WhatsApp Icon
Kapan Waktu Terbaik Membayar Zakat Fitrah? Ini Penjelasannya

Zakat fitrah merupakan salah satu kewajiban yang harus ditunaikan oleh umat Islam pada bulan Ramadan menjelang Hari Raya Idulfitri. Ibadah ini memiliki tujuan untuk menyucikan diri setelah menjalankan ibadah puasa sekaligus membantu masyarakat yang membutuhkan agar dapat merasakan kebahagiaan di hari raya. Oleh karena itu, penting bagi setiap Muslim untuk memahami waktu terbaik untuk membayar zakat fitrah agar ibadah tersebut sah dan memberikan manfaat maksimal.

 

Dalam ajaran Islam, waktu pembayaran zakat fitrah telah diatur dengan jelas. Zakat fitrah tidak hanya sekadar kewajiban tahunan, tetapi juga memiliki waktu pelaksanaan yang dianjurkan agar manfaatnya dapat dirasakan secara optimal oleh para penerima zakat atau mustahik. Dengan menunaikan zakat fitrah pada waktu yang tepat, umat Islam dapat memastikan bahwa bantuan tersebut sampai kepada mereka yang membutuhkan sebelum Hari Raya Idulfitri tiba.

Hal ini juga dijelaskan dalam hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar:
"Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah sebelum orang-orang keluar untuk melaksanakan salat Id."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis tersebut menunjukkan bahwa zakat fitrah sebaiknya ditunaikan sebelum pelaksanaan salat Idulfitri. Tujuannya agar para penerima zakat dapat memanfaatkan bantuan tersebut untuk memenuhi kebutuhan mereka pada hari raya.

Agar lebih jelas, berikut beberapa waktu pelaksanaan zakat fitrah yang perlu diketahui oleh umat Islam:

Awal Waktu Pembayaran Zakat Fitrah
Zakat fitrah sebenarnya sudah dapat dibayarkan sejak awal bulan Ramadan. Hal ini dilakukan untuk memudahkan proses pengumpulan dan penyaluran zakat kepada para mustahik. Banyak lembaga zakat yang mulai membuka layanan pembayaran zakat fitrah sejak awal Ramadan agar masyarakat memiliki waktu yang cukup untuk menunaikan kewajiban tersebut.

Pembayaran zakat fitrah pada awal Ramadan juga membantu lembaga zakat dalam mengelola distribusi bantuan secara lebih terencana dan tepat sasaran.

Waktu yang Paling Utama
Meskipun zakat fitrah boleh dibayarkan sejak awal Ramadan, waktu yang paling utama untuk menunaikannya adalah pada malam takbiran hingga sebelum pelaksanaan salat Idulfitri. Pada waktu inilah zakat fitrah sangat dianjurkan untuk ditunaikan karena manfaatnya dapat langsung dirasakan oleh para penerima zakat menjelang hari raya.

Dengan menerima zakat fitrah pada waktu tersebut, masyarakat yang membutuhkan dapat mempersiapkan kebutuhan mereka untuk merayakan Idulfitri dengan lebih layak dan bahagia.

Waktu yang Makruh untuk Menunda
Menunda pembayaran zakat fitrah hingga mendekati waktu salat Idulfitri sebenarnya tidak dianjurkan apabila berpotensi membuat zakat tidak tersalurkan tepat waktu. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk tidak menunda pembayaran zakat fitrah jika sudah memiliki kemampuan untuk menunaikannya.

Menunda zakat fitrah tanpa alasan yang jelas dapat menyebabkan keterlambatan penyaluran kepada mustahik, sehingga tujuan utama zakat fitrah untuk membantu masyarakat menjelang hari raya tidak tercapai secara maksimal.

Waktu yang Tidak Diperbolehkan
Jika zakat fitrah dibayarkan setelah pelaksanaan salat Idulfitri tanpa alasan yang dibenarkan, maka zakat tersebut tidak lagi dihitung sebagai zakat fitrah, melainkan hanya sebagai sedekah biasa. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadis Rasulullah SAW:
"Barang siapa yang menunaikannya sebelum salat Id, maka itu adalah zakat yang diterima. Dan barang siapa yang menunaikannya setelah salat Id, maka itu hanya dianggap sebagai sedekah biasa."
(HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah)

Hadis ini menunjukkan pentingnya memperhatikan waktu pembayaran zakat fitrah agar ibadah tersebut sah dan sesuai dengan ketentuan syariat.

Dengan memahami waktu terbaik untuk membayar zakat fitrah, umat Islam dapat melaksanakan ibadah ini dengan lebih baik dan penuh kesadaran. Zakat fitrah bukan hanya sekadar kewajiban, tetapi juga menjadi sarana untuk memperkuat kepedulian sosial dan solidaritas antar sesama.

Melalui zakat fitrah, umat Islam diajak untuk berbagi kebahagiaan dengan masyarakat yang membutuhkan agar semua orang dapat merasakan keberkahan dan kebahagiaan pada Hari Raya Idulfitri.

Kini, menunaikan zakat fitrah juga semakin mudah dengan adanya layanan digital dari berbagai lembaga zakat terpercaya. Dengan menyalurkan zakat melalui lembaga resmi, muzakki dapat memastikan bahwa zakat yang diberikan akan sampai kepada mustahik secara tepat, aman, dan transparan.

 

Mari tunaikan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Kota Yogyakarta.
Mari salurkan fidyah dan dana sosial keagamaan lainnya secara amanah dan tepat sasaran.
Mari perkuat kepedulian sosial dengan ZIS DSKL BAZNAS Kota Yogyakarta.

Mari bayar fidyah melalui link kantor digital di bawah ini:
https://kotayogya.baznas.go.id/sedekah

atau hubungi Layanan Muzaki BAZNAS Kota Yogyakarta di 0821-4123-2770 untuk informasi dan pendampingan lebih lanjut.

Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id

#BAZNASKotaYogyakarta
#PerbedaanInfakDanShodaqoh
#Infak
#Shodaqoh
#Sedekah
#AmalKebaikan
#BerbagiKebaikan
#YukInfakDanSedekah

editor: Banyu Bening

17/03/2026 | Kontributor: Adilah
Amalan Rasulullah SAW di Sepuluh Hari Terakhir Ramadan

Memasuki sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan, suasana batin umat Islam biasanya mulai terbagi. Di satu sisi, ada kegembiraan menyambut hari kemenangan (Idul Fitri), namun di sisi lain, ada rasa sedih karena bulan suci akan segera berlalu. Bagi Rasulullah SAW, fase akhir Ramadan bukanlah waktu untuk bersantai, melainkan momentum untuk melakukan "akselerasi" ibadah yang lebih kencang dari hari-hari sebelumnya.

 

Rasulullah SAW memberikan contoh nyata tentang bagaimana seorang hamba seharusnya menghargai waktu-waktu emas ini. Beliau tidak hanya sekadar berpuasa, tetapi mengubah total ritme hidupnya demi mengejar rida Allah SWT. Berikut adalah amalan-amalan utama Rasulullah SAW yang patut kita teladani.

1. Menghidupkan Malam dengan Ibadah (Qiyamul Lail)
Dalam sebuah riwayat dari Sayyidah Aisyah RA, diceritakan bahwa Rasulullah SAW tidak pernah sesungguh-sungguh dalam beribadah di waktu lain melebihi kesungguhannya di sepuluh hari terakhir Ramadan. Beliau "menghidupkan malamnya", yang artinya beliau meminimalkan waktu tidur untuk diisi dengan shalat malam, zikir, dan doa.

Bagi kita, menghidupkan malam bisa dimulai dengan konsistensi shalat Tarawih, yang kemudian disambung dengan shalat Tahajud, Witir, dan membaca Al-Qur'an hingga waktu sahur tiba. Tujuannya adalah memastikan bahwa tidak ada satu detik pun di malam-malam mulia tersebut yang terlewat tanpa nilai ibadah.

2. Membangunkan Keluarga untuk Beribadah
Rasulullah SAW adalah sosok pemimpin keluarga yang sangat perhatian pada keselamatan spiritual anggota keluarganya. Beliau tidak ingin beribadah sendirian. Di sepuluh malam terakhir, beliau membangunkan istri-istri dan keluarga untuk ikut serta dalam kebaikan malam tersebut.

Hal ini memberikan pelajaran bahwa kesalehan tidak boleh bersifat individual. Sebagai kepala keluarga atau anggota keluarga, kita diajak untuk saling menyemangati, mengajak anak, istri, atau saudara untuk bangun di sepertiga malam terakhir guna memanjatkan doa bersama.

3. Ber-Itikaf di Masjid
Itikaf adalah amalan yang hampir tidak pernah ditinggalkan oleh Nabi SAW selama sepuluh hari terakhir Ramadan hingga beliau wafat. Beliau mengisolasi diri dari kesibukan duniawi dan menetap di masjid.

Itikaf merupakan cara terbaik untuk melakukan "detoksifikasi hati" dari pengaruh dunia. Dengan berdiam diri di rumah Allah, fokus kita hanya tertuju pada satu titik: hubungan antara hamba dengan Sang Pencipta. Di tengah hiruk-pikuk persiapan Lebaran yang sering menguras energi dan pikiran, itikaf menjadi pelindung agar hati tetap terjaga dalam kekhusyukan.

4. Memperbanyak Sedekah dan Kebaikan
Meskipun Rasulullah SAW dikenal sebagai pribadi yang sangat dermawan, kedermawanan beliau di bulan Ramadan, terutama di penghujungnya, digambarkan seperti "angin yang berembus kencang"—sangat cepat dan sangat luas manfaatnya.

Sepuluh hari terakhir adalah waktu terbaik untuk menunaikan zakat mal, zakat fitrah, maupun sedekah sunnah. Menolong sesama, memberi makan orang miskin, atau membantu fasilitas masjid adalah amalan yang sangat disukai Nabi SAW di fase ini.

5. Mencari Lailatul Qadar dengan Doa Khusus
Motivasi terbesar di balik semua amalan tersebut adalah harapan untuk bertemu dengan Lailatul Qadar. Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk "berburu" malam kemuliaan tersebut di malam-malam ganjil.

Beliau juga mengajarkan satu doa padat makna untuk dibaca berulang-ulang:
“Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni”
(Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan Engkau menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku).

Doa ini menitikberatkan pada permohonan maaf ('afwu), yang maknanya lebih dalam daripada sekadar ampunan (maghfirah), karena 'afwu berarti menghapus dosa hingga tak berbekas sedikit pun.

Mungkin sulit bagi sebagian kita untuk beritikaf penuh selama sepuluh hari karena tuntutan pekerjaan. Namun, kita bisa memodifikasinya dengan cara:

  • Itikaf Parsial: Berniat itikaf setiap kali memasuki masjid untuk shalat berjamaah atau menghadiri kajian malam.
  • Manajemen Tidur: Tidur lebih awal agar bisa bangun lebih segar di sepertiga malam terakhir.
  • Digital Detox: Mengurangi penggunaan media sosial yang tidak perlu agar waktu luang bisa digunakan untuk membaca Al-Qur'an.

Sepuluh hari terakhir Ramadan adalah fase penentuan. Rasulullah SAW telah menunjukkan bahwa akhir Ramadan adalah puncak perjuangan spiritual, bukan titik jenuh. Dengan menghidupkan malam, mengajak keluarga beribadah, dan memperbanyak sedekah, kita sedang berupaya mengakhiri Ramadan sebagai pemenang yang mendapatkan ampunan total.

Semoga kita diberikan kekuatan untuk meneladani spirit ibadah Rasulullah SAW hingga fajar Idul Fitri menyingsing.

 

Mari bayar zakat, infak, dan sedekah online melalui BAZNAS Kota Yogyakarta.
Mari bayar fidyah dan dana sosial keagamaan lainnya secara online dengan penyaluran amanah dan tepat sasaran.
Mari perkuat kepedulian sosial dengan ZIS DSKL BAZNAS Kota Yogyakarta.
Mari bayar fidyah melalui link kantor digital di bawah ini: https://kotayogya.baznas.go.id/sedekah atau hubungi Layanan Muzaki BAZNAS Kota Yogyakarta di 0821-4123-2770 untuk informasi dan pendampingan lebih lanjut.
Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id

#RamadanPenuhBerkah
#AmalanRasulullahRamadan
#PuasaRamadan2026
#BayarZakatJogja
#AmalanUtamaRamadan

editor: Banyu Bening

17/03/2026 | Kontributor: Kifti
BAZNAS Kota Yogyakarta Salurkan Bantuan pada Safari Shubuh Pemerintah Kota Yogyakarta di Masjid Baiturrahman

Yogyakarta – Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Yogyakarta turut berpartisipasi dalam kegiatan Safari Subuh yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Yogyakarta di Masjid Baiturrahman, Wirogunan, Kemantren Mergangsan, Sabtu (14/3/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian program Safari Ramadan Pemerintah Kota Yogyakarta yang bertujuan mempererat silaturahmi antara pemerintah daerah, lembaga, dan masyarakat.

Safari Subuh tersebut dihadiri langsung oleh Wali Kota Yogyakarta bersama para Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Kota Yogyakarta. Selain itu, hadir pula tokoh masyarakat, pengurus masjid, dan jamaah Masjid Baiturrahman yang mengikuti kegiatan dengan penuh khidmat sejak pelaksanaan salat Subuh berjamaah hingga rangkaian acara selesai.

Dalam kesempatan tersebut, Ketua BAZNAS Kota Yogyakarta, Drs. H. Syamsul Azhari, hadir mewakili BAZNAS Kota Yogyakarta dan menyalurkan bantuan kepada Masjid Baiturrahman. Bantuan yang diberikan berupa uang tunai sebesar Rp2.000.000 serta satu kotak perlengkapan P3K. Bantuan ini diberikan sebagai bentuk dukungan terhadap kegiatan kemasjidan serta pelayanan bagi jamaah yang beribadah di masjid.

Ketua BAZNAS Kota Yogyakarta, Drs. H. Syamsul Azhari, menyampaikan bahwa bantuan tersebut merupakan bagian dari komitmen BAZNAS untuk terus hadir di tengah masyarakat dan mendukung kegiatan keagamaan, khususnya di masjid. Menurutnya, masjid memiliki peran penting tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat kegiatan sosial dan pembinaan umat.

“Kami berharap bantuan ini dapat dimanfaatkan dengan baik oleh pengurus masjid untuk mendukung kegiatan ibadah serta pelayanan kepada jamaah, khususnya selama bulan suci Ramadan,” ujarnya.

Sementara itu, Takmir Masjid Baiturrahman menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada BAZNAS Kota Yogyakarta serta Pemerintah Kota Yogyakarta atas perhatian dan bantuan yang diberikan kepada masjid. Bantuan tersebut dinilai sangat membantu dalam menunjang berbagai kegiatan keagamaan yang dilaksanakan di lingkungan masjid.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada BAZNAS Kota Yogyakarta atas bantuan yang diberikan kepada Masjid Baiturrahman. Bantuan ini tentu sangat bermanfaat bagi kami, terutama untuk mendukung kegiatan ibadah serta pelayanan kepada jamaah,” ungkap perwakilan takmir masjid.

Ia juga berharap sinergi antara pemerintah daerah, BAZNAS, dan masyarakat dapat terus terjalin dengan baik sehingga kegiatan keagamaan dan sosial di masyarakat dapat berjalan lebih optimal.

Kegiatan Safari Subuh ini tidak hanya menjadi sarana ibadah bersama, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat hubungan antara pemerintah, lembaga, dan masyarakat. Melalui kegiatan ini, berbagai program sosial dan keagamaan dapat disampaikan secara langsung kepada masyarakat sehingga terbangun komunikasi yang baik dan semangat kebersamaan di tengah masyarakat.

Pada kesempatan tersebut, BAZNAS Kota Yogyakarta juga mengajak masyarakat untuk memanfaatkan momentum Ramadan dengan meningkatkan kepedulian sosial melalui zakat, infak, dan sedekah. Ramadan merupakan waktu yang penuh keberkahan dan menjadi kesempatan terbaik bagi umat Islam untuk berbagi kepada sesama.

BAZNAS Kota Yogyakarta mengajak masyarakat untuk menunaikan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS sebagai lembaga resmi pengelola zakat yang amanah dan terpercaya. Dana yang dihimpun nantinya akan disalurkan kepada para mustahik melalui berbagai program sosial, pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi.

Melalui semangat berbagi di bulan suci Ramadan, BAZNAS Kota Yogyakarta berharap semakin banyak masyarakat yang tergerak untuk menunaikan zakat dan sedekah sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh lebih banyak masyarakat yang membutuhkan serta memperkuat kesejahteraan umat di Kota Yogyakarta.

Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id 

#HartaBerkahJiwaSakinah
#PengelolaZakatTerbaikTerpercaya
#AmanahProfesionalTransparan
#TerimakasihMuzakiDanMustahiq

16/03/2026 | Kontributor: Humas BAZNAS Kota Yogyakarta
BAZNAS Kota Yogyakarta Hadiri Safari Subuh Terakhir Ramadhan 1447 H di Masjid Baitul Hamdi

Yogyakarta – Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Yogyakarta turut berpartisipasi dalam kegiatan Safari Subuh Pemerintah Kota Yogyakarta yang diselenggarakan di Masjid Baitul Hamdi, Muja Muju, Kemantren Umbulharjo, Minggu (15/3/2026). Kegiatan ini menjadi Safari Subuh terakhir yang dilaksanakan oleh Pemerintah Kota Yogyakarta selama bulan suci Ramadhan 1447 H.

Safari Subuh tersebut dihadiri langsung oleh Wali Kota Yogyakarta bersama jajaran Pemerintah Kota Yogyakarta, tokoh masyarakat, pengurus masjid, serta jamaah Masjid Baitul Hamdi. Sejak pelaksanaan salat Subuh berjamaah hingga rangkaian acara selesai, kegiatan berlangsung dengan penuh kekhidmatan dan kebersamaan.

Kehadiran rombongan pemerintah dalam Safari Subuh ini merupakan bagian dari upaya mempererat silaturahmi antara pemerintah daerah dengan masyarakat, sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah selama bulan Ramadhan. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi sarana untuk menyampaikan berbagai program pemerintah kepada masyarakat secara langsung.

Dalam kesempatan tersebut, Ketua BAZNAS Kota Yogyakarta, Drs. H. Syamsul Azhari, turut hadir bersama rombongan Pemerintah Kota Yogyakarta. Pada kesempatan yang sama, BAZNAS Kota Yogyakarta juga menyalurkan bantuan kepada takmir Masjid Baitul Hamdi berupa uang tunai sebesar Rp2.000.000 serta satu box perlengkapan P3K.

Bantuan tersebut diberikan sebagai bentuk dukungan BAZNAS Kota Yogyakarta terhadap kegiatan kemasjidan serta pelayanan bagi jamaah yang beribadah di masjid. Diharapkan bantuan tersebut dapat membantu pengurus masjid dalam menunjang berbagai kegiatan ibadah dan sosial di lingkungan Masjid Baitul Hamdi.

Ketua BAZNAS Kota Yogyakarta, Drs. H. Syamsul Azhari, menyampaikan bahwa masjid memiliki peran penting tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat kegiatan sosial dan pembinaan umat. Oleh karena itu, BAZNAS berkomitmen untuk terus mendukung kegiatan kemasjidan di Kota Yogyakarta.

“Kami berharap bantuan ini dapat dimanfaatkan dengan baik oleh pengurus masjid untuk mendukung kegiatan ibadah dan pelayanan kepada jamaah. Semoga Masjid Baitul Hamdi semakin aktif dalam menjadi pusat kegiatan keagamaan dan sosial bagi masyarakat sekitar,” ujarnya.

Sementara itu, Takmir Masjid Baitul Hamdi menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas perhatian yang diberikan oleh BAZNAS Kota Yogyakarta dan Pemerintah Kota Yogyakarta kepada masjid. Menurutnya, bantuan tersebut sangat membantu pengurus masjid dalam mendukung berbagai kegiatan yang dilaksanakan di masjid.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada BAZNAS Kota Yogyakarta atas bantuan yang diberikan kepada Masjid Baitul Hamdi. Bantuan ini sangat bermanfaat bagi kami untuk menunjang kegiatan kemasjidan dan pelayanan kepada jamaah,” ungkap perwakilan takmir masjid.

Ia juga berharap sinergi antara pemerintah daerah, BAZNAS, dan masyarakat dapat terus terjalin dengan baik sehingga berbagai kegiatan sosial dan keagamaan dapat berjalan lebih optimal serta memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, BAZNAS Kota Yogyakarta juga mengajak masyarakat untuk memanfaatkan momentum bulan suci Ramadhan dengan meningkatkan kepedulian sosial melalui zakat, infak, dan sedekah. Ramadan merupakan waktu yang penuh keberkahan dan menjadi kesempatan terbaik bagi umat Islam untuk berbagi kepada sesama, khususnya kepada masyarakat yang membutuhkan.

BAZNAS Kota Yogyakarta mengajak masyarakat untuk menunaikan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS sebagai lembaga resmi pengelola zakat yang amanah dan terpercaya. Dana zakat yang dihimpun akan disalurkan kepada para mustahik melalui berbagai program sosial, pendidikan, kesehatan, serta pemberdayaan ekonomi.

Melalui semangat berbagi di bulan Ramadhan, BAZNAS Kota Yogyakarta berharap semakin banyak masyarakat yang tergerak untuk menunaikan zakat dan sedekah sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh lebih banyak orang serta turut meningkatkan kesejahteraan umat di Kota Yogyakarta.

Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id 

#HartaBerkahJiwaSakinah
#PengelolaZakatTerbaikTerpercaya
#AmanahProfesionalTransparan
#TerimakasihMuzakiDanMustahiq

16/03/2026 | Kontributor: Humas BAZNAS Kota Yogyakarta
BAZNAS Kota Yogyakarta Rilis Laporan Pengelolaan ZIS DSKL Februari 2026

BAZNAS Kota Yogyakarta kembali merilis laporan pengelolaan dana Zakat, Infak, Sedekah, dan Dana Sosial Keagamaan Lainnya (ZIS DSKL) periode Februari 2026 sebagai bentuk transparansi dan amanah kepada masyarakat.

Pada bulan Februari 2026, total penghimpunan dana ZIS dan DSKL tercatat sebesar Rp524.092.115. Penghimpunan terbesar berasal dari zakat maal perorangan sebesar Rp345.306.948 atau 65,9 persen dari total dana yang terkumpul. Selain itu, terdapat infak dan sedekah tidak terikat sebesar Rp73.118.496 (14%), infak terikat Rp53.290.264 (10,2%), serta dana sosial keagamaan lainnya (DSKL) sebesar Rp51.616.407 (9,8%).

Secara kumulatif hingga Februari 2026, total penghimpunan ZIS dan DSKL telah mencapai Rp1.510.286.838. Angka ini menunjukkan meningkatnya kepercayaan masyarakat untuk menunaikan zakat melalui BAZNAS Kota Yogyakarta.

Pada periode yang sama, penyaluran dana ZIS per program mencapai Rp374.602.413. Penyaluran terbesar disalurkan melalui program Jogja Peduli sebesar Rp256.065.000 (68,4%) yang difokuskan pada bantuan sosial dan kemanusiaan. Selain itu, program Jogja Taqwa menerima Rp60.362.000 (16,1%), Jogja Cerdas sebesar Rp50.675.413 (13,5%), serta program Jogja Sejahtera dan Jogja Sehat untuk mendukung kesejahteraan dan layanan kesehatan masyarakat.

Sementara itu, total penyaluran ZIS dan DSKL pada Februari mencapai Rp475.945.525, dengan penerima manfaat terbesar berasal dari kelompok fakir miskin sebesar 37,1 persen. Hingga akhir Februari 2026, total penyaluran ZIS dan DSKL telah mencapai Rp1.528.131.623.

BAZNAS Kota Yogyakarta menyampaikan terima kasih kepada seluruh muzakki yang telah mempercayakan zakat, infak, dan sedekahnya. InsyaAllah setiap amanah yang dititipkan telah disalurkan kepada para mustahik yang berhak menerima.

Semoga Allah SWT membalas kebaikan para muzakki dengan pahala berlipat, melapangkan rezeki, dan menghadirkan keberkahan bagi kita semua.

Mari terus kuatkan kepedulian untuk menghadirkan lebih banyak manfaat bagi sesama.

2,5% Zakat, 100 Manfaat. Manfaatnya Dunia. Akhirat. 

Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id 

 

#HartaBerkahJiwaSakinah#PengelolaZakatTerbaikTerpercaya
#AmanahProfesionalTransparan
#TerimakasihMuzakiDanMustahiq

12/03/2026 | Kontributor: Humas BAZNAS Kota Yogyakarta

Berita Terbaru

Ramadhan dan Lingkungan: Mengurangi Sampah, Menjaga Bumi
Ramadhan dan Lingkungan: Mengurangi Sampah, Menjaga Bumi
Ramadhan, bulan suci bagi umat Islam di seluruh dunia, merupakan waktu yang penuh berkah, introspeksi diri, dan peningkatan spiritual. Lebih dari sekadar menjalankan ibadah puasa dari fajar hingga senja, Ramadhan mengajak umat Muslim untuk merenungkan segala aspek kehidupan, termasuk hubungan kita dengan lingkungan sekitar. Bulan ini menjadi momentum yang ideal untuk meningkatkan kesadaran dan mengambil tindakan nyata dalam menjaga kelestarian bumi, khususnya dalam mengurangi dampak negatif sampah terhadap lingkungan. Di tengah kesibukan mempersiapkan hidangan berbuka puasa dan berbagai kegiatan keagamaan, seringkali kita kurang menyadari jejak lingkungan yang kita tinggalkan. Peningkatan konsumsi makanan, penggunaan kemasan sekali pakai, dan aktivitas lainnya selama Ramadhan dapat berdampak signifikan pada peningkatan volume sampah dan polusi. Oleh karena itu, memahami pentingnya menjaga lingkungan dalam konteks Ramadhan bukan hanya sekadar tindakan tambahan, melainkan bagian integral dari ibadah dan ketakwaan kita. Bayangkan dampaknya: Setiap tahun, jutaan ton sampah dihasilkan di seluruh dunia, terutama selama periode perayaan keagamaan seperti Ramadhan. Sampah organik yang membusuk menghasilkan gas metana, gas rumah kaca yang berkontribusi pada pemanasan global, sementara sampah plastik membutuhkan waktu ratusan tahun untuk terurai, mencemari tanah dan laut. Lebih jauh lagi, limbah makanan yang dihasilkan selama Ramadhan merupakan pemborosan sumber daya alam yang signifikan, mulai dari air dan energi yang digunakan dalam proses produksi hingga lahan pertanian yang digunakan untuk menanam bahan makanan. Ramadhan, dengan esensinya yang menekankan pada pengendalian diri, kepedulian sosial, dan rasa syukur, menawarkan kesempatan unik untuk merefleksikan pola konsumsi kita dan dampaknya terhadap lingkungan. Bulan ini menjadi panggilan untuk beralih dari gaya hidup konsumtif menuju gaya hidup yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan. Dengan kesadaran dan komitmen yang kuat, kita dapat mengubah Ramadhan menjadi momentum untuk menciptakan perubahan positif yang berdampak luas bagi kelestarian bumi. Artikel ini akan membahas berbagai cara praktis untuk mengurangi sampah dan menjaga lingkungan selama Ramadhan, didukung oleh dalil-dalil agama Islam yang menekankan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem dan melestarikan alam ciptaan Allah SWT. Kita akan mengeksplorasi bagaimana praktik-praktik sederhana dalam kehidupan sehari-hari dapat berkontribusi pada upaya global dalam mengatasi krisis lingkungan. Semoga artikel ini dapat menginspirasi kita semua untuk menjadikan Ramadhan sebagai tonggak perubahan menuju kehidupan yang lebih ramah lingkungan. Ramadhan: Bulan Refleksi dan Perubahan Ramadhan bukan hanya sekadar bulan puasa, tetapi juga bulan yang penuh dengan refleksi dan perubahan. Dalam Al-Qur'an, Allah berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 183) Ayat ini menunjukkan bahwa puasa bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi juga tentang meningkatkan kesadaran spiritual dan sosial. Dalam konteks lingkungan, puasa dapat menjadi pengingat bagi kita untuk lebih menghargai sumber daya alam dan mengurangi konsumsi yang berlebihan. Mengurangi Sampah Selama Ramadhan Pola Makan yang Berkelanjutan Selama Ramadhan, banyak orang cenderung mengonsumsi makanan dalam jumlah yang berlebihan saat berbuka puasa. Hal ini sering kali mengakibatkan pemborosan makanan yang berujung pada peningkatan sampah. Oleh karena itu, penting untuk menerapkan pola makan yang berkelanjutan. Berikut adalah beberapa langkah yang dapat diambil: Merencanakan Menu: Sebelum Ramadhan dimulai, buatlah rencana menu untuk sahur dan berbuka. Dengan merencanakan menu, kita dapat menghindari pembelian makanan yang tidak perlu dan mengurangi limbah makanan. Mengutamakan Makanan Lokal: Memilih makanan lokal dan musiman tidak hanya baik untuk kesehatan, tetapi juga mengurangi jejak karbon yang dihasilkan dari transportasi makanan. Menghindari Makanan Olahan: Makanan olahan sering kali menghasilkan kemasan yang berlebihan. Dengan memilih makanan segar, kita dapat mengurangi jumlah sampah kemasan. Mengurangi Penggunaan Plastik Penggunaan plastik sekali pakai meningkat selama Ramadhan, terutama saat berbuka puasa. Untuk mengurangi penggunaan plastik, kita dapat melakukan hal-hal berikut: Menggunakan Wadah Reusable: Alih-alih menggunakan wadah plastik sekali pakai, gunakan wadah yang dapat digunakan kembali untuk membawa makanan. Membawa Botol Minum Sendiri: Saat berbuka puasa di luar rumah, bawa botol minum sendiri untuk menghindari penggunaan botol plastik sekali pakai. Menghindari Sedotan Plastik: Jika memungkinkan, hindari penggunaan sedotan plastik dan gunakan sedotan yang dapat digunakan kembali. Berbagi Makanan Salah satu tradisi yang umum selama Ramadhan adalah berbagi makanan dengan orang lain. Namun, berbagi makanan juga harus dilakukan dengan bijak untuk menghindari pemborosan. Berikut adalah beberapa cara untuk berbagi makanan secara bertanggung jawab: Membagikan Makanan yang Masih Layak: Jika ada makanan yang tidak terpakai, bagikan kepada tetangga atau orang yang membutuhkan. Ini tidak hanya mengurangi sampah, tetapi juga memperkuat ikatan sosial. Mengadakan Acara Berbuka Bersama: Mengundang teman dan keluarga untuk berbuka puasa bersama dapat mengurangi jumlah makanan yang disiapkan dan menghindari pemborosan. Menjaga Bumi Melalui Ibadah Ibadah yang Ramah Lingkungan Selama Ramadhan, umat Muslim melakukan berbagai ibadah, seperti shalat tarawih dan membaca Al-Qur'an. Kita dapat mengintegrasikan kesadaran lingkungan dalam ibadah kita salah satunya adalah dengan menggunakan sumber cahaya yang hemat energi dimana kita saat melaksanakan shalat tarawih di rumah atau masjid, gunakan lampu LED yang lebih hemat energi. Mengedukasi Masyarakat Ramadhan juga merupakan waktu yang tepat untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan. Beberapa cara untuk melakukan ini adalah: Mengadakan Seminar atau Diskusi: Selenggarakan seminar atau diskusi tentang isu-isu lingkungan di masjid atau komunitas. Membagikan Informasi Melalui Media Sosial: Gunakan platform media sosial untuk menyebarkan informasi tentang cara menjaga lingkungan selama Ramadhan. Dalil yang Mendasari Tindakan Lingkungan Dalam Islam, menjaga lingkungan adalah bagian dari tanggung jawab kita sebagai khalifah di bumi. Allah berfirman dalam Al-Qur'an: "Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi setelah (Allah) memperbaikinya." (QS. Al-A'raf: 56) Ayat ini menegaskan bahwa kita memiliki tanggung jawab untuk menjaga bumi dan tidak merusaknya. Selain itu, Nabi Muhammad SAW juga bersabda: "Jika kiamat telah tiba dan di tangan salah seorang di antara kalian terdapat bibit pohon, maka jika ia mampu menanamnya sebelum kiamat datang, maka hendaklah ia menanamnya." (HR. Ahmad) Hadis ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga lingkungan, bahkan dalam situasi yang paling kritis sekalipun. Kesimpulan Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah dan kesempatan untuk merenungkan tindakan kita terhadap lingkungan. Dengan mengurangi sampah dan menjaga bumi, kita tidak hanya memenuhi tanggung jawab kita sebagai umat Muslim, tetapi juga berkontribusi pada keberlanjutan planet kita. Melalui pola makan yang berkelanjutan, pengurangan penggunaan plastik, dan berbagi makanan, kita dapat membuat perbedaan yang signifikan. Mari kita jadikan Ramadhan sebagai momentum untuk berkomitmen menjaga lingkungan demi generasi mendatang. *Tunaikan zakat, infaq, sedekah melalui Kantor Digital BAZNAS Kota Yogyakarta.https://kotayogya.baznas.go.id/bayarzakat Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id Editor : Ashifuddin Fikri Writer : Ashifuddin Fikri
BERITA09/03/2025 | Ashifuddin Fikri
 Peran Zakat dalam Pertanian Berkelanjutan
 Peran Zakat dalam Pertanian Berkelanjutan
Zakat memiliki peran yang signifikan dalam meningkatkan kesejahteraan petani, terutama dalam konteks pertanian berkelanjutan. Dalam Islam, zakat tidak hanya berfungsi sebagai kewajiban spiritual, tetapi juga sebagai alat untuk menciptakan keadilan sosial dan ekonomi. Petani yang mengeluarkan zakat dari hasil pertanian mereka dapat membantu sesama petani yang kurang beruntung, sehingga menciptakan ekosistem pertanian yang lebih seimbang. Zakat yang dikeluarkan oleh petani dapat digunakan untuk mendukung berbagai program pertanian berkelanjutan, seperti penyediaan bibit unggul, pupuk organik, dan pelatihan teknik pertanian yang ramah lingkungan. Dengan demikian, zakat tidak hanya membantu individu yang membutuhkan, tetapi juga berkontribusi pada peningkatan produktivitas pertanian secara keseluruhan. Hal ini sejalan dengan prinsip Islam yang mendorong umatnya untuk saling membantu dan mendukung. Dalam konteks ini, lembaga zakat dapat berperan aktif dalam mengelola dan mendistribusikan dana zakat untuk program-program yang mendukung pertanian berkelanjutan. Misalnya, dana zakat dapat digunakan untuk membangun infrastruktur pertanian, seperti irigasi dan penyimpanan hasil panen, yang akan meningkatkan hasil pertanian dan kesejahteraan petani. Dengan menunaikan zakat, petani tidak hanya memenuhi kewajiban agama, tetapi juga berkontribusi pada pembangunan masyarakat yang lebih baik. Zakat menjadi jembatan untuk menciptakan kesejahteraan yang merata, sehingga setiap petani dapat menikmati hasil jerih payahnya dan berkontribusi pada ketahanan pangan nasional. Melalui zakat, kita dapat mewujudkan pertanian yang berkelanjutan dan berkeadilan. ===================== *Tunaikan zakat/infaq, melalui Kantor Digital BAZNAS Kota Yogyakarta. https://kotayogya.baznas.go.id/bayarzakat Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id Penulis: Saffanatussa'idiyah Editor: Ummi Kiftiyah
BERITA09/03/2025 | admin
Zakat untuk Penyandang Disabilitas Membangun Kesetaraan dan Keadilan
Zakat untuk Penyandang Disabilitas Membangun Kesetaraan dan Keadilan
Zakat memiliki potensi besar dalam membangun kesetaraan dan keadilan bagi penyandang disabilitas. Dalam banyak masyarakat, penyandang disabilitas sering kali menghadapi tantangan yang lebih besar dalam mengakses pendidikan, pekerjaan, dan layanan kesehatan. Dengan menyalurkan zakat kepada mereka, kita dapat membantu mengurangi kesenjangan ini dan memberikan kesempatan yang lebih baik. Zakat yang diberikan kepada penyandang disabilitas dapat digunakan untuk berbagai keperluan, seperti biaya pendidikan, pelatihan keterampilan, dan dukungan kesehatan. Misalnya, zakat dapat digunakan untuk membiayai kursus keterampilan yang memungkinkan penyandang disabilitas untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. Selain itu, zakat juga dapat digunakan untuk menyediakan alat bantu yang diperlukan, seperti kursi roda atau alat bantu dengar. Lembaga zakat memiliki peran penting dalam memastikan bahwa dana zakat disalurkan dengan tepat kepada penyandang disabilitas. Dengan program-program yang terencana dan transparan, lembaga zakat dapat membantu menciptakan lingkungan yang inklusif dan mendukung bagi penyandang disabilitas. Dengan menunaikan zakat, kita tidak hanya memenuhi kewajiban agama, tetapi juga berkontribusi pada penciptaan masyarakat yang lebih adil dan setara. Zakat menjadi sarana untuk mengangkat martabat penyandang disabilitas dan memberikan mereka kesempatan untuk berpartisipasi secara aktif dalam masyarakat. ===================== *Tunaikan zakat/infaq, melalui Kantor Digital BAZNAS Kota Yogyakarta. https://kotayogya.baznas.go.id/bayarzakat Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id Editor: Ummi Kiftiyah Penulis: Saffanatussa'idiyah
BERITA09/03/2025 | admin
Zakat dan Seni Budaya Menggali Potensi Kreatif Melalui Amal
Zakat dan Seni Budaya Menggali Potensi Kreatif Melalui Amal
Zakat tidak hanya berfungsi sebagai alat untuk membantu mereka yang membutuhkan, tetapi juga dapat berperan dalam pengembangan seni dan budaya. Dalam banyak masyarakat, seniman dan budayawan sering kali menghadapi kesulitan dalam mendapatkan dukungan finansial untuk karya-karya mereka. Dengan menyalurkan zakat untuk seni dan budaya, kita dapat membantu menggali potensi kreatif yang ada di masyarakat. Zakat yang dialokasikan untuk seni dan budaya dapat digunakan untuk mendanai proyek-proyek seni, pelatihan bagi seniman muda, dan penyelenggaraan acara budaya. Misalnya, zakat dapat digunakan untuk mendukung pameran seni, pertunjukan teater, atau festival budaya yang melibatkan masyarakat. Dengan demikian, zakat tidak hanya membantu individu, tetapi juga memperkaya kehidupan budaya masyarakat secara keseluruhan. Lembaga zakat dapat berperan aktif dalam mengidentifikasi dan mendukung proyek-proyek seni yang memiliki dampak positif bagi masyarakat. Dengan pendekatan yang tepat, zakat dapat menjadi sumber daya yang berharga untuk mempromosikan kreativitas dan inovasi dalam seni dan budaya. Dengan menyalurkan zakat untuk seni dan budaya, kita tidak hanya memenuhi kewajiban agama, tetapi juga berkontribusi pada pelestarian dan pengembangan warisan budaya. Zakat menjadi sarana untuk menginspirasi generasi mendatang dan menciptakan masyarakat yang lebih kaya secara budaya. ===================== *Tunaikan zakat/infaq, melalui Kantor Digital BAZNAS Kota Yogyakarta. https://kotayogya.baznas.go.id/bayarzakat Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id Editor: Ummi Kiftiyah Penulis: Saffanatussa'idiyah
BERITA09/03/2025 | admin
Sedekah dalam Pengembangan Ekonomi Mikro
Sedekah dalam Pengembangan Ekonomi Mikro
Pada level mikro, sedekah memiliki dampak langsung terhadap peningkatan kapasitas ekonomi individu dan keluarga. Berikut beberapa peran sedekah dalam ekonomi mikro: 1. Modal Usaha Mikro Salah satu bentuk sedekah produktif adalah memberikan modal usaha bagi masyarakat kurang mampu. Dengan modal tersebut, mereka dapat memulai usaha kecil seperti warung, kios, atau home industry yang dapat menjadi sumber penghasilan berkelanjutan. Program "sedekah modal usaha" telah banyak dikembangkan oleh berbagai lembaga amil zakat dan lembaga filantropi Islam lainnya dengan hasil yang cukup menggembirakan. 2. Pengembangan Keterampilan Sedekah juga dapat dialokasikan untuk program pengembangan keterampilan (skill development) bagi masyarakat kurang mampu. Dengan memiliki keterampilan yang dibutuhkan pasar kerja, mereka memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan pekerjaan dengan upah yang layak atau bahkan membuka usaha sendiri. 3. Pembiayaan Pendidikan Investasi dalam pendidikan merupakan salah satu strategi jangka panjang dalam mengentaskan kemiskinan. Sedekah dapat dialokasikan untuk beasiswa pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Dengan memiliki pendidikan yang baik, mereka memiliki peluang untuk memutus rantai kemiskinan di masa depan. 4. Pemenuhan Kebutuhan Dasar Sebelum seseorang dapat berpikir tentang peningkatan kapasitas ekonomi, kebutuhan dasarnya harus terpenuhi terlebih dahulu. Sedekah dapat dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, tempat tinggal, dan kesehatan bagi masyarakat kurang mampu. Dengan terpenuhinya kebutuhan dasar ini, mereka memiliki landasan yang kuat untuk fokus pada peningkatan kapasitas ekonomi. Kesimpulan Sedekah memiliki potensi besar dalam membangun ekonomi umat dan mengentaskan kemiskinan. Melalui pendekatan yang inovatif dan terintegrasi, sedekah dapat bertransformasi dari sekadar bantuan konsumtif menjadi kekuatan penggerak ekonomi yang berkelanjutan. Sebagai umat Islam, kita perlu mengoptimalkan instrumen keuangan sosial ini untuk mewujudkan kesejahteraan bersama. Ayo bersedekah melalui Kantor Digital BAZNAS Kota Yogyakarta: https://kotayogya.baznas.go.id/sedekah Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id Penulis: Shifa Indri Hudannaya Editor: M. Sahal
BERITA09/03/2025 | AdminS
Golongan yang Dilarang Membayar Fidyah
Golongan yang Dilarang Membayar Fidyah
Golongan yang Dilarang Membayar Fidyah Fidyah adalah suatu bentuk kompensasi yang diberikan oleh seseorang yang tidak dapat menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan karena alasan tertentu, seperti sakit atau hamil. Namun, tidak semua orang berhak menerima fidyah. Dalam artikel ini, kita akan membahas golongan-golongan yang dilarang mendapatkan fidyah. 1. Orang yang Mampu Berpuasa Salah satu golongan yang dilarang mendapatkan fidyah adalah orang-orang yang sebenarnya mampu untuk berpuasa. Jika seseorang tidak berpuasa karena malas atau tidak ingin menjalankan kewajiban, maka ia tidak berhak mendapatkan fidyah. Fidyah ditujukan untuk mereka yang benar-benar tidak mampu, bukan untuk mereka yang hanya enggan. 2. Orang yang Tidak Beriman Golongan lain yang dilarang mendapatkan fidyah adalah mereka yang tidak beriman atau tidak menjalankan ajaran agama Islam. Fidyah merupakan bagian dari ibadah yang harus dilakukan oleh umat Islam. Oleh karena itu, orang yang tidak beriman tidak berhak untuk menerima fidyah. 3. Orang yang Melanggar Syariat Mereka yang melanggar syariat Islam, seperti melakukan perbuatan dosa besar, juga tidak berhak mendapatkan fidyah. Fidyah adalah bentuk ketaatan kepada Allah, dan mereka yang tidak taat tidak layak untuk menerima kompensasi ini. 4. Orang yang Tidak Memiliki Niat Niat adalah salah satu syarat dalam menjalankan ibadah, termasuk dalam hal fidyah. Jika seseorang tidak memiliki niat untuk berpuasa atau tidak berniat untuk memberikan fidyah, maka ia tidak berhak untuk menerimanya. Niat yang tulus sangat penting dalam setiap amal ibadah. 5. Orang yang Mengabaikan Kewajiban Golongan yang mengabaikan kewajiban ibadah, seperti tidak melaksanakan shalat atau tidak berpuasa tanpa alasan yang sah, juga tidak berhak mendapatkan fidyah. Fidyah seharusnya diberikan kepada mereka yang berusaha menjalankan ibadah meskipun dalam keadaan sulit. Penulis: Hubaib Ash Shidqi Editor: Hubaib Ash Shidqi
BERITA09/03/2025 | HUBAIB ASH SHIDQI
Orang-orang yang Dilarang Menerima Fidyah
Orang-orang yang Dilarang Menerima Fidyah
Orang-orang yang Dilarang Menerima Fidyah Fidyah adalah suatu bentuk kompensasi yang diberikan oleh seseorang yang tidak dapat menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan, baik karena alasan kesehatan, usia lanjut, atau sebab lainnya. Namun, tidak semua orang diperbolehkan untuk menerima fidyah. Dalam artikel ini, kita akan membahas siapa saja yang dilarang menerima fidyah dan alasan di baliknya. Siapa yang Dilarang Menerima Fidyah? Orang yang Mampu Berpuasa Mereka yang memiliki kemampuan fisik dan mental untuk berpuasa, tetapi memilih untuk tidak melakukannya tanpa alasan yang sah, tidak diperbolehkan menerima fidyah. Dalam hal ini, fidyah tidak dapat menjadi pengganti puasa yang seharusnya mereka jalankan. Contohnya, seseorang yang sehat dan mampu berpuasa namun memilih untuk tidak berpuasa karena malas, tidak berhak menerima fidyah. Orang yang Tidak Beriman Individu yang tidak beriman atau tidak menjalankan ajaran Islam dengan baik juga dilarang menerima fidyah. Fidyah merupakan bentuk ibadah yang seharusnya dilakukan oleh orang-orang yang beriman dan taat kepada Allah. Penerimaan fidyah terkait erat dengan keyakinan dan kepatuhan terhadap ajaran agama Islam. Orang yang Mampu Membayar Zakat Jika seseorang mampu membayar zakat, maka mereka tidak diperbolehkan untuk menerima fidyah. Zakat adalah kewajiban yang lebih utama dan harus dipenuhi sebelum memikirkan fidyah. Prioritas diberikan kepada kewajiban zakat, yang merupakan rukun Islam. Jika seseorang mampu membayar zakat, maka menerima fidyah dianggap kurang tepat. Orang yang Tidak Memiliki Keluarga (Pendapat Tertentu) Dalam beberapa pandangan, orang yang tidak memiliki keluarga atau tanggungan juga dilarang menerima fidyah. Hal ini karena fidyah seharusnya diberikan kepada mereka yang membutuhkan, dan orang yang tidak memiliki tanggungan dianggap tidak dalam keadaan darurat. Pendapat ini menekankan aspek sosial dan kemanfaatan fidyah bagi mereka yang benar-benar membutuhkan. Namun, pendapat lain mungkin memperbolehkan penerimaan fidyah meskipun tidak memiliki tanggungan, selama memenuhi kriteria lain yang membolehkan penerimaan fidyah. Penulis: Hubaib Ash Shidqi Editor: Hubaib Ash Shidqi
BERITA09/03/2025 | HUBAIB ASH SHIDQI
Fidyah sebagai Bentuk Kepedulian Sosial
Fidyah sebagai Bentuk Kepedulian Sosial
Fidyah sebagai Bentuk Kepedulian Sosial Fidyah merupakan salah satu konsep dalam Islam yang berkaitan dengan kewajiban mengganti puasa bagi mereka yang tidak dapat melaksanakannya. Dalam konteks ini, fidyah bukan hanya sekadar kewajiban, tetapi juga mencerminkan kepedulian sosial yang mendalam dalam masyarakat. Melalui fidyah, umat Islam diajarkan untuk saling membantu dan peduli terhadap sesama, terutama kepada mereka yang kurang mampu. Apa itu Fidyah? Fidyah adalah pembayaran yang dilakukan oleh seseorang yang tidak dapat berpuasa, baik karena sakit yang berkepanjangan, usia lanjut, atau alasan lain yang sah. Pembayaran fidyah biasanya berupa makanan atau bahan makanan yang diberikan kepada orang-orang yang membutuhkan. Dengan demikian, fidyah tidak hanya berfungsi sebagai pengganti puasa, tetapi juga sebagai sarana untuk berbagi rezeki dan membantu mereka yang kurang beruntung. Kepedulian Sosial dalam Fidyah Fidyah sebagai bentuk kepedulian sosial sangat relevan dalam konteks masyarakat saat ini. Dalam banyak kasus, ada individu atau keluarga yang mengalami kesulitan ekonomi dan tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar mereka. Dengan memberikan fidyah, seseorang tidak hanya memenuhi kewajiban agama, tetapi juga berkontribusi dalam mengurangi beban orang lain. Manfaat Fidyah bagi Masyarakat Meningkatkan Solidaritas: Fidyah mendorong umat Islam untuk saling peduli dan membantu satu sama lain. Ini menciptakan rasa solidaritas yang kuat dalam masyarakat. Mengurangi Kemiskinan: Dengan memberikan fidyah kepada mereka yang membutuhkan, kita dapat membantu mengurangi angka kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Membangun Kesadaran Sosial: Fidyah mengajarkan kita untuk lebih peka terhadap kondisi sosial di sekitar kita. Hal ini mendorong individu untuk lebih aktif dalam kegiatan sosial dan amal. Mendekatkan Diri kepada Allah: Melalui fidyah, kita tidak hanya memenuhi kewajiban agama, tetapi juga mendapatkan pahala dari Allah SWT. Ini menjadi motivasi tambahan bagi umat Islam untuk lebih peduli terhadap sesama. Penulis: Hubaib Ash Shidqi Editor: Hubaib Ash Shidqi
BERITA09/03/2025 | HUBAIB ASH SHIDQI
Keutamaan Fidyah dalam Perspektif Al-Qur’an dan Hadis: Telaah Mendalam
Keutamaan Fidyah dalam Perspektif Al-Qur’an dan Hadis: Telaah Mendalam
Fidyah merupakan salah satu bentuk kompensasi yang diperuntukkan bagi mereka yang tidak dapat menjalankan ibadah puasa, baik karena sakit, hamil, menyusui, atau alasan lainnya. Dalam Islam, fidyah memiliki keutamaan yang besar, baik dari segi spiritual maupun sosial. Perspektif Al-Qur’an Dalam Al-Qur'an, fidyah disebutkan dalam Surah Al-Baqarah (2:184-185), yang menekankan pentingnya puasa dan memberikan keringanan bagi mereka yang tidak mampu. Ayat ini menunjukkan bahwa fidyah adalah alternatif yang diperbolehkan untuk menjaga keseimbangan antara kewajiban ibadah dan kondisi individu. Perspektif Hadis Rasulullah SAW juga menekankan pentingnya fidyah dalam beberapa hadis. Dalam sebuah riwayat, beliau bersabda, "Barangsiapa yang tidak mampu berpuasa, maka hendaklah ia memberi makan kepada orang miskin." (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini menegaskan bahwa fidyah adalah cara untuk tetap mendapatkan pahala meskipun tidak dapat menjalankan puasa. Keutamaan Fidyah 1. Pahala Berlipat Ganda Memberikan fidyah kepada orang yang membutuhkan akan mendatangkan pahala yang besar. 2. Menjaga Hubungan Sosial Fidyah memperkuat tali persaudaraan dan kepedulian antar sesama. 3. Keseimbangan Spiritual Dengan membayar fidyah, seseorang tetap dapat merasakan kedekatan dengan Allah meskipun tidak dapat berpuasa. Fidyah bukan hanya sekadar pengganti puasa, tetapi juga merupakan bentuk amal yang memiliki keutamaan besar dalam Islam. Dengan memahami dan melaksanakan fidyah, kita tidak hanya memenuhi kewajiban, tetapi juga berkontribusi pada kesejahteraan masyarakat. Sumber: 1. Al-Qur'an, Surah Al-Baqarah (2:184-185). 2. Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim. 3. Buku "Fidyah dan Kewajiban Puasa" oleh Dr. Ahmad Zainuddin. Penulis: Aulia Anastasya Putri Permana Editor: M. Kausari Kaidani
BERITA09/03/2025 | Aulia Anastasya Putri Permana
Menggali Makna Fidyah dalam Ibadah Puasa Ramadhan
Menggali Makna Fidyah dalam Ibadah Puasa Ramadhan
Fidyah adalah bentuk kompensasi yang diberikan bagi mereka yang tidak dapat menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan, baik karena sakit, hamil, menyusui, atau alasan lainnya. Dalam konteks ibadah puasa, fidyah memiliki makna yang mendalam, mencerminkan nilai-nilai kemanusiaan dan kepedulian sosial dalam Islam. Makna Fidyah Fidyah bukan sekadar pengganti puasa, tetapi juga merupakan bentuk amal yang menunjukkan rasa empati terhadap sesama. Dalam Al-Qur'an, Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah (2:184-185) bahwa bagi yang tidak mampu berpuasa, diperbolehkan untuk memberi makan orang miskin. Ini menunjukkan bahwa fidyah adalah cara untuk tetap terhubung dengan komunitas dan membantu mereka yang membutuhkan. Pahala dan Keberkahan Memberikan fidyah di bulan Ramadan mendatangkan pahala yang besar. Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahala orang tersebut sedikit pun." (HR. Ahmad). Dengan demikian, fidyah menjadi sarana untuk meraih keberkahan di bulan suci ini. Fidyah dalam ibadah puasa Ramadan mengajarkan kita tentang pentingnya kepedulian sosial dan berbagi. Dengan memahami makna fidyah, kita tidak hanya memenuhi kewajiban, tetapi juga berkontribusi pada kesejahteraan masyarakat, menjadikan Ramadan sebagai bulan yang penuh berkah dan kebaikan. Sumber: 1. Al-Qur'an, Surah Al-Baqarah (2:184-185). 2. Hadis Riwayat Ahmad. 3. Buku "Fidyah dan Kewajiban Puasa" oleh Dr. Ahmad Zainuddin. Penulis: Aulia Anastasya Putri Permana Editor: M. Kausari Kaidani
BERITA09/03/2025 | Aulia Anastasya Putri Permana
Fidyah dan Keterbatasan Ekonomi: Menjaga Ibadah di Tengah Kesulitan
Fidyah dan Keterbatasan Ekonomi: Menjaga Ibadah di Tengah Kesulitan
Fidyah adalah bentuk kompensasi yang diberikan bagi mereka yang tidak dapat menjalankan ibadah puasa, terutama di bulan Ramadan. Namun, dalam konteks keterbatasan ekonomi, banyak orang yang merasa kesulitan untuk memenuhi kewajiban ini. Hal ini menimbulkan pertanyaan penting: bagaimana cara menjaga ibadah di tengah kesulitan finansial? Fidyah dalam Islam Dalam Al-Qur'an, Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah (2:184-185) bahwa bagi yang tidak mampu berpuasa, diperbolehkan untuk memberi makan orang miskin sebagai pengganti. Ini menunjukkan bahwa fidyah bukan hanya kewajiban, tetapi juga merupakan bentuk kepedulian sosial. Namun, bagi mereka yang mengalami keterbatasan ekonomi, membayar fidyah bisa menjadi tantangan. Solusi dan Keterbatasan Bagi mereka yang tidak mampu membayar fidyah, Islam memberikan keringanan. Dalam situasi sulit, seseorang dapat mencari alternatif lain, seperti: 1. Memberikan Makanan Secara Langsung Jika tidak mampu membayar fidyah dalam bentuk uang, memberikan makanan kepada orang miskin bisa menjadi solusi. 2. Berkolaborasi dengan Komunitas Menggandeng lembaga sosial atau masjid untuk membantu menyalurkan fidyah bagi yang membutuhkan. 3. Mendapatkan Nasihat Ulama Konsultasi dengan ulama atau tokoh agama untuk mendapatkan panduan yang sesuai dengan kondisi. Fidyah adalah bagian penting dari ibadah puasa, tetapi dalam keterbatasan ekonomi, penting untuk mencari solusi yang sesuai. Dengan memahami prinsip-prinsip Islam dan mencari alternatif, kita tetap dapat menjaga ibadah dan berkontribusi pada kesejahteraan masyarakat. Sumber: 1. Al-Qur'an, Surah Al-Baqarah (2:184-185). 2. Buku "Fidyah dan Kewajiban Puasa" oleh Dr. Ahmad Zainuddin. 3. Artikel "Fidyah dalam Perspektif Ekonomi" di Jurnal Islamika. Penulis: Aulia Anastasya Putri Permana Editor: M. Kausari Kaidani
BERITA09/03/2025 | Aulia Anastasya Putri Permana
Fidyah sebagai Solusi untuk Mengganti Puasa yang Terlewat
Fidyah sebagai Solusi untuk Mengganti Puasa yang Terlewat
Fidyah merupakan salah satu bentuk pengganti bagi umat Muslim yang tidak dapat menjalankan puasa di bulan Ramadhan karena alasan tertentu, seperti sakit, hamil, atau menyusui. Dalam konteks ini, fidyah menjadi solusi yang sangat penting untuk memastikan bahwa kewajiban berpuasa tetap dapat dipenuhi meskipun dalam keadaan yang tidak memungkinkan. Dalam ajaran Islam, puasa adalah salah satu rukun yang sangat ditekankan, dan bagi mereka yang tidak dapat melaksanakannya, fidyah menjadi jalan keluar yang diizinkan. Fidyah diartikan sebagai pembayaran yang dilakukan untuk mengganti puasa yang terlewat. Dalam hal ini, seseorang yang tidak dapat berpuasa diwajibkan untuk memberikan makanan kepada orang miskin atau membayar sejumlah uang yang setara dengan nilai makanan tersebut. Hal ini sesuai dengan prinsip Islam yang mengajarkan tentang kepedulian terhadap sesama, terutama bagi mereka yang kurang beruntung. Dalam Al-Qur'an, Allah SWT berfirman bahwa orang-orang yang tidak mampu berpuasa karena alasan tertentu dapat menggantinya dengan memberi makan orang miskin. Ini menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan kondisi individu dan memberikan solusi yang fleksibel untuk memenuhi kewajiban agama. Penting untuk dicatat bahwa fidyah bukanlah pengganti puasa yang bersifat permanen. Ini adalah solusi sementara yang diberikan kepada mereka yang tidak mampu berpuasa pada waktu tertentu. Dalam hal ini, fidyah menjadi pengingat bagi umat Muslim untuk selalu bersyukur atas nikmat kesehatan dan kesempatan yang diberikan untuk menjalankan ibadah puasa. Dengan memberikan fidyah, seseorang tidak hanya memenuhi kewajiban agama, tetapi juga berkontribusi pada kesejahteraan masyarakat. Ini adalah bentuk amal yang sangat dianjurkan dalam Islam, di mana setiap tindakan kebaikan akan mendapatkan ganjaran dari Allah SWT. Dalam praktiknya, fidyah dapat diberikan dalam bentuk makanan pokok seperti beras, gandum, atau makanan lainnya yang umum dikonsumsi. Jumlah yang diberikan biasanya setara dengan satu mud, yang kira-kira seberat 600 gram. Namun, dalam konteks modern, banyak orang yang memilih untuk memberikan fidyah dalam bentuk uang tunai, yang kemudian digunakan untuk membeli makanan bagi mereka yang membutuhkan. Ini adalah cara yang lebih praktis dan efisien, terutama di era digital saat ini, di mana transaksi keuangan dapat dilakukan dengan mudah melalui aplikasi dan platform online. Fidyah juga mengajarkan kita tentang pentingnya berbagi dan kepedulian sosial. Dalam masyarakat yang semakin individualis, fidyah menjadi pengingat bahwa kita tidak hidup sendiri dan bahwa ada tanggung jawab moral untuk membantu sesama. Dengan memberikan fidyah, kita tidak hanya memenuhi kewajiban agama, tetapi juga berkontribusi pada pengentasan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Ini adalah nilai-nilai yang sangat penting dalam Islam, di mana setiap Muslim diharapkan untuk saling membantu dan mendukung satu sama lain. Dalam konteks ini, fidyah juga dapat menjadi sarana untuk meningkatkan kesadaran sosial di kalangan umat Muslim. Dengan memahami pentingnya fidyah, kita dapat mendorong lebih banyak orang untuk berpartisipasi dalam kegiatan sosial dan amal. Ini adalah langkah kecil yang dapat memberikan dampak besar bagi masyarakat, terutama bagi mereka yang membutuhkan. Misalnya, dengan menggalang dana untuk memberikan fidyah kepada orang-orang yang tidak mampu, kita dapat menciptakan jaringan solidaritas yang kuat di antara umat Muslim. Fidyah juga memiliki dimensi spiritual yang mendalam. Ketika seseorang memberikan fidyah, mereka tidak hanya memenuhi kewajiban agama, tetapi juga membersihkan hati dan jiwa dari sifat egois. Ini adalah bentuk pengorbanan yang menunjukkan bahwa kita peduli terhadap kesejahteraan orang lain. Dalam Islam, tindakan kebaikan seperti ini akan mendatangkan berkah dan rahmat dari Allah SWT. Dengan demikian, fidyah bukan hanya sekadar kewajiban, tetapi juga merupakan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dan meningkatkan kualitas spiritual kita. Selain itu, fidyah juga dapat menjadi alat untuk mendidik generasi muda tentang pentingnya berbagi dan kepedulian sosial. Dengan melibatkan anak-anak dalam proses memberikan fidyah, kita dapat menanamkan nilai-nilai kebaikan dan empati sejak dini. Ini adalah investasi jangka panjang untuk menciptakan masyarakat yang lebih baik di masa depan. Ketika anak-anak melihat orang tua mereka memberikan fidyah, mereka akan belajar bahwa membantu orang lain adalah bagian penting dari kehidupan seorang Muslim. Dalam era digital saat ini, cara kita memberikan fidyah juga telah mengalami perubahan. Banyak lembaga amal dan organisasi sosial yang menyediakan platform online untuk memudahkan umat Muslim dalam memberikan fidyah. Dengan hanya beberapa klik, seseorang dapat mentransfer dana untuk fidyah kepada mereka yang membutuhkan. Ini adalah kemudahan yang tidak hanya menguntungkan pemberi fidyah, tetapi juga penerima, karena mereka dapat segera mendapatkan bantuan yang mereka butuhkan. Selain itu, transparansi dalam pengelolaan dana fidyah juga semakin meningkat, sehingga para pemberi fidyah dapat merasa yakin bahwa sumbangan mereka digunakan dengan baik. Namun, meskipun kemudahan ini ada, penting bagi kita untuk tetap memperhatikan nilai-nilai yang mendasari fidyah. Memberikan fidyah bukan hanya tentang menyelesaikan kewajiban, tetapi juga tentang niat dan keikhlasan dalam membantu sesama. Dalam Islam, niat yang baik akan mendatangkan pahala yang besar. Oleh karena itu, setiap kali kita memberikan fidyah, kita harus melakukannya dengan penuh kesadaran dan keikhlasan, serta berharap agar Allah SWT menerima amal kita. Fidyah juga dapat menjadi pengingat bagi kita untuk lebih bersyukur atas nikmat yang kita miliki. Dalam kehidupan sehari-hari, kita seringkali lupa untuk menghargai kesehatan, waktu, dan kesempatan yang diberikan kepada kita. Dengan memberikan fidyah, kita diingatkan bahwa ada banyak orang di luar sana yang tidak seberuntung kita. Ini adalah kesempatan untuk merenungkan hidup kita dan berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Secara keseluruhan, fidyah adalah solusi yang sangat relevan bagi umat Muslim yang tidak dapat menjalankan puasa. Ini bukan hanya tentang memenuhi kewajiban agama, tetapi juga tentang berbagi dan peduli terhadap sesama. Dengan memberikan fidyah, kita dapat memastikan bahwa kita tetap terhubung dengan nilai-nilai kemanusiaan dan kepedulian sosial yang diajarkan dalam Islam. Fidyah bukan hanya sekadar pengganti puasa, tetapi juga merupakan bentuk amal yang dapat membawa berkah dan rahmat bagi kita dan masyarakat sekitar. Dengan demikian, mari kita jadikan fidyah sebagai bagian dari kehidupan kita, tidak hanya di bulan Ramadhan, tetapi juga sepanjang tahun, sebagai wujud nyata dari kepedulian kita terhadap sesama. ===================== *Tunaikan zakat/infaq, melalui Kantor Digital BAZNAS Kota Yogyakarta.https://kotayogya.baznas.go.id/bayarzakat Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id Editor: Ummi Kiftiyah
BERITA09/03/2025 | Aura Mevlana Putri
Puasa di Era Modern: Nilai Spiritualitas dan Gaya Hidup Sehat
Puasa di Era Modern: Nilai Spiritualitas dan Gaya Hidup Sehat
Dalam beberapa tahun terakhir, puasa tidak lagi semata-mata dipandang sebagai praktik keagamaan. Di tengah tren gaya hidup sehat yang terus berkembang, puasa juga diadopsi sebagai metode kesehatan modern, salah satunya melalui konsep intermittent fasting (IF). Fenomena ini menunjukkan bagaimana tradisi spiritual kini memiliki relevansi baru di era kontemporer, yaitu kesadaran akan kesehatan menjadi prioritas. Puasa dalam Konteks Spiritualitas Puasa seperti yang dijalankan umat Islam saat Ramadan, memiliki dimensi spiritual yang kuat karena menyangkut ibadah yang sifatnya langsung kepada Allah. Namun, menahan lapar, haus, dan hawa nafsu tidak hanya bertujuan melatih fisik, tetapi juga memperkuat kesabaran, empati sosial, dan ketakwaan (Kementerian Agama RI, 2023). Praktik puasa ini sudah berlangsung berabad-abad dan diyakini membawa manfaat spiritual serta sosial bagi individu dan masyarakat. Intermittent Fasting: Puasa dalam Bingkai Kesehatan Modern Di sisi lain, dunia kesehatan mengenal konsep puasa dalam bentuk intermittent fasting, yaitu metode makan dengan jendela waktu terbatas. Salah satu pola yang populer adalah 16:8, yaitu seseorang berpuasa selama 16 jam dan hanya makan selama 8 jam (Patterson & Sears, 2017). IF dipercaya bermanfaat untuk menurunkan berat badan, mengurangi risiko penyakit kronis, dan memperbaiki metabolisme tubuh. Ketika Tradisi dan Tren Bertemu Menariknya, pola makan selama Ramadan secara alami menyerupai intermittent fasting. Umat Islam berpuasa selama sekitar 12-14 jam, diikuti dengan makan sahur dan berbuka dalam waktu terbatas. Hal ini menunjukkan bahwa praktik spiritual tradisional secara tidak langsung selaras dengan pendekatan ilmiah modern tentang kesehatan. Bahkan, penelitian menunjukkan bahwa puasa Ramadan berdampak positif pada berat badan dan profil lipid seseorang (Norouzy et al., 2013). Kesehatan Holistik: Menjaga Fisik dan Mental Kombinasi antara manfaat spiritual dan kesehatan fisik menjadikan puasa sebagai bagian dari gaya hidup sehat yang lebih holistik. Tidak sekadar menjaga pola makan, puasa juga melatih ketahanan mental dan keseimbangan emosional (Alsubheen et al., 2017). Hal ini semakin relevan di era modern yang sarat dengan gaya hidup serba cepat dan konsumtif yang kerap memicu stres. Puasa dan Kesadaran Konsumsi Selain manfaat kesehatan, tren puasa di era modern juga mendorong kesadaran tentang konsumsi yang berlebihan. Ketika seseorang berpuasa, ia dilatih untuk mengelola nafsu makan serta belajar mensyukuri makanan yang tersedia. Dalam konteks krisis lingkungan global dan ancaman food waste, praktik puasa yang bijak dapat menjadi bentuk kontribusi nyata dalam menciptakan gaya hidup berkelanjutan (UNEP, 2023). Tantangan dan Peluang Meski begitu, modernisasi puasa juga menghadirkan tantangan. Ketika puasa dipandang semata-mata sebagai alat diet atau tren kesehatan, esensi spiritualitasnya berisiko tereduksi. Oleh karena itu, penting menjaga keseimbangan antara niat spiritual dan manfaat fisik, agar puasa tetap menjadi praktik yang bermakna secara holistik. Puasa di era modern bukan lagi sekadar ibadah atau strategi diet, melainkan sebuah praktik multidimensional yang menyatukan spiritualitas, kesehatan, dan kesadaran sosial. Dengan memadukan ilmu pengetahuan dan nilai-nilai spiritual, puasa berpotensi menjadi solusi gaya hidup sehat yang tidak hanya bermanfaat bagi tubuh, tetapi juga bagi jiwa dan lingkungan sekitar. *Tunaikan zakat, infaq, sedekah melalui Kantor Digital BAZNAS Kota Yogyakarta.https://kotayogya.baznas.go.id/bayarzakat Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id Editor : Ashifuddin Fikri Writer : Nur Isnaini Masyithoh
BERITA08/03/2025 | Nur Isnaini Masyithoh
Krisis Kemanusiaan di Gaza Menuju Titik Kritis
Krisis Kemanusiaan di Gaza Menuju Titik Kritis
Hingga awal Maret 2025, kondisi di Gaza terus memburuk di tengah eskalasi militer Israel yang tak kunjung mereda. Serangan udara, artileri, dan operasi darat yang dilancarkan sejak Oktober 2023 telah menghancurkan sebagian besar infrastruktur vital Gaza, termasuk rumah sakit, sekolah, pusat distribusi bantuan, dan jaringan listrik. Gaza kini benar-benar terisolasi, menjadikannya salah satu krisis kemanusiaan terburuk abad ini. Korban Jiwa dan Luka Berdasarkan laporan terbaru dari Kantor PBB untuk Koordinasi Kemanusiaan (OCHA), lebih dari 37.000 warga Palestina telah meninggal dunia, termasuk lebih dari 14.000 anak-anak. Jumlah korban luka mencapai lebih dari 82.000 orang, banyak di antaranya mengalami amputasi akibat keterlambatan penanganan medis. Sistem kesehatan Gaza telah kolaps total, dengan lebih dari 70 persen fasilitas medis hancur atau tidak berfungsi akibat serangan dan kekurangan pasokan (UN OCHA, 2025). Blokade Total dan Krisis Pangan Israel memperketat blokade darat, laut, dan udara, yang membuat pasokan makanan, obat-obatan, bahan bakar, dan air bersih nyaris terputus. Hingga Maret 2025, lebih dari 2 juta warga Gaza menghadapi kelaparan akut, dan laporan dari World Food Programme (WFP) menyebutkan bahwa sebagian keluarga kini hanya makan satu kali sehari dengan porsi sangat minim (WFP, 2025). Harga bahan pokok melonjak drastis, sementara sumber air bersih telah tercemar, memperburuk krisis kesehatan masyarakat. Pengungsian Massal dan Kehidupan di Kamp Darurat Lebih dari 1,8 juta warga Gaza—hampir seluruh populasi—telah kehilangan tempat tinggal dan hidup di kamp-kamp pengungsian yang sangat padat dan tidak layak huni. Tenda-tenda darurat membludak, fasilitas sanitasi rusak, dan penyakit menular seperti diare akut, hepatitis, serta infeksi pernapasan merebak luas (WHO, 2025). Anak-anak tidak mendapatkan pendidikan layak karena sekolah-sekolah hancur atau dijadikan tempat perlindungan. Diplomasi Mandek dan Ketidakpastian Masa Depan Upaya diplomasi internasional hingga Maret 2025 masih gagal mencapai titik temu yang berarti. Resolusi gencatan senjata yang diajukan di Dewan Keamanan PBB berkali-kali diveto, terutama akibat ketegangan geopolitik antara kekuatan besar dunia. Mesir dan Qatar terus memfasilitasi negosiasi antara Israel dan Hamas, tetapi belum menghasilkan kesepakatan yang dapat menghentikan perang (BBC News, 2025). Gaza Menuju Bencana Kemanusiaan Total Gaza, yang sejak lama digambarkan sebagai penjara terbuka terbesar di dunia, kini mendekati status wilayah yang tidak layak huni. Dengan kehancuran infrastruktur, hilangnya akses kebutuhan dasar, serta angka kematian yang terus meningkat, komunitas internasional menghadapi ujian moral untuk bertindak lebih tegas demi menghentikan tragedi kemanusiaan di Gaza. Kota Gaza yang telah lumpuh ini membutuhkan dana besar untuk membangunnya kembali. Bantuan kemanusiaan, pembangunan kembali, dan pemantauan terhadap kondisi Gaza harus terus dilakukan. Bantuan untuk Gaza, Palestina dapat disalurkan melalui Baznas Kota Yogyakarta. *Tunaikan zakat, infaq, sedekah melalui Kantor Digital BAZNAS Kota Yogyakarta.https://kotayogya.baznas.go.id/bayarzakat Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id Editor : Ashifuddin Fikri Writer : Nur Isnaini Masyithoh
BERITA08/03/2025 | Nur Isnaini Masyithoh
Ramadhan dan Pendidikan: Menanamkan Nilai-Nilai Luhur pada Anak
Ramadhan dan Pendidikan: Menanamkan Nilai-Nilai Luhur pada Anak
Bulan Ramadhan, bagi umat Muslim, bukanlah sekadar periode puasa wajib yang ditandai dengan menahan lapar dan dahaga dari terbit hingga terbenamnya matahari. Ia merupakan momentum spiritual yang kaya makna, sebuah kesempatan unik untuk introspeksi diri, penyucian jiwa, dan penguatan ikatan sosial. Lebih dari itu, Ramadhan menawarkan jendela kesempatan emas bagi orang tua dan pendidik untuk menanamkan nilai-nilai luhur pada anak-anak, membentuk karakter mereka, dan mempersiapkan mereka untuk menjadi individu yang beriman, berakhlak mulia, dan berkontribusi positif bagi masyarakat. Dalam hiruk-pikuk kehidupan modern yang serba cepat dan cenderung mengikis nilai-nilai moral, Ramadhan hadir sebagai oase penyegaran, menawarkan ruang kontemplatif untuk merenungkan esensi kehidupan dan membangun pondasi moral yang kokoh pada generasi penerus. Proses pendidikan selama Ramadhan tidak hanya berfokus pada aspek ritual ibadah semata, tetapi juga menekankan pada internalisasi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, sehingga tercipta perubahan perilaku yang berkelanjutan dan terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari anak. Penting untuk dipahami bahwa pendidikan nilai-nilai luhur selama Ramadhan bukanlah sekadar pengajaran teoritis, melainkan proses pembentukan karakter yang holistik, melibatkan praktik, teladan, dan pengalaman langsung yang bermakna bagi anak. Artikel ini akan mengupas tuntas bagaimana Ramadhan dapat dimanfaatkan secara optimal sebagai wahana pendidikan karakter, menjelaskan nilai-nilai penting yang dapat ditanamkan, serta memberikan panduan praktis bagi orang tua dan pendidik dalam mengimplementasikannya. Dengan pemahaman yang komprehensif, diharapkan Ramadhan dapat menjadi periode transformatif, membentuk generasi muda yang berakhlak mulia dan berdaya guna bagi agama, bangsa, dan kemanusiaan. Lebih dari sekadar menjalankan ibadah puasa, Ramadhan menjadi ladang amal yang subur untuk menumbuhkan benih-benih kebaikan dalam diri anak-anak, yang kelak akan berbuah manis di masa depan. Proses ini membutuhkan kesabaran, konsistensi, dan kerjasama antara orang tua, pendidik, dan lingkungan sekitar. Menanamkan Nilai-Nilai Luhur pada Anak Nilai Keimanan dan Ketaqwaan Ramadhan merupakan waktu yang tepat untuk memperkuat keimanan dan ketaqwaan anak kepada Allah SWT. Puasa, sebagai salah satu rukun Islam, mengajarkan anak untuk mengendalikan hawa nafsu dan meningkatkan kesadaran akan kehadiran Allah dalam setiap aspek kehidupan. Selain menjalankan ibadah puasa, orang tua dapat mengajak anak-anak untuk lebih rajin membaca Al-Qur'an, memahami maknanya, dan mengamalkan ajaran-ajarannya dalam kehidupan sehari-hari. Shalat Tarawih berjamaah di masjid atau mushola juga dapat menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dan merasakan kebersamaan dalam ibadah. Penjelasan tentang kisah-kisah para nabi dan sahabat yang saleh, seperti kisah Nabi Yusuf AS yang sabar menghadapi fitnah atau kisah Nabi Musa AS yang teguh dalam menghadapi Fir'aun, dapat menginspirasi anak untuk meneladani akhlak dan ketaqwaan mereka. Penting untuk menanamkan pemahaman bahwa keimanan bukan hanya sekadar ritual, tetapi juga manifestasi dalam perilaku sehari-hari, seperti kejujuran, kasih sayang, dan keadilan. Ayat Al-Qur'an seperti QS. Al-Baqarah: 183 ("Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.") menjadi landasan penting dalam memahami tujuan puasa dan menanamkan nilai ketaqwaan pada anak. Mengaitkan kisah-kisah dalam Al-Qur'an dengan situasi kehidupan anak sehari-hari akan membuat pemahaman mereka lebih konkret dan bermakna. Misalnya, mengaitkan kisah Nabi Yusuf dengan pentingnya kejujuran dalam menghadapi godaan. Nilai Disiplin dan Pengendalian Diri Puasa mengajarkan anak-anak tentang pentingnya disiplin dan pengendalian diri. Mereka belajar untuk menahan hawa nafsu, baik itu lapar, dahaga, maupun emosi negatif. Kemampuan untuk mengendalikan diri ini sangat penting dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari belajar, bekerja, hingga berinteraksi sosial. Orang tua dapat mengajarkan anak-anak untuk membuat jadwal kegiatan sehari-hari selama Ramadhan, termasuk waktu untuk ibadah, belajar, bermain, dan beristirahat. Dengan demikian, anak-anak belajar untuk menghargai waktu dan mengatur prioritas kegiatan mereka. Selain itu, orang tua juga dapat memberikan contoh nyata tentang disiplin diri, seperti menjaga kesabaran dan tidak mudah marah meskipun dalam kondisi lapar dan haus. Nilai disiplin ini tidak hanya terbatas pada bulan Ramadhan, tetapi perlu diterapkan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari. Contoh konkretnya, orang tua dapat melibatkan anak dalam merencanakan menu berbuka puasa, mengajarkan mereka untuk mengelola waktu belajar agar tidak terganggu oleh rasa lapar, atau mengajak mereka untuk berlatih menahan emosi ketika menghadapi situasi yang menantang. Hal ini akan mengajarkan mereka bagaimana mengelola emosi dan keinginan mereka dengan bijak. Nilai Empati dan Kepedulian Sosial Ramadhan mendorong peningkatan empati dan kepedulian sosial. Dengan merasakan sendiri bagaimana rasanya lapar dan dahaga, anak-anak akan lebih mudah memahami penderitaan orang lain yang kurang beruntung. Kegiatan berbagi makanan (berbuka puasa bersama) dan bersedekah menjadi sarana untuk menumbuhkan rasa empati dan kepedulian terhadap sesama. Orang tua dapat mengajak anak-anak untuk berpartisipasi dalam kegiatan sosial, seperti mengunjungi panti asuhan, membagikan makanan kepada fakir miskin, atau membantu tetangga yang membutuhkan. Melalui pengalaman langsung ini, anak-anak akan belajar untuk menghargai apa yang mereka miliki dan berbagi dengan orang lain. Ayat Al-Qur'an seperti QS. Al-Ma'un (107) yang mengisahkan orang-orang yang mengingkari hari pembalasan dan tidak mau memberi makan orang miskin dapat menjadi pengingat penting tentang nilai kepedulian sosial. Lebih dari sekadar memberikan sedekah, orang tua dapat mengajak anak untuk terlibat aktif dalam prosesnya, misalnya dengan membantu menyiapkan makanan untuk dibagikan atau berpartisipasi dalam kegiatan amal lainnya. Hal ini akan menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kepedulian yang lebih mendalam. Nilai Tanggung Jawab dan Akunabilitas Ramadhan mengajarkan anak-anak tentang tanggung jawab dan akuntabilitas atas tindakan mereka. Mereka belajar bahwa setiap perbuatan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Orang tua dapat mengajarkan anak-anak untuk bertanggung jawab atas tugas-tugas mereka, baik di sekolah maupun di rumah. Mereka juga perlu diajarkan untuk jujur, bertanggung jawab atas kesalahan mereka, dan berusaha untuk memperbaiki diri. Nilai tanggung jawab ini penting untuk membentuk karakter yang kuat dan bertanggung jawab di masa depan. Hadits Nabi Muhammad SAW yang menekankan pentingnya tanggung jawab individu atas perbuatannya menjadi pedoman penting dalam menanamkan nilai ini pada anak. Contohnya, orang tua dapat memberikan tugas-tugas kecil kepada anak selama Ramadhan, seperti membantu menyiapkan makanan berbuka atau membersihkan rumah. Dengan menyelesaikan tugas-tugas tersebut, anak akan belajar bertanggung jawab atas apa yang telah mereka lakukan. Penting juga untuk mengajarkan mereka untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf jika mereka melakukan sesuatu yang salah. Nilai Kesabaran dan Keikhlasan Puasa mengajarkan anak-anak tentang pentingnya kesabaran dan keikhlasan. Mereka belajar untuk menahan diri dari hal-hal yang disukai demi mencapai tujuan yang lebih besar, yaitu meraih ridho Allah SWT. Kesabaran dan keikhlasan juga penting dalam menghadapi berbagai tantangan dan cobaan dalam kehidupan. Orang tua dapat memberikan contoh nyata tentang kesabaran dan keikhlasan, seperti menghadapi kesulitan dengan tenang dan tidak mudah menyerah. Mereka juga dapat mengajarkan anak-anak untuk berbuat baik tanpa mengharapkan imbalan. Nilai-nilai ini akan membantu anak-anak untuk menghadapi kehidupan dengan lebih bijak dan tenang. Contohnya, orang tua dapat mengajarkan anak untuk bersabar ketika menghadapi godaan untuk makan atau minum di siang hari selama puasa. Mereka juga dapat mengajarkan anak untuk berbuat baik tanpa mengharapkan pujian atau imbalan. Mengaitkan nilai kesabaran dan keikhlasan dengan kisah-kisah inspiratif dari Al-Qur'an dan hadits akan memperkuat pemahaman dan internalisasi nilai-nilai tersebut. Implementasi Pendidikan Nilai-Nilai Luhur Selama Ramadhan Pendidikan nilai-nilai luhur selama Ramadhan tidak cukup hanya dengan ceramah atau nasihat. Implementasinya membutuhkan pendekatan yang holistik dan kreatif, melibatkan berbagai metode pembelajaran yang sesuai dengan usia dan perkembangan anak. Berikut beberapa contoh implementasi yang dapat dilakukan: Menggunakan metode storytelling: Ceritakan kisah-kisah inspiratif dari Al-Qur'an dan hadits yang relevan dengan nilai-nilai yang ingin ditanamkan. Gunakan bahasa yang mudah dipahami anak dan visualisasi yang menarik. Membuat jadwal kegiatan Ramadhan: Libatkan anak dalam membuat jadwal kegiatan sehari-hari selama Ramadhan, termasuk waktu untuk ibadah, belajar, bermain, dan beristirahat. Hal ini akan mengajarkan mereka tentang manajemen waktu dan disiplin diri. Mengajarkan anak untuk bersedekah: Ajarkan anak untuk bersedekah, baik berupa uang maupun barang, sesuai dengan kemampuan mereka. Hal ini akan menumbuhkan rasa berbagi dan kepedulian terhadap sesama. Kesimpulan Ramadhan merupakan momentum yang sangat berharga untuk menanamkan nilai-nilai luhur pada anak. Proses ini membutuhkan kesabaran, konsistensi, dan kerjasama antara orang tua, pendidik, dan lingkungan sekitar. Pendidikan nilai-nilai luhur selama Ramadhan bukanlah kegiatan yang hanya dilakukan selama satu bulan, tetapi harus diintegrasikan ke dalam kehidupan sehari-hari anak. Konsistensi dalam menanamkan nilai-nilai tersebut akan membentuk karakter anak yang kuat, beriman, berakhlak mulia, dan berkontribusi positif bagi masyarakat. Dengan demikian, Ramadhan tidak hanya menjadi momen spiritual bagi individu, tetapi juga menjadi wahana pendidikan karakter yang efektif untuk membentuk generasi penerus bangsa yang unggul dan berdaya guna. Penting untuk diingat bahwa setiap anak memiliki karakter dan kecepatan belajar yang berbeda, sehingga pendekatan yang fleksibel dan disesuaikan dengan kebutuhan individu sangatlah penting. Keberhasilan menanamkan nilai-nilai luhur pada anak selama Ramadhan dan seterusnya bergantung pada komitmen dan kerjasama yang kuat dari semua pihak yang terlibat dalam proses pendidikannya. *Tunaikan zakat, infaq, sedekah melalui Kantor Digital BAZNAS Kota Yogyakarta.https://kotayogya.baznas.go.id/bayarzakat Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id Editor : Ashifuddin Fikri Writer : Ashifuddin Fikri
BERITA08/03/2025 | Ashifuddin Fikri
Fidyah di Era Modern: Relevansi dan Implementasinya
Fidyah di Era Modern: Relevansi dan Implementasinya
Fidyah, sebagai tebusan bagi kewajiban puasa yang ditinggalkan, memiliki relevansi yang signifikan di era modern. Dalam konteks kehidupan yang semakin kompleks, banyak individu menghadapi tantangan kesehatan, pekerjaan, dan tanggung jawab keluarga yang dapat menghalangi mereka untuk menjalankan ibadah puasa. Oleh karena itu, pemahaman dan implementasi fidyah menjadi penting untuk memastikan bahwa kewajiban agama tetap dapat dipenuhi meskipun dalam kondisi yang sulit. Di era modern, fidyah tidak hanya dipahami sebagai pemberian makanan kepada fakir miskin, tetapi juga dapat diimplementasikan melalui donasi uang yang setara dengan nilai makanan pokok. Hal ini memudahkan individu untuk memenuhi kewajiban mereka, terutama di daerah perkotaan di mana akses ke makanan mungkin terbatas. Selain itu, banyak lembaga amal dan organisasi sosial yang menyediakan platform untuk pembayaran fidyah secara online, sehingga memudahkan umat Islam untuk melaksanakan kewajiban ini dengan cepat dan efisien. Relevansi fidyah juga terlihat dalam konteks solidaritas sosial. Dengan membayar fidyah, individu tidak hanya menebus puasa yang ditinggalkan, tetapi juga berkontribusi pada kesejahteraan masyarakat. Ini menciptakan rasa kepedulian dan tanggung jawab sosial yang lebih besar di kalangan umat Islam, terutama di tengah tantangan ekonomi yang dihadapi banyak orang saat ini. Sumber: 1. Al-Quran, Surah Al-Baqarah, Ayat 184. 2. Hadis-hadis terkait fidyah dan puasa. 3. Artikel dan penelitian tentang fidyah dalam konteks sosial modern. Penulis: Aulia Anastasya Putri Permana Editor: M. Kausari Kaidani
BERITA08/03/2025 | Aulia Anastasya Putri Permana
Urgensi Pembayaran Fidyah di Ramadhan: Menjaga Keseimbangan Ibadah dan Kesehatan
Urgensi Pembayaran Fidyah di Ramadhan: Menjaga Keseimbangan Ibadah dan Kesehatan
Pembayaran fidyah di bulan Ramadhan memiliki urgensi yang sangat penting, terutama bagi mereka yang tidak dapat menjalankan puasa karena alasan kesehatan atau kondisi tertentu. Fidyah, sebagai tebusan, memberikan solusi bagi individu yang tidak mampu berpuasa, seperti orang sakit, lanjut usia, atau wanita hamil dan menyusui. Dengan membayar fidyah, mereka tetap dapat memenuhi kewajiban agama tanpa mengorbankan kesehatan mereka. Di era modern, di mana kesadaran akan kesehatan semakin meningkat, fidyah menjadi sarana untuk menjaga keseimbangan antara ibadah dan kesehatan. Pembayaran fidyah tidak hanya membantu individu menebus puasa yang ditinggalkan, tetapi juga berkontribusi pada kesejahteraan masyarakat dengan memberikan makanan kepada yang membutuhkan. Ini menciptakan rasa solidaritas dan kepedulian sosial di kalangan umat Islam. Implementasi fidyah yang mudah, seperti melalui donasi online, memudahkan umat untuk melaksanakan kewajiban ini. Dengan demikian, fidyah tidak hanya menjadi kewajiban, tetapi juga kesempatan untuk berbagi dan berkontribusi pada kebaikan di bulan suci Ramadhan. Sumber: 1. Al-Quran, Surah Al-Baqarah, Ayat 184. 2. Hadis-hadis terkait fidyah dan puasa. 3. Artikel dan penelitian tentang fidyah dalam konteks kesehatan dan sosial. Penulis: Aulia Anastasya Putri Permana Editor: M. Kausari Kaidani
BERITA08/03/2025 | Aulia Anastasya Putri Permana
Fidyah dalam Sejarah Islam: Teladan Nabi Muhammad SAW untuk Umat di Masa Kini
Fidyah dalam Sejarah Islam: Teladan Nabi Muhammad SAW untuk Umat di Masa Kini
Fidyah, sebagai tebusan bagi kewajiban puasa yang ditinggalkan, memiliki akar yang kuat dalam sejarah Islam, terutama pada masa Nabi Muhammad SAW. Dalam konteks ini, fidyah diperkenalkan sebagai solusi bagi mereka yang tidak mampu berpuasa karena alasan kesehatan, usia lanjut, atau kondisi tertentu. Nabi Muhammad SAW memberikan teladan yang jelas mengenai pentingnya fidyah, mengajarkan umat untuk tidak mengabaikan kewajiban ibadah meskipun dalam keadaan sulit. Salah satu kisah yang terkenal adalah ketika seorang sahabat bertanya kepada Nabi tentang orang yang tidak mampu berpuasa. Nabi menjawab bahwa mereka dapat membayar fidyah dengan memberi makan orang miskin. Ini menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan kesejahteraan individu dan masyarakat. Dalam hadis riwayat Ibn Abbas, Nabi bersabda, "Fidyah adalah memberi makan seorang miskin untuk setiap hari yang ditinggalkan.” Teladan Nabi Muhammad dalam menerapkan fidyah mengajarkan umat Islam di masa kini untuk menjaga keseimbangan antara ibadah dan kesehatan. Dengan memahami dan melaksanakan fidyah, umat dapat tetap berkontribusi pada kesejahteraan sosial, menciptakan solidaritas di antara sesama, dan memastikan bahwa kewajiban agama tetap terpenuhi. Sumber: 1. Al-Quran, Surah Al-Baqarah, Ayat 184. 2. Hadis riwayat Ibn Abbas tentang fidyah. 3. Buku-buku sejarah Islam yang membahas praktik fidyah pada masa Nabi Muhammad SAW. Penulis: Aulia Anastasya Putri Permana Editor: M. Kausari Kaidani
BERITA08/03/2025 | Aulia Anastasya Putri Permana
Fidyah Puasa: Solusi bagi yang Tidak Mampu Berpuasa – Syarat, Ketentuan, dan Tata Cara
Fidyah Puasa: Solusi bagi yang Tidak Mampu Berpuasa – Syarat, Ketentuan, dan Tata Cara
Fidyah adalah bentuk kompensasi yang diberikan oleh seseorang yang tidak mampu menjalankan ibadah puasa, baik karena sakit, usia lanjut, atau alasan lainnya. Dalam Islam, fidyah menjadi solusi bagi mereka yang tidak dapat berpuasa di bulan Ramadan, sehingga tetap dapat memenuhi kewajiban agama. Syarat dan Ketentuan Fidyah 1. Kondisi Tidak Mampu Fidyah hanya diwajibkan bagi mereka yang tidak mampu berpuasa secara permanen atau temporer. Misalnya, orang tua yang sudah lanjut usia atau penderita penyakit kronis. 2. Jumlah Fidyah Fidyah yang dibayarkan setara dengan memberi makan satu orang miskin untuk setiap hari puasa yang ditinggalkan. Biasanya, ini setara dengan 1,5 kg makanan pokok (seperti beras) per hari. Tata Cara Pembayaran Fidyah 1. Menentukan Jumlah Hari Hitung jumlah hari puasa yang tidak dapat dilaksanakan. 2. Memberikan Makanan Fidyah dapat dibayarkan dengan memberikan makanan langsung kepada orang miskin atau dengan memberikan uang yang setara dengan nilai makanan tersebut. 3. Waktu Pembayaran Fidyah sebaiknya dibayarkan sebelum Idul Fitri, namun bisa juga dilakukan setelah Ramadan. Dengan membayar fidyah, seseorang tetap dapat menjalankan kewajiban agama meskipun tidak dapat berpuasa. Ini menunjukkan kasih sayang dan kepedulian terhadap sesama. Sumber: 1. Al-Qur'an, Surah Al-Baqarah (2:184-185). 2. Hadis Nabi Muhammad SAW mengenai fidyah. 3. Buku Fiqh Puasa oleh para ulama. Penulis: Aulia Anastasya Putri Permana Editor: M. Kausari Kaidani
BERITA08/03/2025 | Aulia Anastasya Putri Permana
Fidyah di Era Digital: Menyikapi Pembayaran Fidyah Melalui Media Online
Fidyah di Era Digital: Menyikapi Pembayaran Fidyah Melalui Media Online
Di era digital saat ini, pembayaran fidyah semakin mudah dilakukan melalui berbagai platform online. Fidyah, yang merupakan kompensasi bagi mereka yang tidak mampu berpuasa, kini dapat dibayarkan dengan cepat dan efisien melalui aplikasi dan situs web. Hal ini memberikan kemudahan bagi umat Islam untuk memenuhi kewajiban mereka tanpa harus menghadapi kesulitan dalam proses pembayaran. Keabsahan Pembayaran Fidyah Secara Online Pembayaran fidyah secara online dianggap sah selama memenuhi syarat dan ketentuan yang ditetapkan dalam Islam. Umat Islam dapat menggunakan platform yang terpercaya dan memiliki reputasi baik dalam menyalurkan fidyah kepada yang berhak, seperti lembaga zakat atau organisasi sosial. Penting untuk memastikan bahwa fidyah yang dibayarkan benar-benar sampai kepada orang miskin atau yang membutuhkan. Manfaat Pembayaran Fidyah Secara Online 1. Kemudahan Akses Umat Islam dapat membayar fidyah kapan saja dan di mana saja tanpa harus mengunjungi lokasi fisik. 2. Transparansi Banyak platform online menyediakan laporan dan bukti pembayaran, sehingga memberikan kejelasan tentang penyaluran fidyah. 3. Efisiensi Waktu Proses pembayaran yang cepat dan mudah mengurangi waktu yang diperlukan untuk memenuhi kewajiban ini. Dengan memanfaatkan teknologi, umat Islam dapat lebih mudah menjalankan ibadah dan memenuhi tanggung jawab sosial mereka. Sumber: 1. Al-Qur'an, Surah Al-Baqarah (2:184-185). 2. Fatwa MUI tentang pembayaran zakat dan fidyah secara online. 3. Artikel dan penelitian mengenai penggunaan teknologi dalam ibadah Islam. Penulis: Aulia Anastasya Putri Permana Editor: M. Kausari Kaidani
BERITA08/03/2025 | Aulia Anastasya Putri Permana
Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kota Yogyakarta.

Lihat Daftar Rekening →