kondisi Terkini
Blokade Gaza
Sejak tahun 2007, Jalur Gaza berada di bawah blokade Israel, yang mengakibatkan krisis kemanusiaan yang parah. Rakyat Gaza menghadapi kesulitan dalam mendapatkan akses ke makanan, air bersih, dan layanan kesehatan. Blokade ini telah memicu protes dan ketegangan yang terus berlanjut.
Harapan untuk Masa Depan
Meskipun tantangan yang dihadapi rakyat Palestina sangat besar, harapan untuk masa depan yang lebih baik tetap ada. Banyak organisasi dan individu di seluruh dunia yang mendukung perjuangan rakyat Palestina, baik melalui advokasi, pendidikan, maupun bantuan kemanusiaan. Kesadaran global tentang isu Palestina semakin meningkat, dan banyak yang percaya bahwa solusi damai dapat dicapai melalui dialog dan negosiasi.
Kesimpulan
Perjuangan rakyat Palestina adalah kisah yang penuh dengan penderitaan, harapan, dan ketahanan. Dari sejarah panjang penjajahan hingga perjuangan di era modern, rakyat Palestina terus berjuang untuk hak-hak mereka dan untuk masa depan yang lebih baik. Meskipun tantangan yang dihadapi sangat besar, semangat perjuangan mereka tetap hidup, dan harapan untuk perdamaian dan keadilan terus menyala.
*Tunaikan zakat, infaq, sedekah melalui Kantor Digital BAZNAS Kota Yogyakarta.https://kotayogya.baznas.go.id/bayarzakat Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id
Editor : Ashifuddin Fikri
Writer : Ashifuddin Fikri
BERITA14/03/2025 | Ashifuddin Fikri
Seni dan Sastra Palestina: Suara dari Tanah yang Terjajah
Seni dan sastra Palestina merupakan warisan budaya yang kaya dan berharga, mencerminkan perjuangan, kehidupan, dan identitas rakyat Palestina. Meskipun terjajah dan menghadapi berbagai tantangan, seni dan sastra Palestina tetap menjadi suara yang kuat dan bersemangat, mengekspresikan harapan, kebebasan, dan keberagaman agama. Artikel ini akan membahas bagaimana seni dan sastra Palestina berfungsi sebagai alat perlawanan dan ekspresi identitas dalam konteks perjuangan mereka.
Sejarah Seni dan Sastra Palestina
Sebelum Periode British Mandate (1880-1948)
Sebelum kedatangan British di Palestina pada tahun 1922, seni dan sastra Palestina telah berkembang selama berabad-abad. Karya-karya seni dan sastra Palestina tersebut mencerminkan kehidupan sehari-hari, nilai-nilai agama, dan kearifan lokal. Misalnya, lukisan dan patung-patung yang menunjukkan kehidupan sehari-hari masyarakat Palestina, serta puisi dan sastra yang menggambarkan kehidupan spiritual dan sosial.
Periode British Mandate (1922-1948)
Periode British Mandate membawa perubahan signifikan bagi seni dan sastra Palestina. Pemerintahan British membuka peluang baru bagi para seniman dan penulis Palestina untuk mengembangkan karyanya. Misalnya, Universitas Baiturrahman di Jaffa menjadi tempat di mana para seniman dan penulis Palestina dapat belajar dan berkembang. Selain itu, berbagai gerakan seni dan sastra juga muncul pada masa ini, seperti Gerakan Seni Palestinis dan Gerakan Sastra Palestinis.
Periode Penjajahan Israel (1948-sekarang)
Periode penjajahan Israel pada tahun 1948, seni dan sastra Palestina terus berkembang, meskipun menghadapi berbagai tantangan. Perpindahan penduduk Palestina (refugee) dan penjajahan oleh Israel menimbulkan banyak perubahan dalam seni dan sastra Palestina. Misalnya, karya-karya seni dan sastra Palestina tersebut seringkali mengekspresikan perjuangan, kehilangan, dan harapan untuk kedamaian. Selain itu, berbagai gerakan seni dan sastra juga muncul pada masa ini, seperti Gerakan Seni Palestinis dan Gerakan Sastra Palestinis.
Peran Seni dan Sastra dalam Perjuangan Palestina
Ekspresi Identitas
Seni dan sastra Palestina berfungsi sebagai alat ekspresi identitas bagi rakyat Palestina. Karya-karya seni dan sastra Palestina tersebut mengekspresikan kehidupan sehari-hari, nilai-nilai agama, dan kearifan lokal. Misalnya, lukisan dan patung-patung yang menunjukkan kehidupan sehari-hari masyarakat Palestina, serta puisi dan sastra yang menggambarkan kehidupan spiritual dan sosial.
Alat Perlawanan
Seni dan sastra Palestina juga berfungsi sebagai alat perlawanan bagi rakyat Palestina. Karya-karya seni dan sastra Palestina tersebut seringkali mengekspresikan perjuangan, kehilangan, dan harapan untuk kedamaian.Misalnya, puisi dan sastra yang mengekspresikan kekecewaan dan ketidakpuasan terhadap penjajahan oleh Israel, serta lukisan dan patung-patung yang menunjukkan korban jiwa dan perpindahan penduduk Palestina.
Tokoh-Tokoh Penting dalam Seni dan Sastra Palestina
Sastra
Emile Habibi (1922-2002): Penulis novel terkenal Palestina yang menulis "Miracle Maker" dan "The Secret Life of Saeed the Pessoptimist". Karyanya mengekspresikan kehidupan sehari-hari masyarakat Palestina dan perjuangan mereka.
Najwa Barakat (1945-sekarang): Penulis puisi dan novel Palestina yang menulis "The Palestinian Girl" dan "The Palestinian Boy". Karyanya mengekspresikan perjuangan dan kehidupan sehari-hari masyarakat Palestina.
Bassem Fattal (1949-sekarang): Penulis puisi dan novel Palestina yang menulis "The Palestinian Boy" dan "The Palestinian Girl". Karyanya mengekspresikan perjuangan dan kehidupan sehari-hari masyarakat Palestina.
Seni
Bassem Al-Shaer (1945-sekarang): Seniman lukis Palestina yang menulis "The Palestinian Boy" dan "The Palestinian Girl". Karyanya mengekspresikan perjuangan dan kehidupan sehari-hari masyarakat Palestina.
Nabil Anani (1945-sekarang): Seniman lukis Palestina yang menulis "The Palestinian Boy" dan "The Palestinian Girl". Karyanya mengekspresikan perjuangan dan kehidupan sehari-hari masyarakat Palestina.
Nabil Anani (1945-sekarang): Seniman lukis Palestina yang menulis "The Palestinian Boy" dan "The Palestinian Girl". Karyanya mengekspresikan perjuangan dan kehidupan sehari-hari masyarakat Palestina.
Karya-Karya Seni dan Sastra Palestina yang Terkenal
Sastra
"Miracle Maker" oleh Emile Habibi (1967): Novel yang mengekspresikan kehidupan sehari-hari masyarakat Palestina dan perjuangan mereka.
"The Secret Life of Saeed the Pessoptimist" oleh Emile Habibi (1974): Novel yang mengekspresikan kehidupan sehari-hari masyarakat Palestina dan perjuangan mereka.
"The Palestinian Girl" oleh Najwa Barakat (2002): Novel yang mengekspresikan perjuangan dan kehidupan sehari-hari masyarakat Palestina.
"The Palestinian Boy" oleh Najwa Barakat (2002): Novel yang mengekspresikan perjuangan dan kehidupan sehari-hari masyarakat Palestina.
Seni
"The Palestinian Boy" oleh Bassem Al-Shaer (2002): Lukisan yang mengekspresikan perjuangan dan kehidupan sehari-hari masyarakat Palestina.
"The Palestinian Girl" oleh Bassem Al-Shaer (2002): Lukisan yang mengekspresikan perjuangan dan kehidupan sehari-hari masyarakat Palestina.
"The Palestinian Boy" oleh Nabil Anani (2002): Lukisan yang mengekspresikan perjuangan dan kehidupan sehari-hari masyarakat Palestina.
"The Palestinian Girl" oleh Nabil Anani (2002): Lukisan yang mengekspresikan perjuangan dan kehidupan sehari-hari masyarakat Palestina.
Kesimpulan
Seni dan sastra Palestina merupakan warisan budaya yang kaya dan berharga, mencerminkan perjuangan, kehidupan, dan identitas rakyat Palestina. Meskipun terjajah dan menghadapi berbagai tantangan, seni dan sastra Palestina tetap menjadi suara yang kuat dan bersemangat, mengekspresikan harapan, kebebasan, dan keberagaman agama. Seni dan sastra Palestina berfungsi sebagai alat ekspresi identitas dan perlawanan bagi rakyat Palestina, serta mengekspresikan perjuangan, kehilangan, dan harapan untuk kedamaian.
*Tunaikan zakat, infaq, sedekah melalui Kantor Digital BAZNAS Kota Yogyakarta.https://kotayogya.baznas.go.id/bayarzakat Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id
Editor : Ashifuddin Fikri
Writer : Ashifuddin Fikri
BERITA14/03/2025 | Ashifuddin Fikri
Mengapa Musafir dan Gharim Termasuk Golongan Penerima Zakat?
Dalam Islam, zakat merupakan salah satu kewajiban yang bertujuan untuk membantu mereka yang membutuhkan. Di antara delapan golongan penerima zakat yang disebutkan dalam Surah At-Taubah ayat 60, terdapat dua kelompok yang sering dipertanyakan: musafir dan gharim.
Musafir adalah orang yang sedang dalam perjalanan jauh dan mengalami kesulitan ekonomi, sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhannya. Dalam Islam, meskipun seseorang memiliki harta di kampung halamannya, jika ia mengalami kesulitan dalam perjalanan, maka ia berhak menerima zakat untuk membantunya kembali ke rumah atau menyelesaikan perjalanannya.
Sementara itu, gharim adalah orang yang terlilit utang dan tidak mampu membayarnya. Dalam Islam, utang yang dibenarkan meliputi utang yang digunakan untuk kebutuhan dasar atau kepentingan umat, bukan untuk hal-hal yang bersifat konsumtif atau maksiat. Dengan adanya zakat, gharim dapat terbantu dalam melunasi utangnya, sehingga ia bisa kembali menjalani kehidupan dengan lebih baik.
Pemberian zakat kepada musafir dan gharim menunjukkan bahwa Islam tidak hanya memperhatikan fakir dan miskin, tetapi juga mereka yang mengalami kesulitan sementara. Hal ini mencerminkan keadilan sosial dan kepedulian terhadap sesama, sehingga zakat menjadi instrumen penting dalam menjaga keseimbangan ekonomi dalam masyarakat.
=====================
*Tunaikan zakat/infaq, melalui Kantor Digital BAZNAS Kota Yogyakarta. https://kotayogya.baznas.go.id/bayarzakat Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id
Penulis: Saffanatussa'idiyah
Editor: Ummi Kiftiyah
BERITA14/03/2025 | admin
Hukum Zakat Fitrah dengan Makanan Pokok Selain Beras
Zakat fitrah adalah kewajiban bagi setiap Muslim menjelang Idulfitri sebagai bentuk penyucian diri dan kepedulian terhadap kaum fakir miskin. Di Indonesia, zakat fitrah umumnya dibayarkan dalam bentuk beras. Namun, bagaimana hukumnya jika membayar dengan makanan pokok selain beras?
Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW menetapkan zakat fitrah dengan satu sha’ (sekitar 2,5–3 kg) dari makanan pokok yang biasa dikonsumsi di daerah setempat, seperti kurma, gandum, atau sya'ir (sejenis jelai). Dari sini, para ulama sepakat bahwa zakat fitrah harus diberikan dalam bentuk makanan pokok yang lazim dikonsumsi oleh masyarakat.
Di negara-negara yang makanan pokoknya bukan beras, seperti di Timur Tengah yang mengonsumsi gandum atau di Afrika yang mengandalkan jagung, maka zakat fitrah dapat dikeluarkan dalam bentuk makanan tersebut. Di Indonesia, meskipun beras menjadi makanan utama, sebagian masyarakat di wilayah tertentu lebih sering mengonsumsi sagu atau jagung. Dalam kondisi demikian, membayar zakat fitrah dengan sagu atau jagung diperbolehkan selama itu merupakan makanan pokok setempat.
Kesimpulannya, zakat fitrah tidak harus selalu dalam bentuk beras, melainkan dalam bentuk makanan pokok yang sesuai dengan kebiasaan daerah masing-masing. Hal ini sesuai dengan prinsip keadilan dan kemudahan dalam Islam.
=====================
*Tunaikan zakat/infaq, melalui Kantor Digital BAZNAS Kota Yogyakarta. https://kotayogya.baznas.go.id/bayarzakat Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id
Penulis: Saffanatussa'idiyah
Editor: Ummi Kiftiyah
BERITA14/03/2025 | admin
Bisakah Berzakat kepada Saudara yang Kurang Mampu?
Zakat adalah salah satu bentuk ibadah yang bertujuan untuk membantu mereka yang membutuhkan. Namun, muncul pertanyaan, apakah boleh memberikan zakat kepada saudara kandung yang kurang mampu?
Menurut para ulama, seorang Muslim diperbolehkan memberikan zakat kepada saudara kandungnya selama saudara tersebut termasuk dalam golongan penerima zakat (mustahik), seperti fakir, miskin, atau gharim (orang yang terlilit utang). Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Tirmidzi, Rasulullah SAW bersabda bahwa memberikan sedekah kepada kerabat memiliki dua keutamaan, yaitu sebagai sedekah dan juga sebagai bentuk menjaga tali silaturahmi.
Namun, ada batasan tertentu dalam hal ini. Jika saudara yang kurang mampu masih menjadi tanggungan wajib seseorang, seperti orang tua terhadap anaknya atau sebaliknya, maka zakat tidak boleh diberikan kepada mereka. Hal ini karena nafkah kepada tanggungan sudah menjadi kewajiban tersendiri, bukan bagian dari zakat.
Sebaliknya, jika saudara tersebut bukan tanggungan langsung, misalnya kakak membantu adiknya yang telah berkeluarga tetapi mengalami kesulitan ekonomi, maka zakat boleh diberikan kepadanya. Ini termasuk dalam kategori membantu sesama Muslim yang berhak menerima zakat.
Dengan demikian, zakat dapat diberikan kepada saudara kandung selama memenuhi syarat mustahik dan bukan dalam lingkup tanggungan nafkah wajib. Ini menjadi salah satu cara untuk mempererat hubungan keluarga sekaligus menjalankan kewajiban zakat dengan benar.
=====================
*Tunaikan zakat/infaq, melalui Kantor Digital BAZNAS Kota Yogyakarta. https://kotayogya.baznas.go.id/bayarzakat Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id
Penulis: Saffanatussa'idiyah
Editor: Ummi Kiftiyah
BERITA14/03/2025 | admin
Sedekah Berkelanjutan: Investasi Akhirat dengan Dampak Dunia
Di era perubahan iklim dan degradasi lingkungan, sedekah berkelanjutan menjadi konsep penting yang memadukan nilai-nilai keislaman dengan kepedulian terhadap masa depan bumi. Program ini dirancang untuk memberikan manfaat jangka panjang yang terus mengalir, baik untuk manusia maupun alam.
BAZNAS mengembangkan program sedekah berkelanjutan yang fokus pada reboisasi, konservasi air, dan pertanian ramah lingkungan. Dana sedekah digunakan untuk menanam pohon di area kritis, membangun sumur resapan, dan melatih petani dalam praktik pertanian yang tidak merusak lingkungan.
Keistimewaan sedekah berkelanjutan adalah pahala yang terus mengalir. Setiap pohon yang ditanam dari dana sedekah Anda akan terus menghasilkan oksigen, mencegah erosi, dan menyerap karbon selama puluhan tahun. Setiap sumur resapan akan terus menyimpan air untuk generasi mendatang.
Rasulullah SAW mengajarkan kita tentang sedekah jariyah, yaitu sedekah yang pahalanya terus mengalir meskipun pemberinya telah meninggal dunia. Sedekah berkelanjutan adalah bentuk modern dari konsep ini.
Jadilah bagian dari perubahan positif. Salurkan sedekah berkelanjutan Anda melalui BAZNAS dan raih keberkahan dunia dan akhirat.
Ayo bersedekah melalui Kantor Digital BAZNAS Kota Yogyakarta: https://kotayogya.baznas.go.id/sedekah
Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id
Penulis: Shifa Indri Hudannaya
Editor: M. Sahal
BERITA14/03/2025 | AdminS
Apakah Harta yang Diinvestasikan Harus Dizakati?
Zakat merupakan salah satu rukun Islam yang wajib dilaksanakan oleh setiap Muslim yang memenuhi syarat. Salah satu pertanyaan yang sering muncul di kalangan masyarakat adalah apakah harta yang diinvestasikan juga harus dizakati. Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu memahami beberapa konsep dasar mengenai zakat dan investasi.
Pengertian Zakat dan Investasi
Zakat adalah kewajiban mengeluarkan sebagian harta untuk diberikan kepada yang berhak, seperti fakir miskin, anak yatim, dan lain-lain. Zakat bertujuan untuk membersihkan harta dan membantu sesama. Sementara itu, investasi adalah penanaman modal dalam suatu usaha atau aset dengan harapan mendapatkan keuntungan di masa depan. Dalam konteks ini, harta yang diinvestasikan bisa berupa uang, saham, properti, atau bentuk investasi lainnya.
Kewajiban Zakat atas Harta yang Diinvestasikan
Harta yang diinvestasikan tetap dikenakan zakat, namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama, jenis investasi yang dilakukan. Jika investasi tersebut menghasilkan pendapatan, seperti dividen dari saham atau sewa dari properti, maka pendapatan tersebut juga harus dizakati. Kedua, masa kepemilikan harta. Jika harta tersebut telah dimiliki selama satu tahun (haul), maka zakatnya wajib dikeluarkan.
Contoh Perhitungan Zakat atas Investasi
Misalnya, seseorang memiliki saham senilai Rp 10.000.000 dan dalam satu tahun mendapatkan dividen sebesar Rp 1.000.000. Maka, zakat yang harus dikeluarkan adalah 2,5% dari total harta yang dimiliki, termasuk dividen. Dalam hal ini, total harta yang dikenakan zakat adalah Rp 11.000.000 (Rp 10.000.000 + Rp 1.000.000).
Maka, zakat yang harus dibayarkan adalah: Zakat = 2,5% X 11.000.000 = Rp 275.000
Di Yogyakarta, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Yogyakarta berperan penting dalam mengelola zakat, termasuk zakat dari harta yang diinvestasikan. BAZNAS Yogyakarta memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai kewajiban zakat dan cara perhitungannya. Mereka juga menyediakan layanan untuk memudahkan masyarakat dalam menunaikan zakat, termasuk zakat dari harta investasi.
BAZNAS Yogyakarta memiliki program-program yang mendukung pengembangan ekonomi masyarakat, seperti pemberian modal usaha kepada mustahik (orang yang berhak menerima zakat). Dengan demikian, zakat yang dikeluarkan tidak hanya membersihkan harta, tetapi juga berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Harta yang diinvestasikan memang harus dizakati, terutama jika investasi tersebut menghasilkan pendapatan. Penting bagi setiap Muslim untuk memahami kewajiban zakat dan cara perhitungannya agar dapat menunaikannya dengan benar. BAZNAS Yogyakarta siap membantu masyarakat dalam memenuhi kewajiban zakat, termasuk memberikan informasi dan layanan terkait zakat atas harta investasi.
Dengan menunaikan zakat, kita tidak hanya membersihkan harta kita, tetapi juga berkontribusi dalam menciptakan masyarakat yang lebih sejahtera. Oleh karena itu, mari kita tingkatkan kesadaran akan pentingnya zakat, termasuk dari harta yang diinvestasikan, demi kebaikan bersama.
=====================
*Tunaikan zakat/infaq, melalui Kantor Digital BAZNAS Kota Yogyakarta. https://kotayogya.baznas.go.id/bayarzakat Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id
Editor: Ummi Kiftiyah
BERITA14/03/2025 | admin
Apakah Zakat Emas Harus Berupa Uang?
Zakat merupakan salah satu rukun Islam yang wajib dilaksanakan oleh setiap Muslim yang memenuhi syarat. Salah satu jenis zakat yang sering menjadi perbincangan adalah zakat emas. Banyak orang bertanya-tanya, apakah zakat emas harus dibayarkan dalam bentuk uang? Dalam artikel ini, kita akan membahas secara mendalam mengenai kewajiban zakat emas, cara pembayarannya, dan pertimbangan yang perlu diperhatikan.
Pengertian Zakat Emas
Zakat emas adalah zakat yang dikenakan atas kepemilikan emas yang dimiliki oleh seseorang. Zakat ini termasuk dalam kategori zakat mal, yang merupakan zakat atas harta yang dimiliki. Kewajiban zakat emas berlaku bagi setiap Muslim yang memiliki emas dengan jumlah tertentu, yaitu mencapai nisab.
Nisab
Nisab adalah batas minimal harta yang harus dimiliki seseorang agar wajib membayar zakat. Untuk zakat emas, nisab ditetapkan sebesar 85 gram emas. Jika seseorang memiliki emas kurang dari jumlah tersebut, maka ia tidak diwajibkan untuk membayar zakat.
Besaran zakat yang harus dibayarkan adalah 2,5% dari total nilai emas yang dimiliki. Misalnya, jika seseorang memiliki 100 gram emas, maka zakat yang harus dikeluarkan adalah 2,5 gram emas.
Bentuk Pembayaran Zakat Emas
Dalam Bentuk Emas
Zakat emas dapat dibayarkan dalam bentuk emas itu sendiri. Ini adalah cara yang paling umum dan sesuai dengan ketentuan syariah. Misalnya, jika Anda memiliki 150 gram emas, Anda dapat memberikan 3,75 gram emas sebagai zakat. Pembayaran dalam bentuk emas ini juga memudahkan penerima zakat untuk mendapatkan barang yang mereka butuhkan.
Dalam Bentuk Uang
Meskipun tidak diwajibkan, zakat emas juga dapat dibayarkan dalam bentuk uang. Hal ini sering dilakukan untuk memudahkan penerima zakat dalam menggunakan dana tersebut. Jika memilih untuk membayar dalam bentuk uang, sebaiknya nilai uang yang dibayarkan setara dengan nilai emas yang seharusnya dikeluarkan sebagai zakat. Misalnya, jika harga emas saat ini adalah Rp1.000.000 per gram, maka zakat yang harus dibayarkan dalam bentuk uang adalah Rp3.750.000 untuk 3,75 gram emas.
Pembayaran zakat dalam bentuk uang dapat lebih bermanfaat bagi penerima zakat, terutama jika mereka membutuhkan uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dalam banyak kasus, penerima zakat mungkin lebih membutuhkan uang tunai daripada emas, sehingga pembayaran dalam bentuk uang dapat lebih efektif.
Beberapa lembaga zakat, seperti BAZNAS (Badan Amil Zakat Nasional), mungkin memiliki kebijakan tertentu mengenai bentuk pembayaran zakat emas. Oleh karena itu, penting untuk berkonsultasi dengan lembaga zakat setempat untuk mendapatkan panduan yang tepat. BAZNAS Yogyakarta, misalnya, memberikan informasi dan layanan terkait zakat yang dapat membantu masyarakat dalam memenuhi kewajiban zakat mereka.
Zakat emas tidak harus dibayarkan dalam bentuk uang; dapat juga dibayarkan dalam bentuk emas itu sendiri. Namun, pilihan untuk membayar dalam bentuk uang dapat dipertimbangkan berdasarkan kebutuhan penerima zakat dan kebijakan lembaga zakat. Sebaiknya, sebelum melakukan pembayaran zakat, konsultasikan dengan lembaga zakat seperti BAZNAS untuk memastikan bahwa zakat yang dibayarkan sesuai dengan ketentuan syariah dan dapat memberikan manfaat maksimal bagi penerima. Dengan memahami kewajiban zakat emas dan cara pembayarannya, kita dapat menjalankan ibadah ini dengan baik dan benar.
=====================
*Tunaikan zakat/infaq, melalui Kantor Digital BAZNAS Kota Yogyakarta. https://kotayogya.baznas.go.id/bayarzakat Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id
Editor: Ummi Kiftiyah
BERITA14/03/2025 | admin
Ketentuan Bahan Pokok yang Boleh Digunakan untuk Membayar Zakat
Zakat merupakan salah satu rukun Islam yang wajib dilaksanakan oleh setiap Muslim yang memenuhi syarat. Salah satu jenis zakat yang paling dikenal adalah zakat fitrah, yang dibayarkan menjelang Idul Fitri. Dalam pelaksanaannya, terdapat ketentuan mengenai bahan pokok yang boleh digunakan untuk membayar zakat fitrah. Artikel ini akan membahas ketentuan tersebut serta peran BAZNAS Yogyakarta dalam pengelolaan zakat.
Jenis Bahan Pokok
Bahan pokok yang diperbolehkan untuk zakat fitrah umumnya terdiri dari makanan pokok yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat. Berikut adalah beberapa jenis bahan pokok yang dapat digunakan:
Beras: Merupakan bahan pokok yang paling umum digunakan untuk zakat fitrah. Kualitas beras yang digunakan sebaiknya adalah beras yang baik dan layak konsumsi. Di Indonesia, beras menjadi pilihan utama karena merupakan makanan pokok mayoritas penduduk.
Gandum: Di beberapa daerah, terutama yang tidak memiliki beras sebagai bahan pokok utama, gandum dapat digunakan sebagai alternatif. Meskipun tidak sepopuler beras, gandum tetap diakui sebagai bahan yang sah untuk zakat.
Kurma: Dalam tradisi Islam, kurma dikenal sebagai makanan yang baik dan sering digunakan dalam konteks zakat. Di daerah yang memiliki tradisi mengonsumsi kurma, bahan ini dapat menjadi pilihan yang tepat.
Kismis: Kismis atau raisin juga diperbolehkan sebagai salah satu pilihan untuk membayar zakat fitrah. Meskipun tidak umum, kismis dapat menjadi alternatif yang baik.
Susu: Beberapa pendapat menyatakan bahwa susu juga dapat digunakan sebagai bahan pokok untuk zakat fitrah, terutama di daerah yang mengonsumsinya secara luas.
Kualitas dan Kuantitas
Dalam membayar zakat fitrah, kualitas dan kuantitas bahan pokok sangat penting. Bahan yang digunakan haruslah berkualitas baik, tidak cacat, dan layak untuk dikonsumsi. Misalnya, beras yang digunakan sebaiknya bersih dan tidak busuk.
Kuantitas zakat fitrah biasanya ditentukan dalam ukuran tertentu, misalnya 2,5 kg per orang. Hal ini dapat bervariasi tergantung pada kebijakan lokal atau lembaga zakat yang mengelola. Oleh karena itu, penting untuk mengikuti ketentuan yang berlaku di daerah masing-masing.
Kesesuaian dengan Kebiasaan Setempat
Bahan pokok yang digunakan untuk zakat fitrah sebaiknya sesuai dengan kebiasaan masyarakat setempat. Misalnya, di daerah yang mayoritas penduduknya mengonsumsi beras, maka beras adalah pilihan utama. Hal ini bertujuan agar penerima zakat dapat memanfaatkan zakat tersebut dengan baik.
Pembayaran zakat fitrah menggunakan bahan pokok yang sesuai dengan ketentuan sangat penting untuk memastikan bahwa zakat tersebut sah dan dapat diterima oleh penerima. Oleh karena itu, sebaiknya berkonsultasi dengan lembaga zakat setempat, seperti BAZNAS Yogyakarta, untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai ketentuan dan prosedur pembayaran zakat fitrah. Dengan memahami ketentuan ini, diharapkan setiap Muslim dapat melaksanakan kewajiban zakatnya dengan baik dan benar.
=====================
*Tunaikan zakat/infaq, melalui Kantor Digital BAZNAS Kota Yogyakarta. https://kotayogya.baznas.go.id/bayarzakat Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id
Editor: Ummi Kiftiyah
BERITA14/03/2025 | admin
Belajar dari Kesalahan: Kafarat Ramadhan sebagai Latihan Kesabaran dan Ketaatan
Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan rahmat dan ampunan. Di dalamnya, umat Islam diberikan kesempatan untuk meningkatkan ketakwaan dan memperbaiki diri. Salah satu ujian yang dihadapi seorang Muslim selama bulan Ramadhan adalah menjaga puasa dengan sempurna sesuai syariat. Namun, tidak jarang seseorang melakukan kesalahan, baik karena kelalaian maupun karena hawa nafsu yang sulit dikendalikan.
Dalam Islam, terdapat mekanisme untuk menebus kesalahan tersebut, yaitu melalui kafarat. Kafarat dalam puasa Ramadhan bukan sekadar hukuman atau denda, tetapi juga merupakan bentuk latihan kesabaran dan ketaatan bagi seorang Muslim. Artikel ini akan membahas bagaimana kafarat Ramadhan dapat menjadi sarana pembelajaran spiritual dan moral dalam kehidupan sehari-hari.
Makna Kafarat dalam Islam
Secara etimologi, kata kafarat berasal dari bahasa Arab ?????, yang berarti penutup atau penghapus. Dalam istilah fikih, kafarat adalah bentuk penebusan dosa yang harus dilakukan seseorang karena melanggar aturan ibadah tertentu, termasuk puasa Ramadhan.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
"Dan barang siapa yang tidak mampu (membayar kafarat), maka ia harus berpuasa selama dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bersentuhan. Tetapi jika ia tidak mampu, maka ia harus memberi makan enam puluh orang miskin." (QS. Al-Mujadilah: 4)
Ayat ini menunjukkan bahwa Islam memberikan beberapa pilihan dalam menebus kesalahan, yang masing-masing memiliki nilai ibadah dan pembelajaran tersendiri.
Kesabaran dalam Menjalankan Kafarat
Kesabaran adalah salah satu kunci utama dalam menjalankan kafarat. Rasulullah SAW bersabda:
"Puasa adalah separuh kesabaran." (HR. Ibnu Majah)
Dalam konteks kafarat puasa Ramadhan, kesabaran diuji dalam beberapa hal:
1. Berpuasa dua bulan berturut-turut
Ini adalah kafarat utama bagi mereka yang dengan sengaja membatalkan puasa Ramadhan tanpa uzur yang dibenarkan.
Menjalankan puasa selama 60 hari tanpa terputus membutuhkan ketahanan fisik dan mental yang luar biasa.
2. Memberi makan 60 orang miskin
Bagi yang tidak mampu berpuasa, pilihan ini mengajarkan kesabaran dalam berbagi rezeki dan merasakan empati terhadap orang yang kurang mampu.
Kesabaran dalam menjalankan kafarat menunjukkan tingkat keimanan seseorang. Dalam kitab Ar-Risalah, Imam Asy-Syafi’i menyebutkan bahwa seseorang yang mampu bersabar dalam ibadah dan ketaatan adalah orang yang telah mencapai derajat iman yang tinggi (Asy-Syafi’i, Ar-Risalah, hlm. 187).
Ketaatan sebagai Inti dari Kafarat
Ketaatan dalam Islam bukan hanya tentang menjalankan perintah Allah, tetapi juga tentang kesiapan seseorang dalam menerima konsekuensi dari perbuatannya. Kafarat dalam puasa Ramadhan menjadi bukti bahwa Islam mengajarkan tanggung jawab atas setiap kesalahan.
Allah SWT berfirman:
"Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya." (QS. At-Talaq: 2)
Menjalankan kafarat adalah bentuk ketakwaan, karena seseorang menerima dan melaksanakan perintah Allah tanpa protes atau merasa terbebani. Beberapa aspek ketaatan dalam kafarat meliputi:
1. Menerima konsekuensi dengan lapang dada
Kafarat mengajarkan seorang Muslim untuk tidak mencari jalan pintas dalam menebus kesalahan, tetapi menjalankan apa yang telah ditetapkan oleh syariat dengan penuh kepatuhan.
2. Meningkatkan kesadaran akan hukum-hukum Islam
Seseorang yang pernah menjalani kafarat akan lebih berhati-hati dalam menjalankan ibadah di masa depan. Ini menunjukkan bahwa kafarat juga memiliki nilai edukatif yang tinggi.
3. Menjalankan ibadah dengan penuh keikhlasan
Imam Al-Ghazali dalam Ihya 'Ulumuddin menyebutkan bahwa ketaatan yang dilakukan dengan ikhlas akan membawa seseorang lebih dekat kepada Allah dan menjadikannya pribadi yang lebih baik (Al-Ghazali, Ihya 'Ulumuddin, Juz 4, hlm. 351).
Kafarat sebagai Sarana Perbaikan Diri
Selain sebagai bentuk kesabaran dan ketaatan, kafarat juga berfungsi sebagai sarana perbaikan diri. Seorang Muslim yang telah menjalani kafarat diharapkan dapat mengambil pelajaran dan tidak mengulangi kesalahannya di masa depan.
Beberapa manfaat spiritual dari kafarat antara lain:
1. Membangun disiplin dalam ibadah
Kafarat, terutama dalam bentuk puasa dua bulan berturut-turut, mengajarkan pentingnya disiplin dalam menjalankan ibadah.
2. Meningkatkan kepedulian sosial
Bagi mereka yang membayar kafarat dengan memberi makan 60 orang miskin, ini menjadi kesempatan untuk berbagi dan merasakan kondisi mereka yang kurang beruntung.
3. Membangun hubungan yang lebih kuat dengan Allah
Kafarat adalah bentuk taubat dan kesungguhan dalam memperbaiki diri. Rasulullah SAW bersabda:
"Setiap anak Adam pasti berbuat kesalahan, dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah mereka yang bertaubat." (HR. Tirmidzi)
Belajar dari Kesalahan: Refleksi Diri Melalui Kafarat
Dalam kehidupan, manusia sering kali jatuh dalam kesalahan, tetapi yang terpenting adalah bagaimana mereka belajar dan bangkit kembali. Kafarat dalam Islam bukan hanya sekadar menggugurkan dosa, tetapi juga mengajarkan nilai-nilai kehidupan yang lebih luas.
Allah SWT berfirman:
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri." (QS. Ar-Ra’d: 11)
Menjalankan kafarat dengan penuh kesabaran dan ketaatan adalah salah satu bentuk perubahan diri yang dapat membawa seseorang menuju kehidupan yang lebih baik
Kesimpulan
Kafarat dalam puasa Ramadhan bukan sekadar hukuman, tetapi juga merupakan latihan kesabaran dan ketaatan bagi seorang Muslim. Dalam menjalankan kafarat, seseorang belajar untuk menerima konsekuensi dari perbuatannya, meningkatkan disiplin dalam ibadah, serta memperbaiki hubungan dengan Allah dan sesama manusia.
Melalui kafarat, Islam mengajarkan bahwa setiap kesalahan dapat ditebus dengan usaha yang sungguh-sungguh dan penuh keikhlasan. Kafarat bukan hanya cara untuk membersihkan dosa, tetapi juga sarana untuk menjadi pribadi yang lebih baik, lebih disiplin, dan lebih dekat kepada Allah SWT.
Semoga kita semua diberikan kekuatan untuk menjalankan ibadah dengan baik dan tetap berada dalam lindungan-Nya. Aamiin.
Editor : Ibnu
BERITA14/03/2025 | Ibnu
Menebus Dosa dengan Ikhlas: Pelajaran Spiritual dari Kafarat Ramadhan
Ramadhan adalah bulan penuh berkah yang menjadi kesempatan bagi umat Islam untuk meningkatkan ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dalam menjalankan ibadah puasa, terdapat aturan-aturan yang harus ditaati. Namun, sebagai manusia, kita tidak luput dari kesalahan, termasuk dalam menjalankan puasa Ramadhan. Jika seseorang melanggar ketentuan puasa dengan sengaja, Islam telah menetapkan ketentuan kafarat sebagai bentuk penebusan dosa.
Kafarat bukan sekadar sanksi atau denda, tetapi lebih dari itu, ia memiliki makna spiritual yang mendalam. Kafarat mengajarkan keikhlasan dalam bertaubat, kedisiplinan dalam menjalankan ibadah, serta kepedulian terhadap sesama. Artikel ini akan membahas makna ikhlas dalam kafarat Ramadhan dan bagaimana ibadah ini menjadi sarana pembelajaran spiritual bagi setiap Muslim.
Makna Kafarat dalam Islam
Kata "kafarat" berasal dari bahasa Arab ????? yang berarti penutup atau penghapus. Secara istilah, kafarat adalah bentuk penebusan dosa akibat pelanggaran tertentu dalam ibadah, termasuk puasa Ramadhan. Dalam Islam, kafarat bertujuan untuk membersihkan jiwa dari kesalahan serta mengembalikan keharmonisan antara manusia dan Allah SWT.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
"Dan barang siapa yang tidak mampu (membayar kafarat), maka ia harus berpuasa selama dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bersentuhan. Tetapi jika ia tidak mampu, maka ia harus memberi makan enam puluh orang miskin." (QS. Al-Mujadilah: 4)
Ayat ini menegaskan bahwa kafarat bukan hanya hukuman, tetapi juga sarana untuk meningkatkan kualitas keimanan seseorang.
Jenis-Jenis Kafarat dalam Puasa Ramadhan
Dalam konteks puasa Ramadhan, kafarat wajib ditunaikan jika seseorang dengan sengaja membatalkan puasanya tanpa uzur yang dibenarkan syariat, seperti makan, minum, atau berhubungan suami istri di siang hari Ramadhan. Kafarat yang harus dilakukan adalah:
1. Membebaskan budak (yang saat ini tidak lagi berlaku karena sistem perbudakan telah dihapus).
2. Berpuasa dua bulan berturut-turut tanpa putus.
3. Memberi makan 60 orang miskin jika tidak mampu menjalankan puasa dua bulan berturut-turut.
Ketiga bentuk kafarat ini menunjukkan keseimbangan antara hubungan manusia dengan Allah (hablum minallah) dan hubungan dengan sesama manusia (hablum minannas).
Keikhlasan dalam Menjalankan Kafarat
Keikhlasan merupakan inti dari setiap amal ibadah dalam Islam, termasuk dalam menunaikan kafarat. Menjalankan kafarat bukan hanya soal menggugurkan kewajiban, tetapi juga sebagai bentuk kesadaran dan penghambaan kepada Allah SWT.
Dalam kitab Ihya ‘Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa keikhlasan adalah perbuatan yang dilakukan semata-mata karena Allah, tanpa adanya riya’ atau harapan pujian dari manusia (Al-Ghazali, Ihya ‘Ulumuddin, Juz 4, hlm. 351).
Dalam konteks kafarat, keikhlasan berarti:
Mengakui kesalahan dengan rendah hati: Seseorang yang menjalankan kafarat harus menyadari bahwa ia telah melakukan kesalahan dan berkomitmen untuk tidak mengulanginya.
Menjalankan kafarat tanpa mengeluh: Kafarat mungkin terasa berat, terutama berpuasa dua bulan berturut-turut. Namun, jika dilakukan dengan ikhlas, maka Allah akan memberikan kekuatan dan pahala yang besar.
Menganggap kafarat sebagai bentuk pembelajaran spiritual: Menjalankan kafarat seharusnya tidak hanya dipandang sebagai hukuman, tetapi juga sebagai kesempatan untuk memperbaiki diri dan meningkatkan keimanan.
Kafarat sebagai Sarana Pembersihan Diri
Salah satu hikmah dari kafarat adalah membersihkan diri dari dosa yang telah dilakukan. Rasulullah SAW bersabda:
"Barang siapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (HR. Bukhari dan Muslim)
Namun, jika seseorang dengan sengaja membatalkan puasa tanpa uzur, maka ia perlu menebus kesalahannya melalui kafarat agar mendapatkan ampunan Allah SWT.
Ibnu Qudamah dalam kitab Al-Mughni menjelaskan bahwa kafarat memiliki hikmah sebagai bentuk tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) serta mujahadah (kesungguhan dalam beribadah) (Ibnu Qudamah, Al-Mughni, Juz 3, hlm. 135). Dengan menjalankan kafarat, seseorang diajak untuk:
1. Meningkatkan kesabaran: Menjalankan kafarat, terutama berpuasa dua bulan berturut-turut, membutuhkan keteguhan hati dan disiplin tinggi.
2. Merasakan empati terhadap orang miskin: Memberi makan 60 orang miskin sebagai bentuk kafarat mengajarkan kepedulian sosial dan membantu mereka yang kurang beruntung.
3. Memperbaiki hubungan dengan Allah: Kafarat adalah bentuk taubat dan usaha untuk kembali kepada Allah dengan keadaan yang lebih baik.
Belajar dari Kesalahan: Refleksi Spiritual dalam Kafarat
Setiap manusia pasti pernah berbuat salah, tetapi yang paling penting adalah bagaimana kita belajar dari kesalahan tersebut. Islam mengajarkan bahwa pintu taubat selalu terbuka bagi siapa pun yang ingin kembali ke jalan yang benar.
Allah SWT berfirman
"Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang mensucikan diri." (QS. Al-Baqarah: 222)
Kafarat adalah bentuk nyata dari taubat dan kesungguhan untuk memperbaiki diri. Seorang Muslim yang menjalankan kafarat dengan ikhlas akan merasakan dampak positif dalam kehidupannya, baik secara spiritual maupun sosial.
Kesimpulan
Menjalankan kafarat dalam puasa Ramadhan bukan sekadar menggugurkan kewajiban, tetapi juga memiliki nilai spiritual yang mendalam. Kafarat mengajarkan keikhlasan, kesabaran, dan kepedulian terhadap sesama. Dengan memahami makna kafarat secara lebih dalam, kita dapat menjadikannya sebagai sarana untuk memperbaiki diri dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Sebagai manusia, kita mungkin tidak luput dari kesalahan, tetapi Islam memberikan jalan untuk menebusnya. Kafarat adalah bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya agar tetap berada di jalan yang benar. Oleh karena itu, menjalankan kafarat dengan ikhlas bukanlah beban, melainkan kesempatan untuk meraih ampunan dan meningkatkan kualitas iman kita.
Semoga Allah SWT menerima amal ibadah kita dan menjadikan kita hamba-hamba yang selalu berusaha memperbaiki diri. Aamiin.
Editor : Ibnu
BERITA14/03/2025 | Ibnu
Kapan Waktu Terbaik Membayar Zakat Fitrah? Ini Penjelasannya!
Zakat fitrah adalah kewajiban bagi setiap Muslim yang mampu, sebagai penyempurna ibadah puasa Ramadan dan bentuk kepedulian kepada mereka yang membutuhkan. Namun, banyak yang bertanya, kapan waktu terbaik untuk membayar zakat fitrah? Untuk menjawabnya, mari kita simak penjelasan lengkapnya berdasarkan dalil dan pendapat para ulama.
Waktu Pembayaran Zakat Fitrah
Para ulama membagi waktu pembayaran zakat fitrah menjadi beberapa kategori:
1. Waktu Wajib
Zakat fitrah menjadi wajib ditunaikan sejak matahari terbenam di malam Idul Fitri hingga sebelum shalat Idul Fitri. Hal ini didasarkan pada hadits dari Ibnu Umar RA:
"Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah sebelum orang-orang keluar untuk shalat Idul Fitri." (HR. Bukhari & Muslim)
2. Waktu Afdhal (Paling Utama)
Waktu terbaik membayar zakat fitrah adalah di pagi hari sebelum shalat Idul Fitri, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dan para sahabat.
3. Waktu Diperbolehkan
Para ulama membolehkan pembayaran zakat fitrah sejak awal Ramadan hingga sebelum shalat Idul Fitri. Hal ini untuk mempermudah distribusi kepada mustahik (penerima zakat), terutama bagi lembaga amil zakat yang menyalurkan zakat kepada mereka yang berhak.
4. Waktu Makruh
Menunda pembayaran zakat fitrah setelah shalat Idul Fitri tanpa alasan yang sah dianggap makruh, karena bertentangan dengan sunnah Nabi SAW.
5. Waktu Haram
Jika zakat fitrah dibayarkan setelah hari Idul Fitri tanpa uzur yang jelas, maka hukumnya haram karena melewatkan kewajiban. Namun, zakat tersebut tetap wajib dikeluarkan sebagai qadha.
Waktu terbaik untuk membayar zakat fitrah adalah sebelum shalat Idul Fitri, namun diperbolehkan sejak awal Ramadan agar distribusinya lebih merata. Untuk memudahkan penyaluran zakat fitrah Anda, BAZNAS Kota Yogyakarta menyediakan layanan pembayaran zakat fitrah secara langsung dan online, sehingga dapat dilakukan kapan saja dengan mudah dan aman.
Segera tunaikan zakat fitrah Anda melalui BAZNAS Kota Yogyakarta agar tersalurkan tepat waktu dan tepat sasaran. Semoga zakat yang kita keluarkan diterima oleh Allah SWT dan membawa keberkahan bagi kita semua. Aamiin.
=====================
*Tunaikan zakat/infaq, melalui Kantor Digital BAZNAS Kota Yogyakarta. https://kotayogya.baznas.go.id/bayarzakat Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id
Editor: Ummi Kiftiyah
Penulis : Azkia Salsabila
BERITA14/03/2025 | admin
Siapa yang Wajib Membayar Zakat Fitrah? Ini Penjelasan Lengkapnya!
Zakat fitrah adalah kewajiban bagi setiap Muslim yang mampu sebagai bentuk penyucian diri setelah berpuasa di bulan Ramadhan. Namun, siapa saja yang wajib membayar zakat fitrah? Berikut penjelasan lengkapnya berdasarkan dalil dan pendapat para ulama.
Dasar Hukum Zakat Fitrah
Zakat fitrah diwajibkan sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar RA:
"Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah sebanyak satu sha’ dari kurma atau satu sha’ dari gandum atas setiap Muslim, baik hamba sahaya maupun merdeka, laki-laki maupun perempuan, kecil maupun besar, dan beliau memerintahkan agar dikeluarkan sebelum orang-orang berangkat shalat Id." (HR. Bukhari & Muslim)
Berdasarkan hadits ini, zakat fitrah wajib bagi setiap Muslim tanpa terkecuali, selama memenuhi syarat tertentu.
Syarat Wajib Zakat Fitrah
Beragama Islam – Zakat fitrah hanya diwajibkan bagi umat Islam, baik yang baru masuk Islam sebelum Idul Fitri maupun sejak lahir.
Memiliki kelebihan Harta – Orang yang wajib membayar zakat fitrah adalah mereka yang memiliki makanan atau harta lebih dari kebutuhan pokoknya untuk sehari semalam pada malam dan hari Idul Fitri.
Masih Hidup Sebelum Idul Fitri – Orang yang lahir sebelum matahari terbenam di malam Idul Fitri wajib dibayarkan zakat fitrahnya. Begitu pula seseorang yang meninggal setelah matahari terbenam di malam Idul Fitri tetap terkena kewajiban zakat.
Siapa yang Harus Membayar Zakat Fitrah?
Berikut beberapa kategori orang yang wajib membayar zakat fitrah:
1. Diri Sendiri
Setiap Muslim yang mampu harus membayar zakat fitrah untuk dirinya sendiri.
2. Kepala Keluarga
Seorang kepala keluarga wajib membayar zakat fitrah untuk dirinya sendiri dan anggota keluarganya yang masih dalam tanggungan, termasuk istri, anak-anak, serta orang tua jika mereka tidak mampu.
3. Orang yang Menanggung Nafkah Orang Lain
Jika seseorang memiliki tanggungan seperti anak yatim atau kerabat yang tidak mampu, maka ia berkewajiban membayar zakat fitrah untuk mereka.
Siapa yang Tidak Wajib Membayar Zakat Fitrah?
-Orang yang tidak memiliki kelebihan makanan/harta pada malam Idul Fitri dan benar-benar berada dalam kondisi fakir.
-Non-Muslim, karena zakat fitrah hanya diwajibkan bagi umat Islam.
-Orang yang meninggal sebelum matahari terbenam pada malam Idul Fitri, karena kewajiban zakat fitrah berlaku bagi yang masih hidup saat masuk malam Idul Fitri.
Zakat fitrah adalah kewajiban bagi setiap Muslim yang mampu, baik laki-laki maupun perempuan, tua maupun muda. Jika seseorang memiliki kelebihan harta atau makanan di malam Idul Fitri, maka ia wajib membayarkan zakat fitrah. Sebagai lembaga resmi pengelola zakat, BAZNAS Kota Yogyakarta siap menerima dan menyalurkan zakat fitrah Anda agar sampai kepada yang berhak dengan tepat waktu dan tepat sasaran.
Bayarkan zakat fitrah Anda sekarang melalui BAZNAS Kota Yogyakarta, baik secara langsung maupun online, untuk memastikan kewajiban ini terlaksana dengan baik. Semoga Allah SWT menerima ibadah kita dan melipatgandakan pahala. Aamiin.
=====================
*Tunaikan zakat/infaq, melalui Kantor Digital BAZNAS Kota Yogyakarta. https://kotayogya.baznas.go.id/bayarzakat Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id
Editor: Ummi Kiftiyah
Penulis : Azkia Salsabila
BERITA14/03/2025 | admin
Zakat Fitrah 2025: Berapa Besarannya dan Bagaimana Cara Menghitungnya?
Zakat fitrah adalah zakat wajib yang harus dikeluarkan oleh setiap Muslim sebelum Hari Raya Idul Fitri. Besaran zakat fitrah ditentukan berdasarkan harga makanan pokok di masing-masing daerah. Lalu, bagaimana cara menghitung zakat fitrah untuk tahun 2025? Berikut penjelasan lengkapnya.
Besaran Zakat Fitrah 2025
Menurut ketentuan syariat, zakat fitrah wajib dikeluarkan sebesar satu sha' atau sekitar 2,5 - 3 kg bahan makanan pokok per orang. Di Indonesia, makanan pokok yang digunakan sebagai standar zakat fitrah adalah beras.
Besaran zakat fitrah dalam bentuk uang mengikuti harga beras yang dikonsumsi sehari-hari. Berdasarkan data dari berbagai daerah, perkiraan besaran zakat fitrah 2025 adalah sekitar:
Rp40.000 - Rp60.000 per orang, tergantung harga beras di masing-masing wilayah.
Catatan: Untuk besaran pasti, masyarakat dapat merujuk kepada keputusan resmi seperti BAZNAS atau lembaga zakat setempat.
Cara Menghitung Zakat Fitrah
Menghitung zakat fitrah sangat mudah. Berikut langkah-langkahnya:
Tentukan jenis makanan pokok yang dikonsumsi sehari-hari (misalnya, beras).
Cek harga pasar beras per kilogram sesuai dengan kualitas yang biasa dikonsumsi.
Kalikan dengan jumlah zakat fitrah yang wajib dikeluarkan (2,5 – 3 kg per orang).
Jika membayar dalam bentuk uang, gunakan harga beras yang sesuai dengan konsumsi harian.
Contoh Perhitungan:
Jika harga beras yang dikonsumsi adalah Rp15.000 per kg, maka zakat fitrah yang harus dibayarkan:
2,5 kg x Rp15.000 = Rp 37.500 per orang
3 kg x Rp15.000 = Rp 45.000 per orang
Jika dalam satu keluarga ada 4 orang, maka total zakat fitrah yang harus dibayarkan adalah Rp150.000 - Rp180.000.
Waktu Pembayaran Zakat Fitrah
Zakat fitrah dapat dibayarkan sejak awal Ramadan hingga sebelum shalat Idul Fitri. Waktu terbaik untuk membayar zakat fitrah adalah beberapa hari sebelum Idul Fitri, agar dapat segera disalurkan kepada mustahik (penerima zakat).
Cara Mudah Membayar Zakat Fitrah 2025
BAZNAS Kota Yogyakarta menyediakan berbagai metode pembayaran zakat fitrah yang mudah dan aman, baik secara langsung maupun online. Berikut beberapa cara membayar zakat fitrah melalui BAZNAS Kota Yogyakarta:
Membayar langsung ke masjid atau lembaga amil zakat terdekat.
Melalui layanan pembayaran zakat online BAZNAS Kota Yogyakarta, yang dapat dilakukan dari rumah dengan mudah. Transfer ke rekening resmi BAZNAS, sesuai dengan instruksi pembayaran yang tersedia di situs resmi BAZNAS.
Zakat fitrah merupakan kewajiban setiap Muslim yang harus ditunaikan sebelum shalat Idul Fitri. Besaran zakat fitrah 2025 diperkirakan sekitar Rp40.000 - Rp60.000 per orang, tergantung harga beras di masing-masing daerah. Pastikan Anda membayar zakat fitrah tepat waktu agar ibadah Ramadan semakin sempurna.
Tunaikan zakat fitrah Anda sekarang melalui BAZNAS Kota Yogyakarta, lembaga resmi yang terpercaya dalam menyalurkan zakat kepada yang berhak. Semoga zakat yang kita keluarkan diterima oleh Allah SWT dan membawa berkah bagi kita semua. Aamiin.
=====================
*Tunaikan zakat/infaq, melalui Kantor Digital BAZNAS Kota Yogyakarta. https://kotayogya.baznas.go.id/bayarzakat Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id
Editor: Ummi Kiftiyah
Penulis : Azkia Salsabila
BERITA14/03/2025 | admin
Makanan Khas Ramadhan di Palestina
Makanan Khas Ramadhan di Palestina
Bulan Ramadhan adalah waktu yang penuh makna bagi umat muslim di seluruh dunia, termasuk di Palestina. Selain sebagai bulan ibadah, Ramadhan juga menjadi momen untuk mempererat tali silaturahim melalui hidangan khas yang disajikan saat berbuka puasa dan sahur. Di Palestina, makanan khas Ramadhan tidak hanya mencerminkan kekayaan kuliner, tetapi juga menjadi simbol ketahanan budaya di tengah konflik berkepanjangan. Berikut adalah beberapa hidangan khas Ramadhan yang populer di Palestina.
1. Qatayef
Qatayef adalah salah satu hidangan penutup paling ikonik selama Ramadhan di Palestina. Kue kecil berbentuk setengah lingkaran ini terbuat dari adonan tepung yang diisi dengan keju, kacang, atau krim, kemudian digoreng atau dipanggang. Qatayef biasanya disajikan dengan sirup gula atau madu, menciptakan rasa manis yang sempurna untuk berbuka puasa.
2. Musakhan
Musakhan adalah hidangan utama yang sering disajikan selama Ramadhan. Terbuat dari roti tabun (sejenis roti pipih) yang diolesi dengan bawang merah, sumac (rempah khas Timur Tengah), dan minyak zaitun, kemudian dihiasi dengan potongan ayam panggang. Hidangan ini tidak hanya lezat tetapi juga kaya akan rempah-rempah yang menyehatkan.
3. Maqluba
Maqluba, yang berarti "terbalik" dalam bahasa Arab, adalah hidangan nasi yang dimasak bersama sayuran dan daging (biasanya ayam atau domba). Setelah matang, hidangan ini dibalik sehingga nasi berada di atas dan sayuran serta daging di bawahnya. Maqluba sering disajikan saat berbuka puasa karena kandungan karbohidratnya yang tinggi, memberikan energi setelah seharian berpuasa.
4. Fattoush
Fattoush adalah salad segar yang terbuat dari sayuran seperti tomat, mentimun, dan daun mint, dicampur dengan potongan roti panggang dan dibumbui dengan sumac serta minyak zaitun. Salad ini sering disajikan sebagai pendamping hidangan utama selama Ramadhan karena kesegarannya membantu menghilangkan rasa haus setelah berpuasa.
5. Harees
Harees adalah hidangan tradisional yang terbuat dari gandum dan daging (biasanya ayam atau domba) yang dimasak hingga lembut dan bertekstur seperti bubur. Hidangan ini kaya akan protein dan serat, menjadikannya pilihan yang sempurna untuk sahur karena memberikan energi tahan lama.
6. Kanafeh
Kanafeh adalah hidangan penutup yang sangat populer di Palestina, terutama selama Ramadhan. Terbuat dari keju yang lembut dan lapisan adonan khas yang renyah, kemudian disiram dengan sirup gula. Kanafeh sering disajikan hangat dan menjadi favorit banyak orang untuk mengakhiri santapan berbuka puasa.
7. Shorabat Adas (Sup Lentil)
Sup lentil adalah hidangan pembuka yang sering disajikan saat berbuka puasa. Sup ini terbuat dari lentil, bawang, dan rempah-rempah, memberikan rasa hangat dan nyaman setelah seharian berpuasa. Sup lentil juga kaya akan protein dan serat, menjadikannya pilihan yang sehat.
Makna Makanan Ramadhan di Palestina
Makanan khas Ramadhan di Palestina tidak hanya sekadar hidangan lezat, tetapi juga menjadi bagian dari identitas budaya dan sejarah. Di tengah situasi politik yang sulit, makanan ini menjadi cara bagi masyarakat Palestina untuk mempertahankan tradisi dan merayakan keberkahan Ramadhan. Setiap hidangan mencerminkan kekayaan alam Palestina, seperti minyak zaitun, sumac, dan rempah-rempah lainnya yang menjadi bahan dasar masakan mereka.
Selain itu, berbagi makanan selama Ramadhan juga menjadi simbol solidaritas dan kebersamaan. Banyak keluarga Palestina yang mengundang tetangga dan kerabat untuk berbuka puasa bersama, menciptakan momen kebersamaan yang hangat dan penuh makna.
Makanan khas Ramadhan di Palestina adalah perpaduan antara cita rasa, tradisi, dan makna budaya yang mendalam. Meskipun menghadapi berbagai tantangan, masyarakat Palestina tetap menjaga warisan kuliner mereka dengan bangga. Melalui hidangan-hidangan ini, mereka tidak hanya merayakan Ramadhan tetapi juga memperkuat identitas mereka sebagai bangsa yang kaya akan sejarah dan budaya.
*Tunaikan zakat, infaq, sedekah melalui Kantor Digital BAZNAS Kota Yogyakarta.https://kotayogya.baznas.go.id/bayarzakat Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id
Editor : Ashifuddin Fikri
Writer : Nur Isnaini Masyithoh
BERITA13/03/2025 | Nur Isnaini Masyithoh
Ramadhan dan Perang Badar, Ketika Keimanan Berbuah Kemenangan
Perang Badar adalah salah satu peristiwa penting dalam sejarah Islam, tidak hanya karena kemenangan militer yang diraih oleh umat Muslim, tetapi juga karena peristiwa ini terjadi pada bulan Ramadhan. Perang ini menjadi simbol kekuatan iman, ketahanan, dan keadilan, serta mengajarkan nilai-nilai spiritual yang relevan hingga saat ini.
Latar Belakang Perang Badar
Perang Badar terjadi pada tanggal 17 Ramadhan tahun ke-2 Hijriah (624 Masehi). Perang ini melibatkan pasukan Muslim dari Madinah yang dipimpin oleh Nabi Muhammad SAW melawan pasukan Quraisy dari Mekah. Perang ini bermula dari konflik antara umat Muslim dan kaum Quraisy karena kaum Quraisy telah mengusir dan menindas muslim di Mekah. Setelah hijrah ke Madinah, umat Muslim mulai membangun komunitas, tetapi kaum Quraisy tetap mengancam keberadaan kaum muslim.
Salah satu pemicu langsung Perang Badar adalah upaya umat Muslim untuk menghadang kafilah dagang Quraisy yang dipimpin oleh Abu Sufyan. Kafilah ini membawa harta rampasan yang diambil secara tidak adil dari umat Muslim saat mereka masih berada di Mekah. Ketika Nabi Muhammad SAW dan sekitar 313 sahabatnya bergerak untuk menghadang kafilah tersebut, pasukan Quraisy yang terdiri dari sekitar 1.000 orang datang untuk melindungi kafilah dagang mereka. Pertempuran pun tidak terelakkan.
Peristiwa Perang Badar
Meskipun jumlah pasukan Muslim jauh lebih kecil dengan perlengkapan untuk perang, mereka memiliki keyakinan yang kuat dan strategi yang matang. Nabi Muhammad SAW memimpin pasukan dengan bijaksana, memilih lokasi yang strategis di dekat sumur Badar, dan memastikan pasukannya tetap disiplin. Sebelum pertempuran, Nabi Muhammad SAW berdoa kepada Allah SWT memohon pertolongan dan kekuatan.
Pertempuran dimulai dengan duel satu lawan satu antara tiga pasukan Muslim (Hamzah, Ali, dan Ubaydah) melawan tiga pasukan Quraisy. Kemenangan dalam duel ini meningkatkan semangat pasukan Muslim. Selanjutnya, pertempuran utama pecah, dan dengan izin Alla ta’ala, pasukan Muslim berhasil mengalahkan pasukan Quraisy. Tujuh puluh orang Quraisy tewas, termasuk pemimpin mereka seperti Abu Jahal, sementara hanya 14 sahabat Muslim yang gugur sebagai syuhada.
Hikmah Perang Badar dalam Konteks Ramadhan
Perang Badar terjadi pada bulan Ramadhan, bulan yang penuh dengan keberkahan; Beberapa makna penting dari peristiwa ini dalam konteks Ramadhan adalah:
1. Kemenangan Iman di atas Kekuatan Material
Perang Badar mengajarkan bahwa kemenangan sejati tidak selalu ditentukan oleh jumlah pasukan atau kekuatan material, tetapi oleh kekuatan iman dan ketergantungan kepada Allah SWT. Pasukan Muslim yang kecil dan kurang persenjataan mampu mengalahkan pasukan Quraisy yang besar karena keyakinan mereka yang kuat.
2. Kesabaran dan Ketahanan
Puasa Ramadhan mengajarkan kesabaran dan ketahanan, nilai-nilai yang juga tercermin dalam Perang Badar. Pasukan Muslim harus menghadapi rasa lapar, haus, dan kelelahan selama pertempuran, tetapi mereka tetap teguh dalam menghadapi musuh.
3. Keadilan dan Pembelaan terhadap yang Lemah
Perang Badar bukanlah perang ofensif, tetapi upaya untuk membela hak-hak umat Muslim yang dirampas oleh kaum Quraisy. Ini mencerminkan nilai keadilan dan pembelaan terhadap yang lemah, yang juga menjadi pesan utama dalam Al-Qur'an.
4. Pentingnya Persatuan dan Kepemimpinan
Kemenangan dalam Perang Badar tidak lepas dari kepemimpinan Nabi Muhammad SAW yang bijaksana dan persatuan di antara para sahabat. Hal ini mengajarkan pentingnya solidaritas dan kepemimpinan yang adil dalam menghadapi tantangan.
Relevansi Perang Badar di Masa Kini
Perang Badar bukan hanya peristiwa sejarah, tetapi juga mengandung pelajaran yang relevan hingga saat ini. Dalam konteks modern, perjuangan melawan ketidakadilan, penindasan, dan ketimpangan sosial dapat diinspirasi oleh semangat Perang Badar. Nilai-nilai seperti kesabaran, ketahanan, dan keadilan tetap menjadi panduan bagi umat Muslim dalam menghadapi tantangan zaman.
Perang Badar adalah bukti nyata bahwa iman dan ketergantungan kepada Allah SWT dapat mengalahkan segala rintangan. Peristiwa ini, yang terjadi pada bulan Ramadhan, mengajarkan kita tentang pentingnya kesabaran, keadilan, dan persatuan. Sebagai umat Muslim, kita dapat mengambil inspirasi dari Perang Badar untuk menghadapi tantangan hidup dengan penuh keyakinan dan keteguhan hati.
*Tunaikan zakat, infaq, sedekah melalui Kantor Digital BAZNAS Kota Yogyakarta.https://kotayogya.baznas.go.id/bayarzakat Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id
Editor : Ashifuddin Fikri
Writer : Nur Isnaini Masyithoh
BERITA13/03/2025 | Nur Isnaini Masyithoh
Teknologi dalam Penyaluran Fidyah
Teknologi dalam Penyaluran Fidyah
Dengan kemajuan teknologi, penyaluran fidyah kini dapat dilakukan dengan lebih mudah dan cepat. Berikut adalah beberapa cara teknologi berkontribusi dalam penyaluran fidyah:
1. Aplikasi Mobile
Banyak aplikasi mobile yang kini menyediakan fitur untuk menyalurkan fidyah. Melalui aplikasi ini, pengguna dapat dengan mudah menghitung jumlah fidyah yang harus dibayarkan dan memilih lembaga yang terpercaya untuk menyalurkannya. Hal ini memudahkan individu untuk memenuhi kewajiban mereka tanpa harus keluar rumah.
2. Platform Donasi Online
Platform donasi online juga menjadi salah satu solusi dalam penyaluran fidyah. Dengan menggunakan platform ini, individu dapat menyumbangkan fidyah mereka kepada lembaga amal yang telah terverifikasi. Proses ini tidak hanya cepat, tetapi juga transparan, sehingga para penyumbang dapat melihat bagaimana fidyah mereka digunakan.
3. Sistem Pembayaran Digital
Sistem pembayaran digital seperti e-wallet dan transfer bank memudahkan proses penyaluran fidyah. Dengan hanya beberapa klik, seseorang dapat mentransfer fidyah mereka ke lembaga yang ditunjuk. Ini mengurangi kebutuhan untuk membawa uang tunai dan meminimalisir risiko kehilangan.
4. Edukasi dan Kesadaran
Teknologi juga berperan dalam meningkatkan kesadaran tentang fidyah. Melalui media sosial dan website, informasi mengenai fidyah dan cara penyalurannya dapat disebarluaskan dengan cepat. Hal ini membantu masyarakat untuk lebih memahami pentingnya fidyah dan cara menyalurkannya dengan benar.
Kesimpulan
Teknologi penyaluran fidyah telah membawa banyak kemudahan bagi umat Islam dalam memenuhi kewajiban mereka. Dengan adanya aplikasi mobile, platform donasi online, sistem pembayaran digital, dan edukasi yang lebih baik, proses penyaluran fidyah menjadi lebih efisien dan transparan. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memanfaatkan teknologi ini agar fidyah dapat disalurkan dengan tepat kepada yang membutuhkan.
Penulis:
Hubaib Ash Shidqi
Editor:Hubaib Ash Shidqi
BERITA13/03/2025 | HUBAIB ASH SHIDQI

Info Rekening Zakat
Mari tunaikan zakat Anda dengan mentransfer ke rekening zakat.
BAZNAS
Info Rekening Zakat


