Berita Terbaru
Fidyah Puasa: Kapan dan Bagaimana Cara Menunaikannya?
Fidyah Puasa: Kapan dan Bagaimana Cara Menunaikannya?
Fidyah adalah kompensasi yang harus dibayarkan oleh seorang Muslim yang tidak mampu menjalankan ibadah puasa Ramadhan karena alasan tertentu, seperti usia lanjut atau penyakit kronis. Fidyah biasanya berupa pemberian makanan kepada fakir miskin sebagai pengganti puasa yang ditinggalkan.
Kapan Fidyah Harus Dibayarkan?
Fidyah dapat dibayarkan pada waktu berikut:
Selama Bulan Ramadhan – Jika seseorang sudah mengetahui bahwa ia tidak akan mampu berpuasa, fidyah dapat dibayarkan langsung pada hari tersebut.
Setelah Ramadhan – Bagi yang tidak mampu berpuasa sepanjang bulan Ramadhan, fidyah dapat dibayarkan sekaligus setelah bulan Ramadhan berakhir.
Sebelum Ramadhan Berikutnya – Disarankan untuk membayar fidyah sebelum memasuki Ramadhan tahun berikutnya agar kewajiban ini segera tertunaikan.
Penulis:
Hubaib Ash Shidqi
Editor:Hubaib Ash Shidqi
BERITA19/03/2025 | HUBAIB ASH SHIDQI
Hitung Cepat Fidyah Ramadhan dengan Kalkulator Online
Di era digital saat ini, berbagai aspek kehidupan telah dimudahkan oleh teknologi, termasuk dalam menghitung fidyah Ramadhan. Kini, umat Islam yang ingin menunaikan fidyah dapat menggunakan kalkulator online untuk memperhitungkan jumlah yang harus dibayarkan dengan lebih akurat. Fitur ini sangat membantu, terutama bagi mereka yang tidak familiar dengan perhitungan fidyah secara manual atau yang ingin memastikan bahwa jumlah yang mereka bayarkan sesuai dengan syariat Islam.
Kalkulator fidyah online bekerja dengan memasukkan beberapa data, seperti jumlah hari puasa yang ditinggalkan dan jenis makanan yang akan diberikan. Setelah memasukkan data tersebut, sistem akan secara otomatis menghitung jumlah fidyah yang harus dibayarkan, baik dalam bentuk makanan maupun dalam bentuk uang yang setara. Dengan adanya alat ini, umat Islam tidak perlu lagi bingung dalam menentukan berapa banyak fidyah yang harus mereka tunaikan.
Keberadaan kalkulator fidyah online juga memudahkan dalam perencanaan pembayaran fidyah. Beberapa platform bahkan menyediakan fitur pembayaran langsung ke lembaga zakat atau organisasi yang menyalurkan fidyah kepada fakir miskin. Hal ini menjadikan proses pembayaran lebih cepat, praktis, dan tepat sasaran.
Penulis:Putri Khodijah
Editor:M. Kausari Kaidani
BERITA19/03/2025 | Putri Khodijah
Bagaimana Jika Lupa Membayar Zakat Fitrah Hingga Lebaran Berlalu?
Zakat fitrah merupakan zakat wajib yang harus ditunaikan oleh setiap Muslim sebelum salat Idulfitri. Tujuannya adalah untuk menyucikan jiwa setelah menjalani ibadah puasa dan membantu fakir miskin agar mereka bisa merayakan Idulfitri dengan bahagia. Namun, bagaimana jika seseorang lupa membayarnya hingga hari raya berlalu?
Menurut hadis Rasulullah SAW, zakat fitrah yang ditunaikan sebelum salat Idulfitri akan diterima sebagai zakat, sedangkan yang diberikan setelahnya hanya dihitung sebagai sedekah biasa (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah). Artinya, meskipun kewajiban tetap ada, pahala zakatnya bisa berkurang jika ditunaikan terlambat.
Bagi mereka yang lupa atau tidak sempat membayar zakat fitrah sebelum salat Id, maka ia tetap wajib mengeluarkannya secepat mungkin. Meskipun tidak lagi dihitung sebagai zakat fitrah, tetapi tetap harus diberikan kepada orang yang berhak menerimanya, yaitu fakir dan miskin.
Menunda zakat fitrah tanpa alasan yang sah dapat dianggap sebagai kelalaian dalam menjalankan kewajiban agama. Oleh karena itu, setiap Muslim dianjurkan untuk membayar zakat fitrah tepat waktu, baik sendiri maupun melalui lembaga zakat resmi.
Kesimpulannya, zakat fitrah yang terlupa tetap harus dikeluarkan meskipun sudah lewat hari raya. Agar tidak terulang di masa depan, ada baiknya membayarnya lebih awal, bahkan sejak awal Ramadan jika memungkinkan.
=====================
*Tunaikan zakat/infaq, melalui Kantor Digital BAZNAS Kota Yogyakarta. https://kotayogya.baznas.go.id/bayarzakat Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id
Penulis: Saffanatussa'idiyah
Editor: Ummi Kiftiyah
BERITA19/03/2025 | admin
Israel Bombardir Gaza, 412 Syahid dan Lebih dari 500 Terluka
Bantu Palestina dengan Berdonasi: https://kitabisa.com/campaign/yukbantupalestinasekarang
Serangan yang menargetkan rumah dan kamp pengungsian kembali dilancarkan Israel pada 18 Maret 2025. Serangan ini mengakhiri perjanjian damai gencatan senjata yang telah disepakati sejak Januari 2025. Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan per 18 Maret 2025 Pukul 17.04 WIB, sebanyak 412 syahid dan lebih dari 500 terluka dalam serangan udara Israel di beberapa daerah di Jalur Gaza.
Latar Belakang Gencatan Senjata
Gencatan senjata antara Israel dan Hamas mulai berlaku pada 19 Januari 2025, setelah konflik berkepanjangan pada Oktober 2023. Selama periode gencatan senjata, negosiasi untuk pertukaran tahanan dan pembebasan sandera berlangsung, namun mengalami kebuntuan.
Kebuntuan dalam Negosiasi
Meskipun ada kemajuan awal, negosiasi selanjutnya mengalami hambatan signifikan. Pada 14 Maret 2025, Hamas menawarkan pembebasan seorang sandera Amerika-Israel, Edan Alexander, sebagai bagian dari upaya memperpanjang gencatan senjata. Namun, Israel menolak tawaran tersebut, menyebutnya sebagai "perang psikologis," dan meragukan ketulusan Hamas dalam negosiasi.
Amerika Serikat juga mengkritik tuntutan Hamas yang dianggap tidak praktis, yang menghambat kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata dan pembebasan sandera. AS memperingatkan Hamas tentang batas waktu yang terlewat dan mengancam konsekuensi serius jika tidak ada kemajuan dalam negosiasi.
Peran Mediator dan Pendukung Palestina
Sepanjang proses negosiasi, mediator dari Mesir, Qatar, dan Amerika Serikat berperan aktif dalam memfasilitasi dialog antara Israel dan Hamas. Namun, perbedaan tuntutan dan kurangnya kepercayaan antara kedua belah pihak menyebabkan kebuntuan yang sulit diatasi. Pendukung Palestina, termasuk negara-negara Arab, terus mendesak solusi yang adil bagi tahanan Palestina dan mengkritik tindakan Israel yang dianggap menghambat proses perdamaian.
Pelanggaran Gencatan Senjata
Pada 15 Maret 2025, Israel melancarkan serangan ke Gaza yang menewaskan 12 orang, sebagian besar relawan kemanusiaan. Serangan ini terjadi di tengah kebuntuan negosiasi dan meningkatkan ketegangan antara kedua belah pihak.
Serangan 18 Maret 2025
Pada 18 Maret 2025, sekitar pukul 02.30 pagi, Israel melancarkan serangan udara besar-besaran ke berbagai wilayah di Gaza, termasuk Rafah, Khan Younis, Deir al-Balah, Nuseirat, Al-Bureij, Al-Zaytoun, Al-Karama, dan Beit Hanoun. Serangan ini menewaskan lebih dari 400 orang dan melukai 562 lainnya.
Bantu Palestina dengan Berdonasi: https://kitabisa.com/campaign/yukbantupalestinasekarang
Alasan Pelanggaran Gencatan Senjata
Israel mengklaim bahwa serangan tersebut dilakukan karena kegagalan negosiasi pembebasan sandera dan penolakan Hamas untuk memperpanjang gencatan senjata. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan bahwa operasi militer akan diperluas untuk mencapai tujuan perang, termasuk pembebasan sandera.
Respons Internasional
Komunitas internasional mengecam keras serangan ini. PBB dan berbagai negara menyerukan penghentian kekerasan dan perlindungan bagi warga sipil di Gaza.
Kesimpulan
Serangan Israel pada 18 Maret 2025 mengakhiri gencatan senjata yang rapuh dan menyebabkan korban jiwa yang signifikan di Gaza. Alasan utama pelanggaran gencatan senjata adalah kegagalan negosiasi dan ketegangan yang terus meningkat antara Israel dan Hamas.
Kebuntuan dalam negosiasi pertukaran tahanan dan pembebasan sandera antara Israel dan Hamas disebabkan oleh perbedaan tuntutan, kurangnya kepercayaan, dan strategi politik masing-masing pihak. Meskipun ada upaya mediasi dari pihak ketiga, situasi yang kompleks dan sensitif ini memerlukan pendekatan diplomatik yang lebih intensif untuk mencapai solusi yang berkelanjutan.
Bantu Palestina dengan Berdonasi: https://kitabisa.com/campaign/yukbantupalestinasekarang
*Tunaikan zakat, infaq, sedekah melalui Kantor Digital BAZNAS Kota Yogyakarta.https://kotayogya.baznas.go.id/bayarzakat Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id
Editor : Ashifuddin Fikri
Writer : Nur Isnaini Masyithoh
BERITA19/03/2025 | Nur Isnaini Masyithoh
Serangan 18 Maret 2025: Gaza Berduka dan Seruan untuk Kemanusiaan
Bantu Palestina dengan Berdonasi: https://kitabisa.com/campaign/yukbantupalestinasekarang
Tanggal 18 Maret 2025 menjadi hari yang tak terlupakan bagi penduduk Gaza. Serangan besar-besaran yang terjadi pada hari itu meninggalkan luka mendalam, tidak hanya pada tanah dan bangunan, tetapi juga pada jiwa setiap manusia yang menyaksikan dan mengalaminya. Gaza, yang sudah bertahun-tahun hidup dalam tekanan blokade dan konflik, kembali dihantam oleh gelombang kekerasan yang memporak-porandakan kehidupan. Setelah serangan itu, yang tersisa adalah kota yang hancur, keluarga yang tercerai-berai, dan harapan yang nyaris padam.
Reruntuhan yang Menjadi Saksi Bisu
Jalan-jalan di Gaza, yang dulu dipenuhi dengan suara tawa anak-anak dan hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari, kini dipenuhi dengan puing-puing bangunan yang hancur. Rumah-rumah, sekolah, rumah sakit, dan tempat ibadah—semuanya rata dengan tanah. Menurut laporan PBB, lebih dari 60% infrastruktur Gaza hancur atau rusak parah akibat serangan tersebut (United Nations, 2025). Ribuan keluarga kehilangan tempat tinggal dan terpaksa mengungsi ke tenda-tenda pengungsian yang sesak dan tidak layak. Anak-anak, yang seharusnya bermain dan belajar, kini harus menghadapi kenyataan pahit bahwa masa kecil mereka telah direnggut oleh kekerasan yang tak mereka pahami.
Duka yang Tak Terungkap
Di balik setiap reruntuhan, ada cerita-cerita pilu yang tak terungkap. Seorang ibu yang kehilangan anaknya, seorang ayah yang kehilangan mata pencaharian, dan seorang anak yang kehilangan masa depannya. Namun, di tengah keputusasaan, ada juga kisah-kisah heroik tentang bagaimana warga Gaza saling membantu, berbagi makanan yang sedikit, dan memberikan tempat tinggal sementara bagi mereka yang kehilangan rumah. Solidaritas ini adalah bukti bahwa meskipun fisik mereka terluka, semangat manusiawi mereka tetap utuh.
Bantu Palestina dengan Berdonasi: https://kitabisa.com/campaign/yukbantupalestinasekarang
Harapan di Tengah Keputusasaan
Meskipun situasinya terlihat suram, harapan tidak pernah benar-benar padam di Gaza. Banyak organisasi kemanusiaan, baik lokal maupun internasional, berusaha memberikan bantuan secepat mungkin. Bantuan medis, makanan, dan air bersih mulai mengalir, meskipun tidak sebanding dengan kebutuhan yang begitu besar. UNICEF (2025) melaporkan bahwa lebih dari 50% populasi Gaza adalah anak-anak di bawah usia 18 tahun, yang kini menghadapi risiko kekurangan gizi, penyakit, dan trauma psikologis yang berkepanjangan.
Anak-anak Gaza, meskipun trauma, masih memiliki mimpi. Mereka masih bercita-cita menjadi dokter, insinyur, atau guru. Mereka masih percaya bahwa suatu hari nanti, mereka akan melihat Gaza yang damai, di mana mereka bisa tumbuh tanpa rasa takut.
Panggilan untuk Keadilan dan Perdamaian
Serangan 18 Maret 2025 adalah gambaran nyata tentang betapa pentingnya perdamaian dan keadilan. Dunia tidak bisa terus menutup mata terhadap penderitaan yang terjadi di Gaza. Setiap serangan, setiap bom yang dijatuhkan, tidak hanya menghancurkan bangunan, tetapi juga menghancurkan masa depan generasi ini.
Kita semua memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa Gaza tidak hanya dibangun kembali secara fisik, tetapi juga secara sosial dan ekonomi. Kita harus memastikan bahwa anak-anak Gaza bisa tumbuh dalam lingkungan yang aman dan penuh kasih sayang, di mana mereka bisa meraih mimpi-mimpi mereka tanpa hambatan. Mari kita bersama-sama bekerja untuk memastikan bahwa Gaza tidak hanya bangkit dari reruntuhan, tetapi juga menjadi simbol perdamaian dan keadilan bagi dunia.
Bantu Palestina dengan Berdonasi: https://kitabisa.com/campaign/yukbantupalestinasekarang
*Tunaikan zakat, infaq, sedekah melalui Kantor Digital BAZNAS Kota Yogyakarta.https://kotayogya.baznas.go.id/bayarzakat
Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id
Editor : Ashifuddin Fikri
Writer : Nur Isnaini Masyithoh
BERITA19/03/2025 | Nur Isnaini Masyithoh
Fidyah Ramadhan Kapan dan Bagaimana Menunaikannya
Fidyah merupakan salah satu bentuk keringanan dalam syariat Islam bagi mereka yang tidak mampu berpuasa di bulan Ramadhan. Kewajiban ini diberikan kepada orang-orang yang memiliki alasan syar’i untuk tidak berpuasa, seperti lansia yang tidak lagi mampu menunaikan ibadah puasa, orang sakit yang tidak memiliki harapan sembuh, serta wanita hamil atau menyusui yang khawatir terhadap kondisi bayi mereka. Fidyah menjadi solusi agar mereka tetap bisa menggantikan kewajiban puasa dengan cara lain, yaitu memberikan makan kepada fakir miskin sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan dalam Islam.
Dalam menunaikan fidyah, waktu pelaksanaannya memiliki fleksibilitas. Seseorang dapat membayarkan fidyahnya pada hari yang sama ketika ia meninggalkan puasa, atau dapat juga dilakukan setelah bulan Ramadhan selesai. Namun, lebih baik jika fidyah dibayarkan sesegera mungkin agar tanggung jawabnya lekas terlaksana dan manfaatnya bisa dirasakan oleh mereka yang berhak menerimanya. Dalam hal ini, para ulama bersepakat bahwa fidyah tidak boleh ditunda hingga bertahun-tahun kecuali ada alasan tertentu yang memang menghalangi seseorang untuk segera menunaikannya.
Mekanisme pembayaran fidyah juga harus sesuai dengan ketentuan syariat. Cara yang paling umum dilakukan adalah dengan memberikan makanan kepada fakir miskin. Ukuran makanan yang diberikan adalah sebanyak satu mud (sekitar 750 gram) makanan pokok, seperti beras, gandum, atau makanan sejenisnya, untuk setiap hari puasa yang ditinggalkan. Ada pula pendapat yang menyatakan bahwa fidyah dapat berupa makanan siap saji yang mencukupi kebutuhan penerima. Selain itu, sebagian ulama memperbolehkan membayarkan fidyah dalam bentuk uang dengan nilai yang setara dengan makanan yang seharusnya diberikan, meskipun bentuk pemberian makanan lebih utama sesuai dengan tuntunan syariat.
Penerima fidyah adalah golongan fakir miskin yang benar-benar membutuhkan. Tidak diperbolehkan memberikan fidyah kepada orang yang mampu atau memiliki kecukupan dalam hidupnya. Selain itu, tidak boleh juga memberikan fidyah kepada keluarga terdekat seperti orang tua atau anak yang berada dalam tanggungan pemberi fidyah. Sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an, fidyah diberikan sebagai bentuk kompensasi dari puasa yang ditinggalkan, dan kebermanfaatannya harus sampai kepada mereka yang benar-benar berhak menerimanya.
Penulis:Putri Khodijah
Editor:M. Kausari Kaidani
BERITA19/03/2025 | Putri Khodijah
Cara Menghitung Fidyah yang Benar: Panduan Langkah demi Langkah
Cara Menghitung Fidyah yang Benar: Panduan Langkah demi Langkah
Fidyah adalah kompensasi yang harus dibayarkan oleh seorang Muslim yang tidak mampu menjalankan ibadah puasa Ramadhan karena alasan tertentu, seperti usia lanjut atau penyakit kronis. Fidyah biasanya berupa pemberian makanan kepada fakir miskin sebagai pengganti puasa yang ditinggalkan.
Langkah-langkah Menghitung Fidyah
Menentukan Jumlah Hari Puasa yang Ditinggalkan Setiap hari puasa yang tidak dilakukan harus diganti dengan pembayaran fidyah. Jika seseorang tidak berpuasa selama 10 hari, maka fidyah harus dibayarkan untuk 10 hari tersebut.
Menentukan Besaran Fidyah per Hari Menurut mayoritas ulama, fidyah yang harus dibayarkan adalah sebanyak satu mud makanan pokok per hari. Di Indonesia, satu mud setara dengan sekitar 675 gram beras atau makanan lain yang biasa dikonsumsi masyarakat setempat.
Menghitung Total Fidyah yang Harus Dibayarkan Rumus perhitungan fidyah:
Contoh: Jika seseorang meninggalkan puasa selama 15 hari dan fidyah yang ditetapkan adalah 675 gram beras per hari, maka total fidyah yang harus dibayarkan adalah:
gram = 10.125 gram (10,125 kg beras).
Menentukan Cara Penyaluran Fidyah Fidyah dapat disalurkan secara langsung dengan memberikan makanan kepada fakir miskin atau melalui lembaga yang terpercaya. Pembayaran fidyah juga bisa dalam bentuk uang yang senilai dengan makanan yang seharusnya diberikan.
Memastikan Fidyah Sampai ke Penerima yang Berhak Dalam menyalurkan fidyah, pastikan bahwa penerima fidyah adalah orang yang benar-benar membutuhkan, seperti fakir miskin. Jika fidyah diwakilkan kepada pihak lain, pastikan pihak tersebut amanah dan bertanggung jawab.
Kesimpulan
Menghitung fidyah dengan benar sangat penting agar kewajiban ini dapat terlaksana sesuai syariat. Dengan mengikuti panduan langkah demi langkah ini, umat Muslim dapat memastikan bahwa fidyah yang dibayarkan sesuai dengan ketentuan Islam dan sampai kepada penerima yang berhak.
Penulis:
Hubaib Ash Shidqi
Editor:Hubaib Ash Shidqi
BERITA19/03/2025 | HUBAIB ASH SHIDQI
Cahaya Inspirasi dari Anak-Anak Palestina
Di tengah konflik berkepanjangan yang telah melanda Palestina selama puluhan tahun, ada satu kelompok yang sering kali luput dari perhatian dunia: anak-anak. Mereka adalah generasi yang tumbuh di bawah bayang-bayang kekerasan, ketidakpastian, dan kehilangan. Namun, di balik segala penderitaan, anak-anak Palestina menunjukkan ketahanan yang luar biasa, harapan yang tak pernah padam, dan kreativitas yang menginspirasi tiada henti.
Kehidupan di Tengah Konflik
Bagi anak-anak Palestina, hidup di tengah konflik adalah kenyataan yang harus mereka hadapi sejak kecil. Mereka terbiasa dengan suara dentuman bom, raungan sirene, dan ketakutan akan kehilangan orang yang dicintai dan segala kenangan tentang rumah masa kecil yang bisa terjadi kapan saja. Banyak dari mereka yang kehilangan rumah, sekolah, atau bahkan keluarga akibat serangan militer. Akses terhadap kebutuhan dasar seperti air bersih, listrik, dan perawatan kesehatan sering kali terbatas, membuat kehidupan sehari-hari menjadi perjuangan tersendiri.
Namun, atas izin Allah, anak-anak ini mampu beradaptasi dan menemukan cara untuk tetap bertahan. Mereka belajar bermain di antara reruntuhan, menciptakan permainan dari barang-barang sederhana, dan menemukan kebahagiaan kecil di tengah kesulitan dengan kreativitas yang tak pernah padam. Bagi mereka, ketahanan bukanlah pilihan, tetapi kebutuhan.
Pendidikan: Senjata Melawan Ketidakadilan
Di tengah segala keterbatasan, pendidikan menjadi salah satu harapan terbesar bagi anak-anak Palestina. Sekolah-sekolah di Gaza dan Tepi Barat sering kali menjadi target serangan, tetapi hal ini tidak menyurutkan semangat mereka untuk belajar. Banyak anak-anak yang berjalan kaki berkilo-kilometer setiap hari hanya untuk mencapai sekolah. Mereka percaya bahwa pendidikan adalah kunci untuk membebaskan diri dari belenggu penjajahan dan membangun masa depan yang lebih baik.
Guru-guru di Palestina juga memainkan peran penting dalam mendukung anak-anak. Mereka tidak hanya mengajar mata pelajaran akademis, tetapi juga memberikan dukungan psikologis dan emosional. Di ruang kelas yang seringkali sederhana, mereka menanamkan nilai-nilai ketahanan, harapan, dan keyakinan bahwa perubahan itu mungkin.
Dilansir dari Al Jazeera English, lebih dari 650.000 pelajar di Gaza kehilangan hak atas pendidikan akibat pendudukan Israel. Per 14 Agustus 2014, Israel telah menghancurkan 500 sekolah di Gaza. Berdasarkan data dari UNICEF, setidaknya 84 persen sekolah di Gaza membutuhkan rekonstruksi keseluruhan atau rehabilitasi signifikan sebelum sekolah dapat beroperasi kembali.
Adalah Israa Abu Mustofa, seorang guru asal Khan Younis yang mendedikasikan dirinya untuk mendidik anak-anak dengan mendirikan tenda pendidikan di atas puing reruntuhan rumahnya. Inisiatif ini mendapat respon positif karena dari 35 siswa yang ikut serta terus bertambah hingga 400 orang anak yang datang bergiliran karena keterbatasan tempat. Ia mengampu kelas mulai dari pra sekolah hingga kelas 6 sekolah dasar.
Kreativitas dan Cahaya Impian Anak Palestina
Seni menjadi salah satu cara bagi anak-anak Palestina untuk mengekspresikan perasaan mereka dan merespons situasi di sekitar mereka. Melalui lukisan, puisi, musik, karya, dan teater, mereka menyuarakan harapan, ketakutan, dan impian mereka. Banyak organisasi lokal yang menyediakan ruang bagi anak-anak untuk mengeksplorasi kreativitas mereka, membantu mereka memproses trauma dan menemukan makna dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu contoh inspiratif adalah kisah Ahed Tamimi, seorang gadis remaja dari Nabi Saleh yang menjadi simbol perlawanan damai terhadap penjajahan. Meskipun harus menghadapi penahanan dan intimidasi, Ahed tidak pernah menyerah. Dia percaya bahwa suara anak-anak Palestina harus didengar dan bahwa perubahan itu mungkin.
Lama Abu Jamous adalah seorang jurnalis cilik asal Gaza, Palestina, yang mulai dikenal luas pada usia 9 tahun karena keberaniannya melaporkan situasi di Jalur Gaza melalui media sosial. Melalui akun Instagramnya, @lama_jamous9, Lama membagikan kondisi terkini di Gaza, termasuk dampak konflik terhadap anak-anak dan masyarakat setempat.
Dalam wawancaranya dengan TRT World, Lama mengungkapkan kecintaannya pada profesi jurnalis dan keinginannya untuk menyuarakan pengalaman anak-anak Palestina kepada dunia. Ia berharap melalui laporannya, dunia dapat lebih memahami situasi yang dihadapi oleh anak-anak di Gaza.
Keberanian dan dedikasi Lama dalam melaporkan kondisi di Gaza telah menginspirasi banyak orang dan menunjukkan bahwa usia muda bukanlah halangan untuk berkontribusi dalam menyuarakan kebenaran.
Renad Attallah adalah seorang content creator cilik berusia 10 tahun asal Gaza yang dikenal karena membagikan video memasak di tengah situasi konflik. Dengan lebih dari 800 ribu pengikut di Instagram, Renad menggunakan platformnya untuk menunjukkan ketahanan dan kreativitas masyarakat Gaza dalam menghadapi keterbatasan.
Dalam video-videonya, Renad sering memanfaatkan bahan-bahan dari paket bantuan untuk membuat hidangan sederhana. Kontennya tidak hanya menampilkan proses memasak, tetapi juga memberikan gambaran tentang kehidupan sehari-hari di Gaza, termasuk tantangan yang dihadapi oleh anak-anak dan keluarga di wilayah tersebut.
Renad dibantu oleh kakaknya, Nourhan Attallah, dalam mengelola akun Instagramnya. Mereka berdua berusaha menyampaikan pesan positif dan inspiratif, sambil meningkatkan kesadaran global tentang situasi di Gaza. Melalui video-videonya, Renad berharap dapat membawa kebahagiaan dan harapan bagi penontonnya, serta menunjukkan bahwa meskipun dalam kondisi sulit, semangat dan kreativitas tetap bisa tumbuh. Dengan keberanian dan dedikasinya, Renad Attallah telah menjadi simbol ketahanan anak-anak Palestina dan inspirasi bagi banyak orang di seluruh dunia.
Meskipun hidup dalam kondisi yang sulit, anak-anak Palestina tidak kehilangan impian mereka. Banyak dari mereka bercita-cita menjadi dokter, insinyur, guru, atau seniman. Mereka ingin membangun kembali tanah air mereka, membantu sesama, dan menciptakan dunia yang lebih baik. Impian-impian ini menjadi sumber motivasi yang kuat, mendorong mereka untuk terus belajar dan berjuang.
Anak-anak Palestina adalah bukti nyata bahwa harapan dan ketahanan dapat tumbuh bahkan di tempat yang paling gelap sekalipun. Meskipun hidup dalam kondisi yang sulit, mereka terus bermimpi, belajar, dan berkarya. Mereka mengajarkan kita bahwa meskipun dunia mungkin tidak adil, manusia memiliki kekuatan untuk bertahan, berharap, dan berjuang untuk perubahan.
Melalui mata anak-anak Palestina, kita melihat bukan hanya penderitaan, tetapi juga kekuatan, kreativitas, dan harapan. Mereka adalah generasi yang akan membawa perubahan, dan tugas kita adalah memastikan bahwa mereka memiliki kesempatan untuk melakukannya. Dengan dukungan yang tepat, anak-anak Palestina dapat menjadi cahaya yang menerangi jalan menuju masa depan yang gemilang.
*Tunaikan zakat, infaq, sedekah melalui Kantor Digital BAZNAS Kota Yogyakarta.https://kotayogya.baznas.go.id/bayarzakat Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id
Editor : Ashifuddin Fikri
Writer : Nur Isnaini Masyithoh
BERITA18/03/2025 | Nur Isnaini Masyithoh
Fidyah di Penghujung Ramadan: Persiapan Spiritual Menyambut Lailatul Qadar
Fidyah merupakan salah satu bentuk ibadah yang sangat penting dalam bulan Ramadan, terutama menjelang malam Lailatul Qadar.
Dalam konteks ini, fidyah adalah kompensasi yang diberikan oleh seseorang yang tidak mampu berpuasa, baik karena sakit yang berkepanjangan atau alasan lainnya.
Fidyah biasanya berupa makanan pokok yang diberikan kepada orang-orang yang membutuhkan.
Menjelang Lailatul Qadar, malam yang penuh berkah dan kemuliaan, pelaksanaan fidyah menjadi lebih bermakna.
Ini adalah waktu yang tepat untuk membersihkan diri dan memperbanyak amal.
Dengan menunaikan fidyah, seseorang tidak hanya memenuhi kewajiban agama, tetapi juga berkontribusi dalam membantu sesama, yang merupakan inti dari ajaran Islam.
Persiapan spiritual menjelang Lailatul Qadar dapat dilakukan dengan meningkatkan ibadah, seperti shalat malam, membaca Al-Qur'an, dan berdoa.
Fidyah menjadi salah satu cara untuk mendekatkan diri kepada Allah dan meraih pahala yang berlipat ganda.
Dalam Al-Qur'an, Allah berfirman, "Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang membutuhkan, dan kepada orang-orang yang tidak mampu." (QS. Al-Baqarah: 273).
Dengan melaksanakan fidyah, kita tidak hanya menyiapkan diri untuk menyambut Lailatul Qadar, tetapi juga memperkuat ikatan sosial dan kepedulian terhadap sesama.
Ini adalah kesempatan emas untuk meraih keberkahan dan ampunan di bulan suci ini.
Sumber:
1. Al-Qur'an, Surah Al-Baqarah: 273.
2. Buku "Fidyah dan Zakat: Panduan Praktis" oleh Dr. Ahmad Zainuddin.
3. Artikel "Makna dan Hikmah Fidyah dalam Islam" di situs resmi Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Penulis: Aulia Anastasya Putri Permana
Editor: M. Kausari Kaidani
BERITA18/03/2025 | Aulia Anastasya Putri Permana
Bisakah Fidyah Diwakilkan? Menjawab Pertanyaan Seputar Pembayaran Fidyah
Fidyah adalah kompensasi yang diberikan bagi mereka yang tidak mampu berpuasa, baik karena sakit atau alasan lainnya.
Salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah, "Apakah fidyah bisa diwakilkan?"
Menurut banyak ulama, membayar fidyah memang dapat diwakilkan, asalkan memenuhi syarat tertentu.
Perwakilan dalam pembayaran fidyah diperbolehkan jika orang yang mewakili memiliki niat yang sama dan memahami tujuan dari fidyah itu sendiri.
Misalnya, seorang anak dapat mewakili orang tua yang tidak mampu membayar fidyah karena alasan kesehatan.
Dalam hal ini, penting untuk memastikan bahwa fidyah yang dibayarkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku, seperti jenis makanan yang diberikan dan jumlah yang tepat.
Dalam Al-Qur'an, Allah berfirman, "Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang membutuhkan, dan kepada orang-orang yang tidak mampu." (QS. Al-Baqarah: 273).
Ini menunjukkan pentingnya membantu sesama, dan mewakilkan pembayaran fidyah adalah salah satu cara untuk melakukannya.
Namun, sebaiknya konsultasikan dengan ulama atau lembaga zakat setempat untuk memastikan bahwa proses perwakilan ini sesuai dengan syariat.
Dengan demikian, kita dapat memenuhi kewajiban fidyah dengan cara yang benar dan mendapatkan pahala yang diharapkan.
Sumber:
1. Al-Qur'an, Surah Al-Baqarah: 273.
2. Buku "Fidyah dan Zakat: Panduan Praktis" oleh Dr. Ahmad Zainuddin.
3. Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) tentang fidyah dan perwakilan pembayaran.
Penulis: Aulia Anastasya Putri Permana
Editor: M. Kausari Kaidani
BERITA18/03/2025 | Aulia Anastasya Putri Permana
Membayar Fidyah Secara Cicilan: Hukum dan Etika dalam Islam
Fidyah adalah kewajiban bagi mereka yang tidak mampu berpuasa, dan sering kali menimbulkan pertanyaan mengenai metode pembayarannya.
Salah satu pertanyaan yang muncul adalah, "Bolehkah fidyah dibayar secara cicilan?"
Dalam pandangan Islam, membayar fidyah secara cicilan diperbolehkan, asalkan memenuhi syarat dan ketentuan yang berlaku.
Hukum membayar fidyah secara cicilan dapat dilihat dari sudut pandang kemudahan dan keringanan yang diberikan dalam Islam.
Allah SWT berfirman, "Dan Dia tidak menjadikan untuk kalian dalam agama suatu kesulitan." (QS. Al-Hajj: 78).
Oleh karena itu, jika seseorang tidak mampu membayar fidyah sekaligus, mencicilnya bisa menjadi solusi yang lebih mudah.
Namun, penting untuk diingat bahwa niat dan tujuan dari fidyah harus tetap dijaga.
Pembayaran cicilan harus dilakukan dengan konsisten dan tepat waktu, agar tidak mengurangi esensi dari ibadah tersebut.
Selain itu, sebaiknya berkonsultasi dengan ulama atau lembaga zakat untuk memastikan bahwa proses pencicilan ini sesuai dengan syariat.
Secara etika, membayar fidyah secara cicilan menunjukkan kesadaran dan tanggung jawab seseorang dalam memenuhi kewajiban agama, serta kepedulian terhadap sesama.
Dengan cara ini, kita dapat membantu diri sendiri dan orang lain, sekaligus meraih pahala yang diharapkan.
Sumber:
1. Al-Qur'an, Surah Al-Hajj: 78.
2. Buku "Fidyah dan Zakat: Panduan Praktis" oleh Dr. Ahmad Zainuddin.
3. Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) tentang fidyah dan metode pembayaran.
Penulis: Aulia Anastasya Putri Permana
Editor: M. Kausari Kaidani
BERITA18/03/2025 | Aulia Anastasya Putri Permana
Fidyah sebagai Solusi Ekonomi untuk Masyarakat Rentan
Fidyah merupakan salah satu bentuk amal yang memiliki makna mendalam dalam konteks sosial dan ekonomi. Dalam ajaran Islam, fidyah adalah kompensasi yang diberikan oleh seseorang yang tidak mampu menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan, baik karena sakit, usia lanjut, atau alasan lainnya. Fidyah tidak hanya sekadar kewajiban, tetapi juga merupakan sarana untuk membantu masyarakat yang kurang beruntung. Dalam konteks ekonomi, fidyah dapat menjadi solusi yang efektif untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat rentan.
Masyarakat rentan sering kali menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan akses terhadap pendidikan, kesehatan, hingga lapangan pekerjaan. Dalam situasi seperti ini, fidyah dapat berfungsi sebagai sumber pendanaan yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka. Dengan mengumpulkan fidyah dari individu yang mampu, dana tersebut dapat dialokasikan untuk program-program yang mendukung masyarakat kurang mampu, seperti penyediaan makanan, pendidikan, dan kesehatan. Hal ini sejalan dengan prinsip keadilan sosial yang diajarkan dalam Islam, di mana setiap individu memiliki tanggung jawab untuk membantu sesama.
Penerapan fidyah dalam konteks ekonomi juga dapat mendorong partisipasi masyarakat dalam kegiatan sosial. Ketika individu menyadari bahwa kontribusi mereka melalui fidyah dapat memberikan dampak positif bagi orang lain, mereka akan lebih termotivasi untuk berpartisipasi. Ini menciptakan rasa solidaritas dan kepedulian di antara anggota masyarakat, yang pada gilirannya dapat memperkuat jaringan sosial dan ekonomi. Dengan demikian, fidyah tidak hanya berfungsi sebagai alat untuk memenuhi kewajiban agama, tetapi juga sebagai instrumen untuk membangun masyarakat yang lebih inklusif dan berdaya saing.
Penulis:Putri Khodijah
Editor:M. Kausari Kaidani
BERITA18/03/2025 | Putri Khodijah
Tadabbur Doa yang Diajarkan Rasulullah di Malam Lailatul Qadar
Doa Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni adalah salah satu doa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, terutama dianjurkan untuk dibaca pada malam-malam terakhir bulan Ramadhan, khususnya saat mencari Lailatul Qadar. Doa ini memiliki makna yang sangat dalam karena mencerminkan permohonan seorang hamba kepada Allah SWT agar diberikan pengampunan dan pembersihan dosa-dosanya.
Lafaz dan Terjemahan Doa
Doa ini berasal dari hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha. Beliau bertanya kepada Rasulullah SAW,
"Ya Rasulullah, jika aku mengetahui malam Lailatul Qadar, apa yang harus aku ucapkan?" Rasulullah SAW menjawab, "Ucapkanlah: Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni.” (HR. At-Tirmidzi No. 3513, Ibnu Majah No. 3850)
Terjemahan Doa:
"Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, Engkau mencintai pemaafan, maka maafkanlah aku."
Makna Tadabbur Doa
1. Allahumma – Ya Allah
Kata "Allahumma" adalah bentuk seruan kepada Allah SWT, yang menunjukkan kedekatan dan ketergantungan seorang hamba kepada-Nya. Dengan menyebut nama Allah, kita mengakui bahwa hanya Dia yang memiliki kuasa atas pengampunan dan segala sesuatu di dunia ini.
2. Innaka ‘Afuwwun – Sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf
Sifat Al-‘Afuww berarti Allah SWT bukan hanya mengampuni dosa, tetapi juga menghapusnya sepenuhnya hingga tidak tersisa sedikit pun jejak dosa tersebut. Ini berbeda dengan sifat Al-Ghafur yang berarti mengampuni, tetapi dosa itu masih tercatat di dalam kitab amal.
Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-Azim menjelaskan bahwa Al-‘Afuww adalah pengampunan yang sempurna, di mana Allah SWT tidak hanya menutupi dosa tetapi juga menghapusnya seakan-akan dosa itu tidak pernah terjadi.
3. Tuhibbul ‘Afwa – Engkau Mencintai Pemaafan
Allah SWT tidak hanya memiliki sifat pemaaf, tetapi Dia juga mencintai pemaafan. Ini menunjukkan bahwa meminta ampunan kepada Allah adalah salah satu bentuk ibadah yang dicintai-Nya.
Selain itu, ini juga menjadi teladan bagi kita untuk meneladani sifat Allah dengan memaafkan orang lain sebagaimana Allah mencintai mereka yang saling memaafkan. Rasulullah SAW bersabda:
"Barang siapa yang tidak mengasihi, maka dia tidak akan dikasihi." (HR. Al-Bukhari No. 6013 dan Muslim No. 2319)
4. Fa’fu ‘Anni – Maka Maafkanlah Aku
Bagian terakhir dari doa ini adalah inti permohonan, di mana seorang hamba meminta agar Allah SWT benar-benar menghapus dosa-dosanya.
Kita sebagai manusia sering melakukan kesalahan, baik sengaja maupun tidak. Oleh karena itu, doa ini mengajarkan kita untuk senantiasa memohon pengampunan kepada Allah, terutama di saat-saat yang mulia seperti bulan Ramadhan.
Hikmah dan Keutamaan Doa Ini
1. Doa yang Paling Dianjurkan di Malam Lailatul Qadar
Hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha menunjukkan bahwa doa ini adalah doa yang paling utama untuk dibaca pada malam Lailatul Qadar. Malam ini lebih baik daripada seribu bulan, sehingga memohon ampunan pada malam ini memiliki keutamaan yang sangat besar.
2. Memohon Ampunan Allah yang Paling Sempurna
Berbeda dengan sekadar meminta ampunan (maghfirah), doa ini meminta agar Allah menghapus dosa secara total sehingga tidak lagi ada jejak dosa yang tersisa. Ini merupakan bentuk penghapusan dosa yang lebih tinggi dibandingkan sekadar pengampunan.
3. Mengajarkan Sifat Pemaaf dalam Kehidupan Sehari-hari
Allah SWT mencintai pemaafan, sehingga kita juga dianjurkan untuk mempraktikkan sikap ini dalam kehidupan sehari-hari. Rasulullah SAW bersabda:
"Barang siapa yang memberi kemudahan kepada orang yang kesulitan, maka Allah akan memberi kemudahan kepadanya di dunia dan akhirat." (HR. Muslim No. 2699)
4. Meningkatkan Kedekatan dengan Allah SWT
Dengan membaca doa ini secara rutin, kita semakin menyadari kelemahan kita sebagai manusia dan memperkuat hubungan kita dengan Allah SWT.
Kesimpulan
Doa Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni memiliki makna yang sangat mendalam. Doa ini mengajarkan kita untuk selalu memohon ampunan kepada Allah SWT, terutama di malam-malam terakhir Ramadhan.
Dengan memahami makna doa ini, kita semakin sadar bahwa Allah adalah Maha Pengampun dan mencintai hamba-hamba-Nya yang meminta maaf. Selain itu, doa ini juga menjadi motivasi bagi kita untuk selalu memaafkan kesalahan orang lain dan hidup dengan hati yang bersih.
Semoga kita semua diberikan kesempatan untuk mengamalkan doa ini dengan penuh keikhlasan dan mendapatkan ampunan Allah SWT. Aamiin.
*Tunaikan zakat, infaq, sedekah melalui Kantor Digital BAZNAS Kota Yogyakarta.https://kotayogya.baznas.go.id/bayarzakat Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id
Editor : Ashifuddin Fikri
Writer : Nur Isnaini Masyithoh
BERITA18/03/2025 | Nur Isnaini Masyithoh
Analisis Sumber Daya Manusia dan Kondisi Demografis di Palestina
Palestina, sebuah wilayah yang terletak di Timur Tengah, telah lama menjadi pusat perhatian dunia karena konflik yang berkepanjangan dengan Israel. Kondisi sumber daya manusia (SDM) dan demografis di Palestina sangat dipengaruhi oleh situasi politik, ekonomi, dan sosial yang kompleks. Artikel ini membahas SDM Palestina dan kondisi demografis Palestina sejak tahun 2000 hingga saat ini.
Kondisi Demografis Palestina
Populasi Palestina terdiri dari dua wilayah utama: Tepi Barat (West Bank) dan Jalur Gaza. Menurut data dari Badan Pusat Statistik Palestina (PCBS), pada tahun 2021, populasi Palestina diperkirakan mencapai sekitar 5,3 juta jiwa, dengan sekitar 3,1 juta di Tepi Barat dan 2,2 juta di Jalur Gaza. Pertumbuhan populasi di Palestina tergolong tinggi, dengan tingkat pertumbuhan tahunan sekitar 2,5%. Hal ini menjadikan Palestina salah satu wilayah dengan kepadatan penduduk tertinggi di dunia, terutama di Jalur Gaza yang memiliki luas wilayah yang terbatas.
Struktur usia populasi Palestina didominasi oleh kelompok usia muda. Sekitar 40% populasi berusia di bawah 15 tahun, sementara hanya sekitar 3% yang berusia di atas 65 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa Palestina memiliki potensi demografis yang besar, namun juga menghadapi tantangan dalam menyediakan lapangan kerja, pendidikan, dan layanan kesehatan yang memadai bagi generasi muda.
Sumber Daya Manusia di Palestina
Sumber daya manusia di Palestina menghadapi berbagai tantangan, terutama akibat konflik yang berkepanjangan, blokade ekonomi, dan keterbatasan akses terhadap sumber daya alam. Meskipun demikian, masyarakat Palestina dikenal memiliki tingkat pendidikan yang relatif tinggi. Menurut data UNESCO, tingkat melek huruf di Palestina mencapai sekitar 96,7%, dengan partisipasi pendidikan yang cukup tinggi di semua jenjang.
Pendidikan tinggi juga berkembang pesat di Palestina. Terdapat lebih dari 50 universitas dan perguruan tinggi yang tersebar di Tepi Barat dan Jalur Gaza. Namun, kualitas pendidikan seringkali terhambat oleh kurangnya sumber daya, fasilitas yang tidak memadai, dan isolasi geografis yang membatasi akses terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi global.
Di sektor ketenagakerjaan, pengangguran menjadi masalah serius, terutama di Jalur Gaza. Tingkat pengangguran di Palestina mencapai sekitar 27% pada tahun 2021, dengan angka yang lebih tinggi di Jalur Gaza (sekitar 45%) dibandingkan di Tepi Barat (sekitar 16%). Pengangguran di kalangan pemuda bahkan lebih tinggi, mencapai sekitar 40%. Hal ini disebabkan oleh blokade Israel yang membatasi pergerakan barang dan orang, serta minimnya investasi asing dan lokal di wilayah tersebut.
Tantangan dan Peluang
Tantangan utama yang dihadapi oleh SDM di Palestina adalah keterbatasan akses terhadap sumber daya ekonomi, infrastruktur yang rusak akibat konflik, dan ketergantungan pada bantuan internasional. Namun, di tengah tantangan tersebut, masyarakat Palestina menunjukkan ketahanan dan semangat yang tinggi. Banyak warga Palestina yang berhasil meraih kesuksesan di berbagai bidang, baik di dalam maupun luar negeri.
Peluang untuk meningkatkan kualitas SDM di Palestina terletak pada peningkatan investasi di sektor pendidikan, pelatihan vokasional, dan pengembangan teknologi informasi. Selain itu, dukungan internasional dalam bentuk bantuan teknis dan finansial juga dapat membantu menciptakan lapangan kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi.
Kesimpulan
Kondisi demografis dan sumber daya manusia di Palestina mencerminkan dinamika yang kompleks akibat konflik yang berkepanjangan. Meskipun menghadapi berbagai tantangan, masyarakat Palestina memiliki potensi besar untuk berkembang, terutama melalui peningkatan kualitas pendidikan dan penciptaan lapangan kerja. Dukungan internasional dan upaya perdamaian yang berkelanjutan sangat diperlukan untuk memastikan masa depan yang lebih baik bagi generasi muda Palestina.
*Tunaikan zakat, infaq, sedekah melalui Kantor Digital BAZNAS Kota Yogyakarta.https://kotayogya.baznas.go.id/bayarzakat Kunjungi juga website: https://baznas.jogjakota.go.id
Editor : Ashifuddin Fikri
Writer : Nur Isnaini Masyithoh
BERITA18/03/2025 | Nur Isnaini Masyithoh
Peran Fidyah dalam Meningkatkan Kesejahteraan Ekonomi
Fidyah, sebagai salah satu bentuk amal dalam Islam, memiliki peran yang signifikan dalam meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat. Dalam konteks ini, fidyah bukan hanya sekadar kewajiban bagi mereka yang tidak mampu berpuasa, tetapi juga merupakan sarana untuk mendukung program-program sosial yang dapat memberikan manfaat langsung kepada masyarakat yang membutuhkan. Dengan memahami peran fidyah dalam konteks ekonomi, kita dapat melihat bagaimana amal ini dapat menjadi pendorong bagi perubahan sosial yang positif.
Salah satu aspek penting dari fidyah adalah kemampuannya untuk mengalirkan dana ke tangan mereka yang membutuhkan. Ketika individu yang mampu memberikan fidyah, dana tersebut dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat yang kurang beruntung. Misalnya, fidyah dapat dialokasikan untuk penyediaan makanan bagi keluarga yang tidak mampu, atau untuk biaya pendidikan anak-anak dari keluarga kurang mampu. Dengan cara ini, fidyah berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan mereka yang memiliki kelebihan dengan mereka yang membutuhkan, sehingga menciptakan keseimbangan dalam masyarakat.
Lebih jauh lagi, fidyah dapat berkontribusi pada pengembangan program-program sosial yang lebih luas. Misalnya, dana fidyah dapat digunakan untuk mendirikan pusat-pusat pelatihan keterampilan bagi masyarakat yang menganggur, sehingga mereka dapat memperoleh keterampilan yang diperlukan untuk mendapatkan pekerjaan. Dengan meningkatkan keterampilan dan pengetahuan masyarakat, fidyah dapat membantu mengurangi angka pengangguran dan meningkatkan produktivitas ekonomi secara keseluruhan. Ini adalah langkah strategis yang dapat membawa dampak jangka panjang bagi kesejahteraan masyarakat.
Penulis:Putri Khodijah
Editor:M. Kausari Kaidani
BERITA18/03/2025 | Putri Khodijah
Fidyah dan Dampaknya terhadap Perekonomian Lokal
Fidyah, sebagai salah satu bentuk amal dalam Islam, memiliki dampak yang signifikan terhadap perekonomian lokal. Dalam konteks ini, fidyah bukan hanya sekadar kewajiban bagi mereka yang tidak mampu berpuasa, tetapi juga merupakan instrumen yang dapat digunakan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi di tingkat lokal. Dengan memahami dampak fidyah terhadap perekonomian lokal, kita dapat melihat bagaimana amal ini dapat berkontribusi pada pembangunan masyarakat secara keseluruhan.
Salah satu dampak positif dari fidyah adalah kemampuannya untuk mengalirkan dana ke masyarakat yang membutuhkan. Ketika individu yang mampu memberikan fidyah, dana tersebut dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat yang kurang beruntung. Misalnya, fidyah dapat dialokasikan untuk penyediaan makanan, pendidikan, dan kesehatan bagi keluarga yang tidak mampu. Dengan cara ini, fidyah berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan mereka yang memiliki kelebihan dengan mereka yang membutuhkan, sehingga menciptakan keseimbangan dalam masyarakat.
Lebih jauh lagi, fidyah dapat berkontribusi pada pengembangan ekonomi lokal melalui penciptaan lapangan kerja. Dana fidyah dapat digunakan untuk mendirikan usaha kecil atau koperasi yang dapat memberikan peluang kerja bagi masyarakat setempat. Dengan meningkatkan lapangan kerja, fidyah dapat membantu mengurangi angka pengangguran dan meningkatkan pendapatan masyarakat. Ini adalah langkah strategis yang dapat membawa dampak jangka panjang bagi perekonomian lokal.
Penting untuk dicatat bahwa pengelolaan fidyah harus dilakukan dengan baik agar dapat memberikan dampak yang maksimal.
Penulis:Putri Khodijah
Editor:M. Kausari Kaidani
BERITA18/03/2025 | Putri Khodijah
Strategi Pengelolaan Fidyah untuk Pembangunan Ekonomi Berkelanjutan
Fidyah merupakan salah satu instrumen dalam Islam yang memiliki peran penting dalam membantu mereka yang membutuhkan, terutama bagi mereka yang tidak mampu menjalankan ibadah puasa. Dalam konteks ekonomi, fidyah dapat menjadi alat yang efektif untuk mendukung pembangunan ekonomi berkelanjutan. Pengelolaan fidyah yang baik tidak hanya memberikan manfaat langsung kepada penerima, tetapi juga dapat berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.
Strategi pengelolaan fidyah yang efektif dimulai dengan pemahaman yang mendalam tentang tujuan dan prinsip dasar fidyah itu sendiri. Fidyah bukan sekadar kewajiban, tetapi juga merupakan bentuk kepedulian sosial yang harus dikelola dengan bijak. Dalam hal ini, lembaga-lembaga zakat dan organisasi sosial memiliki peran penting dalam mengumpulkan dan mendistribusikan fidyah. Mereka harus memastikan bahwa fidyah yang terkumpul digunakan untuk program-program yang dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat, seperti pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi.
Salah satu strategi yang dapat diterapkan adalah dengan mengembangkan program pelatihan keterampilan bagi penerima fidyah. Dengan memberikan pelatihan yang relevan, penerima fidyah tidak hanya mendapatkan bantuan finansial, tetapi juga keterampilan yang dapat meningkatkan daya saing mereka di pasar kerja. Hal ini sejalan dengan prinsip pembangunan ekonomi berkelanjutan yang menekankan pada pemberdayaan individu dan pengurangan ketergantungan pada bantuan.
Penulis:Putri Khodijah
Editor:M. Kausari Kaidani
BERITA18/03/2025 | Putri Khodijah
Fidyah dalam Perspektif Ekonomi Syariah dan Implikasinya
Fidyah, sebagai salah satu bentuk ibadah dalam Islam, memiliki makna yang dalam dan luas. Dalam perspektif ekonomi syariah, fidyah tidak hanya dipandang sebagai kewajiban bagi mereka yang tidak mampu berpuasa, tetapi juga sebagai instrumen yang dapat memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat. Fidyah dapat menjadi sarana untuk mendistribusikan kekayaan dan mengurangi kesenjangan sosial, yang merupakan salah satu prinsip dasar dalam ekonomi syariah.
Dalam ekonomi syariah, setiap individu memiliki tanggung jawab sosial untuk membantu sesama. Fidyah merupakan salah satu bentuk nyata dari tanggung jawab tersebut. Dengan memberikan fidyah, seseorang tidak hanya memenuhi kewajiban ibadah, tetapi juga berkontribusi pada kesejahteraan masyarakat. Hal ini sejalan dengan prinsip keadilan sosial yang menjadi landasan dalam ekonomi syariah. Dalam konteks ini, fidyah dapat dilihat sebagai alat untuk redistribusi kekayaan, di mana mereka yang lebih mampu membantu mereka yang kurang mampu.
Implikasi dari pengelolaan fidyah dalam perspektif ekonomi syariah sangat luas. Pertama, fidyah dapat membantu mengurangi kemiskinan. Dengan mendistribusikan fidyah kepada mereka yang membutuhkan, kita dapat memberikan dukungan finansial yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan dasar, seperti makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Hal ini sangat penting, terutama di negara-negara berkembang di mana tingkat kemiskinan masih tinggi.
Penulis:Putri Khodijah
Editor:M. Kausari Kaidani
BERITA18/03/2025 | Putri Khodijah
Meningkatkan Kesadaran Ekonomi Melalui Program Fidyah
Fidyah, sebagai salah satu bentuk ibadah dalam Islam, memiliki potensi yang besar untuk meningkatkan kesadaran ekonomi di masyarakat. Dalam konteks ini, program fidyah tidak hanya berfungsi sebagai alat untuk memenuhi kewajiban ibadah, tetapi juga sebagai sarana untuk mendidik masyarakat tentang pentingnya pengelolaan keuangan dan tanggung jawab sosial. Dengan pendekatan yang tepat, program fidyah dapat menjadi pendorong bagi masyarakat untuk lebih peduli terhadap kondisi ekonomi di sekitarnya.
Salah satu cara untuk meningkatkan kesadaran ekonomi melalui program fidyah adalah dengan mengedukasi masyarakat tentang pentingnya berbagi dan membantu sesama. Dalam Islam, berbagi harta kepada yang membutuhkan merupakan salah satu nilai yang sangat dijunjung tinggi. Dengan mengedukasi masyarakat tentang makna dan tujuan fidyah, kita dapat mendorong mereka untuk lebih aktif dalam memberikan bantuan kepada yang membutuhkan. Hal ini tidak hanya akan meningkatkan kesadaran sosial, tetapi juga akan memperkuat ikatan komunitas.
Program fidyah juga dapat digunakan sebagai platform untuk memberikan pelatihan dan pendidikan keuangan kepada masyarakat. Dengan memberikan pengetahuan tentang pengelolaan keuangan yang baik, masyarakat akan lebih mampu mengelola sumber daya yang mereka miliki. Misalnya, program fidyah dapat mencakup pelatihan tentang cara mengatur anggaran, menabung, dan berinvestasi. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya mendapatkan bantuan finansial, tetapi juga keterampilan yang dapat membantu mereka dalam jangka panjang.
Penulis:Putri Khodijah
Editor:M. Kausari Kaidani
BERITA18/03/2025 | Putri Khodijah
Fidyah sebagai Bentuk Kepedulian Sosial di Bulan Ramadhan
Fidyah merupakan salah satu bentuk kepedulian sosial yang sangat penting dalam konteks bulan Ramadhan. Dalam bulan yang penuh berkah ini, umat Islam diingatkan untuk tidak hanya fokus pada ibadah pribadi, tetapi juga untuk memperhatikan nasib sesama. Fidyah, yang secara harfiah berarti tebusan, diberikan kepada mereka yang tidak mampu menjalankan puasa karena alasan tertentu, seperti sakit atau usia lanjut. Dalam hal ini, fidyah berfungsi sebagai jembatan untuk membantu mereka yang kurang beruntung, sehingga mereka tetap dapat merasakan kebahagiaan dan keberkahan bulan suci ini.
Dalam ajaran Islam, memberikan fidyah adalah bentuk tanggung jawab sosial yang harus dipenuhi oleh setiap individu yang mampu. Hal ini sejalan dengan prinsip keadilan sosial yang diajarkan dalam Al-Qur'an, di mana Allah SWT memerintahkan umat-Nya untuk saling membantu dan berbagi rezeki. Dengan memberikan fidyah, seseorang tidak hanya menunaikan kewajiban agama, tetapi juga berkontribusi dalam menciptakan masyarakat yang lebih sejahtera. Fidyah dapat berupa makanan pokok atau uang yang setara dengan nilai makanan tersebut, sehingga penerima fidyah dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka.
Bulan Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk meningkatkan kepedulian sosial. Dalam suasana yang penuh dengan rasa syukur dan kebersamaan, umat Islam diajak untuk lebih peka terhadap kondisi sosial di sekitarnya. Fidyah menjadi salah satu cara untuk mengekspresikan rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan Allah. Dengan memberikan fidyah, seseorang dapat merasakan kebahagiaan yang lebih dalam, karena mereka telah berkontribusi dalam meringankan beban orang lain.
Penulis:Putri Khodijah
Editor:M. Kausari Kaidani
BERITA18/03/2025 | Putri Khodijah

Info Rekening Zakat
Mari tunaikan zakat Anda dengan mentransfer ke rekening zakat.
BAZNAS
Info Rekening Zakat


