WhatsApp Icon
Kapan Waktu Terbaik Membayar Zakat Fitrah? Ini Penjelasannya

Zakat fitrah merupakan salah satu kewajiban yang harus ditunaikan oleh umat Islam pada bulan Ramadan menjelang Hari Raya Idulfitri. Ibadah ini memiliki tujuan untuk menyucikan diri setelah menjalankan ibadah puasa sekaligus membantu masyarakat yang membutuhkan agar dapat merasakan kebahagiaan di hari raya. Oleh karena itu, penting bagi setiap Muslim untuk memahami waktu terbaik untuk membayar zakat fitrah agar ibadah tersebut sah dan memberikan manfaat maksimal.

 

Dalam ajaran Islam, waktu pembayaran zakat fitrah telah diatur dengan jelas. Zakat fitrah tidak hanya sekadar kewajiban tahunan, tetapi juga memiliki waktu pelaksanaan yang dianjurkan agar manfaatnya dapat dirasakan secara optimal oleh para penerima zakat atau mustahik. Dengan menunaikan zakat fitrah pada waktu yang tepat, umat Islam dapat memastikan bahwa bantuan tersebut sampai kepada mereka yang membutuhkan sebelum Hari Raya Idulfitri tiba.

Hal ini juga dijelaskan dalam hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar:
"Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah sebelum orang-orang keluar untuk melaksanakan salat Id."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis tersebut menunjukkan bahwa zakat fitrah sebaiknya ditunaikan sebelum pelaksanaan salat Idulfitri. Tujuannya agar para penerima zakat dapat memanfaatkan bantuan tersebut untuk memenuhi kebutuhan mereka pada hari raya.

Agar lebih jelas, berikut beberapa waktu pelaksanaan zakat fitrah yang perlu diketahui oleh umat Islam:

Awal Waktu Pembayaran Zakat Fitrah
Zakat fitrah sebenarnya sudah dapat dibayarkan sejak awal bulan Ramadan. Hal ini dilakukan untuk memudahkan proses pengumpulan dan penyaluran zakat kepada para mustahik. Banyak lembaga zakat yang mulai membuka layanan pembayaran zakat fitrah sejak awal Ramadan agar masyarakat memiliki waktu yang cukup untuk menunaikan kewajiban tersebut.

Pembayaran zakat fitrah pada awal Ramadan juga membantu lembaga zakat dalam mengelola distribusi bantuan secara lebih terencana dan tepat sasaran.

Waktu yang Paling Utama
Meskipun zakat fitrah boleh dibayarkan sejak awal Ramadan, waktu yang paling utama untuk menunaikannya adalah pada malam takbiran hingga sebelum pelaksanaan salat Idulfitri. Pada waktu inilah zakat fitrah sangat dianjurkan untuk ditunaikan karena manfaatnya dapat langsung dirasakan oleh para penerima zakat menjelang hari raya.

Dengan menerima zakat fitrah pada waktu tersebut, masyarakat yang membutuhkan dapat mempersiapkan kebutuhan mereka untuk merayakan Idulfitri dengan lebih layak dan bahagia.

Waktu yang Makruh untuk Menunda
Menunda pembayaran zakat fitrah hingga mendekati waktu salat Idulfitri sebenarnya tidak dianjurkan apabila berpotensi membuat zakat tidak tersalurkan tepat waktu. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk tidak menunda pembayaran zakat fitrah jika sudah memiliki kemampuan untuk menunaikannya.

Menunda zakat fitrah tanpa alasan yang jelas dapat menyebabkan keterlambatan penyaluran kepada mustahik, sehingga tujuan utama zakat fitrah untuk membantu masyarakat menjelang hari raya tidak tercapai secara maksimal.

Waktu yang Tidak Diperbolehkan
Jika zakat fitrah dibayarkan setelah pelaksanaan salat Idulfitri tanpa alasan yang dibenarkan, maka zakat tersebut tidak lagi dihitung sebagai zakat fitrah, melainkan hanya sebagai sedekah biasa. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadis Rasulullah SAW:
"Barang siapa yang menunaikannya sebelum salat Id, maka itu adalah zakat yang diterima. Dan barang siapa yang menunaikannya setelah salat Id, maka itu hanya dianggap sebagai sedekah biasa."
(HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah)

Hadis ini menunjukkan pentingnya memperhatikan waktu pembayaran zakat fitrah agar ibadah tersebut sah dan sesuai dengan ketentuan syariat.

Dengan memahami waktu terbaik untuk membayar zakat fitrah, umat Islam dapat melaksanakan ibadah ini dengan lebih baik dan penuh kesadaran. Zakat fitrah bukan hanya sekadar kewajiban, tetapi juga menjadi sarana untuk memperkuat kepedulian sosial dan solidaritas antar sesama.

Melalui zakat fitrah, umat Islam diajak untuk berbagi kebahagiaan dengan masyarakat yang membutuhkan agar semua orang dapat merasakan keberkahan dan kebahagiaan pada Hari Raya Idulfitri.

Kini, menunaikan zakat fitrah juga semakin mudah dengan adanya layanan digital dari berbagai lembaga zakat terpercaya. Dengan menyalurkan zakat melalui lembaga resmi, muzakki dapat memastikan bahwa zakat yang diberikan akan sampai kepada mustahik secara tepat, aman, dan transparan.

 

Mari tunaikan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Kota Yogyakarta.
Mari salurkan fidyah dan dana sosial keagamaan lainnya secara amanah dan tepat sasaran.
Mari perkuat kepedulian sosial dengan ZIS DSKL BAZNAS Kota Yogyakarta.

Mari bayar fidyah melalui link kantor digital di bawah ini:
https://kotayogya.baznas.go.id/sedekah

atau hubungi Layanan Muzaki BAZNAS Kota Yogyakarta di 0821-4123-2770 untuk informasi dan pendampingan lebih lanjut.

Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id

#BAZNASKotaYogyakarta
#PerbedaanInfakDanShodaqoh
#Infak
#Shodaqoh
#Sedekah
#AmalKebaikan
#BerbagiKebaikan
#YukInfakDanSedekah

editor: Banyu Bening

17/03/2026 | Kontributor: Adilah
Amalan Rasulullah SAW di Sepuluh Hari Terakhir Ramadan

Memasuki sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan, suasana batin umat Islam biasanya mulai terbagi. Di satu sisi, ada kegembiraan menyambut hari kemenangan (Idul Fitri), namun di sisi lain, ada rasa sedih karena bulan suci akan segera berlalu. Bagi Rasulullah SAW, fase akhir Ramadan bukanlah waktu untuk bersantai, melainkan momentum untuk melakukan "akselerasi" ibadah yang lebih kencang dari hari-hari sebelumnya.

 

Rasulullah SAW memberikan contoh nyata tentang bagaimana seorang hamba seharusnya menghargai waktu-waktu emas ini. Beliau tidak hanya sekadar berpuasa, tetapi mengubah total ritme hidupnya demi mengejar rida Allah SWT. Berikut adalah amalan-amalan utama Rasulullah SAW yang patut kita teladani.

1. Menghidupkan Malam dengan Ibadah (Qiyamul Lail)
Dalam sebuah riwayat dari Sayyidah Aisyah RA, diceritakan bahwa Rasulullah SAW tidak pernah sesungguh-sungguh dalam beribadah di waktu lain melebihi kesungguhannya di sepuluh hari terakhir Ramadan. Beliau "menghidupkan malamnya", yang artinya beliau meminimalkan waktu tidur untuk diisi dengan shalat malam, zikir, dan doa.

Bagi kita, menghidupkan malam bisa dimulai dengan konsistensi shalat Tarawih, yang kemudian disambung dengan shalat Tahajud, Witir, dan membaca Al-Qur'an hingga waktu sahur tiba. Tujuannya adalah memastikan bahwa tidak ada satu detik pun di malam-malam mulia tersebut yang terlewat tanpa nilai ibadah.

2. Membangunkan Keluarga untuk Beribadah
Rasulullah SAW adalah sosok pemimpin keluarga yang sangat perhatian pada keselamatan spiritual anggota keluarganya. Beliau tidak ingin beribadah sendirian. Di sepuluh malam terakhir, beliau membangunkan istri-istri dan keluarga untuk ikut serta dalam kebaikan malam tersebut.

Hal ini memberikan pelajaran bahwa kesalehan tidak boleh bersifat individual. Sebagai kepala keluarga atau anggota keluarga, kita diajak untuk saling menyemangati, mengajak anak, istri, atau saudara untuk bangun di sepertiga malam terakhir guna memanjatkan doa bersama.

3. Ber-Itikaf di Masjid
Itikaf adalah amalan yang hampir tidak pernah ditinggalkan oleh Nabi SAW selama sepuluh hari terakhir Ramadan hingga beliau wafat. Beliau mengisolasi diri dari kesibukan duniawi dan menetap di masjid.

Itikaf merupakan cara terbaik untuk melakukan "detoksifikasi hati" dari pengaruh dunia. Dengan berdiam diri di rumah Allah, fokus kita hanya tertuju pada satu titik: hubungan antara hamba dengan Sang Pencipta. Di tengah hiruk-pikuk persiapan Lebaran yang sering menguras energi dan pikiran, itikaf menjadi pelindung agar hati tetap terjaga dalam kekhusyukan.

4. Memperbanyak Sedekah dan Kebaikan
Meskipun Rasulullah SAW dikenal sebagai pribadi yang sangat dermawan, kedermawanan beliau di bulan Ramadan, terutama di penghujungnya, digambarkan seperti "angin yang berembus kencang"—sangat cepat dan sangat luas manfaatnya.

Sepuluh hari terakhir adalah waktu terbaik untuk menunaikan zakat mal, zakat fitrah, maupun sedekah sunnah. Menolong sesama, memberi makan orang miskin, atau membantu fasilitas masjid adalah amalan yang sangat disukai Nabi SAW di fase ini.

5. Mencari Lailatul Qadar dengan Doa Khusus
Motivasi terbesar di balik semua amalan tersebut adalah harapan untuk bertemu dengan Lailatul Qadar. Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk "berburu" malam kemuliaan tersebut di malam-malam ganjil.

Beliau juga mengajarkan satu doa padat makna untuk dibaca berulang-ulang:
“Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni”
(Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan Engkau menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku).

Doa ini menitikberatkan pada permohonan maaf ('afwu), yang maknanya lebih dalam daripada sekadar ampunan (maghfirah), karena 'afwu berarti menghapus dosa hingga tak berbekas sedikit pun.

Mungkin sulit bagi sebagian kita untuk beritikaf penuh selama sepuluh hari karena tuntutan pekerjaan. Namun, kita bisa memodifikasinya dengan cara:

  • Itikaf Parsial: Berniat itikaf setiap kali memasuki masjid untuk shalat berjamaah atau menghadiri kajian malam.
  • Manajemen Tidur: Tidur lebih awal agar bisa bangun lebih segar di sepertiga malam terakhir.
  • Digital Detox: Mengurangi penggunaan media sosial yang tidak perlu agar waktu luang bisa digunakan untuk membaca Al-Qur'an.

Sepuluh hari terakhir Ramadan adalah fase penentuan. Rasulullah SAW telah menunjukkan bahwa akhir Ramadan adalah puncak perjuangan spiritual, bukan titik jenuh. Dengan menghidupkan malam, mengajak keluarga beribadah, dan memperbanyak sedekah, kita sedang berupaya mengakhiri Ramadan sebagai pemenang yang mendapatkan ampunan total.

Semoga kita diberikan kekuatan untuk meneladani spirit ibadah Rasulullah SAW hingga fajar Idul Fitri menyingsing.

 

Mari bayar zakat, infak, dan sedekah online melalui BAZNAS Kota Yogyakarta.
Mari bayar fidyah dan dana sosial keagamaan lainnya secara online dengan penyaluran amanah dan tepat sasaran.
Mari perkuat kepedulian sosial dengan ZIS DSKL BAZNAS Kota Yogyakarta.
Mari bayar fidyah melalui link kantor digital di bawah ini: https://kotayogya.baznas.go.id/sedekah atau hubungi Layanan Muzaki BAZNAS Kota Yogyakarta di 0821-4123-2770 untuk informasi dan pendampingan lebih lanjut.
Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id

#RamadanPenuhBerkah
#AmalanRasulullahRamadan
#PuasaRamadan2026
#BayarZakatJogja
#AmalanUtamaRamadan

editor: Banyu Bening

17/03/2026 | Kontributor: Kifti
BAZNAS Kota Yogyakarta Salurkan Bantuan pada Safari Shubuh Pemerintah Kota Yogyakarta di Masjid Baiturrahman

Yogyakarta – Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Yogyakarta turut berpartisipasi dalam kegiatan Safari Subuh yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Yogyakarta di Masjid Baiturrahman, Wirogunan, Kemantren Mergangsan, Sabtu (14/3/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian program Safari Ramadan Pemerintah Kota Yogyakarta yang bertujuan mempererat silaturahmi antara pemerintah daerah, lembaga, dan masyarakat.

Safari Subuh tersebut dihadiri langsung oleh Wali Kota Yogyakarta bersama para Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Kota Yogyakarta. Selain itu, hadir pula tokoh masyarakat, pengurus masjid, dan jamaah Masjid Baiturrahman yang mengikuti kegiatan dengan penuh khidmat sejak pelaksanaan salat Subuh berjamaah hingga rangkaian acara selesai.

Dalam kesempatan tersebut, Ketua BAZNAS Kota Yogyakarta, Drs. H. Syamsul Azhari, hadir mewakili BAZNAS Kota Yogyakarta dan menyalurkan bantuan kepada Masjid Baiturrahman. Bantuan yang diberikan berupa uang tunai sebesar Rp2.000.000 serta satu kotak perlengkapan P3K. Bantuan ini diberikan sebagai bentuk dukungan terhadap kegiatan kemasjidan serta pelayanan bagi jamaah yang beribadah di masjid.

Ketua BAZNAS Kota Yogyakarta, Drs. H. Syamsul Azhari, menyampaikan bahwa bantuan tersebut merupakan bagian dari komitmen BAZNAS untuk terus hadir di tengah masyarakat dan mendukung kegiatan keagamaan, khususnya di masjid. Menurutnya, masjid memiliki peran penting tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat kegiatan sosial dan pembinaan umat.

“Kami berharap bantuan ini dapat dimanfaatkan dengan baik oleh pengurus masjid untuk mendukung kegiatan ibadah serta pelayanan kepada jamaah, khususnya selama bulan suci Ramadan,” ujarnya.

Sementara itu, Takmir Masjid Baiturrahman menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada BAZNAS Kota Yogyakarta serta Pemerintah Kota Yogyakarta atas perhatian dan bantuan yang diberikan kepada masjid. Bantuan tersebut dinilai sangat membantu dalam menunjang berbagai kegiatan keagamaan yang dilaksanakan di lingkungan masjid.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada BAZNAS Kota Yogyakarta atas bantuan yang diberikan kepada Masjid Baiturrahman. Bantuan ini tentu sangat bermanfaat bagi kami, terutama untuk mendukung kegiatan ibadah serta pelayanan kepada jamaah,” ungkap perwakilan takmir masjid.

Ia juga berharap sinergi antara pemerintah daerah, BAZNAS, dan masyarakat dapat terus terjalin dengan baik sehingga kegiatan keagamaan dan sosial di masyarakat dapat berjalan lebih optimal.

Kegiatan Safari Subuh ini tidak hanya menjadi sarana ibadah bersama, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat hubungan antara pemerintah, lembaga, dan masyarakat. Melalui kegiatan ini, berbagai program sosial dan keagamaan dapat disampaikan secara langsung kepada masyarakat sehingga terbangun komunikasi yang baik dan semangat kebersamaan di tengah masyarakat.

Pada kesempatan tersebut, BAZNAS Kota Yogyakarta juga mengajak masyarakat untuk memanfaatkan momentum Ramadan dengan meningkatkan kepedulian sosial melalui zakat, infak, dan sedekah. Ramadan merupakan waktu yang penuh keberkahan dan menjadi kesempatan terbaik bagi umat Islam untuk berbagi kepada sesama.

BAZNAS Kota Yogyakarta mengajak masyarakat untuk menunaikan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS sebagai lembaga resmi pengelola zakat yang amanah dan terpercaya. Dana yang dihimpun nantinya akan disalurkan kepada para mustahik melalui berbagai program sosial, pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi.

Melalui semangat berbagi di bulan suci Ramadan, BAZNAS Kota Yogyakarta berharap semakin banyak masyarakat yang tergerak untuk menunaikan zakat dan sedekah sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh lebih banyak masyarakat yang membutuhkan serta memperkuat kesejahteraan umat di Kota Yogyakarta.

Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id 

#HartaBerkahJiwaSakinah
#PengelolaZakatTerbaikTerpercaya
#AmanahProfesionalTransparan
#TerimakasihMuzakiDanMustahiq

16/03/2026 | Kontributor: Humas BAZNAS Kota Yogyakarta
BAZNAS Kota Yogyakarta Hadiri Safari Subuh Terakhir Ramadhan 1447 H di Masjid Baitul Hamdi

Yogyakarta – Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Yogyakarta turut berpartisipasi dalam kegiatan Safari Subuh Pemerintah Kota Yogyakarta yang diselenggarakan di Masjid Baitul Hamdi, Muja Muju, Kemantren Umbulharjo, Minggu (15/3/2026). Kegiatan ini menjadi Safari Subuh terakhir yang dilaksanakan oleh Pemerintah Kota Yogyakarta selama bulan suci Ramadhan 1447 H.

Safari Subuh tersebut dihadiri langsung oleh Wali Kota Yogyakarta bersama jajaran Pemerintah Kota Yogyakarta, tokoh masyarakat, pengurus masjid, serta jamaah Masjid Baitul Hamdi. Sejak pelaksanaan salat Subuh berjamaah hingga rangkaian acara selesai, kegiatan berlangsung dengan penuh kekhidmatan dan kebersamaan.

Kehadiran rombongan pemerintah dalam Safari Subuh ini merupakan bagian dari upaya mempererat silaturahmi antara pemerintah daerah dengan masyarakat, sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah selama bulan Ramadhan. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi sarana untuk menyampaikan berbagai program pemerintah kepada masyarakat secara langsung.

Dalam kesempatan tersebut, Ketua BAZNAS Kota Yogyakarta, Drs. H. Syamsul Azhari, turut hadir bersama rombongan Pemerintah Kota Yogyakarta. Pada kesempatan yang sama, BAZNAS Kota Yogyakarta juga menyalurkan bantuan kepada takmir Masjid Baitul Hamdi berupa uang tunai sebesar Rp2.000.000 serta satu box perlengkapan P3K.

Bantuan tersebut diberikan sebagai bentuk dukungan BAZNAS Kota Yogyakarta terhadap kegiatan kemasjidan serta pelayanan bagi jamaah yang beribadah di masjid. Diharapkan bantuan tersebut dapat membantu pengurus masjid dalam menunjang berbagai kegiatan ibadah dan sosial di lingkungan Masjid Baitul Hamdi.

Ketua BAZNAS Kota Yogyakarta, Drs. H. Syamsul Azhari, menyampaikan bahwa masjid memiliki peran penting tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat kegiatan sosial dan pembinaan umat. Oleh karena itu, BAZNAS berkomitmen untuk terus mendukung kegiatan kemasjidan di Kota Yogyakarta.

“Kami berharap bantuan ini dapat dimanfaatkan dengan baik oleh pengurus masjid untuk mendukung kegiatan ibadah dan pelayanan kepada jamaah. Semoga Masjid Baitul Hamdi semakin aktif dalam menjadi pusat kegiatan keagamaan dan sosial bagi masyarakat sekitar,” ujarnya.

Sementara itu, Takmir Masjid Baitul Hamdi menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas perhatian yang diberikan oleh BAZNAS Kota Yogyakarta dan Pemerintah Kota Yogyakarta kepada masjid. Menurutnya, bantuan tersebut sangat membantu pengurus masjid dalam mendukung berbagai kegiatan yang dilaksanakan di masjid.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada BAZNAS Kota Yogyakarta atas bantuan yang diberikan kepada Masjid Baitul Hamdi. Bantuan ini sangat bermanfaat bagi kami untuk menunjang kegiatan kemasjidan dan pelayanan kepada jamaah,” ungkap perwakilan takmir masjid.

Ia juga berharap sinergi antara pemerintah daerah, BAZNAS, dan masyarakat dapat terus terjalin dengan baik sehingga berbagai kegiatan sosial dan keagamaan dapat berjalan lebih optimal serta memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, BAZNAS Kota Yogyakarta juga mengajak masyarakat untuk memanfaatkan momentum bulan suci Ramadhan dengan meningkatkan kepedulian sosial melalui zakat, infak, dan sedekah. Ramadan merupakan waktu yang penuh keberkahan dan menjadi kesempatan terbaik bagi umat Islam untuk berbagi kepada sesama, khususnya kepada masyarakat yang membutuhkan.

BAZNAS Kota Yogyakarta mengajak masyarakat untuk menunaikan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS sebagai lembaga resmi pengelola zakat yang amanah dan terpercaya. Dana zakat yang dihimpun akan disalurkan kepada para mustahik melalui berbagai program sosial, pendidikan, kesehatan, serta pemberdayaan ekonomi.

Melalui semangat berbagi di bulan Ramadhan, BAZNAS Kota Yogyakarta berharap semakin banyak masyarakat yang tergerak untuk menunaikan zakat dan sedekah sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh lebih banyak orang serta turut meningkatkan kesejahteraan umat di Kota Yogyakarta.

Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id 

#HartaBerkahJiwaSakinah
#PengelolaZakatTerbaikTerpercaya
#AmanahProfesionalTransparan
#TerimakasihMuzakiDanMustahiq

16/03/2026 | Kontributor: Humas BAZNAS Kota Yogyakarta
BAZNAS Kota Yogyakarta Rilis Laporan Pengelolaan ZIS DSKL Februari 2026

BAZNAS Kota Yogyakarta kembali merilis laporan pengelolaan dana Zakat, Infak, Sedekah, dan Dana Sosial Keagamaan Lainnya (ZIS DSKL) periode Februari 2026 sebagai bentuk transparansi dan amanah kepada masyarakat.

Pada bulan Februari 2026, total penghimpunan dana ZIS dan DSKL tercatat sebesar Rp524.092.115. Penghimpunan terbesar berasal dari zakat maal perorangan sebesar Rp345.306.948 atau 65,9 persen dari total dana yang terkumpul. Selain itu, terdapat infak dan sedekah tidak terikat sebesar Rp73.118.496 (14%), infak terikat Rp53.290.264 (10,2%), serta dana sosial keagamaan lainnya (DSKL) sebesar Rp51.616.407 (9,8%).

Secara kumulatif hingga Februari 2026, total penghimpunan ZIS dan DSKL telah mencapai Rp1.510.286.838. Angka ini menunjukkan meningkatnya kepercayaan masyarakat untuk menunaikan zakat melalui BAZNAS Kota Yogyakarta.

Pada periode yang sama, penyaluran dana ZIS per program mencapai Rp374.602.413. Penyaluran terbesar disalurkan melalui program Jogja Peduli sebesar Rp256.065.000 (68,4%) yang difokuskan pada bantuan sosial dan kemanusiaan. Selain itu, program Jogja Taqwa menerima Rp60.362.000 (16,1%), Jogja Cerdas sebesar Rp50.675.413 (13,5%), serta program Jogja Sejahtera dan Jogja Sehat untuk mendukung kesejahteraan dan layanan kesehatan masyarakat.

Sementara itu, total penyaluran ZIS dan DSKL pada Februari mencapai Rp475.945.525, dengan penerima manfaat terbesar berasal dari kelompok fakir miskin sebesar 37,1 persen. Hingga akhir Februari 2026, total penyaluran ZIS dan DSKL telah mencapai Rp1.528.131.623.

BAZNAS Kota Yogyakarta menyampaikan terima kasih kepada seluruh muzakki yang telah mempercayakan zakat, infak, dan sedekahnya. InsyaAllah setiap amanah yang dititipkan telah disalurkan kepada para mustahik yang berhak menerima.

Semoga Allah SWT membalas kebaikan para muzakki dengan pahala berlipat, melapangkan rezeki, dan menghadirkan keberkahan bagi kita semua.

Mari terus kuatkan kepedulian untuk menghadirkan lebih banyak manfaat bagi sesama.

2,5% Zakat, 100 Manfaat. Manfaatnya Dunia. Akhirat. 

Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id 

 

#HartaBerkahJiwaSakinah#PengelolaZakatTerbaikTerpercaya
#AmanahProfesionalTransparan
#TerimakasihMuzakiDanMustahiq

12/03/2026 | Kontributor: Humas BAZNAS Kota Yogyakarta

Berita Terbaru

Pembayaran Zakat Fitrah dengan Uang: Sebuah Tinjauan
Pembayaran Zakat Fitrah dengan Uang: Sebuah Tinjauan
Zakat fitrah adalah salah satu kewajiban bagi setiap Muslim yang harus ditunaikan menjelang Hari Raya Idul Fitri. Zakat ini bertujuan untuk membersihkan jiwa dan harta, serta membantu mereka yang kurang mampu agar dapat merayakan hari kemenangan dengan layak. Tradisionalnya, zakat fitrah dibayarkan dalam bentuk bahan makanan, seperti beras atau kurma. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, pembayaran zakat fitrah dengan uang semakin populer. Artikel ini akan membahas bagaimana pembayaran zakat fitrah dengan uang dapat dilakukan dan pertimbangan-pertimbangan yang perlu diperhatikan. Dasar Hukum Pembayaran Zakat Fitrah dengan Uang Dalam Islam, zakat fitrah memiliki tujuan untuk membantu orang-orang yang membutuhkan, terutama pada saat Idul Fitri. Meskipun ada ketentuan untuk membayar zakat fitrah dalam bentuk makanan, banyak ulama yang berpendapat bahwa pembayaran zakat fitrah dengan uang juga diperbolehkan. Hal ini didasarkan pada beberapa alasan, antara lain: Kebutuhan Masyarakat: Dalam konteks masyarakat modern, kebutuhan akan uang sering kali lebih mendesak dibandingkan dengan bahan makanan. Dengan membayar zakat fitrah dalam bentuk uang, penerima zakat dapat menggunakan dana tersebut sesuai dengan kebutuhan mereka. Praktis dan Efisien: Pembayaran zakat fitrah dengan uang lebih praktis, terutama di daerah perkotaan di mana distribusi bahan makanan bisa menjadi tantangan. Uang dapat dengan mudah disalurkan dan digunakan oleh penerima zakat. Kesepakatan Ulama: Beberapa ulama kontemporer telah mengeluarkan fatwa yang membolehkan pembayaran zakat fitrah dengan uang, asalkan niat dan tujuan zakat tetap terjaga. Cara Pembayaran Zakat Fitrah dengan Uang Pembayaran zakat fitrah dengan uang dapat dilakukan dengan langkah-langkah berikut: Menentukan Jumlah Zakat: Jumlah zakat fitrah yang harus dibayarkan biasanya ditentukan berdasarkan nilai makanan pokok yang berlaku di daerah tersebut. Sebagai acuan, zakat fitrah setara dengan harga satu sha' (sekitar 2,5 kg) bahan makanan. Jika dibayarkan dalam bentuk uang, maka jumlah yang dibayarkan harus setara dengan nilai tersebut. Menentukan Waktu Pembayaran: Zakat fitrah sebaiknya dibayarkan sebelum pelaksanaan shalat Idul Fitri. Hal ini agar zakat dapat disalurkan kepada yang berhak sebelum mereka merayakan hari raya. Menyalurkan Zakat: Zakat fitrah yang dibayarkan dalam bentuk uang dapat disalurkan melalui lembaga zakat resmi, masjid, atau langsung kepada orang-orang yang membutuhkan. Pastikan bahwa penerima zakat adalah mereka yang berhak, seperti fakir miskin. Pertimbangan dalam Pembayaran Zakat Fitrah dengan Uang Meskipun pembayaran zakat fitrah dengan uang diperbolehkan, ada beberapa pertimbangan yang perlu diperhatikan: Niat yang Benar: Pastikan bahwa niat untuk membayar zakat fitrah adalah untuk memenuhi kewajiban agama dan membantu sesama. Kepatuhan pada Ketentuan: Selalu perhatikan ketentuan yang berlaku di daerah Anda mengenai jumlah dan cara pembayaran zakat fitrah. Transparansi dan Akuntabilitas: Jika menggunakan lembaga zakat, pastikan lembaga tersebut terpercaya dan transparan dalam pengelolaan dana zakat. Pembayaran zakat fitrah dengan uang merupakan alternatif yang praktis dan efisien dalam konteks masyarakat modern. Dengan mempertimbangkan dasar hukum, cara pembayaran, dan pertimbangan yang ada, umat Islam dapat menunaikan kewajiban zakat fitrah dengan baik. Yang terpenting adalah menjaga niat dan tujuan zakat agar tetap sesuai dengan ajaran Islam, yaitu untuk membersihkan harta dan membantu sesama. ===================== *Tunaikan zakat/infaq, melalui Kantor Digital BAZNAS Kota Yogyakarta. https://kotayogya.baznas.go.id/bayarzakat Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id Editor: Ummi Kiftiyah
BERITA16/03/2025 | admin
Berbuka Puasa Sesuai Sunnah Rasulullah SAW
Berbuka Puasa Sesuai Sunnah Rasulullah SAW
Berbuka puasa merupakan momen yang sangat dinantikan oleh setiap muslim setelah seharian menahan lapar dan dahaga. Islam telah mengajarkan tata cara berbuka yang sesuai dengan sunnah Rasulullah SAW agar mendapatkan keberkahan dan menjadi amalan yang diterima di sisi Allah. Selain itu, berbuka puasa juga mengandung banyak hikmah yang berharga, baik secara spiritual maupun kesehatan. Tata Cara Berbuka Puasa Sesuai Sunnah 1. Menyegerakan Berbuka Rasulullah SAW menganjurkan untuk tidak menunda berbuka setelah waktu Maghrib tiba. Dalam hadits, beliau bersabda: "Manusia akan senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka." (HR. Bukhari, no. 1957; Muslim, no. 1098) Hal ini menunjukkan bahwa menyegerakan berbuka adalah kebiasaan yang mendatangkan kebaikan dan keberkahan. 2. Berbuka dengan Kurma atau Air Rasulullah SAW memiliki kebiasaan berbuka dengan kurma. Jika tidak ada kurma, beliau berbuka dengan air. Dari Anas bin Malik RA, ia berkata: "Rasulullah SAW biasa berbuka dengan beberapa butir kurma basah sebelum sholat. Jika tidak ada, beliau berbuka dengan kurma kering. Jika tidak ada juga, beliau meminum beberapa teguk air." (HR. Abu Dawud, no. 2356) Kurma kaya akan gula alami yang cepat menggantikan energi tubuh, sedangkan air membantu menghidrasi tubuh setelah seharian berpuasa. 3. Membaca Doa Berbuka Rasulullah SAW mengajarkan doa sebelum berbuka. Salah satu doa yang populer adalah: "Allahumma laka shumtu wa bika aamantu wa ‘alaika tawakkaltu wa ‘ala rizqika afthartu." "Ya Allah, karena-Mu aku berpuasa, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku bertawakal, dan dengan rezeki-Mu aku berbuka." (HR. Abu Dawud, no. 2358) Doa lain yang juga diajarkan: "Dzahaba zhama’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabata al-ajru in syaa Allah." "Telah hilang rasa haus, urat-urat telah basah, dan pahala telah tetap, insyaAllah." (HR. Abu Dawud, no. 2357) 4. Tidak Berlebihan dalam Makan Islam mengajarkan keseimbangan dalam makan dan minum. Allah SWT berfirman: "Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan." (QS. Al-A’raf: 31) Rasulullah SAW juga mengajarkan pola makan yang seimbang, sebagaimana sabdanya: "Tidaklah manusia memenuhi bejana yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi manusia beberapa suapan makanan yang dapat menegakkan tulang punggungnya. Jika harus (makan lebih), maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumnya, dan sepertiga untuk napasnya." (HR. Tirmidzi, no. 2380) 5. Menyegerakan Sholat Maghrib Setelah Membatalkan Puasa dan Sebelum Makan Berat Setelah berbuka dengan makanan ringan seperti kurma atau air, disunnahkan untuk segera melaksanakan sholat Maghrib sebelum menyantap hidangan utama. Ini sesuai dengan kebiasaan Rasulullah SAW yang mengutamakan ibadah sebelum makan besar. Dalam beberapa riwayat, Rasulullah SAW juga menganjurkan untuk tidak menunda sholat. Hal ini diperkuat oleh hadis berikut: Dari Abdullah bin Abi Awfa RA, ia berkata: "Kami pernah bersama Rasulullah SAW dalam suatu perjalanan di bulan Ramadhan. Ketika matahari terbenam, beliau bersabda kepada seseorang: ‘Turunlah dan siapkan minuman untuk kami!’ Orang itu berkata: ‘Wahai Rasulullah, tidakkah kita menunggu hingga senja semakin gelap?’ Beliau menjawab: ‘Turunlah dan siapkan minuman untuk kami!’ Orang itu pun menyiapkannya, lalu Rasulullah SAW meminumnya dan bersabda: ‘Jika malam telah datang dari arah sini dan siang telah pergi dari arah sana, maka telah tiba waktu berbuka bagi orang yang berpuasa.’" (HR. Bukhari, no. 1954; Muslim, no. 1100) Hadits ini menegaskan bahwa Rasulullah SAW menyegerakan berbuka, tetapi juga menunjukkan bahwa beliau berbuka dengan sederhana sebelum melanjutkan sholat. 6. Memberi Makan kepada Orang Lain Rasulullah SAW sangat menganjurkan memberi makanan berbuka kepada orang lain. Beliau bersabda: "Barang siapa yang memberi makan orang yang berpuasa untuk berbuka, maka ia mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa itu tanpa mengurangi pahalanya sedikit pun." (HR. Tirmidzi, no. 807) Hikmah Berbuka Puasa sesuai Sunnah Rasulullah 1. Mengajarkan Rasa Syukur Berbuka puasa mengajarkan kita untuk mensyukuri nikmat makanan dan minuman yang diberikan oleh Allah. Setelah menahan lapar dan haus seharian, kita menjadi lebih menghargai setiap rezeki yang diberikan. 2. Meningkatkan Kesehatan Berbuka puasa dengan makanan yang tepat, seperti kurma dan air, membantu tubuh kembali bertenaga tanpa membebani sistem pencernaan. Puasa juga terbukti memiliki manfaat kesehatan, seperti meningkatkan metabolisme dan mengurangi risiko penyakit kronis. 3. Menumbuhkan Rasa Empati Puasa mengajarkan kita untuk merasakan bagaimana rasanya menahan lapar dan haus seperti orang-orang yang kurang mampu. Ini membantu kita untuk lebih peduli dan bersedekah kepada mereka yang membutuhkan. 4. Waktu yang Mustajab untuk Berdoa Saat berbuka adalah salah satu waktu mustajab untuk berdoa. Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya doa orang yang berpuasa ketika berbuka tidak akan ditolak." (HR. Ibnu Majah, no. 1753) Oleh karena itu, seorang muslim sebaiknya memanfaatkan momen berbuka untuk berdoa memohon keberkahan dan ampunan dari Allah SWT. Kesimpulan Berbuka puasa bukan sekadar makan dan minum setelah seharian berpuasa, tetapi juga ibadah yang memiliki banyak keutamaan. Dengan mengikuti tata cara berbuka sesuai sunnah Rasulullah SAW, seperti menyegerakan berbuka, mengonsumsi kurma atau air, membaca doa, melaksanakan sholat maghrib sebelum berbuka dengan makanan berat dan tidak berlebihan dalam makan, seorang muslim dapat meraih keberkahan, manfaat, dan pahala yang besar. Selain itu, berbuka puasa juga memiliki hikmah mendalam, seperti mengajarkan rasa syukur, meningkatkan kesehatan, dan menumbuhkan empati terhadap sesama. Dengan memahami sunnah dan hikmah berbuka puasa, semoga kita dapat mengamalkannya dengan penuh kesadaran dan keikhlasan untuk mendapatkan ridha Allah SWT. *Tunaikan zakat, infaq, sedekah melalui Kantor Digital BAZNAS Kota Yogyakarta.https://kotayogya.baznas.go.id/bayarzakat Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id Editor : Ashifuddin Fikri Writer : Nur Isnaini Masyithoh
BERITA16/03/2025 | Nur Isnaini Masyithoh
Keistimewaan Malam Lailatul Qadar
Keistimewaan Malam Lailatul Qadar
Lailatul Qadar adalah malam yang sangat istimewa di bulan Ramadhan, karena memiliki keutamaan yang lebih baik dari seribu bulan. Malam ini adalah saat diturunkannya Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan menjadi malam yang penuh keberkahan. Umat Islam dianjurkan untuk menghidupkan malam ini dengan ibadah, doa, dan amal kebaikan guna meraih pahala yang besar. Keutamaan Lailatul Qadar Lailatul Qadar disebutkan dalam Al-Qur'an sebagai malam yang memiliki banyak keutamaan, di antaranya: Lebih Baik dari Seribu BulanAllah SWT berfirman dalam surah Al-Qadr:"Lailatul Qadar itu lebih baik dari seribu bulan." (QS. Al-Qadr: 3)Artinya, ibadah yang dilakukan pada malam ini memiliki nilai pahala yang lebih besar dibandingkan ibadah selama seribu bulan atau sekitar 83 tahun. Turunnya Malaikat dan Rahmat AllahDalam surah yang sama disebutkan:"Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan." (QS. Al-Qadr: 4)Ini menunjukkan bahwa malam tersebut dipenuhi dengan keberkahan dan kehadiran para malaikat yang membawa rahmat bagi hamba-hamba yang beribadah. Malam yang Penuh KedamaianAllah SWT berfirman:"Malam itu (penuh) kesejahteraan hingga terbit fajar." (QS. Al-Qadr: 5)Artinya, malam Lailatul Qadar dipenuhi dengan ketenangan, keselamatan, dan keberkahan bagi mereka yang menghidupkannya dengan ibadah. Penghapusan DosaRasulullah SAW bersabda:"Barang siapa yang melaksanakan ibadah pada malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (HR. Bukhari, no. 1901; Muslim, no. 760)Ini menjadi kesempatan besar bagi setiap muslim untuk memohon ampunan kepada Allah SWT. Malam Penentuan Takdir Lailatul Qadar juga dikenal sebagai malam penentuan takdir. Pada malam ini, Allah SWT menetapkan takdir setiap makhluk untuk tahun yang akan datang. Hal ini disebutkan dalam Surah Ad-Dukhan ayat 4: "Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah." Kapan Lailatul Qadar Terjadi? Rasulullah SAW tidak menyebutkan secara pasti kapan malam Lailatul Qadar terjadi. Namun, beliau memberikan petunjuk bahwa malam ini berada pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, terutama pada malam-malam ganjil. "Carilah Lailatul Qadar pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir Ramadhan." (HR. Bukhari, no. 2017; Muslim, no. 1169) Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah, terutama di sepuluh hari terakhir Ramadhan. Amalan yang Dianjurkan di Malam Lailatul Qadar Agar mendapatkan keberkahan malam ini, Rasulullah SAW memberikan beberapa amalan yang bisa dilakukan: Sholat Malam (Qiyamul Lail)Salah satu ibadah utama di malam Lailatul Qadar adalah sholat malam. Rasulullah ? sangat menganjurkan umatnya untuk menghidupkan malam ini dengan sholat. Membaca Al-Qur'anMengingat bahwa Al-Qur'an diturunkan pada malam ini, membaca dan mentadabburi Al-Qur'an menjadi amalan yang sangat dianjurkan. Memperbanyak DoaRasulullah SAW mengajarkan doa khusus yang dianjurkan dibaca pada malam Lailatul Qadar: "Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa‘fu ‘anni." "Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, mencintai ampunan, maka ampunilah aku." (HR. Tirmidzi, no. 3513) Bersedekah dan Beramal ShalihBersedekah di malam ini memiliki pahala yang berlipat ganda karena keutamaannya yang lebih baik dari seribu bulan. I'tikafRasulullah SAW biasa melakukan i'tikaf (berdiam diri di masjid dengan berbagai amalan) di sepuluh malam terakhir Ramadhan untuk lebih fokus beribadah. Hikmah Lailatul Qadar Meningkatkan Keimanan dan KetakwaanMalam Lailatul Qadar menjadi waktu untuk meningkatkan kedekatan hubungan dengan Allah SWT, memperkuat keimanan, dan menumbuhkan ketakwaan. Kesempatan Memperoleh AmpunanAllah SWT memberikan kesempatan bagi umat muslim untuk mendapatkan pengampunan atas dosa-dosa mereka. Momentum Memperbanyak Amal KebaikanKarena pahala ibadah di malam ini sangat besar, maka menjadi motivasi bagi setiap muslim untuk meningkatkan ibadah dan amal shalih. Peluang untuk Mendapatkan Keberkahan HidupIbadah yang dilakukan dengan ikhlas pada malam ini dapat membawa keberkahan dalam kehidupan di dunia dan akhirat. Kesimpulan Lailatul Qadar adalah malam yang penuh keberkahan dan lebih baik dari seribu bulan. Pada malam ini, Al-Qur'an diturunkan, malaikat turun ke bumi, dan setiap doa yang dipanjatkan memiliki peluang besar untuk dikabulkan. Oleh karena itu, kita hendaknya bersungguh-sungguh dalam ibadah pada sepuluh malam terakhir Ramadhan untuk meraih keutamaan malam Lailatul Qadar, lebih utama lagi meniatkan sedari awal Ramadhan untuk bersungguh-sungguh dalam ibadah. Dengan memperbanyak sholat, membaca Al-Qur'an, berdoa, dan bersedekah, seorang muslim dapat memperoleh pahala yang luar biasa dan ampunan dari Allah SWT. *Tunaikan zakat, infaq, sedekah melalui Kantor Digital BAZNAS Kota Yogyakarta.https://kotayogya.baznas.go.id/bayarzakat Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id Editor : Ashifuddin Fikri Writer : Nur Isnaini Masyithoh
BERITA16/03/2025 | Nur Isnaini Masyithoh
Penghafal Quran di Palestina, Secercah Cahaya Iman di Tengah Penderitaan
Penghafal Quran di Palestina, Secercah Cahaya Iman di Tengah Penderitaan
Di tengah situasi konflik yang berkepanjangan, Palestina tidak hanya dikenal sebagai tanah para pejuang, tetapi juga sebagai tanah para penghafal Quran. Meskipun hidup dalam tekanan dan ketidakpastian, banyak anak-anak, remaja, dan dewasa di Palestina yang menghafal Al-Qur'an. Mereka menjadi simbol keteguhan iman, ketangguhan, dan harapan di tengah kondisi yang berat. Palestina dan Tantangan yang Dihadapi Palestina adalah wilayah yang telah lama menjadi pusat konflik antara Israel dan rakyat Palestina. Penduduk Palestina hidup dalam kondisi yang penuh tekanan, mulai dari pembatasan berbagai akses, kekerasan, hingga kesulitan ekonomi. Namun, di tengah semua itu, semangat untuk mempelajari dan menghafal Al-Qur'an tetap menyala. Bagi banyak warga Palestina, Al-Qur'an bukan hanya sebagai pedoman hidup, tetapi juga sebagai sumber kekuatan dan ketenangan di tengah gejolak kehidupan yang menghadang. Perjuangan Para Penghafal Quran Palestina 1. Membaca Al-Quran dalam Setiap Kondisi Banyak penghafal Quran di Palestina yang harus belajar di tengah situasi yang tidak menentu. Mereka seringkali harus menghadiri kelas menghafal di masjid atau lembaga tahfiz sederhana, bahkan di antara puing reruntuhan, di bawah tenda-tenda pengungsian, di antara ancaman serangan atau pembatasan oleh pihak Israel. Banyak video yang beredar di dunia maya tentang betapa tegarnya para penjaga Al-Quran Palestina hingga di saat kritis yang terlantun di bibir mereka adalah ayat suci Al-Quran. Ada seorang pasien korban penyerangan yang ketika sedang dilakukan tindakan operasi tanpa bius karena keterbatasan medis saat itu dengan penuh keyakinan tanpa rasa takut sedikitpun membacakan ayat Al-Quran yang bacaan ini menguatkan dan menenangkannya meski tentunya ada rasa sakit luar biasa yang dirasa. Semua kesulitan dan kemustahilan ini tidak menyurutkan semangat mereka untuk terus menghafal dan memahami Al-Qur'an. 2. Dukungan Keluarga dan Masyarakat Keluarga dan masyarakat Palestina memainkan peran penting dalam mendukung para penghafal Quran. Banyak orang tua yang menjadikan aktivitas menghafal Al-Qur'an sebagai investasi akhirat dan pendidikan terbaik bagi anak-anak mereka. Mereka rela mengorbankan waktu dan sumber daya untuk memastikan anak-anak mereka bisa belajar dengan baik. 3. Lembaga Tahfiz yang Tangguh Banyak lembaga tahfiz atau halaqah Al-Quran yang didirikan di Palestina untuk memfasilitasi proses menghafal Al-Qur'an. Lembaga-lembaga ini seringkali beroperasi dengan sumber daya yang terbatas, tetapi mereka berhasil mencetak banyak penghafal Quran yang berkualitas. Beberapa lembaga bahkan menyediakan program khusus untuk anak-anak yatim dan korban okupasi Israel. Kisah Inspiratif Para Penghafal Quran 1. Anak-Anak Penghafal Quran Banyak anak-anak di Palestina yang sudah menghafal Al-Qur'an di usia yang sangat muda. Misalnya, seorang anak bernama Muhammad yang berhasil menghafal 30 juz Al-Qur'an di usia 10 tahun. Meskipun hidup di tengah konflik, Muhammad dan anak-anak seperti dia tetap bersemangat untuk belajar dan menghafal Al-Qur'an. 2. Pemuda Penghafal Quran Palestina yang Menginspirasi Remaja Palestina juga tidak kalah inspiratif. Seorang remaja bernama Aisha, yang tinggal di Gaza, berhasil menghafal Al-Qur'an sambil membantu keluarganya yang kesulitan secara ekonomi. Aisha seringkali belajar di malam hari karena di siang hari ia harus membantu orang tuanya bekerja. Kisahnya menjadi inspirasi bagi banyak remaja di Palestina. 2. Orang Tua dan Dewasa yang Tetap Bersemangat Tidak hanya anak-anak dan remaja, banyak orang dewasa di Palestina yang juga berhasil menghafal Al-Qur'an. Seorang ibu rumah tangga bernama Fatimah, misalnya, berhasil menghafal Al-Qur'an di usia 40 tahun. Ia mengaku bahwa menghafal Al-Qur'an memberikannya ketenangan dan kekuatan untuk menghadapi kehidupan yang penuh tekanan. Tidak ada kata terlambat dalam belajar Al-Quran. Di usia senja sekalipun, para orang tua di Palestina tetap memiliki semangat yang menggelora untuk selalu berdekatan dengan Al-Quran karena bagi mereka Al-Quran adalah sahabat yang menguatkan mereka di tengah cobaan yang tak berkesudahan. Dampak Positif Para Penghafal Quran 1. Membangun Ketahanan Mental dan Spiritual Menghafal Al-Qur'an membantu para penghafal dan masyarakat Palestina untuk membangun ketahanan mental dan spiritual. Al-Qur'an menjadi sumber kekuatan dan ketenangan di tengah situasi yang penuh tekanan. 2. Meningkatkan Solidaritas Sosial Para penghafal Quran seringkali menjadi pusat perhatian dan kebanggaan masyarakat. Mereka menjadi simbol harapan dan keteguhan, yang menginspirasi orang lain untuk tetap bersemangat dalam menghadapi tantangan. 3. Memperkuat Identitas Keislaman Di tengah upaya untuk menghapus identitas keislaman dan ke-Palestina-an, para penghafal Quran menjadi bukti nyata bahwa Islam dan Al-Qur'an tetap hidup di hati rakyat Palestina. 4. Mendapatkan Pengakuan Internasional Banyak penghafal Quran dari Palestina yang berhasil meraih prestasi di kompetisi internasional. Mereka tidak hanya membawa nama baik Palestina, tetapi juga menunjukkan kepada dunia bahwa di tengah konflik, semangat untuk belajar dan beribadah tetap menyala. Tantangan yang Dihadapi 1. Keterbatasan Fasilitas Banyak lembaga tahfiz di Palestina yang kekurangan fasilitas, seperti buku, alat tulis, dan ruang belajar yang memadai. Namun, hal ini tidak menyurutkan semangat para penghafal Quran. 2. Ancaman Keamanan Para penghafal Quran seringkali harus belajar di tengah ancaman serangan atau pembatasan oleh pihak Israel. Namun, mereka tetap bersemangat untuk terus menghafal dan memahami Al-Qur'an. 3. Kesulitan Ekonomi Banyak keluarga di Palestina yang kesulitan secara ekonomi, sehingga mereka harus memilih antara memenuhi kebutuhan sehari-hari atau menyekolahkan anak-anak mereka ke lembaga tahfiz. Namun, banyak keluarga yang tetap memprioritaskan pendidikan agama bagi anak-anak mereka. Kesimpulan Para penghafal Quran di Palestina adalah bukti nyata keteguhan iman dan semangat yang tidak pernah padam. Di tengah konflik dan kesulitan, mereka tetap bersemangat untuk menghafal dan memahami Al-Qur'an. Mereka tidak hanya menjadi kebanggaan bagi keluarga dan masyarakat, tetapi juga menjadi inspirasi bagi dunia. Mari kita dukung perjuangan mereka dengan doa, bantuan, dan kepedulian. Semoga cahaya Al-Qur'an terus menyinari hati mereka dan memberikan kekuatan untuk menghadapi segala tantangan. *Tunaikan zakat, infaq, sedekah melalui Kantor Digital BAZNAS Kota Yogyakarta.https://kotayogya.baznas.go.id/bayarzakat Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id Editor : Ashifuddin Fikri Writer : Nur Isnaini Masyithoh
BERITA16/03/2025 | Nur Isnaini Masyithoh
Makanan Palestina: Rasa yang Menggugah Selera dan Cerita di Baliknya
Makanan Palestina: Rasa yang Menggugah Selera dan Cerita di Baliknya
Makanan adalah salah satu aspek budaya yang paling mendalam dan kaya. Setiap suku bangsa memiliki tradisi kuliner yang unik, yang tidak hanya mencerminkan bahan-bahan yang tersedia di lingkungan mereka, tetapi juga sejarah, nilai-nilai, dan identitas mereka. Makanan Palestina adalah salah satu contoh yang paling menarik dari hal ini. Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi berbagai hidangan khas Palestina, makna di baliknya, serta bagaimana makanan ini menjadi simbol ketahanan dan identitas bangsa Palestina. Sejarah dan Budaya Makanan Palestina Makanan Palestina tidak dapat dipisahkan dari sejarah panjang dan kompleks wilayah tersebut. Terletak di persimpangan antara tiga benua, Palestina telah menjadi tempat pertemuan berbagai budaya dan tradisi kuliner. Sejak zaman kuno, wilayah ini telah dipengaruhi oleh berbagai peradaban, termasuk Romawi, Bizantium, Arab, Ottoman, dan banyak lagi. Setiap peradaban meninggalkan jejaknya dalam bentuk bahan makanan, teknik memasak, dan resep yang diwariskan dari generasi ke generasi. Pengaruh Geografis Geografi Palestina yang beragam, mulai dari pegunungan hingga dataran rendah dan pantai, memberikan akses ke berbagai bahan makanan. Tanaman seperti zaitun, gandum, dan sayuran segar tumbuh subur di tanah Palestina. Selain itu, ikan dan makanan laut juga menjadi bagian penting dari diet masyarakat pesisir. Semua ini menciptakan keragaman dalam masakan Palestina yang tidak hanya lezat tetapi juga sehat. Makanan sebagai Identitas Makanan Palestina bukan hanya sekadar konsumsi, tetapi juga merupakan bagian integral dari identitas nasional. Dalam konteks konflik yang berkepanjangan, makanan menjadi simbol ketahanan dan perlawanan. Hidangan tradisional sering kali disajikan dalam perayaan, pertemuan keluarga, dan acara-acara penting lainnya, mengingatkan masyarakat akan akar budaya mereka. Hidangan Khas Palestina Berikut adalah beberapa hidangan khas Palestina yang menggugah selera dan memiliki cerita di baliknya: 1. Maqluba Maqluba, yang berarti "terbalik" dalam bahasa Arab, adalah hidangan nasi yang dimasak dengan daging (biasanya ayam atau domba) dan sayuran. Setelah dimasak, hidangan ini dibalikkan di atas piring saji, sehingga lapisan sayuran dan daging berada di atas nasi. Maqluba sering disajikan dalam acara-acara khusus dan perayaan, dan menjadi simbol persatuan keluarga. Dalil: Dalam Al-Qur'an, Allah berfirman, "Dan Kami jadikan di antara mereka itu, dan di antara keturunan mereka, orang-orang yang memberi petunjuk dan menjadi pemimpin dalam kebenaran." (Al-Sajdah: 24). Ini menunjukkan pentingnya tradisi dan warisan dalam membentuk identitas. 2. Musakhan Musakhan adalah hidangan tradisional Palestina yang terbuat dari roti pipih yang dilapisi dengan ayam yang dimasak dengan bawang, minyak zaitun, dan rempah-rempah. Hidangan ini biasanya disajikan dalam acara-acara besar dan menjadi simbol keramahan masyarakat Palestina. Musakhan juga mencerminkan penggunaan bahan-bahan lokal yang melimpah, seperti minyak zaitun yang terkenal dari Palestina. Dalil: Dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad SAW bersabda, "Makanlah makanan yang baik dan halal." (HR. Al-Bukhari). Ini menunjukkan pentingnya memilih bahan makanan yang berkualitas dan sehat. 3. Falafel Falafel adalah bola-bola kecil yang terbuat dari kacang chickpea (kacang arab) yang digoreng. Makanan ini sering disajikan dalam pita dengan sayuran segar dan saus tahini. Falafel tidak hanya populer di Palestina, tetapi juga di seluruh dunia Arab. Makanan ini menjadi simbol makanan jalanan yang lezat dan terjangkau. Dalil: Dalam Al-Qur'an, Allah berfirman, "Dan makanlah dari rezeki yang baik yang Kami berikan kepadamu." (Al-Baqarah: 172). Ini mengingatkan kita untuk menghargai makanan yang kita konsumsi. 4. Knafeh Knafeh adalah makanan penutup yang terbuat dari adonan tipis yang diisi dengan keju atau krim, kemudian dipanggang dan disiram dengan sirup manis. Knafeh sangat populer di Palestina, terutama di kota Nablus. Hidangan ini sering disajikan dalam perayaan dan acara-acara spesial, menjadi simbol kebahagiaan dan perayaan. Dalil: Dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan." (HR. Muslim). Ini menunjukkan bahwa makanan yang indah dan lezat adalah bagian dari nikmat yang diberikan oleh Allah. Makanan dan Ketahanan Makanan Palestina tidak hanya mencerminkan kekayaan budaya, tetapi juga ketahanan masyarakatnya. Dalam menghadapi tantangan dan kesulitan, masyarakat Palestina terus melestarikan tradisi kuliner mereka. Banyak keluarga masih menggunakan resep-resep kuno yang telah diwariskan dari nenek moyang mereka, meskipun dalam kondisi yang sulit. Peran Makanan dalam Perlawanan Makanan juga berfungsi sebagai bentuk perlawanan terhadap penjajahan dan penindasan. Dalam banyak kasus, makanan tradisional menjadi simbol identitas Palestina yang tidak dapat dihapuskan. Ketika masyarakat Palestina merayakan hidangan khas mereka, mereka merayakan warisan dan identitas mereka, meskipun dalam situasi yang sulit. Makanan sebagai Jembatan Budaya Makanan Palestina juga berfungsi sebagai jembatan budaya. Dalam banyak kesempatan, hidangan Palestina disajikan dalam acara-acara internasional, memperkenalkan dunia pada kekayaan kuliner dan budaya Palestina. Ini membantu membangun pemahaman dan solidaritas antara berbagai bangsa. Kesimpulan Makanan Palestina adalah lebih dari sekadar hidangan lezat; ia adalah cerminan dari sejarah, budaya, dan identitas masyarakat Palestina. Dari Maqluba hingga Knafeh, setiap hidangan memiliki cerita dan makna yang mendalam. Dalam menghadapi tantangan, masyarakat Palestina terus melestarikan tradisi kuliner mereka, menjadikannya simbol ketahanan dan perlawanan. Dengan memahami dan menghargai makanan Palestina, kita tidak hanya menikmati rasa yang menggugah selera, tetapi juga menghormati warisan budaya yang kaya dan berharga. Makanan adalah jendela ke dalam jiwa suatu bangsa, dan makanan Palestina adalah salah satu yang paling indah dan penuh makna. *Tunaikan zakat, infaq, sedekah melalui Kantor Digital BAZNAS Kota Yogyakarta.https://kotayogya.baznas.go.id/bayarzakat Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id Editor : Ashifuddin Fikri Writer : Ashifuddin Fikri
BERITA16/03/2025 | Ashifuddin Fikri
Krisis Kemanusiaan di Gaza: Apa yang Perlu Kita Ketahui?
Krisis Kemanusiaan di Gaza: Apa yang Perlu Kita Ketahui?
Krisis kemanusiaan di Gaza telah menjadi salah satu isu paling mendesak dan kompleks di dunia saat ini. Terletak di tepi Laut Mediterania, Gaza adalah wilayah kecil yang dihuni oleh lebih dari dua juta orang, banyak di antaranya adalah pengungsi yang melarikan diri dari konflik yang berkepanjangan. Dalam artikel ini, kita akan membahas berbagai aspek dari krisis ini, termasuk latar belakang sejarah, kondisi saat ini, dampak terhadap penduduk sipil, serta upaya internasional untuk mengatasi masalah ini. Latar Belakang Sejarah Sejarah konflik di Gaza tidak dapat dipisahkan dari sejarah konflik Israel-Palestina yang lebih luas. Sejak berdirinya negara Israel pada tahun 1948, wilayah ini telah menjadi pusat ketegangan antara Israel dan Palestina. Perang Arab-Israel, Intifada, dan berbagai konflik bersenjata lainnya telah menyebabkan penderitaan yang mendalam bagi penduduk Gaza. Pada tahun 2005, Israel menarik diri dari Gaza, tetapi sejak itu, wilayah ini telah dikelola oleh Hamas, sebuah kelompok yang dianggap teroris oleh banyak negara. Sejak pengambilalihan Hamas, Israel telah memberlakukan blokade yang ketat terhadap Gaza, yang berdampak signifikan terhadap kehidupan sehari-hari penduduk. Kondisi Saat Ini Blokade dan Akses Terbatas Blokade yang diberlakukan oleh Israel dan Mesir telah mengakibatkan krisis kemanusiaan yang parah. Akses terhadap barang-barang dasar seperti makanan, obat-obatan, dan bahan bangunan sangat terbatas. Menurut laporan dari PBB, sekitar 80% penduduk Gaza bergantung pada bantuan kemanusiaan untuk bertahan hidup. Krisis Kesehatan Sistem kesehatan di Gaza berada dalam keadaan kritis. Rumah sakit sering kekurangan obat-obatan dan peralatan medis. Penyakit menular, seperti tuberkulosis dan hepatitis, semakin meningkat karena kondisi sanitasi yang buruk. Selain itu, banyak anak-anak di Gaza menderita malnutrisi, yang dapat berdampak jangka panjang pada perkembangan mereka. Pendidikan yang Terhambat Krisis ini juga berdampak pada sektor pendidikan. Banyak sekolah di Gaza yang rusak akibat serangan udara, dan yang masih berfungsi sering kali dipenuhi dengan siswa yang lebih banyak dari kapasitas. Pendidikan yang berkualitas menjadi sulit dijangkau, dan banyak anak-anak yang kehilangan kesempatan untuk belajar. Dampak Terhadap Penduduk Sipil Trauma Psikologis Dampak dari konflik berkepanjangan ini tidak hanya fisik, tetapi juga psikologis. Banyak penduduk Gaza, terutama anak-anak, mengalami trauma akibat kekerasan yang terus-menerus. Menurut laporan dari organisasi kesehatan mental, tingkat kecemasan dan depresi di kalangan anak-anak Gaza sangat tinggi. Pelanggaran Hak Asasi Manusia Pelanggaran hak asasi manusia di Gaza telah dilaporkan oleh berbagai organisasi internasional. Serangan udara yang dilakukan oleh Israel sering kali mengakibatkan korban sipil, termasuk wanita dan anak-anak. Di sisi lain, tindakan kekerasan oleh kelompok bersenjata di Gaza juga menimbulkan ketakutan di kalangan penduduk sipil. Upaya Internasional Bantuan Kemanusiaan Berbagai organisasi internasional, termasuk PBB dan Palang Merah, telah berusaha memberikan bantuan kemanusiaan kepada penduduk Gaza. Namun, akses yang terbatas dan situasi keamanan yang tidak stabil sering kali menghambat upaya ini. Diplomasi dan Negosiasi Upaya diplomasi untuk menyelesaikan konflik ini telah dilakukan selama bertahun-tahun, tetapi hasilnya sering kali tidak memuaskan. Proses perdamaian yang dipimpin oleh AS dan negara-negara lain belum berhasil mencapai kesepakatan yang langgeng. Kesimpulan Krisis kemanusiaan di Gaza adalah masalah yang kompleks dan mendalam, yang memerlukan perhatian dan tindakan dari komunitas internasional. Penting bagi kita untuk memahami konteks sejarah dan kondisi saat ini agar dapat berkontribusi dalam mencari solusi yang adil dan berkelanjutan. Kita semua memiliki tanggung jawab untuk meningkatkan kesadaran tentang krisis ini dan mendukung upaya-upaya yang bertujuan untuk membantu penduduk Gaza. Dengan pengetahuan dan tindakan yang tepat, kita dapat berkontribusi pada perubahan positif di wilayah yang sangat membutuhkan perhatian ini. *Tunaikan zakat, infaq, sedekah melalui Kantor Digital BAZNAS Kota Yogyakarta.https://kotayogya.baznas.go.id/bayarzakat Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id Editor : Ashifuddin Fikri Writer : Ashifuddin Fikri
BERITA16/03/2025 | Ashifuddin Fikri
Manfaat Sedekah di Hari ke-15 Ramadan
Manfaat Sedekah di Hari ke-15 Ramadan
Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah dan rahmat, bulan di mana umat Islam berusaha untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan berbagai amal ibadah. Salah satu ibadah yang sangat dianjurkan di bulan Ramadhan adalah sedekah. Sedekah tidak hanya berfungsi sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama, tetapi juga memberikan banyak manfaat bagi diri kita sendiri, baik secara spiritual maupun sosial. Pada hari ke-15 Ramadhan, kita sudah berada di tengah-tengah bulan yang penuh berkah ini. Inilah saat yang tepat untuk lebih banyak memberikan sedekah, karena manfaatnya sangat besar, baik untuk penerima maupun pemberi. 1. Meningkatkan Kualitas Ibadah Pada hari ke-15 Ramadhan, umat Islam sudah menjalani setengah bulan penuh puasa. Momentum ini bisa dimanfaatkan untuk memperbaiki kualitas ibadah, termasuk sedekah. Sedekah bukan hanya soal memberikan harta, tetapi juga soal memperbaiki hati dan niat. Dengan bersedekah, kita dapat membersihkan jiwa dan menghindari sifat kikir serta egois yang terkadang muncul dalam kehidupan sehari-hari. Sedekah membantu kita untuk lebih ikhlas dan rendah hati dalam menjalani hidup, serta mengingatkan kita akan pentingnya berbagi dengan sesama. 2. Mendekatkan Diri kepada Allah Salah satu manfaat utama dari sedekah adalah mendekatkan diri kepada Allah. Dalam banyak hadits, Rasulullah SAW menyebutkan bahwa sedekah adalah amalan yang sangat dicintai oleh Allah. Pada bulan Ramadhan, pahalanya berlipat ganda, lebih besar daripada di bulan lainnya. Dengan bersedekah, kita bukan hanya membantu sesama, tetapi juga mendapatkan keberkahan yang besar dari Allah. Pada hari ke-15 Ramadhan, kita sudah memasuki fase di mana intensitas ibadah bisa semakin meningkat, dan sedekah adalah salah satu cara terbaik untuk meraih keberkahan tersebut. 3. Mensucikan Harta Sedekah merupakan salah satu cara untuk mensucikan harta. Dalam pandangan Islam, harta yang kita miliki sebenarnya adalah titipan dari Allah, dan kita hanya berperan sebagai pengelola. Dengan memberikan sebagian harta kita kepada orang yang membutuhkan, kita tidak hanya membantu orang lain, tetapi juga membersihkan harta kita dari sifat tamak dan rakus. Harta yang dikeluarkan dalam bentuk sedekah akan membawa keberkahan dan memberikan rasa tenang, karena kita telah memenuhi kewajiban sosial untuk membantu sesama. 4. Mengurangi Rasa Kesenangan Duniawi Hari ke-15 Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk merenung, karena setengah bulan telah berlalu. Dalam perjalanan puasa, kita belajar untuk menahan diri dari segala bentuk kenikmatan duniawi, seperti makan, minum, dan berbagai godaan lainnya. Sedekah menjadi sarana untuk melawan hawa nafsu duniawi dengan cara berbagi apa yang kita miliki. Dengan memberikan sebagian dari apa yang kita punya, kita dapat mengurangi rasa kesenangan duniawi yang bisa membuat kita lupa akan pentingnya kehidupan akhirat. 5. Menumbuhkan Rasa Empati dan Kepedulian Sosial Sedekah di hari ke-15 Ramadhan juga dapat menumbuhkan rasa empati dan kepedulian terhadap orang-orang di sekitar kita. Di bulan Ramadhan, banyak orang yang merasakan kesulitan, baik itu dari segi ekonomi, kesehatan, atau kebutuhan sehari-hari. Dengan memberikan sedekah, kita membantu meringankan beban mereka dan menunjukkan bahwa kita peduli terhadap mereka. Ini juga memberikan kesempatan bagi kita untuk merasakan bagaimana rasanya menjadi orang yang membutuhkan, sehingga kita lebih bersyukur atas nikmat yang telah Allah berikan. 6. Pahala yang Berlipat Ganda Sebagai bulan yang penuh berkah, Ramadan menawarkan pahala yang berlipat ganda bagi setiap amal perbuatan. Sedekah di bulan Ramadhan, terutama pada hari ke-15 yang sudah setengah jalan, bisa menjadi sumber pahala yang sangat besar. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW menyebutkan bahwa setiap amal kebaikan di bulan Ramadhan dilipatgandakan, termasuk sedekah. Oleh karena itu, sedekah yang kita berikan di hari ke-15 Ramadhan akan mendatangkan banyak pahala dan dapat menjadi tabungan amal yang akan kita petik di kehidupan akhirat kelak. 7. Mempererat Tali Persaudaraan Sedekah juga berfungsi untuk mempererat tali persaudaraan antar sesama umat Islam. Dengan bersedekah, kita menunjukkan bahwa kita peduli satu sama lain, tanpa memandang status sosial, latar belakang, atau keadaan ekonomi. Ini dapat mengurangi kesenjangan sosial dan memperkuat rasa kebersamaan di tengah umat. Pada hari ke-15 Ramadhan, kita sudah melalui separuh perjalanan, dan saatnya untuk memperbanyak interaksi positif dengan sesama, baik melalui sedekah materi maupun non-materi. 8. Menjadi Alat Penyebab Kebaikan yang Tak Terputus Sedekah yang kita berikan dapat menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir meskipun kita sudah meninggal dunia. Misalnya, jika kita memberi sedekah berupa sarana ibadah, pendidikan, atau bantuan lainnya yang dapat digunakan untuk jangka panjang, pahalanya akan terus mengalir meskipun kita sudah tiada. Pada hari ke-15 Ramadhan, kita sudah seharusnya memikirkan amal jariyah yang bisa bermanfaat bagi orang banyak dan terus mengalir pahalanya, baik untuk diri kita maupun untuk orang lain. Ayo bersedekah melalui Kantor Digital BAZNAS Kota Yogyakarta: https://kotayogya.baznas.go.id/sedekah Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id Penulis: Riza Fatmahira Editor: M. Sahal
BERITA16/03/2025 | AdminS
Fidyah: Bagaimana Jika Tidak Mampu Membayar?
Fidyah: Bagaimana Jika Tidak Mampu Membayar?
Bagaimana Jika Tidak Mampu Membayar Fidyah? Bagi mereka yang tidak mampu membayar fidyah, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan: Niat dan Keikhlasan: Dalam Islam, niat yang tulus sangat penting. Jika seseorang tidak mampu membayar fidyah, niat untuk melaksanakan ibadah dan berusaha untuk memenuhi kewajiban tetap menjadi hal yang utama. Mencari Alternatif: Jika tidak mampu memberikan fidyah dalam bentuk uang, seseorang dapat mencari alternatif lain, seperti memberikan makanan kepada orang yang membutuhkan. Ini bisa dilakukan dengan cara menyumbangkan makanan pokok atau membantu dalam bentuk lain yang bermanfaat. Berkonsultasi dengan Ulama: Jika ada keraguan mengenai kewajiban fidyah, sebaiknya berkonsultasi dengan ulama atau orang yang berpengetahuan dalam agama. Mereka dapat memberikan panduan yang tepat sesuai dengan kondisi yang dihadapi. Berdoa dan Memohon Ampunan: Dalam situasi di mana seseorang tidak mampu memenuhi kewajiban fidyah, penting untuk tetap berdoa dan memohon ampunan kepada Allah. Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang, dan Dia memahami keadaan hamba-Nya. Kesimpulan Fidyah adalah bentuk kompensasi bagi mereka yang tidak dapat berpuasa. Bagi yang tidak mampu membayar fidyah, penting untuk tetap memiliki niat yang baik dan mencari alternatif lain. Konsultasi dengan ulama dan berdoa juga merupakan langkah yang bijak. Ingatlah bahwa Allah selalu melihat usaha dan niat kita dalam menjalankan ibadah. Penulis: Hubaib Ash Shidqi Editor:Hubaib Ash Shidqi
BERITA16/03/2025 | HUBAIB ASH SHIDQI
Fidyah untuk Orang Tua Renta: Solusi bagi yang Tidak Mampu Berpuasa
Fidyah untuk Orang Tua Renta: Solusi bagi yang Tidak Mampu Berpuasa
Kenapa Fidyah Penting untuk Orang Tua Renta? Menghormati Kewajiban Agama: Meskipun tidak dapat berpuasa, orang tua renta tetap ingin menjalankan kewajiban agama mereka. Dengan memberikan fidyah, mereka dapat tetap merasa terhubung dengan ibadah puasa. Membantu yang Membutuhkan: Fidyah tidak hanya bermanfaat bagi orang tua renta, tetapi juga bagi mereka yang membutuhkan. Dengan memberikan fidyah, mereka turut berkontribusi dalam membantu sesama. Alternatif yang Mudah: Bagi orang tua yang mungkin tidak memiliki kemampuan fisik untuk berpuasa, fidyah menjadi alternatif yang lebih mudah dan praktis. Bagaimana Cara Memberikan Fidyah? Menentukan Jumlah Fidyah: Jumlah fidyah yang harus diberikan biasanya setara dengan makanan yang cukup untuk satu orang selama sehari. Ini bisa berupa beras, roti, atau makanan pokok lainnya. Memberikan kepada yang Berhak: Fidyah dapat diberikan kepada orang-orang yang membutuhkan, seperti fakir miskin atau anak yatim. Pastikan bahwa fidyah yang diberikan benar-benar sampai kepada yang berhak. Melakukan dengan Niat yang Ikhlas: Seperti ibadah lainnya, niat yang ikhlas sangat penting dalam memberikan fidyah. Hal ini akan membuat fidyah yang diberikan lebih bermakna. Kesimpulan Fidyah untuk orang tua renta adalah solusi yang sangat bermanfaat bagi mereka yang tidak mampu berpuasa. Dengan memberikan fidyah, mereka tetap dapat menjalankan kewajiban agama dan membantu sesama. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memahami dan melaksanakan fidyah dengan baik, agar ibadah puasa tetap dapat dirasakan meskipun dalam keadaan yang sulit. Dengan demikian, fidyah bukan hanya sekadar kewajiban, tetapi juga merupakan bentuk kepedulian dan kasih sayang kepada orang tua dan sesama. Mari kita tingkatkan kepedulian kita dengan memberikan fidyah kepada yang membutuhkan, terutama bagi orang tua renta yang tidak mampu berpuasa. Penulis: Hubaib Ash Shidqi Editor:Hubaib Ash Shidqi
BERITA16/03/2025 | HUBAIB ASH SHIDQI
Fidyah: Bolehkah Diwakilkan Pembayarannya kepada Orang Lain?
Fidyah: Bolehkah Diwakilkan Pembayarannya kepada Orang Lain?
Dasar Hukum Fidyah Dalam Al-Qur'an, Allah SWT berfirman: "Dan bagi orang-orang yang berat menjalankannya, ada kewajiban membayar fidyah, yaitu memberi makan orang miskin." (QS. Al-Baqarah: 184) Ayat ini menunjukkan bahwa fidyah adalah kewajiban bagi mereka yang tidak dapat berpuasa. Namun, pertanyaan mengenai apakah fidyah dapat diwakilkan kepada orang lain masih menjadi perdebatan di kalangan ulama. Pendapat Ulama Mengenai Wakil Pembayaran Fidyah Pendapat yang Mengizinkan: Beberapa ulama berpendapat bahwa fidyah dapat diwakilkan kepada orang lain. Hal ini didasarkan pada prinsip bahwa niat dan tujuan dari fidyah adalah untuk membantu orang yang membutuhkan. Jika seseorang tidak mampu membayar fidyah secara langsung, maka diizinkan untuk meminta bantuan orang lain untuk melakukannya. Pendapat yang Melarang: Di sisi lain, ada ulama yang berpendapat bahwa fidyah tidak boleh diwakilkan. Mereka berargumen bahwa fidyah adalah tanggung jawab pribadi yang harus dilaksanakan oleh individu yang tidak dapat berpuasa. Dalam hal ini, pembayaran fidyah harus dilakukan oleh orang yang berkewajiban, bukan oleh orang lain. Praktik di Masyarakat Dalam praktiknya, banyak orang yang memilih untuk membayar fidyah melalui lembaga atau organisasi yang mengelola zakat dan fidyah. Mereka mengumpulkan dana dan menyalurkannya kepada orang-orang yang membutuhkan. Ini bisa dianggap sebagai bentuk perwakilan, di mana individu yang tidak dapat berpuasa mempercayakan pembayaran fidyah mereka kepada pihak ketiga. Kesimpulan Secara umum, apakah fidyah dapat diwakilkan atau tidak tergantung pada pandangan masing-masing ulama. Namun, penting untuk diingat bahwa tujuan utama dari fidyah adalah untuk membantu orang yang membutuhkan. Jika seseorang merasa tidak mampu untuk membayar fidyah secara langsung, mereka dapat mencari cara lain, seperti melalui lembaga yang terpercaya. Dalam hal ini, sebaiknya konsultasikan dengan ulama atau orang yang berpengetahuan dalam agama untuk mendapatkan panduan yang tepat. Dengan demikian, kita dapat menjalankan kewajiban fidyah dengan cara yang benar dan sesuai dengan ajaran Islam.Dengan memahami konsep fidyah dan perdebatan mengenai perwakilan pembayarannya, diharapkan kita dapat lebih bijak dalam menjalankan ibadah puasa dan memenuhi kewajiban kita sebagai umat Muslim. Penulis: Hubaib Ash Shidqi Editor:Hubaib Ash Shidqi
BERITA16/03/2025 | HUBAIB ASH SHIDQI
Fidyah Sebagai Sarana Pembersihan Diri: Menumbuhkan Keikhlasan Melalui Pembayaran Fidyah
Fidyah Sebagai Sarana Pembersihan Diri: Menumbuhkan Keikhlasan Melalui Pembayaran Fidyah
Fidyah merupakan salah satu bentuk kompensasi yang diperuntukkan bagi mereka yang tidak dapat menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan, baik karena alasan kesehatan, usia lanjut, atau sebab lainnya. Dalam konteks Islam, fidyah bukan hanya sekadar kewajiban, tetapi juga merupakan sarana untuk membersihkan diri dari dosa dan kesalahan yang mungkin terjadi selama menjalankan ibadah. Pembayaran fidyah dapat dilihat sebagai bentuk keikhlasan. Ketika seseorang membayar fidyah, mereka menunjukkan niat tulus untuk memenuhi kewajiban agama dan membantu sesama. Hal ini mencerminkan sikap peduli dan empati terhadap orang-orang yang kurang beruntung. Dengan demikian, fidyah tidak hanya berfungsi sebagai pengganti puasa, tetapi juga sebagai alat untuk menumbuhkan keikhlasan dalam diri individu. Keikhlasan dalam pembayaran fidyah dapat meningkatkan kualitas spiritual seseorang. Dalam Al-Qur'an, Allah SWT berfirman, "Dan tidak ada kebaikan bagi kalian dalam banyaknya makanan yang kalian makan, tetapi kebaikan itu adalah pada siapa yang bertakwa" (QS. Al-Baqarah: 267). Ini menunjukkan bahwa niat dan keikhlasan dalam beramal lebih penting daripada jumlah yang dikeluarkan. Dengan membayar fidyah, individu tidak hanya membersihkan diri dari kewajiban yang tertunda, tetapi juga memperkuat hubungan mereka dengan Allah SWT. Proses ini mendorong refleksi diri dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya niat yang tulus dalam setiap amal perbuatan. Sumber: 1. Al-Qur'an, Surah Al-Baqarah: 267. 2. Al-Ghazali, Abu Hamid. Ihya Ulum al-Din. 3. Al-Mawardi, Abu al-Hasan. Al-Hawi al-Kabir. Penulis: Aulia Anastasya Putri Permana Editor: M. Kausari Kaidani
BERITA16/03/2025 | Aulia Anastasya Putri Permana
Sedekah yang Paling Sederhana
Sedekah yang Paling Sederhana
Sedekah seringkali dipahami sebagai pemberian materi yang besar, seperti uang, makanan, atau barang berharga lainnya kepada orang yang membutuhkan. Namun, sebenarnya sedekah tidak selalu harus dalam bentuk harta atau barang berharga. Ada banyak cara untuk berbuat kebaikan dengan cara yang sangat sederhana, tanpa memerlukan banyak usaha atau biaya. Sedekah yang paling sederhana sekalipun, tetap memiliki nilai yang besar di mata Allah dan dapat memberikan manfaat bagi orang lain. 1. Senyum sebagai Sedekah Senyuman adalah bentuk sedekah yang paling sederhana namun memiliki dampak yang luar biasa. Sebuah senyuman tulus kepada orang lain bisa mencerahkan hari mereka. Terkadang, orang hanya membutuhkan sebuah senyuman untuk merasa dihargai, diterima, atau diperhatikan. Dalam Islam, Rasulullah SAW mengajarkan bahwa senyuman adalah bentuk sedekah yang sangat bernilai. Seperti yang disebutkan dalam hadis, "Tersenyumlah, karena senyum itu adalah sedekah" (HR. Tirmidzi). Senyuman tidak membutuhkan biaya dan bisa diberikan kapan saja kepada siapa saja. Ini adalah bentuk kebaikan yang universal dan tidak terbatas. 2. Memberikan Salam Memberikan salam adalah sedekah yang sederhana namun penuh makna. Ucapan "Assalamu’alaikum" tidak hanya berarti menyapa, tetapi juga merupakan doa untuk keselamatan, kedamaian, dan keberkahan bagi orang yang kita sapa. Salam yang kita berikan bisa menjadi pengingat bagi orang lain tentang pentingnya kedamaian, kasih sayang, dan persaudaraan dalam kehidupan sehari-hari. Rasulullah SAW bersabda, "Sebarkanlah salam di antara kalian, niscaya kalian akan saling mencintai" (HR. Muslim). Salam adalah bentuk interaksi yang sangat sederhana, tetapi membawa kebahagiaan dan kedamaian, baik bagi pemberi maupun penerima. 3. Memberikan Doa untuk Orang Lain Doa adalah salah satu bentuk sedekah yang bisa dilakukan tanpa biaya apapun. Kita bisa mendoakan orang lain dengan doa yang baik, seperti doa agar mereka diberikan kesehatan, kebahagiaan, dan keberkahan dalam hidup. Tidak hanya untuk keluarga atau teman dekat, kita juga bisa mendoakan orang yang tidak kita kenal. Doa adalah cara yang sangat sederhana untuk menunjukkan kepedulian dan kasih sayang terhadap orang lain. Dalam Islam, doa memiliki kekuatan yang besar, dan memberikan doa kebaikan bagi orang lain juga akan mendapatkan balasan kebaikan bagi diri kita sendiri. 4. Bersikap Baik dan Sabar Bersikap baik kepada orang lain dan menunjukkan sikap sabar juga merupakan bentuk sedekah yang sangat sederhana. Terkadang, sikap kita dalam menghadapi orang lain, terutama ketika mereka sedang kesulitan atau dalam kondisi yang tidak nyaman, bisa sangat berarti. Ketika kita bersikap sabar dan tidak mudah marah, atau ketika kita membantu orang dengan cara yang lembut dan penuh pengertian, itu adalah bentuk sedekah yang besar meskipun tidak terlihat secara fisik. Dalam Al-Qur'an, Allah SWT berfirman, "Dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik" (QS. Al-Baqarah: 195). 5. Membantu Orang Lain dengan Waktu dan Tenaga Sedekah tidak selalu harus berupa uang atau barang. Terkadang, memberikan sedikit waktu atau tenaga untuk membantu orang lain adalah bentuk sedekah yang paling sederhana. Misalnya, membantu tetangga yang sedang kesulitan membawa barang, membantu teman yang sedang membutuhkan, atau bahkan hanya memberikan perhatian kepada orang yang sedang membutuhkan teman bicara. Bantuan kecil seperti ini bisa sangat berarti, terutama bagi orang yang merasa kesepian atau tertekan. Terkadang, tindakan kecil ini bisa memberi dampak yang sangat besar bagi orang yang menerima bantuan tersebut. 6. Berbagi Pengetahuan Sedekah juga bisa berupa berbagi pengetahuan. Memberikan informasi atau berbagi keterampilan yang kita miliki kepada orang lain adalah bentuk sedekah yang sangat sederhana namun sangat bermanfaat. Ini bisa berupa membantu teman yang kesulitan memahami pelajaran, mengajarkan keterampilan baru kepada orang yang membutuhkan, atau memberikan nasihat yang bermanfaat. Dalam Islam, ilmu adalah salah satu bentuk amal jariyah yang pahalanya akan terus mengalir. Jadi, berbagi pengetahuan adalah bentuk sedekah yang tidak hanya memberi manfaat bagi orang lain, tetapi juga untuk diri kita sendiri. 7. Menghindari Perkataan Buruk Terkadang, sedekah bisa dilakukan dengan cara menghindari perkataan yang tidak baik. Kita dapat memberikan sedekah dengan menjaga lisan kita agar tidak menyakiti hati orang lain, tidak bergosip, dan tidak berbicara dengan kasar. Menghindari perkataan buruk dan berbicara dengan kata-kata yang lembut adalah bentuk sedekah yang sangat sederhana namun membawa dampak positif dalam hubungan antar sesama. Ayo bersedekah melalui Kantor Digital BAZNAS Kota Yogyakarta: https://kotayogya.baznas.go.id/sedekah Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id Penulis: Riza Fatmahira Editor: M. Sahal
BERITA16/03/2025 | AdminS
Fidyah Online: Konsep dan Pelaksanaannya
Fidyah Online: Konsep dan Pelaksanaannya
Fidyah Online: Konsep dan Pelaksanaannya Dengan kemajuan teknologi, banyak lembaga dan organisasi yang menawarkan layanan fidyah online. Melalui platform ini, individu dapat membayar fidyah mereka dengan mudah dan cepat, tanpa harus pergi ke lokasi fisik. Proses ini biasanya melibatkan pemilihan jumlah fidyah yang ingin dibayarkan, kemudian melakukan transaksi melalui aplikasi atau situs web. Keuntungan Fidyah Online Kemudahan Akses: Fidyah online memungkinkan orang untuk membayar fidyah dari mana saja dan kapan saja. Transparansi: Banyak platform fidyah online yang memberikan laporan tentang penggunaan dana fidyah, sehingga para donatur dapat melihat dampak dari sumbangan mereka. Efisiensi Waktu: Proses pembayaran yang cepat dan tidak memerlukan perjalanan fisik menghemat waktu bagi individu yang sibuk. Penulis: Hubaib Ash Shidqi Editor:Hubaib Ash Shidqi
BERITA15/03/2025 | HUBAIB ASH SHIDQI
Apakah Fidyah Online Sah Menurut Syariat Islam?
Apakah Fidyah Online Sah Menurut Syariat Islam?
Apakah Fidyah Online Sah Menurut Syariat Islam? Untuk menentukan keabsahan fidyah online, kita perlu merujuk pada beberapa prinsip syariat Islam: Niat: Niat yang tulus untuk memenuhi kewajiban fidyah adalah syarat utama. Jika seseorang membayar fidyah secara online dengan niat yang benar, maka hal ini dapat dianggap sah. Penerima Fidyah: Fidyah harus disalurkan kepada orang yang berhak menerimanya, yaitu mereka yang membutuhkan. Platform fidyah online yang transparan dan dapat dipercaya dalam menyalurkan dana kepada yang berhak akan lebih menjamin keabsahan fidyah tersebut. Metode Pembayaran: Selama metode pembayaran yang digunakan tidak melanggar prinsip syariat, seperti riba, maka fidyah online dapat dianggap sah. Kesesuaian dengan Ketentuan: Fidyah yang dibayarkan harus sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan dalam syariat, seperti jumlah dan jenis makanan yang diberikan. Kesimpulan Fidyah online dapat dianggap sah menurut syariat Islam asalkan memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan. Penting bagi individu untuk memastikan bahwa mereka menggunakan platform yang terpercaya dan transparan dalam menyalurkan fidyah kepada yang berhak. Dengan demikian, fidyah yang dibayarkan secara online tidak hanya memenuhi kewajiban agama, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat yang membutuhkan. Penulis: Hubaib Ash Shidqi Editor:Hubaib Ash Shidqi
BERITA15/03/2025 | HUBAIB ASH SHIDQI
Inovasi dalam Pelaksanaan Fidyah
Inovasi dalam Pelaksanaan Fidyah
Inovasi dalam Pelaksanaan Fidyah Di era modern ini, pelaksanaan fidyah telah mengalami banyak inovasi. Salah satu inovasi yang paling mencolok adalah penggunaan platform digital untuk memudahkan proses pengumpulan dan penyaluran fidyah. Dengan adanya aplikasi dan situs web, individu dapat dengan mudah memberikan fidyah mereka tanpa harus bertemu langsung dengan penerima. Contoh Inovasi Aplikasi Mobile: Beberapa aplikasi kini menyediakan fitur untuk menghitung fidyah yang harus dibayarkan dan memungkinkan pengguna untuk langsung menyumbangkan fidyah mereka kepada lembaga amal yang terpercaya. E-Wallet: Penggunaan dompet digital juga memudahkan masyarakat untuk menyalurkan fidyah mereka. Dengan hanya beberapa klik, fidyah dapat disalurkan kepada yang membutuhkan. Program Sosial: Banyak organisasi non-pemerintah (NGO) yang mengadakan program sosial yang mengintegrasikan fidyah dengan kegiatan pemberdayaan masyarakat, seperti pelatihan keterampilan bagi penerima fidyah. Adaptasi Fidyah di Tengah Perubahan Sosial Perubahan sosial yang cepat juga mempengaruhi cara masyarakat memahami dan melaksanakan fidyah. Dalam konteks urbanisasi dan mobilitas tinggi, banyak orang yang tidak memiliki waktu untuk melakukan ritual tradisional. Oleh karena itu, adaptasi fidyah menjadi sangat penting. Keterlibatan Komunitas Komunitas kini lebih terlibat dalam proses pelaksanaan fidyah. Misalnya, beberapa masjid dan komunitas lokal mengadakan program pengumpulan fidyah secara kolektif, di mana anggota komunitas dapat menyumbangkan fidyah mereka dan kemudian disalurkan secara bersamaan kepada yang membutuhkan. Edukasi dan Kesadaran Pentingnya edukasi mengenai fidyah juga semakin meningkat. Banyak lembaga yang mengadakan seminar dan workshop untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang kewajiban fidyah dan cara pelaksanaannya yang tepat di era modern. Kesimpulan Fidyah adalah salah satu bentuk kepedulian sosial dalam Islam yang terus beradaptasi dengan perkembangan zaman. Inovasi dalam pelaksanaan fidyah melalui teknologi dan keterlibatan komunitas menunjukkan bahwa nilai-nilai agama dapat tetap relevan dan bermanfaat di era modern. Dengan memahami dan melaksanakan fidyah dengan cara yang lebih efisien, kita tidak hanya memenuhi kewajiban agama, tetapi juga berkontribusi pada kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan. Penulis: Hubaib Ash Shidqi Editor:Hubaib Ash Shidqi
BERITA15/03/2025 | HUBAIB ASH SHIDQI
Fidyah untuk Orang Sakit: Apakah Ada Keringanan?
Fidyah untuk Orang Sakit: Apakah Ada Keringanan?
Kriteria Sakit yang Memungkinkan Pembayaran Fidyah Tidak semua kondisi sakit otomatis mengharuskan seseorang untuk membayar fidyah. Berikut adalah beberapa kriteria yang dapat menjadi pertimbangan: Sakit Sementara: Jika seseorang mengalami sakit sementara yang menghalanginya untuk berpuasa, maka ia diharapkan untuk mengganti puasa di hari lain setelah sembuh. Dalam hal ini, fidyah tidak diperlukan. Sakit Berkepanjangan: Jika seseorang menderita penyakit yang tidak mungkin sembuh dan menghalanginya untuk berpuasa secara permanen, maka ia diwajibkan untuk membayar fidyah. Kondisi Kesehatan yang Membahayakan: Jika berpuasa dapat membahayakan kesehatan seseorang, maka ia juga diperbolehkan untuk membayar fidyah. Keringanan dalam Pembayaran Fidyah Dalam Islam, ada beberapa keringanan yang dapat diberikan kepada orang yang sakit dalam hal pembayaran fidyah: Jumlah Pembayaran: Fidyah tidak selalu harus dalam bentuk uang. Sebagai alternatif, seseorang dapat memberikan makanan pokok kepada orang yang membutuhkan. Ini bisa menjadi keringanan bagi mereka yang mungkin tidak memiliki cukup uang. Waktu Pembayaran: Pembayaran fidyah tidak harus dilakukan secara langsung setelah bulan Ramadan. Seseorang dapat membayar fidyah pada waktu yang lebih sesuai bagi mereka, asalkan dilakukan sebelum bulan Ramadan berikutnya. Bantuan dari Keluarga: Keluarga atau kerabat dapat membantu dalam pembayaran fidyah, sehingga meringankan beban bagi orang yang sakit. Kesimpulan Fidyah adalah solusi bagi mereka yang tidak dapat menjalankan puasa karena sakit. Penting untuk memahami kriteria yang memungkinkan pembayaran fidyah dan keringanan yang dapat diberikan. Dengan demikian, diharapkan setiap umat Muslim dapat menjalankan kewajiban mereka dengan baik, meskipun dalam keadaan yang sulit. Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal berada dalam situasi ini, penting untuk berkonsultasi dengan ulama atau ahli agama untuk mendapatkan panduan yang tepat mengenai fidyah. Penulis: Hubaib Ash Shidqi Editor:Hubaib Ash Shidqi
BERITA15/03/2025 | HUBAIB ASH SHIDQI
Fidyah: Perbedaan Pendapat Ulama dan Solusi Terbaik
Fidyah: Perbedaan Pendapat Ulama dan Solusi Terbaik
Perbedaan Pendapat Ulama 1. Jumlah Fidyah Salah satu perbedaan pendapat yang paling mencolok di kalangan ulama adalah mengenai jumlah fidyah yang harus dibayarkan. Sebagian ulama berpendapat bahwa fidyah yang dibayarkan adalah satu mud (sekitar 600 gram) makanan pokok per hari yang ditinggalkan. Sementara itu, ulama lain berpendapat bahwa fidyah dapat dibayarkan dalam bentuk uang yang setara dengan nilai makanan tersebut. 2. Jenis Makanan Ada juga perbedaan pendapat mengenai jenis makanan yang dapat digunakan untuk fidyah. Beberapa ulama berpendapat bahwa fidyah harus berupa makanan pokok seperti beras, gandum, atau kurma. Namun, ada juga yang berpendapat bahwa fidyah bisa berupa makanan lain yang dianggap layak dan bermanfaat bagi penerima. 3. Waktu Pembayaran Waktu pembayaran fidyah juga menjadi perdebatan di kalangan ulama. Sebagian ulama berpendapat bahwa fidyah harus dibayarkan segera setelah seseorang tidak dapat berpuasa, sementara yang lain berpendapat bahwa fidyah dapat dibayarkan setelah bulan Ramadan berakhir. Solusi Terbaik Menghadapi perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai fidyah, umat Muslim sebaiknya mengambil langkah-langkah berikut: Konsultasi dengan Ulama: Sebaiknya umat Muslim berkonsultasi dengan ulama atau tokoh agama setempat untuk mendapatkan penjelasan yang lebih jelas mengenai fidyah sesuai dengan kondisi masing-masing. Mengutamakan Kebaikan: Dalam pelaksanaan fidyah, umat Muslim disarankan untuk mengutamakan kebaikan dan kepentingan orang yang menerima fidyah. Memilih makanan yang bergizi dan bermanfaat adalah langkah yang baik. Fleksibilitas dalam Pembayaran: Umat Muslim dapat memilih untuk membayar fidyah sesuai dengan pendapat yang mereka yakini, baik dalam bentuk makanan maupun uang, asalkan tetap memenuhi syarat yang ditetapkan. Mendokumentasikan Pembayaran: Penting untuk mendokumentasikan pembayaran fidyah agar dapat dipertanggungjawabkan dan menjadi catatan bagi diri sendiri. Kesimpulan Fidyah adalah bagian penting dari ibadah puasa yang harus dipahami dengan baik oleh umat Muslim. Meskipun terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai fidyah, yang terpenting adalah niat dan pelaksanaan yang sesuai dengan syariat. Dengan berkonsultasi dan mengutamakan kebaikan, umat Muslim dapat menjalankan kewajiban fidyah dengan baik dan benar. Penulis: Hubaib Ash Shidqi Editor:Hubaib Ash Shidqi
BERITA15/03/2025 | HUBAIB ASH SHIDQI
Fidyah: Antara Kewajiban dan Keringanan dalam Islam
Fidyah: Antara Kewajiban dan Keringanan dalam Islam
Hukum Fidyah Fidyah menjadi kewajiban bagi mereka yang tidak dapat berpuasa karena alasan yang syar'i. Misalnya, seseorang yang menderita penyakit kronis yang tidak memungkinkan untuk berpuasa seumur hidup, atau wanita hamil dan menyusui yang khawatir akan kesehatan diri dan anaknya. Dalam hal ini, fidyah menjadi solusi untuk tetap memenuhi kewajiban ibadah meskipun tidak dapat melaksanakannya secara langsung. Dasar Hukum Fidyah Dasar hukum fidyah dapat ditemukan dalam Al-Qur'an, yaitu dalam Surah Al-Baqarah ayat 184-185. Dalam ayat tersebut, Allah SWT menjelaskan bahwa bagi mereka yang tidak mampu berpuasa, diperbolehkan untuk memberikan fidyah sebagai ganti. Selain itu, Hadis Nabi Muhammad SAW juga menegaskan pentingnya fidyah bagi mereka yang tidak dapat berpuasa. Pelaksanaan Fidyah Pelaksanaan fidyah dapat dilakukan dengan memberikan makanan kepada orang yang membutuhkan atau dengan memberikan sedekah dalam bentuk uang yang setara dengan nilai makanan yang seharusnya diberikan. Umumnya, fidyah yang diberikan adalah makanan pokok seperti beras, gandum, atau kurma. Besaran Fidyah Besaran fidyah biasanya ditentukan berdasarkan kebutuhan makanan sehari-hari. Dalam praktiknya, satu fidyah setara dengan satu mud (sekitar 600 gram) makanan pokok. Namun, nilai fidyah dapat bervariasi tergantung pada kondisi ekonomi dan harga bahan makanan di suatu daerah. Keringanan dalam Fidyah Fidyah memberikan keringanan bagi umat Muslim yang tidak dapat menjalankan puasa. Ini menunjukkan betapa Islam sangat memperhatikan kondisi umatnya. Keringanan ini tidak hanya berlaku bagi mereka yang sakit, tetapi juga bagi wanita hamil dan menyusui yang khawatir akan kesehatan diri dan anaknya. Kesimpulan Fidyah adalah bentuk keringanan yang diberikan oleh Allah SWT bagi umat Muslim yang tidak dapat menjalankan ibadah puasa. Dengan memahami fidyah, umat Islam dapat tetap memenuhi kewajiban ibadah meskipun dalam keadaan yang sulit. Oleh karena itu, penting bagi setiap Muslim untuk mengetahui dan memahami konsep fidyah agar dapat melaksanakannya dengan baik dan benar. Penulis: Hubaib Ash Shidqi Editor:Hubaib Ash Shidqi
BERITA15/03/2025 | HUBAIB ASH SHIDQI
Jejak Sejarah Masjid Al-Aqsa, Simbol Keagungan Islam
Jejak Sejarah Masjid Al-Aqsa, Simbol Keagungan Islam
Masjid Al-Aqsa, terletak di Kota Yerusalem di Palestina, adalah salah satu tempat suci umat Islam yang memiliki nilai historis dan makna mendalam. Ia berada di satu kawasan Al-Haram Al-Syarif yang yang mencakup Masjid Al-Aqsa, Dome of The Rock, Masjid Al-Qibli dan seluruh area terbuka di sekitarnya. Oleh karena itu, sering terjadi salah kaprah antara Masjid Al-Aqsa dan Dome of The Rock. Secara visual, Masjid Al-Aqsa adalah seluruh area kawasan masjid yang meliputi beberaap masjid di dalamnya seperti Masjid Qibli, Qubatush Shakhrah, Dinding Buraq, Mushola Marwani. Sementara itu, masjid berkubah emas yang seringkali jadi ikon Al-Aqsa adalah salah satu bagian saja dari kawasan Masjidil Al-Aqsa. Masjid berkubah emas ini dikenal sebagai Dome of The Rock (Qubatush Shakhrah). Sebagai kiblat pertama umat Islam dan tempat terjadinya peristiwa Isra' Mi'raj, Masjid Al-Aqsa menjadi simbol keagungan Islam. Sejarah Masjid Al-Aqsa Menurut beberapa riwayat, Nabi Yakub AS adalah orang pertama yang membangun tempat ibadah di lokasi Masjid Al-Aqsa yakni kawasan Baitul Maqdis. Kemudian, Nabi Sulaiman AS memperluas dan memperindah bangunan tersebut. Setelah Islam datang, Masjid Al-Aqsa menjadi salah satu tempat suci utama. Khalifah Umar bin Khattab RA adalah orang pertama yang membangun masjid sederhana di lokasi ini setelah penaklukan Yerusalem pada tahun 638 M. Kemudian, pada masa Dinasti Umayyah, Khalifah Abdul Malik bin Marwan membangun Kubah Batu (Dome of The Rock) dan putranya, Al-Walid, membangun dan memperluas Masjid Al-Aqsa seperti yang kita kenal sekarang. Peristiwa Isra' Mi'raj Masjid Al-Aqsa menjadi saksi peristiwa agung Isra' Mi'raj. Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjid Al-Aqsa, kemudian naik ke Sidratul Muntaha. Peristiwa ini diabadikan dalam Al-Qur'an Surah Al-Isra' ayat 1: "Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat." Proses Renovasi Masjid Sepanjang sejarahnya, Masjid Al-Aqsa mengalami beberapa kali kerusakan akibat gempa bumi dan peristiwa lainnya. Gempa bumi pada tahun 746 M menghancurkan masjid ini, dan kemudian dibangun kembali oleh Khalifah Abbasiyah Al-Mansur pada tahun 758 M. Pembangunan ini dilanjutkan oleh penerusnya, Al-Mahdi, pada tahun 780 M, yang memperluas masjid menjadi lima belas lorong dengan kubah pusat. Namun, gempa bumi pada tahun 1033 M kembali merusak masjid, dan dibangun ulang oleh Khalifah Fatimiyah Al-Zahir pada tahun 1035 M, mengurangi jumlah lorong menjadi tujuh tetapi menambahkan dekorasi interior yang kaya. Selama Perang Salib pada abad ke-12, Masjid Al-Aqsa diubah menjadi markas bagi Ordo Ksatria Templar dan digunakan sebagai istana oleh Raja Baldwin II. Setelah Yerusalem direbut kembali oleh Salahuddin Al-Ayyubi pada tahun 1187 M, masjid ini dikembalikan fungsinya sebagai tempat ibadah umat Islam. Pada periode Mamluk dan Utsmaniyah, masjid ini mengalami renovasi dan penambahan berbagai elemen arsitektur, termasuk pembangunan menara dan dekorasi interior. Arsitektur dan Fitur Utama Masjid Al-Aqsa memiliki luas sekitar 14,4 hektar, dengan bangunan utama yang dapat menampung hingga 5.000 jamaah. Masjid ini memiliki tujuh lorong dengan deretan tiang yang menopang atapnya. Fasad masjid yang ada saat ini dibangun pada tahun 1065 M atas perintah Khalifah Fatimiyah Al-Mustansir Billah, dengan lengkungan batu yang menampilkan gaya Romawi. Interior masjid dihiasi dengan 121 jendela kaca patri dari era Abbasiyah dan Fatimiyah, serta mosaik dan marmer yang memperkaya dekorasinya. Salah satu elemen penting dalam masjid ini adalah mimbar yang awalnya dibuat atas perintah Sultan Nuruddin Zengi pada abad ke-12. Mimbar ini dibuat dari gading dan kayu yang diukir dengan kaligrafi Arab serta desain geometris dan floral. Setelah dihancurkan dalam kebakaran tahun 1969, mimbar ini digantikan dengan replika yang dibuat di Yordania dan dipasang pada tahun 2007. Hikmah di Balik Keberadaan Masjid Al-Aqsa 1. Simbol Persatuan Umat Islam Masjid Al-Aqsa adalah simbol persatuan umat Islam di seluruh dunia. Sebagai salah satu dari tiga masjid suci (selain Masjidil Haram dan Masjid Nabawi), Al-Aqsa menjadi tempat yang dikunjungi dan dihormati oleh muslim dari berbagai belahan dunia. 2. Pengingat akan Kekuasaan Allah SWT Keberadaan Masjid Al-Aqsa mengingatkan kita akan kekuasaan Allah SWT yang mampu memindahkan Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Yerusalem dalam waktu singkat pada peristiwa isra’ mi’raj. Ini juga mengajarkan kita untuk selalu mengingat kebesaran Allah dalam setiap aspek kehidupan. 3. Ujian Keimanan Masjid Al-Aqsa menjadi ujian keimanan bagi umat Islam. Di tengah upaya-upaya untuk menguasai dan merusaknya, umat Islam diuji untuk tetap menjaga dan mempertahankan kemuliaan masjid ini. 4. Pelajaran tentang Kesabaran dan Keteguhan Sejarah panjang Masjid Al-Aqsa, termasuk berbagai penaklukan dan konflik, mengajarkan kita tentang kesabaran dan keteguhan dalam mempertahankan nilai-nilai Islam. *Tunaikan zakat, infaq, sedekah melalui Kantor Digital BAZNAS Kota Yogyakarta.https://kotayogya.baznas.go.id/bayarzakat Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id Editor : Ashifuddin Fikri Writer : Nur Isnaini Masyithoh
BERITA15/03/2025 | Nur Isnaini Masyithoh
Bagaimana Cara Qodho Puasa dan Apa Hikmahnya
Bagaimana Cara Qodho Puasa dan Apa Hikmahnya
Puasa Ramadhan adalah salah satu kewajiban utama dalam Islam yang harus dilaksanakan oleh setiap muslim yang telah baligh dan memenuhi syarat. Namun, dalam situasi tertentu, seorang muslim mungkin tidak dapat menjalankan puasa Ramadhan secara penuh, seperti karena sakit, bepergian (safar), haid, nifas, atau alasan syar'i lainnya. Dalam kondisi seperti ini, Islam memberikan keringanan berupa qodho puasa, yaitu mengganti puasa yang ditinggalkan di hari lain. Qodho puasa adalah mengganti puasa Ramadhan yang ditinggalkan karena uzur syar'i pada hari lain di luar bulan Ramadhan. Kewajiban qodho puasa didasarkan pada firman Allah SWT dalam Surah Al-Baqarah ayat 184: "Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajib mengganti) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain." Qodho puasa merupakan bentuk rahmat Allah SWT yang memberikan kemudahan bagi hamba-Nya yang tidak mampu menjalankan puasa Ramadhan karena alasan syar'i. Syarat-Syarat Qodho Puasa Terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi dalam melaksanakan qodho puasa: 1. Ada Uzur Syar'i: Qodho puasa hanya berlaku bagi mereka yang meninggalkan puasa karena uzur syar'i, seperti sakit, safar, haid, nifas, atau kondisi lain yang menghalangi seseorang untuk berpuasa. 2. Niat yang Tepat: Sebagaimana puasa Ramadhan, qodho puasa juga harus disertai dengan niat yang tulus. Niat ini bisa dilakukan pada malam hari sebelum puasa atau di siang hari sebelum tergelincirnya matahari (selama belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa). 3. Dilakukan pada Hari yang Diperbolehkan: Qodho puasa harus dilakukan pada hari-hari yang tidak dilarang untuk berpuasa, seperti hari raya Idul Fitri, Idul Adha, atau hari Tasyrik. Tata Cara Qodho Puasa 1. Menghitung Hari yang Ditinggalkan: Sebelum melakukan qodho puasa, hitunglah berapa hari puasa Ramadhan yang ditinggalkan. Hal ini penting untuk memastikan bahwa semua hari yang ditinggalkan telah diganti. 2. Melakukan Niat: Niat qodho puasa bisa diucapkan dalam hati atau secara lisan. Contoh niat qodho puasa adalah: “Nawaitu shauma ghadin ‘an qadha’i fardhi Ramadhan lillahi ta’ala." Artinya: "Aku niat berpuasa esok hari untuk mengganti fardhu Ramadhan karena Allah Ta’ala." 3. Menjaga Puasa dari Fajar hingga Maghrib: Seperti puasa pada umumnya, qodho puasa dilakukan dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Selama waktu tersebut, kita harus menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal yang membatalkan puasa. 4. Mengganti Puasa Secara Bertahap atau Sekaligus: Qodho puasa bisa dilakukan secara bertahap atau sekaligus, tergantung kemampuan dan kesempatan. Namun, disarankan untuk segera mengganti puasa yang ditinggalkan agar tidak menumpuk. Hikmah di Balik Qodho Puasa Qodho puasa tidak hanya sekadar mengganti hari puasa yang ditinggalkan, tetapi juga mengandung hikmah yang mendalam. Berikut adalah beberapa hikmah di balik ketentuan qodho puasa: 1. Menunjukkan Rahmat dan Kemudahan dalam Islam Ketentuan qodho puasa menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang penuh dengan rahmat dan kemudahan. Allah SWT memahami bahwa manusia memiliki keterbatasan, sehingga memberikan keringanan bagi mereka yang tidak mampu menjalankan puasa Ramadhan karena uzur syar'i. 2. Menjaga Keseimbangan antara Kewajiban dan Kemampuan Qodho puasa mengajarkan kita untuk menjaga keseimbangan antara kewajiban ibadah dan kemampuan fisik. Dengan mengganti puasa di hari lain, kita tetap dapat memenuhi kewajiban tanpa membebani diri sendiri. 3. Meningkatkan Kesadaran akan Tanggung Jawab Kewajiban qodho puasa mengajarkan kita untuk bertanggung jawab atas ibadah yang ditinggalkan. Hal ini mendorong kita untuk lebih disiplin dan konsisten dalam menjalankan kewajiban sebagai seorang muslim. 4. Memberikan Kesempatan untuk Tetap Beribadah Qodho puasa memberikan kesempatan bagi mereka yang tidak bisa berpuasa di bulan Ramadhan untuk tetap beribadah dan meraih pahala puasa. Ini menunjukkan bahwa Allah SWT selalu memberikan jalan bagi hamba-Nya untuk mendekatkan diri kepada-Nya. 5. Melatih Kedisiplinan dan Manajemen Waktu Mengganti puasa yang ditinggalkan membutuhkan kedisiplinan dan manajemen waktu yang baik. Hal ini membantu kita untuk lebih teratur dalam menjalankan ibadah dan aktivitas sehari-hari. 6. Meningkatkan Rasa Syukur Dengan mengganti puasa yang ditinggalkan, kita menjadi lebih bersyukur atas nikmat kesehatan dan kesempatan yang diberikan oleh Allah SWT. Rasa syukur ini mendorong kita untuk lebih menghargai setiap kesempatan beribadah. 7. Menjaga Kualitas Ibadah Qodho puasa artinya bahwa kita tetap memenuhi kewajiban ibadah dengan baik, meskipun sempat tertunda. Hal ini membantu menjaga kualitas ibadah dan hubungan kita dengan Allah SWT. 8. Mengajarkan Fleksibilitas dalam Ibadah Ketentuan qodho puasa mengajarkan kita bahwa ibadah dalam Islam bersifat fleksibel dan dapat disesuaikan dengan kondisi individu. Ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang realistis dan memahami kebutuhan manusia. Qodho puasa adalah bentuk rahmat Allah SWT yang memberikan kemudahan bagi hamba-Nya yang tidak mampu menjalankan puasa Ramadhan karena uzur syar'i. Dengan mengganti puasa yang ditinggalkan, kita tetap dapat memenuhi kewajiban ibadah dan meraih pahala puasa. Selain itu, qodho puasa juga mengandung hikmah yang mendalam, seperti meningkatkan kesadaran akan tanggung jawab, melatih kedisiplinan, dan menjaga kualitas ibadah. Mari manfaatkan kesempatan qodho puasa dengan sebaik-baiknya agar kita tetap dapat meraih keberkahan dan ridha Allah SWT. Semoga kita senantiasa diberikan kekuatan dan kesempatan untuk menjalankan ibadah dengan penuh keikhlasan dan ketakwaan. *Tunaikan zakat, infaq, sedekah melalui Kantor Digital BAZNAS Kota Yogyakarta.https://kotayogya.baznas.go.id/bayarzakat Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id Editor : Ashifuddin Fikri Writer : Nur Isnaini Masyithoh
BERITA15/03/2025 | Nur Isnaini Masyithoh
Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kota Yogyakarta.

Lihat Daftar Rekening →